Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Sumbersari, Kediri Jawa Timur

Visi:

Dengan berlandaskan salafiyah, Pondok Pesantren Darussalam mencetak santri muslim sejati yang salaf agar menjadi ulama‘ yang berwawasan intelektual dan intelektual yang berakhlak ulama’ serta berpegang teguh pada Al Qur’an, Al Hadits, Al Ij’ma dan Al Qiyas. Bertekad bulat membentuk santri yang cakap, bermutu dan mengamalkan ajaran yang terkandung didalamnya dengan syaja’ah, tabah dan tawakkal.”

Misi :

1. Beriman dan Taqwa kepada Allah SWT.
2. Berilmu agama dan berilmu pengetahuan.
3. Mampu mengamalkan dan memperjuangkan ilmu yang diterima
4. Berakhlaqul karimah
5. Hidup mandiri dan siap pakai
6. Berjiwa dan berpola pesantren salafi


Alamat Kantor

Madrasah Islamiyah Darussalamah
Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari
Ds. Kencong Kec. Kepung Kab. Kediri Prop. Jawa Timur
PO. BOX. 111 Pare 64201
Telp. (0354) 392417
Fax. (0354) 394626


Pada zaman dahulu sekitar pada awal abad ke - 19 tepatnya di desa Bagelan kab. Purworejo Jawa Tengah, lahirlah seorang jabang bayi yang bernama Nur Aliman yang kelak sebagai perintis singgasana Sumbersari dan beliau dibesarkan dalam keluarga yang sederhana namun sejahtera. Berkat ketelatenan orangtua beliau yang selalu menanamkan sifat zuhud, sabar, dan ulet akhirnya menjadikan beliau seorang anak yang tegar dan tabah menghadapi cobaan apapun. itu semua terbukti dengan keikutsertaan beliau dalam memperjuangkan kemerdekaan R.I. yaitu dengan bergabung berrsama pasukan pangeran Diponegoro.

Namun realita berkata lain, dalam liku-liku perjuang kemerdekaan untuk melawan kedzoliman penjajah, maka pada tahun 1830 M. dalam sebuah perundingan yang dilakukan di Magelang Jawa Tengah dengan tipu muslihat para penjajah, pangeran Diponegoro tertangkap dan diasingkan ke Makasar (Ujung Pandang), hingga akhirnya wafat disana.

Sedangkan laskar pangeran Diponegoro bercerai berai karna wafatnya beliau dan tersebar ke seluruh nusantara. Diantara prajuritnya adalah kyai Nawawi .dan setelah menempuh perjalanan jauh sampailah beliau di desa Ringinagung kabupaten kediri. Di desa itulah beliau mulai merintis sebuah pesantren Salafi yang tetap Eksis hingga sekarang yang kita kenal dengan "Mahir Arriyadl".yamg berada kira-kira 2 km kearah timur dari Sumbersari. Selang tidak beberapa lama datanglah seorang pemuda pada kyai Nawawi, dialah Nur Aliman yang dulu pernah menjadi muridnya. kedatangan Nur Aliman ini berniat meneruskan pangabdian sekaligus untuk memperdalam ilmu agama.

BABAD SUMBERSARI



Seiring dengan berputarnya roda kehidupan dan setelah melalui proses perjuangan yang sangat melelahkan dan penderitaan yang panjang, hingga tak terasa tampillah sang Nur Aliman sebagai pemuda yang dewasa dan tibalah saat baginya untuk mengembangkaan sayapnya ''li'lai kalimatillah''.

Alkisah saat beliau refresing dan bermaksud untuk melihat suasana sekaligus mencari yang setrategis untuk berjuang hingga beliau sampai di desa Senowo yang mana sebelahnya terdapat sebuah hutan yang terkenal Sangat rawan dan angker. Terbesit dalam kalbu beliau untuk merombak hutan belantara sebagai lokasi untuk berjuang.

Setelah merasa yakin dan mantap akan hal itu, maka niat beliau disampaikan pada gurunya ( kyai Imam Nawawi ) , Alhamdulillah sang guru meridoi dan merestuinya.

Kemudian mulailah Kyai Nur Aliman membuka hutan tersebut, dengan bermodal Bismillah dan Restu dari Sang Guru, serta tekadnya yang bulat yang di dasari rasa ikhlas dan penuh kesabaran akhirnya beliau berhasil merombak hutan yang terkenal keganasan dan keangkeranya. Dan karena Rohmat dan keridloan beserta 'Inayahnya Allah sehingga beliau merombak hutan tersebut menjadi sebuah dukuh yang indah laksana taman yang bertabur bunga Nirwana yang tumbuh berseri-seri.

Konon katanya di dukuh tersebut terdapat sebuah sumber mata air yang besar yang menopang kehidupan penduduk di sekitar situ, Dengan rasa syukur dan berbangga hati penduduk sekitar sepakat untuk menjadikan daerah sekitar sumber dijadikan sebuah dukuh.yang kemudian bernama Sumbersari. Namun sumber itu telah hilang laksana mata yang tak mampu mengalirkan air mata lagi. Dan sekarang sebagai monumenya didiami oleh Istiqomah ( cucu kyai Nur Aliman).

 TAZAWWUF

Sumbersari telah menampakkan sinarnya , bersama dengan bergulirnya masa serta bergeraknya waktu, Mbah Nur Aliman berkehendak menjalankan sunah rosul sebagai insan adami yakni "TAZAWWUJ", dalam rangka lii'lai Kalimatillah . kemudian atas izin Allah beliau menjumpai seorang pasangan hidup dengan seorang janda beranak satu yang pernah nyantri pada mbah juraimi ( senowo kurang lebih satu km arah barat Sumbersari). Yang konon masyhur dengan kyai jaduk /ampuh.

Perempuan itu bernama Rusminah cucu dari bapak Hasan mursyid dari Blitar. kemudian istri dan anaknya diboyong ke Sumbersari, dan disanalah beliau membina dan membangun rumah tangga yang mawaddah warrahmah. Dengan limpahan kasih sayang walaupun dalam sebuah gubuk yang sederhana beratap ilalang. Dari pernikahan beliau dikaruniai tiga orang keturunan yaitu:
1. Murtiatun.
2. Musriatun.
3. Abdurrahman.

Putra- putri beliau kyai Nur Aliman semuanya tinggal di Sumbersari kecuali Nyai Musriatun. Putri kedua beliau dipersunting seorang pemuda dari Jombangan yang bernama Abu Umar sekaligus diboyong ke Jombangan, dan beliau mendirikan sebuah Ma'had yang bernama ''Miftahul Ulum''.

Walau beliau bertempat tinggal di daerah yang terpencil dan jauh dari kedamaian namun ada sebuah pepatah mengatakan ''Ada gula ada semut'' maka tak ayal lagi jika beliau kedatangan santri dari desa sekitar untuk menimba ilm kepada beliau. Dan itu semua berlangsung sampai saat ini, terbukti masih banyaknya santri yang nduduk ( tidak mukim di pondok).

Dalam usaha beliau Nasyrul Ilmi Waddin kyai Nur Aliman tidak terlepas dari cobaan dan rintangan yang silih berganti. Namun hal itu tidak membuat beliau putus asa justru hal tersebut mendorong untuk terus berjuang.

Menurut suatu hikayah mbah kyai Nur Aliman mempunyai tetangga dukuh yang terkenal bengis ,brutal,serta jahat, oleh karna itu tak jarang beliau mendapat perlakuan yang kurang ramah, baik berupa ucapan maupun perbuatan, hingga suatu hari pernah beliau kehilangan sebuah selimut putra kesayanganya, usut punya usut ternyata selimut itu dicuri oleh tetangganya.

Tidak hanya sampai disitu saja, kuda satu-satunya milik putra kesayangan beliau juga raip entah kemana, bahkan paling parah lagi yaitu ketika angkring beserta kitab-kitab milik santri ludes dilalap si jago merah. yang ternyata hal tersebut akibat ulah sekelompok orang-orang biadab yang tak menginginkan kehadiran beliau di tempat itu.

Pondok Pesantren Darussalam SUMBERSARI merupakan salah satu elemen pendidikan Nasional yang eksistensinya semenjak berdiri pada tahun 1943 M sampai kini tetap mendapatkan perhatian yang besar dari masyarakat sebagai wahana keilmuan Agama Islam dalam makna yang seluas-luasnya.

Oleh karena itu dalam usahanya untuk mencetak generasi pewaris yang beriman,bertaqwa dan berilmu pengetahuan luas serta mampu mengamalkan ilmu yang telah dimilikinya dengan pondamen akhlaqul-karimah, Madrasah Islamiyah Darussalamah Pondok Pesantren Darussalam selalu berusaha meningkatkan pelayanan pendidikan dengan semaksimal mungkin,yang berciri khas mengedepankan nilai-nilai salafiyah dengan mempertahankan program-program yang dinilai relevan serta berusaha menfilter berbagai informasi kemajuan dunia pendidikan yang positif demi meningkatkan mutu pendidikan yang ada pada saat ini.

Dalam rangka pembinaan generasi muda sebagai generasi penerus menuju terwujudnya Manusia yang berkwalitas baik Jasmani maupun Rohani. Demi meningkatkan derajat Manusia menuju Martabat Insan Muttaqiin serta menjunjung tinggi, Nusa, Bangsa dan Agama melalui jalur pendidikan di Pondok Pesantren Darussalam.

Metode Pembelajaran


Metode Sorogan

Yaitu kegiatan pembelajaran bagi santri yang lebih menitik beratkan pada pengembangan kemampuan perseorangan (individu) dibawah bimbingan seorang ustadz atau kyai.

Metode Bandongan / Wetonan

Yaitu kegiatan pembelajaran yang dilakukan oleh seorang kyai atau ustadz terhadap sekelompok peserta didik atau santri untuk mendengarkan dan menyimak apa yang dibaca, diterjemahkan, diterangkan dan diulas dari teks-teks kitab berbahasa Arab tanpa harakat( kitab gundul, kitab salaf ,kitab klasik, kitab kuning / al-kutub al-shafra’).

Metode Musyawarah/ Bahtsul Masa’il

Yaitu metode pembelajaran yang mirip dengan metode diskusi atau seminar. Beberapa santri dengan jumlah tertentu membentuk halaqah yang dipimpin oleh seorang kyai atau ustadz atau mungkin juga santri senior, untuk membahas atau mengkaji suatu persoalan yang telah ditentukan sebelumnya.

Metode Takrar / Study Club

Yaitu metode pembelajaran para sekelompok santri satu kelas/tingkatan melalui pengulangan pelajaran yang telah disampaikan oleh kyai/ustadz.

Metode Pengajian Pasaran / Kilatan

Yaitu kegiatan belajar para santri melalui pengkajian materi (kitab) tertentu pada seorang ustadz yang dilakukan terus menerus (maraton) selama tenggang waktu tertentu. Tetapi umumnya pada bulan Ramadlan selama setengah bulan, dua puluh hari atau satu bulan penuh tergantung pada besarnya kitab yang dikaji. Metode ini mirip dengan metode bandongan. Akan tetapi pada metode ini target utamanya adalah selesei/khatam.

Metode Hafalan / Muhafadzah

Metode hafalan ialah kegiatan belajar santri dengan cara menghafal suatu teks tertentu dibawah bimbingan dan pengawasan seorang ustadz/kyai. Para santri diberi tugas untuk menghafal bacaan-bacan/nadlom dalam jangka waktu tertentu, kemudian dihafalkan dihadapan ustadz/kyai secara periodik atau insidental tergantung petunjuk gurunya tersebut.

Metode Demonstrasi / Praktek Ibadah

Ialah Cara pembelajaran yang dilakukan dengan memperagakan (mendemonstrasikan) suatu ketrampilan pelaksanaan ibadah tertentu yang dilakukan secara perorangan maupun kelompok dibawah petunjuk dan bimbingan ustadz.

Metode Rihlah Ilmiyah / Studi Tour

Yaitu kegiatan pembelajaran yang diselenggarakan melalui kegiatan kunjungan (perjalanan) menuju tempat tertentu dengan tujuan mencari ilmu.

Metode Muhawarah / Muhadatsah / Percakapan

Metode ini merupakan latian bercakap-cakap dengan bahasa Arab atau bahasa asing lain yang diwajibkan oleh pondok pesantren kepada para santri.

Metode Mudzakarah / Diskusi

Yaitu pertemuan ilmiyah yang membahas masalah diniyah, seperti ibadah,aqidah dan masalah agama pada umumnya.Metode ini mirip dengan metode musyawarah, bedanya metode mudzakarah pesertanya adalah para kyai atau santri tingkat tinggi.

Metode Riyadhah / latihan Mental

Metode Riyadhah merupakan suatu metode pembelajaran di pesantren yang menekankan pada olah batin untuk mencapai kesucian para santri dengan berbagai macam cara berdasarkan petuntuk dan bimbingan kyai. Metode ini dimaksudkan untuk pembentukan dan pembiasaan sikap serta mental santri agar dekat kepada Tuhan.

Metode Safari Da’wah

Yaitu kegiatan pembelajaran pada santri senior dengan cara mengadakan kunjungan ke daerah-daerah yang kurang agamis dalam jangka waktu tertentu untuk menyampaikan, mempraktekan dan menumbuhkembangkan prilaku agamis.

Fasilitas


Ruang Belajar

Ruang belajar klasikal terdiri dari 35 lokal kelas :
a. Dua gedung lantai II  : terdiri dari 20 lokal
b. Tiga gedung lanta I  : terdiri dari 15 lokal

Asrama Santri

Bangunan asrama santri putra sebanyak 22 gedung.
a. Asrama Diponegoro
b. Asrama Lamongan
c. Asrama Banyuwangi
d. Asrama Sumberpancur
e. Asrama Sidomulyo
f. Asrama Surabaya – Sidoarjo
g. Asrama Purwokerto
h. Asrama Nganjuk
i. Asrama Kedu
j. Asrama Madura
k. Asrama Madiun
l. Asrama Blitar
m. Asrama Jogjakarta
n. Asrama Tulung Agung
o. Asrama Sumatra
p. Asrama Kediri
q. Asrama Gresik
r. Asrama Bangil
s. Asrama Malang
t. Asrama Al Mudhofar
u. Asrama Al Munawar
v. Asrama A’wan

Bangunan asrama santri Putri berjumlah 3 gedung

    Asrama Al Abror
    b. Asrama Al Muqoddas
    c. Asrama Al Azhar

Masjid dan Mushola

    Masjid  : 1 Unit
    b. Musholla  : 5 Unit
    Selain digunakan sebagai tempat ibadah, juga sebagai tempat kegiatan belajar-mengajar (tempat pengajian kitab-kitab salaf).

Fasilitas Lainnya

    Perpustakaan putra dan putri
    b. Pos Kesehatan Pesantren dan Ambulance
    c. Laboratorium bahasa arab
    d. Laboratorium keterampilan (menjahit dan bordir)
    e. Dua gedung koperasi pondok
    f. Satu gudang perlengkapan
    g. Lima kamar mandi khusus guru putra dan lima kamar mandi guru putri
    h. Sepuluh kamar mandi khusus santri putra dan Duabelas kamar mandi putri
    i. Lima kantin putra dan lima kantin putri
    j. Tujuh dapur santri
    k. Satu buah bengkel untuk praktek

1 Komentar untuk "Sejarah berdirinya Pondok Pesantren Sumbersari, Kediri Jawa Timur"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel