JEMBER JATIM - Sudah sebulan Abdul Rasyid dan keluarganya tinggal di bekas kandang sapi. Mereka terpaksa tinggal di sana karena rumahnya roboh disapu puting beliung.

"Sekitar sebulan lalu rumah saya hancur kena hujan disertai angin puting beliung. Kejadiannya sekitar jam 5 sore. Beruntung saya dan keluarga selamat. Sejak saat itu saya dan keluarga tinggal di bekas kandang sapi yang ada di belakang rumah," tutur Rasyid saat ditemui di bekas kandang sapi yang kini ditempatinya di Dusun Sumberwaru, Desa Sumberkalong, Kecamatan Kalisat, Jumat (10/4/2020).

Bekas kandang sapi yang kini ditempati keluarga Rasyid berukuran sekitar 5 x 3 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang terlihat banyak lubang di sana sini. Bangunan itu juga tak memiliki pintu.

"Ya seperti ini kondisinya. Namanya juga bekas kandang sapi. Saya dulu memang pernah punya sapi. Sudah saya jual untuk membangun rumah. Tapi sekarang rumahnya malah roboh," ungkap pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan itu.

Karena ukurannya hanya 5 x 3 meter, bekas kandang sapi yang ditempati keluarga Rasyid hanya cukup untuk tempat tidur dan dapur. Sebuah tungku tempat memasak jadi satu dengan sebuah dipan beralas kasur.

"Ya memasak, ya tidur sudah jadi satu. Dipannya untuk tidur kami berempat," kata pria ini.

Yang membuat Rasyid nelangsa, akhir-akhir ini Jember sering diguyur hujan. Bahkan hampir tiap hari. Air sering masuk ke bekas kandang sapi yang dia tempati. Meski genting atap rumah sudah dia lapisi plastik.

"Saya terkadang sampai nangis. Nggak tega lihat anak dan istri di dalam. Berdesakan ketika hujan deras datang. Apalagi kalau hujannya malam hari," kata Rasyid dengan mata berkaca-kaca.

Namun dia tak bisa berbuat banyak. Penghasilan sebagai buruh tani yang rata-rata Rp 30 ribu per hari hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Ya gimana lagi, hasil kerja cukup buat makan. Ya kita terima aja, mungkin ini ujian Allah," ujarnya lirih.

Rasyid saat ini tengah berusaha keras untuk membangun kembali rumahnya. Beberapa bantuan memang sempat dia terima. Setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban hidup dia dan keluarganya.

"Bantuan memang ada. Sempat ada yang memberi sembako. Pak kades juga membantu material. Tetapi tetap saja saya kan harus mencari biaya untuk ongkos tukang. Belum lagi untuk hidup keluarga. Yah, yang penting saya tetap berusaha," katanya seolah berusaha menyemàngati diri sendiri.

Sementara Kepala Dusun Sumberwaru, Hartono sedang tidak berada di tempat ketika hendak dikonfirmasi tentang kondisi keluarga Rasyid. Namun melalui pesan WhatsApp dia menyatakan sedang proses mengirim bantuan pasir untuk Rasyid.

Bikin Sedih, Rumahnya Ambruk Kakek Ini Tidur Di Kandang Sapi

JEMBER JATIM - Sudah sebulan Abdul Rasyid dan keluarganya tinggal di bekas kandang sapi. Mereka terpaksa tinggal di sana karena rumahnya roboh disapu puting beliung.

"Sekitar sebulan lalu rumah saya hancur kena hujan disertai angin puting beliung. Kejadiannya sekitar jam 5 sore. Beruntung saya dan keluarga selamat. Sejak saat itu saya dan keluarga tinggal di bekas kandang sapi yang ada di belakang rumah," tutur Rasyid saat ditemui di bekas kandang sapi yang kini ditempatinya di Dusun Sumberwaru, Desa Sumberkalong, Kecamatan Kalisat, Jumat (10/4/2020).

Bekas kandang sapi yang kini ditempati keluarga Rasyid berukuran sekitar 5 x 3 meter. Dindingnya terbuat dari anyaman bambu yang terlihat banyak lubang di sana sini. Bangunan itu juga tak memiliki pintu.

"Ya seperti ini kondisinya. Namanya juga bekas kandang sapi. Saya dulu memang pernah punya sapi. Sudah saya jual untuk membangun rumah. Tapi sekarang rumahnya malah roboh," ungkap pria yang sehari-hari bekerja sebagai buruh tani dan kuli bangunan itu.

Karena ukurannya hanya 5 x 3 meter, bekas kandang sapi yang ditempati keluarga Rasyid hanya cukup untuk tempat tidur dan dapur. Sebuah tungku tempat memasak jadi satu dengan sebuah dipan beralas kasur.

"Ya memasak, ya tidur sudah jadi satu. Dipannya untuk tidur kami berempat," kata pria ini.

Yang membuat Rasyid nelangsa, akhir-akhir ini Jember sering diguyur hujan. Bahkan hampir tiap hari. Air sering masuk ke bekas kandang sapi yang dia tempati. Meski genting atap rumah sudah dia lapisi plastik.

"Saya terkadang sampai nangis. Nggak tega lihat anak dan istri di dalam. Berdesakan ketika hujan deras datang. Apalagi kalau hujannya malam hari," kata Rasyid dengan mata berkaca-kaca.

Namun dia tak bisa berbuat banyak. Penghasilan sebagai buruh tani yang rata-rata Rp 30 ribu per hari hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

"Ya gimana lagi, hasil kerja cukup buat makan. Ya kita terima aja, mungkin ini ujian Allah," ujarnya lirih.

Rasyid saat ini tengah berusaha keras untuk membangun kembali rumahnya. Beberapa bantuan memang sempat dia terima. Setidaknya itu bisa sedikit meringankan beban hidup dia dan keluarganya.

"Bantuan memang ada. Sempat ada yang memberi sembako. Pak kades juga membantu material. Tetapi tetap saja saya kan harus mencari biaya untuk ongkos tukang. Belum lagi untuk hidup keluarga. Yah, yang penting saya tetap berusaha," katanya seolah berusaha menyemàngati diri sendiri.

Sementara Kepala Dusun Sumberwaru, Hartono sedang tidak berada di tempat ketika hendak dikonfirmasi tentang kondisi keluarga Rasyid. Namun melalui pesan WhatsApp dia menyatakan sedang proses mengirim bantuan pasir untuk Rasyid.