Friday, January 4, 2019

Sejarah Singkat Asal Usul Kabupaten Majene Sulawesi Barat

Kabupaten Majene adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Barat, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Banggae. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 947,84 km² dan berpenduduk sekitar 169.072 jiwa.

SEJARAH AWAL MULA KABUPATEN MAJENE SULAWESI BARAT


Ada dua pendapat mengenai asal mula penamaan Majene, misalnya yang terdapat dalam Sila 2006 dan Hafid 2000. Pendapat pertama, yang umum diamini beberapa tokoh masyarakat Majene, mengatakan bahwa kata tersebut berasal dari kata “manjeqneq” yang bisa berarti berwudhu. Konon, pada tahun 1875 di saat penjajah Belanda pertama kali mendarat di pesisir Majene, mereka bertemu dengan seseorang yang kebetulan sedang “manjeqneq”.

Orang Belanda bertanya kepada orang yang berwudhu tersebut tentang nama negeri yang didaratinya. Sebab tidak saling mengerti bahasa, orang yang berwudhu mengira orang asing tersebut bertanya apa yang sedang dia lakukan. Maka dijawablah “Manjeqneq”. Pikir itulah jawaban atar pertanyaan yang diajukannya, orang Belanda akhirnya menganggap daerah yang didatanginya bernama Ma(n)je(q)ne(q).

Pendapat yang lain mengutarakan bahwa kata Majene pertama kali digunakan di saat banyak pelayar Gowa – Tallo (Suku Makassar) singgah atau berlabuh untuk berdagang di pesisir Totoli. Orang-orang Makassar menyaksikan upacara penurunan perahu oleh orang Totoli. Yang mana ada kebiasaan saling siram-menyiram saat perahu berhasil di dorong ke laut (telah terapung).

Oleh orang Makassar, prilaku itu disebut “manjeqneq-jeqneq”. Belakangan, orang Gowa tersebut menyebut kawasan itu sebagai Manjeqneq-jeqneq yang berubah menjadi Majene.

Kata atau istilah “manjeqneq” yang merujuk sebagai nama tempat ditemukan dalam Lontar Tallo yang mengutip ucapan Raja Gowa Karaeng Tomapaqrisiq Kallonna, yang memerintahkan Raja Tallo agar datang ke Majene guna mengusir Suku Tidung (bajak laut) yang mengganggu keamanan pelayaran di kawasan tersebut. Kalimatnya, “Naungki mai ri Majeqne” (Pergilah engkau ke Majene).

Pasukan Makassar yang diutus ke Majene oleh Raja Gowa guna mengusir bajak laut dipimpin oleh I Mappatangkang Tana Karaeng Pattingalloang (Raja Tallo) bersama dengan laskar Kerajaan Banggae yang dipimpin oleh Puatta I Salabose Daeng di Poralle Maraqdia Bangga.

Dari dua pendapat di atas, bisa disimpulkan bahwa istilah Majene berasal dari istilah atau berakar kata “jeqneq” atau istilah Mandar yang berarti air. Istilah Mandar yang lain juga merujuk air ialah “wai” (air), “binanga” atau “minanga” (sungai), dan “salu” atau “salo” (sungai). Untuk menentukan mana pendapat yang paling kuat agak sulit, sebab masing-masing memiliki kelemahan.

Bila merujuk pada pendapat pertama, tidak akan sesederhana itu langsung menamakan tempat yang didarati Belanda tiba-tiba disebut Majene. Selain itu, bila berdasar pada tahun, yang menyebut orang Belanda tersebut pertama kali datang pada tahun 1875, agak keliru bila berdasar pada catatan sejarah yang menyebut pasukan gabungan Belanda dengan Bone melakukan serangan ke Mandar pada 6 Oktober 1671.

Pendapat kedua juga demikian. Kebiasaan siram-menyiram saat perahu baru berhasil didorong ke laut (terapung) bukanlah kebiasaan aneh, sebab kebiasaan atau tradisi itu juga dilakukan etnis lain di Sulawesi, baik Makassar, Bugis, maupun Mandar. Atau, ada banyak kemiripan dalam kebudayaan maritim.

Dalih lain, bisa dipastikan Raja Gowa telah mengetahui nama tempat yang harus dituju Raja Tallo bukan atas dasar informasi orang-orang Gowa yang sering ke Totoli bahwa nama tempat di sana Manjeqneq-jeqneq. Sebab jauh sebelumnya telah terjalin hubungan antar Kerajaan Sendana dan Kerajaan Banggae dengan Kerajaan Gowa.

Sumber : http://ridwanmandar.blogspot.com/2014/10/majene-manjeqneq-html?m=1

Berkomentarlah Dengan baik Dan sopan
EmoticonEmoticon