Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita. Tampilkan semua postingan
KEDIRI JATIM - Seorang ABG bernamaMohamad Alfin Hikami, 16 tahun, warga Dusun Ngadirejo Desa Dukuh Kecamatan Ngadiluwih, Kabupaten Kediri, meninggal dunia setelah tersambar petir. Peristiwa yang terjadi sekitar jam 15.30 WIB, sore tadi.

Kapolsek Ngadiluwih Polres Kediri AKP Iwan Setyo Budhi saat dikonfirmasi mengatakan, awalnya ALFIN bersama orang tuanya, BINTI MUDAFI'AH dan ROMDHONI pulang dari sawah saat hujan deras. 

Ketiganya melintas di sekitar perkebunan tebu. ALFIN dan kedua orang tuanya menghentikan kendaraan masing-masing.

Tiba-tiba ROMDHONI, ayah ALFIN mendengar suara petir menyambar. Ketika melihat ke arah belakang, terlihat ALFIN sudah terjatuh dari sepedanya. Melihat kejadian tersebut, BINTI dan ROMDHONI berusaha mencari tahu anaknya dan meminta bantuan warga sekitar. 

Orang yang melihat kejadian tersebut melaporkan ke perangkat desa dan diteruskan ke Polsek Ngadiluwih. 

Dari hasil pemeriksaan oleh petugas medis dan kepolisian yang datang ke lokasi, ditemukan bekas luka bakar, diduga korban meninggal dunia karena tersambar petir. 

Sumber : andikafm.com

Tersambar Petir, Bocah 16 Tahun Di Kediri Meninggal Dunia

JOMBANG JATIM - Seorang bocah kelas 6 SD tewas tenggelam di objek wisata sungai Kedung Cinet, Desa Klitih, Kecamatan Plandaan, Jombang. Korban tercebur ke dalam cekungan di sungai tersebut saat selfie.

Kepala Desa Klitih Siti Roaini mengatakan, korban Alfian Rizky Pratama (12) semula datang ke wisata Kedung Cinet bersama dua temannya sekitar pukul 11.30 WIB. Yakni Abdurrahman Halimur Rasyid (16) dan M Addin (17).

Bocah kelas 6 SD warga Desa Sambong Dukuh, Kecamatan Jombang itu berswafoto di sungai Kedung Cinet. Saat itu sungai sedang dangkal. Namun banyak cekungan air yang dalam.

"Korban selfie semakin ke tengah sungai, kemudian tenggelam di cekungan karena tidak bisa berenang," kata Siti saat dikonfirmasi wartawan, Rabu (21/10/2020).

Tahu Alfian tenggelam, kedua temannya memilih pulang melaporkan ke keluarganya karena tidak berani menolong. Sementara tidak ada penjaga di Kedung Cinet karena objek wisata mirip Grand Canyon itu sedang ditutup.

Menerima laporan warganya tenggelam di Kedung Cinet, Kepala Desa Sambong Dukuh Khoirur Rozikin bergegas ke lokasi untuk melakukan pencarian. Proses pencarian juga dibantu warga Desa Klitih yang lebih paham seluk beluk sungai Kedung Cinet.

Nahas, Alfian ditemukan sudah tak bernyawa. Jasad bocah kelas 6 SD ini ditemukan di cekungan yang sama dengan tempat tenggelam.

"Jenazah kami temukan sekitar jam empat sore (pukul 16.00 WIB)," terang Rozikin.

Kapolsek Plandaan AKP Akwan menjelaskan, saat ini anggotanya mengumpulkan keterangan dari lokasi kejadian. Berdasarkan keterangan Kepala Desa Klitih, korban tenggelam di sungai Kedung Cinet saat selfie.

"Korban sudah dibawa pulang keluarganya. Anggota kami masih melengkapi keterangan di TKP," tandasnya.

Sumber : detik.com

Asyik Sedang Selfi, Bocah SD di Jombang Tewas Tenggelam di Sungai

PONOROGO JATIM - Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo KH Abdullah Syukri Zarkasyi meninggal dunia. KH Abdullah Syukri Zarkasyi meninggal dunia di rumah Gontor pada Rabu (21/10/2020) sekitar pukul 15.50 WIB.

KH Abdullah lahir di Gontor pada tanggal 19 September 1942. Beliau adalah putra pertama dari KH Imam Zarkasyi, salah seorang Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi menamatkan Sekolah Dasar di desa Gontor pada tahun 1954. Setelah menamatkan Kulliyatu-l-Mu'allimin Al-Islamiyah (KMI) Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1960 melanjutkan studi di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta hingga mendapatkan gelar Sarjana Muda tahun 1965.

Adapun gelar Lc. didapat dari Al Azhar University Kairo, Mesir pada tahun 1976. Kemudian melanjutkan studi di lembaga yang sama hingga meraih gelar MA pada tahun 1978, dan gelar Doctor Honoris Causa pada 2005 dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

KH Abdullah Syukri Zarkasyi menorehkan berbagai prestasi, mulai dari pengalaman organisasi, pengalaman berada di luar negeri hingga mengeluarkan 13 karya tulis.

"Mohon doanya semoga dosanya diampuni dan amal ibadahnya diterima Allah SWT dan semoga husnul khatimah," ujar Rektor Unida Gontot Prof. Amal Fathullah Zarkasy dalam siaran pers yang diterima wartawan.

Sumber : detik.com

Kabar Duka, KH Abdullah Syukri Zarkasyi Pimpinan Ponpes Gontor Tutup Usia

Gegara kemaluannya dipegang, nenek berusia 70 tahun nekat hajar kuli panggul hingga pingsan.

Nenek berinisial DK ini menghajar habis habisan pria berinisial DK (45) di Palembang Sumatera Barat.

Aksi tangan jahil ini berujung petaka saat dirinya memegang kemaluan nenek yang berusia 70 tahun ini.

Kini gara-gara aksinya DK yang berprofesi sebagai kuli panggul itu, kini harus berurusan dengan pihak berwajib.

Tangan jahil DK kepada sang nenek berusia 70 tahun itu malah berujung petaka untuk dirinya sendiri.

Sang nenek malah menghajar DK habis-habisan.

Melansir dari laman Kompas.com: Kemaluannya Dipegang, Nenek 70 Tahun Hajar Pria Mabuk, peristiwa itu terjadi tepatnya di kawasan Pasar 9-10 Ulu, Jalan KH Azhari, Palembang.

Saat itu, sang nenek telah berjalan kaki.
Kemudian, nenek berusia 70 tahun itu yang berpapasan dengan pelaku.

Tak hanya itu, pelaku pun tiba-tiba melakukan pelecehan dan memegang kemaluan sang nenek.

Sontak saja, nenek berusia 70 tahun itu langsung berteriak.

Merasa telah diperlakukan tak senonoh, KR pun melawan dan memukuli DK dengan tangan kosong.

Kurang puas, ia pun berteriak minta tolong sehingga DK menjadi bulan-bulanan massa.

"Saya lagi lewat, dia ini tiba-tiba pegang kemaluan saya. Sudah itu mau kabur saya kejar, langsung saya pukuli. Kebetulan keponakan saya di sana, langsung saya teriak dan warga banyak datang," kata KR saat berada di Polrestabes Palembang, Senin (19/10/2020).

Warga yang mendengar teriakan nenek KR pun ramai berdatangan membantu korban.

Akibatnya, DK yang saat itu dalam kondisi mabuk sempat dihajar massa.

Bahkan, sang kuli panggul itupun sampai pingsan setelah dihajar sang nenek dan dikeroyok oleh massa.

Setelah itu, tersangka langsung diserahkan ke Polrestabes Palembang.

Sementara itu, Kasubag Humas Polrestabes Palembang, AKP Irene mengatakan, pihaknya sudah mengamankan pria tersebut.

Gegara Dipegang Kemaluannya, Nenek 70 Tahun Ini Hajar Kuli Panggul

BLITAR JATIM - Aplikasi TikTok mempertemukan si kembar Trena Treni yang 20 tahun terpisah. Mereka terpisah akibat adanya konflik Ambon pada 1999.

Pertemuan mereka berawal dari posting-an Treni Fitri Yana warga Kademangan, Kabupaten Blitar yang menarik perhatian warga Tasikmalaya, Jawa Barat. Mereka menyangka tetangganya yang bernama Trena Mustika, yang lihai membuat konten TikTok itu.

Namun setelah ditanyakan kepada Trena, dia mengaku bukan pengisi konten itu. Yang membuat Trena ikut penasaran, bagaimana mungkin wajah Treni sangat mirip dengannya. Trena pun kemudian menelusuri akun media sosial Treni lainnya. Lalu ia mencoba berkomunikasi dengan berkomentar di tiap posting-an Treni.

"Awalnya saya gak begitu respons. Karena saya juga berdagang online. Tapi yang ditanyakan bukan dagangan saya. Malah lebih ke pribadi saya," tutur Treni kepada wartawan, Senin (19/10/2020).

Lama kelamaan, Treni penasaran juga. Karena beberapa orang yang belakangan diketahui kakak-kakak kandungnya, mengirimkan foto Trena Mustika. Mereka juga menyebutkan nama wanita yang selama ini mengasuh Treni di Blitar.

"Baru pada 14 Oktober lalu, mereka video call sama saya. Dan ya ampun, gak nyangka. Ternyata saya punya kembaran. Identik banget, cara berpakaian kami, cara bicara kami. Selama ini ibu saya gak pernah ngasih tahu kalau saya kembar," ungkapnya.

Fakta di depan mata membuat perasaan Treni tak karuan. Antara senang, sedih, tak percaya bahkan sampai syok mendapati kenyataan bahwa ada wanita lain yang serupa dan sedarah dengannya. Awalnya, Treni tidak mampu menanyakan fakta itu kepada ibunya. Namun sang ayah kandung akhirnya menghubungi sendiri ibu yang mengasuhnya selama ini.

Rabu (21/10), Treni berencana menemui keluarga aslinya dan saudara kembarnya di Tasikmalaya. Mereka yang terpisah sejak usia sekitar 2 tahun itu, akan kembali bertemu berkat aplikasi TikTok.

Dari ayahnya di Tasikmalaya, Treni mendapat cerita jika dia terpisah dengan saudara kembarnya akibat konflik Ambon pada 1999. Ayahnya yang sibuk mengurusi ibu mereka di rumah sakit, terpaksa menitipkan anak kembar ke tetangga yang sesama transmigran dari Jawa.

Ketika Ambon berkecamuk, ayah mereka hanya menemukan Trena. Sementara Treni kabarnya sudah dibawa tetangga pulang ke Jawa. Namun posisi Jawa bagian mana, keluarga ini kehilangan jejak. Treni pun bak hilang ditelan bumi.

"Soal cerita ini nanti saja kalau saya sudah bertemu mereka. Bagaimana saya bisa terpisah dari keluarga dan kembaran saya," pungkasnya.

Sumber : detik.com

Berkat Tiktok, Dua Cewek Kembar Ini Dipertemukan Lagi Usai Pisah 20 Tahun

LUMAJANG JATIM - Tragedi berdarah baru saja terjadi di Kecamatan Kunir, Lumajang. Tepatnya sekira pukul 09.30 WIB.

Pemicunya, saat AS yang baru saja pulang mencari rumput di sawah, tengah memergoki istri tak mengenakan busana dan berduaan bersama S di dalam kamar. 

Akibat cemburu buta, AS yang saat itu masih memegang celurit langsung menyabit kepala S. 

Diketahui di desa eks lokakisasi itu, masyarakat melabeli kawasan tersebut merupakan bekas tempat lokalisasi. 

Saat berkunjung di desa itu, sapaan perempuan-perempuan centil meminta kesediaan untuk mampir sangat akrab di telinga.

Rata-rata perempuan ini mengenakan pakaian minim duduk berjajar saling melempar senyum kepada semua orang yang lewat.

LS salah satu pemilik warung yang tak ingin disebutkan namanya membenarkan, aktifitas prostitusi di kawasan tersebut pernah diobrak. Namun sudah setahun kembali buka.

"Dua tahun lalu pernah diobrak waktu Bupati Lumajang yang baru menjabat," kata LS, Selasa (13/10/2020).

Saat disinggung mengenai kejadian pembacokan, LS mengaku tidak tahu menahu. 

Pun Ia juga mengatakan tak ada saksi mata selain istri AS. 
Sebab kata LS, hubungan warga di Desa Kabuaran terbilang cuek. 

Pengakuan ini rasanya juga perlu diamini. Sebab berdasarkan pengamatan di lokasi 
bangunan antar warga saling berjarak.
Kebanyakan dipisahkan lahan kosong yang belum digarap. 

"Saya tadi pas kulakan di pasar, pulang-pulang tiba-tiba jalan sepi. Terus ada polisi sama Pak RT. Saya tanya Pak RT juga gak tahu," ucapnya.

Saat ditanya mengenai dugaan istri AS menjalin cinta terlarang dengan S, ia kembali mengelengkan kepala.

Namun yang jelas, kata LS, rumah AS sehari-sehari juga difungsikan sebagai warung kopi yang juga memajang pelayang perempuan.

"Itu kan ngontrak di rumah anak saya, sekitar 2 tahun lalu. Kalau pasangan ini nikah resmi dan mereka pendatang," ungkapnya.

Pulang Dari Sawah Pria Di Lumajang Pergoki Istri Telanjang di Kamar Dengan Pria Lain

TULUNGAGUNG JATIM - Masuk Zona Kuning, hiburan dalam hajatan di Tulungagung sudah diperbolehkan, asalkan tetap menerapkan disiplin protokol kesehatan. Hiburan yang diperbolehkan hanya untuk menghibur tamu saat melangsungkan pernikahan atau khitanan, bukan hiburan konser yang digelar dengan banyak orang. 

Meski begitu, tetap harus ada ijin dari gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung.

Saat dikonfirmasi Wakil Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Tulungagung GALIH NUSANTORO mengatakan, setelah ditetapkan wilayah Tulungagung masuk zona kuning penyebaran virus Corona, ada relaksasi bagi masyarakat untuk melakukan hajatan yang di dalamnya ada hiburan. 

Meski diperbolehkan, tetap ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya, sebelum menggelar hajatan, harus mengurus ijin ke gugus tugas.

GALIH juga menjelaskan, jika di suatu daerah yang akan menggelar hajatan ada proses tracing untuk mengetahui kontak erat pasien positif Covid-19, maka hajatan tidak diperbolehkan. Jadi, tidak semua hajatan dan hiburan diijinkan. Tetap harus melihat potensi atau kerawanan penyebaran virus corona.

Meskipun diperbolehkan ada hiburan saat menggelar hajatan, GALIH mengingatkan, harus memperhatikan beberapa poin. Antara lain, tamu undangan hanya melihat saja di tempat duduk masing-masing, dan tidak ikut berjoged. 

Tamu yang hadir juga dibatasi, bisa dilakukan dengan pembagian shift. Misalnya kapasitas lokasi menampung 100 orang, maka harus terbagi menjadi tiga sift. Dan, wajib menerapkan protokol kesehatan. 

Langkah ini, untuk menekan penyebaran virus Corona sehingga tidak timbul klaster hajatan.

Sumber : andikafm.com

Tulungagung Zona Kuning, Acara Hiburan dan Hajatan Diperbolehkan

SRAGEN JATENG - Ervan Wahyu Anjasworo (16) bocah asal Sragen, Jawa Tengah, berhasil kembali bertemu dengan keluarganya usai dinyatakan hilang selama 11 tahun. Ervan hilang saat diajak ayahnya liburan di Jakarta tahun 2009 lalu.

Ervan dan ayahnya, Suparno (37), warga Dusun Gabus Wetan, Desa Gabus, Kecamatan Ngrampal, Sragen, dipertemukan atas kerja sama Dinas Sosial Kota Bogor dan Dinas Sosial Kabupaten Sragen. Untuk pertama kalinya dalam 11 tahun, Ervan kembali ke kampung halamannya hari ini, Selasa (6/10/2020).

Ayah Ervan, memang bekerja di Jakarta sebagai sopir metromini. Tahun 2009 lalu, Suparno mengajak Ervan yang masih duduk di bangku taman kanak-kanak untuk berlibur di Jakarta.

"Biasanya Ervan saya titipkan di rumah kakeknya. Karena sedang liburan, saya ajak ke Jakarta. Waktu itu kontrakan saya di daerah Kemayoran," ujar Suparno, ditemui wartawan di rumah orang tuanya di Dusun Panurejo, Desa Kedungupit, Kecamatan Sragen Kota.

Hampir tiga pekan di Jakarta, lanjutnya, Ervan minta untuk dipulangkan ke Sragen. Saat itu Suparno menyanggupi akan memulangkan Ervan dua hari kemudian.

"Saya bilang ke Ervan menyanggupi hari Minggu pulang ke Sragen. Tapi Jumat sekitar jam 3 sore sudah tidak ada," kata Suparno.

Suparno mengatakan, saat itu Ervan berpamitan untuk mengembalikan game watch yang disewanya dari tetangga. Namun hingga malam hari, bocah berumur 5 tahun tersebut tak kunjung pulang.

"Saya masih ingat waktu itu makanan dan minumannya saja belum sempat dihabiskan. Saya cari kesana kemari, akhirnya tengah malam saya lapor ke polisi," paparnya.

Suparno bahkan sempat tidak bekerja selama dua bulan agar lebih fokus mencari anaknya. Hari-hari dia habiskan menyusuri gang demi gang di seantero Jakarta, namun anaknya tidak bisa diketemukan.

"Karena waktu itu marak penculikan, pikiran saya anak saya diculik orang. Tapi saya yakin anak saya masih hidup, makanya saya tetap bekerja di Jakarta agar bisa terus mencari anak saya," terangnya.

Sementara ditanya seputar momen hilangnya, Ervan mengaku masih ingat betul apa yang menimpanya. Ervan yang waktu itu masih polos, dibujuk oleh empat orang pengamen untuk mengikuti mereka.

"Saya selesai ngembaliin game watch, baru mau pulang. Di jalan ada empat pengamen minta saya ikut, katanya nanti mau diantar pulang," kata Ervan yang kini sudah tidak bisa berbicara bahasa Jawa itu.

Karena masih bocah, Ervan pun menuruti rayuan keempat pengamen tersebut. Bersama keempat pengamen tersebut, Ervan pun hidup di jalanan.

"Saya disuruh mengamen. Hasilnya dibagi dua, separuh untuk Ervan makan separuh disetor ke mereka. Kalau tidurnya sembarangan, kadang di kolong kadang di trotoar," terangnya.

Hidup di jalanan, Ervan mengaku kerap mendapatkan kekerasan dari para pengamen jika setorannya tidak memenuhi target. Ervan menjalani hidup seperti itu selama 2,5 tahun.

"Sering dipukul kalau tidak dapat uang. Lari juga percuma, nanti ketangkep lagi malah dipukuli," paparnya.

Para pengamen tersebut ternyata menepati janji untuk memulangkan Ervan. Dengan menumpang kereta api, Ervan sempat diantar sampai Kota Solo. Namun karena tak ingat alamat rumahnya, Ervan pun terpaksa kembali ke Jakarta.

"Ada sebulan muter-muter di Solo sambil ngamen tapi saya bener-bener nggak ingat. Akhirnya balik lagi ke Jakarta tapi berhenti di Parung Bogor," lanjutnya.

Di Parung, jalan hidup Ervan berubah. Dirinya terpisah dari rombongan pengamen saat lari menghindari petugas Satpol PP. Ervan beristirahat di masjid daerah Kemang Bogor, dan bertemu dengan orang baik yang mau mengangkatnya sebagai anak.

"Di masjid ketemu pak RT, saya ditanya-tanya terus diangkat anak. Namun hanya empat bulan karena pak RT meninggal, saya lalu diangkat anak oleh orang lain bernama Mbah Eli," kata dia.

Tujuh bulan setelahnya, Ervan dikirim ke Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan Dan Anak (P2TP2A) dan diasuh oleh salah seorang pegawainya bernama bu Wiwid. Saat itulah Ervan di sekolahkan hingga jenjang SMP.

"Sempat dipesantrenin juga selama tiga tahun. Setelah itu ditarik sama panti di Bogor untuk dilatih kerja," sambungnya.

Sampai September lalu, Ervan yang semakin rindu untuk pulang, mencoba mencari keterangan tentang kampung halamannya di internet. Berbekal kata kunci yang tepat, Ervan berhasil menemukan titik terang.

"Yang saya inget Pak Parno (ayah), Bu Tanti (ibu) dan Mbak Ajeng (kakak). Sama saya ingat rumah saya dekat Pasar Gonggang. Saya ingat sekali namanya karena nenek dulu sering ajak saya ke pasar," tukasnya.

Ervan semakin yakin setelah menelusuri Pasar Gonggang melalui aplikasi Google Street View. Menurutnya, bangunan Pasar Gonggang masih persis seperti waktu dirinya masih kecil dulu.

"Saya lapor kepada kepala panti yang kemudian menghubungi Dinas Sosial Solo dan sekitarnya, termasuk Sragen. Selang beberapa hari petugas panti datang membawakan saya foto. Benar itu foto keluarga saya," ujarnya haru.

Ternyata, lanjut Ervan, informasi dari panti sosial Kota Bogor tersebut ditindak lanjuti oleh Dinas Sosial Sragen, yang langsung melakukan home visit ke rumah Suparno untuk memastikan informasi tersebut.

"Lalu ayah saya bersama petugas Dinsos Sragen datang ke Bogor untuk menjemput. Setelah merampungkan proses, hari ini saya bisa sampai rumah lagi," imbuh Ervan.

Suparno mengaku bersyukur bisa kembali dipertemukan dengan anaknya. Dirinya berterima kasih kepada seluruh pihak, termasuk orang-orang yang berbaik hati mengasuh anaknya.

"Terima kasih kepada seluruh pihak. Saya berharap ini jadi pengalaman bagi orang tua yang lain, untuk lebih mengawasi anaknya dengan baik," pungkasnya.

Sumber : detik.com

Hilang 11 Tahun, Bocah Di Sragen Kembali Pulang Bertemu Keluarga