Showing posts with label Asal usul Suku Tengger. Show all posts
Showing posts with label Asal usul Suku Tengger. Show all posts

Monday, January 28, 2019

Sejarah Asal Usul Suku Sunda, Orang Sunda Indonesia

Kata Sunda artinya bagus/baik/putih/bersih/cemerlang, segala sesuatu yang mengandung unsur kebaikan. Orang Sunda diyakini memiliki etos/watak/karakter Kasundaan sebagai jalan menuju keutamaan hidup.


Watak/karakter Sunda yang dimaksud adalah cageur (sehat), bageur (baik), bener (benar), singer (terampil), dan pinter (pandai/cerdas) yang sudah ada sejak zaman Salaka Nagara tahun 150 sampai ke Sumedang Larang Abad ke-17, telah membawa kemakmuran dan kesejahteraan lebih dari 1000 tahun.

Sunda merupakan kebudayaan masyarakat sunda yang tinggal di wilayah barat pulau Jawa. Sebagai suatu suku, bangsa Sunda merupakan cikal-bakal berdirinya peradaban di Nusantara, di mulai dengan berdirinya kerajaan tertua di Indonesia, yakni Kerajaan Salakanagara dan Tarumanegara sampai ke Galuh, Pakuan Pajajaran, dan Sumedang Larang.

Sejarah Suku Sunda tidak seperti kebanyakan suku yang lain; suku Sunda tidak memiliki mitos tentang penciptaan atau catatan mitos-mitos lain yang menjelaskan asal mula suku ini. Tidak seorang pun tahu dari mana mereka datang, juga bagaimana mereka menetap di Jawa Barat.

Agaknya pada abad-abad pertama Masehi, sekelompok kecil suku Sunda menjelajahi hutan-hutan pegunungan dan melakukan budaya tebas bakar untuk membuka hutan. Semua mitos paling awal mengatakan bahwa orang Sunda lebih sebagai pekerja-pekerja di ladang daripada petani padi.

Banyak pakar yang menyatakan bahwa orang Sunda khususnya dan Indonesia umumnya adalah para pendatang dari daerah Yunan.

Di daratan Asia, kira-kira antara Pegunungan Hindukusj dan Pegunungan Himalaya ada sebuah dataran tinggi (plateau) yang bernama Iran-venj, penduduknya disebut bangsa Aria. Mereka menganggap bahwa tanah airnya disebut sebagai Taman Surga, karena kedekatannya dengan alam gaib.

Namun, mereka mendapat wangsit dalam Uganya, bahwa suatu ketika bangsa Iran Venj akan hancur, sehingga bangsa Aria ini menyebar ke berbagai daerah. Salah satu gerombolan bangsa Aria yang dikepalai oleh warga Achaemenide menyebut dirinya sebagai bangsa Parsa dan pada akhirnya disebut bangsa Persi dan membangun kota Persi-Polis. Pemimpin Achaemenide bergelar Kurush (orang Yunani menyebut Cyrus).

Dalam perjalanan sejarahnya, mereka membantu bangsa Media yang diserang oleh bangsa Darius. Bahkan bangsa Darius dengan pimpinan Alexander Macedonia pun pada akhirnya menyerang Persi. Dan tak lepas dari itu bangsa Persi, pada jaman Islam pun diserang dan ditaklukkan.

Begitu pula oleh Jengis Khan dari Mongol, dan pada akhirnya diserang pula oleh bangsa Tartar yang dikepalai oleh Timur-Leng. Rentang perjalanan sejarah bangsa Persi ini, menyadarkan mereka untuk kembali kepada nama asalnya, yaitu Iran (dari Iran-Venj).

Segerombolan suku bangsa Aria yang menuju arah Selatan, sampailah di tanah Sunda, tepatnya di Pelabuhan ratu (sekarang). Para pendatang itu disambut dengan ramah dan terjadi akulturasi budaya di antara mereka, pendatang dan pribumi (Sunda) saling menghormati satu sama lainnya.

Proses akulturasi budaya ini dapat kita lihat dalam sistem religi yang diterapkan, Pendatang mengalah dengan keadaan dan situasi serta tatanan yang ada. Batara Tunggal atau Hyang Batara sebagai pusat “sesembahan” orang Sunda tetap menempati tempat yang paling tinggi, sedangkan dewa-dewa yang menjadi â€کsesembahan’ pendatang ditempatkan di bawahnya.

Hal itu dapat dilihat dalam stratifikasi sistem “sesembahan” yang ada di daerah Baduy, dikatakan bahwa Batara Tunggal atau Sang Rama mempunyai tujuh putra keresa, lima dewa di antaranya adalah Hindu, yaitu : Batara Guru di Jampang, Batara Iswara (Siwa), Batara Wisnu, Batara Brahma, Batara Kala, Batara Mahadewa (pada akhirnya menjadi Guriang Sakti serta menjelma jadi Sang Manarah atau Ciung Manara), Batara Patanjala (yang dianggap cikal bakal Sunda Baduy). Akulturasi ini, tidak saja dalam lingkup budaya, melainkan dalam perkawinan.

Nun jauh di sana, di Fasifik sana, Bangsa Mauri dilihat secara tipologinya, mereka berkulit kuning (sawo matang), Postur tubuh hampir sama dengan orang Sunda. Nama-nama atau istilah-istilah yang dipergunakan, seperti Dr. Winata (kurang lebih tahun 60-an menjadi kepala Musium di Auckland). Nama ini tidak dibaca Winetou atau winoto tapi Winata.

Beliaulah yang memberikan Asumsi dan teori bahwa orang Mauri berasal dari Pelabuhanratu. Hal yang lebih aneh lagi adalah di Selandia Baru tidak terdapat binatang buas, apalagi dengan harimau â€کmaung’, tapi â€کsima’ maung dipergunakan sebagai lambang agar musuh-musuh mereka merasa takut.

Memang tidak banyak yang menerangkan bahwa orangIndonesia (Sunda) yang datang ke pulau ini, kecuali tersirat dalam Encyclopedia Americana Vol 22 Hal 335. Bangsa kita selain membawa suatu tatanan â€کtata – subita’ yang lebih tinggi, kebiasaan gotong royong, teknik menenun, juga membawa budaya tulis menulis yang kemudian menjadi “Kohao Rongo-rongoâ€‌ fungsinya sebagai â€کmnemo-teknik’ (jembatan keledai) untuk mengingat agar tidak ada bait yang terlewat.

Di Jawa Barat (Tatar Sunda), Limas bertangga ini dahulu berfungsi sebagai tempat peribadatan begitu pula bagi orang Pangawinan (Baduy) dan bagi orang Karawang yang masih memegang teguh dalam adat tatali karuhun tidak boleh membangun rumah suhunan lilimasan. Bagi orang Jawa Tengah, menurut Dr. H.J De Graaf â€کhunnebedden’ dengan adanya candi-candi Hindu yang sudah sangat kental percampurannya, sehingga tidak lagi terlihat jati diri Jawa Tengahnya. Sedangkan candi-candi di Jawa Timur bentuk-bentuknya masih kentara keasliannya, karena tempelan budaya luar hanya sebagai aksesoris saja. Yang lebih jelas lagi di Bali, karena keasliannya sangat kentara.

Kembali ke daerah Polynesia, bangunan-bangunan purba â€کtrappenpyramide’ tersebar di pulau Paska hingga ke Amerika Selatan yaitu di Peru.

Salah satu ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl, membuktikan dan memunculkan teorinya bahwa hal tersebut di atas merupakan hasil kebudayaan dari manusia putih berkulit merah (sawo matang). Walaupun teori ini banyak dibantah para ahli lainnya, namun dapat kita tarik satu asumsi bahwa manusia putih berkulit merah ini adalah manusia Atlantis yang hilang oleh daya magi.

Pembuktian ekspedisi Kontiki – Dr. Heyerdahl sekarang lebih terungkap itu ada benarnya. Sehingga bila melihat sejarah bahwa keturunan dari Tatar Sunda menyebrang hingga ke Polynesia itu adalah orang-orang Atlantis yang memang karuhun kita selalu menyembunyikan dalam bentuk simbol ekspansi kebudayaan dari Tatar Sunda ke daerah Polynesia, yaitu dengan adanya rombongan dari Palabuhanratu, dapat dibuktikan kebenaran-nya.

PENGARUH HINDUISME

Tidak seorang pun yang tahu kapan persisnya pola-pola Hindu mulai berkembang di Indonesia, dan siapa yang membawanya. Diakui bahwa pola-pola Hindu tersebut berasal dari India; mungkin dari pantai selatan. Tetapi karakter Hindu yang ada di Jawa menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawabannya.

Misalnya, pusat-pusat Hindu yang utama bukan di kota-kota dagang di daerah pesisir, tetapi lebih di pedalaman. Tampaknya jelas bahwa ide-ide keagamaanlah yang telah menaklukkan pemikiran orang setempat, bukan tentara. Sebuah teori yang berpandangan bahwa kekuatan para penguasa Hindu/India telah menarik orang-orang Indonesia kepada kepercayaan-kepercayaan roh-magis agama Hindu. Entah bagaimana, banyak aspek dari sistem kepercayaan Hindu diserap ke dalam pemikiran orang Sunda dan juga Jawa.

Karya sastra Sunda yang tertua yang terkenal adalah Caritha Parahyangan. Karya ini ditulis sekitar tahun 1000 dan mengagungkan raja Jawa Sanjaya sebagai prajurit besar. Sanjaya adalah pengikut Shiwaisme sehingga kita tahu bahwa iman Hindu telah berurat akar dengan kuat sebelum tahun 700.

Sangat mengherankan kira-kira pada waktu ini, agama India kedua, Buddhisme, membuat penampilan pemunculan dalam waktu yang singkat. Tidak lama setelah candi-candi Shiwa dibangun di dataran tinggi Dieng di Jawa Tengah, monumen Borobudur yang indah sekali dibangun dekat Yogyakarta ke arah selatan. Diperkirakan agama Buddha adalah agama resmi Kerajaan Syailendra di Jawa Tengah pada tahun 778 sampai tahun 870.

Hinduisme tidak pernah digoyahkan oleh bagian daerah lain di pulau Jawa dan tetap kuat hingga abad 14. Struktur kelas yang kaku berkembang di dalam masyarakat. Pengaruh bahasa Sanskerta menyebar luas ke dalam bahasa masyarakat di pulau Jawa. Gagasan tentang ketuhanan dan kedudukan sebagai raja dikaburkan sehingga keduanya tidak dapat dipisahkan.

Di antara orang Sunda dan juga orang Jawa, Hinduisme bercampur dengan penyembahan nenek moyang kuno. Kebiasaan perayaan hari-hari ritual setelah kematian salah seorang anggota keluarga masih berlangsung hingga kini. Pandangan Hindu tentang kehidupan dan kematian mempertinggi nilai ritual-ritual seperti ini.

Dengan variasi-variasi yang tidak terbatas pada tema mengenai tubuh spiritual yang hadir bersama-sama dengan tubuh natural, orang Indonesia telah menggabungkan filsafat Hindu ke dalam kondisi-kondisi mereka sendiri. J. C. van Leur berteori bahwa Hinduisme membantu mengeraskan bentuk-bentuk kultural suku Sunda.

Khususnya kepercayaan magis dan roh memiliki nilai absolut dalam kehidupan orang Sunda. Salah seorang pakar adat istiadat Sunda, Prawirasuganda, menyebutkan bahwa angka tabu yang berhubungan dengan seluruh aspek penting dalam lingkaran kehidupan perayaan-perayaan suku Sunda sama dengan yang ada dalam kehidupan suku Badui.

Sumber data : Wikipedia.org

Sunday, January 27, 2019

Inilah Sejarah Awal Mula Suku Jawa, Orang Jawa

Peradaban di tanah jawa pada zaman dahulu termasuk sudah maju, ini dibuktikan dengan adanya kerajaan-kerajaan besar yang berada di tanah jawa beserta warisannya yang masih dapat dilihat hingga kini. Contohnya adalah kerajaan Kediri, Mataram, Majapahit dan sebagainya, lalu ada candi Borobudur, Prambanan, Mendut dan lain-lain.

ASAL USUL ORANG JAWA


Pada sebuah tulisan kuno Hindu memberikan sebuah kejelasan mengenai asal usul nenek moyang suku Jawa yaitu ketika kedatangan aji saka. Akan tetapi, di dalam tulisan kuno tersebut terdapat keterangan mengenai keadaan geologi pula Jawa dalam sebuah tulisan kuno hindu yang menyatakan bahwa Nusa Kendang, nama pulau Jawa kala itu merupakan bagian dari India.

Sedangkan tanah yang saat ini dikatakan sebagai Kepulauan Nusantara merupakan daratan yang menyatu dengan daratan Asia dan Australia yang kemudian terputus dan tenggelam oleh air bah.

Sementara itu, di Babad Kuno, juga ditemukan sejarah yang samar mengenai suku Jawa. Diceritakan bahwa ada Arjuna seorang raja dari Astina yang merupakan kerajaan yang bertempay di Kling membawa penduduk pertama ke Pulau Jawa. Pada masa tersebut, pulau ini belumlah mempunyai penghuni. Mereka kemudian mendirikan sebuah koloni yang letaknya tidak disebutkan.

Sejarah lebih jelas akhirnya didapatkan ketika ditemukannya sebuah surat kuno yaitu Serat Asal Kereaton Malang. Di dalam surat tersebut disebutkan bahwa Raja Rum yang merupakan sultan dari negara Turki namun disurat lainnya disebut sebagai raja dari Dekhan mengirim penduduk pertama pada 450 SM. Akan tetapi, penduduk yang dikirim tersebut menderita karena adanya gangguan dari binatang buas. Karena hal tersebut, maka banyak dari penduduk yang kembali pulang ke negara asalnya.

Lalu pada 350 SM Raja kembali mengirim perpindahan penduduk untuk kedua kalinya. Perpindahan tersebut membawa 20.000 laki-laki dan 20.000 perempuan yang berasal dari Koromandel. Perpindahan yang dipimpin oleh Aji Keler ini menemukan Nusa Kendang dengan dataran tinggi yang ditutupi oleh hutan lebat serta binatang buas.

Sementara itu, di tanah datarnya ditumbuhi oleh tanaman yang dinamakan jawi. Karena jenis tanaman tersebut ada di mana-mana maka dirinya menamakan tanah tempat tersebut dengan nama “Jawi”. Nama tersebut yang kemudian berlaku untuk nama keseluruhan Pulau Jawa.

Kepercayaan utama yang dianut oleh suku ini adalah animisme. Kepercayaan tersebut terus bertahan hingga pada akhirnya dai-dai Hindu dan Budha tiba di indonesia. Mereka melakukan kontak dagang dengan penduduk dan membuat mereka tertarik untuk menganut agama-agama baru ini. Hal itu disebabkan karena mereka mampu menyatu dengan filosofi lokal Jawa yang unik.

Perkembangan serta penyebarluasan dari suku Jawa mulai berlangsung signifikan ketika Kertanegara memerintah Kerajaan Singasari pada akhir abad ke-13. Dirinya melakukan beberapa ekspesidi besar seperti ke Madura, Bali, Kalimantan dan Sumatera. Hingga pada akhirnya, Singasari berhasil menguasai perdagangan di selat Malaka menyusul kekalahan kerajaan Melayu.

Pada tahun 1292, dominasi dari kerajaan Singasari terhenti ketika terjadinya pemberontakan oleh Raden Wijaya yang merupakan anak dari Kertanegara. Raden Wijaya inilah yang kemudian mendirikan Kerajaan Majapahit yang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara kala itu.

Namun, Majapahit akhirnya mengalami banyak permasalahan karena tidak adanya penerus. Ketika Majapahit mulai runtuh, pulau Jawa mulai berubah dengan berkembangnya agama Islam. Ketika Majapahit runtuh, maka dominasinya digantikan oleh Kesultanan Demak. Kesultanan Demak inilah yang nantinya memainkan peranan penting dalam menghalau kekuatan Portugis. Demak melakukan dua kali penyerangan kepada Portugis ketika kaum Portugis berhasil menundukkan Malaka.

Masyarakat suku Jawa diperkirakan mempunyai kaitan erat dengan migrasi penduduk Austronesia menuju Madagaskar pada abad pertama. Namun demikian, sebenarnya kultur utama dari migrasi ini lebih dekat dengan suku Ma’anyan di Kalimanyan. Beberapa bagian dari bahasa Malagasy sendiri diambil dari bahasa Jawa.

Pada ratusan tahun setelahnya, diperkirakan ketika periode kerjaan Hindu tiba, banyak saudagar kaya yang bermukim di tempat lainnya di Nusantara ini. Ketika runtuhnya Majapahit dan berkembannya Islam di Pantai Utara Jawa, maka banyak orang Hindu yang bermigrasi dari Jawa ke Bali dan berperan dalam majunya kultur Bali.  Migrasi yang dilakukan oleh suku Jawa tidak hanya di dalam negeri saja. Namun, mereka juga melakukan migrasi ke Semenanjung Malaya. Hubungan antara Malaka dan Jawa menjadi hal penting dalam perkembangan Agama Islam di Indonesia.

Para sejarawan justru meyakini jika asal usul suku Jawa berasal dari orang-orang Yunan, Tiongkok pada masa lampau yang melakukan pengembaraan ke seluruh wilayah nusantara. Pendapat ini sangat terkait erat dengan teori asal usul nenek moyang bangsa Indonesia dari Von Heine Geldern, sejarawan asal Belanda.

Berdasarkan penelitiannya Von Heine Geldern berargumen jika asal usul nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Asia Tengah. Diterangkan olehnya bahwa semenjak tahun 2.000 SM sampai dengan tahun 500 SM (dari zaman batu Neolithikum hingga zaman Perunggu) telah terjadi migrasi penduduk purba dari wilayah Yunan (Tiongkok Selatan) ke daerah-daerah di Asia bagian Selatan termasuk daerah kepulauan Indonesia. Perpindahan ini terjadi secara besar-besaran diperkirakan karena adanya suatu bencana alam hebat atau adanya perang antar suku bangsa.

Monday, April 16, 2018

Daftar 35 Rumah Adat Berdasarkan Provinsi di Indonesia

Berikut ini adalah gambar dan keterangan rumah adat dari 35 provinsi yang ada di Indonesia :

1. "BOLON" Rumah Adat Sumatera Utara 


Rumah Balon merupakan rumah Sumatra Utara yang menjadi identitas suku batak, yang berada di Sumatra Utara. Ada beberapa jenis rumah balon yang sempat populer, dan menjadi gaya arsitektur hunian rumah orang batak.

Beberapa jenis rumah adat di Indonesia, tersebut diantaranya rumah balon toba, Balon Simalungun, Balon Pakpak, Balon Karo, Balon Angkota, diantara rumah-rumah tersebut memiliki ciri khas gaya bangunan tersendiri, namun pada saat ini juga sudah sangat sulit ditemui .

2. "GADANG" Rumah Adat Sumatera Barat 


Rumah Adat gadang atau rumah godang adalah rumah adat Minangkabau, yang hingga kini masih banyak di temui di Provinsi Sumatra Barat. Teringat bahwa kebudayaan melayu yang menyebar di sekitar Semenanjung Melaya.

Seperti ini juga dapat kita temui hingga di beberapa Daerah di Malaysia, jadi seandainya anda melihat rumah gadang yang berada di negara tetangga, jangan anggap mereka telah mencuri kebudayaan kita, karena kebudayaan malaya telah menyebar di sekitar Semenanjung Malaya.

3. "KRONG BADE" Rumah Adat Nanggroe Aceh Darussalam 


Rumah adat Nangroe Aceh Darussalam biasa dikenal dengan rumah adat kronge bade yang berasal dari. Provinsi paling barat di indonesia, yaitu Nangroe Aceh Darussalam.

Rumah kronge bade, merupakan rumah panggung yang hanya memiliiki satu tangga di depan, yang biasa digunakan sebagai. Jalan keluar dan masuk di rumah, melalui satu tangga di depan.

Rumah aceh ini keberadaanya semakin langka dan hampir jarang di temui, di karenakan masyarakat aceh. Lebih memilih membuat rumah dengan desain modern, alasanya karena biaya pembuatan rumah adat kronge bade lebih mahal dari pada rumah modern dan juga biaya perawatan juga tidak sedikit.

4. "RAKIT LIMAS" Rumah Adat Bangka Belitung 


Rumah rakit limas, ialah rumah adat yang berasar dari Sumatra Utara, sekilas jika kita perhatikan rumah adat rakit limas hampir sama dengan rumah adat limas. Karena rumah ini mempunyai arsitektur dan aksen yang sama.

Karena masih sama-sama daerah melayu serta masih berada di bumi Sumatra. Dan dapat kita lihat juga yang membedakan antara lain pada aksen rakitnya.

Rumah adat Bangka Belitung yang merupakan daerah pulau, sehingga menambahkan pada aksen rakit, sebagai pembeda dan penanda, untuk mennjukan ciri khas bangka belitung bahwa bank belitung memiliki rumah adat yang berbeda dan unik.

5. "PANGGUNG KAJANG LEKO" Rumah Adat Jambi


Rumah adat panggung kajang leko, adalah rumah yang berasal dari provonsi Jambi. Rumah ini merupakan rumah adat yang cukup lengkap, karena didalam rumah in, memiliki 8 ruangan di dalamnya.

Ruangan pertama sering disebut dengan jogan, biasanya digunakan sebagai tempat istirahat. Dan sebagai tempat penyediaan air, ada lagi ruangan kedua yaitu ruang serambi depan, digunakan sebagai tempat penerimaan tamu khusus tamu laki-laki saja.

Dan ruangan ketiga, disebut dengan ruang serambi dalam yang diksus sebagai tempat tidur anak laki-laki saja. Selanjutnya ruangan keempat disebut emben melintang.

Sebagai tempat kamar pengantin, dan ruang yang kelima, disebut dengan serambi belakang, yang digunakan biasanya untuk tamu perempuan. Ruang keenam disebut dengan leren, untuk menerima tamu perempuan.

Ruangan ketujuh disebut dengan garang, sebagai tempan memasak dan juga biasa digunakan sebagai tempat penyimpanan air. Ruang kedelapan adalah ruangan dapur yang biasanya digunaka sebagai memasak makanan dirumah.

6. "RAKYAT" Rumah Adat Bengkulu 


Rumah adat di Indonesia yang berada di Bengkulu yaitu rumah rakyat, Rumah adat yang ini juga rumah adat yang cukup kompleks. Namun tidak sekompleks rumah adat jambi.

Ada dimana beberpa ruangan yang bersifat khusus di dalam rumah adat rakyat, diantaranya adalah ruang berendo. Atau jik dibahasa indonesia ialah beranda, tempat untuk menerima tamu.

Dan ada juga runag blik gadang yang digunakan sebagai kamar utama, dan juga ruang blik gadis. Yang biasa digunakan sebagai kamar anak perempuan. ruang laki, sebagai ruang kamar anak laki-laki.

7. "LIMAS" Rumah Adat Sumatra Selatan


Rumah limas adalah rumah adat Indonesia yang juga tergolong cukup menarik, dimana bentuk atap rumah yang mempunyai atap bentuk limas. Dengan gaya arsitektur lantai depan, bertingkat berbentuk panggung.

Kayu yang digunakan sebagai rang dan tiang berasal dari kayu ulin, sehingga kuat, sedangkan sebagaian aksen yang lainya. Menggunakan kayu tembesu.

Kedua bahan kayu ulin dan tembesu di kenal sebagai kualitas kayu yang sangat bagus, sehingga rumah adat limas, mapu bertahan sampai beberapa puluh tahun.

8. "NOWOU SESAT" Rumah Adat Lampung


Rumah adat Nowou sesat yang mempunyai arti rumah ibadah, menurut cerita dari warga setempat. Rumah ini didirikan atas keinginan dalam beribadah.

Memiliki keinginan dalam membangun keluarga dan mendidik anak, atas pondasi ibadah, sehingga rumah nowou sesat. jika di telusuri memiliki makna yang sangat baik dan dalam.

Sangat disayangkan sekali rumah adat yang berbentuk panggung dan atap berasal dari ilalang ini. Sudah sulit sekali ditemui, Padahal rumah adat lampung ini, tergolong yang bersitektur kayu minimalis.

Sehingga dalam pembuatan rumah ini, tergolong tidak terlalu memakan biaya yang banyak. Dan proses pembuatan rumah adat ini tidak terlalu sulit.

9. "BADUY" Rumah Adat Banten


Rumah adat badui, merupakan rumah yang di buat oleh suku badui yang sedang berdiam diri di banten. Ciri khas rumah adat badui ialah sedikit lebih tinggi seperti rumah panggung akan tetapi tingginya tidak ada setengah meter.

Serta karakteristik atap rumah badui terbuat dari ilalang, struktur pembuatan rumah adat badui terbuat dari. Kayu, bambu pada bagian dinding. dan tiangnya terbuat dari batu.

Rumah adat ini, masih dengan mudah dapat kita jumpai, di beberapa daerah perosok ujung kulon dan beberapa di pedesaan di daerah banten.

10. "TANEAN LANJHAN" Rumah Adat Madura


Rumah tanean lanjhan merupakan rumah adat yang berasal dari Madura dan Jawa Timur, Namun jika dinilai dari segi kebudayaan dan juga adat. Memiliki sedikit perbedaan yang mencolok.

Contoh seperti kedua daerah tersebut memiliki rumah yang berbeda, jika di Jawa timur. Kita sering menyebutnya dengan rumah adat joglo situbondo, di Madura justru yang ditemukan rumah tanean lanjhang.

11. "JOGLO SITUBONDO" Rumah Adat Jawa Timur


Rumah adat joglo jawa timur, merupakan rumah dengan bentuk yang hampir sama dengan rumah adat jawa tengah. Dapat di lihat dari segi tampilan dan bentuk arsitektur hampir sama.

Terlihat dari penambahan beberapa ruangan yang berada didalam, memiliki kandungan dan filosofi yang sama. Sehingga rumah adat joglo, semacam rumah yang dibangun atas dasar yang sama, dari nilai leluhur dan kebudayaan yang kental.

12. "JOGLO" Rumah Adat Jawa Tengah


Rumah joglo berasal dari jawa tengah, yang merupakan rumah adat dari suku jawa dari bagaian tengah dari pulau jawa. Rumah adat ini, memiliki beberapa bgaian ruangan di dalamnya.

Dan ruangan-ruangan tersebut memiliki fungsi tersendiri, ada ruangan pendopo yang digunakan sebagai ruang tamu. baisa berada depan rumah sebagai ruang terbuka.

Ada lagi ruang pringgitan atau bisa disebut dengan ruang samping, sebagai jalan akses keluar masuk kedalam rumah. Dan ada lagi yaitu ruang dalem, yang merupakan ruang utama yang berada didalam rumah.

Ruang sentong yang digunakan sebagai ruang penyimpanan, Ruwang gandok tengen serta ruang dendok kiwo, sebagai runag tidur keluarga di dalam rumah.

13. "SUNDA" Rumah Adat Jawa Barat


Rumah sunda ialah rumah adat di indonesia ang mempunyai bentuk rumah panggung yang tidak terlalu tinggi. pada bagian depan rumah dat sunda, terdapat tangga atau bisa disebut dengan golodog.

Yang berfungsi sebagai sarana keluar masuk ke rumah, sedangkan pada bagian atapnya memiliki banyak jenis. Beberapa atap yang sering digunakan adalah atap jolopong. badak heuay, perahu kemurep, buka pongpok, tegong anjing, jubleg, nangkup, dan juga apit gunting, semua jenis atap diatas memiliki ciri khas yang berbeda.

14. "KEBAYA" Rumah Adat DKI Jakarta


Rubah kebaya merupakan rumah adat yang memiliki kek kentalan dengan budaya betawi. Sehingga bentuk desain rumah adat kebaya, cukup khas dan mudah untuk dikenali.

Terlebih masih bisa kita temui rumah kebaya di jakarata, akan tetapi, rumah betawi untuk saat ini sudah sulit sekali untuk ditemui. Karena sudah tenggelam diantara gedung-gedung besar di Jakarta yang telah menutupi rumah adat kebaya.
Jadi, jika ingin menemukan rumah kebaya, harus berkunjung kedaerah perkampungan betawi. itu juga jumlahnya sudah mulai sedikit, karena sudah berpindah ke bangunan rumah modern.

15. "BANGSAL KENCONO" Rumah Adat DI Jogjakarta


Bangsal koncono adalah rumah adat Indonesia dari Provinsi Jogjakarta, Pada jaman dahulu. Rumah ini hanya ditempat tinggali oleh raja Jawa, dan juga bangsawan kerajaan saja.

Biasanya lokasi tempat berada sebelah tengah, dari karaton kasultan, rumah adat yang satu ini. Memiliki begitu banyak filosofi, dalam nilai-nilai kehidupan.

Karena setiap ruang dan bangunan adat ini, memiliki perlambangan filosofi tersendiri, mulai diambil dari pola laku manusia. Alam semesta, serta di ambil dari kehidupan didalamnya.

16. "SELASO JATUH KEMBAR" Rumah Adat Riau


Selaso jatuh kembar adalah rumah adat di Indonesia, yang berasal dari Provinsi Riau, berdasarkan sejarah. Rumah adat selaso jatuh kembar, memiliki rumah yang mempunyai dua selasar.

Selasar memiliki arti posisi lantai yang lebih rendah dari pada ruangan tengah, biasanya digunakan sebagai tempat berkumpul. Dan juga sebagai tempat musyawarah dalam satu keluarga atau balai keluarga.

Dan pada sekarang ini sudah mulai jarang ada, rumah selasor hanya dapat kita jumpai satu atau beberapa saja di setiap desa.

17. "BELAH BUBUNG" Rumah Adat Kepulauan Riau


Belah bubung adalah rumah tradisional yang berasal dari provinsi Kepulauan Riau. Rumah ini memiliki ciri khas yang berbeda yaitu dengan bentuk atap yang berfariasi.
Atap lipat yang berbentuk curam kebawah, dan atap lipat yang berbentuk datar, serta atap layar yang berbentuk menyusun dan atap panjang berbentuk sejajar sama, serta atap yang bergabung melintang.

Pada umumnya rumah adat belah bubung, terbagi menjadi empat bagian ruangan dalam. Yaitu ruang selasar, ruang induk, ruang penghubung antara dapur dan dapur.

18. "GAPURA CANDI BENTAR" Rumah Adat Bali


Gapura candi, merupakan rumah adat yang berasal dari Bali, Pura ini masih menganggkat dan mejunjung tinggi. Budaya dan adat istiadat.

Daerah yang memiliki kekentalan budaya dan adat istiadat sudah menyatu dalam ke agama mayoritas didaerah sana. yaitu kebanyakan mayoritas beragama hindu.
Sehingga bentuk rumah gapura candi bentar ini hampir menyerupai dengan lengkap dengan gapura masuknya. Berbeda dengan kebanyakan rumah adat yang lainya.

Rumah adat Provinsi bali ini, masih sangat mudah untuk kita jumpai di bali, karena disana masih memaegang teguh budaya dan adatnya. salah satu rumah adat di indonesia yang masih banyak didirikan dan masih bisa kita jumpai disini tentunya.

19. "PANJANG" Rumah Adat Kalimantan Barat


Panjang merupakan rumah adat yang berasal dari Kalimantan Barat, tepatnya pada suku dayak Borneo Barat. Rumah ini hampir sama dengan rumah panggung yang memanjang.

Dengan tiang penyangga tinggi dan anak tangga lebar, akan tetapi rumah adat ini sudah sangat sulit. Untuk dijumpai diwilayah asalnya, mungkin bisa dikatakan sudah punah dimakan usia.

Kini hanytya bisa kita temui dengan arsitektur dan bentuk yang langka, hanya ada di taman mini indonesia indah saja, kita dapat menemukan rumah adat panjang.

20. "BETANG" Rumah Adat Kalimantan Tengah


Betang merupakan rumah adat yang berasal dari provinsi Kalimantan Tengah. Rumah batang sebenarnya juga hampir mirip arsitekturnya dengan rumah panjang di Kalimantan Barat.

Hanya saja yang membedakan bentuk dan ukuran lebih besar dan dibangun pada ukuran tanah yang lebih luas. Dari pada rumah adat panjang, pada umunnya rumah adat betang dibangun dibngun diatas tanah eluas 150 meter x lebar 30 meter tinggi 3-5 meter.

Sehingga jika di hitung, satu rumah betang mampu menampung 150 jiwa, Bila diukur sebagai ukuran rumah adat di indonesia. Maka rumah betang merupakan, rumah adat di indonesia terbesar kedua.

21. "LAMIN" Rumah Adat Kalimantan Timur


Lamin merupakan, rumah adat yang berasa dari suku daya timur, Kutai, dan banjar. Rumah lamin berntuk layaknya seperti rumah dayak panjang, dan rumah bentang.

Namun jika diukur besar rumah adat lamin, memiliki dua kali ukuran lebih besar dari pada rumah betang. Dengan ukuran panjang 300 meter, x lebar 15 meter, dan x tinggi 3-5 meter.

Itu artinya rumah lamin merupakan, rumah adat di ndonesia, terbesar nomor satu jika dibandungkan dengan rumah adat yang lain. Dan dapat menampung sekitar 250 orang, atau setara sengan 40-45 kepala keluarga.

22. "BUBUNGAN TINGGI" Rumah Adat    Klimantan Selatan


Bunbungan meruoakan rumah adat tradisional dari suku dayak selatan, diamana gaya arsitektur. Rumah dayak yang satu ini sedikit berbeda dari rumah daya lainya.

Meski demikian, nilai sejarah dan juga kebanggan tidak kalah dengan rumah yang lainya. Bisa dibilang bahwa rumah adat bubungan tinggi, lebih menonjolkan pada struktur bangunan yang tinggi dan kokoh.
Akan hal ini rumah adat di Indonesia yang satu ini, lebih mengutamakan konsep bangunan. Dari pada mengutamakan daya tampung bangunan

23. "BALOY" Rumah Adat Kalimantan Utara


Beloy merupakan rumah adat yang berasal daru kalimantan utara, meski provinsi kalimantan utara merupakan provinsi baru. Namun rumah adatnya dan juga kebudayaan sudah ada sejak jaman dulu.

Rumah adat baloy terinspirasi dari rumah suk tidung, yang berada di wilayah Kalimantan Utara. Dan juga rumah adat Kalimantan Utara, biasa digunakan sebagai maskot daerah, dan juga sebagai daya tarik untuk wisatawan.

24. "PEWARIS" Rumah Adat Sulawesi Utara


Pewaris merupakan rumah adat yang berasal dari minahasa, yang merupakan suku asli dari Provonsi Sulawesi Utara. Rumah leluhur atau rumah welawangkoa, yang menyerupai rumah panggung.

Dengan tiang balok kayu dan dua buah tangga kanan kiri dibagian depan, Hampir dari mayoritas rumah adat di Indonesia. Terbuat dari bahan kayu asli semua, selain itu, keunikan pada rumah adat yang satu ini terdapat pada pembagia ruangannya.

Ada ruangan yang bernama setup emperan, yang digunakan sebagai temoat penerima tamu dan juga berfingsi sebagai ruangan tempat untuk tidur. Serta ruangan sangkor sebagai tempat penyimpanan makanan dan lumbung padi.

25. "TAMBI" Rumah Adat Sulawesi Tengah


Rumah adat tambi adalah rumah adat tradisional yang berasal dari Sulawesi Tengah, rumah ini memilki bentuk persegi panjang. dengan bentuk menyerupai rumah panggung.

Bahan yang digunakan sebagai pembuatan rumah ini kebanyakan terbuat dari bahan kayu asli dan juga batu alam. Dalam rumah adat tambi juga dikenal alam pembagian ruang, diaman ruangan lumayan lengkap.
Seperti, ruaang-ruang utama, ruang dapur, ruang tamu, semuanya berkumpul menjadi satu, dengan pembatas yaitu sekat. Ada kepercayaan tersendiriyang mengatakan bahwa rumah adat tambi, hanya boleh dibangun menghadap ke utara atau ke arah selatan saja.

Untuk membedakan derajat status sosial, biasanya dibuat berbeda berdasarkan jumlah anak tangga. Rumah orang kaya atau besar, ditandai dengan anak tangga berjumlah genap, sedangkan rumah orang biasa, denga anak tangga ganjil.

26. "BUTON" Rumah Adat Sulawesi Tenggara


Rumah adat buton adalah rumah adat di indonesia yang berasal dari provinsi Sulawesi Sumatra Tenggara. Dari berbagai bentuk seni konstruksi bangunannya cukup unik.

Karena rumah adat ini di buat dengan empat lantai, dan hanya menggunakan kait kayu, tanpa mengguanakan pasak dan paku. Semua itu menunjukan bahwasanya masyarakat sulawesi tenggara, mempunyai keterampilan bangunan yang luar biasa.

Keterampilan yang dimiliki merupakan warisan turun temurun, dari generasi awal sampai generasi saat ini. Kebanyakan masyarakat yang mahir dalam hal ini, hanya dari kalangan orang tua, yang mahir dalam pengerjaanya.

27. "TONGKONAN" Rumah Adat Sulawesi Selatan


Rumah adat tonngkongan merupakan rumah adat yang berasal dari suku toraja, rumah adt ini memiliki ciri khas yang sangat mencolok terutama pada bagian atapnya.

Atap tumah adat tangkongan berbentuk seperti perahu terbalik, selain itu dibagian tersbut juga terdapat tanduk kerbau. Yang berada di bagian depan rumah, dan yang paling uniknya lagi rumah adat ini, mempunyai dua fungsi.

Yaitu sebagai tempat tinggal, dan juga sabagai tempat penyimpanan mayat yang sudah meninggal. Tetapi semua terpisah tidak dijadikan satu.

28. "DULOHUPA" Rumah Adat Gorontalo


Rumah adat doluhupo adalah rumah yang berasal dari gorontalo, rumah adat di indonesia ini, memiliki gaya atap yang berseni, dengan struktur bangunan menyerupai rumah khas panggung.
Sebagaian besar bahan pembangunan dari rumah adat yang satu ini, kebanyakan berasal dari bahan kayu asli, sama dengan kebanyakan rumah adat di indonesia yang lainya.

29. "BAILEO" Rumah Adat Maluku


Rumah baileo merumakan rumah adat dari Provinsi Maluku, Rumah adat yang satu ini. Lebih menampilkan kemajemukan agama di maluku, dimana terdapat aksen dari beberapa agama serta melambangkan kebudayaan setempat.

Ciri khas yang terlihat adalah pada ukuran yang lebih besar jika dibandingkan dengan rumah modern. Oleh karena itu rumah adat ini tidak hanya digunakan sebagai tempat tinggal saja.

Karena biasanya rumah adat ini, biasanya digunakan sebagai upacara adat, dan juga biasa digunakan sebagai media musayawarah. Atau sebagai tempat hiburan lain yang dilaksanakan diasana.
Dan hal yang unik, yang terdapat pada rumah adat yang satu ini adalah dimana setiap ruangan khusus. pasti terdapat rungangan khusus yang digunakan sebagai media penyimpanan benda-benda pusaka suku asli.

30. "SASADU" Rumah Adat Maluku Utara


Rumah adat sasadu adalah rumah adat yang berasal dari Maluku Utara, ruamah adat ini berbentuk seperti rumah panggung. Dengan dekorasi bangunan yang sangat unik.

Keunikan pada bangunan rumah yang satu ini, bisa kita perhatikan dari jumlah pintu yang ada pada rumah adat ini. Ada 6 pintu pada rumah adat ini,dan setiap masing-masung pintu memiliki fungsi masing-masing.

Ada dua pintu unruk keluar masuk, khusus yang hanya boleh digunakan oleh laki-laki. Dan dua pintu yang berbeda khusus hanya boleh digunakan oleh perempuan saja.
Dan dua pintu lagi, khusus hanya boleh digunakan untuk keluar masuk tamu, yang sedang bertamu. Jadi jika diperhatikan rumah adat adat sedadu merupakan, rumah adat di indonesia yang memiliki pintu terbanyak.

31. "DALAM LOKA" Rumah Adat Nusa Tenggara Barat


Rumah dalam loka merupakan rumah adat yang berasal dari suku-suku asli yang mendiami Nusa Tenggara Barat Suku tersebut diantara lain ialah suku sumbawa, suku sasak, suku dompu dan suku dongu.
Rumah adat dalam loka mempunya cerita sejarah yang cukup unik, pada jaman dahulu rumah adat ini. Tidak boleh diperuntukan sebagai tempat tinggal, tetapi hanya boleh dipakai oleh raja dan juga kepala adat.

Sering dengan berkebangan dan kemajuan zaman, rumah ini sudah di perbolehan sebagai tempat tinggal warga setempat. rumah adat ini masih sangat mudah untuk kita jumpai, terutama di daerah pendesaan dan daerah suku setempat.

32. "MUSALAKI" Rumah Adat Nusa Tenggara Timur


Rumah adat musalaki adalah rumah adat yang berasal dari Nusa Tenggara Timur, jadi hampir sama rumah adat Nusa Tenggara Barat. akan tetapi ada banyak perbedaan dari bentuk arsitektur, dan juga filosofi.

Akan tetapi jika diikuti caritanya juga sama yaitu hanya ditempati oleh para raja dan juga bangsawan saja. dan para ketua suku terbesar yang di perbolehkan tinggal di rumah ini.

Dan pada saat ini sudah menjadi umu rumah ini sudah ditempati oleh masyarakat sekitar, yaitu warga Nusa Tenggara Timur. Jadi rumah adat Nusa Tenggara Timur dan Rumah Adat Nusa Tenggara barat, merupakan rumah adat di indonesia yang memiliki sejarah yang sama.

33. "HONAI" Rumah Adat Papua


Rumah honoi merupakan rumah adat yang berasal dari Provinsi Papua, rumah honoi provinsi papua. dibangun hanya dengan kayu dan lalang, diaman dindingnya terbuat dari kayu, dan atapnya dari ilalang.
Rumah adat honai, merupakan rumah adat indonesia yang sempit, terbuat dengan tanpa adanya cendela dan celah cahaya.

Semua tertutup rapat tanpa celah cahaya.
Rumah ini dibuat dengan rapat, supaya kondisi didalam rumah agar tetap hangat. Meski kondisi diluar rumah dalam keadaan dingin, karen mayoritas penduduk papua bertempat tinggal di daerah perbukitan dan dataran tinggi.

34. "MOD AKI AKSA" Rumah Adat Papua Barat


Rumah mod aki bisa dibilang dengan rumah kaki seribu yang berasal dari Papua Barat. Bentuknya hampir miripdengan rumah adat honai, akan tetapi rumah adat ini berbentuk rumah adat panggung.
Dimana rumah adat mod aki, memiliki ciri khas, mempunyai banayak penyangga dibagaian bawah lantai rumah. Sehingga rumah adat mod aki aksa, sering disebut sebagai rumah kaki seribu.

Pembuatan rumah adat di indonesia yang satu ini, terbuat dari bahan alam seperti, kayu, pelepah sagu, ilalang dan tali dari kulit pohon.

35. "LGKOJEI" Rumah Adat Teluk Cendrawasih


Rumah Lgkojei adalah rumah yang berasal dari suku wamesa yang berada di Provinsi Teluk Cendrawasih. Rumah ini hampir menyerupai dengan rumah mod aki aksa.
Persamaan pada kaki rumah yang memliki banyak penyangga, seperti rumah kaki seribu. Jadi rumah Teluk Cendrawasih juga rumah yang berbentuk rumah kaki seribu.

Akan tetapai rumah adat di indonesia yang satu ini, juga memiliki perbedaan dengan rumah adat di Papua Barat. Bentuknya lebih mirip seperti rumah panggung, dengan atap rumah lebih modern.

Selain itu juga memiliki banyak fentilasi udara, dan juga memiliki lubang cahaya, atau bisa kita bilang. Rumah adat ini merupakan rumah adat perkembangan.

Itulah beberapa rumah adat yang berada di wilayah Indonesia berdasarkan Provinsi.

😉😉 "Diambil dari Berbagai Sumber" 😉😉

Tuesday, January 30, 2018

Kisah Asal usul Gunung Bromo dan Suku Tengger


Disebut suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Nama Tengger yang berasal dari Legenda Roro Anteng juga Joko Seger yang dipercaya sebagai asal usul nama Tengger itu. "Teng" akhiran nama Roro An- "teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se- "ger" dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyala sebagai Gunung Brahma. orang Jawa kemudian terbang Gunung Bromo .


Di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra dengan fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras saat lahir, jadilah nama yang bernama "JOKO SEGER".

Di tempat sekitar Gunung Pananjakan, pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang lahir dari titisan dewa. Wajahnya cantik juga elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu.

Saat itu, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu sangat tenang, lahir tanpa menangis dari rahim induk. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai Rara Anteng.


Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi besar. Garis-garis cantik nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger.

Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat. Bajak itu memang sangat jahat. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya tidak berani menolak begitu saja untuk pelamar yang sakti.

Maka ia minta agar dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, yang menganggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam ke saat matahari terbit. Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut.

Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa) sehingga pekerjaan itu hampir selesai. Melihat Hidup itu, hati Rara Anteng mulai gelisah.

Bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu.

Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu bangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, olah-olah sudah tiba, ganumlah belum mulai dengan kegiatan pagi.

Bajak belajar ayam-ayam berkokok, tapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya.

Rasa kesal dan marah penuh emosi, pada akhirnya Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Bromo dan berubah menjadi gunung yang sampai sekarang dinamakan Gunung Batok .

Dengan kegagalan Bajak itu buat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari, Rara Anteng dan Joko Seger menikah menjadi pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mencintai dan mencintai.

Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya "Penguasa Tengger Yang Budiman". Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau gambaran moral tinggi, simbol perdamaian abadi.

Itulah Asal usul Suku Tengger dan Gunung Bromo. Semoga bermanfaat untuk anda.