Social Items


Pada hari kedelapan belas, Salya Raja Madra diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa, menggantikan posisi Karna.

RAJA SALYA GUGUR

Akan tetapi Raja Salya dengan sengaja telah membuka rahasia kematiannya kepada pandawa melalui Nakula Sadewa. Tetapi Salya pun tidak mengetahui, adakah di antara para Pandawa yang memiliki darah putih.

Ketika hal itu disampaikan kepada Pandawa, Kresna langsung menunjuk Yudhistira sebagai lawan raja Mandaraka itu. Maka dengan hati yang amat berat terpaksa Yudhistira maju ke medan perang menghadapi kakak kandung ibu misannya (Madrim).

Ketika Salya telah berada di medan perang, ternyata ia pun tak sampai hati harus berhadapan dengan Yudhistira. Maka dengan berat hati pula terpaksa ia memerintahkan ajiannya raseksa Candra Bairawa.

Sementara itu balatentara pandawa telah siap bertempur dengan raksasa. Tetapi kresna merasa khawatir atas keselamatan tentara Pandawa, karena prajurit-prajurit itu akan dengan mudah menjadi mangsa raksasa-raksasa ganas itu. Segera ia memerintahkan semua tentara membuka pakaian keprajuritannya, karena hanya orang-orang yang berpakaian prajurit saja yang akan menjadi sasarannya.

Tetapi tidak demikian dengan Yudhistira, ia menolak membuka pakaian keprajuritannya, karena itu berarti telah menipu atau membohong yang sangat tabu baginya.

Maka dengan sekejap saja Yudhistira telah berada dalam lingkaran para raseksa siap untuk dimangsa. Tapi tiba-tiba raseksa itu terperanjat karena mencium bau darah putih seperti darah Bagaspati pemilik aji Candra Bairawa. Maka dengan serempak si raseksa itu berkata: “WAhhh, dia gusti kita,” serunya berulang kali. Dan seketika itu musnahlah makhluk-makhluk itu masuk ke dalam tubuh Yudhistira.

Dari kejauhan Salya menyaksikan ajiannya telah menyatu dengan Yudhistira. Ia semakin yakin, bahwa kematiannya ada di tangan manusia berbudi luhur adil palamarta yang ternyata berdarah putih.

Lalu ia berkata” “Anakku, lepaslah panahmu. Aku telah waspada engkaulah satu-satunya ksatria yang akan mengantarku ke alam asal,” ujarnya pasrah. Dengan memejamkan kedua matanya, Yudhistira melepas panah dan rebahlah raja mandaraka itu di atas kereta perangnya.

Ia mati dengan tersenyum. Sebaliknya Yudhistira sangat sedih karena seumur hidup jangan pun membunuh, memukul pun tak pernah. Kresna segera menghibur dengan mengatakan, bahwa Yudhistira telah menunjukkan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Pada hari itu juga, Yudistira membunuh Raja Salya, Sadewa membunuh Sangkuni, dan Bima membunuh para adik Duryodana yang masih bertahan.

Setelah sadar bahwa ia telah dikalahkan, Duryodana lari dari medan pertempuran lalu beristirahat di sebuah danau. Ahirnya para Pandawa berhasil menangkapnya.

Di bawah pengawasan Baladewa, pertandingan gada berlangsung antara Bima melawan Duryodana, dimana akhirnya Duryodana mengalami kekalahan.

Aswatama, Krepa, dan Kertawarma bertemu Duryodana pada saat kesatria tersebut sedang sekarat. Mereka berjanji akan membalaskan dendamnya.

Kemudian pada malam hari, mereka menyerang perkemahan para Pandawa, lalu membunuh lima putra Pandawa (Pancawala), Drestadyumna dan Srikandi.

Hanya sepuluh kesatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kertawarma.

Aswatama ditangkap oleh para Pandawa setelah ia melakukan pembunuhan di malam hari kedelapan belas, saat sekutu Pandawa sedang tidur. Krepa kembali ke Hastinapura, sedangkan Kertawarma ke kediaman Wangsa Yadu.

Akhirnya, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, Yudistira menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, Parikesit.

Kemudian, ia bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Dropadi dan empat Pandawa, kecuali Yudistira, meninggal dalam perjalanan.

Akhirnya Yudistira berhasil mencapai puncak Himalaya, dan dengan ketulusan hatinya, oleh anugerah Dewa Dharma ia diizinkan masuk surga sebagai seorang manusia.

Sejarah Perang Baratayudha di Hari Ke Delapan belas (ke18), dalam Kisah Mahabharata


Pada hari kedelapan belas, Salya Raja Madra diangkat sebagai panglima tertinggi pasukan Korawa, menggantikan posisi Karna.

RAJA SALYA GUGUR

Akan tetapi Raja Salya dengan sengaja telah membuka rahasia kematiannya kepada pandawa melalui Nakula Sadewa. Tetapi Salya pun tidak mengetahui, adakah di antara para Pandawa yang memiliki darah putih.

Ketika hal itu disampaikan kepada Pandawa, Kresna langsung menunjuk Yudhistira sebagai lawan raja Mandaraka itu. Maka dengan hati yang amat berat terpaksa Yudhistira maju ke medan perang menghadapi kakak kandung ibu misannya (Madrim).

Ketika Salya telah berada di medan perang, ternyata ia pun tak sampai hati harus berhadapan dengan Yudhistira. Maka dengan berat hati pula terpaksa ia memerintahkan ajiannya raseksa Candra Bairawa.

Sementara itu balatentara pandawa telah siap bertempur dengan raksasa. Tetapi kresna merasa khawatir atas keselamatan tentara Pandawa, karena prajurit-prajurit itu akan dengan mudah menjadi mangsa raksasa-raksasa ganas itu. Segera ia memerintahkan semua tentara membuka pakaian keprajuritannya, karena hanya orang-orang yang berpakaian prajurit saja yang akan menjadi sasarannya.

Tetapi tidak demikian dengan Yudhistira, ia menolak membuka pakaian keprajuritannya, karena itu berarti telah menipu atau membohong yang sangat tabu baginya.

Maka dengan sekejap saja Yudhistira telah berada dalam lingkaran para raseksa siap untuk dimangsa. Tapi tiba-tiba raseksa itu terperanjat karena mencium bau darah putih seperti darah Bagaspati pemilik aji Candra Bairawa. Maka dengan serempak si raseksa itu berkata: “WAhhh, dia gusti kita,” serunya berulang kali. Dan seketika itu musnahlah makhluk-makhluk itu masuk ke dalam tubuh Yudhistira.

Dari kejauhan Salya menyaksikan ajiannya telah menyatu dengan Yudhistira. Ia semakin yakin, bahwa kematiannya ada di tangan manusia berbudi luhur adil palamarta yang ternyata berdarah putih.

Lalu ia berkata” “Anakku, lepaslah panahmu. Aku telah waspada engkaulah satu-satunya ksatria yang akan mengantarku ke alam asal,” ujarnya pasrah. Dengan memejamkan kedua matanya, Yudhistira melepas panah dan rebahlah raja mandaraka itu di atas kereta perangnya.

Ia mati dengan tersenyum. Sebaliknya Yudhistira sangat sedih karena seumur hidup jangan pun membunuh, memukul pun tak pernah. Kresna segera menghibur dengan mengatakan, bahwa Yudhistira telah menunjukkan kewajibannya sebagai seorang ksatria.

Pada hari itu juga, Yudistira membunuh Raja Salya, Sadewa membunuh Sangkuni, dan Bima membunuh para adik Duryodana yang masih bertahan.

Setelah sadar bahwa ia telah dikalahkan, Duryodana lari dari medan pertempuran lalu beristirahat di sebuah danau. Ahirnya para Pandawa berhasil menangkapnya.

Di bawah pengawasan Baladewa, pertandingan gada berlangsung antara Bima melawan Duryodana, dimana akhirnya Duryodana mengalami kekalahan.

Aswatama, Krepa, dan Kertawarma bertemu Duryodana pada saat kesatria tersebut sedang sekarat. Mereka berjanji akan membalaskan dendamnya.

Kemudian pada malam hari, mereka menyerang perkemahan para Pandawa, lalu membunuh lima putra Pandawa (Pancawala), Drestadyumna dan Srikandi.

Hanya sepuluh kesatria yang bertahan hidup dari pertempuran, mereka adalah: Lima Pandawa, Yuyutsu, Satyaki, Aswatama, Krepa dan Kertawarma.

Aswatama ditangkap oleh para Pandawa setelah ia melakukan pembunuhan di malam hari kedelapan belas, saat sekutu Pandawa sedang tidur. Krepa kembali ke Hastinapura, sedangkan Kertawarma ke kediaman Wangsa Yadu.

Akhirnya, Yudistira dinobatkan sebagai Raja Hastinapura. Setelah memerintah selama beberapa lama, Yudistira menyerahkan tahta kepada cucu Arjuna, Parikesit.

Kemudian, ia bersama Pandawa dan Dropadi mendaki gunung Himalaya sebagai tujuan akhir perjalanan mereka. Dropadi dan empat Pandawa, kecuali Yudistira, meninggal dalam perjalanan.

Akhirnya Yudistira berhasil mencapai puncak Himalaya, dan dengan ketulusan hatinya, oleh anugerah Dewa Dharma ia diizinkan masuk surga sebagai seorang manusia.

No comments