BLITAR JATIM - Warga Kabupaten Blitar harus meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, baru ditemukan dua warga Kecamatan Wates positif terinfeksi Corona, namun tanpa mengalami gejala klinis. Kasus positif Corona tanpa gejala yang pertama ditemukan di Blitar.

Data Gugus Tugas COVID-19 Pemkab Blitar menyatakan, hari ini ada tiga warga Kabupaten Blitar yang terkonfirmasi positif terinfeksi Corona. Terdiri dua warga Kecamatan Wates, pasangan suami istri dari klaster pelatihan petugas haji Sukolilo, Surabaya. Dan satu wanita berusia 30 tahun, petugas kesehatan di Desa Plandirejo, Kecamatan Bakung.

Dirut RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Endah Woro Utami menjelaskan, suami istri inilah yang terkonfirmasi positif namun tanpa gejala. Pasien positif ini pria berusia 42 tahun, petugas dari Kemenag Kabupaten Blitar, menularkan virus Corona kepada istrinya yang berusia 41 tahun.

Hasil awal rapid test mereka negatif. Namun keduanya di test swab, setelah dokter Puskesmas Wates yang punya kontak erat dengan keduanya dinyatakan positif, dan saat ini sudah sembuh.

Jika sesuai protokol panduan, test swab baru dilakukan jika hasil rapid test positif. Namun tim medis punya keyakinan, jika kedunya harus di test swab karena kontak erat dengan pasien positif sebelumnya.

"Tim medis kami punya keyakinan yang bersangkutan harus diswab. Dan benar, hasilnya positif. Justru inilah yang sangat bahaya berpotensi menularkan. Karena merasa dirinya aman, sehingga bebas pergi kemana saja," kata Woro kepada wartawan, Jumat (24/4/2020).

Rapid test, lanjut dia, hanyalah skrining awal. Biasanya muncul pada hari ke tujuh. Ketika rapid test negatif, menunjukkan imunnya tidak terbentuk. Namun hasil test swab yang menunjukkan positif, menandakan bahwa ada kuman Corona di tenggorokannya.

"Kalau rapid test negatif, itu imun atau antibodinya tidak ada. Tapi swab testnya positif. Itu berarti ada kuman Corona di tenggorokannya," tegasnya.

Untuk itu, Woro menilai orang tanpa gejala (OTG) sebaiknya tidak "bangga" lebih dulu jika rapid testnya negatif. Apalagi jika dia pernah berinteraksi erat dengan pasien positif. Sementara pihak rumah sakit hanya melaporkan hasil pemeriksaan fisik luar OTG dan memberikan masukan. Yang menentukan OTG ini harus di test swab atau tidak, adalah dinas kesehatan.

"Persepsi masyarakat, rapid test negatif itu aman tidak sakit. Padahal, OTG yang rapid testnya negatif inilah yang berpotensi besar menularkan. Ini yang masyarakat perlu tahu ya," tandasnya.

Karena hasil test swab baru diterima rumah sakit siang ini, maka pihak rumah sakit malam ini juga akan menjemput warga Wates yang terkonfirmasi positif Corona untuk dites secara lengkap. Termasuk rotgen paru-parunya.

"Karena kami perlu dalami lagi. Apakah yang bersangkutan benar-benar tidak mengeluhkan gejala klinis. Jangan-jangan dia takut pada rumah sakit. Atau tidak jujur kepada tim medis," pungkasnya.

Kasus Positif Corona Tanpa Gejala Baru Muncul di Blitar

BLITAR JATIM - Warga Kabupaten Blitar harus meningkatkan kewaspadaan. Pasalnya, baru ditemukan dua warga Kecamatan Wates positif terinfeksi Corona, namun tanpa mengalami gejala klinis. Kasus positif Corona tanpa gejala yang pertama ditemukan di Blitar.

Data Gugus Tugas COVID-19 Pemkab Blitar menyatakan, hari ini ada tiga warga Kabupaten Blitar yang terkonfirmasi positif terinfeksi Corona. Terdiri dua warga Kecamatan Wates, pasangan suami istri dari klaster pelatihan petugas haji Sukolilo, Surabaya. Dan satu wanita berusia 30 tahun, petugas kesehatan di Desa Plandirejo, Kecamatan Bakung.

Dirut RSUD Ngudi Waluyo Wlingi, Endah Woro Utami menjelaskan, suami istri inilah yang terkonfirmasi positif namun tanpa gejala. Pasien positif ini pria berusia 42 tahun, petugas dari Kemenag Kabupaten Blitar, menularkan virus Corona kepada istrinya yang berusia 41 tahun.

Hasil awal rapid test mereka negatif. Namun keduanya di test swab, setelah dokter Puskesmas Wates yang punya kontak erat dengan keduanya dinyatakan positif, dan saat ini sudah sembuh.

Jika sesuai protokol panduan, test swab baru dilakukan jika hasil rapid test positif. Namun tim medis punya keyakinan, jika kedunya harus di test swab karena kontak erat dengan pasien positif sebelumnya.

"Tim medis kami punya keyakinan yang bersangkutan harus diswab. Dan benar, hasilnya positif. Justru inilah yang sangat bahaya berpotensi menularkan. Karena merasa dirinya aman, sehingga bebas pergi kemana saja," kata Woro kepada wartawan, Jumat (24/4/2020).

Rapid test, lanjut dia, hanyalah skrining awal. Biasanya muncul pada hari ke tujuh. Ketika rapid test negatif, menunjukkan imunnya tidak terbentuk. Namun hasil test swab yang menunjukkan positif, menandakan bahwa ada kuman Corona di tenggorokannya.

"Kalau rapid test negatif, itu imun atau antibodinya tidak ada. Tapi swab testnya positif. Itu berarti ada kuman Corona di tenggorokannya," tegasnya.

Untuk itu, Woro menilai orang tanpa gejala (OTG) sebaiknya tidak "bangga" lebih dulu jika rapid testnya negatif. Apalagi jika dia pernah berinteraksi erat dengan pasien positif. Sementara pihak rumah sakit hanya melaporkan hasil pemeriksaan fisik luar OTG dan memberikan masukan. Yang menentukan OTG ini harus di test swab atau tidak, adalah dinas kesehatan.

"Persepsi masyarakat, rapid test negatif itu aman tidak sakit. Padahal, OTG yang rapid testnya negatif inilah yang berpotensi besar menularkan. Ini yang masyarakat perlu tahu ya," tandasnya.

Karena hasil test swab baru diterima rumah sakit siang ini, maka pihak rumah sakit malam ini juga akan menjemput warga Wates yang terkonfirmasi positif Corona untuk dites secara lengkap. Termasuk rotgen paru-parunya.

"Karena kami perlu dalami lagi. Apakah yang bersangkutan benar-benar tidak mengeluhkan gejala klinis. Jangan-jangan dia takut pada rumah sakit. Atau tidak jujur kepada tim medis," pungkasnya.

Tidak ada komentar