Social Items

Tampilkan postingan dengan label Dialog Iblis Dengan Fir'aun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dialog Iblis Dengan Fir'aun. Tampilkan semua postingan
Kata JIN yang berasal dari kata jama' yang artinya tersembunyi. Ibnu Mansur mengatakan bahwa dikatakan jin bahwa mereka tersembunyi dan tidak terlihat oleh kasat mata.


Pada masa zaman dahulu, sebelum ada manusia namun langit dan bumi telah tecipta dan telah dihuni makhluk tertua yakni parasit dan tumbuhan serta binatang.

Maka Alloh SWT telah memulai menciptakan makhluk dari bangsa Jin.

Jika dikonversikan pada temuan saintis, sepertinya itu terjadi pada masa zaman Arkhaikum (Azhoikum) beberapa tahun lalu hingga zaman Paleozoikum-Mesozoikum-Neozoikum yakni pada masa-masa awal adanya kehidupan dibumi dari jenis binatang, tumbuhan termasuk bangsa Jin ini.

1. BANGSA AL-BINN :

Jin pertama diriwayatkan bernama Al-Binn ini diciptakan dari unsur gabungan Kilat (Al-Birquw) dan angin, (asap/mega).

Jika Malaikat tidak berkehidupan seperti manusia, maka Jin ini berkehidupan layaknya seperti manusia, (Tapi bukan golongan manusia), dan mereka berbagai rupa, ada laki-laki ada perempuan, melakukan perkawinan, mempunyai anak keturunan, memakan makanan untuk survive dan berkembang biak serta ada kematian diantara mereka.

Mereka rata-rata memiliki umur yang panjang beratus-ratus tahun dengan populasinya yang sangat cepat, maka lama kelamaan bumi menjadi sesak dan sempit oleh makhluk Jin itu.

Pada awal-awal peradabannya, mereka sangat taat beribadah kepada Tuhannya. namun lama kelamaan karena persaingan hidup mereka saling dengki dan timbul persengketaan, terjadi rusuh, saling bertumpah darah, bunuh membunuh dan terjadi peperangan sehingga membuat keadaan dibumi tidak aman.

Kemudian Alloh mengazab jin-Jin yang telah ingkar itu dengan didatangkannya badai angin berapi yang sangat dahsyat yg menyapu dan membinasakan mereka, Sebagian mereka melarikan diri ke goa-goa dataran tinggi dan ke gunung gunung.

Kemudian Alloh SWT mendatangkan balatentara dari makhluk jin lain penguasa lautan yang bernama AL-BANN untuk menyerang Jin bangsa Al-Binn tersebut yg masih tersisa, Dan bangsa Alban berbondong bondong menyerbu daratan dan memeranginya dan bangsa Al-Binn pun kalah dihabisi tanpa sisa.

Dalam satu riwayat, diantara keturunan jin bangsa Al-Binn yang selama kehidupannya menjalankan ibadah dan bertaqwa kepada Allah selama ribuan tahun di bumi.

Kemudian setelah itu atas permohonannya kepada Allah maka mereka golongan Jin-jin yang beriman itu dipindahkan ia ke langit pertama sebagai kenaikan pangkat derajat keruhaniannya.

Maka dilangit pertama ini ia beribadat hingga 1000 tahun . Kemudian pindah lagi ke langit yang kedua, dilangit kedua ini ia beribadat sampai 1000 tahun dan seterusnya sampai kelangit yang ketujuh .

Jadi jumlah masanya ia beribadat dari mulai bumi sampai ke langit yang ketujuh ialah 8000 tahun. Maka atas berkah rahmat dan karunia Alloh SWT, golongan dari bangsa Al-Binn yang bertaqwa ini dinaikkan pangkatnya mendapat kehormatan mencapai posisi puncak/maqam “Al-Muqorrobuun” (Yang didekatkan), itulah derajat yang paling tinggi di sisi Allah.

Derajat mulia yang setara dengan golongan Malaikat. Bahkan dari golongan bangsa-bangsa Jin generasi berikutnya, yang bertaqwa dan yang telah mencapai maqam “Al- Muqorrobuun” dari sisi Allah, dikemudian hari ia diangkat menjadi Imam ibadat dan pemimpin-pemimpin batalyon para Malaikat-malaikat yang berada di langit.

Itulah yg disebut sebagai makhluk diluar Malaikat tetapi berderajat Malaikat, termasuk bagi insan manusia yang selalu taat dan taqwa kpd Tuhannya, maka akan dapat mencapai posisi yg mulia ini.

2. BANGSA AL-BANN :

Setelah sisa-sisa Jin bangsa Al-Binn yang durhaka dan kafir dimusnahkan, maka kemudian Jin bangsa Al-bann yang tadinya penguasa lautan raya ini menggantikan kekuasaan bangsa Al-Binn di muka bumi.

Sama dengan Jin sebelumnya, maka bangsa Al-bann ini jg berkehidupan layaknya seperti manusia, berbagai rupa, ada laki-laki ada perempuan, butuh kawin,punya anak butuh makan dan berkembang biak.

Memiliki umur yang panjang beratus-ratus tahun, populasinya juga sangat cepat, maka lama kelamaan bumi menjadi sesak dan sempit oleh makhluk Jin itu.

Pada awal-awal masa kemenangannya berperang dan memusnahkan bangsa Al-Binn, mereka hidup sangat taat beribadah kepada Tuhannya.

Namun lama kelamaan karena persaingan hidup mereka sangat rakus dan saling dengki dan timbul persengketaan diantara mereka. Terjadi rusuh, saling bertumpah darah, bunuh membunuh dan terjadi peperangan sehingga membuat keadaan dibumi kacau kembali. Kemudian bumi mengadu kepada Alloh bahwa ia keberatan tanahnya selalu dikotori dengan pertumpahan darah makhluk-Nya dan selalu membuat kerusakan.

Maka kemudian Alloh mendatangkan makhluk Jin lain bernama AL-JANN yg tercipta dari bahan api, dan kemudian memerangi Jin Al-bann tersebut hingga Bangsa Alban kalah dan musnah.

Sama dengan riwayat sebelumnya, diantara keturunan jin bangsa Al-Bann yang selama kehidupannya menjalankan ibadah dan bertaqwa kepada Allah  selama ribuan tahun di bumi . Maka mereka golongan Jin-jin yang beriman itu dipindahkan ke langit pertama sebagai kenaikan pangkat derajat keruhaniannya, kemudian pindah lagi ke langit yang kedua, dan seterusnya hingga kelangit yang tujuh.

Dan mereka melaksanakan ibadat selama ribuan tahun tahun .Kemudian, golongan dari bangsa Al-Bann yg bertaqwa ini pun mendapat kehormatan mencapai posisi puncak/maqam “Al-Muqorrobuun”(Yang didekatkan), itulah derajat yang paling tinggi di sisi-Nya).

3. BANGSA AL-JANN :

Setelah sisa-sisa Jin bangsa Al-Bann yang durhaka dan kafir ini dimusnahkan oleh bangsa Al-Jann, Maka kemudian Alloh mendatangkan makhluk lain dari bangsa Jin bernama AL-JANN yang tercipta dari bahan api, dan kemudian Al-jann menguasai bumi untuk kesekian kali.

Jin Aljan ini juga makhluk yang pada masa awalnya selalu beribadah dan taat menyembah pada Alloh Ta’ala, yang juga berkehidupan layaknya seperti manusia,berbagai rupa, ada laki-laki ada perempuan, butuh kawin, punya anak butuh makan dan berkembang biak.

Lama kelaman memenuhi bumi daratan dan saling bersengketa saling bunuh membunuh hingga peperangan besar yg membuat bumi kembali rusuh tidak aman terjadinya kerusakan dimuka bumi. Kembali Al-jann kafir lagi terhadap Tuhannya,

4. BANGSA NAHABIR DAN NAHAMIR.

Setelah seluruh bangsa-bangsa Jin yang menguasai bumi yang akhirnya selalu berakhir durhaka pada Tuhannya, maka kali yang terakhir Dia menjadikan bangsa Jin bernama Nahabir dan Nahamir untuk menguasai bumi menggantikan Al-Jann.

Riwayat dan nasibnya sama dengan makhluk-makhluk bangsa Jin sebelumnya yakni, Selalu berakhir dengan kesesatan dan kedurhakaan.

Maka kali ini Tuhan membinasakan generasi AL-JANN,NAHABIR DAN NAHAMIR dengan memerintahkan bala tentara malaikat, hingga peradaban Al-JANN, NAHABIR DAN NAHAMIR musnah dihabisi malaikat.

Sama dengan riwayat sebelumnya, diantara keturunan jin bangsa AL JANN, NAHABIR DAN NAHAMIR yang selama kehidupannya menjalankan ibadah dan bertaqwa kepada Allah selama ribuan tahun di bumi.

Maka mereka golongan Jin-jin yang beriman itu dipindahkan ke langit pertama sebagai kenaikan pangkat derajat keruhaniannya, kemudian pindah lagi ke langit yang kedua, dan seterusnya hingga kelangit yang tujuh .Dan mereka melaksanakan ibadat selama ribuan tahun tahun.

Kemudian, golongan dari bangsa AL-JANN, NAHABIR DAN NAHAMIR yang bertaqwa ini pun mendapat kehormatan mencapai posisi puncak/maqam “Al-Muqorrobuun” (Yang didekatkan), itulah derajat yang paling tinggi di sisi-Nya).

Pada akhirnya bumi kosong tak berpenghuni makhluk yang disematkan 2 (dua) unsur Nafs itu, selama jutaan tahun, (disebut bumi mati/kosong dlm keadaan rusak porak poranda bekas azab dari langit akibat kedurhakaan makhluk-makhluk penghuninya masa silam.

Maka, pada masa itu,Tuhan berkehendak menghidupkan kembali bumi dari matinya/kosongnya.

وَٱللَّهُ أَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِہَآ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَةً۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَسۡمَعُونَ

Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)”. (QS.16. An Nahl:65)

Ayat senada pada (QS. 30. Ar Ruum:24).

 وَيُنَزِّلُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءً۬ فَيُحۡىِۦ بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَآ‌ۚ إِنَّ فِى ذَٲلِكَ لَأَيَـٰتٍ۬ لِّقَوۡمٍ۬ يَعۡقِلُونَ

“…….dan Dia menurunkan hujan dari langit, lalu menghidupkan bumi dengan air itu sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mempergunakan akalnya”.

Perhatikan kalimat “Wayunazzilu minassyama’I ma’an fayuhyi bihil ardho ba’da mautihaa…”

Maka ayat-ayat ini bermulti tafsir/ganda, tidak hanya pada zaman sekarang ketika terjadi kemarau,tetapi juga yang bermakna sebagai bumi yg pernah mati, artinya tidak ada kehidupan diatasnya karena sesuatu bencana yg memusnahkan makhluk diatasnya.

Maka keadaan bumi yang mati/kosong itu kemudian sampai pada masa zaman Pleistosen sejak 6 jutaan tahun lalu hingga sekitar 1.808.000 tahun yang lalu.

Maka Alloh SWT menghidupkan bumi kembali sesudah matinya itu untuk dihuni species hewan raksasa dan buas seperti species Dynosaurus, tersebut.

Untuk kemudian menjelang diciptakannya Manusia pertama, sepertinya Tuhan telah mempersiapkan alam dunia (bumi) sebagai hunian bagi Adam dan keturunannya, maka kemudian bumi itu “dibersihkan” dari specis binatang buas, yakni dengan terjadinya hujan meteor yang menghanguskan daratan bumi dan memusnahkan seluruh hewan-hewan besar dan buas tersebut karena Tuhan berkehendak menciptakan makhluk golongan baru bernama “Al-Insan” atau manusia, sang Khalifah baru di muka bumi dalam masa tak lama lagi.

RIWAYAT LAIN

Sebelum nabi adam turun kebumi, diceritakan bahwa yang menempati bumi ini adalah bangsa Jin yang dikelompokan menjadi dua yakni Abalzan dan Banulzan.

Dua kelompok ini terus bertempur dan tidak pernah bersahabat, kemudian para malaikat bertanya kepada Allah, apakah Allah akan menciptakan seorang khalifah yang saling menumpahkan darah? Maka Allah memerintahkan Azazil untuk memimpin para malaikat untuk menaklukan Abalzan dan Banuzan di bumi ini, dan setelah ditaklukan Allah menciptakan nabi Adam as.

Para ulama sepakat bahwa para Jin berasal dari satu nenek moyang yang bernama Iblis, sedangkan nama lain dari iblis atau setan adalah ‘Azzazil.

Sebagaimana yang disabdakan Rosullullah SAW yang artinya: Diriwayatkan dari Al Baihaqi dan ibnu Hatim dari Ibnu Abbas, bahwasannya Rosullullah SAW bersabda yang artinya:

Dahulu iblis namanya adalah ‘Azzazil, dia adalah termasuk dari malaikat-malaikat yang paling mulia yang memiliki empat sayap, kemudian dia durhaka setelah itu”

Malaikat diciptakan oleh Allah SWT dari cahaya dan ditiupkan kepadanya ruh dan akal, akan tetapi malaikat tidak diberikan syahwat oleh karena itu malaikat tidak makan, tidak minum, tidak beristri dan tidak pula tidur. Hidup malaikat semata-mata hanyalah melaksanakan perintah Allah SWT dan senantiasa taat kepada Allah.

Sedangkan BANUZAN diciptakan Allah dari Api. Mereka makan, mereka minum dan mereka memiliki istri serta memiliki keturunan layaknya manusia.

Namun pada kenyataanya Banuzan yang paling awal diciptakan Allah berbuat sombong dan sekaligus membangkang terhadap perintah Allah SWT, mereka tidak mau bersujut kepada Adam, sekaligus semua malaikat sujud kepada Adam sebagai bentuk penghormatan.

Sebagaimana yang diceritakan Allah dalam salah satu firmannya:

 “Allah bertanya kepada Iblis, Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) diwaktu aku menyuruhmu?” iblis menjawab: “Saya lebih baik dari adam, Engkau menciptakanku dari api, sedangkan dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah, maka Allah SWT mengeluarkan Iblis dari surga.” (QS. Al A’raf:13)

Sesudah iblis dikeluarkan dari surga, maka iblis diminta kepada Allah agar umurnya dipanjangkan hingga datangnya hari kiamat, iblis mengancam kepada nabi Adam dan anak cucunya, mereka akan dibujuk agar keluar dari jalan Allah yang benar hingga tidak ada yang taat kepada Allah SWT.

Inilah wujud ketaatan yang Allah minta kepada seluruh ciptaan-Nya apabila Allah sudah tetapkan maka taatilah walaupun ketetapan itu bertentangn dengan kemauan kita. Itulah sejatinya iblis yang tidak terima karena diciptakannya manusia yang kemudian dimuliakan oleh Allah, padahal hanya terbuat dari tanah.

Iblis sengaja melakukan berbagai cara menggoda manusia dari berbagai arah, baik dari arah kiri, kanan, depan dan belakang sampai mengikuti bujuk dan rayuannya, hinnga menjadi temannya dan bersama-sama masuk kedalam neraka

Karena itu Allah memberikan perjanjian kepada Adam dan ank cucunya, siapa yang mengikuti tingkah laku iblis berarti dia akan menjadi temannya dan nanti dia akan aku masukan kedalam neraka yakni tempat iblis dan teman-temannya.

Sebagaiman yang dijelaskan dalm Al-quran, Allah SWT berfirman yang artinya:

Dia menjawab, karena Engkau telah menghukum kami tersesat, maka kami akan benar-benar (menghalangi) mereka dari jalan (Agama) Engkau yang lurus,” (QS. Al A’raf: 16)

Maka berhati-hatilah dari golongan Banulzan dan Abalzan, Jin iblis dan keturunannya yang terkutuk yang akan menggoda kita dan masuk kedalam neraka.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Asal usul Penciptaan Bangsa Jin dan Iblis dalam Islam

Nama asli Abu Nawas adalah Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami. Dia dilahirkan pada 145 H (747 M ) di kota Ahvaz di negeri Persia (Iran sekarang), dengan darah dari ayah Arab dan ibu Persia mengalir di tubuhnya.


Ayahnya, Hani al-Hakam, merupakan anggota legiun militer Marwan II. Sementara ibunya bernama Jalban, wanita Persia yang bekerja sebagai pencuci kain wol. Sejak kecil ia sudah yatim. Sang ibu kemudian membawanya ke Bashrah, Irak. Di kota inilah Abu Nawas belajar berbagai ilmu pengetahuan.

Masa mudanya penuh perilaku kontroversial yang membuat Abu Nawas tampil sebagai tokoh yang unik dalam khazanah sastra Arab Islam. Meski begitu, sajak-sajaknya juga sarat dengan nilai sprirtual, di samping cita rasa kemanusiaan dan keadilan. Abu Nawas belajar sastra Arab kepada Abu Zaid al-Anshari dan Abu Ubaidah.

Ia juga belajar Al-Quran kepada Ya’qub al-Hadrami. Sementara dalam Ilmu Hadis, ia belajar kepada Abu Walid bin Ziyad, Muktamir bin Sulaiman, Yahya bin Said al-Qattan, dan Azhar bin Sa’ad as-Samman.

Pertemuannya dengan penyair dari Kufah, Walibah bin Habab al-Asadi, telah memperhalus gaya bahasanya dan membawanya ke puncak kesusastraan Arab. Walibah sangat tertarik pada bakat Abu Nawas yang kemudian membawanya kembali ke Ahwaz, lalu ke Kufah.

Di Kufah bakat Abu Nawas digembleng. Ahmar menyuruh Abu Nawas berdiam di pedalaman, hidup bersama orang-orang Arab Badui untuk memperdalam dan memperhalus bahasa Arab.


Kemudian ia pindah ke Baghdad. Di pusat peradaban Dinasti Abbasyiah inilah ia berkumpul dengan para penyair. Berkat kehebatannya menulis puisi, Abu Nawas dapat berkenalan dengan para bangsawan. Namun karena kedekatannya dengan para bangsawan inilah puisi-puisinya pada masa itu berubah, yakni cenderung memuja dan menjilat penguasa.

Dalam Al-Wasith fil Adabil ‘Arabi wa Tarikhihi, Abu Nawas digambarkan sebagai penyair multivisi, penuh canda, berlidah tajam, pengkhayal ulung, dan tokoh terkemuka sastrawan angkatan baru. Namun sayang, karya-karya ilmiahnya justru jarang dikenal di dunia intelektual.

Ia hanya dipandang sebagai orang yang suka bertingkah lucu dan tidak lazim. Kepandaiannya menulis puisi menarik perhatian Khalifah Harun al-Rasyid. Melalui musikus istana, Ishaq al-Wawsuli, Abu Nawas dipanggil untuk menjadi penyair istana (sya’irul bilad).

Sikapnya yang jenaka menjadikan perjalanan hidupnya benar-benar penuh warna. Kegemarannya bermain kata-kata dengan selera humor yang tinggi seakan menjadi legenda tersendiri dalam khazanah peradaban dunia.

Kedekatannya dengan kekuasaan juga pernah menjerumuskannya ke dalam penjara. Pasalnya, suatu ketika Abu Nawas membaca puisi Kafilah Bani Mudhar yang dianggap menyinggung Khalifah. Tentu saja Khalifah murka, lantas memenjarakannya. Setelah bebas, ia berpaling dari Khalifah dan mengabdi kepada Perdana Menteri Barmak. Ia meninggalkan Baghdad setelah keluarga Barmak jatuh pada tahun 803 M.

Setelah itu ia pergi ke Mesir dan menggubah puisi untuk Gubernur Mesir, Khasib bin Abdul Hamid al-Ajami. Tetapi, ia kembali lagi ke Baghdad setelah Harun al-Rasyid meninggal dan digantikan oleh Al-Amin.

Sejak mendekam di penjara, syair-syair Abu Nawas berubah, menjadi religius. Jika sebelumnya ia sangat pongah dengan kehidupan duniawi yang penuh glamor dan hura-hura, kini ia lebih pasrah kepada kekuasaan Allah.

Memang, pencapaiannya dalam menulis puisi diilhami kegemarannya melakukan maksiat. Tetapi, justru di jalan gelap itulah, Abu Nawas menemukan nilai-nilai ketuhanan. Sajak-sajak tobatnya bisa ditafisrkan sebagai jalan panjang menuju Tuhan. Meski dekat dengan Sultan Harun al-Rasyid, Abu Nawas tak selamanya hidup dalam kegemerlapan duniawi. Ia pernah hidup dalam kegelapan – tetapi yang justru membawa keberkahan tersendiri.

Seorang sahabatnya, Abu Hifan bin Yusuf bin Dayah, memberi kesaksian, akhir hayat Abu Nawas sangat diwarnai dengan kegiatan ibadah. Beberapa sajaknya menguatkan hal itu. Salah satu bait puisinya yang sangat indah merupakan ungkapan rasa sesal yang amat dalam akan masa lalunya.

Mengenai tahun meningalnya, banyak versi yang saling berbeda. Ada yang menyebutkan tahun 190 H/806 M, ada pula yang 195H/810 M, atau 196 H/811 M. Sementara yang lain tahun 198 H/813 M dan tahun 199 H/814 M. Konon Abu Nawas meninggal karena dianiaya oleh seseorang yang disuruh oleh keluarga Nawbakhti – yang menaruh dendam kepadanya. Ia dimakamkan di Syunizi di jantung Kota Baghdad. Berikut ini adalah beberapa kisah Abu Nawas :

ABU NAWAS DISURUH MENANGKAP DAN MEMENJARAKAN ANGIN

Secara logika tugas baginda raja ini tak masuk akal sama sekali. Bagaimana mungkin seseorang bisa menangkap angin dan diperlihatkan hasil tangkapannya kepada raja.

Namun, bukanlah Abu Nawas kalau tak bisa sukses menjalankan tugas yang pelik seperti ini. Akankah Abu Nawas berhasil menunaikan titah raja?

Asal mula tugas berat ini adalah karena raja sering banget mengalami gangguan perut. Bisa dikatakan saja kalau raja sering masuk angin apalagi ketika sering bertugas ke lapangan di waktu musim dingin.

"Abu Nawas, aku ingin kamu untuk menangkap angin dan memenjarakannya, "kata raja.

Abu Nawas kaget, tugas ini tak masuk akal.
"Bagaimana cara membuktikannya kalau angin benar-benar telah aku tangkap? "guman Abu Nawas.

Abu Nawas berpikir keras karena hanya 3 hari waktu yang diberikan oleh baginda raja. Lama berpikir, Abu Nawas berguman.
"Bukankah jin itu juga tak terlihat?"

Tiba-tiba saja Abu Nawas senyum dan berjingkrak kegirangan. Rupanya beliau sudah menemukan cara untuk menangkap angin dan sekaligus membuktikannya kepada raja.

Keesokan harinya Abu Nawas menghadap raja.
"Apakah kamu sudah menangkap angin?" tanya raja.
"Sudah Tuanku, "jawab Abu Nawas sambil mengeluarkan botol dari balik bajunya.

"Mana angin itu?" tanya raja.
"Di dalam botol ini Tuanku, "jawab Abu Nawas.
"Mana? aku tak melihat apa-apa, "kata raja.

"Ampun Tuanku, memang angin tidak bisa dilihat, akan tetapi jika Paduka ingin tahu angin yang saya tangkap, maka tutup botol itu harus dibuka terlebih dahulu."

Setelah dibuka, raja mencium adanya bau tak sedap keluar dari dalam botol tersebut. Baunya sangat menyengat. Ternyata Abu Nawas sengaja memberinya angin yang busuk agar bisa tercium dengan mudah.

BERKEBUN DARI ISTANA

Sebagai putra dari mantan kadi, Abu Nawas pun ditunjuk oleh raja menjadi kadi juga menggantikan ayahnya yang telah meninggal dunia. Namun dengan sopan Abunawas menolaknya.

Meskipun Abu Nawas tidak mau, namun raja tetap gigih dan meminta Abu Nawas untuk menjadi penasehat raja. Akhirnya Abunawas menerima tawaran tersebut.

Dan karena jabatan baru tersebut, Abu Nawas harus menghabiskan waktu lebih banyak di istana karena setiap saat raja membutuhkannya untuk berdiskusi, Abu Nawas tada dan siap.

Otomatis waktu bersama dengan istrinya sangat sedikit sekali. Biasanya untuk mengobati rasa rindu, Abu Nawas mengirimkan surat kepada istrinya dan begitu pula sebaliknya.

Namun belakang ini, surat-surat yang akan dikirim rupanya telah dibaca terlebih dahulu oleh pengawal bahkan terkadang oleh ketua pengawal raja sendiri. Padahal surat tersebut bersifat privasi.

Abu Nawas geram, dan menyusun taktik agar si pembaca suratnya jera. Dan hari yang ditunggu pun telah tiba manakala sang istri menanyakan,
"Suamiku, kapan saatnya menanam di kebun kita?, "tanya istri.
"Istriku sayang, janganlah sekali-kali menanam di kebun kita karena di situ aku menyimpan rahasia negara," kata Abu Nawas.

Jawaban yang singkat tersebut membuat terkejut para pengawal raja. Secara diam-diam, para pengawal pergi ke kebun Abu Nawas dan mencangkul seluruh sudut kebun tersebut.

Namun apa yang terjadi?
Mereka tak menemukan apa-apa selain lelah, keringat bercucuran saja.

CANGKULAN GRATIS

Pada keesokan harinya, istri Abu Nawas kembali mengirimkan surat dan mengabarkan kejadian yang terjadi di kebun. Surat tersebut kembali disensor oleh pengawal.

Begini isi suratnya,
Suamiku, kemarin beberapa prajurit dan pengawal raja datang datang ke rumah serta menggali setiap sudut kebun kita."

Balasan surat,
"Nah, sekarang kebun kita sudah dicangkuli dan kita siap menanaminya."

Istri Abu Nawas kini dapat memulai menanam di kebun tanpa perlu susah payah mencangkul.

Sementara itu, rupanya raja mengetahui akan kelakuan pengawal-pengawalnya. Raja menilai pengawalnya tak memberikan data atau berita yang akurat.

Karenanya, raja memberhentikan mereka semua. Keputusan ini disambut gembira oleh Abu Nawas. Kini surat-suratnya benar-benar aman terkendali.

MIMPI YANG TERINDAH

Tamu tak diundang. Pada suatu hari, Abu Nawas kedatangan tamu yang tak diundang. Mereka bukanlah orang biasa saja, namun juga memiliki kharisma.
Yaitu si ahli yoga dan seorang lagi pendeta.

Oh ternyata mereka berdua, si tamu ini memiliki tujuan untuk menemui Abu Nawas. Rupanya mereka sangat penasaran akan kecerdikan Abu Nawas yang terkenal tersebut. Pada waktu itu Abu Nawas sedang melakukan shalat Dhuha di rumahnya.

Istrinya yang setia mempersilahkan mereka berdua untuk masuk dan duduk. Setelah Abu Nawas selesai shalat, ditemuilah mereka berdua dengan hati berbahagia.

"Kami sebenarnya ingin mengajak Anda untuk melakukan pengembaraan suci. Kalau Anda tak keberatan, ayo bergabunglah dengan kami, "kata ahli yoga.

Dengan penuh semangat Abu Nawas menerima ajakan tersebut. Kemudian pada keesokan harinya, mereka berangkat bersama. Abu Nawas memakai jubah sufi, ahli yoga dan pendeta memakai seragam mereka masing-masing.

Ketika sore hari, di tengah perjalanan, mereka diserang rasa lapar yang sangat. Maklumlah ketiganya tak membawa bekal makanan barang sedikit pun.

"Wahai Abu Nawas, bagaiman jika Anda mengumpulkan sedekah? Sementara kami mengadakan kebaktian," kata pendeta.
Abu Nawas setuju saja, mengetuk pintu dari rumah ke rumah.

Setelah dirasa cukup untuk membeli makanan, Abu Nawas segera pergi ke warung makan. Tak lama kemudian Abu Nawas menghampiri teman-temannya.

Abu Nawas mengajak mereka menyantap makanan, namun mereka menolaknya dengan alasan mereka sedang berpuasa. Abu Nawas memelaas, meminta jatahnya saja tapi tetap tidak boleh.

(Memang ada maunya).
"Bagaiman mana kalau kita mengadakan perjanjia?" kata pendeta.
Pendeta menjelaskan bahwa siapa bermimpi terbaik maka akan mendapat jatah makan terbanyak dan begitu juga sebaliknya.

Malam semakin larut, Abu Nawas tidak bisa tidur karena lapar. Setelah yakin dilihat teman-temannya tidur lelap, Abu Nawas langsung menyantap makanan hingga habis.

Keesokan harinya ketika mereka bangun, ahli yoga bercerita tentang mimpinya yang memasuki alam nirwana, dimana didalamnya ada sebuah taman indah.

Pendeta memujinya.
Pendeta bermimpi telah menembus batas ruang dan waktu, lalu bertemu dengan pencipta agamanya. Ahli yoga memuji mimpi dari pendeta.

Abu Nawas hanya diam saja.
Sekarang giliran Abu Nawas bercerita.
Menurut Abu Nawas, dia bertemu nabi Daud as yang ahli puasa. Dalam mimpinya itu, Nabi Daud menyuruh Abu Nawas agar segera berbuka puasa.

"Karena yang menyuruhku adalah nabi yang agung, aku tak berani membantahnya. Langsung saja aku bangun dan menyantap makanan yang ada di depan itu," kata Abu Nawas.

Alamak !!!
Sadarlah pendeta dan ahli yoga. Kini mereka kelaparan, sambil menyesal serta mengakui kehebatan betapa cerdiknya orang yang bernama Abu Nawas.

ABU NAWAS LEBIH SUKA MASUK PENJARA

Raja Baginda Harun Al Rasyid mempunyai dua orang putra dari permaisurinya. Anak pertama bernama Al Ma’mun dan yang kedua bernama Al Amin. Kedua putra beliau tersebut mempunyai kepribadian yang berbeda. Al Amin ternyata sangat bodoh dan pemalas sedangkan Al Ma,mun terkenal rajin dan pintar dalam bidang ilmu sastra.

Karena kecerdasan Al Ma’mun sang rajapun lebih menyukainya dari pada Al Amin. Hal ini membuat permaisuri tidak suka, karena sang Raja dianggap pilih kasih. Terjadilah percakapan antara permaisuri dengan sang Raja.

“Suamiku kenapa anda tidak begitu menyayangi Al Amin?” Tanya sang permaisuri Zubaidah.

“Karena ia tidak bisa membuat syair dan tidak kenal ilmu sastra” jawab sang Raja.

“Suamiku, sebenarnya kalau mau Al Amin akan lebih menguasai ilmu sastra daripada saudaranya. Sebenarnya ia lebih cerdas. Ia hanya malas saja,” kata sang permaisuri mencoba membela Al Amin,

“Apa buktinya?.”

“Baik, tidak lama lagi anda akan melihat buktinya.”

Pada suatu siang permaisuri memanggil putranya Al Amin.

“Aku baru saja berdebat dengan ayahmu mengenai dirimu,” kata sang permaisuri kepada putranya tersebut. “Aku tidak rela kamu dipandangnya sebelah mata dan dibandingkan dengan kakakmu. Karena itu kamu harus bisa menandinginya. Mulai sekrang kamu harus tekun mempelajari ilmu sastra, supaya menjadi seorang penyair yang hebat.”

Sorenya Al Amin pergi meninggalkan istana menuju ke sebuah tempat yang sepi. Ditempat itulah ia mencoba mengasah pikirannya yang bebal. Ia berusaha menulis bait bait syair tanpa seorang guru dan tanpa bimbingan siapapun.

Beberapa minggu kemudian setelah merasa mampu menguasai ilmu sastra dan menulis bait-bait syair, Al Amin pulang ke istana.

“Jadi kamu sekarang sudah bisa menulis syair, putraku?” Tanya sang permaisuri Zubaidah ketika menyambut kedatangan putranya tersebut dengan gembira.

“Sudah,” jawab Al Amin.

“Kalau begitu biar besok aku panggil Abu Nawas untuk menguji karya syairmu.”

Esoknya pagi-pagi sekali Abu Nawas sudah muncul di istana memenuhi panggilan permaisuri.

“Abu Nawas, coba kamu dengarkan karya syair putraku ini, “ kata sang permaisuri dengan bangga.

“Baiklah Silahkan,” kata Abu Nawas.

Al Amin lalu membacakan beberapa bait syair sebagai berikut :

“kami adalah keturunan Bani Abbas.

Kami duduk di atas kursi.”

Abu Nawas hampir tidak sanggup menahan tawanya mendengar syair tersebut.

“Bagaimana?” Tanya Al Almin kepada Abu Nawas.

“Ya, begitulah. Kalian memang dari keturunan yang mulia” jawab Abu Nawas ngeledek. “Tapi coba teruskan”.

“Kami berperang dengan pedang dan tombak pendek.”

“Syair macam apa itu!” Celutuk Abu Nawas yang sudah tidak mau berbasa basi lagi.

Al Amin marah sekali mendengar cemooh Abu Nawas tersebut. Lalu ia menyuruh pasukan istana untuk menangkap dan memasukkan Abu Nawas ke dalam penjara.

Selama beberapa hari Abu Nawas tidak pernah muncul di istana, sehingga Raja Harun Ar Rasyid merasa rindu. Belakangan sang Raja mendengar kabar bahwa Abu Nawas dimasukkan ke penjara oleh Al Amin. Ia kemudian mengajak putranya itu ke penjara untuk menjenguk Abu Nawas.

“Kenapa kamu memenjarakannya?” Tanya sang Raja.

Al amin kemudian menceritakan semuanya.

“Yang sangat menyakitkan adalah ia berani mencemooh syair karyaku, ayahanda,” kata Al Amin.

“Tentu saja karena memang karya syairmu jelek. Dia itu kan seorang penyair yang hebat, jadi bisa menilai syair yang bagus dan tidak bagus. Lagi pula apa yang ia katakan itu jangan kamu anggap sebagai ejekan, melainkan sebuah kritikan yang harus kamu terima dengan lapang dada,” kata sang Raja menasehati.

“Baik. Kalau begitu beri lagi aku kesempatan waktu untuk memperbaiki karya syairku,” kata Al Amin sambil beranjak pergi.

Untuk kedua kalinya Al Amin pergi ke tempat yang sepi guna mengasah pikiran dan mendalami ilmu sastra agar bisa menulis syair yang benar-benar bagus, tidak seperti sebelumnya. Dan beberapa pekan kemudian ia kembali ke istana.

Esok paginya baginda Raja Harun Ar Rasyid, Abu Nawas dan beberapa penyair sudah berada di istana. Rupanya pertemuan itu sudah diatur oleh sang permaisuri Zubaidah. Ian ingin mereka mendengarkan karya syair putranya yang baru saja pulang mendalami ilmu sastra.

“Dengarkan karya syair putraku Al Amin,” kata sang permaisuri Zubaidah.

“Baiklah, silahkan,” sahut Abu Nawas.

Al Amin pun mulai membaca karya syairnya,

“Hai bintang yang duduk bersimpuh

Rasanya tidak ada yang setolol kamu

Kamu seperti hidangan kinafah

Yang diolesi dengan minyak biji hardal dan minyak sapi yang kental

Seperti warna seekor kuda belang.”

Begitu selesai mendengar syair tersebut Abu Nawas lalu bangkit dan beranjak dari tempatnya.

“Kemana kamu Abu Nawas?” Tanya sang Raja

“Saya lebih suka balik ke penjara saja, daripada mendengar syair macam itu. Toh, sebentar lagi putramu ini pasti akan menyuruh polisi membawaku ke sana,” jawab Abu Nawas.

Raja tertawa terpingkal-pingkal mendengar jawaban Abu Nawas itu. Sementara sang permaisuri Zubaidah hanya bisa duduk bengong. Kini ia sadar dan yakin bahwa putranya Al Amin memang bodoh.

ABU NAWAS LOLOS DARI HUKUMAN PANCUNG

Abu Nawas masih mengeram di penjara. Namun begitu Abu Nawas masih bisa menyelesaikan pekerjaannya dengan memakai tangan orang lain. Baginda berpikir. Sejenak kemudian beliau segera memerintahkan sipir penjara untuk membebaskan Abu Nawas. Baginda Raja tidak ingin menanggung resiko yang lebih buruk. Karena akal Abu Nawas tidak bisa ditebak. Bahkan di dalam penjara pun Abu Nawas masih sanggup menyusahkan orang.

Keputusan yang dibuat Baginda Raja untuk melepaskan Abu Nawas memang sangat tepat. Karena bila sampai Abu Nawas bertambah sakit hati maka tidak mustahil kesusahan yang akan ditimbulkan akan semakin gawat. Kini hidung Abu Nawas sudah bisa menghirup udara kebebasan di luar. Istri Abu Nawas menyambut gembira kedatangan suami yang selama ini sangat dirindukan. Abu Nawas juga riang. Apalagi melihat tanaman kentangnya akan membuahkan hasil yang bisa dipetik dalam waktu dekat.

Abu Nawas memang girang bukan kepalang tetapi ia juga merasa gundah. Bagaimana Abu Nawas tidak merasa gundah gulana sebab Baginda sudah tidak lagi memakai perangkap untuk memenjarakan dirinya. Tetapi Baginda Raja langsung memenjarakannya. Maka tidak mustahil bila suatu ketika nanti Baginda langsung menjatuhkan hukuman pancung. Abu Nawas yakin bahwa saat ini Baginda pasti sedang merencanakan sesuatu. Abu Nawas menyiapkan payung untuk menyambut hujan yang akan diciptakan Baginda Raja.

Pada hari itu Abu Nawas mengumumkan dirinya sebagai ahli nujum atau tukang ramal nasib. Sejak membuka praktek ramal-meramal nasib, Abu Nawas sering mendapat panggilan dari orang-orang terkenal. Kini Abu Nawas tidak saja dikenal sebagai orang yang handal dalam menciptakan gelak tawa tetapi juga sebagai ahli ramal yang jitu.

Mendengar Abu Nawas mendadak menjadi ahli ramal maka Baginda Raja Harun Al Rasyid merasa khawatir. Baginda curiga jangan-jangan Abu Nawas bisa membahayakan kerajaan. Maka tanpa pikir panjang Abu Nawas ditangkap. Abu Nawas sejak semula yakin Baginda Raja kali ini bemiat akan menghabisi riwayatnya. Tetapi Abu Nawas tidak begitu merasa gentar. Mungkin Abu Nawas sudah mempersiapkan tameng. Setelah beberapa hari meringkuk di dalam penjara, Abu Nawas digiring menuju tempat kematian.

Tukang penggal kepala sudah menunggu dengan pedang yang baru diasah. Abu Nawas menghampiri tempat penjagalan dengan amat tenang. Baginda merasa kagum terhadap ketegaran Abu Nawas. Tetapi Baginda juga bertanya-tanya dalam hati mengapa Abu Nawas begitu tabah menghadapi detik-detik terakhir hidupnya. Ketika algojo sudah siap mengayunkan pedang, Abu Nawas tertawa-tawa sehingga Baginda menangguhkan pemancungan.

Beliau bertanya, "Hai Abu Nawas, apakah engkau tidak merasa ngeri menghadapi pedang algojo?"

"Ngeri Tuanku yang mulia, tetapi hamba juga merasa gembira." jawab Abu Nawas sambil tersenyum.

"Engkau merasa gembira?" tanya Baginda kaget.

"Betul Baginda yang mulia, karena tepat tiga hari setelah kematian hamba, maka Baginda pun akan mangkat menyusul hamba ke liang lahat, karena hamba tidak bersalah sedikit pun." kata Abu Nawas tetap tenang. Baginda gemetar mendengar ucapan Abu Nawas. dan tentu saja hukuman pancung dibatalkan.

Abu Nawas digiring kembali ke penjara. Baginda memerintahkan agar Abu Nawas diperlakukan istimewa. Malah Baginda memerintahkan supaya Abu Nawas disuguhi hidangan yang enak-enak. Tetapi Abu Nawas tetap tidak kerasa tinggal di penjara. Abu Nawas berpesan dan setengah mengancam kepada penjaga penjara bahwa bila ia terus-menerus mendekam dalam penjara ia bisa jatuh sakit atau meninggal Baginda Raja terpaksa membebaskan Abu Nawas setelah mendengar penuturan penjaga penjara.

ABU NAWAS MENANAM KENTANG

Pagi itu cuaca cerah, Abu Nawas dan istrinya sedang berkebun di ladang milik mereka. Ladang yang terletak tepat di belakang rumah mereka itu cukup luas untuk menanam hasil bumi yang dapat menunjang hidup sekeluarga.

Sambil menyeka keringat yang mulai membasahi kening dan sekujur tubuhnya, Abu Nawas berkata dalam hati "Enak betul orang kaya yang bergelimang harta, mereka tanpa bekerja keras seperti Aku bisa makan enak, hidup nyaman tanpa harus capek bekerja di ladang seperti Aku"�.

"Kita sudah mencangkul dari pagi, hingga siang hari begini baru sepertiga bagian saja yang bisa Kita cangkul ya istriku"�. Abu Nawas berkata kepada istrinya. Istrinya hanya tersenyum sambil menjawab " Iya suamiku, Kita harus bekerja lebih keras agar dua hari lagi kita dapat menanam bibit kentang Kita".

Abu Nawas dan istrinya tidak tahu kalau pengawal kerajaan sedang menuju rumah mereka. Setelah sampai didepan rumah Abu Nawas , para pengawal kerajaan segera berteriak memanggil si empunya rumah. "Abunawas . . .Abunawas . . . Dimana Kau . . . lekas kemari!" Abu Nawas yang mendengar teriakkan memanggil namanya bergegas datang.

Betapa terkejutnya Abu Nawas begitu mendekat sumber suara yang memanggilnya tadi, tanpa diduga tiba-tiba ia disergap dan ditangkap seperti layaknya penjahat.

"Hai apa-apaan ini lepaskan Aku, apa salahku?" Sambil berontak Abu Nawas berusaha melawan dan melepaskan diri. "Diam Kau Abu Nawas , tidak usah berontak . . . Kami kesini ditugaskan Sultan untuk menangkapmu!" bentak pengawal yang merangket Abu Nawas .

Istri Abu Nawas yang melihat kejadian itu hanya bisa berteriak dan menangis. "Lepaskan suamiku . . . lepaskan suamiku, tuan . . . apa salahnya sehingga tuan menangkapnya?" Pengawal yang sedang berusaha mengikat Abu Nawas ke kudanya itu segera melotot ke arah istri Abu Nawas. "Diam Kau . . . Kami hanya menjalankan tugas untuk menangkap dan menghukum Abu Nawas !"

Akhirnya dengan diiringi tangis istrinya, Abu Nawas ditangkap dan dibawa kepenjara kerajaan. Abu Nawas hanya bisa mengumpat dalam hati, Lihat saja kalian . . . akan kubalas perbuatan kalian . . . istriku sabarlah pasti Aku pulang kerumah secepatnya."

Abu Nawas hanya bisa berjalan terseok-seok dengan tangan terikat yang ditarik kuda para pengawal kerajaan itu. Para pengawal terus tertawa senang melihat penderitaan Abu Nawas sambil terus mempermainkan tali ikatan tangan Abu Nawas. Sehingga sesekali Abu Nawas terjatuh atau terseret karena kelakuan para pengawal tersebut.

Setelah menempuh perjalanan satu hari satu malam dan tiga kali berhenti untuk beristirahat, akhirnya sampailah mereka ke penjara kerajaan. Segera Abu Nawas dimasukkan dalam sel yang lembab, kotor, sempit dan gelap.  Hai sampai kapan Aku di kurung di sini . . . apa salahku? teriak Abu Nawas ketika para pengawal itu mau meninggalkanya.  Pikir saja sendiri apa salah mu Ali . . . dan sampai kapan Kau di sini kami tidak peduli! Jawab pengawal itu ketus sambil berlalu.

Abun Nawas hanya bisa merenungi nasibnya sambil berpikir bagaimana caranya supaya ia dapat keluar dari penjara itu. Ia teringat istrinya dirumah, kasihan istrinya tentu ia merasa sedih dan bingung atas kejadian yang menimpanya kini. Abu Nawas juga teringat ladangnya yang belum selesai ia tanami kentang, dan membayangkan betapa repotnya sang istri mengurus ladang seorang diri.

Setelah lama merenung dan berpikir akhirnya Abu Nawas menemukan ide. Segera ia menulis surat untuk istrinya di rumah, dan isi surat itu berbunyi,

AWAL SURAT ABU NAWAS

Istriku tercinta,

Jangan bersedih dengan keadaanku sekarang ini, Aku baik-baik saja. Sepeninggalku tak usah Kamu kuatir bagaimana kamu menghidupi dirimu sendirian.

Istriku tercinta,

Ketahuilah kalau Kita masih punya simpanan harta karun yang berupa emas, permata dan berlian. Semua itu Aku kubur di ladang kentang di belakang rumah Kita. Cobalah Kau gali pasti Kau akan menemukannya. Gunakanlah untuk mencukupi kebutuhannmu selama Aku di sini.

Suamimu tercinta,
Abu Nawas

AKHIR SURAT ABU NAWAS

Setelah selesai menuliskan surat tersebut, Abu Nawas memanggil penjaga dan memintanya untuk mengantarkan surat itu kepada istrinya. Penjaga yang dititipi surat itu penasaran dan membuka surat Abu Nawas untuk istrinya tersebut. Setelah mengetahui isi surat tersebut, sang penjaga melaporkan kepada Sultan Harun Al Rasyid.

Begitu membaca surat Abu Nawas untuk istrinya tersebut Sultan memerintahkan beberapa pengawalnya untuk pergi kerumah Abu Nawas. Para pengawal tersebut diperintahkan untuk menggali ladang kentang milik Abu Nawas dan mengambil harta karun yang ada di ladang tersebut.

Tak berapa lama kemudian sampailah para pengawal kerajaan di rumah Abu Nawas. Tanpa permisi mereka lalu menuju ke ladang kentang milik Abu Nawas. Mereka menggali ladang kentang tersebut. Istri Abu Nawas yang tidak tau apa-apa heran melihat banyak pengawal menggali ladang kentangnya. Tapi dalam hatinya senang juga karena pekerjaan mencangkul ladang sekarang sudah ada yang mengerjakannya meskipun Abu Nawas tidak ada dirumah.

Sudah seluruh tanah di ladang milik Abu Nawas digali tapi tidak ada harta karun yang dijumpai. Akhirnya para pengawal itu memutuskan untuk menghentikan penggalian dan kembali ke kerajaan dan melaporkan kejadian itu kepada Sultan.

Abu Nawas yang mendengar para pengawal sudah kembali dari rumahnya kemudian menulis surat lagi untuk istrinya.

AWAL SURAT ABU NAWAS

Istriku tercinta,

Sultan sudah sangat baik mengirimkan para pengawalnya untuk membantu Kita mengolah tanah di ladang. Sekarang ladang Kita sudah dicangkul semua.

Sekarang Kamu tentu lebih mudah menanam kentang, tidak usah repot lagi mencangkul ladang sebegitu luas.

Sabarlah istriku, Aku akan cepat pulang karena Sultan orang yang bijaksana. Beliau tahu kalau Aku tidak bersalah. Pasti sebentar lagi Aku akan dibebaskan.
Suamimu,
Abu Nawas

AKHIR SURAT ABU NAWAS

Surat itu lalu dititipkan kepada penjaga penjara untuk disampaikan kepada istrinya di rumah. Dan sesuai dugaan Abu Nawas, surat itu disampaikan ke Sultan oleh penjaga penjara. Setelah tahu isi surat itu, Sultan merasa malu kepada dirinya sendiri.

Sebagai seorang Sultan yang berkuasa tidak sepantasnyalah Beliau penjarakan Abu Nawas dengan alasan yang tidak jelas. Beliau sadar akan kekeliruannya itu, kemudian memerintahkan pengawalnya untuk membebaskan Abu Nawas dari penjara.

Asal usul Abu Nawas dan Kisah Lengkap Kepandaian Abu Nawas

Pada suatu ketika Iblis menyamar berupa manusia dengan tujuan mendatangi Fir'aun yang lagi beristirahat di dalam kamarnya.


Iblis mengetuk pintu kamar dengan kencang. Tentu saja Fir'aun heran bercampur marah, siapa yang berani mengetuk pintunya?

    Fir'aun: Siapa?

    Iblis: Saya.
    Fir'aun: Siapa? (Dengan nada tinggi)

    Iblis: Saya.

Fir'aun: Saya saya, saya siapa? Beraninya mengganggu istirahatku. (Sambil keluar membuka pintu dengan sangat marah).

Iblis: Masak Tuhan istirahat dan tidak tahu siapa yang berada di balik pintu?

Iblis Berkata kepada Fir’aun, “Apakah engkau mengenalku ? “.
Fir’aun menjawab, ” Ya ” .
” Engkau telah mengungguliku untuk satu perkara “, ujar Iblis.
” Untuk perkara apa ? “, tanya Fir’aun.
Iblis menjawab, ” Kelancanganmu terhadap Allah dengan mengaku dirimu sebagai Tuhan.
Aku kan lebih tua, lebih banyak ilmu dan lebih kuat darimu, namun tidak berani mengatakan hal itu “.
Fir’aun berkilah, ” Ya, kau memang benar, namun aku akan bertobat ” .
” Tenang jangan kau lakukan itu “. sergah Iblis.
” Penduduk Mesir telah menganggapmu sebagai Tuhan. Jika kau tarik kembali pengakuanmu itu, tentu mereka akan lari darimu dan berpihak pada musuh-musuhmu. Mereka pasti akan merampas kerajaanmu sehingga kau menjadi sangat hina “.

Fir’aun berkata, ” Ah ya, kau benar. Tetapi tahukah engkau siapa yang lebih jahat daripada kita dimuka bumi ini ? “.
Iblis menjawab, ” Ya, orang yang dimintai maaf namun tidak memaafkan adalah orang yang lebih jahat daripada aku & kau ” .

Iblispun merasa tersaingi, sehingga ia merasa perlu mempermainkan Fir'aun.

"Begitulah manusia, yang dikatakan oleh Allah, bila hati, pendengaran dan penglihatannya tidak berfungsi untuk menerima hidayah Allah, ia bagaikan binatang ternah bahkan lebih hina dari itu." (Al 'Araf: 179)

Iblis hanya memperdaya manusia dengan bisikan was-was di hati, sementara manusia yang durjana mampu melakukan lebih dari itu. Hingga pepatah Arab mengatakan, yang maksudnya kira-kira begini:

كان الفتى من جند إبليس فارتقى حاله حتى صار إبليس من جنده

"Dia dulu adalah seorang pemuda yang menjadi tentara Iblis, maka statusnya meningkat hingga jadilah Iblis sebagai tentaranya".

Memang benar, bila kedurhakaan sudah menggelapkan hati, manusia akan kehilangan rasa takut kepada Allah, hingga ia tidak malu-malu lagi untuk melakukan maksiat. Bahkan sebagian orang zalim seolah-olah berlomba untuk menempati papan teratas dalam rekor kedurhakaan. Segala bentuk kejahatan dia lakukan tanpa ada rasa cemas dan takut.

"Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan siapa di antara mereka yang paling durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah". (Maryam: 69)

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah Pertemuan dan Dialog Iblis Dengan Raja Fir'aun