Social Items

Kabupaten Pelalawan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kota Pangkalan Kerinci. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kampar.


Kabupaten Pelalawan dengan luas 13.924,94 km² dengan jumlah Penduduk mencapai sekitar 365.817 jiwa.

SEJARAH AWAL KABUPATEN PELALAWAN

Sejarah Kabupaten Pelalawan diawali dari sejarah Kerajaan Pelalawan. Kerajaan Pelalawan berasal dari Kerajaan Pekantua yang didirikan oleh Maharaja Indera pada tahun 1380 M. Dia adalah bekas orang besar di Kerajaan Temasik (Singapura), tepatnya setelah kerajaan tersebut dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit di penghujung abad XIV.

Kerajaan Pekantua di dirikan di Sungai Pekantua yakni anak Sungai Kampar, dimana sekarang termasuk ke dalam kawasan Desa Tolam, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan. Kerajaan ini dibangun pada tempat yang bernama “Pematang Tuo” sedangkan kerajaannya di namakan ‘Pekantua’.

Pada masa selanjutnya, Kerajaan Pekantua dikuasai oleh Kerajaan Malaka setelah kerajaan ini mampu mengalahkan Kerajaan Pekantua. Raja Malaka bernama Sultan Mansyur Syah pun menjadi raja dari Kerajaan Pekantua. Nama Kerajaan Pekantua diubah menjadi ‘Kerajaan Pekantua Kampar’. Setelah Sultan Mansyur Syah wafat, ia di gantikan oleh Sultan Mahmud Syah I. Pada masa inilah Kerajaan Malaka kemudian diserang dan dikalahkan oleh Portugis yakni pada tahun 1511 M.

Pada masa pemerintahan Raja Maharaja Dinda II, yakni sekitar tahun 1725 M terjadi pemindahan pusat Kerajaan Pekantua Kampar ke daerah Sungai Rasau yang juga merupakan salah satu anak Sungai Kampar. Dan selanjutnya, nama Kerajaan Pekantua Kampar pun diganti nama menjadi Kerajaan Pelalawan. Didalam upacara tersebut, gelar beliau yang mulanya Maharaja Dinda II, disempurnakan menjadi Maharaja Dinda Perkasa atau sering juga disebut Maharaja Lela Dipati.

Pada waktu kemerdekaan Republik Indonesia, Raja dari Kerajaan Pelalawan bernama Tengku Said Harun bersama orang-orang besar lainnya dari Kerajaan Pelalawan, menyampaikan pernyataan taat, setia serta bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu tepatnya pada tanggal 20 Oktober 1945. Setelah Raja Tengku Said Harun mangkat, atas jasa-jasanya tersebut, beliau diberi gelar ‘Marhum Setia Negara’.

Istana Sayap merupakan salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Pelalawan yang masih dikenal hingga saat ini. Istana ini awalnya dibangun oleh Sultan Pelalawan ke-29 yang bernama Tengku Sontol Said Ali (1886 – 1892 M). Sebelum istana tersebut selesai dibangun, beliau mangkat dan diberi gelar Marhum Mangkat di Balai. Selanjutnya proses pembangunan istana tersebut diteruskan hingga selesai oleh pengganti Tengku Sontol Said Ali, yakni Sultan Syarif Hasyim II (1892 – 1930 M).

Bangunan Istana Sayap terdiri atas bangunan induk dan bangunan anak. Bangunan Induk merupakan tempat Sultan beserta keluarga serta orang-orang yang bertugas di tempat tersebut. Di bangunan ini pula dibuat ruang Penghadapan atau ruang Peterakna,bilik tidur, serta ruangan anjungan yang diisi dengan segala macam alat dan perlengkapan kerjaaan.

Disebelah depan yang menyatu dengan bangunan induk, terdapat ruang Selasar Dalam dan ruang Selasar Luar, yakni tempat untuk menghadap rakyat dan orang-orang besar kerajaan. Sementara di bagian belakang dari bangunan Induk, ada ruangan Telo, di belakangnya lagi terdapat ruangan Penanggah yakni tempat kegiatan pekerja rumah tangga dari istana serta alat kelengkapan jamuan dan sebagainya.

 Pelalawan Sebagai Kabupaten

Sebelum pemekaran terjadi, Kabupaten Pelalawan termasuk ke dalam bagian Kabupaten Kampar yang saat itu memiliki kawasan yang sangat luas. Kabupaten Pelalawan resmi dimekarkan pada tanggal 12 Oktober 1999, yang kemudian disahkan melalui Undang-undang Nomor 53 tahun1999 dengan ibu kotanya adalah Pangkalan Kerinci.

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kabupaten Pelalawan Provinsi Riau

Kabupaten Pelalawan adalah salah satu kabupaten di Provinsi Riau, Indonesia, dengan ibu kota Pangkalan Kerinci. Kabupaten ini merupakan hasil pemekaran dari Kabupaten Kampar.


Kabupaten Pelalawan dengan luas 13.924,94 km² dengan jumlah Penduduk mencapai sekitar 365.817 jiwa.

SEJARAH AWAL KABUPATEN PELALAWAN

Sejarah Kabupaten Pelalawan diawali dari sejarah Kerajaan Pelalawan. Kerajaan Pelalawan berasal dari Kerajaan Pekantua yang didirikan oleh Maharaja Indera pada tahun 1380 M. Dia adalah bekas orang besar di Kerajaan Temasik (Singapura), tepatnya setelah kerajaan tersebut dikalahkan oleh Kerajaan Majapahit di penghujung abad XIV.

Kerajaan Pekantua di dirikan di Sungai Pekantua yakni anak Sungai Kampar, dimana sekarang termasuk ke dalam kawasan Desa Tolam, Kecamatan Pelalawan, Kabupaten Pelalawan. Kerajaan ini dibangun pada tempat yang bernama “Pematang Tuo” sedangkan kerajaannya di namakan ‘Pekantua’.

Pada masa selanjutnya, Kerajaan Pekantua dikuasai oleh Kerajaan Malaka setelah kerajaan ini mampu mengalahkan Kerajaan Pekantua. Raja Malaka bernama Sultan Mansyur Syah pun menjadi raja dari Kerajaan Pekantua. Nama Kerajaan Pekantua diubah menjadi ‘Kerajaan Pekantua Kampar’. Setelah Sultan Mansyur Syah wafat, ia di gantikan oleh Sultan Mahmud Syah I. Pada masa inilah Kerajaan Malaka kemudian diserang dan dikalahkan oleh Portugis yakni pada tahun 1511 M.

Pada masa pemerintahan Raja Maharaja Dinda II, yakni sekitar tahun 1725 M terjadi pemindahan pusat Kerajaan Pekantua Kampar ke daerah Sungai Rasau yang juga merupakan salah satu anak Sungai Kampar. Dan selanjutnya, nama Kerajaan Pekantua Kampar pun diganti nama menjadi Kerajaan Pelalawan. Didalam upacara tersebut, gelar beliau yang mulanya Maharaja Dinda II, disempurnakan menjadi Maharaja Dinda Perkasa atau sering juga disebut Maharaja Lela Dipati.

Pada waktu kemerdekaan Republik Indonesia, Raja dari Kerajaan Pelalawan bernama Tengku Said Harun bersama orang-orang besar lainnya dari Kerajaan Pelalawan, menyampaikan pernyataan taat, setia serta bersatu dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia yaitu tepatnya pada tanggal 20 Oktober 1945. Setelah Raja Tengku Said Harun mangkat, atas jasa-jasanya tersebut, beliau diberi gelar ‘Marhum Setia Negara’.

Istana Sayap merupakan salah satu peninggalan sejarah dari Kerajaan Pelalawan yang masih dikenal hingga saat ini. Istana ini awalnya dibangun oleh Sultan Pelalawan ke-29 yang bernama Tengku Sontol Said Ali (1886 – 1892 M). Sebelum istana tersebut selesai dibangun, beliau mangkat dan diberi gelar Marhum Mangkat di Balai. Selanjutnya proses pembangunan istana tersebut diteruskan hingga selesai oleh pengganti Tengku Sontol Said Ali, yakni Sultan Syarif Hasyim II (1892 – 1930 M).

Bangunan Istana Sayap terdiri atas bangunan induk dan bangunan anak. Bangunan Induk merupakan tempat Sultan beserta keluarga serta orang-orang yang bertugas di tempat tersebut. Di bangunan ini pula dibuat ruang Penghadapan atau ruang Peterakna,bilik tidur, serta ruangan anjungan yang diisi dengan segala macam alat dan perlengkapan kerjaaan.

Disebelah depan yang menyatu dengan bangunan induk, terdapat ruang Selasar Dalam dan ruang Selasar Luar, yakni tempat untuk menghadap rakyat dan orang-orang besar kerajaan. Sementara di bagian belakang dari bangunan Induk, ada ruangan Telo, di belakangnya lagi terdapat ruangan Penanggah yakni tempat kegiatan pekerja rumah tangga dari istana serta alat kelengkapan jamuan dan sebagainya.

 Pelalawan Sebagai Kabupaten

Sebelum pemekaran terjadi, Kabupaten Pelalawan termasuk ke dalam bagian Kabupaten Kampar yang saat itu memiliki kawasan yang sangat luas. Kabupaten Pelalawan resmi dimekarkan pada tanggal 12 Oktober 1999, yang kemudian disahkan melalui Undang-undang Nomor 53 tahun1999 dengan ibu kotanya adalah Pangkalan Kerinci.

No comments

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham