Sejarah Asal Usul Berdirinya Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah - Kuwaluhan.com
Sukoharjo merupakan wilayah Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sukoharjo adalah kota yang sangat nyaman, kota yang asri dan menjadi dambaan seperti slogan dari Sukoharjo itu sendiri yaitu Sukoharjo Makmur.

Sukoharjo MAKMUR juga mempunyai arti atau kepanjangan dari Maju Aman Konstitusional Mantap Unggul Rapi. Disamping kota Sukoharjo nyaman, orang-orang yang tinggal di Sukoharjo juga ramah dan menyenangkan. Sukoharjo terkenal dengan hasil pertanian, kerajinan, serta produksi jamu.

Selain itu Kabupaten Sukoharjo juga mempunyai nama sebutan (julukan) yang cukup terkenal, antara lain: Kota Makmur, Kota Tekstil, Kota Gamelan, The House of Souvenir, Kota Gadis (perdagangan, pendidikan, industri, dan bisnis), Kabupaten Jamu, Kabupaten Pramuka, serta Kabupaten Batik.

SEJARAH KABUPATEN SUKOHARJO


Pada zaman dahulu asal mula Kabupaten Sukoharjo terkait dengan perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala akibat geger pecinan. Pada waktu itu masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana II. Perpindahan terjadi atas nasihat para sesepuh karena keraton dianggap sudah tercemar oleh darah pemberontak.

Untuk memenuhi nasihat para sesepuh Keraton, Sri Susuhunan II mengadakan pembicaraan dengan Kyai Yosodipuro, Kyai Tohjoyo, dan Pangeran Wijil. Kyai Tohjoyo menyarankan agar tanah yang akan dijadikan keraton kelak dapat mendatangkan kesejahteraan (yang dalam bahasa Jawa disebut Sokoraharjo). Kyai Yosodipuro sependapat dan menyarankan supaya tanah itu nantinya tanah yang berbau wangi atau Talawangi.

Sri Susuhunan menyetujui dan menugaskan Pangeran Wijil untuk mendapatkan lokasi keraton yang baru. Dalam pelaksanaannya Pangeran Mijilpun membentuk tim.

Tim pertama dipimpin oleh Suranata, Kyai Khalifah Buyut, dan Mas Penghulu Pekik Ibrahim. Tim kedua dipimpin oleh Raden Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Tirtowiguno.

Pada suatu hari, setelah menempuh perjalanan beberapa hari, tim kedua  menemukan tempat yang mereka anggap cocok untuk didirikan kerajaan baru. Selain menentukan lokasi keraton, kedua senopati tersebut juga mempersiapkan semua kelengkapan untuk mendirikan keraton, seperti tempat untuk bacira ngayun (alun-alun depan), bacira pungkuran (alun-alun belakang), tempat untuk membuat senjata (tempat pande), tempat untuk membuat wrangka keris (mranggen), tempat untuk para istri raja, dan tempat untuk kandang gajah kendaraan baginda.

Setelah semuanya selesai, mereka melaporkan hasilnya. Sri Susuhunan pun meminta pendapat para sesepuh, yang ternyata juga mendukung hasil tersebut. Namun, menurut Kiai Yosodipuro daerah tersebut dalam segi keamanan belum memenuhi syarat untuk dibangun keratin.

Karena daerah yang yang diyakini dapat memberikan kesejahteraan itu berdekatan dengan markas Pangeran Sambernyawa di Nglaroh. Yang sedang tidak bersahabat dengan Sri Susuhunan saat itu.

Akhirnya, Sri Susuhunan Paku Buwono II pun memerintahkan untuk mencari daerah lain.Namun, meskipun tanah yang diyakini Tumenggung Honggowongso sebagai bumi Sukoraharjo tidak jadi dipakai untuk membangun keraton, kemudian hasil penelitian tersebut menjadi tonggak asal-usul  nama Sukoharjo.

Bahkan, tempat yang dulu hendak digunakan untuk tempat wantilan (kandang) gajah, kini menjadi Desa Begajah. Tempat yang akan digunakan untuk tempat pembuatan senjata (pande) menjadi desa Pandean, Tempat untuk membuat wrangka keris (mranggen) menjadi desa Mranggen.Tempat yang digunakan untuk istri (selir) raja menjadi desa Seliran.

Areal luas untuk bacira pungkaran sekarang berfungsi untuk alun-alun Satyanegara,sedangkan tanah yang direncanakan untuk bacira ngayun dipergunakan untuk Kantor Kodim 9726 Sukoharjo dan Masjid Kota.

HARI JADI KABUPATEN SUKOHARJO

Pada tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen Surakarta, Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk wilayah Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat perjanjian tersebut disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874, Staatsblad nomor 209. Pada Bab I surat perjanjian, tertulis sebagai berikut :

Ing Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura lan Sragen, apadene ing Kawedanan Larangan kadodokan pangadilan ingaranan Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangansaikiki kadadekake kabupaten ingaranan Kabupaten Sukoharjo. 

Bahasa Indonesia

Di Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura dan Sragen, dan juga Kawedanan Larangan dibentuk pengadilan yang disebut Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan sekarang dijadikan kabupaten dengan nama Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan surat perjanjian tersebut sekarang ditetapkan bahwa pada hari Kamis, tanggal 7 Mei tahun 1874 menjadi tanggal berdirinya Kabupaten Sukoharjo, yang sebelum itu bernama Kawedanan Larangan.

Pada era kemerdekaan atau Pemerintahan Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo dengan adanya Penetapan Pemerintah No.16/SD, tepatnya pada hari / tanggal Senin Pon, 15 Juli 1946 dan juga adanya pembentukan Pemerintah Daerah di karesidenan Surakarta, pada Minggu Wage, 16 Juni 1946.

Sejarah Asal Usul Berdirinya Kabupaten Sukoharjo Jawa Tengah

Sukoharjo merupakan wilayah Kabupaten yang berada di Provinsi Jawa Tengah, Indonesia. Sukoharjo adalah kota yang sangat nyaman, kota yang asri dan menjadi dambaan seperti slogan dari Sukoharjo itu sendiri yaitu Sukoharjo Makmur.

Sukoharjo MAKMUR juga mempunyai arti atau kepanjangan dari Maju Aman Konstitusional Mantap Unggul Rapi. Disamping kota Sukoharjo nyaman, orang-orang yang tinggal di Sukoharjo juga ramah dan menyenangkan. Sukoharjo terkenal dengan hasil pertanian, kerajinan, serta produksi jamu.

Selain itu Kabupaten Sukoharjo juga mempunyai nama sebutan (julukan) yang cukup terkenal, antara lain: Kota Makmur, Kota Tekstil, Kota Gamelan, The House of Souvenir, Kota Gadis (perdagangan, pendidikan, industri, dan bisnis), Kabupaten Jamu, Kabupaten Pramuka, serta Kabupaten Batik.

SEJARAH KABUPATEN SUKOHARJO


Pada zaman dahulu asal mula Kabupaten Sukoharjo terkait dengan perpindahan Keraton Kartasura ke Desa Sala akibat geger pecinan. Pada waktu itu masa pemerintahan Sri Susuhunan Paku Buwana II. Perpindahan terjadi atas nasihat para sesepuh karena keraton dianggap sudah tercemar oleh darah pemberontak.

Untuk memenuhi nasihat para sesepuh Keraton, Sri Susuhunan II mengadakan pembicaraan dengan Kyai Yosodipuro, Kyai Tohjoyo, dan Pangeran Wijil. Kyai Tohjoyo menyarankan agar tanah yang akan dijadikan keraton kelak dapat mendatangkan kesejahteraan (yang dalam bahasa Jawa disebut Sokoraharjo). Kyai Yosodipuro sependapat dan menyarankan supaya tanah itu nantinya tanah yang berbau wangi atau Talawangi.

Sri Susuhunan menyetujui dan menugaskan Pangeran Wijil untuk mendapatkan lokasi keraton yang baru. Dalam pelaksanaannya Pangeran Mijilpun membentuk tim.

Tim pertama dipimpin oleh Suranata, Kyai Khalifah Buyut, dan Mas Penghulu Pekik Ibrahim. Tim kedua dipimpin oleh Raden Tumenggung Honggowongso dan Tumenggung Tirtowiguno.

Pada suatu hari, setelah menempuh perjalanan beberapa hari, tim kedua  menemukan tempat yang mereka anggap cocok untuk didirikan kerajaan baru. Selain menentukan lokasi keraton, kedua senopati tersebut juga mempersiapkan semua kelengkapan untuk mendirikan keraton, seperti tempat untuk bacira ngayun (alun-alun depan), bacira pungkuran (alun-alun belakang), tempat untuk membuat senjata (tempat pande), tempat untuk membuat wrangka keris (mranggen), tempat untuk para istri raja, dan tempat untuk kandang gajah kendaraan baginda.

Setelah semuanya selesai, mereka melaporkan hasilnya. Sri Susuhunan pun meminta pendapat para sesepuh, yang ternyata juga mendukung hasil tersebut. Namun, menurut Kiai Yosodipuro daerah tersebut dalam segi keamanan belum memenuhi syarat untuk dibangun keratin.

Karena daerah yang yang diyakini dapat memberikan kesejahteraan itu berdekatan dengan markas Pangeran Sambernyawa di Nglaroh. Yang sedang tidak bersahabat dengan Sri Susuhunan saat itu.

Akhirnya, Sri Susuhunan Paku Buwono II pun memerintahkan untuk mencari daerah lain.Namun, meskipun tanah yang diyakini Tumenggung Honggowongso sebagai bumi Sukoraharjo tidak jadi dipakai untuk membangun keraton, kemudian hasil penelitian tersebut menjadi tonggak asal-usul  nama Sukoharjo.

Bahkan, tempat yang dulu hendak digunakan untuk tempat wantilan (kandang) gajah, kini menjadi Desa Begajah. Tempat yang akan digunakan untuk tempat pembuatan senjata (pande) menjadi desa Pandean, Tempat untuk membuat wrangka keris (mranggen) menjadi desa Mranggen.Tempat yang digunakan untuk istri (selir) raja menjadi desa Seliran.

Areal luas untuk bacira pungkaran sekarang berfungsi untuk alun-alun Satyanegara,sedangkan tanah yang direncanakan untuk bacira ngayun dipergunakan untuk Kantor Kodim 9726 Sukoharjo dan Masjid Kota.

HARI JADI KABUPATEN SUKOHARJO

Pada tanggal 16 Februari 1874, Sunan Pakubuwono IX dan Residen Surakarta, Keucheneus, membuat perjanjian pembentukan Pradata Kabupaten untuk wilayah Klaten, Boyolali, Ampel, Kartasura, Sragen dan Larangan. Surat perjanjian tersebut disahkan pada hari Kamis tanggal 7 Mei 1874, Staatsblad nomor 209. Pada Bab I surat perjanjian, tertulis sebagai berikut :

Ing Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura lan Sragen, apadene ing Kawedanan Larangan kadodokan pangadilan ingaranan Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangansaikiki kadadekake kabupaten ingaranan Kabupaten Sukoharjo. 

Bahasa Indonesia

Di Kabupaten Klaten, Ampel, Boyolali, Kartasura dan Sragen, dan juga Kawedanan Larangan dibentuk pengadilan yang disebut Pradata Kabupaten. Kawedanan Larangan sekarang dijadikan kabupaten dengan nama Kabupaten Sukoharjo.

Berdasarkan surat perjanjian tersebut sekarang ditetapkan bahwa pada hari Kamis, tanggal 7 Mei tahun 1874 menjadi tanggal berdirinya Kabupaten Sukoharjo, yang sebelum itu bernama Kawedanan Larangan.

Pada era kemerdekaan atau Pemerintahan Hari Lahir Kabupaten Sukoharjo dengan adanya Penetapan Pemerintah No.16/SD, tepatnya pada hari / tanggal Senin Pon, 15 Juli 1946 dan juga adanya pembentukan Pemerintah Daerah di karesidenan Surakarta, pada Minggu Wage, 16 Juni 1946.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo