Social Items

Dari Prasasti Kampak dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau Swatantra. Lebih jelasnya diketengahkan balnva Perdikan Kampak berbatasan dengan Maha Samudra (Samudra Indonesia disebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Juga daerah Dawuhan yang sekarang ini masih dapat dijumpai di Trenggalek.


Setelah masa Mpu Sindok dengan melalui masa Raja Dharmawangsa lahirlah di Jawa Timur Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak diketemukannya data tentang masa tersebut.

Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah Kerajaan Kediri. Dari jaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya Prasasti Kawulan yang terletak di desa Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

Bertolak dari Prasasti Kamulan dapatlah diajukan suatu masa yakni lahirnya Perdikan Kamulan. Di dalam Prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannva yakni tahun 1116 Saka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh Raja Sri Sarweswara Trikramawa- taranindita Srengga Lencana Dikwija- yotungadewa atau biasa dikenal dengan nama Kertajaya.

Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-Katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas Prasati inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek ” pada hari ” Rabu Kliwon tanggal 31 Agustus tahun 1194. Hari dan tanggal tersebut dijadikan Hari Jadi atau Hari lahirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek, antara ain :

Pertama, Prasejarah daerah trenggalek menunjukkan bahwa daerah itu telah dihuni manusia tapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.
Kedua, Prasasti kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan Prasasti itu dilaksanakan isinya.
Ketiga, hanya Prasasti Kamulan yang memiliki informasi cukup lengkap.

Sehingga mampulah Prasasti Kamulan dijadikan tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridis formal yang dapat di pertanggung jawabkan.

Sejarah Kabupaten Trengalek memang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan. Periode Treng­galek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trengalek kurang lebih 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek revolusi fisik.

Yang dimaksud dengan Trenggalek awal ialah masa dimana patut dibedakan pemerintahan timbul tenggclam yang mcngemudikan Kabupaten Trenggalek. Peristiwa sebelum 1930 yang meng- guncangkan pulau Jawa adalah peristiwa pembunuhan penduduk cina di Batavia secara besar-besaran yang dlaksanakan olch VOC pada tanggal 10 Oktober 1740 yang dikenal dengan nama perang Pacinon atau geger pacinan.

Akibatnya Mas gerondi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk cina dan mcngadakan pemberontakan menye- rang Kartas ura pada 30 Juni 1742. Akibat dari pemberontakan ini Sunan Paku- buwono II teraksa melarikan diri ke Ponorogo. Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo.

Sunan Pakubuwono II berhasil menumpas pemberontakan tadi yang mengaki- batkan Putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Trenggalek yang pertamayang berama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh Saudaranya sendiri Bupati Jaya Negara yang merangkap penguasa timggal di Sawo Ponorgo.

Waktu perang mangkubumen; Penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri mengiktui jejak sultan hamengkubuwono I. Pada akhir peperangan mangkubumen yang mencetuskan perjanjian Giyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek di bagi menjadi dua bagian, bagian timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian barat dan selatan termasuk Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dibuk- tikan dengan diketemukannya tugu per- batasan dari batu yang terdapat didesa Gayam Kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda, susunan tata pcmerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat dipcr- kirakan kala tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah Kerajaan Mataram yang lain.

Tahun 1926 diadakan perubahan pcmerintahan oleh pihak Belanda. Perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkan, sebagian daerahnya dimasukkan Kabupaten Tulungagung dan sebagian lainnya dimasukkan Kabupaten Pacitan. Akibatnya hal ini sama dengan pada masa sebelum adanya Kabupaten Trenggalek awal.penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa revolusi fisik ditandai dengan masuknya daerah itu ke dalam wilayah negara Republik Indo­nesia. Berita masuknya daerah Treng­galek ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lesan dan tersebar serta didengar oleh seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek men­dapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain:
Menteri Agama Kyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula menteri Dalam Negcri Drs. Susanto Tirtoprodo, SH serta menteri Negara Dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai didaerah Trenggalek dengan jalan kaki.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah dua kali mengunjungi Treng­galek. Kunjungan yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Trenggalek. Hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamdji dan Sukarjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Crenn dan Karis Sumadi dari pihak belanda.

Sejarah Asal Usul Kabupaten Trenggalek Jawa Timur

Dari Prasasti Kampak dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah-daerah yang mendapatkan hak otonomi atau Swatantra. Lebih jelasnya diketengahkan balnva Perdikan Kampak berbatasan dengan Maha Samudra (Samudra Indonesia disebelah Selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Juga daerah Dawuhan yang sekarang ini masih dapat dijumpai di Trenggalek.


Setelah masa Mpu Sindok dengan melalui masa Raja Dharmawangsa lahirlah di Jawa Timur Kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak diketemukannya data tentang masa tersebut.

Namun tidak dapat disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah Kerajaan Kediri. Dari jaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini dengan munculnya Prasasti Kawulan yang terletak di desa Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

Bertolak dari Prasasti Kamulan dapatlah diajukan suatu masa yakni lahirnya Perdikan Kamulan. Di dalam Prasasti Kamulan dicantumkan tahun pembuatannva yakni tahun 1116 Saka atau tahun 1194 Masehi. Prasasti tadi dikeluarkan oleh Raja Sri Sarweswara Trikramawa- taranindita Srengga Lencana Dikwija- yotungadewa atau biasa dikenal dengan nama Kertajaya.

Raja inilah yang berhasil mengusir musuh-musuhnya dari daerah Katang-Katang berkat bantuan rakyat Kamulan. Berdasar atas Prasati inilah ditetapkan “Hari Jadi Kabupaten Trenggalek ” pada hari ” Rabu Kliwon tanggal 31 Agustus tahun 1194. Hari dan tanggal tersebut dijadikan Hari Jadi atau Hari lahirnya Kabupaten Trenggalek berdasarkan data sejarah yang ditemui di Trenggalek, antara ain :

Pertama, Prasejarah daerah trenggalek menunjukkan bahwa daerah itu telah dihuni manusia tapi jaman ini bersifat masih nisbi sekali.
Kedua, Prasasti kampak tidak jelas hari dan tanggalnya kapan Prasasti itu dilaksanakan isinya.
Ketiga, hanya Prasasti Kamulan yang memiliki informasi cukup lengkap.

Sehingga mampulah Prasasti Kamulan dijadikan tonggak sejarah lahirnya Kabupaten Trenggalek secara analitis, historis, yuridis formal yang dapat di pertanggung jawabkan.

Sejarah Kabupaten Trengalek memang unik, hal ini tercermin dalam periodisasinya yang pernah mengalami masa penggabungan. Periode Treng­galek awal yang mengetengahkan perkembangan dinamika poleksosbud Trengalek kurang lebih 1830 M sampai 1932 yang dilanjutkan dengan masa Trenggalek revolusi fisik.

Yang dimaksud dengan Trenggalek awal ialah masa dimana patut dibedakan pemerintahan timbul tenggclam yang mcngemudikan Kabupaten Trenggalek. Peristiwa sebelum 1930 yang meng- guncangkan pulau Jawa adalah peristiwa pembunuhan penduduk cina di Batavia secara besar-besaran yang dlaksanakan olch VOC pada tanggal 10 Oktober 1740 yang dikenal dengan nama perang Pacinon atau geger pacinan.

Akibatnya Mas gerondi yang bergelar Sunan Kuning membantu penduduk cina dan mcngadakan pemberontakan menye- rang Kartas ura pada 30 Juni 1742. Akibat dari pemberontakan ini Sunan Paku- buwono II teraksa melarikan diri ke Ponorogo. Dengan bantuan Bupati Mertodiningrat dari Ponorogo.

Sunan Pakubuwono II berhasil menumpas pemberontakan tadi yang mengaki- batkan Putra Bupati tadi diangkat sebagai Bupati Trenggalek yang pertama pada tahun 1743. Bupati Trenggalek yang pertamayang berama Sumotruno. Bupati Sumotruno digantikan oleh Saudaranya sendiri Bupati Jaya Negara yang merangkap penguasa timggal di Sawo Ponorgo.

Waktu perang mangkubumen; Penguasa Trenggalek adalah Ngabei Surengrana yang pada awalnya membantu Mas Said kemudian berganti haluan menggabungkan diri mengiktui jejak sultan hamengkubuwono I. Pada akhir peperangan mangkubumen yang mencetuskan perjanjian Giyanti pada 13 Pebruari 1755 mengakibatkan Trenggalek di bagi menjadi dua bagian, bagian timur masuk wilayah Ngrawa dan bagian barat dan selatan termasuk Kabupaten Pacitan. Hal ini dapat dibuk- tikan dengan diketemukannya tugu per- batasan dari batu yang terdapat didesa Gayam Kecamatan Panggul.

Baru pada tahun 1830 setelah perang Diponegaran selesai daerah Trenggalek langsung menjadi milik Belanda, susunan tata pcmerintahan pada waktu itu tidak banyak diketahui hanya dapat dipcr- kirakan kala tidak terlampau jauh bedanya dengan daerah-daerah wilayah Kerajaan Mataram yang lain.

Tahun 1926 diadakan perubahan pcmerintahan oleh pihak Belanda. Perubahan ini di Trenggalek dilaksanakan pada tahun 1935, sejak saat ini Trenggalek digabungkan, sebagian daerahnya dimasukkan Kabupaten Tulungagung dan sebagian lainnya dimasukkan Kabupaten Pacitan. Akibatnya hal ini sama dengan pada masa sebelum adanya Kabupaten Trenggalek awal.penggabungan ini mengakibatkan Trenggalek kurang mendapat perhatian. Dengan demikian maka keadaan Trenggalek pada masa itu tidak banyak yang dapat dicatat.

Trenggalek pada masa revolusi fisik ditandai dengan masuknya daerah itu ke dalam wilayah negara Republik Indo­nesia. Berita masuknya daerah Treng­galek ke dalam negara Kesatuan Republik Indonesia meskipun secara tidak resmi telah terdengar secara lesan dan tersebar serta didengar oleh seluruh penduduk desa-desa di Trenggalek.

Dalam masa ini Trenggalek men­dapat perhatian dari pembesar-pembesar negara antara lain:
Menteri Agama Kyai Haji Masjkur yang didampingi oleh Mr. Sunaryo sebagai sekjen Depag. Datang pula menteri Dalam Negcri Drs. Susanto Tirtoprodo, SH serta menteri Negara Dr. Sukiman Wirjosandjojo yang sampai didaerah Trenggalek dengan jalan kaki.

Panglima Besar Jenderal Sudirman pernah dua kali mengunjungi Treng­galek. Kunjungan yang terakhir pada tanggal 24 Januari 1949 menuju desa Nglongsor.

Konfrensi Meja Bundar yang membuahkan pemerintahan Republik Indonesia Serikat imbasnya terasa pula di Trenggalek. Hal ini dapat diketahui dengan adanya serah terima kekuasaan yang dilakukan oleh Mukardi, R. Roestamdji dan Sukarjono dari pihak RI di Trenggalek dengan Mayor Crenn dan Karis Sumadi dari pihak belanda.

No comments