Social Items

Sunan Ampel adalah salah seorang wali di antara Walisongo yang menyebarkan ajaran Islam di Pulau Jawa. Ia lahir 1401 di Champa. Ada dua pendapat mengenai lokasi Champa ini. Encyclopedia Van Nederlandesh Indie mengatakan bahwa Champa adalah satu negeri kecil yang terletak di Kamboja.

Kuwaluhan.com

Pendapat lain, Raffles menyatakan bahwa Champa terletak di Aceh yang kini bernama Jeumpa. Menurut beberapa riwayat, orang tua Raden Rahmat, nama lain Sunan Ampel, adalah Maulana Malik Ibrahim (menantu Sultan Champa dan ipar Dwarawati).

Dalam catatan Kronik Cina dari Klenteng Sam Po Kong, Sunan Ampel dikenal sebagai Bong Swi Hoo, cucu dari Haji Bong Tak Keng - seorang Tionghoa (suku Hui beragama Islam mazhab Hanafi) yang ditugaskan sebagai Pimpinan Komunitas Cina di Champa oleh Sam Po Bo.

Sedangkan Yang Mulia Ma Hong Fu - menantu Haji Bong Tak Keng ditempatkan sebagai duta besar Tiongkok di pusat kerajaan Majapahit, sedangkan Haji Gan En Cu juga telah ditugaskan sebagai kapten Cina di Tuban. Haji Gan En Cu kemudian menempatkan menantunya Bong Swi Hoo sebagai kapten Cina di Jiaotung (Bangil).

Sementara itu seorang putri dari Kyai Bantong (versi Babad Tanah Jawi) alias Syaikh Bantong (alias Tan Go Hwat menurut Purwaka Caruban Nagari) menikah dengan Prabu Brawijaya V (alias Bhre Kertabhumi) kemudian melahirkan Raden Fatah. Namun tidak diketahui apakah ada hubungan antara Ma Hong Fu dengan Kyai Bantong.

Dalam Serat Darmo Gandhul, Sunan Ampel disebut Sayyid Rahmad merupakankeponakan dari Putri Champa permaisuri Prabu Brawijaya yang merupakan seorang muslimah.

Merujuk kepada salah satu sumber tentang silsilah keturunan dari Sunan Ampel ini memang cukup panjang, namun pada puncaknya berhubungan langsung dengan Ali bin Abi Thalib dan Fatimah az-Zahra bin Muhammad Saw.

Silsilah keturunan Sunan Ampel sampai Nabi Muhammad Saw :


  • Sunan Ampel ialah putra Maulana Malik Ibrahim
  • Maulana Malik Ibrahim putra dari Syaikh Jumadil Qubro
  • Syaikh Jumadil Qubro putra dari Ahmad Jalaludin Khan.
  • Ahmad Jalaludin Khan sendiri ialah putra dari Abdullah Khan,
  • Abdullah Khan putra dari Abdul Malik Al-Muhajir nan berasal dari Nasrabad, India.
  • Abdul Malik Al-Muhajir ini ialah putra dari Alawi Ammil Faqih dari Hadralmaut, Yaman.
  • Alawi Ammil Faqih ialah putra dari Muhammad Sohib Mirbath nan merupakan putra dari Ali Kholi Qosam.
  • Ali Kholi Qosam sendiri ialah putra dari Alawi Ats-Tsani.
  • Alawi Ats-Tsani ialah putra Muhammad Sohibus Saumiah
  • Muhammad Sohibus Saumiah ialah putra dari Alawi Awwal
  • Alawi Awwal merupakan putra dari Ubaidullah
  • Ubaidullah putra dari Ahmad al-Muhajir.
  • Ahmad al-Muhajir ialah putra Isa Ar-Rumi
  • Isa Ar-Rumi putra dari Muhammad An-Naqib.
  • Muhammad An-Naqib ialah putra dari Ali Uraidhi
  • Ali Uraidhi putra Jafar ash-Shadiq nan tidak lain putra dari Muhammad al-Baqir.
  • Muhammad al-Baqir ini ialah putra dari Ali Zainal Abidin
  • Ali Zainal Abidin ialah putranya Imam Husain bin Ali bin Abi Thalib dan Fatimah Az-Zahra bin Muhammad.
  • Semenatar Fatimah Az-Zahra ialah putri bungsu Nabi Muhammad Saw dan Khadijah.


SEDANGKAN KETURUNAN SUNAN AMPEL YAITU :

Isteri Pertama, yaitu: Dewi Condrowati alias Nyai Ageng Manila binti Aryo Tejo Al-Abbasyi, berputera:


  • Maulana Mahdum Ibrahim/Raden Mahdum Ibrahim/ Sunan Bonang/Bong Ang
  • Syarifuddin/Raden Qasim/ Sunan Drajat
  • Siti Syari’ah/ Nyai Ageng Maloka/ Nyai Ageng Manyuran
  • Siti Muthmainnah
  • Siti Hafsah


Isteri Kedua adalah Dewi Karimah binti Ki Kembang Kuning, berputera:


  • Dewi Murtasiyah/ Istri Sunan Giri
  • Dewi Murtasimah/ Asyiqah/ Istri Raden Fatah
  • Raden Husamuddin (Sunan Lamongan)
  • Raden Zainal Abidin (Sunan Demak)
  • Pangeran Tumapel
  • Raden Faqih

Itulah Silsilah dan Garis Keturunan Sunan Ampel, jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan. 

Garis Silsilah dan Keturunan Sunan Ampel (Raden Rahmat)

Kerajaan Kediri merupakan kerajaan paling tua di Indonesia, khususnya di Wilayah Jawa. Dari Kerajaan ini pula raja raja besar di tanah Jawa terlahir.

Kuwaluhan.com

Menurut babad Jawa dan paham-paham yang diturunkan dalam buku kuno Jawa, ada yang meyakini bahwa Bhatara Brahma adalah nenek moyang dari raja-raja di tanah Jawa. Bhatara Brahma menikah menikah dengan Dewi Larasati dan memperoleh seorang putra yang diberi nama Sri Brahmana Raja.

Selanjutnya Sri Brahmana menikah dengan Dewi Sri Huma dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Hyang Wisnumurti. Dialah yang menggantikan ayahnya di kala wafat dengan gelar Prabu Tetrusta, sedangkan kerajaannya diberi nama Kerajaan Diling Jaya.

Prabu Tetrusta pun menikah dengan Retnawidati, yaitu putri dari Hyang Sumantra. Dari pernikahan tersebut lahirlah Prabu Parikenan. Selanjutnya Prabu Parikenan menikah dengan bibinya, putri dari Hyang Wisnu. Mereka memperoleh seorang putra bernama Resi Manumanasa.

Resi ini akhirnya juga menikah dengan bidadari bernama Retna Nilawati, yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Putra Sakri. Setelah dewasa Putra Sakri menikah dengan Dewi Sakti dan memperoleh keturunan Prabu Ngastina yang bergelar Prabu Palasara.

Sebagaimana diketahui, Dewi Sakti adalah putri Raja Sri Wedari yang terkenal dengan gelar Prabu Parta Wuijaya. Palasara (Prabu Ngastina) selanjutnya menikah lagi dengan Dewi Durgandini, yaitu putri Basukiswara dari Kerajaan Wirata.

Dari pernikahan ini, mereka mempunyai keturunan bernama Krisnadipayana. Putra ini kemudian menikah dengan Dewi Ambika, seorang putri dari Raja Glantipura. Dari mereka lahirlah tiga putra, di antaranya adalah Dewantara.

Dewantara menikah dengan dua istri sekaligus, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Perkawinannya dengan Dewi Kunti melahirkan para kesatria, yaitu : Prabu Yudhistira, Arya Werkudara, dan Dananjaya (Arjuna). Sementara dari Dewi Madrim berputrakan Arya Nakula dan Arya Sadewa.

Satu dari kelima putra ini ada yang beristrikan tujuh perempuan, yaitu Dananjaya alias Arjuna. Dari salah satu istrinya yaitu Dewi Sembadra, Dananjaya memiliki keturunan dengan nama Arya Abimanyu, yang setelah dewasa beristrikan Siti Sundari dan Dewi Hutari. Dari Dewi Hutari Abimanyu memperoleh keturunan bernama Arya Parikesit yang selanjutnya menjadi Prabu di Hastina.

Arya Parikesit pun memiliki lima orang istri. Namuin hanya dari istrinya yang bernama Dewi Tapen ia mempunyai seorang puttra yang kemudian menjadi Prabu Yudana. Prabu ini mempunyai keturunan bernama Gendrayana dan Sudarsana. Dari sinilah poin yang penting mengenai sosok Jayabaya. Sebab Jayabaya adalah keturunan dari Gendrayana.

Sebenarnya Gendrayana atau Raja Widarba memiliki saembilan istri yang masing-masing melahirkan seorang putra, diantaranya Raden Noyorono. Dialah yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Widarba dan bergelar Prabu Jaya Purusa, yang pada akhirnya mendirikan satu kerjaan bernama Daha atau Kediri.

Karena pada akhirnya Prabu Jaya Purusa semakin terkenal dan dipandang sebagai raja seorang bangsawan, maka namanya diganti menjadi Prabu Jayabaya.

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat ditarik suatu urutan silsilah Raja Jayabaya dari awal (Nabi Adam) sapai keturunannya raja-raja Kediri sebagai berikut :


  • Nabi Adam (sang Hyang Janmawalijaya atau sang Hyang Adhama)
  • Nabi Syits (sang Hyang Syta)
  • Sayid Anwar (sang Hyang Nur Cahya)
  • Sang Hyang Nurasa
  • Sang Hyang Wenang (sang Hyang Wisesa)
  • Sang Hyang Manik Maya (Bhatara Guru)
  • Bhatara Brahma atau Sri Maha Punggung atau Dewa Brahma
  • Bhatara Sadana (Brahmanisita)
  • Bhatara Satapa (Tritusta)
  • Bambang Parikenan
  • Resi Manumayasa 
  • Bambang Sekutrem
  • Begawan Sakri
  • Begawan Palasara
  • Begawan Abiyasa (Maharaja Sanjaya)
  • Pandu Dewanata
  • Dananhaya (Raden Arjuna)
  • Raden Abimanyu
  • Prabu Parikesit
  • Prabu Yudayana
  • Prabu Yudayaka (Jaya Darma)
  • Prabu Gendrayana
  • Prabu Jayabaya
  • Prabu Jaya Amijaya 
  • Prabu Jaya Amisena
  • Raden Kusumawicitra
  • Angling Darma
  • Raden Citrasuma
  • Raden Pancadriya
  • Raden Anglingdriya
  • Prabu Suwelacala
  • Prabu Sri Maha Punggung 
  • Prabu Kandihawan (Jayalengkara) 
  • Resi Gatayu 
  • Resi Lembu Amiluhur 
  • Raden Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati) 
  • Raden Kudalaweyan (Mahesa Tandreman) 
  • Raden Banjaran Sari 
  • Raden Munding Sari 
  • Raden Munding Wangi 
  • Prabu Pamekas  
  •  Raden Jaka sesuruh (Raden Wijaya, raja Majapahit) 
  • Prabu Taruma (Bhre Kumara) 
  • Gajah Mada
  • Prabu Hardaningkung (Brawijaya I) 
  • Prabu Hayam Wuruk 
  • Raden Putra 
  • Prabu Partawijaya
  • Raden Angkawijaya (Damarwulan) 
  • Bhatara Kathong.
Jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan.

Silsilah Garis Keturunan Kerajaan Kediri Jawa Timur

Jayakatwang adalah bupati Gelang-Gelang yang pada tahun 1292 memberontak dan meruntuhkan Kerajaan Singhasari. Ia kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan sampai tahun 1293.

SILSILAH RAJA JAYAKATWANG


Jayakatwang juga sering kali disebut dengan nama Jayakatong, Aji Katong, atau Jayakatyeng. Dalam berita Cina ia disebut Ha-ji-ka-tang.

Nagarakretagama dan Kidung Harsawijaya menyebutkan Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri. Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya. Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singhasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya.

Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana).Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Dalam prasasti Mula Malurung, Maharaja Tumapel Seminingrat menyebut Sri Jayakatwang sebagai menantu juga kemenakannya. Sebagai menantu karena Sri Jayakatwang berpermaisuri putri Seminingrat bernama Nararya Turukbali, rajamuda Gelang-Gelang sejak 1255M. Sebagai kemenakan karena ibu Sri Jayakatwang adalah adik Seminingrat.

Ketegasan Seminingrat menyebutan kemenakan kepada Jayakatwang dalam Prasasti Mula Malurung cenderung mengartikan bahwa Jayakatwang putra kandung dari adik kandung perempuan Seminingrat atau Ibu kandung Jayakatwang adalah adik kandung Seminingrat atau putri kandung Sang Anusapati sehingga sangat layak disebut dengan tegas dalam prasasti Mula Malurung.

Karena merupakan putra dari adik kandung perempuannya, maka kelak Seminingrat tidak ragu menjodohkan Jayakatwang dengan putri bungsunya Nararya Turukbali, yuwaraja Gelang-Gelang. Sekali lagi ibu kandung Jayakatwang adalah adik kandung Maharaja Seminingrat.

Sebagaimana telah dipaparkan, adik kandung Seminingrat adalah Dewi Seruni. Dari prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang menjadi menantu Kertanagara.

Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

Hal ini sangatlah wajar ketika seorang raja mengikat tali keluarga dengan menjodohkan keturunannya dengan keturunan saudara kandungnya sendiri. Hal itu dilakukan supaya darah keturunan raja tidak pergi kemana-mana, masih tetap dalam satu keluarga atau setidaknya garis keturunan seorang raja tetap utuh menurun sampai bawah.

Ini pula yang kemudian dilakukan Maharaja Seminingrat ketika menduduki tahta Tumapel yang kemudian berbesanan dengan adik kandung perempuannya. Terjadi pernikahan sesama cucu Sang Anusapati. Putri Seminingrat bernama Nararya Turukbali menikah dengan Jayakatwang, putra adik kandung perempuan Seminingrat.

Nararya Turukbali dan Jayakatwang saudara sepupu juga. Pernikahan seperti itu pernah pula dilakukan moyangnya Erlangga yang menikah dengan kakak sepupunya atau dengan Dewi Laksmi, putri kedua Dharmawangsa, raja Medang Watan. Pernikahan antar saudara sepupu juga dilakukan Seminingrat sendiri.

Seminingrat menikah dengan adik sepupunya bernama Waning Hyun, putri sulung Mahisa Wonga Teleng. Mahisa Wonga Teleng adalah paman Seminingrat. Dapat dikatakan Seminingrat mengikuti langkah yang ditempuh ayahnya Sang Anusapati yang berbesanan dengan adik seibunya Mahisa Wonga Teleng.

Jika ayahnya berbesanan dengan adik sepupu seibu beda ayah, Seminingrat berbesanan dengan adik kandung sendiri, menjodohkan putrinya Nararya Turukbali dengan kemenakannya Sri Jayakatwang. Tetapi bagaimanapun juga semua perkawinan antar saudara itu bertujuan untuk menjaga keaslian darah keluarga raja.

Sangat pantas pula ketika mengeluarkan piagam kerajaan pemganugerahan desa Mula Malurung kepada Sang Pranaraja, Sri Maharaja Seminingrat menyebut dengan tegas bahwa Sri Jayakatwang adalah menantu sekaligus kemenakannya.

Menegaskan kembali bahwa Nararya Turukbali dan Sri Jayakatwang adalah sama-sama cucu sang Anusapati, ayahanda Seminingrat, yang sepantasnya mendapat kedudukan bagus di dalam keluarga raja.

PEMERINTAHAN JAYAKATWANG

Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap Kertanagara di Singhasari.

Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Gelang-Gelang . Setelah Singhasari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri.

Sempat muncul pendapat bahwa Gelang-Gelang merupakan nama lain dari Kadiri. Namun gagasan tersebut digugurkan oleh naskah prasasti Mula Malurung (1255).

Dalam prasasti itu dinyatakan dengan tegas kalau Gelang-Gelang dan Kadiri adalah dua wilayah yang berbeda. Prasasti itu menyebutkan kalau saat itu Kadiri diperintah Kertanagara sebagai yuwaraja (raja muda), sedangkan Gelang-Gelang diperintah oleh Turukbali dan Jayakatwang.

Lagi pula lokasi Kadiri berada di daerah Kediri, sedangkan Gelang-Gelang ada di daerah Madiun. Kedua kota tersebut terpaut jarak puluhan kilometer.

PEMBERONTAKAN JAYAKATWANG

Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan Jayakatwang menyimpan dendam karena leluhurnya (Kertajaya) dikalahkan Ken Arok pendiri Singhasari. Suatu hari ia menerima kedatangan Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya, berisi anjuran supaya Jayakatwang segera memberontak karena saat itu Singhasari sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa.

Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanagara.

Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Daha pada 1293M dan pendirian Kerajaan Majapahit. Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari.

Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi bupati Sumenep. Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel.

Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa.

 Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Goyang menyerbu Singhasari dari utara atau dari arah Hering. Jadi melalui lembah timur gunung Penanggungan.

Pasukan Jaran Guyang berderap riuh merajalela di sepanjang perjalanan menuju kotaraja Singasari. Sudah barang tentu para penduduk di sepanjang perjalanan itu gemetar kocar-kacir, mengungsi dan sebagian mencari perlindungan ke Singasari sekaligus menyampaikan pesan kepada pihak keraton.

Mendengar kabar penyerbuan itu, Sri Kertanagara memerintahkan Nararya Sanggramawijaya dan Ardharaja memimpin pasukan menghadang laju pasukan musuh dari utara.

Nararya Sanggramawijaya diiringi para kesatria terkemuka Tumapel seperti Arya Adikara, Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Sora, Dangdi, Ki Ageng Gajah Pagon, serta tiga putra Arya Wiraraja yaitu Nambi, Peteng, dan Wirot. Semua prajurit terbaik itu melawan pasukan Daha di bagian utara serentak mengamuk dan pasukan Jaran Guyang terpukul mundur.

Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singhasari kosong. Tanpa diduga bergeraklah pasukan besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Laksa menuju daerah Lawor, diam-diam tanpa menimbulkan kegaduhan, tanpa mengibarkan panji-panji. Kedatangnya di Sidhabuwana langsung berderap menuju kota Singasari. Yang menjadi pemimpin adalah Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot, dan Bawong.

Ardharaja putra Jayakatwang, tentu saja berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi pasukan ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singhasari, Ardaraja berbalik meninggalkan pasukan Raden Wijaya, bergabung dengan pasukan Daha atau Gelang-Gelang.

Saat itu Sri Kertanagara sedang mengadakan pesta minuman keras sebagai salah satu ritual agamanya. Dengan gagah keluar menghadapi serangan musuh. Sang maharaja Tumapel itu akhirnya gugur di Balai Manguntur sebagai kesatria bersama Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Tumenggung Wirakreti.

Kotaraja Singasari jatuh. Peristiwa kehancuran Singhasari terjadi tahun 1292.Tumapel dikuasai sepenuhnya oleh Jayakatwang. Jayakatwang lalu menjadi raja, dengan Daha sebagai pusat pemerintahannya.

 Sementara Nararya Sanggramawijaya melarikan diri ke Terung di utara Singhasari. Karena terus dikejar musuh rombongan memilih pergi ke timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, Nararya Sanggramawijaya menyeberangi Selat Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja penguasa Songeneb.

 GUGURNYA JAYAKATWANG

Arya Wiraraja hanya menyimpan dendam pribadi pada Kertanegara, berhubungan dengan sikap sang raja yang antara lain menggabungkan tiga agama yaitu Siwa Buda dan Jawa menjadi agama Siwa Boja. Arya Wiraraja menganut Siwa seperti Raden Wijaya. Sedangkan Jayakatwang penganut Wisnu sebagaimana

leluhur Panjalu, agama warisan Erlangga. Setelah dendam pribadi pada Kertanegara terbalas, Arya Wiraraja berniat menyingkirkan pengaruh Jayakatwang yang menganut Wisnu, Arya Wiraraja cenderung mendukung Raden Wijaya yang menganut Siwa.

Maka setelah menerima kedatangan rombongan nararya Sanggramawijaya, Arya Wiraraja berbalik haluan membantu putra Dyah Lembu Tal itu merebut kembali takhta peninggalan mertuanya. Nararya Sanggramawijaya berjanji jika kelak berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja.

Siasat pertama pun dijalankan. Langkah pertama Arya Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Nararya Sanggramawijaya dan seluruh pengikutnya siap menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kerajaan Panjalu Daha menerimanya dengan senang hati. Sri Jayakatwang segera mengirim utusan menjemput rombongan Nararya Sanggramawijaya di pelabuhan Jungbiru.

Siasat berikutnya, Nararya Sanggramawijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Arya Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb membantu Wijaya membuka hutan tersebut yang kemudian diberi nama Majapahit.

 Sampai kemudian, berdasarkan catatan Dinasti Yuan, pada 1293M pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang dipimpin Ike Mese mendarat di Jawa berniat menghukum Kertanagara lantaran pada 1289M telah melukai utusan yang dikirim Kubilai Khan. Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia lalu mengundang Ike Mese ke Desa majapahit dan memberi tahu jika dirinya ahli waris Raja Kertanagara yang sudah wafat.

Nararya Sanggramawijaya meminta bantuan pihak Mongol untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang. Setelah itu baru bersedia menyatakan tunduk pada kekuasaan Kubilai Khan.

 Mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese, Sri Jayakatwang segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha.

Berita Cina menyebutkan perang terjadi pada 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Daha sejak pagi hari. Sekitar 5000 orang Daha menjadi korban. Kota Daha benar-benar Dahanapura, kota api. Daha lautan api. Pasukan besar Mongol membungihangus keraton Jayakatwang.

 Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol. Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit diusir dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, Jayakatwang meninggal dunia di dalam penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.

Setelah Jayakatwang hancur, Nararya Sanggramawijaya meminta izin kembali ke Majapahit, mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampai di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya.

Ia kemudian memimpin serangan balik ke Daha di mana pasukan Mongol berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

Kisah Asal usul dan Silsilah Jayakatwang, Pemusnahan Kerajaan Singasari

Parikesit adalah seorang tokoh dari kisah Mahabharata. Ia adalah raja Kerajaan Kuru dan cucu Arjuna. Ayahnya adalah Abimanyu sedangkan putranya adalah Janamejaya.


Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan bahwa Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka yang bersembunyi di dalam buah jambu, sesuai dengan kutukan Brahmana Srenggi yang merasa sakit hati karena Prabu Parikesit telah mengalungkan bangkai ular hitam di leher ayahnya, Bagawan Samiti.

PERISTIWA SEBELUM KELAHIRAN

Saat Parikesit masih berada dalam kandungan, ayahnya yang bernama Abimanyu, turut serta bersama Arjuna dalam pertempuran besar Baratayuda di daratan Kurukshetra. Dalam pertempuran tersebut, Abimanyu gugur dalam serangan musuh yang dilakukan secara curang, dan meninggalkan ibu Parikesit yang bernama Utara (atau Utarimenurut versi Jawa).

Pada pertempuran di akhir hari kedelapan belas, Aswatama bertarung dengan Arjuna. Aswatama dan Arjuna sama-sama sakti dan sama-sama mengeluarkan senjata Brahmāstra. Karena dicegah oleh Resi Byasa, Aswatama dianjurkan untuk mengarahkan senjata tersebut kepada objek lain. Maka Aswatama memilih agar senjata tersebut diarahkan ke kandungan Utari. Senjata tersebut pun membunuh Parikesit yang masih berada dalam kandungan. Atas pertolongan dari Kresna, Parikesit dihidupkan. Aswatama kemudian dikutuk agar mengembara di dunia selamanya.

MENJADI RAJA HASTINAPURA

Saat dimulainya zaman Kali Yuga, yaitu zaman kegelapan, dan mangkatnya KresnaAwatara dari dunia fana, Pandawa lima bersaudara lalu meninggalkan pemerintahan. Parikesit sudah layak diangkat menjadi raja, dengan Krepa sebagai penasihatnya. Ia menyelenggarakan Aswameddha Yajña tiga kali di bawah bimbingan Krepa.

Parikesit naik tahta di negara Hastinapura menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudistira setelah menjadi raja negara Hastinapura. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.

KUTUKAN SANG SRENGGI

Pada suatu hari, Raja Parikesit pergi berburu ke tengah hutan. Ia kepayahan mengejar seekor buruan, lalu berhenti untuk beristirahat. Akhirnya ia sampai di sebuah tempat pertapaan di mana tinggal Bagawan Samiti. Ketika itu sang Resi sedang duduk bertapa dan membisu.

Tatkala Sang Raja bertanya kemana buruannya pergi, Bagawan Samiti hanya diam membisu karena pantang berkata-kata saat sedang bertapa. Karena pertanyaannya tidak dijawab, Raja Parikesit menjadi marah dan mengambil bangkai ularyang ada di dekatnya dengan anak panahnya, lalu mengalungkannya ke leher Bagawan Samiti. Peristiwa itu kemudian diceritakan Sang Kresa kepada putera Bagawan Samiti yang bernama Sang Srenggi yang pemarah.

Saat Sang Srenggi pulang, ia melihat bangkai ular hitam melilit leher ayahnya. Karena marahnya, kemudian Sang Srenggi mengucapkan kutukan bahwa Raja Parikesit akan mati digigit ular dalam tujuh hari sejak kutukan tersebut diucapkan. Bagawan Samiti kecewa terhadap perbuatan puteranya tersebut, yang mengutuk raja yang telah memberikan mereka tempat berlindung.

Akhirnya Bagawan Samiti berjanji akan mengurungkan kutukan tersebut. Ia lalu mengutus muridnya untuk memberitahu Sang Raja, namun Sang Raja merasa malu untuk meminta diurungkannya kutukan tersebut dan memilih untuk berlindung.

Pada saatnya, Naga Taksaka pergi ke Hastinapura untuk melaksanakan perintah Sang Srenggi untuk menggigit Sang Raja. Penjagaan di Hastinapura sangat ketat. Sang Raja berlindung dalam menara tinggi dan dikelilingi oleh prajurit, brahmana, dan ahli bisa. Untuk dapat membunuh Sang Raja, Naga Taksaka lalu menyamar menjadi ulat dalam buah jambu.

Kemudian jambu tersebut disuguhkan kepada Sang Raja. Merasa telah aman, karena saat itu adalah sore hari ke tujuh, Raja Parikesit menjadi lengah. Kutukan tersebut lalu menjadi kenyataan. Ketika jambu hendak dimakan, ulatnya berubah menjadi Naga Taksaka kembali, yang lalu menggigit leher Sang Raja. Parikesit lalu tewas menjadi abu, dan Naga Taksaka pulang ke dalam bumi.

KETURUNAN RAJA PARIKESIT

Parikesit menikahi Madrawati, dan memiliki seorang putera bernama Janamejaya. Janamejaya diangkat menjadi raja pada usia yang masih muda. Janamejaya menikahi Wapushtama, dan memiliki dua putera bernama Satanika dan Sankukarna. Satanika diangkat sebagai raja menggantikan ayahnya dan menikahi puteri dari Kerajaan Wideha, kemudian memiliki seorang putra bernama Aswamedhadatta.

Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putera, yaitu:

- Dewi Puyangan, berputera Ramayana dan Pramasata
- Dewi Gentang, berputera Dewi Tamioyi
- Dewi Satapi alias Dewi Tapen, berputera Yudayana dan Dewi Pramasti
- Dewi Impun, berputera Dewi Niyedi
- Dewi Dangan, berputera Ramaprawa dan Basanta.

Para keturunan Raja Parikesit tersebut merupakan raja legendaris yang memimpin Kerajaan Kuru.

Sejarah Asal Usul Parikesit Putra Abimanyu dalam kisah Mahabharata

Kuwaluhan.com

Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari hidayat, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.

Berikut Silsilah Angkling Darma Sampai Arjuna :

- Arjuna berputra Abimanyu
- Abimanyu berputra Parikesit
- Parikesit berputra Yudayana
- Yudayana berputra Gendrayana
- Gendrayana berputra Jayabaya
- Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti
- Dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Angling darma.

KELAHIRAN ANGLING DARMA

Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastinamenjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.

Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.

Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.

Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.

Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.

Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.

Itulah Penjelasan Tentang Keturunan Angling Darma hingga Arjuna Mahabharata. Semoga bermanfaat.

Jika ada kekurangan mohon maaf ya gays..!! 😀

Garis Keturunan dan Silsilah Angling Darma Sampai Arjuna

Prabu Angling Dharma adalah raja agung dari Kerajaan Malawapati, lokasi makamnya diyakini terletak di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati, Jawa Tengah.


Namanya begitu tersohor, terkenal, dan legendaris dari ingatan manusia dari zaman ke zaman, dari satu peradaban ke peradaban lain. Tidak jelas kapan, tahun atau jaman keberadaan Kerajaan Angling Dharma.

Namun, Sang Raja Agung, Prabu Angling Dharma diyakini hidup pada masa Hindu menjadi agama mayoritas di Tanah Jawa, Bumi Nusantara yang kini bernama Indonesia. Dia dikenal sebagai pemimpin yang bijaksana, mengayomi masyarakat dengan baik.

Dalam kisah, cerita tutur dan mitos yang berkembang, Prabu Angling Dharma tidak hanya negarawan ulung yang pandai ilmu tata negara, tetapi juga menguasai ilmu kanuragan, silat atau lebih tepatnya ksatria pilih tanding. Tidak hanya itu, Sang Raja juga bisa memahami bahasa hewan atau binatang, serta menguasai ilmu gaib tingkat tinggi.

Mirip dengan kemampuan Nabi Sulaiman As yang menjadi pemimpin bagi bangsa manusia, bangsa gaib, dan makhluk dari binatang. Mereka adalah orang-orang pilihan yang dipercaya Tuhan untuk menjadi khalifah di bumi, memimpin rakyat.

Meski demikian, nama Sang Prabu bersinar dan terus bersinar dari masa ke masa. Seperti kata seorang penulis asal Britania, H.G. Wells yang berkomentar tentang Raja Asoka, "Dalam sejarah dunia, ada ribuan raja dan kaisar yang menyebut dirinya dengan kata Yang Agung atau Yang Sangat Mulia. Mereka bersinar selama waktu yang singkat, kemudian hilang. Tapi, Asoka tetap bersinar dan bersinar cemerlang seperti bintang yang cemerlang, bahkan sampai sekarang."

Sama halnya Angling Darma, raja yang memiliki patih sakti bernama Batik Madrim ini namanya selalu dikenal dalam sejarah, meski keabsahan kisahnya belum diakui sebagai sebuah fakta sejarah. Bekas dan sisa-sisa kerajaannya pun belum ditemukan hingga sekarang.

Di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur juga diyakini sebagai tempat atau petilasan Sang Prabu. Namun, juru kunci makam Angling Darma di Kabupaten Pati, Suroso menuturkan bila di Kabupaten Bojonegoro hanyalah petisan saat dia dikutuk menjadi belibis putih oleh tiga peri atau siluman cantik.

Di Bojonegoro, Prabu Angling Dharma mendapatkan seorang putri cantik, anak dari Raja Bojonegoro. Dari istri ini, Sang Prabu dikaruniai seorang anak, Pangeran Angling Kusuma.

Setelah dewasa, Angling Kusuma menggantikan tahta kakeknya dan menjadi Raja Bojonegoro. Dari analisis tersebut, Suroso yakin jika makam Prabu Angling Darma berada di Dukuh Mlawat, Desa Baleadi, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati.

Sedangkan Makam Batik Madrim berada di Desa Kedungwinong, Sukolilo yang jaraknya hanya sekitar 2 km dari makam Angling Darma. Tidak jauh dari tempat tersebut, juga ada Gua Eyang Naga Raja (ejaan Jawa: Nogo Rojo) yang diyakini sebagai tempat peristirahatannya.

Tempat-tempat tersebut sekarang ini banyak dimanfaatkan masyarakat untuk menggelar wisata religi (religious tourism). Tentu, hanya orang-orang kalangan spiritualis-mistis, serta pegiat sejarah yang biasa mengunjungi makam tersebut untuk wisata religi.

KUTUKAN KEPADA ANGLING DHARMA


Pada waktu Angling darma berburu di hutan, dia melihat dua pasang burung jalak (jelmaan Sang Hyang Batara Guru dan Dewi Uma, isterinya) berasyik-masyuk di atas pohon persis di atas kepala Sang Raja. Kedua-dua ekor burung itu pun dipanahnya, matilah si burung betina. Burung jantan pun mengucapkan kutuknya: Angling Darma akan berpisah dengan isterinya ketika keduanya sedang bercinta-cintaan. Dewi Setyowati keluar menjemput kedatangan raja yang pulang dari berburu.

Raja dan permaisuri memasuki peraduan, tetapi raja bermuka murung memikirkan hukuman yang akan dijatuhkan oleh Naga Pertala. Dewi Setyowati salah sangka terhadap sikap sang raja. Sang Dewi mengira Raja tidak sudi dengan dirinya. Untuk mencairkan suasana tersebut, diceritakanlah peristiwa terbunuhnya ular Tampar itu.

Naga Gini memfitnah Angling Darma kepada lakinya bahwa Angling Darma sudah mencoba memperkosa dirinya. Tentu saja Sang Naga Pertala marah dan ingin menghancurkan Angling Darma. Ketika Sang Naga menyamar masuk menjadi udara, ia mendengar penuturan Angling Darma dengan sang permaisuri. Karena perbuatan Angling Darma dianggap menyelamatkan Naga Pertala dari malu, Sang Raja Mlowopati dihadiahi mukjizat seperti Nabi Sulaiman, yaitu mampu memahami bahasa semua binatang, dengan syarat tidak boleh diajarkan kepada siapapun.

Ketika Raja dan Ratu beradu, terdengarlah oleh Angling Darma percakapan dua ekor cicak yang mengajak pasangannya berbuat seperti Raja dan Ratu.  Mendengar hal tersebut, Angling Darma tertawa. Setyowati tersinggung hatinya, dianggapnya Sang Raja mentertawakan dirinya yang tidak mampu melayani Sang Raja.

Untuk mencairkan suasana, terpaksalah Sang Raja menceritakan ilmu dari sahabatnya, Naga Pertala. Akan tetapi di sinilah awal bencana itu . Dewi Setyowati meminta diajari ilmu memahami bahasa binatang itu, jika tidak, ia akan membunuh diri dengan cara terjun ke dalam api. Untuk menunjukkan cintanya, Raja ingin bunuh diri bersama.

Ketika raja dan ratu telah siap di anjungan, api mulai marak, di bawah panggung ada dua ekor domba bertengkar: si jantan dipaksa oleh si betina untuk mengambilkan daun kelapa sebagai pengubat ‘nyidam’ hamilnya. Domba jantan menolak. Ketika domba betina mengancam hendak bunuh diri, bahkan si jantan menyuruh betinanya untuk melakukannya.

Setelah domba betina mati dalam api, domba jantan pun lenyap karena keduanya adalah dewa yang menyamar. Mendengar domba jantan tidak mau ikut musnah dalam api, berubahlah pikiran sang Raja: Sang Isteri dibiarkan melompat sendiri. Dan Sang Raja pun sangat berduka dan berkata: Saya tidak akan kawin lagi jika tidak ada wanita yang menyamai Dewi Setyowati.

Janji Angling Darma tersebut didengar oleh Dewi Uma dan Dewi Ratih. Kedua-duanya lalu menguji keteguhan janji itu dengan cara menyamar menjadi nenek-nenek dan gadis cantik menyerupai Dewi Setyowati. Ketika melihat gadis cantik dekatnya, runtuhlah iman Sang Raja yang baru kehilangan permaisurinya itu. Seketika itu, Dewi Uma menghukum Angling Darma: ia harus meninggalkan istananya, dan kerajaannya akan tampak seperti hutan sehingga hukuman selesai. 

Raja pun memulai pengembaraannya yang pertama di kerajaan Mloyopati. Angling Darma diberitahu oleh seorang nenek bahwa di sini tinggal tiga orang puteri raksasa yang cantik. Angling Darma ingin tahu keadaan gadis tersebut. Darah mudanya mendorongnya untuk memperisteri tiga orang gadis yang ternyata pemakan daging manusia.

Ketika rahasia ketiga-tiga gadis itu terbongkar, mereka marah dan mengutuk Angling Darma menjadi burung Belibis. Mendapatkan kutuk yang kedua kali, keyakinan diri sang raja mulai menurun. Sambil terbang, dikatakannya bahwa ia lebih baik mati. Sampailah burung Belibis ke desa Wonosari, Bojonegoro, tempat tinggal Demang Klungsur dan Geduk pembantunya.

Terbetik dalam hati burung belibis untuk mengabdi kepada Geduk yang pada waktu itu sedang memasang jerat untuk menangkap burung. Secara sengaja kaki belibis dimasukkan ke jerat tersebut. Belibis dibawa kepada Ki Demang. Burung belibis menasihati Ki Demang untuk berhenti menjerat burung, meningkatkan pertanian, dan belajar menjadi pedagang telur burung belibis. Ki Demang menjadi kaya-raya dan kampungnya mulai dikenal orang.

Suatu hari Raja Darmowiseso, ayah Dewi Srenggono, mendapatkan ujian berupa dua orang rakyatnya berebut isteri bernama Bermani. Kedua-duanya mengaku asli bernama Bermana. Padahal salah satunya adalah palsu. Belibis mendengar kabar tentang persoalan raja Darmowiseso dari burung gagak. Belibis membujuk Ki Demang untuk mengambil bagian dalam sayembara mengungkap suami kembar tersebut. 

Belibis memberitahu suatu siasat kepada Ki Demang: Siapa yang berhasil masuk ke dalam kendi ialah suami asli Bermani. Dengan siasat itu, tertangkaplah suami palsu. Sebab tidak mungkin manusia biasa bisa masuk ke dalam kendi sekecil itu. Ki Demang diangkat menjadi Patih Jaksanegara. Burung belibis menggoda Dewi Srenggonowati yang sedang duduk di taman. Dewi memerintahkan para pengiringnya menangkap belibis, tetapi tidak berhasil.

Pulang ke istana sambil menangis karena menginginkan burung belibis. Patih Jaksanegara disuruh mencari belibis tersebut. Ki Patih berkata kepada raja bahwa dirinya mempunyai burung belibis putih. Burung Belibis menjadi kesayangan Dewi Srenggonowati. Burung Belibis, Dewi Srenggonowati, dan para emban bersenang-senang sambil bermain tebak-tebakan (teka-teki) atau melantunkan tembang. Tembang yang dilantunkan berisi kehebatan, kegagahan, kebagusan rupa, dan kesaktian Angling Darma yang diaku sebagai tuan/ rajanya Si Burung.

Dewi Srenggonowati terharu mendengar tembang Si Burung Belibis. Ketika makan bersama belibis, Dewi Srenggono bertanya mengapa tuannya dulu meninggalkan keratonnya. Belibis menjawab bahwa rajanya ditinggal mati bunuh diri oleh isterinya. Kali ini, Sang Burung memberitahu Sang Dewi tentang syarat-syarat memilih suami. Pada waktu Sang Dewi tidur, belibis menciuminya.

Burung Belibis minta kepada Dewi untuk mencabut jambul (bulu di kepala). Tahulah Sang Putri bahwa burung belibis adalah Sang Angling Darma sendiri. Kemudian, mereka berdua bersandiwara, siang menjadi belibis malam tidur berdua sebagai manusia biasa.

Sampai pada suatu ketika Sang Dewi Srenggonowati hamil. Hal ini tentu membuat Raja dan ratu susah hati. Sang Raja mengadakan sayembara: siapa yang mampu menangkap maling (pencuri) sakti boleh mempersunting puteri, diangkat sebagai raja muda, dan akan mendapat kekuasaan separuh negara.

Di sisi lain Batik Madrim, patih Mlowopati, berangkat mencari rajanya. Sebelum berangkat ia menunjukkan kesaktiannya dengan mengatakan, “Jika pohon siwalan ini boleh saya cabut, Gusti Pangeran Angling Darma” masih hidup. Ternyata ia dapat mencabut pohon tersebut. Patih Madrim menugaskan Jajaningrat dan Wijanarko untuk menjaga kerajaan sewaktu dia mencari Raja Angling Darma. Madrim menyamar menjadi Pendeta Wasi Batik Madrim.

Batik Madrim berjumpa dengan Patih Bojonegoro yang mencari orang sakti yang dapat menangkap maling sakti yang bersembunyi di negara Bojonegoro. Batik Madrim menyanggupi bahwa dirinya sanggup menangkap maling sakti tersebut. Batik Madrim tahu bahwa maling yang dicurigai itu bersembunyi di tempat peraduan sang puteri. Batik Madrim minta agar puteri disuruh menghadap sang raja dengan Burung Belibisnya sekali. Batik Madrim meminta Dewi menyerahkan Burung belibis karena di situlah maling itu sembunyi, tetapi Roh Angling Darma berpindah dari satu tempat ke tempat lain, termasuk antaranya ke dalam cincin yang dipakai oleh Dewi Srenggono.

Maharaja Angling Darma berubah diri menjadi besar sambil membujuk Batik Madrim untuk masuk ke dalam api. Mengenali suara rajanya. Madrim kemudian menyembah dan mengaku kalah. Sambil menangis, Madrim meminta agar rajanya bersedia menghadap Raja Darmawiseso, ayahanda Dewi Srenggonowati, agar dibenarkan mempersunting puterinya. Raja Darmawiseso justru sangat gembira karena tahu bahwa menantunya adalah raja termasyhur.

Setelah perkawinan selesai, Angling Darma berkata kepada ayah mertuanya bahwa ia tidak bersedia menjadi raja. Kemudian ia berpamitan untuk meneruskan perjalanan, karena waktu hukuman/kutukan belum selesai. Batik Madrim diperintahkan kembali ke Mlowopati, tetapi ia ingin menemani Sang Raja.

Dalam perjalanan, Angling Darma menyembuhkan orang tuli dan lumpuh. Kemudian, Raja dan Madrim menemukan pengumuman berisi sayembara mengobati puteri raja Basunanda, raja Kertanegara, yang bernama Trusilowati yang sakit bisu. Barang siapa dapat mengobatinya, boleh memperisterinya. Menuju Kerajaan Kertanegara. Di sana Angling Darma dan Madrim menyaksikan dukun-dukun mengobati Trusilowati.

Angling Darma, menyamar menjadi pendeta, meminta izin kepada raja Basunanda untuk mengobati Trusilawati. Kata Basunanda, jika Trusilowati berhasil berbicara tiga kali, berarti ia sudah sembuh. Angling Darma mengatakan bahwa roh Trusilowati dibawa oleh Raja Raksana Pancadnyono dari negara Simbarmanyuro, karena dalu lamarannya sempat ditolak. Roh itulah yang kemudian dikembalikan oleh Angling Darma.

Untuk mengujinya, Batik Madrim memberi teka-teki patung. Angling Darma menunjukkan kesaktiannya dengan cara menyuruh tempat tembakau dan lampu melanjutkan teka-teki. Setelah tiga kali puteri Trusilo menjawab teka teki dengan benar. Berarti ia telah betul-betul sembuh dari penyakit bisunya. 

Angling Darma dikawinkan dengan Sang Puteri. Raja-raja yang pernah mencoba mengobati Sang Puteri amat marah mendengar Dewi Trusilo sudah dikawinkan. Mereka hendak menyerang Kertanegara, tetapi Angling Darma dan Madrim membela Kerajaan Kertanegara. Angling Darma meminta diri hendak meneruskan perjalanan. Trusilo memaksanya untuk ikut. Di perjalanan, Batik Madrim iri hati dengan keberhasilan Angling Darma mempersunting dua orang puteri cantik. Kata hatinya, semestinya dibagi satu-satu. Hatinya yang dengki menyusun siasat.

Ketika Trusilo haus dan ingin meminta air, Madrim menyuruh Angling Darma memasuki badan burung merak untuk mengambil buah kelapa muda. Ketika roh Angling masuk ke badan burung merak, jasad Angling dimasuki roh Madrim. Madrim dengan tubuh Angling menggoda Trusilo, tetapi gagal. Ia lalu berbalik arah menuju Bojonegoro hendak memperdayakan Dewi Srenggono. Dewi Srenggono menolak untuk bertemu karena taat pesan suaminya, bahwa ia akan kembali jika ada kambing mengalahkan gajah. 

Kelakuan Madrim sungguh aneh. Madrim bertubuh Angling Darma suka bermabuk-mabukan minum arak. Melihat itu semua Merak putih terbang menuju taman Bojonegoro menjumpai Dewi Srenggono isterinya yang sedang tertidur di pinggir taman. Dewi Srenggono meluapkan rindunya kepada suaminya. Juga dituturkannya keadaan puteranya yang sudah mulai besar. Disampaikannya juga perilaku Madrim dengan rupa Angling Darma bahwa ia suka berjudi dan mengadu kambing dengan gajah.

Burung Merak dan Dewi Srenggono mengatur strategi. Madrim bertubuh Angling disuruh datang ke tempat peraduan dengan membawa kambingnya. Di situ, Madrim diberi minum arak. Setelah setengah mabuk, Dewi Srenggono minta agar kambing mengambilkan bunga gading. Tanpa berfikir panjang, roh Madrim meninggalkan jasad Angling dan masuk ke tubuh kambing. Roh Angling Darma pun segera menyusup ke tubuhnya sendiri.

Ketika tahu bahwa dirinya tertipu, kambing pun mengamuk menyerang Angling Darma asli. Namun, raja mesti menang dari patihnya. Madrim pun meminta ampun. Angling Darma mengampuni kesalahan patihnya, dan menyuruhnya untuk segera mencari badan wadahnya di dalam gua di tengah hutan.

Sejak itu, selesailah sudah hukuman dewa kepada Angling Darma. Kerajaan Bojonegoro selanjutnya diserahkan kepada Angling Darma oleh raja Darmowiseso.

Setelah Putera Angling dengan Dewi Srenggono yang bernama Anglingkusumo telah beranjak dewasa, ia dibawa ke pertapaan oleh datuknya. Di sisi lain Trusilo pun telah melahirkan puteranya dengan diberi nama Danurwendo. Pada waktu ini pula, Raja Raksana Pancadnyono yang merasa memiliki Trusilowati ingin merebut kembali Sang Puteri dari tangan Angling Darma. Pancadnyono menyerang Mlowopati. Patih dan rakyat Mlowopati kekalahan menghadapi serangan pasukan Pancadnyono.

Patih Arjo Wijanarko bertekad hendak melawan pasukan yang menyerang. Patih Aryo Wijanarko diberitahu oleh Bagawan Maloyosidi bahwa Pancadnyono bukan tandingannya. Prabu Angling Darma bersama dengan isteri-isteri dan putera-puteranya menuju ke Mlowopati. Rombongan ini diiringi tiga ribu pasukan. Pasukan Pancadnyono dibunuh pada saat mabuk. Danurwendo berperang dengan gagah dan banyak membunuh musuh. Madrim akhirnya berhasil menemukan tubuhnya.

Ia segera kembali ke Kerajaan Mlowopati untuk ikut berperang melawan patih Kalasrenggi. Angling Darma dan pasukannya akhirnya memenangi peperangan melawan Pancadnyono. Raja Mlowopati kembali ke keratonnya bersama Dewi Srenggono, Trusilo, dan Mayangkusuno serta putera-puteranya.

Cerita sejarah dan Asal-usul Angling Darma

Subscribe Our Newsletter