Friday, July 7, 2017

Kabupaten dan Kota Paling Tua di Provinsi Jawa Timur

Jawa Timur merupakan salah satu provinsi paling penting di Indonesia, karena di sinilah Kerajaan Besar Hindu Budha berkumpul yang berpengaruh besar terhadap NUSANTARA.
Dalam tulisan kali ini, kita akan membahas mengenai Kabupaten dan kota tertua di Jawa Timur Berdasarkan Prasasti bersejarah yang dikumpulkan.

1. KABUPATEN KEDIRI


Berdirinya Kabupaten Kediri : 25 Maret 804, berdasarkan Prasasti Harinjing yang berisi anugerah Maharaja Rakai Layang Dyah Tulodhong dari Kerajaan Mataram untuk menghormati jasa-jasa Bhagawanta Bhari di desa Culanggi, di wilayah Bhumi Kadhiri.


Prasasti Harinjing berisi tentang penganugrahan daerah perdikan (sima) oleh Raja Mataram Kuno, Rakai Layang Dyah Tulodhong kepada Bhagawanta Bhari atas jasanya membangun tanggul di Sungai Harinjing untuk mencegah banjir serta meningkatkan hasil pertanian.

Sebagai bentuk penghormatan serta mengenang tokoh BHAGAWANTA BHARI atas jasanya memperoleh tanah perdikan dan memakmurkan masyarakat KEDIRI berdasarkan Prasasti Harinjing ini maka tangal 25 Maret 804 ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Kediri dengan rangkaian upacara dan Prosesi. Prasasti Harinjing sekarang disimpan di Museum Nasional JAKARTA.

Berdirinya Kota Kediri :

Pada tanggal 27 Juli 879, berdasarkan Prasasti Kwak yang diberikan atas jasa-jasa Rakai Wka Pu Catura, sebagai piagam pengukuhan sebuah tanah tegal di Wanua Kwak sebagai sawah perdikan oleh Raja Mataram.

2. KABUPATEN PASURUAN


Pada tanggal 18 September 929, berdasarkan ditemukannya Prasasti Cunggrang yang merupakan salah satu prasasti peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang terletak di Dusun Sukci, Desa Bulusari, Kecamatan Gempol.

Karena berada di dekat pemakaman umum, suasana prasasti ini terkesan sedikit mistis.
Prasasti Cunggrang ini dibuat oleh Mpu Sendok, sang Pendiri Wangsa Isyana Kerajaan Medang (Mataram Kuno) pada tanggal 18 September tahun 851 Saka atau 929 Masehi.

Prasasti ini dibangun sebagai ucapan terima kasih kepada penduduk Dusun Cunggrang (sekarang disebut dengan Dusun Sukci) yang telah bergotong royong merawat pertapaan, prasada, dan pancuran air di Gunung Penanggungan yang saat itu disebut dengan Pawitra.

Ini membuktikan bahwa budaya gotong royong sudah ada sejak dulu di Pasuruan. Isi dari Prasasti Cunggrang yang terdiri dari tulisan Jawa kuno yang diukirkan tidak dapat terbaca dengan jelas dikarenakan banyak bagian yang rumpil. Namun, inti dari prasasti tersebut menjelaskan bahwa daerah yang bernama Cunggrang, dijadikan daerah sima, yaitu daerah yang dibebaskan dari pajak oleh Kerajaan Mataram.

Adapun Unsur – unsur penanggalan Prasasti Cunggrang adalah sebagai berikut:

    “(Swasti caka) warsatita 851 asujimasa (tithi dwadaci cukla) paksa tu(ng), Pa, Cu (wara Satabbisanaksa) tra. Ba (runa dewata. Gandayoga irika di) wasa.”

Artinya: Selamat tahun caka yang telah lalu 851 bulan Asuji tanggal 12 bagian bulan terang (hari yang bersikles enam) atunglai, (hari yang bersikles lima) pahing, (hari yang bersikles tujuh) Selasa.

    “ni ajna maharaja…”

Artinya: Perintah Sri Maharaja …


Dari tulisan prasasti ini, Kabupaten Pasuruan sudah ada sejak dahulu dengan nama Pasuruhan. Maka kaitan antara Prasasti Cunggrang dengan Kabupaten Pasuruan sangat lekat. Hingga akhirnya penanggalan di prasasti ini dijadikan Hari Jadi Kabupaten Pasuruan yang tahun 2014 ini akan menginjak 1085 tahun.

3.Kabupaten Nganjuk


Pada tanggal 10 April 937, berdasarkan Prasasti Anjukladang yang dikeluarkan Maharaja Mpu Sindok atas jasa-jasa penduduk desa Anjukladang dalam membantu memerangi musuh negara.
Prasasti Anjuk Ladang adalah piagam batu berangka tahun 859 Saka (versi Brandes, 935 M) yang dikeluarkan oleh Raja Sri Isyana (Pu Sindok) dari Kerajaan Medang setelah pindah ke bagian timur Pulau Jawa.


Prasasti ini juga disebut Prasasti Candi Lor karena ditemukan pada reruntuhan Candi Lor, di Desa Candirejo, Loceret, Nganjuk, beberapa kilometer di tenggara kota Nganjuk.

Penamaan "Anjukladang" mengacu pada nama tempat yang disebutkan dala prasasti ini dan kemudian dikaitkan dengan asal mula nama Nganjuk sekarang dan prasasti ini menyebut pertama kali toponim tersebut.

Beberapa bagian prasasti ini telah aus sehingga tidak dapat terbaca seluruhnya, terutama pada bagian atas prasasti. Dari beberapa tulisan yang tidak mengalami aus didapatkan keterangan bahwa "Raja Pu Sindok telah memerintahkan agar tanah sawah kakatikan di Anjukladang dijadikan sima dan dipersembahkan kepada bathara di sang hyang prasada kabhaktyan di Sri Jayamerta, dharma dari Samgat Anjukladang".

Menurut J.G. de Casparis, penduduk Desa Anjukladang mendapat anugerah raja dikarenakan telah berjasa membantu pasukan raja di bawah pimpinan Pu Sindok untuk menghalau serangan tentara Malayu (Sumatera) ke Mataram Kuna yang pada saat itu telah bergerak sampai dekat Nganjuk. Atas jasanya yang besar, maka Pu Sindok kemudian diangkat menjadi raja. Selain itu, prasasti ini juga berisi tentang adanya sebuah bangunan suci.

Dalam makalahnya yang berjudul Some Notes on Transfer of Capitals in Ancient Sri Lanka and Southeast Asia, de Casparis mengatakan bahwa dalam prasasti itu disebutkan bahwa Raja Pu Sindok mendirikan tugu kemenangan (jayastambha) setelah berhasil menahan serangan raja Malayu, dan pada tahun 937 M, tunggu tersebut digantikan oleh sebuah candi. Kemungkinan besar bangunan suci yang disebutkan dalam prasasti ini adalah bangunan Candi Lor yang terbuat dari bata yang terletak di Desa Candirejo.

Kutipan isi prasasti Anjuk Ladang yang menyebutkan hal itu: A. 14 – 15: … parnnaha nikanaŋ lmah uŋwana saŋ hyaŋ prasada atêhêra jaya[sta]mbha wiwit matêwêkniraŋlahakan satru[nira] [haj]ja[n] ri [ma]layu (= di tempat ini [yang telah terpilih] agar menjadi tempat didirikannya bangunan suci, sebagai pengganti tugu kemenangan, [di sanalah] pertamakali menandai saat ia [raja] mengalahkan musuhnya raja dari Malayu).
Prasasti ini sekarang menjadi koleksi Museum Nasional di Jakarta dengan Nomor Inventaris D.59.

Itulah beberapa kota dan kabupaten Paling Tua di Provinsi Jawa Timur berdasarkan bukti prasasti yang ditemukan, dan namanya tidak berubah sampai sekarang tetap Sama dan sudah menjadi wilayah Kabupaten dan Kota dari awal berdiri sampai saat ini.

Mungkin banyak yang bertanya,
Kenapa Nama KANJURUHAN tidak ada ?
Jawabnya : Karena Kanjuruhan hanyalah nama Kecamatan dan bukan nama Kabupaten. Dan kanjuruhan ikut Kabupaten Malang, sedangkan nama Kabupaten Malang sendiri Berdirinya pada Zaman Belanda tidak pada zaman Kerajaan.

Semoga tulisan ini bisa bermanfaat untuk kita semua dan tidak menjadikan kesalah pahaman tentang kebenaran sejarah.
Terima Kasih...!

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham
EmoticonEmoticon