Social Items

Showing posts with label Awal Mula kabupaten Majene. Show all posts
Showing posts with label Awal Mula kabupaten Majene. Show all posts
Kabupaten Polewali Mandar (sering disingkat Polman), adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Jumlah penduduk di kabupaten Polewali Mandar adalah saat ini sekitar 517.677 jiwa dengan luas wilayah mencapai 2.022,30 km² dan secara administrasi kepemerintahan, Polewali Mandar terbagi menjadi 16 kecamatan. Ibu kotanya adalah Polewali.

AWAL MULA KABUPATEN POLEWALI MANDAR


Sebelum dinamai Polewali Mandar, daerah ini bernama Kabupaten Polewali Mamasa disingkat Polmas yang secara administratif berada dalam wilayah Provinsi Sulawesi Selatan. Setelah daerah ini dimekarkan dengan berdirinya Kabupaten Mamasasebagai kabupaten tersendiri, maka nama Polewali Mamasa pun diganti menjadi Polewali Mandar.

Nama Kabupaten ini resmi digunakan dalam proses administrasi pemerintahan sejak tanggal 1 Januari 2006setelah ditetapkan dalam bentuk PP No. 74 Tahun 2005, tanggal 27 Desember 2005tentang perubahan nama Kabupaten Polewali Mamasa menjadi Kabupaten Polewali Mandar.

Sementara Kesatuan Hukum Adat Pitu Ulunna Salu (Tujuh Kerajaan di Hulu Sungai) yang terletak di wilayah pegunungan berada di Onder Afdeling Mamasa yang meliputi:

  • Tabulahan (Petoe Sakku);
  • Aralle (Indo Kada Nene’);
  • Mambi (Tomakaka);
  • Bambang (Subuan Adat);
  • Rantebulahan (Tometaken);
  • Matangnga (Benteng);
  • Tabang (Bumbunan Ada).

PEMEKARAN WILAYAH

Kabupaten Polewali Mandar adalah salah satu di antara 5 (lima) Kabupaten di Provinsi Sulawesi Barat yang terbentuk berdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2004. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran ex-Daerah Swatantra (Afdeling) Mandar yang menjadi 3 kabupaten atau daerah tingkat II yang dimekarkan berdasarkan UU Nomor 29 Tahun 1959, yaitu:

- Kabupaten Majene, meliputi bekas Swapraja Majene, Swapraj Pamboang dan Swapraja Cenrana (sendana);
- Kabupaten Mamuju, meliputi bekas Swapraja Mamuju dan Swapraja Tappalang;
- Kabupaten Polewali Mamasa, meliputi Swapraja Balanipa dan Swapraja Binuang yang termasuk dalam Onder Afdeling Polewali serta Onder Afdeling Mamasa.

Berdasarkan UU Nomor 11 Tahun 2002 tentang Pembentukan 22 Kabupaten/Kota Baru di seluruh wilayah provinsi, dua di antara kabupaten/kota itu adalah Kota Palopo dan Kabupaten Mamasa. Mamasa merupakan hasil pemekaran dari Daerah Tingkat II Polewali Mamasa, sehingga kedua onder afdeling Polewali dan Mamasa dimekarkan menjadi dua kabupaten terpisah, yaitu: Kabupaten Polewali Mandar dan Kabupaten Mamasa.

Sumber : Wikipedia.org

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Polewali Mandar Sulawesi Barat

Kabupaten Mamuju adalah kabupaten yang berada di provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Ibukotanya adalah Kota Mamuju. Walaupun demikian, Kota Mamuju, sampai saat ini, bukanlah daerah otonom yang memiliki wali kota ataupun Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota sendiri, melainkan masih menjadi bagian dari Kabupaten Mamuju.


Kabupaten Mamuju berada di antara Palu (Sulawesi Tengah) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Kabupaten ini menjadi jembatan ekonomi atau pun budaya Kota Palu dan Makassar.
Kabupaten Mamuju memiliki luas wilayah sekitar 4.999,69 km2 dengan jumlah Penduduk saat ini mencapai 297.096 jiwa.

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN MAMUJU

Peradaban di wilayah Mamuju sejak abad II sampai abad V Kerajaan Mamuju (Sikandeng) telah menjadi salah satu daerah perdagangan global yang bertaraf internasional. Ini salah satu indikasi bahwa sejak saat itu Kerajaan Mamuju telah memiliki struktur sosial masyarakat yang teratur, mungkin pula sistim Pemerintahan yang berpengaruh disepanjang Pantai Utara Selat Makassar.

Cikal Bakal Pemerintah Kerajaan Mamuju adalah mulai dari beberapa Tomakaka kemudian mengadakan persekutuan bergabung didalam satu ikatan yakni Kerajaan Mamuju.

Secara Geografis, daerah yang termasuk Kerajaan Mamuju ialah mulai dari Taludu sampai Suromana, masyarakat yang berada disekitar wilayah ini kemudian sepakat menamakan diri To Mamunyu atau suku Mamunyu.

 Berdirinya kerajaan Mamuju sesuai penelitian yang seksama yakni pada 14 Juli 1540 yang selanjutnya mulai dari Sistim Monarki menjadi daerah Regentchap kemudian menjadi daerah adat Gementschap sampai decade terakhir menjadi distrik, makadalam sebuah peralihan antara fase pemerintah klasik / tradisional dengan Pemerintah Konstitusional lalu lahir Undang-Undang No. 29 tahun 1959 (14 tahun) setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Undang-undang tersebut menjadi dasar hukum berdirinya Kabupaten Daerah Tingkat II se Sulawesi termasuk didalamnya Kabupaten Mamuju dengan wilayah yang meliputi 6 (enam) buah Kecamatan (Pemekaran Distrik menjadi Kecamatan).

HARI JADI KABUPATEN MAMUJU

Penetapan Hari Jadi Mamuju sebagai salah satu kabupaten di Sulawesi Selatan memakan waktu yang cukup panjang dan melibatkan banyak tokoh di daerah ini. Kajian sejarah dan berbagai peristiwa penting melahirkan beberapa versi mangenai waktu yang paling tepat untuk dijadikan sebagai Hari Jadi Mamuju.

Menyadari perlunya titik temu pendapat mengenai hari jadi tersebut, HIPERMAJU dan PERSUKMA bekerjasama dengan Pemerintah Daerah Mamuju melaksanakan seminar, dan ditetapkan tahun 1540 sebagai Hari Jadi Mamuju. Hasil seminar inilah yang kemudian ditindaklanjuti oleh Bupati dengan menyusun Rancangan Peraturan Daerah tentang Hari Jadi Mamuju.

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Mamuju hasil pemilu 1999 menerima Ranperda dan setelah melalui pembahasan termasuk dengar pendapat dengan para tokoh sejarah, budayawan dan tokoh intelektual di daerah ini, dalam sidang paripurna tanggal 9 Agustus 1999 secara resmi Ranperda tentang Hari Jadi Mamuju disahkan menjadi Peraturan Daerah Kabupaten Mamuju. Peraturan daerah ini adalah Perda Nomor 05 Tahun 1999 diundangkan pada Tanggal 10 Agustus 1999 dan dicantumkan dalam Lembaran Daerah Kabupaten Mamuju Tahun 1999 Nomor 14. Inti dari Perda tersebut adalah menetapkan TANGGAL 14 JULI 1540 SEBAGAI HARI JADI MAMUJU.

Dalam penjelasan Peraturan Daerah tersebut diuraikan latar belakang penetapan waktu Hari Jadi Mamuju dan kesempatan ini dikutip beberapa kalimat butir C (penjelasan peraturan) sebagai berikut :

Apabila dilihat dari sudut yuridis formal, maka Hari Jadi Mamuju akan jatuh pada tanggal 4 Juli 1959, yaitu saat ditetapkannya Undang- Undang Nomor 29 Tahun 1959 tentang pembentukan Daerah-Daerah Tingkat II di Sulawesi. Namun akal sehat akan membawa kita untuk tidak terpaku dan terperangkap dalam kelakuan formalitas yang sempit yang kelak dapat mengaburkan maksud dan tujuan menetakan Hari Jadi Mamuju itu sendiri”.

Dengan demikian, Hari Jadi Mamuju akan bermakna dan bernilai moral yang amat mendalam bukan sekedar formalitas belaka tetapi dapat memberi makna simbolik tentang harkat, hakekat, citra dan jati diri untuk selanjutnya berperan sebagai wahana motivasi bagi masyarakat demi melestarikan nilai-nilai budaya dan sejarah Mamuju.

Ungkapan Mutiara hikmah nilai budaya dan tradisi masyarakat Mamuju mengatakan: “Todiari Teppo Dolu, Parallu Nikilalai Sule Wattu Ia Te’e, Laiyalai Mendiari Peppondonganna Katuoatta’ilalan Era Laittingayoaianna”.

Dari kutipan diatas tergambar dasar-dasar pemikiran penetapan waktu yang diambil sebagai Hari Jadi Mamuju dan peristiwa yang menjadi patokan penetapannya adalah terbentuknya Kerajaan Mamuju dari hasil perpaduan tiga buah kerajaan Kurri-Kurri, Langgamonar dan Managallang.

Sejarah Terbentuknya Kabupaten Mamuju Sulawesi Barat

Kabupaten Mamasa adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Mamasa. Kabupaten Mamasa memiliki luas wilayah sekitar 2.759,23 km2 dengan jumlah Penduduk saat ini mencapai sekitar 203.599 jiwa.

SEJARAH SINGKAT KABUPATEN MAMASA


Nama Mamasa sebenarnya berasal dari nama “mamase”, yang berarti tanah yang penuh kasih. Nama ini diberikan oleh Nenek Dettumanan, sebab setiap ia datang berburu di lembah itu, selalu pulang dengan hasil buruan yang melimpah seperti anoa dan ikan di sungai tersebut. Sehingga ia member nama “lembang mamase” yang berarti “lembah yang pengasih”


Menurut cerita, pada suatu hari datanglah sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang suami-istri. Dia adalah Gualipadang, anak dari Sabalima dari Koa atau Tabang. Mereka tinggal di pinggir sungai (kini disebut Salu Kuse dekat kampung Rantebuda sekarang ini). Kedatangannya secara diam-diam dan tersembunyi, tanpa seijin Dettumanan di Tabulahan sebagai penguasa lembah Mamasa pada waktu itu.

Pada suatu hari Dettumanan pergi berburu, sampai di puncak gunung Mambulilling. Sesampainya di Mambulilling, terlihat olehnya kepulan asap api di dekat sungai Mamasa. Ia lalu semakin mendekat ke tempat asap itu, idapatinya sebuah pondok yang didiami oleh Gualipadang bersama istrinya di dekat sungai Mamasa.

Nenek Dettumana marah dan mengusir Gualipadang bersama istrinya. Namun Gualipadang berkeras tidak ingin meninggalkan tempat tinggalnya itu. Kemudian Dettumana mengutuk Gualipadang bersama istrinya.

“Jangan kamu harap akan memperoleh berkat pada tempat ini, karena tempat yang kamu huni ini adalah tanah kepunyaanku dan kamu mendiaminya tanpa sepengetahuan saya. Anakmu nanti akan menjadi makanan binatang penghuni hutan ini,tanaman padimu akan tumbuh menjadi alang-alang, tanaman jagungmu akan menjadi pimping (tille), buah labumu akan berubah menjadi batu dan kamu akan menderita di lembah milikku ini”.

Lalu Dettumana menonggalkan mereka dan kembali ke Tabulahan dengan penuh amarah.

Beberapa bulan kemudian setelah kejadian itu, istri Gualipadang hamil dan melahirkan seoarng anak laki-laki. Tetapi ketika anak itu mulai tumbuh besar, tiba-tiba datanglah seekor Kus-kus (kuse) lalu menerkam anak itu, lalu dibawa ke atas pohon hendak dimakannya. Segala kutukan nenek Dettumanan, satu persatu mulai muncul sebagai malapetaka buat keluarga Gualipadang.

Karena sudah tidak tahan tinggal di sana, mereka lalu kembaki ke Koa (Tabang) untuk menyampaikan kepada orangtuanya. Orangtuanya kemudian memberi nasehat bahwa pergilah berburu dan semua hasil buruanmu akan dibawa ke Tabulahan dan diberikan kepada Nenek Dettumanan. Orangtua Gualipadang kemudian mempersiapkan dua kantong  jagung goring tumbuk disertai daging kering babi dan anoa.

Maksudnya agar setibanya di Tabulahan dengan hasil buruannya, tidak akan mau memakan makanan yang disajikan oleh Nenek Dettumanan kepadanya, tetapi akan memakan bekal dari orangtuanya, agar Nenek Dettumanan berbelas kasihan kepadanya dan memberikan lembah Mamasa kepada Gualipadang.

Gualipadang kemudian berangkat ke hutan untuk berburu dengan beberapa hambanya. Setelah mendapatkan hasil buruan, kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke Tabulahan. Setibanya di Tabulahan, Nenek Dettumanan pergi ke kebun untuk menghindar pertemuan dengan Gualipadang. Setiap kali istri Dettumanan memberikan makanan pada Gualipadang, Gualipadang tidak memakannya.

Istri Dettumanan berfikir jangan-jangan Gualipadang akan mati kelaparan di tangan Istri Dettumanan. Apalagi kelihatannya Gualipadang dalam keadaan sakit parah. Istri Dettumanan segera berangkat memanggil suaminya dan menyampaikan bahwa Gualipadang terancam akan meninggal dunia di rumahnya. Dettumanan bersama istrinya kemudian kembali ke rumahnya, sementara didapati Gualipadang pura-pura sakit keras yang tinggal menunggu ajalnya.

“Biarlah engkau mati, saya tidak merasa sangat rugi bila kupotongkan 10 ekor kerbau, karena engkau amat kurang beradat, berani menduduki tanah ini tanpa seizing saya”, kata Dettumanan dengan nada jengkel.

Semakin dia dimarahi, Gualipadang semakin merendah diri dihadapannya.

“Jika betul-betul engkau mau tinggal di tanah milikku, maka maukah engkau menuruti janji yang akan engkau pertanggungjawabkan?”, Dettumanan melanjutkan.

“Asal kami diberi izin untuk tinggal di tempat ini kami akan menerima perjanjian itu walaupun berat”, jawab Gualipadang.

“Kalau begitu kamu pulang saja dan saya akan menyusul”, kata Dettumana lagi.

Kemudian Dettumanan menyusul setelah beberapa hari. Setibanya di lembah Mamasa, dia membuat satu syarat perjanjian sebagai berikut:

1. Maukah engkau menghuni tanah ini dibawah pengawasan Tabulahan?
2. Maukah engkau memberikan nasi yanh telah masak ataupun padi yang sedang disimpan diatas lubungmu nanti, aku akan ambil sebagian bila aku datang di tanah ini?
3. Maukah engkau rumahmu dibangun tidak boleh berpetak dua, dan nasi yang telah masak dibelangamu kau angkat untuk saya makan jika aku datang di tmpet ini?
4. Maukah engkau untuk tudak melakukan sesuatu sesuai keinginanmu, yang bisa merusakkan tanah ini dan menjatuhkan segenap kaumku yang berdiam didalammnya?
5. Maukah engkau menuruti segala keinginanku, baik hal yang kecil ataupun yang besar?

Lalu jawab Gualipadang, “segala perjanjianmu saya terima, sebab tanah ini begitu luas, sebagai bentangan langit di bawah bumi luasnya.”

Maka tinggallah Gualipadang dengan istri dan keturunannya di lembah Mamasa dengan penuh kebahagiaan tanpa ganjalan di hati mereka. Itulah sebebnya, jika Indo Litak dari Tabulahan tiba di Mamasa, maka penduduk lembah mamasa wajib memberikan sebagian hasil padi garapannya kepadanya untuk dibawa ke Tabulahan, sementara penghuni lembah Mamasa wajib menjamu atau memberi makan Indo’ Litak selama berada di lembah Mamasa sesuai dengan perjanjian.

Sumber : https://henry23ju.wordpress.com/2015/05/06/sejarah-dari-kabupaten-mamasa-sulawesi-barat/amp/

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Mamasa Sulawesi Barat

Kabupaten Majene adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Banggae. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 947,84 km² dan berpenduduk sekitar 169.072 jiwa.

SEJARAH AWAL MULA KABUPATEN MAJENE SULAWESI BARAT


Ada dua pendapat mengenai asal mula penamaan Majene, misalnya yang terdapat dalam Sila 2006 dan Hafid 2000. Pendapat pertama, yang umum diamini beberapa tokoh masyarakat Majene, mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata “manjeqneq” yang bisa berarti berwudhu. Konon, pada tahun 1875 di saat penjajah Belanda pertama kali mendarat di pesisir Majene, mereka bertemu dengan seseorang yang kebetulan sedang “manjeqneq”.

Orang Belanda bertanya kepada orang yang berwudhu tersebut tentang nama negeri yang didaratinya. Sebab tidak saling mengerti bahasa, orang yang berwudhu mengira orang asing tersebut bertanya apa yang sedang dia lakukan. Maka dijawablah “Manjeqneq”. Pikir itulah jawaban atar pertanyaan yang diajukannya, orang Belanda akhirnya menganggap daerah yang didatanginya bernama Ma(n)je(q)ne(q).

Pendapat yang lain mengutarakan bahwa kata Majene pertama kali digunakan di saat banyak pelayar Gowa – Tallo (Suku Makassar) singgah atau berlabuh untuk berdagang di pesisir Totoli. Orang-orang Makassar menyaksikan upacara penurunan perahu oleh orang Totoli. Yang mana ada kebiasaan saling siram-menyiram saat perahu berhasil di dorong ke laut (telah terapung).

Oleh orang Makassar, prilaku itu disebut “manjeqneq-jeqneq”. Belakangan, orang Gowa tersebut menyebut kawasan itu sebagai Manjeqneq-jeqneq yang berubah menjadi Majene.

Kata atau istilah “manjeqneq” yang merujuk sebagai nama tempat ditemukan dalam Lontar Tallo yang mengutip ucapan Raja Gowa Karaeng Tomapaqrisiq Kallonna, yang memerintahkan Raja Tallo agar datang ke Majene guna mengusir Suku Tidung (bajak laut) yang mengganggu keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Kalimatnya, “Naungki mai ri Majeqne” (Pergilah engkau ke Majene).

Pasukan Makassar yang diutus ke Majene oleh Raja Gowa guna mengusir bajak laut dipimpin oleh I Mappatangkang Tana Karaeng Pattingalloang (Raja Tallo) bersama dengan laskar Kerajaan Banggae yang dipimpin oleh Puatta I Salabose Daeng di Poralle Maraqdia Bangga.

Dari dua pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa istilah Majene berasal dari istilah atau berakar kata “jeqneq” atau istilah Mandar yang berarti air. Istilah Mandar yang lain juga merujuk air ialah “wai” (air), “binanga” atau “minanga” (sungai), dan “salu” atau “salo” (sungai). Untuk menentukan mana pendapat yang paling kuat agak sulit, sebab masing-masing memiliki kelemahan.

Bila merujuk pada pendapat pertama, tidak akan sesederhana itu langsung menamakan tempat yang didarati Belanda tiba-tiba disebut Majene. Selain itu, bila berdasar pada tahun, yang menyebut orang Belanda tersebut pertama kali datang pada tahun 1875, agak keliru bila berdasar pada catatan sejarah yang menyebut pasukan gabungan Belanda dengan Bone melakukan serangan ke Mandar pada 6 Oktober 1671.

Pendapat kedua juga demikian. Kebiasaan siram-menyiram saat perahu baru berhasil didorong ke laut (terapung) bukanlah kebiasaan aneh, sebab kebiasaan atau tradisi itu juga dilakukan etnis lain di Sulawesi, baik Makassar, Bugis, maupun Mandar. Atau, ada banyak kemiripan dalam kebudayaan maritim.

Dalih lain, bisa dipastikan Raja Gowa telah mengetahui nama tempat yang harus dituju Raja Tallo bukan atas dasar informasi orang-orang Gowa yang sering ke Totoli bahwa nama tempat di sana Manjeqneq-jeqneq. Sebab jauh sebelumnya telah terjalin hubungan antar Kerajaan Sendana dan Kerajaan Banggae dengan Kerajaan Gowa.

Sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2014/10/majene-manjeqneq-html?m=1

Sejarah Singkat Asal Usul Kabupaten Majene Sulawesi Barat