Social Items

Showing posts with label kisah Sri Rama. Show all posts
Showing posts with label kisah Sri Rama. Show all posts
Kerajaan Widarbha merupakan salah satu kerajaan yang diperintah oleh para Raja dari Wangsa Yadawa (Bhoja Yadawa) di wilayah India Tengah dan Barat.


Dalam Mahabharata, kerajaan ini muncul pada saat pemerintahan Raja Rukmi, yang tidak ikut berpartisipasi dalam perang di Kurukshetra.

Puteri Damayanti, permaisuri Raja Nala, berasal dari sana. Begitu pun Rukmini, istri dari Wasudewa Krishna berasal dari Widarbha. Lopamudra, istri Rsi Agastya juga merupakan puteri dari negeri Widarbha. Kundinapuri merupakan nama ibukotanya, dan diidentifikasi sebagai Kundapur di Maharashtra timur.

Saudara lelaki Rukmini Rukmi mendirikan kerajaan lain dengan ibukota Bhojakata, dekat dengan kerajaan Widarbha yang asli. Pada saat seluruh kerajaan di India berpartisipasi dalam perang di Kurukshetra, kerajaan Widarbha mengaku netral karena tentaranya ditolak oleh Pandawamaupun Korawa, dua pihak yang berseteru dalam perang.

Namun dalam suatu bagian dalam Mahabharata, tentara kerajaan Widarbha yang lain berada di pihak Korawa di bawah pimpinan panglima perang Bhisma.

BABAD KERAJAAN MAMENANG

Di negara Hastina, Prabu Sudarsana siniwaka, dihadap Patih Sundaja, Brahmana Kestu, senapati Harya Padmayana; yang dibicarakan dalam siniwaka tersebut ialah selama Prabu Gendrayana meninggalkan negeri Hastinapura dan tidak ada berita.

Patih Sunjaya diperintahkan oleh raja untuk mencari kabar tentang kakanda Gendrayana, dan diharapkan untuk mengetahui sendiri tempat tinggal kakanda raja. Pertemuan lalu dibubaran.

Prabu Sudarsana kembali keistana, dijemput Prameswari raja Dewi Padmasari, dihadap oleh para parekan ceti serta dayang-dayang kerajaan. Dalam pembicaraan raja dengan prameswari tidak lain persoalan apa yang dibicarakan didalam sitinggil. Raja lalu memerintahkan membersihkan sanggar palanggatan, untuk semedi.

Diluar istana, Patih Sunjaya dengan brahmana Kestu, Harya Padmayana, Harya Suweda (punggawa), harya widagda, harya Prahasana dan harya Warsaya. Patih memerintahkan pembagian pekerjaan, bagian yang tinggal menjaga keamanan negara dan bagian yang mengikuti melaksanakan perintah raja. Kemudian budalan dengan mengendarai kuda, dilanjutkan perang ampyak.

Adegan negeri Iman-Imantaka, prabu kala Drawayana dihadap emban yeksi sekeli dan punggawa raksasa. Pembicaraan sekitar meninggalnya ayahanda raja yang terbunuh oleh Prabu Gendrayana, raja di Hastina. Raja Drawayana akanmenuntutbalas.

Emban sekeli memberitahukan bahwa gendrayana telah tidak berdiam lagi di Hastina, ia telah pergi dan digantikan adiknya bernama Prabu Sudarsana. Raja memerintahkanprajurit untuk mencari tempat tinggal Prabu Gendrayana.

Prajurit raksasa yang mendapat tugas segera berangkat, pertemuan bubaran.
Diluar kraton para raksasa prajurit yang akan melaksanakan tugas dari raja mencari Prabu Gendrayana, setelah persiapan selesai maka berangkatlah mereka.

Dalam perjalanan barisan dari iman-imantaka berjumpa dengan barisan Hastina, terjadilah perselisihan, akhirnya bersimpangan jalan.

Adegan ditengah hutan, resi Budda sedang bersemedi didaerah Mamenang. Sang Hyang Wisnu datang dan menanyakan maksud sang resi. Jawab resi, ia sedih karena negerinya direbut oleh adiknya sendiri yaitu arya Kanda.

Sang Hyang Wisnu belas kasihan, maka lalu menitís kepada resi Budha untuk dapat sejiwa dengan Gendrayana. Sebelum menitís Sang Hyang Wisnu memberikan wuluh gading berisi peralatan negara Widarba, artinya berisi peralatan negara Widarba, untuk diberikan kepada Gendrayana. Setelah wuluh gading diterima resi Budha, Batara Wisnu menitís, resi Budha lalu pergi mencari Gendrayana.

Di pertapaan Wukir Manimaya, resi Sedana dihadap anaknda bernama Bambang Sumeda. Bambang Sumeda ingin mengabdi ke raja Ngastina, diperkenankan oleh sang resi, lalu permisi berangkat dengan segera, disertai dua Punakawan yaitu Balsa dan Geyot.

Kemudian adiknya Bambang Suseno datang minta diri untuk turut dan menyusul kakanya, juga diizinkan oleh sang resi dan segera berangkat.

Di tengah perjalanan prajurit raksasa berada di hutan sedang mencari Gendrayana. Prajurit raksasa dari Iman-imantaka tersebut melihat Bambang Sumeda lalu ditengah hutan, maka segera dihadang. Akhirnya menjadi perselisihan dan terjadilah peperangan.

Bambang Sumeda dibantu saudaranya Bambang Susena. Raksasa mati semuanya. Bambang kedua dan punakawan melanjutkan tujuannya kenegeri Hastina.
Di tengah hutan Mamenang, Prabu Gendrayana dihadap patih Sutiksna dan raja Giliwesi, Prabu Sri Prawata.

Dalam percakapan membicarakan bahwa sampai kini Belum mendapat tempat yang baik untuk membuat kota atau negeri. Ditengah-tengah pembicaraan datanglah patih Sunjaya yang diutus adinda raja Prabu Sudarsana untuk mencari dan mengetahui tempat tinggal raja Gendrayana.

Kemudian datanglah resi Buda mengaturkan wuluh gading isi negeri Widarba yang telah diletakkan ditengah hutan Mamenang. Prabu Gendrayana dengan semua prajurit ingin melihatnya. Sangat keheran-heranan sang raja melihat kelengkapan negeri Widarba pemberian batara Wisnu dengan perantaraan Resi Budha.

Resi Budha minta diuntapkan ke surga loka. Prabu Gendrayana sanggup, dengan perantaraan keris Kyai Pulangeni, resi Budha dapat muksa berupa sinar dan berubah menjadi buah mempelam talijiwa, yang dapat dipegang oleh raja Gendrayana dan terus diberikan kepada istrinya. Wisnupun telah menitís kepadanya. Raja Gilingwesi dan patih Sunjaya diperkenankan kembali ketempat masing-masing.

Di negara Hastina Prabu Sudarsana duduk disinggasana di hadap Brahmana Kestu dan Harya Padmayana. Datanglah patih Sunjaya melaporkan tentang kedudukan kakanda raja Gendrayana.

Sebelumnya datang dahulu Bambang Sumeda dan Bambang Susena mohon mengabdi di Hastina, dan diterima oleh raja, serta diangkat sebagai punggawa di Hastina. Setelah selesai raja menerima laporan patih lengkap, maka raja ingin berangkat sendiri menemui kakanda raja di widarba.

Adegan Kahyangan Suralaya, Batara Guru duduk dibalai Marcukandamanik dihadap batara Narada dan para dewa. Yang dibicarakan adanya gara-gara. Batara Narada menerangkan bahwa gara-gara ini karena resi Kombayana minta kaluhuran. Batara Guru memerintahkan untuk menangkap sang Kombayana. Batara akan juga menyaksikan. Kombayana akhirnya dapat dibanjut dewa.

Prabu Drawayana dihadap emban Sekeli. Percakapan tentang tidak adanya berita utusan prajurit raksasa. Wijamantri dan Jamamantri datang melaporkan tentang kematian para raksasa.

Raja marah dan segera akan berangkat mencari prabu Gendrayana. Emban sekeli menganjurkan minta bantuan adinda raja prabu Nirbita, raja di Martikawata. Raja Drawayana setuju terus budalan

Prabu Nirbita dihadap adinda raja Harya Niswata dan patih Nirbaya. Percakapan raja sekitar kemauannya hendak kawin lagi supaya isterinya lengkap berjumlah domas. Adinda tidak setuju.

Datanglah raja Drawajana minta bantuan untuk dapat membunuh raja Hastina bila dapat negeri tersebut terserah adanya. Nirbita menyanggupi, Drawayana kembali ke Iman-imantaka, dan Prabu Nirbita berangkat menyerang negeri Hastina.

Prabu Gendrayana menemui adinda raja hastina prabu Sudarsana yang sangat rindu pada kakanda. Setelah semuanya terdapat selamat dan bahagia, maka prabu Sudarsana diperkenankan pulang.

Dalam perjalanan pulang Prabu Sudarsana bertemu dengan Prabu Nirbita. Terjadilah peperanganm dengan berakhir kematian Nirbita beserta para prajurit pengiringnya.

Dengan Hastina Prabu Sudarsana menerima kedatangan Harya Niswata yang takluk karena kakanda raja prabu Nirbita telah mati dipeperangan. Harya Niswata menyerahkan segala kekayaa kraton Martikawata.

Setelah penyerahan diri Niswata diterima, kekayaan dikembalikan, maka Niswata diangkat menjadi raja pengganti prabu Nirbita di Iman-imantaka. Kemudian raja Sudarsana mengadakan jamuan dan pesta atas kemenangan tersebut dengan lengkap para punggawa. 

Sejarah Asal Usul Kerajaan Widarba Dalam Kisah Mahabharata dan Jawa

Kisah Kematian Anoman - Asal usul Hanoman

Sebuah versi lain menyebutkan tentang kematian Anoman sebagai berikut:

Waktu itu, jauh sesudah selesainya Baratayuda, sewaktu di Pulau Jawa telah berdiri Kerajaan Mamenang ( Kerajaan Kediri atau Kerajaan Daha), Anoman pergi ke kahyangan menghadap para dewa.

Kepada Batara Guru ia mengatakan sudah bosan hidup di dunia, dan menanyakan kapan ia akan mati. Batara Guru menjawab, belum waktunya.
Anoman tidak puas dengan jawaban itu, kemudian berkata, bahwa selama "hidup ratusan tahun, ia telah mendarmabaktikan segala kemampuan dan kesaktiannya untuk kesejahteraan dan keamanan dunia.

Kini Anoman menuntut agar permintaannya yang terakhir, yaitu agar ia segera mati, dipenuhi oleh para dewa. Batara Guru menjawab: "Baik! Tetapi engkau lebih dahulu masih harus menjalankan sebuah tugas lagi, yaitu menjodohkan ketiga orang putra Prabu Sriwahana (sebagian dalang menyebut Prabu Sriwahana dengan sebutan Prabu Sariwahana) dari Kerajaan Yawastina."

Dalam pelaksanaan tugas itu nanti, menurut Batara Guru, Anoman akan gugur. Karena, seorang ksatria agung seperti Anoman tidak layak bila mati di tempat tidur.
Para dewa memutuskan, Anoman harus gugur sebagai ksatria sejati di medan tugas. Anoman menyanggupi tugas itu karena ia memang ingin mati sebagai prajurit.Pertarna-tama ia menemui Prabu Sriwahana dan menguraikan tentang maksud para dewa menjodohkan ketiga putra raja Yawastina itu dengan putri-putri Prabu Jayabaya.

Prabu Sriwahana menyetujui. Maka berangkatlah Anoman ke Mamenang. Sebenarnya lamaran yang diajukan Anoman untuk ketiga putra raja Yawastina itu diterima oleh Prabu Jayabaya.

Namun, sebelum pembicaran itu tuntas, tiba-tiba datanglah Prabu Yaksadewa. Raja raksasa itu ternyata juga akan melamar ketiga putri Prabu Jayabaya.
Perkelahian tidak dapat dihindari. Seperti janji para dewa, dalam pertempuran itu Anoman gugur.

Menyaksikan peristiwa itu, Prabu Jayabaya marah, dan berhadapan dengan Prabu Yaksadewa.Raja raksasa itu berhasil dikalahkannya, dan berubah ujud menjadi Batara Kala, yang kemudian lari pulang ke tempat kediamannya di Setra Gandamayit.

Dari cerita ini jelas bahwa Anoman, menurut pewayangan, tewas oleh Batara Kala, pada zaman Kerajaan Mamenang, atau Kerajaan Kediri.

Kisah Penyebab Kekalahan dan Kematian Anoman

Raja Rahwana , asal usul Rahwana

Kelahiran Rahwana

Prabu Dasarata penuh hasrat mendapatkan seorang putra, sehingga mengawini tiga orang wanita yang ternyata tiga-tiganya belum dapat memberikan putra juga. Akhirnya dengan suatu upacara ritual ketiga istrinya melahirkan empat putra. Keempat putranya saling mengasihi.

Kemudian karena sang prabu kalah janji dengan istri ketiga, maka putra terkasihnya Sri Rama harus meninggalkan istana yang menyebabkan kesedihan sang prabu yang membawanya keujung kematian.

Resi Gotama bertapa seratus tahun dengan harapan mendapatkan anugerah isteri seorang bidadari. Dewi Windradi adalah seorang bidadari yang bersedia menjadi istrinya, akan tetapi dia memiliki cupu manik Astagina yang pada setiap saat konon dapat berhubungan dengan Bathara Surya lewat cupu tersebut.

Pasangan suami istri tersebut melahirkan tiga anak, Guwarsa yang akhirnya menjadi Subali, Guwarsi yang menjadi Sugriwa dan Retno Anjani yang melahirkan Hanuman.  Dua bersaudara Subali dan Sugriwa berseteru hingga akhirnya Subali mati dipanah Sri Rama. Sedangkan Hanuman melakukan “total surender” pada Sri Rama, sang avatara.

Dewi Sukesi, putri raja Alengka Prabu Sumali, seorang wanita yang sangat percaya diri dan bersemangat. Sang putri menerima saran sang ayahanda bahwa pemilihan pasangan hidup melalui pertarungan antar ksatria tidak perlu diperpanjang lagi. Dewi Sukesi kemudian memilih pasangan hidup siapa pun yang dapat menjabarkan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Resi Wisrawa adalah seorang raja yang meninggalkan kenyamanan istana demi peningkatan kesadaran. Akan tetapi sang resi masih punya keterikatan dengan sang putra yang menggantikannya sebagai raja Lokapala. Sang putra mabuk kepayang ingin mempersunting Dewi Sukesi, akan tetapi ketakutan karena semua ksatria yang datang meminang sang putri dibunuh oleh Patih Harya Jambumangli adik Prabu Sumali yang diam-diam jatuh cinta kepada sang keponakan.

Resi Wisrawa berangkat ke Alengka  untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Akan tetapi sewaktu menguraikan Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu kepada Dewi Sukesi, mereka berdua terlena dan melakukan hubungan suami istri. Dari mereka lahirlah Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Wibisana. Sarpakenaka yang hiperseks sakit hati dengan Dewi Sinta dan minta sang kakak menculiknya. Kumbakarna tidak menyetujui keserakahan Rahwana memilih makan dan tidur serta tidak mau melihat kesewenang-wenangan kakaknya. Wibisana tidak cocok dengan tindakan kakaknya dan ketika kakaknya menculik istri Sri Rama, ksatria avatara idolanya, maka dia menyeberang ke pihak Sri Rama.

Sri Rama , kisah Ramayana

Asal Usul Resi Wisrawa dan Dewi Suksesi

Prabu Sumali, Raja Alengka sadar bahwa sayembara memperebutkan Dewi Sukesi, sang putri dengan cara perang tanding antar ksatriya telah menimbulkan pertumpahan darah yang tidak seharusnya terjadi. Telah banyak ksatria mati di tangan Harya Jambumangli adik, sekaligus patih kerajaan Alengka. Akan tetapi permintaan sang putri untuk bersedia menjadi isteri dari orang yang sanggup mengupas Sastrajendra Pangruwating Diyu membuatnya sangat gundah. Bagaimana pun sang putri adalah seorang gadis yang tegas dan dia terlanjur memanjakan dan menuruti apa pun kemauan sang putri. Dewi Sukesi memang berbeda dari Dewi Sinta yang pasrah kepada ayahandanya, Sang Prabu Janaka yang bijaksana untuk mencarikan jodoh baginya.

Resi Wisrawa sedang mengupas ilmu Sastrajendra Pangruwating Diyu di taman keputren bersama Dewi Sukesi. ‘Sastrajendra’, Tulisan Agung tersebut tak jauh dari pemahaman tentang manusia itu sendiri, tentang ‘gumelaring jagad’, asal-usul jagad, ‘sejatining urip’, makna hidup, ‘sejatining panembah’,pengabdian kepada Gusti dan ‘sampurnaning pati’, kesempurnaan kematian.

Konon Guru adalah seseorang yang mendapatkan pengetahuan langsung dari Keberadaan. Sedangkan murid sejati adalah seseorang yang berkeinginan tunggal atau “murad” untuk mengalami penyatuan dengan Keberadaan, manunggal dengan Gusti. Yoga juga berarti penyatuan dengan Ilahi. Sang murid telah paham bahwa dunia ini hanya ilusi, permainan pikiran, sehingga Keberadaan menghendaki dia bertemu dengan Guru untuk membimbingnya dalam menjalani kehidupan spiritualnya. Sang Guru dan sang murid hanya melaksanakan ridho Sang Keberadaan. Mungkin contoh yang baik hubungan antara Guru dan murid adalah hubungan antara Sri Rama dengan Hanuman. Hanuman pasrah total kepada Sri Rama yang merupakan wujud keilahian. Lain Hanuman lain kita, kepasrahan kita hanya di bibir saja.

Resi Wisrawa dalam mengupas Sastrajendra masih menuruti ego pribadi untuk mendapatkan jodoh bagi sang putra. Dewi Sukesi dalam menerima pengetahuan juga masih mempunyai keterikatan terhadap ego pribadi untuk mencari suami. Mereka menuruti hasrat ego-nya, bukan ridho Sang Keberadaan, belum mencerminkan hubungan antara Guru dan murid.

Cinta Buta Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi 

Beberapa penjelasan Resi Wisrawa, “Pada waktu kita sudah lepas dari keterikatan, kehilangan rasa memiliki, termasuk memiliki diri sendiri, kita masuk dalam “kematian”. Di balik “kematian” itulah justru ada “kehidupan” sejati. Kehidupan yang tidak berawal dan tidak berakhir, yang bebas dari belenggu keterikatan.”

“Kita berada dalam keindahan cinta. Alam semesta ini adalah perwujudan cinta Sang Keberadaan. Manusia, hewan, tanaman tak mungkin ada tanpa cinta. Cinta dan keindahan terdapat dalam naluri, integensia setiap manusia.”

“Ibarat sungai diam yang mengalirkan air yang selalu baru. Bukan jatidiri yang berjalan, tetapi waktulah yang berjalan. Cinta melampaui waktu. Tubuh fisik boleh berubah sesuai usia, akan tetapi cinta itu sendiri abadi. Masa lalu tidak ada, masa depan belum tiba dan yang ada hanya saat ini dan hal ini perlu dirayakan.”

“Dalam cinta itu ada kerinduan, bukan kerinduan terhadap hal-hal duniawi yang bersifat sementara, tetapi kerinduan kepada hal yang tidak dimengerti. Kebahagian dalam kerinduan tersebut bukan karena kepemilikan, tetapi karena ridho Sang Keberadaan. Pasrah total terhadap Keberadaan.”

“Sifat keraksasaan dalam diri harus diruwat, dikembalikan ke keadaan asalnya. Dan untuk mensucikan jiwa, kita harus menggunakan raga. Anakku Sukesi, mari kita kembali ke bumi untuk menyelesaikan tugas kita mengendalikan keraksasaan, mengendalikan “Diyu” dalam diri!” Dewi Sukesi merasa belum terpuaskan keingintahuannya dan belum mau menyudahi penguraian tentang Satrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu.

Begitu larutnya mereka dalam penjabaran Sastrajendra, sampai mereka lupa bahwa “Diyu”, sang raksasa dalam diri mereka yang lama terpendam bangkit dan menutup kesadaran mereka. Keduanya bahkan gagal memaknai Sastrajendra, Sang Tulisan Agung. Mereka melakukan hubungan suami istri. Mereka tidak dinikahkan oleh orang tua atau dinikahkan oleh pelaksana ritual pernikahan, tetapi mereka dinikahkan oleh syahwat mereka.

Kelahiran putra-putri Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi

Mind seseorang berwujud energi, dan energi tidak bisa mati, yang mati hanyalah raganya. Mind yang tak berbadan tersebut akan mencari raga baru untuk melanjutkan obsesi dan menerima akibat dari tindakan yang pernah dibuatnya sesuai aturan alam, hukum sebab-akibat.

Peristiwa terpelesetnya Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi mengakibatkan kelahiran putra-putrinya. Dikatakan terpeleset, mungkin juga kurang tepat. Mungkin sudah ada cetak biru Keberadaan untuk melahirkan pemimpin para raksasa yang mengumpulkan para raksasa untuk berperang secara frontal. Mungkin perang tersebut berguna untuk pengurangan populasi raksasa guna penyesuaian daya dukung bumi terhadap kehidupan para raksasa.

Apabila Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi tidak terpeleset, mungkin akan  ada skenario lain untuk pengurangan populasi raksasa tersebut. Bagi kita yang penting adalah bahwa kita dapat menarik hikmah dari kisah tersebut demi peningkatan kesadaran. Skenario yang lain tidak perlu diperdebatkan, karena hanya analisa mind belaka.

Dewi Sukesi mengandung akibat buah cinta terlarangnya dengan Resi Wisrawa. Dan, kemudian dari rahimnya terlahir segumpal darah, bercampur sebuah wujud telinga dan kuku. Segumpal darah itu menjadi raksasa bernama Rahwana yang melambangkan nafsu angkara manusia. Sedangkan telinga menjadi raksasa sebesar gunung yang bernama Kumbakarna, yang meski pun berwujud raksasa tetapi hatinya bijak, ia melambangkan penyesalan ayah ibunya. Sedangkan kuku menjadi raksasa wanita yang bertindak semaunya bernama Sarpakenaka. Kelak Wisrawa dan Sukesi melahirkan seorang putera bernama Gunawan Wibisana. Anak terakhir ini berupa manusia sempurna yang baik dan bijaksana, karena terlahir dari cinta sejati, jauh dari hawa nafsu kedua orang tuannya.

Wibisana lahir normal, disusui sang ibu dengan penuh kasih dan menjadi lebih lembut. Kejadian di awal kelahiran mempunyai pengaruh besar terhadap seorang anak. Seorang anak yang lahir dari operasi cesar, dia lahir begitu mudah tanpa perjuangan, sehingga jangan sampai masa kanak-kanaknya dimanja, agar dia memiliki daya juang. Bayi yang lahir juga perlu diletakkan agak jauh dari buah dada ibunya, agar dia berjuang mendapatkan air susu pertama. Daya juang tersebut diperlukan dalam kehidupan selanjutnya.

Sifat Rahwana, Sarpakenaka, Kumbakarna dan Wibisana

Dalam diri manusia, ada tujuh chakra, akan tetapi putra-putri Resi Wisrawa dan Dewi Sukesi nampak lebih menonjol pada chakra-chakra tertentu.

Chakra ketiga, kenyamanan, apabila tak terkendalikan menyebabkan manusia mengikuti ahamkara, ego, ingin menang sendiri. Rahwana yang juga disebut Dasamuka bisa dimaknai mempunyai sepuluh kepala, sepuluh otak, sangat cerdas dan mempunyai keserakahan yang luar biasa. Rahwana merupakan perwujudan dari sifat rajas yang agresif dan dominasi unsur alami api yang beraura kemerahan.

Chakra kedua berkaitan dengan kreatifitas dan hubungan dengan seks. Sarpakenaka sangat kreatif, sehingga dapat mengubah wujud dirinya menjadi wanita cantik penggoda Sri Rama dan Laksmana. Seandainya saja Sarpakenaka bisa mentransformasikan energi seks menjadi energi yang kreatif, dirinya  akan sangat berguna bagi dunia. Sayangnya dia malah menjadi hiperseks, sudah mempunyai dua suami masih mempunyai PIL (Pria Idaman Lain) Kala Maricha, komandan prajurit andalan Rahwana. Sarpakenaka melambangkan sifat keagresifan dan dominasi unsur api yang beraura kuning.

Chakra pertama berkaitan dengan hal-hal mendasar, misalnya makan dan minum. Kumbakarna selain menuruti hasrat makan minum dan tidur, sebetulnya sudah muncul kesadaran tentang kebenaran. Dia tidak setuju dengan keserakahan Rahwana, tetapi dia tidak berani melawan dan malah melarikan diri dengan cara makan dan tidur. Kumbakarna didominasi unsur tanah beraura hitam yang tamas, malas.

Energi Wibisana, sudah tidak berupa cairan yang mengalir ke bawah perut, tetapi berwujud uap yang mengarah ke atas, mengaktifkan chakra keempat, bersifat satvik, tenang dengan aura putih, dengan dominasi unsur ruang. Wibisana sudah siap menjadi murid Sri Rama yang telah melampaui unsur-unsur alami.

Sejarah Asal Usul Rahwana, Wibisana dan Kumbakarna dalam Ramayana