Wednesday, October 10, 2018

Kumpulan Kisah Karomah Sunan Bonang (Maulana Makhdum Ibrahim) Walisongo

Загрузка...
Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465, dengan nama Raden Maulana Makdum Ibrahim. Dia adalah putra Sunan Ampel dan Nyai Ageng Manila. Bonang adalah sebuah desa di kabupaten Rembang. Nama Sunan Bonang diduga adalah Bong Ang sesuai nama marga Bong seperti nama ayahnya Bong Swi Hoo alias Sunan Ampel.

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525 M, dan saat ini makam aslinya berada di kota Tuban. Lokasi makam Sunan Bonang ada dua karena konon, saat dia meninggal, kabar wafatnya dia sampai pada seorang muridnya yang berasal dari Madura. Sang murid sangat mengagumi dia sampai ingin membawa jenazah dia ke Madura.

Namun, murid tersebut tak dapat membawanya dan hanya dapat membawa kain kafan dan pakaian-pakaian dia. Saat melewati Tuban, ada seorang murid Sunan Bonang yang berasal dari Tuban yang mendengar ada murid dari Madura yang membawa jenazah Sunan Bonang. Mereka memperebutkannya.

Berikut ini adalah beberapa kisah karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Bonang (Raden Maulana Makhdum Ibrahim) :

MEMILIKI TONGKAT SAKTI (MERUBAH BUAH AREN JADI EMAS)


Sunan Bonang Merupakan Guru dari Sunan Kalijaga yang kala itu awal pertemuannya adalah sebagai perampok. Raden Said ingin merampok Tongkat Sunan Bonang yang berlapis emas. Namun ternyata karomah Sunan Bonang yang satu itu jauh lebih hebat dari apapun.

Tongkat Sunan Bonang memang sangat sakti, beliau bahkan bisa mengubah benda apa saja menjadi emas berlian. Tongkat tersebut berlapis emas, dan membuat siapa saja tergiur untuk memiliki tongkat sakti itu termasuk Raden Said. Awal pertemuan mereka adalah di Hutan.

Melihat Tongkat berlapis emas, tentunya Raden Said ingin mengambil paksa tongkat tersebut dari tangan Sunan Bonang. Dengan sekali tunjung buah kolang kaling yang ada di hadapan Sunan Bonang, seketika itu pula buah kolang kaling pun berubah menjadi segerombolan emas.

Ternyata, kesaktian Tongkat Sunan Bonang terletak pada hati sang Sunan yang memang sangat suci, ketaatan, keimanan dan ketaqwaan Sunan Bonang pada Allah SWT sangatlah luar biasa. Dan ini membuat beliau dikaruniai ALLAH berupa karomah. Karomah yang bisa mengubah apa saja menjadi emas. Andaikata Tongkat sakti itu dipegang selain Sunan Bonang tentu saja serta merta kekuatannya akan hilang. Tongkat itu tak lagi bisa mengubah benda menjadi emas.

Melihat kesaktian sang Sunan melalui Tongkat Sunan Bonang, seketika itu juga Raden Said menyatakan bahwa dirinya siap menjadi murid sang Sunan. Sunan Bonang memang tak pernah berhenti berdzikir kepada Allah. Karena ibadah dzikir beliau inilah yang membuat Allah menurunkan rof rof satir emas dari langit ke tujuh kepada Sunan Bonang.

Selain tongkat Sunan Bonang, sebenarnya hati sang Sunan itulah yang mampu mengubah segalanya jadi emas. Karomah yang sangat berharga bagi beliau adalah emasnya budi pekerti, adab, tata krama terhadap Allah dan terhadap sesama makluk Allah. Karomah ini yang sering kita lupakan dari sosok Aulia Sunan bonang dan wali songo lainnya.

MENGALAHKAN SEORANG BRAHMANA


Cerita lain mengisahkan seorang brahmana bernama Sakyakirti yang berlayar dari India ke Tuban. Tujuannya ingin mengadu kesaktian dengan Sunan Bonang.

“Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian,” sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.

“Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya,” sumpah sang Brahmana.

Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di Perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat.

Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya.

Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut.

Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.

Walaupun pada akhirnya dia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah ikut tenggelam ke dasar laut.

Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.

Dia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Dia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang.

Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan dia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sambil membawa tongkat.

Dia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

“Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?” tanya sang Brahmana.

“Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?” tanya lelaki itu.

“Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan,” jawab sang Brahmana.

“Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan,” kata sang Brahmana.

Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.

“Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?,” tanya lelaki itu.

Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Sementara itu para murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja meminum air jernih yang memancar itu.

Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.

“Segar…Aduuh…segarnya…” seru murid-murid sang Brahmana.

Brahmana Sakyakirti termenung. Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Dia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.

Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.

Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.

Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir.

Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.

Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati. Dengan perasaan takut dan was-was, dia menatap wajah lelaki berjubah itu.

“Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?,” gumannya dalam hati.

Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.

“Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?,” tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.

“Tuan berada di Pantai Tuban,” jawab lelaki berjubah putih itu.

Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.

Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.

“Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku. Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung,” kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.

“Ampun…Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya…,” ujar sang Brahmana meminta dikasihani.

“Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?,” tukas Sunan Bonang.

“Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya,” kata Brahmana Sakyakirti.

“Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang,” ujar Sunan Bonang.

Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonang melalui adu kepandaian dan kesaktian.

Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.

Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama Islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan. Lalu sang brahmana dan pengikutnya menjadi murid dari Sunan Bonang.

MENAKLUKAN PEMIMPIN PERAMPOK

Sunan Bonang menaklukkan Kebondanu, seorang pemimpin perampok, dan anak buahnya, hanya menggunakan tembang dan gending Dharma dan Mocopat.

Suatu ketika Sunan Bonang sedang berjalan melintasi hutan, Dalam perjalanan itu tiba-tiba dicegat oleh sekawanan perampok pimpinan Kebondanu. Pada waktu dicegat oleh Kebondanu dan anak buahnya, Sunan Bonang hanya memperdengarkan tembang Dharma ciptaannya.

Seketika itu juga Kebondanu dan seluruh anak buahnya tidak dapat bergerak. Kaki dan tangan serta seluruh anggota badannya terasa kaku, tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu para perampok tersebut tidak dapat berbuat lain kecuali berteriak minta ampun kepada Sunan Bonang. ”Ampun… hentikan bunyi gamelan itu. Kami tak kuat,” begitu konon kata Kebondanu.

Setelah diminta bertobat, Kebondanu dan gerombolannya pun masuk Islam dan menjadi pengikut Sunan Bonang.

MENENDANG KAPAL LAUT SAUDAGAR CHINA HINGGA HANCUR

Dahulu kala, ada seorang saudagar kaya yang bernama Dampo Awang yang berasal dari China.

Dia ingin pergi tanah Jawa untuk mengajarkan ajaran Khong Hu Cu bersama para pengawal setianya. Suatu hari, dia sampai di tanah Jawa bagian timur.

Dampo Awang sangat senang akan daerah itu sehingga bermaksud untuk berlabuh di sana dan menetap sambil mengembangkan ajaran yang dibawanya.

Kemudian Dampo Awang bertemu dengan Sunan Bonang. Pada saat pertemuan pertama kali itu, Dampo Awang sudah memperlihatkan sikap kurang baik pada Sunan Bonang.

Dampo Awang takut jika ajaran yang selama ini dia ajarkan akan hilang dan digantikan dengan ajaran agama Islam.

Kemudian Dampo Awang mengirim pengawalnya untuk menyerang Sunan Bonang, tetapi dengan mudah Sunan Bonang dapat mengalahkan pengawal-pengawal termasuk Dampo Awang.

Lalu Dampo Awang pulang ke negeri China untuk menyusun stategi dan kekuataan baru. Setelah beberapa tahun Dampo Awang kembali lagi ke tanah Jawa sambil membawa pasukan yang lebih banyak dari sebelumnya.

Pada saat sampai di tanah Jawa dia sangat kaget sekali karena semua penduduk di daerah itu sudah menganut agama Islam.

Dampo Awang marah lalu mencari Sunan Bonang. Dampo Awang tidak bisa menahan amarahnya ketika bertemu dengan Sunan Bonang, sehingga dia langsung menyerangnya lebih dahulu.

Tetapi Sunan Bonang tetap bisa mengalahkan Dampo Awang dan pengawalnya. Kemudian Dampo Awang diikat di dalam kapalnya, lalu Sunan Bonang menendang kapalnya sehingga seluruh bagian kapal tersebar kemana-mana.

Setelah itu sebagian kapal terapung di laut. Dampo Awang menyebutnya “Kerem (Tenggelam)”, sedangkan Sunan Bonang menyebutnya “Kemambang (Terapung)”.

Kemudian lambat laut, masyarakat menyebut Rembang berasal dari kata Kerem dan Kemambang. Akhirnya, daerah tersebut dinamakan Rembang yang sekarang menjadi salah satu kabupaten di Jawa Tengah.

Jangkarnya, sekarang ada di Taman Kartini, sedangkan layar kapalnya berada di Batu atau biasanya sering disebut “Watu Layar” dan kapalnya konon menjadi Gunung Bugel yang berada di Kecamatan Pancur, karena bentuknya menyerupai sebuah kapal besar.

MAKAM SUNAN BONANG TIDAK MEMPAN DIBAKAR DAN MEMBAWA BERKAH

Komplek Makam Sunan Bonang di Tuban, Jawa Timur yang di bangun tahun 1525 M diceritakan secara turun menurun menyimpan berbagai keajaiban. Salah satu keajaiban itu adalah tidak mempan dibakar meski sudah terbakar sebanyak dua kali.

“Kejadian mistis itu biasa. Pernah dibakar zaman Gestapu awalnya api kelihatan besar. Setelah itu padam sendiri dan enggak ada bekas terbakar,” ungkap Juru Kunci Makam Sunan Bonang Abdul Muchith ketika di temui di kompleks makam Sunan Bonang, Tuban, Jawa Timur.

Selain itu, tahun 2013 silam. Ada orang berkelainan mental masuk ke dalam kompleks makam dan menumpahkan emosinya di sana.

“Dua tahun yang lalu dibakar orang gila. Bakarnya pakai minyak tanah. Tapi anehnya tidak terbakar,” tuturnya.

Di sisi lain, menurut Abdul Muchith dulu di bagian belakang makam Sunan Bonang tumbuh pohon besar sekali. Posisi pohon itu hingga menjangkau tepat di atas cungkup makam. Namun ketika musim hujan lebat, angin membuat pohon itu tumbang.

“Waktu ada puting beliung, kok bisa pohonnya malah roboh menjauhi makam,” ujarnya.

Ada pula cerita seseorang yang bernazar akan ziarah ke makam Sunan Bonang jika anaknya sembuh dari penyakit keras. Kejaiban mendadak datang selang tak lama dari waktu dia bernazarnya.

“Kalau sembuh dari kanker otak bakal diajak ziarah ke makam Sunan Bonang. Enggak lama ternyata sembuh. Ibunya cerita ke saya waktu mampir sini,” tuturnya.

Selain itu pernah ada juga orang dari Sumatera yang dulunya sulit mendapat keturunan. Kemudian dia bernazar akan ke makan Sunan Bonang jika dihadiahi momongan. Peristiwa tersebut diketahui oleh Abdul Muchith ketika ada orang yang tiba-tiba memintanya menyembelih kambing akikah. Ternyata kambing tersebut adalah akikah dari anaknya.

WAFATNYA SUNAN BONANG

Sunan Bonang wafat karena usia lanjut saat berdakwah di Pulau Bawean pada tahun1525. Beritanya, segera tersebar ke seluruh Tanah Jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan yang terakhir.

Murid-murid yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di pulau tersebut.

Tetapi murid-murid yang berasal dari Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan dekat ayahandanya yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafan pembungkus jenazah, mereka pun tak mau kalah. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan oleh orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membikin ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban.

Lalu mengangkut jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakannya tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal layar segera bergerak ke arah ke Surabaya. Tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba kapal yang digunakan mengangkut jenazahnya tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkan di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara kain kafan yang ditinggal di Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian ada dua jenazah Sunan Bonang. Inilah mungkin karomah atau kelebihan yang diberikan Allah kepadanya.

Dengan demikian tak ada permusuhan di antara murid-muridnya. Makam yang dianggap asli adalah yang berada di Kota Tuban sehingga sampai sekarang makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru Tanah Air.

Wallohua'lam bisshowab

Itulah sedikit kisah mengenai kisah Karomah yang telah dimiliki oleh Sunan Bonang. Semoga bisa bermanfaat untuk kita semua.


EmoticonEmoticon

Note: Only a member of this blog may post a comment.