Social Items

Korea bermula dari zaman Paleolitik Awal sampai dengan sekarang. Kebudayaan tembikar di Korea dimulai sekitar tahun 8000 SM, dan zaman neolitikum dimulai sebelum 6000 SM yang diikuti oleh zaman perunggu sekitar tahun 2500 SM. Kemudian Kerajaan Gojoseon berdiri tahun 2333 SM. Baru pada abad ke-3 SM Korea mulai terbagi-bagi menjadi banyak wilayah kerajaan.


Pada tahun satu Masehi, Tiga Kerajaan Koreaseperti Goguryeo, Silla dan Baekje mulai mendominasi Semenanjung Korea dan Manchuria. Tiga kerajaan ini saling bersaing secara ekonomi dan militer. Koguryo dan Baekje adalah dua kerajaan yang terkuat, terutama Goguryeo, yang selalu dapat menangkis serangan-serangan dari Dinasti-dinasti Cina.

Kerajaan Silla perlahan-lahan menjadi kuat dan akhirnya dapat menundukkan Goguryeo. Untuk pertama kalinya Semenanjung Korea berhasil disatukan oleh Silla pada tahun 676 menjadi Silla Bersatu. Para pelarian Goguryeo yang selamat mendirikan sebuah kerajaan lain di sisi timur laut semenanjung Korea, yakni Balhae.

Silla Bersatu akhirnya runtuh di akhir abad ke-9, yang juga mengakhiri masa kekuasaan Tiga Kerajaan. Kerajaan yang baru, Dinasti Goryeo, mulai mendominasi Semenanjung Korea. Kerajaan Balhae runtuh tahun 926 karena serangan bangsa Khitan dan sebagian besar penduduk serta pemimpinnya, Dae Gwang hyun, mengungsi ke Dinasti Goryeo.

Selama masa pemerintahan Goryeo, hukum yang baru dibuat, pelayanan masyarakat dibentuk, serta penyebaran agama Buddha berkembang pesat. Tahun 993 sampai 1019 suku Khitan dari Dinasti Liao meyerbu Goryeo, tetapi berhasil dipukul mundur. Kemudian pada tahun 1238, Goryeo kembali diserbu pasukan Mongol dan setelah mengalami perang hampir 30 tahun, dua pihak akhirnya melakukan perjanjian damai.

Pada tahun 1392, Taejo dari Joseon mendirikan Dinasti Joseon setelah menumbangkan Goryeo. Raja Sejong (1418-1450) mengumumkan penciptaan abjad Hangeul. Antara 1592-1598, dalam Perang Imjin, Jepang menginvasi Semenanjung Korea, tetapi dapat dipatahkan oleh prajurit pimpinan Admiral Yi Sun-shin. Lalu pada tahun 1620-an sampai 1630-an Dinasti Joseon kembali menderita serangan dari (Dinasti Qing).

MASUKNYA JEPANG

Pada awal tahun 1870-an, Jepang kembali berusaha merebut Korea yang berada dalam pengaruh Cina. Pada tahun 1895 Maharani Myeong seong dibunuh oleh mata-mata Jepang.

Pada tahun 1905, Jepang memakasa Korea untuk menandatangani Perjanjian Eulsa yang menjadikan Korea sebagai protektorat Jepang, lalu pada 1910 Jepang mulai menjajah Korea

Perjuangan rakyat Korea terhadap penjajahan Jepang dimanifestasikan dalam Pergerakan 1 Maretdengan tanpa kekerasan. Pergerakan kemerdekaan Korea yang dilakukan Pemerintahan Provisional Republik Korealebih banyak aktif di luar Korea seperti di Manchuria, Cina dan Siberia.

Dengan menyerahnya Jepang pada tahun 1945, PBB membuat rencana administrasi bersama Uni Soviet dan Amerika Serikat, namun rencana tersebut tidak terlaksana.

Pada tahun 1948, pemerintahan baru terbentuk, yang demokratik (Korea Selatan) dan komunis (Korea Utara) yang dibagi oleh garis lintang 38 derajat. Ketegangan antara kedua belah pihak mencuat ketika Perang Korea meletus tahun 1950 ketika pihak Korea Utara menyerang Korea Selatan.

MASA TEMBIKAR JEULMUN

Zaman kebudayaan tembikar di Korea dimulai sekitar 8000 SM, disebut Kebudayaan Tembikar Yungimun. Bukti-bukti arkeologinya ditemukan di seluruh Korea, seperti di situs Gosann-ni di Pulau Jeju.

Kebudayaan Tembikar Jeulmun (tembikar berpola sisir) dimulai tahun 7000 SM, dan kebudayaan tembikar dengan pola sisir di keseluruhan sisi artefak dimulai antara tahun 3500-2000 SM. Tembikar Jeulmun sama dengan tembikar yang ditemukan di Primorsky, Rusia, Mongolia, lembah sungai Amur dan Sungari di Manchuria.

MASA TEMBIKAR MUMUN

Pada masa ini (sekitar 1500 SM-300 SM) mulai terbentuk masyarakat yang bercocok tanam dan berkehidupan sosial-politik. Masyarakat di Korea bagian selatan mengembangkan pertanian padi ladang di Zaman Mumun Tua (1500 SM-850 SM).

Di Zaman Mumun Madya (850 SM-550 SM) mulai dikenal sistem masyarakat yang dipimpin oleh kepala suku. Pada Zaman Mumun Muda (sekitar 550 SM-300 SM) bukti arkeologi menunjukkan telah dilakukan upacara kematian (penguburan) bagi orang yang memiliki status tinggi.

Produksi perunggu dimulai di Zaman Mumun Madyadan berperan penting dalam kegiatan upacara atau politik setelah tahun 700 SM. Pada periode ini pula pertama kalinya berkembang pemukiman yang berkembang kian besar dan akhirnya hancur: beberapa contohnya seperti Songguk-ri, Daepyeong dan Igeum-dong. Zaman Mumun berakhir sekitar tahun 300 SM.

KERAJAAN GOJOSEON

Gojoseon adalah kerajaan Korea yang pertama. Berdasarkan Samguk Yusa dan teks-teks kuno Korea abad pertengahan[7], Gojoseon didirikan tahun 2333 SM oleh Dangun, putra tokoh mitologi Korea, Hwanin, yang dipercaya diturunkan dari surga.

Masyarakat Gojoseon adalah keturunan dari suku bangsa Altai yang bermigrasi ke Manchuria, daerah sebelah utara Sungai Yangtze (Cina) dan semenanjung Korea. Mereka adalah nenek moyang orang Korea yang pertama yang disebut dalam catatan sejarah.

Gojoseon sebenarnya terletak di Liaoning, tetapi sekitar tahun 400 SM memindahkan ibukotanya ke Pyongyang yang sekarang adalah ibukota dari Korea Utara.

Kebudayaan perunggu menyingsing di Korea sekitar tahun 1500-1000 SM, dan melalui bukti-bukti arkeologi menyebutkan mungkin lebih jauh lagi yaitu tahun 2500 SM.

Pada masa ini telah dikenal peralatan seperti pisau belati perunggu (bronze daggers), kaca, persenjataan serta pembuatan kota yang berdinding.

Masyarakatnya juga telah membudidayakan padi, kacang merah, kacang kedelai dan gandum. Mereka dapat membuat rumah-rumah yang berbentuk persegi panjang dan membangun dolmen untuk tempat penguburan jenazah. Semenanjung Korea memiliki situs dolmen yang terbanyak di dunia.

Gojoseon berubah dari pemukiman bertembok (walled cities) yang bersifat feodal menjadi sebuah kerajaan sebelum abad ke 4 SM.

Sejak abad ke 3 SM, kebudayaan besi telah berkembang dan peperangan dengan bangsa Cina menyebabkan pengungsian ke timur dan selatan semenanjung. Baru-baru ini sebuah cermin besi ditemukan di Songseok-ri, Kangdong-gun, kota Pyongyang di Korea Utara yang mungkin berasal dari tahun 1200 SM.

Pada masa ini, sebuah kerajaan bernama Jin, berkembang di bagian selatan semenanjung Korea. Sangat sedikit bukti mengenai keberadaan Kerajaan Jin, namun kerajaan ini sudah mengadakan hubungan dengan Dinasti Han Cina dan mentransfer kebudayaan ke Yayoi (Jepang).

Raja dari Gija Joseonmungkin telah lari ke Jin setelah terjadi pemberontakan oleh Wiman. Jin kemudian berkembang jadi Konfederasi Samhan. Dinasti Han lalu menumbangkan Wiman dan mendirikan Empat Komander Han.

KEHANCURAN GOJOSEON

Masih kabur kapankah waktu kejatuhan dan kehancuran Gojoseon, tergantung kepada bagaimana sejarawan memandang Gija Joseon. Sebuah teori dari Joseon Sangosamenyebutkan bahwa Gojoseon mengalami perpecahan tahun 300 SM dan secara perlahan kehilangan kendali atas wilayah teritorinya.

Banyak negara (kerajaan) kecil yang menjadi pecahannya seperti Buyeo, Okjeo, Dongye, Guda-guk, Galsa-guk, Gaema-guk, dan Hangin-guk. Sedangkan kerajaan besar Goguryeo dan Baekje berasal dari Buyeo. Masa Tiga Kerajaan Korea dikuasai oleh Goguryeo, Baekje dan Silla walaupun sampai abad ke 5 dan 6 terdapat Kerajaan Buyeo dan Gaya.

PROTO TIGA KERAJAAN

Periode Proto Tiga Kerajaan (Masa Sebelum Tiga Kerajaan) kadang-kadang disebut Periode Banyak Negara (열국시대), atau masa sebelum munculnya tiga kerajaan seperti Goguryeo, Baekje dan Silla. Pada masa ini terdapat banyak negara pecahan kerajaan Gojoseon. Yang terbesar adalah Dongbuyeo(Buyeo Timur) dan Bukbuyeo (Buyeo Utara).

BUYEO DAN KERAJAAN DARI UTARA

Setelah kehancuran Gojoseon, Buyo berkembang di Korea Utara saat ini dan sebelah selatan Manchuria, dari abad ke 2 SM sampai tahun 494 M. Sisa-sisa wilayah Gojoseon diserap oleh Goguryeo tahun 494, dan keduanya (Kerajaan Goguryeo dan Baekje) menganggap masing-masing sebagai penerus dari Gojoseon.

Walaupun banyak dari catatan sejarah tidak akurat dan bertentangan, disebutkan pada tahun 86 SM, Buyeo terpecah jadi Buyeo Utara (Bukbuyeo) dan Buyeo Timur (Dongbuyeo). Pada tahun 538 Baekje menamakan diri mereka Nambuyeo (Buyeo Selatan).

KERAJAAN OKJEO

Okjeo adalah kerajaan yang terletak di sebelah utara semenanjung Korea dan berdiri setelah jatuhnya Gojoseon. Okjo sendiri sudah menjadi bagian dari Gojoseon sebelum Gojoseon hancur.

Okjeo tidak pernah menjadi sepenuhnya kerajaan yang bebas karena selalu menghadapi intervensi dari kerajaan-kerajaan tetangganya. Okjeo kemudian menjadi taklukan Goguryeo di bawah Raja Gwanggaeto yang Agung pada abad ke 5 M.

KERAJAAN DONGYE

Dongye adalah kerajaan kecil lain yang terletak di sebelah utara Semenanjung Korea. Dongye berbatasan dengan Okjeo dan dua kerajaan lain yang juga menjadi negeri taklukkn Goguryeo. Dongye juga adalah pecahan dari Gojoseon.

SAMHAN

Samhan (三韓) adalah tiga negara konfederasi yaitu Mahan, Jinhan dan Byeonhan. Samhan terletak di bagian selatan Semenanjung Korea. Tiga konfederasi ini menjadi tonggak pendirian kerajaan Baekje, Silla dan Gaya.

Mahan adalah yang terbesar dengan 54 negara bagian, Byeonhan dan Jinhan masing-masing memiliki 12 negara bagian. Kata samhan kemudian digunakan untuk menunjuk Tiga Kerajaan Korea.

Hanja "han" (韓) dari Samhan saat ini digunakan untuk menunjuk Korea (Dae Han Min Guk).

NEGARA UTARA DAN SELATAN

Sebutan Negara Utara dan Selatan merujuk pada kerajaan Silla Bersatu dan Balhae, yaitu saat Silla menguasai semenanjung Korea dan Balhae memperluas kekuasaannya di Manchuria.

Setelah perang unifikasi, Dinasti Tangmendirikan teritori dan komunitasnya di bekas wilayah Goguryeo dan juga di Baekje. Silla menyerang orang-orang Tang di Baekje dan Korea Utara tahun 671.

Cina menginvasi Silla tahun 674 namun gagal di bawah tentara Jenderal Kim Yushin yang kuat. Silla akhirnya mengeluarkan semua kekuatan Tang tahun 676 dan membawa penyatuan bagi sebagian besar semenanjung Korea.

Periode Silla bersatu adalah masa ketika kebudayaan Korea berkembang dengan pesat serta Buddhisme menjadi agama negara. Kuil-kuil seperti Bulguksa adalah contoh betapa pesatnya kebudayaan Korea dalam pengaruh agama Buddha.

Beberapa kuil yang indah dibangun seperti Kuil Hwangnyeong, Bunhwangsa, dan Sokkuram yang menjadi Situs Warisan Dunia (UNESCO). Masa ini juga menjadi masa damai ketika Korea menjalin hubungan baik dengan Dinasti Song Cina.

Silla mulai mengalami masa kericuhan politik tahun 789 yang membuat Silla jadi lemah. Sementara itu sisa-sisa Baekje mulai bangkit dan mendirikan Kerajaan Hubaekje ("Baekje Akhir").

Silla Bersatu hanya bertahan 267 tahun ketika rajanya yang terakhir, Raja Gyeongsundisingkirkan oleh Wanggeon yang mendirikan Dinasti Goryeo tahun 935.

BALHAE

Balhae didirikan di bagian utara di bekas wilayah Goguryeo oleh Dae Jo-yeong, mantan jenderal Goguryeo. Balhae menguasai wilayah paling utara dari semenanjung Korea, sebagian besar Manchuria dan wilayah Propinisi Maritim Rusia saat ini. Balhae menyebut kerajaan mereka sebagai penerus dari Goguryeo.

Dalam masa damai, Balhae mengembangkan kebudayaannya, terutama pada masa pemerintahan Raja Mun (sekitar 737-793). Kebudayaan Balhae dipengaruhi oleh Buddhisme sama seperti Silla dan Baekje. Kerajaan Balhae runtuh pada tahun 926 karena diserang oleh bangsa Khitan dari Dinasti Liao.

Tidak ada catatan sejarah dari Balhae yang tersisa. Goryeo menyerap sebagian teritori Balhae dan menerima pengungsinya, termasuk anggota kerajaannya. Dalam teks Samguk Sagi terdapat ringkasan mengenai Balhae, tetapi tidak menuliskan sejarah berdirinya.

Sejarawan dari Dinasti Joseonabad 18, Yu Deukgong memasukkan Balhae ke dalam bagian sejarah Korea dan mulai menggunakan penyebutan Periode Negara Utara dan Selatan untuk masa berdirinya Balhae.

TIGA KERAJAAN AKHIR KOREA

Tiga Kerajaan Akhir (892-936) terbagi atas Silla, Hubaekje (Baekje Akhir) dan Taebong(juga dikenal dengan sebutan Hukoguryo atau Goguryeo Akhir). Wang Geon menumbangkan Hubaekje tahun 936 dan mengesahkan pemerintahan baru, yaitu Dinasti Goryeo.

TERBENTUKNYA DINASTI GORYEO

Dinasti Goryeo didirikan tahun 918 dan sejak tahun 936 menggantikan Silla sebagai kerajaan yang memerintah Semenanjung Korea. Kata Goryeo adalah kependekan dari Goguryeo dan merupakan sebutan bagi orang asing yang merujuk ke Korea. Dinasti ini bertahan sampai tahun 1392.

Pada tahun 1231 bangsa Mongol memulai penyerangan terhadap Goryeo. Setelah peperangan yang melelahkan selama 25 tahun akhirnya Goryeo menandatangani perjanjian damai dengan Kerajaan Mongol. Maka dalam waktu 80 tahun Goryeo berada dalam bayang-bayang kekuasaan bangsa utara itu.

Pada tahun 1340-an Raja Gongmin memberontak terhadap kekuasaan Mongol dan secara cepat menyingkirkan mereka dari semenanjung Korea. Namun Koryo kini sedang menghadapi serangan dari bajak lautJepang (Wokou) yang mulai mencapai Korea. Tahun 1392 seorang jenderal bernama Yi Seong-gye, memberontak dan mengakhiri kekuasaan dinasti ini.

Dalam abad ke 19, Korea mencoba mengontrol pengaruh asing dengan menutup semua perbatasannya untuk semua negara kecuali dengan Cina. Tahun 1853 sebuah kapal perang Amerika Serikat, USS South America, berlabuh di Busan selama 10 hari dan mengadakan kontak dengan pejabat-pejabat Korea.

Beberapa orang Amerika pernah terdampar di Korea karena kapal mereka tenggelam pada tahun 1855 dan 1865, namun mendapat perlakuan yang baik dari orang Korea dan mereka dipulangkan ke negara asal lewat Cina. Walau demikian Choson tetap waspada terhadap pihak-pihak asing dan juga tetangga mereka, Dinasti Qing.

Pada tahun 1897, Dinasti Joseon beralih menjadi Kekaisaran Han Raya dengan Kaisar Gojong sebagai pemimpinnya. Pada tanggal 25 Juli 1905 secara efektif Korea sudah berada dalam wilayah prektorat Jepang dengan paksaan tanpa adanya perjanjian dan persetujuan dari Raja Gojong.

PEMECAHAN KOREA

Pembagian Korea menjadi Korea Utara dan Korea Selatan bermula sejak kemenangan Blok Sekutu di dalam Perang Dunia II, mengakhiri 35 tahun Penjajahan Jepang atas Korea. Di dalam sebuah proposal yang ditolak oleh hampir seluruh bangsa Korea, Amerika Serikat dan Uni Soviet setuju untuk sementara menduduki negara Korea sebagai wilayah perwalian dengan zona pengawasan yang didemarkasi pada sepanjang 38 derajat lintang utara.

Tujuan perwalian ini adalah untuk mendirikan pemerintah sementara Korea yang akan menjadi "bebas dan merdeka pada waktunya". Meskipun pemilihan umum dijadwalkan, dua adidaya mendukung dari belakang para pemimpin yang berseberangan dan dua negara itu secara efektif telah didirikan, masing-masing mengakui kedaulatan atas seluruh Semenanjung Korea.

Sejarah Lengkap Asal Usul Terbentuknya Korea dan Dinasti Goryeo

Dinasti Yuan berdiri pada (Tahun 1271 ~ 1368) merupakan Dinasti pertama yang didirikan oleh Suku Minoritas yaitu Suku Mongol dan juga merupakan satu-satunya Dinasti dalam Sejarah China yang memiliki wilayah kekuasaan terbesar. Wilayah kekuasaannya meliputi seluruh wilayah daratan China hingga sampai ke Wilayah Asia Barat.


Sekitar abab ke 12, Suku Mongol muncul seorang pemimpin besar yang bernama Tie Mu Zhen yang berhasil mempersatukan kelompok-kelompok Suku Mongol ke dalam satu kesatuan Bangsa Mongolia dan membentuk Kerajaan Mongolia dibagian Utara China. Tahun 1206, Tie Mu Zhen diangkat menjadi Raja Bangsa Mongolia dengan gelar Genghis Khan (Cheng Ji Shi Han yang artinya adalah Raja (Khan) dari segala-galanya.

Dibawah kepemimpinan Genghis Khan (Tie Mu Zhen), Suku Mongol berkembang menjadi Suku yang sangat kuat hingga pada tahun 1227 berhasil menghancurkan Kerajaan Xi Xia dan juga menghancurkan Dinasti Jin pada tahun 1234. Genghis Khan wafat pada usia 66 tahun tepatnya pada tahun 1227 disaat melakukan penyerangan ke Kerajaan Xi Xia.

Menjelang kematiannya, Genghis Khan memberikan Strategi untuk menghancurkan Dinasti Jin kepada putra-putranya. Setelah wafatnya Genghis Khan, Kerajaan Mongolia kemudian dipimpin oleh Ogodai Khan yang berhasil menghancurkan Dinasti Jin dibawah kepemimpinannya serta berhasil memperluas wilayah Kerajaan Mongolia hingga ke Wilayah Eropa dan Wilayah Rusia. Setelah Ogodai Khan, Kerajaan Mongolia kemudian dipimpin oleh Meng Ge dan Kubilai Khan.

Pada tahun 1271, Cucu Genghis Khan yaitu Kubilai Khan mendirikan Dinasti Yuan di Kota Da Du (sekarang Beijing) yang kemudian menjadikan Kota Beijing menjadi pusat pemerintahan, pusat perekonomian dan sosial budaya hingga saat ini.

Kubilai Khan kemudian menobatkan dirinya menjadi Kaisar Yuan Shi Zu serta menyatakan kakeknya Genghis Khan sebagai Kaisar pertama Dinasti Yuan dengan gelar Yuan Tai Zu.

Tahun 1276, Militer Dinasti Yuan berhasil menduduki Ibukota Dinasti Song selatan yaitu Lin’an. Dengan demikian, Dinasti Yuan dibawah pemerintahan Kubilai Khan berhasil menguasai seluruh wilayah China.

Setelah menguasai seluruh wilayah China, Kaisar Yuan Shi Zu (Kubilai Khan) masih terus melakukan invasi-invasi militer untuk memperluas wilayah kekuasaan. Kaisar Yuan Shi Zu melakukan 2 kali invasi militer ke Jepang, Vietnam dan Myanmar yang kemudian berhasil menguasai wilayah Korea, Myanmar dan Vietnam sebagai Negara bagian dari Dinasti Yuan.

Untuk memperkuat kekuasaannya di dalam negeri (Wilayah China), Dinasti Yuan membagi warga negaranya menjadi 4 level, yaitu Suku Mongol, Se Mu Ren (Suku Xi Xia, Persia), Suku Han Utara dan Suku Han Selatan. Dalam kebijakan pembagian level ini, Suku Han merupakan Suku yang paling rendah dalam Dinasti Yuan.

Oleh karena itu, saat pemerintahaan Dinasti Yuan, banyak mengalami perlawanan dari Suku Han tetapi setiap perlawanan maupun pemberontakan dapat dibasmi oleh Militer Dinasti Yuan.

Suku Mongol merupakan Suku yang suka mengembara dan peternak sehingga produktivitas akan bahan pangan sangat rendah. Untuk merubah kondisi tersebut serta untuk meningkatkan produktivitas, mulai dari pemerintahan Kaisar Yuan Shi Zu (Kubilai Khan), Dinasti Yuan selalu fokus pada pengembangan sektor pertanian sehingga Pertanian dapat berkembang dengan pesat pada Dinasti Yuan.

Karena Wilayah kekuasan Dinasti Yuan yang luas mencakup Asia Eropa, Pertukaran Teknologi, Perdagangan dan Kerajian Tangan juga berkembang dengan pesat. Dalan Hal Industri Tekstil, Teknologi Penenunan juga berkembangan dengan cepat karena juga didukung dengan adanya perkebunan Kapas yang luas terutama di wilayah selatan China.

Perdagangan di Dinasti Yuan juga mengalami perkembangan yang sangat pesat, hal ini dikarenakan meningkatnya penggunaan Uang Kertas dan Transportasi sungai/laut. Pada saat itu, Dinasti Yuan merupakan salah satu Negara yang termakmur di dunia.

Saat Pemerintahaan Kaisar Yuan Shi Zu (Kubilai Khan), seorang pedagang terkenal yang berasal dari Venice Italia yaitu Marco Polo pernah mengunjungi daratan China. Dalam bukunya yang berjudul “The Travel of Marco Polo” mencatat dengan jelas kondisi kemakmuran Ibukota Dinasti Yuan yaitu Kota “DADU”.

Setelah Kaisar Yuan Cheng Zong, Dinasti Yuan mengalami perebutan kekuasaan Kekaisaran yang luar biasa,  hanya dalam waktu 25 tahun (tahun 1308-1333), Dinasti Yuan terjadi pergantian Kaisar sebanyak 8 orang yaitu Kaisar Wu Zong [武宗], Ren Zong [仁宗], Ying Zong [英 宗], Tai Ding [泰定], Tian Shun [天顺], Wen Zong [文宗], Ming Zong [明宗] dan Ning Zong [宁宗].

Tahun 1333, Kaisar Yuan Shun Di [顺帝] naik tahta menggantikan adiknya Ning Zong menjadi Kaisar. Kaisar Yuan Shun Di berhasil membuat situasi politik kekaisaran menjadi stabil kembali dan memegang tahta Kaisar Dinasti Yuan selama 36 tahun (tahun 1333 ~ 1368). Kaisar Yuan Shun Di juga merupakan Kaisar terakhir Dinasti Yuan.

Pada akhir-akhir kekuasaan Dinasti Yuan, Kaisar-kaisar Dinasti Yuan menjadi hidup berfoya-foya dan hidup dalam segala kemewahan. Untuk mememenuhi kebutuhan tersebut, Pemerintah Dinasti Yuan menambahkan jenis-jenis Pajak baru dan menaikan Pajak-pajak yang telah ada terutama terhadap Suku Han.

Karena tidak rela dengan penindasan dan kekejaman yang dialaminya, Suku Han bangkit kembali untuk melakukan perlawanan secara besar-besaran. Pada tahun 1352 saat masih di pemerintahan Kaisar Tai Ding, terjadi pemberontakan petani Suku Han di Henan [河南] yang dipimpin oleh Zhao Chou Si [赵丑 厮] dan Guo Pu Sa [郭菩萨] merupakan awal dari kehancuran Dinasti Yuan.

Tahun 1351 saat Kaisar Yuan Shun Di memasuki tahun pemerintahan yang ke 11, terjadilah pemberontakan besar-besaran Pasukan Selendang Merah [红巾军] yang dipimpin oleh Liu Fu Tong [刘福通]. Di dalam Pasukan Selendang Merah tersebut, muncullah beberapa Pemimpin Militer (Jenderal) yang hebat.

Di antaranya kekuatan militer Zhu Yuan Zhang [朱元璋], Cheng You Liang [陈友谅] dan Zhang Shi Cheng [张士诚] adalah merupakan kekuatan Militer yang terbesar.

Dalam tahun 1356 dan 1359, Zhu Yuan Zhang [朱元璋] memperluas wilayah kekuasaanya sehingga dalam waktu hanya 6 tahun Zhu Yuan Zhang berhasil menyingkirkan pesaingnya yaitu Cheng You Liang [陈友谅] dan Zhang Shi Cheng [张士诚] kemudian juga berhasil menyatukan wilayah Jiang Nan (Setengah dari Wilayah daratan China) dibawah kekuasaannya.

Tahun 1367, Zhu Yuan Zhang mulai melakukan penyerangan ke Utara yang merupakan wilayah kekuasaan Dinasti Yuan Suku Mongol.  Pasukan dibawah pimpinan Jenderal Xu Da dan Chang Yu Chun berhasil menduduki Ibukota Dinasti Yuan yaitu “Da Du” pada tahun 1368.

Dengan demikian, berakhirlah Kekuasaan Dinasti Yuan selama 97 tahun di daratan China. Pada tahun yang sama, Zhu Yuan Zhang menobatkan dirinya sebagai Kaisar dengan Dinastinya bernama Dinasti Ming.

Sejarah Asal Usul Berdirinya Dinasti Yuan, Kerajaan China

Perseteruan Mongol dan Jawa nggak terjadi begitu saja melainkan ada pemicunya. Hal ini sebenarnya diawali dari sikap sok gagahnya Mongol yang mengirim utusan ke Jawa, tepatnya kerajaan Singasari kala itu. Si utusan Mongol ini menyampaikan pesan Kubilai Khan tentang Jawa yang harus tunduk kepadanya dan juga memberi upeti sebagai tanda menyerahkan diri.


Raja Singasari ketika itu yang bernama Kertanegara, ngamuk sejadi-jadinya. Ia menganggap apa yang dikatakan si utusan ini kurang ajar sekali dan sangat merendahkan dirinya. Kertanegara tanpa ampun kemudian mengiris telinga si utusan ini lalu mengatakan kalau ia menantang Mongol. Si utusan ini kemudian ditendang keluar dan disuruh pergi untuk menyampaikan pesan balik dari Kertanegara kepada Kubilai Khan.

Kemarahan Kubilai Khan

Selang beberapa waktu datanglah si utusan tadi dengan kondisi miris seperti itu ke hadapan Kubilai. Setelah mendengar kronologinya, marahlah si penguasa Mongol ini sampai ke ubun-ubunnya. Nggak pakai lama, kemudian Kubilai menyuruh tiga jenderal terbaiknya untuk datang ke Jawa dengan tujuan menguasai serta menggantung Kertanegara.
Tiga jenderal dan 30 ribu prajurit yang diangkut seribu kapal ini tiba di Jawa. Tanpa banyak basa-basi kemudian mereka langsung bergerak menuju jantung Singasari dan memburu yang namanya Kertanegara.

Keberhasilan Mongol Menumpas Kerajaan Kediri

Ketika sampai di Singasari prajurit Mongol tidak mendapati Kertanegara. Yang ada justru Jayakatwang Raja Kediri, raja pengganti Kertanegara. Tapi, bagi mereka pun sama saja. Akhirnya terjadilah pertempuran hebat antara Mongol dan KEDIRI. Peperangan ini berhasil dimenangkan pihak Mongol.

Sebenarnya Mongol bisa menang lantaran mereka mendapatkan bantuan dari Raden Wijaya. Raden Wijaya memberikan bantuan berupa petunjuk arah serta strategi-strategi khusus, sehingga Mongol berhasil mengalahkan Jayakatwang. Perlu diketahui, alasan kenapa Raden Wijaya membantu Mongol tak lain karena Jayakatwang telah membunuh Kertanegara yang notabene adalah junjungannya.

Kebusukan Raden Wijaya Membuat Mongol Kocar-Kacir

Setelah menang melawan Jayakatwang, Raden Wijaya pamit kepada para jenderal Mongol yang ketika itu sedang berpesta pora. Raden Wijaya mengatakan ingin kembali untuk mempersiapkan upeti dan gadis-gadis cantik sebagai simbol penyerahan diri dan kaumnya. Mongol percaya saja dengan ini, namun Raden Wijaya harus didampingi 200 pasukan Tar-tar itu.

Kemudian rombongan ini pun melakukan perjalanan ke Desa Majapahit. Lalu ketika sampai di sebuah tempat, secara tiba-tiba Raden Wijaya menyuruh pasukannya untuk menumpas tentara-tentara Mongol ini. Taktik ini berhasil dan kemudian tanpa ampun Raden Wijaya langsung balik arah dan menyerang pasukan Mongol yang tengah berpesta itu.

Kepergian Pasukan Mongol dan Berdirinya Majapahit

Raden Wijaya begitu bergegas kembali ke barak-barak Mongol beserta ribuan tentaranya. Kemudian setelah sampai, tanpa ampun ia menyerang Mongol yang tak siap itu karena sedang berpesta besar. Begitu mendadak serangan yang diterima, Mongol pun tak siap. Akhirnya terbantailah sekitar tiga ribu tentara tar-tar ini.

Mongol tak punya pilihan selain mundur, apalagi Raden Wijaya begitu trengginas dalam memburu mereka. Dengan susah payah akhirnya pasukan Mongol beserta jenderal-jenderalnya berhasil menaiki kapal mereka dan berlayar menjauhi Jawa. Dengan perasaan malu dan marah pasukan Mongol ini meratapi kekalahan terbesar mereka sepanjang sejarah.

Baca juga Sejarah kekuasaan Bangsa Mongolia

Tentara Tar-tar ( Bangsa Mongol ) tidak mampu mengalahkan dan menguasai Jawa

Subscribe Our Newsletter