Social Items

Showing posts with label legenda gunung Kelud. Show all posts
Showing posts with label legenda gunung Kelud. Show all posts
Berikut adalah daftar gunung-gunung Tertinggi di Provinsi Jawa Barat Indonesia :

1. GUNUNG CEREMAI, Ketinggian 3.078 mdpl


Gunung Ceremai adalah gunung berapi kerucut yang secara administratif termasuk dalam wilayah dua kabupaten, yakni Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Majalengka, Provinsi Jawa Barat.

Gunung ini memiliki kawah ganda. Kawah barat yang beradius 400 m terpotong oleh kawah timur yang beradius 600 m. Pada ketinggian sekitar 2.900 m dpl di lereng selatan terdapat bekas titik letusan yang dinamakan Gowa Walet.


2. GUNUNG PANGRANGO, ketinggian 3.019 mdpl


Gunung Pangrango merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Pangrango mempunyai ketinggian setinggi 3.019 meter dari permukaan laut. Puncaknya dinamakan Puncak Mandalawangi. Puncak Mandalawangi juga merupakan titik pertemuan batas tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi.

Gunung Pangrango merupakan gunung tertinggi kedua di Jawa Barat setelah Gunung Ceremai. Gunung Pangrango terletak persis bersebelahan dengan Gunung Gede dan berada dalam kawasan Taman Nasional Gede Pangrango.

3. GUNUNG GEDE, ketinggian 2.958 mdpl


Gunung Gede merupakan sebuah gunung yang berada di Pulau Jawa, Indonesia. Gunung Gede berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Gede Pangrango, yang merupakan salah satu dari lima taman nasional yang pertama kali diumumkan di Indonesia pada tahun 1980. Gunung ini berada di wilayah tiga kabupaten yaitu Kabupaten Bogor, Cianjur dan Sukabumi.
Gerbang utama menuju gunung ini adalah dari Cibodas dan Cipanas.

4. GUNUNG CIKURAY, ketinggian 2.818 mdpl


Adalah sebuah gunung yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia. Gunung Cikurai mempunyai ketinggian 2.818 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi keempat di Jawa Barat setelah Gunung Gede. Gunung ini berada di perbatasan kecamatan Bayongbong, Cikajang, dan Dayeuh Manggung.

5. GUNUNG PAPANDAYAN, Ketinggian 2.665 mdpl


Gunung Papandayan adalah gunung api yang terletak di Kabupaten Garut, Jawa Barat tepatnya di Kecamatan Cisurupan. Gunung dengan ketinggian 2665 meter di atas permukaan laut itu terletak sekitar 70 km sebelah tenggara Kota Bandung.

6. GUNUNG PATUHA, Ketinggian 2.386 mdpl


Gunung Patuha merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia, tepatnya di wilayah Bandung Selatan Provinsi Jawa Barat, Tingginya 2.386 meter. Gunung patuha memiliki kawah yang sangat eksotik, yaitu kawah putih.

7. GUNUNG MALABAR, Ketinggian 2.343 mdpl


Gunung ini terletak di bagian selatan Kabupaten Bandung dengan titik tertinggi 2.343 meter di atas permukaan laut. Malabar merupakan salah satu puncak yang dimiliki Pegunungan Malabar. Beberapa puncak yang lain adalah Puncak Mega, Puncak Puntang, dan Puncak Haruman.

8. GUNUNG GUNTUR, Ketinggian 2.249 mdpl


Gunung Guntur adalah sebuah gunung yang terdapat di wilayah barat Garut, Jawa Barat, dengan ketinggian 2.249 meter.

9. GUNUNG SALAK, Ketinggian 2.211 mdpl


Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak IITinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

10. GUNUNG BUKIT TUNGGUL, Ketinggian 2.208 mdpl


Merupakan sebuah gunung yang terdapat di Jawa Barat, Indonesia. Gunung Bukit Tunggul mempunyai ketinggian setinggi 2.208 meter. Gunung ini merupakan salah-satu sisa dari hasil letusan besar Gunung Sunda di Zaman Prasejarah.

11. GUNUNG TELAGA BODAS, Ketinggian 2.201 mdpl


Gunung Telaga Bodas atau Talaga Bodas adalah gunung stratovolcano di bagian selatan Garut, Jawa Barat, Indonesia. Terdapat juga fumarol, kolam lumpur, dan mata air panas di sekitar danau kawah.

12. GUNUNG KANCANA, Ketinggian 2.182 mdpl


Adalah gunung yang terletak diperbatasan Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Cianjur. Jawa Barat, Indonesia. Gunung ini berada di sebelah timur dari kota Sukabumi.

13. GUNUNG GALUNGGUNG, Ketinggian 2.167 mdpl


Gunung Galunggung merupakan gunung berapi dengan ketinggian 2.167 meter di atas permukaan laut, terletak sekitar 17 KM dari pusat kota Tasikmalaya.

14. GUNUNG TANGKUBAN PERAHU, Ketinggian 2.084 mdpl


Gunung Tangkuban Parahu atau Gunung Tangkuban Perahu adalah salah satu gunung yang terletak di provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sekitar 20 km ke arah utara Kota Bandung, dengan rimbun pohon pinus dan hamparan kebun teh di sekitarnya, gunung Tangkuban Parahu mempunyai ketinggian setinggi 2.084 meter.

Daftar Gunung Tertinggi dan Terbesar di Jawa Barat, Indonesia

Gunung Kawi adalah Gunung yang berada di Kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung kawi sudah terkenal di kalangan masyarakat jawa timur. Banyak cerita misteri yang terdapat di gunung kawi ini, Namun Gunung kawi saat ini telah menjadi tujuan wisata bagi masyarakat sekitar.

KERATON GUNUNG KAWI


Kraton Gunung Kawi ini dibuat jauh dari keramaian oleh pendirinya yaitu Mpu Sindok dari kerajaan Mataram. Walaupun bernama kraton, sesungguhnya bangunan ini tidak memiliki bentuk fisik yang begitu megah karena memang fungsinya sebagai tempat pertapaan. Berdasar tulisan yang tertera pada prasasti Batu Tulis di puncak gung Kawi, diketahui bahwa kraton ini dibangun pada tahun 861 masehi.

Pertapaan ini dibangun pada masa dinasti Sailendra tepatnya setelah berdirinya candi Borobudur. Diceritakan bahwa pada waktu itu, karena terjadi perselisihan, Mpu Sindok harus pindah dari wilayah Jawa Tengah ke Jawa Timur dan akhirnya membangun pertapaan sendiri di gunung Kawi. Untuk membangun pertapaan tersebut, Mpu Sindok menandainya dengan menanam 5 pohon beringin dengan sebuah batu gunung di tengah lima batu tersebut.

Lokasi pertapaan itu disebut sebagai tempat Mpu Sindok melakukan tapa hingga kahirnya tubuhnya moksa atau hilang. Pada saat ini, lokasi tersebut dibangun dan diberi nama sebagai Sanggar Pamujan Kraton Gunung Kawi sebagai petilasan Mpu Sindok dan juga pusat spiritual di wilayah tersebut.

Hijrahnya Mpu Sindok yang merupakan penguasa Mataram ke gunung Kawi rupanya menjadikan daerah tersebut memiliki tuah. Tercatat bahwa beberapa raja di Jawa pada era yang lebih baru juga mengunjungi tempat pertapaan tersebut. Mereka mencoba melakukan pertemuan spiritual dan meminta ilham dari Mpu Sindok yang bertapa dan moksa di tempat tersebut.

Diketahui bahwa pada tahun 1200 masehi, raja dari kerajaan Kediri yang bernama Prabu Kameswara memilih untuk turun tahta dan menjadi pertapa dengan memilih lokasi gunung Kawi sebagai sanggar pertapaannya. Kedudukan raja Kediri ini kemudian dilanjutkan oleh putranya yaitu Prabu Jayabaya. Bahkan Prabu Kameswara ini juga melakukan hal yang sama dengan Mpu Sindok yaitu moksa di tempat tersebut.

KISAH MBAH YUGO DAN KYAI ZAKARIA

Dalam kisah sejarah diceritakan bahwa dalam pengembaraan­nya ke daerah Jawa Timur Kyai Zakaria II berganti nama dengan nama rakyat biasa.


Hal ini mungkin dimaksudkan (juga dikenal dalam kisah pewayangan apabila ada satria yang sedang mengem­bara biasanya juga berganti/mengganti namanya) agar identitas­nya sebagai bangsawan kraton yang sudah terkenal itu, tidak di­ketahui oleh orang lain terutama oleh penjajah Belanda.

Nama yang beliau pergunakan dan sangat populer hingga sekarang adalah “Mbah Sadjoego atau singkatnya Mbah Djoego. RS. Soeryowidag- do, 1989 : 9). Mengenai kisah pengembaraannya menurut sebuah sumber (Suwachman, dkk : 1993 : 42) dan telah menjadi ceritera yang memasyarakat sebagai berikut :

“Kyai Zakaria II dari Yogyakarta terus ke Sleman, Nganjuk, Bojonegoro, dan terakhir Blitar. Sampai di sini ia terkejut. Ter­nyata tempatnya berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasa­an Belanda. Kemudian ia minggir ke daerah Kesamben, sekitar 60 km dari kota Blitar. Kyai Zakaria II menetap di tepi sungai Brantas desa Sonan, Kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Di desa ini Kyai Zakaria II bertemu dengan Pak Tosiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia was-was jangan-jangan kehadirannya dike­tahui oleh Belanda. Maka ia menjawab secara diplomatis tanpa menyebut jati dirinya. “kulo niki sajugo ” (artinya saya sendirian). Menurut penangkapan Pak Tasiman yang salah pengertian dikira namanya “Pak Sayugo” yang kemudian dipanggilnya dengan pak Jogo. Akhirnya itu dibiarkan Kyai Zakaria II sehingga ia aman dari kejaran Belanda dan sejak itulah ia dikenal dengan nama Mbah Jugo.

Selanjutnya dikisahkan bahwa mbah Jugo makin lama makin terkenal, makin dihormati dan disegani oleh masyarakat karena kearifannya, kemampuannya di bidang ilmu agama, keampuhan ilmu yang dimilikinya dan juga pribadinya yang suka menolong sesama umat.

Mengenai masalah ini ada suatu cerita yang menarik sebagai berikut : “Pada suatu saat terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuh­an ilmu mbah Jugo, wabah penyakit tersebut berhasil dising­kirkan dan masyarakat semakin hormat pada mbah Jugo.

Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsul­tasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanaam, berternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan”.

Sementara itu dalam kurun waktu selanjutnya pada tahun 1871 Raden Mas Iman Soedjono bersama-sama penduduk mem­buka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Ia kemudian mem­buka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu juga tepatnya 22 Ja­nuari 1871, Minggu Legi, malam Senin Pahing atau 1 Suro 1899 Mbah Jugo meninggal dunia di Kesamben Blitar.

Sesuai wasiat­nya, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di lereng Gunung Kawi Wonosari, yang waktu itu sudah menjadi sebuah perkampungan. Sepeninggal mbah Jugo, padepokannya di Kesamben dirawat oleh Ki Tasiman, Ki Dawud dan lain-lain.

Barang-barang peninggalan Mbah Jugo yang masih dapat kita saksikan yaitu berupa rumah Padepokan berikut masjid dan halamannya, juga, pusaka berben- tuk tombak, topi, alat-alat pertanian dan tiga buah guci tempat air minum yang dilengkapi dengan filter dari batu. Guci itu dinamakan “janjam” (guci ini oleh Raden Mas Iman Soedjono di­boyong ke Gunung Kawi).

Mengenai silsilah Raden Mas Iman Soedjono tercatat dalam dokumen yakni dalam Surat Kekancingan (Surat Bukti Silsilah) dari Kraton Jogjakarta Hadiningrat yang dimiliki oleh Raden Asni Nitirejo, cucu Raden Mas Iman Soedjono. Surat tersebut ter­tulis dalam huruf Jawa bernomor 4753, dikeluarkan tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat tersebut diterangkan silsilah kelahiran Raden Mas Iman Soedjono sebagai berikut :
“Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sul­tan Hamengku Buwono I, memerintah Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sejak tahun 1755 – 1792. Pada waktu kecilnya ber­nama Bendara Raden Mas Soedjono. Dengan istrinya yang ber­nama Raden Ayu Doyo Amoro, berputera Bendara Pangeran Aryo Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Notodipo (lihat buku silsilah Paguyuban Trah Balitaran, terbitan tahun 1933 dengan huruf Jawa).

Raden Mas Iman Soedjono kemudian menikah dengan salah se­orang anggota laskar “Langen Kusumo”, Perajurit wanita dari laskar Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ayu Saminah dan biasa dipanggil Nyi Djuwul. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang puteri yang cantik bernama Raden Ayu Demes.

Setelah dewasa Raden Ayu Demes dikawinkan dengan pengikut terdekat dan terpercaya Raden Mas Iman Soedjono yang bernama Tarikun Karyoredjo, dari Tuban. Pernikahan ini menurunkan dua orang anak laki-laki yakni Raden Asin Nitiredjo dan raden Yahmin Wi- hardjo.

Keduanya sejak tahun 1946 hingga sekarang menjadi juru kunci Pasarean Gunung Kawi. Akhirnya Raden Asin Nitiredjo menurunkan tiga orang anak yakni Raden Nganten Tarsini, Raden Soepodoyono dan Raden Soelardi Soeryowidagdo Sedang Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki-laki bernama Raden Soepratikto (RS. Soeryowidagdo, 1989 : 9- 10).

Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon tanggal 12 Suro 1805 atau tanggal 8 Februari 1876. Jenazah Raden Mas Iman Soedjono dimakamkan dalam satu liang dengan Mbah Jugo.

Hal ini dilakukan sesuai de­ngan wasiat mbah Jugo yang pernah menyatakan bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya dikuburkan- bersama dalam satu liang lahat.

Hal ini rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehing­ga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Gunung Kawi Malang dan Kyai Zakaria Serta Mbah Jugo

Gunung Maskumambang adalah gunung di Kediri yang dikelilingi oleh bukit – bukit, bukit ini merupakan terusan dari jajaran perbukitan Gunung Wilis atau bisa dikatakan sebelah timur Gunung Wilis, Gunung Maskumambang ini mempunyai udara yang sejuk karena di kelilingi pohon kehijaun yang sangat banyak. Apalagi sudah ada fasilitas anak tangga jika didaki melalui jalur barat.

ASAL USUL MASKUMAMBANG


Pada zaman dahulu kala, ada sebuah gunung di jawa yang tak terbatas ketinggianya (sundul langit) yang saat ini kita kenal dengan nama gunung Semeru.

(Kanggo imbange jagad) untuk keseimbangan dunia Punakawan memotong ujung gunung Semeru untuk dipindah ke belahan bumi yang lain.

Ujung gunung Semeru yang telah terpotong diikat dengan menggunakan lawatan ( sejenis rumput yang menjalar) dan dipikul keempat sudutnya olehPunakawan.

Ditengah perjalanan tali pengikat (lawatan) putus akibat tidak mampu menahan gesekan bekas potongan gunung yang tajam dan beratnya ujung gunung semeru.

Setelah itu Punakawan memikul ujung gunung dengan menggunakan pelepah pisang (dhebog). Ditengah perjalanan pelepah pisang tersebut juga hancur dan ditinggalkan begitu saja oleh mereka.

Kemudian ujung gunung tersebut terus diangkat dengan bertumpu pada pundak Punakawan. Ketika tiba di suatu tempat punakawan merasa kelelahan dan mereka meletakan ujung gunung tersebut disebelah sungai sembari beristirahat.

Di peristirahatan mereka terasa suntuk. Untuk menghilangkan rasa suntuk, mereka naik ke ujung gunung  dan memainkan sebuah permainan, yang saat ini kita kenal dengan Dakon.

Punakawan mulai membuat lubang-lubang yang akan digunakan sebagai media permainan, saat membuat lubang yang terakhir mereka tidak sengaja membuat lubang yang terlalu dalam dan besar seperti sumur dikarenakan mereka menggali tepat dirongga gunung.

Karena asyik bermain Dakon ( Dakonan ), merekapun enggan melanjutkan pemindahan ujung gunung tersebut dan ditinggal begitu saja.

Sekarang, tempat Punakawan membuang tali pengikat tersebut menjadi desa Lawatan. Tempatpelepah Pisang ( dhebok ) yang di buang menjadi desa Gedhebeg.

Itulah sekilas tentang asal usul terbentuknya gunung Maskumambang Kediri Jawa Timur.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Asal usul Gunung Mas Kumambang Jawa Timur

Gunung Wilis adalah sebuah gunung berapi  yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2.169 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan termasuk dalam wilayah enam kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Trenggalek.


Gunung Wilis merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Perihal kesuciannya tersebut diabadikan dalam Kitab Tantu Panggelaran. Kitab ini berasal dari tahun 1557 Saka (1635 M).

Dalam kitab ini diceritakan tentang proses pemindahan Gunung Mahameru oleh para dewa dari tanah Jambu dwipa ke pulau Jawa, dan terbentuknya gunung-gunung di Jawa.
Berikut ulasannya:

"Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nuşa jawa; yata pinupak sang hyang mahāmeru, pinalih mangetan. Tunggak nira hana kari kulwan; matangnyan hana argga kelāça ngarannya mangke, tunggak sang hyang mahāmeru ngūni kacaritanya. Pucak nira pinalih mangetan, pinutĕr kinĕmbulan dening dewata kabeh; runtuh teka sang hyang mahāmeru. Kunong tambe ning lĕmah runtuh matmahan gunung katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung wilis"

TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA

"Dilepaskan turun di sebelah barat, menuju ke timur pulau Jawa. kemudian dilepaslah Sang Hyang Mahameru, dipindah ke timur. Dasarnya tertinggal di barat. Oleh sebab itu terciptalah gunung yang bernama Kailaca nanti. Mengenai Sang Hyang Mahameru beginilah ceritanya. Puncaknya dipindah ke timur, dikitari oleh semua para dewa; runtuh dari Sang Hyang Mahameru. Setelah jatuh ke tanah terciptalah Gunung Katong; yang kedua tanah jatuh menciptakan Gunung Wilis"

Dari kutipan di atas, diketahui bahwa sekitar abad 16-17 nama “Wilis” telah digunakan. Gunung Wilis merupakan runtuhan kedua setelah Gunung Katong (Lawu) dari rentetan guguran Sang Hyang Mahameru yang dipindah dari india ke tanah Jawa.

Jadi, sebagai salah satu bagian dari Sang Hyang Mahameru maka Gunung Wilis adalah gunung suci bagi umat Hindu. Kesucian tersebut dapat pula dilihat dari ditemukannya bangunan suci berupa reruntuhan bangunan suci di lereng-lerengnya.

Goa Selomangleng Kediri, Candi Ngetos, Omben Jago, Candi Penampihan, Candi Pandupragulopati, Situs Condrogeni dan beberapa pusat kerajaan yang tumbuh kembang di sekitar Gunung Wilis. Sebutlah, Kerajaan Wengker di nagara Lwa, Kerajaan Wurawan di nagara Glang-Glang berkembang di bagian barat Gunung Wilis. Sedangkan Kerajaan Panjalu di nagara Daha berkembang di timur Gunung Wilis.

Itulah ringkasan Asal usul terbentuknya gunung Wilis Jawa Timur.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Asal usul Terbentuknya Gunung Wilis Jawa Timur

Babat Kadhiri menyebut sekilas mengenai perilaku orang Kediri yang meniru-niru laku Dewi Kilisuci, akan tetapi sayangnya meniru dalam fasal adigang, adigung, dan adiguna, baik kaum wanitanya maupun kaum prianya.


Konon terdapat kutukan pada kerajaan Kediri tatkala terlibat dalam peperangan dengan musuh sebagai berikut, "Jika pasukan Kediri menyerang musuh di daerah lawan lebih dulu akan selalu memenangkan pertempuran, akan tetapi sebaliknya jika musuh langsung menyerang ke pusat kerajaan Kediri lebih dulu maka musuh itu akan selalu berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang."

Barangkali karena kutukan itulah sampai sekarang para presiden Republik Indonesia selalu menghindari untuk singgah ke kota Kediri dalam setiap perjalanan di wilayah Jawa Timur. Mungkin tatkala sedang singgah di kota Kediri mereka beranggapan akan mudah diserang oleh musuh atau lawan politiknya.

Berkaitan turun takhtanya Sri Baginda Erlangga atau Airlangga sejarah kemudian mencatat atas perintah baginda maka kerajaan dibagi dua oleh Mpu Bharada, dan masing-masing bagian kerajaan, Daha dan Jenggala, dipimpin oleh putra dari selir Erlangga.

Sebuah pengalaman singkat mengunjungi situs pertapaan Dewi Kilisuci pada 1990-an selama beberapa minggu, maka siapa pun yang beruntung tatkala mengunjungi goa batu alami di punggung gunung Klotok sebelah Timur segaris lurus dengan Goa Selomangleng akan menjumpai seorang pertapa sepuh berusia delapan puluhan.

Tampilannya biasa saja seperti petani, ia tidak mengenakan apapun selain celana panjang dan baju safari, pakaiannya itu pun tampak sudah tua. Ia seorang diri berada di tengah hutan belantara Klotok yang masih cukup lebat di masa itu.

Air terjun di mulut goa tak henti mengalirkan air jernih dari sumber mata air berupa bebatuan cadas di punggung gunung itu.

Pertapa itu berambut putih, bertubuh langsing, wajahnya tampak berseri-seri. Ia tidak banyak bicara apalagi jika tidak ditanya oleh orang yang beruntung dapat menjumpainya di goa Selobale tersebut.
"Bapak tinggal sendirian di sini sedang melakukan apa?"

"Saya hanya menjaga tempat ini atas dawuh susuhunan kraton Solo. Karena kami dari kraton Solo menganggap di sinilah tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang sebenarnya, dan bukan di Goa Mangleng di bawah sana maupun di tempat lainnya, Selomangleng itu hanya sebuah museum belaka," katanya penuh keyakinan. "Kami dari kraton Solo juga percaya bahwa leluhur kami berasal dari wilayah ini (dari Kediri, Jawa Timur)."

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut tugas yang diembannya dan juga alasan mengapa goa itu harus dijaga saat ini. Selanjutnya ia mengalihkan pembicaraan pada bangunan di luar goa, tepatnya di mulut goa terdapat jurang dan di seberang jurang yang menganga berukuran tiga meter lebar itu terdapat lubang goa mini berukuran satu meter persegi.

Mengenai sedikit hipotesis mengenai misteri goa Selo Mangleng yang belum pernah dipublikasikan baca tulisan kami yang lain di blog ini berjudul, "Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo".

"Di tiga ceruk/cekungan dinding gunung berupa batu cadas itulah para prajurit kerajaan Kediri bertugas menjaga keamanan dan mudah mengawasi tempat ini," ujarnya.

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut pengetahuannya yang mendalam mengenai goa selobale. Barangkali ia tengah mengadakan studi mengenai situs goa selobale dengan cara spiritual.

Memang jika kita tengah berdiri di goa selobale maka samar-samar tampak di seberang air terjun mini tampak pada dinding bukit batu yang kemiringannya 90 derajat atau tegak lurus itu terdapat goa-goa berjumlah tiga yang jaraknya satu sama lain teratur simetris dan berukuran satu meter persegi.

"Tempat ini dulu tidak seperti ini, Ada jalan penghubung antara penjaga di seberang dan goa Selo Bale ini. Wilayah ini sekarang dikuasai pihak militer dan dijadikan ajang latihan perang-perangan menggunakan amunisi sungguhan.

Mortir atau meriam biasa digunakan jika sedang masa latihan pada tahun 70-an. Dan senapan serbu laras panjang tidak terhitung lagi jumlah pelurunya yang berhamburan di sekitar goa ini."

Memang benar semua itu, penduduk di kawasan ini sudah tahu hal itu dan menganggap sebagai hal biasa. Memang tidak ada unsur kesengajaan dari militer untuk merusak situs itu, akan tetapi situs itu secara tak langsung terkena dampak buruknya.

"Goa Selo Bale inilah yang benar-benar jadi tempat pertapaan putri Erlangga itu, bukan di Goa Selo Mangleng, itu hanya museum semata-mata," ujar lelaki tua mengulangi apa yang sudah dikatakannya belum beberapa bentar, kembali suaranya terdengar mantap dan meyakinkan.

"Dulu tempat ini tidak sedalam ini, hanya sampai sebatas sini," katanya menunjuk lantai goa. "Orang-orang yang mencari harta-karun mencoba menggali dinding ini hingga bertambah sekitar setengah meter. Tampaknya tidak berhasil mendapatkan apapun."

"Sampai sekarang orang belum berhasil menemukan peninggalan heboh kerajaan Kediri. Mungkin berada di balik bukit ini!" katanya serius, sambil menunjuk suatu sudut punggung gunung. Jika kita berjalan melingkari bukit dan tiba di balik bukit itu memang terdapat air terjun kecil, Tretes.

Dan di seberang sana sebelah selatan terdapat daerah dengan julukan Gemblung, bila orang berjalan di atas daerah itu seolah ada suara dari dasar tanah berbunyi "bung, bung, bung." Mungkin ada semacam ruang bawah tanah berukuran besar.

Di balik bukit sebelah timur terdapat sumber air suci Gunung Klotok, tempat itu terkenal dengan sebutan Sumber Loh, karena di hulu aliran air yang lumayan deras itu kebetulan terdapat sebatang pohon Lo berukuran raksasa, dan dari lobang-lobang di sekitar akar pohon itulah awal mula mata air yang terus memancar sepanjang masa, tak kenal musim, dan tak kenal jaman.

Tahun berganti tahun berlalu di Goa Selobale, dan kini keadaan telah berubah, jika orang tersasar atau sedang mendaki gunung Klotok dan tiba di tempat itu akan menjumpai kembali goa tersembunyi itu sunyi seperti sediakala. Tidak seorang pun berada di sana untuk dapat diajak bicara, kecuali suara serangga yang berdengung siang-malam.

Kesunyian itu juga melanda sebuah goa misteri yang lain lagi berada di balik bukit tempat goa Selobale bertengger, goa yang lain itu disebut "Goa Kikik", arti harfiahnya kurang lebih goa mini. Barangsiapa mencoba melacak keberadaan goa yang satu itu akan kesulitan menemuinya karena tiada bedanya dengan bongkahan batu biasa yang bertebaran di sekitar lokasi goa Kikik.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa goa Kikik memang goa asli pahatan tangan nenek-moyang di masa silam. Di masa silam Goa Kikik menjadi salah satu garis pertahanan lain dari arena perbukitan itu untuk mengawasi dan memapak pendatang pada masa silam dari jurusan barat laut yang sedang mengarah ke Goa Selo Bale dengan niatnya masing-masing.

SUMBER : WIKIMAPIA.ORG

Kisah dan Asal usul Gunung Klotok Kediri Jawa Timur


Disebut suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Nama Tengger yang berasal dari Legenda Roro Anteng juga Joko Seger yang dipercaya sebagai asal usul nama Tengger itu. "Teng" akhiran nama Roro An- "teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se- "ger" dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyala sebagai Gunung Brahma. orang Jawa kemudian terbang Gunung Bromo .


Di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra dengan fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras saat lahir, jadilah nama yang bernama "JOKO SEGER".

Di tempat sekitar Gunung Pananjakan, pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang lahir dari titisan dewa. Wajahnya cantik juga elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu.

Saat itu, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu sangat tenang, lahir tanpa menangis dari rahim induk. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai Rara Anteng.


Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi besar. Garis-garis cantik nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger.

Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat. Bajak itu memang sangat jahat. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya tidak berani menolak begitu saja untuk pelamar yang sakti.

Maka ia minta agar dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, yang menganggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam ke saat matahari terbit. Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut.

Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa) sehingga pekerjaan itu hampir selesai. Melihat Hidup itu, hati Rara Anteng mulai gelisah.

Bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu.

Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu bangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, olah-olah sudah tiba, ganumlah belum mulai dengan kegiatan pagi.

Bajak belajar ayam-ayam berkokok, tapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya.

Rasa kesal dan marah penuh emosi, pada akhirnya Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Bromo dan berubah menjadi gunung yang sampai sekarang dinamakan Gunung Batok .

Dengan kegagalan Bajak itu buat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari, Rara Anteng dan Joko Seger menikah menjadi pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mencintai dan mencintai.

Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya "Penguasa Tengger Yang Budiman". Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau gambaran moral tinggi, simbol perdamaian abadi.

Itulah Asal usul Suku Tengger dan Gunung Bromo. Semoga bermanfaat untuk anda.

Kisah Asal usul Gunung Bromo dan Suku Tengger

Dewi Kilisuci Putri Kediri

Pada zaman Kerajaan Kahuripan atau yang lebih dikenal dengan Kerajaan KEDIRI, Prabu Airlangga memiliki seorang putri bernama Dyah Ayu Puspasari atau dikenal juga Dewi Kilisuci, Layaknya seorang putri zaman dahulu, Dewi Kilisuci sangatlah cantik dan berbudi pekerti halus. Dia sangat mencintai rakyatnya dan begitu pula sebaliknya. Tokoh Dewi Kili Suci dalam Cerita Panji dikisahkan juga sebagai sosok agung yang sangat dihormati.

Ia sering membantu kesulitan pasangan Panji Inu Kertapati dan Galuh Candrakirana, keponakannya. Suatu hari Mahasesura atau biasa disebut Lembu Suro, seorang adipati dari kerajaan tetangga datang untuk melamarnya. Lembu Suro adalah seorang yang sakti mandraguna. Kepalanya berbentuk Kerbau sedangkan badannya ke bawah berbentuk manusia.

Dewi Kilisuci sangat sedih mendapat lamaran Lembu Suro. Namun apadaya, kekuatannya dan ayahandanya tidak kuasa untuk menolak keinginan Lembu Suro dan kerajaannya.

Ketika tenaga nya sudah tidak bisa diandalkan, maka otaklah yang berkerja. Dewi Kilisuci membuat permintaan kepada Lembu Suro atau istilahnya syarat untukLembu Suro kalau tetap ingin mendapatkannya. Dewi Kilisuci ingin dibuatkan sumur raksasa dalam waktu 1 hari. Maka berangkatlah Lembu Suro untuk membuatnya.

Sumur raksasa pun tercipta berkat kesaktian Lembu Suro. Namun sayang, Lembu Suro jatuh ke dalam sumur itu karena dijebak Dewi KiliSuci. Para prajurit Kadiri atas perintah Dewi KiliSuci menimbun sumur itu dengan batu-batuan, Timbunan batu begitu banyak sampai menggunung, dan terciptalah Gunung Kelud. Oleh sebab itu, apabila Gunung Kelud meletus, daerah Kediri selalu menjadi korban, sebagai wujud kemarahan arwah Lembu Suro.

"wong Kediri mbesuk bakal pethuk piwalesku sing makaping kaping yoiku. Kediri bakal dadi kali, Blitar dadi latar, Tulungagung bakal dadi Kedung".
 ("orang Kediri besok akan mendapatkan balasanku yang sangat besar. Kediri bakal jadi sungai, Blitar akan jadi daratan dan Tulungagung menjadi danau,” )
demikian kutukannya.


Gunung Kelud dan Lembu Suro


Ada kisah lain yg menceritakan juga bahwa arwah Lembu Suro pun akhirnya tahu kalau dia di jebak. Dia pun marah besar. Dia menyumpahi Dewi Kilisuci dan rakyatnya, kalau tidak ingin sumur ini meledak (maksudnya : gunung Kelud ini meletus), maka Dewi Kilisuci dan keturunannya, harus melemparkan tujuh Intanke dasar sumur atau kawah.

Namun yg dilakukan Dewi Kilisuci selain itu adalah dia melakukan sebuah pertapaan di sebuah goa yang sekarang dinamakan Goa Selomangleng sebuah bukit di kaki gunung Klothok. Demi menyelamatkan rakyatnya dari amukan arwah Lembu Suro, bahkan dia rela untuk tidak menikah demi menyelamatkan rakyatnya dari marabahaya. Dan hingga akhir hayatnya dia bertapa di Goa itu demi rakyat.

Terlepas dari cerita itu benar atau tidak, namun masyarakat Kediri dan Blitar sangat memegang teguh legenda rakyat ini. Masyarakat dua kota itu tetap melaksanakan tebar 7 intan ke dasar kawah untuk menghindari bencana. Bahkan untuk menjalankan ritual ini, bupati Kediri dan Blitar, sebagai pewaris kerajaanDewi Kilisuci, datang sendiri untuk menjalankan ritual. Mereka tidak mau ambil resiko dengan keselamatan seluruh penduduk Kediri dan Blitar.

Begitulah sekilas tentang sejarah seorang Dewi Kilisuci. Seorang Putri Raja Kediri yang arif dan bijaksana, mencintai rakyatnya, menolong mreka dari mara bahaya. Hidupnya adalah untuk rakyat. Bahkan dia mengorbankan kebahagiaannya demi rakyat. Kisah inspiratif inilah yang menjadi sejarah Kediri dan sejarah seorang Putri yang juga ingin menyelamatkan rakyat Kediri dari mara bahaya. Dengan jalan mulia ini akan menyelamatkan Kediri dari keterpurukan, kemiskinan, kebodohan dan sebagainya. Untuk mewujudkan keseimbangan di masyarakat Kediri.


Demikian kurang lebih Penjelasan tentang Dewi Kilisuci dengan Lembu Suro, yang telah menjadikan Gunung Kelud sebagai Ancaman bagi Warga Kediri Sampai Sekarang.

Kisah Asal usul Dewi Kilisuci dengan Lembu Suro, penguasa Gunung Kelud


Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sebuah gunung yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan lokal dan wisawan asing di kawasan pulau jawa terutama Jawa Timur adalah Gunung Semeru. Semeru dengan puncak ketinggian 3.676 M dari permukaan laut merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTN) ini banyak menyimpan sebuah misteri yang akan kita kupas tuntas yaitu Sejarah Gunung Semeru.

Selain keindahan dan panorama alam yang begitu memukau ternyata Semeru mempunyai sebuah Sejarah yang menyimpan banyak mitos. Di ceritakan oleh masyarakat Jawa akan sejarah dan legenda gunung semeru yang di ambil dari kitab kuno abad ke 15 bahwasanya gunung Semeru atau puncak Mahameru di percaya sebagai tempat bersemayam para dewa tertinggi umat hindu yaitu dewa Siwa. Di katatakan pula bahwasanya tuhan mahatunggal yang bersemayam di puncak Mahameru di kenal sebagai gunung Himawan atau Kailasa.
Kata Semeru sendiri di ambil dari bahasa sangsekerta yaitu “Meru Agung” yang artinya pusat dari alam semesta baik secara fisik maupun spiritual. Semeru juga di artikan sebagai “Lingga Acala” Lingga mempunyai 2 arti kata, pertama sesuatu yang tidak bergerak dan yang kedua yaitu sesuatu yang bukan ciptaan manusia. dan kata Acala mempunyai arti gunung atau karang.



Gunung Semeru atau Legenda gunung Semeru yaitu asal-usul gunung Semeru berasal dari negara mayoritas agama Hindu yaitu India yang di angkat ke pulau jawa. Pada zaman dahulu kala dewa tertinggi dalam hindu yaitu Hyang Siwa di perintahkan oleh Batara Guru untuk memindahkan puncak Gunung Mahameru dari Bharatawarsa india ke tanah Jawa. Perintah itu di lakukan karena kondisi tanah jawa pada saat itu terombang ambing dan tidak stabil. Gunung yang di bawa oleh dewa Siwa akhirnya di jatuhkan di sisi barat pulau jawa, namun berat gunung Meru membuat ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Lantas di di penggal separuh gunung meru tersebut dan dibawa serta di jatuhkan di ujung timur. dengan demikian kondisi tanah jawa menjadi seimbang.
Potongan utama yang di letakkan di ujung barat membentuk sebuah Gunung yang bernama Pawitra, yang kini dikenal dengan Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru yang berada di ujung timur, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru.
Gunung Meru yang di bawa dari india dan di letakkan di pulau jawa tersebut tidak hanya membentuk 2 gunung saja tetapi ketika Puncak gunung Meru yang di bawa oleh dewa Siwa ke bagian timur pulau jawa tersebut ada yang berjatuhan dan tumbuh menjadi beberapa gunung kecil di antaranya ada Gunung Lawu 3.265 mdplGunung Wilis 2.169 mdplGunung Kelud 1.713 mdplGunung Kawi 2.631 mdplGunung Arjuna 3.339 mdpl, dan terakhir Gunung Kemukus 3.156 mdpl.
Semeru yang di kenal dengan gunung Suci, legenda dan misteri yang menyelimutinya, gunung ini mempunyai sebuah gapura ghaib yang hanya bisa di lihat oleh orang-orang yang mempunyai ilmu tinggi alam ghaib. Gapura itu di jaga sebuah arca yang saat ini di sebut dengan Arca Podo. sesuai namanya Arcopodo sebenarnya berasal dari kata “Arca dan Pada“, yang dalam bahasa Jawa Sangsekerta, PADA artinya sama. ”Jadi, Arca-Pada adalah Arca yang sama”

Menurut pandangan lain dari beberapa sumber sejarawan merujuk pada buku Prof. Soekmono. jadi Arcopodo adalah Arca perwujudan dari Dewa Kala dan Anukala yang mana para dewa itu mempunyai tugas untuk menjaga gerbang gapura candi pada gapura baratnya. Tidak hanya itu bagian timur, selatan dan utara juga di jaga oleh beberapa Dewa lain di antaranya penempatan para Dewa di gapura bagian timur dijaga oleh dewa Gana, gapura Selatan di jaga oleh dewa Agasti, dan untuk gapura bagian utara di jaga oleh dewa Gauri. Jadi para dewa itulah yang menjaga gerbang gapura menuju puncak Mahameru tempat tersuci.
Sekali lagi Gunung Semeru atau puncak Mahameru merupakan gunung suci, jadi jika anda berencana untuk mendaki gunung Semeru kami harapkan anda bisa menjaga sikap, omongan, dan menjaga kelestarian alam, serta tidak membuang sampah sembarangan.

Kisah Asal usul Gunung Semeru