Social Items

Kangsa sesungguhnya bukanlah putra kandung Ugrasena. Dalam Bhagawata Purana dikisahkan, ada seorang raksasa yang terbang di atas kota Mathura dan terpesona melihat Padmawati, istri Ugrasena.


Raksasa itu kemudian menjelma menjadi Ugrasena dan bersetubuh dengan Padmawati. Dari hubungan itu lahirlah Kangsa. Kitab Padmapurana menyebutkan bahwa Gobila, teman dewa Kuwera terpesona dengan Padmawati saat sang putri berada di Widarbha.

Gobila menyamar menjadi Ugrasena, lalu merayu Padmawati. Mereka tinggal di Widarbha selama beberapa tahun. Saat Padmawati hamil, Gobila mengakui hal yang sebenarnya karena didesak Padmawati.

Akhirnya ia meninggalkan Padmawati, sementara Padmawati kembali ke Mathura. Tidak ada seorang pun yang mengetahui kenyataan ini, termasuk Kangsa sendiri.

VERSI LAIN

Pada waktu Raja Darmaji berusaha mencari mahkota Bathara Rama, lalu pergi ke kerajaan Dwarawati. Ketika raja Darmaji datang, raja Dwarawati, Ditya Kresna sedang dihadap oleh Patih Muksamuka, Murkabumi, Muksala, Karungkala dan Gelapsara. Ditya Kresna menyapa dan bertanya maksud kedatangan Darmaji. Raja Darmaji meminta mahkota Bathara Rama yang dipakai Ditya Kresna. Namun Ditya Kresna tidak mau memberikannya, maka terjadilah perkelahian. Raja Darmaji mati karena digigit, dan putus perutnya.

Padmawati, isteri pertama Basudewa, cemburu akibat kehadiran Ugraini dan Badraini. Ia berusaha membunuh mereka namun gagal. Pada suatu malam Padmawati bertemu dengan raja Gorawangsa yang menyamar sebagai raja Basudewa. Padmwati tidak mengira bahwa yang dijumpainya adalah Basudewa palsu.

Namun padmawati menyambut dengan senang hati. Pertemuan padmawati dengan Basudewa palsu berkepanjangan, akhirnya Angsawati (padmawati) hamil.

Raja Basudewa sungguhan tidak mengetahui hal itu. Ia tidak mengerti bahwa isterinya hamil karena Gorawangsa. Pada bulan ketujuh, raja hendak mengadakan selamatan. Sang raja dan para pegawai istana hendak berburu ke hutan. Basusena bertugas menunggu kerajaan.

Pada suatu malam Basusena berkeliling di istana. Waktu tiba di tempat tinggal Angsawati ia mendengar suara tamu pria di kamar. Setelah dilihat, nampak bahwa pria dalam kamar itu adalah Basudewa. Setelah Basusena lama memandang, Basudewa nampak seperti raksasa. Basudewa palsu diserang, terjadilah perkelahian. Basusena mengenakan senjata, lalu Basudewa palsu berubah menjadi Gorawangsa. Raksasa Gorawangsa lari kembali ke negara Jadingkik.

Basusena kembali ke hutan, melapor peristiwa yang terjadi di istana. Dikatakannya, Angsawati berbuat serong dengan raksasa. Raja Basudewa marah, Basusena disuruh membawa Angsawati ke hutan, untuk kemudian membunuh dan mengambil hatinya. Bila hati Angsawati berbau busuk berarti bayi dalam kandungan bukan anaknya, sedangkan bila berbau harum berarti bayi itu anak Basudewa.

Basusena menjalankan perintah raja Basudewa. Angsawati dibawa ke tengah hutan dan dibunuhnya. Hatinya diambil, dan setelah dicium ternyata berbau busuk. Basusena membawa hati itu kepada sang raja. Karena hati tersebut berbau busuk, raja percaya bahwa bayi dalam kandungan bukanlah anaknya.

Bathara Wisnu, Dewi Sri dan Bathara Basuki mengelilingi dunia guna mencari titisan raja Watugunung. Diketahuinya, raja Gorawangsa adalah titisan raja Watugunung. Maka Bathara Wisnu meminta Bathara Basuki agar menitis kepada raja Basudewa, untuk mengalahkan raja Gorawangsa.

Bathara Wisnu kembali ke kahyangan. Kepada Bathara Guru, ia minta ijin untuk menitis ke dunia, untuk membunuh titisan raja Watugunung. Bathara Guru memberi ijin, dan memberi tugas kepada Bathara Wisnu untuk mengadu ayah melawan anak, mengadu sesama saudara. Namun Bathara Wisnu tidak boleh ikut berperang, hanya diperkenankan terlibat dalam pembicaraan.

Bathara Wisnu menerima tugas tersebut tetapi mengajukan permintaan. Permintaan itu ialah bagi mereka yang bermusuhan supaya diperkenankan naik ke surga, supaya dirinya diperkenankan duduk di dua belah pihak, dan supaya disertai Bathara Basuki untuk bersama menitis ke dunia. Bathara Guru mengabulkan permintaan tersebut, lalu menyuruh Bathara Narada agar keberanian Wisnu dijelmakan kepada Arjuna. Sedang Bathara Wisnu diminta menjelma menjadi putra Basudewa.

Bathara Wisnu turun ke dunia bersama Dewi Sri. Senjata Cakranya dititipkan kepada awan yang dijaga dua dewa. Bathara Wisnu berpesan, bahwa senjata itu hanya boleh diambil Narayana. Selain Nayarana, tidak seorang pun berhak mengambilnya.

Raja Basudewa telah mempunyai putra. Ugraini telah melahirkan anak laki-laki berkulit putih, titisan Bathara Basuki. Anak itu diberi nama Kakrasana. Bathara Wisnu dan Dewi Sri merasuk ke jiwa raja Basudewa. Saat mereka merasuk, Basudewa bermimpi melihat matahari dan bulan. Matahari dan bulan itu kemudian bersatu.

Anak padmawati yang dibawa raja Gorawangsa diberi nama Kangsa. Setelah dewasa Kangsa menanyakan, siapa ibunya. Gorawangsa menjelaskan bahwa ibunya bernama padmawati, isteri Basudewa raja Mathura. Tetapi ibunya telah meninggal dunia, dibunuh oleh Basusena atas perintah raja Basudewa. Mendengar penjelasan Gorawangsa itu Kangsa ingin membalas kematian ibunya. Gorawangsa berpesan agar Kangsa menemui pamannya yang bernama Arya Prabu, adik Angsawati. Kangsa meninggalkan Jadingkik menuju ke Mathura.

Di Mathura Kangsa menemui Arya Prabu, lalu menyampaikan maksud kedatangannya. Arya Prabu berjanji akan membantunya. Mereka berdua menghadap raja Basudewa yang sedang dihadap Basusena dan warga Mandura.

Kangsa menyampaikan maksud kedatangannya, yakni ia akan membalas kematian ibunya. Terjadilah perkelahian antara Kangsa dengan Basusena. Basusena kalah, lalu melarikan diri. Raja Basudewa dimasukkan ke dalam penjara. Gorawangsa datang bersama pasukan raksasa. Kangsa lalu menduduki tahta kerajaan Mathura.

Basudewa berhasil melarikan diri bersama dengan Badraini yang sedang hamil dan Kakrasana yang masih kanak-kanak. Perjalanan mereka terhalang oleh Bengawan Erdura. Bathara Sakra datang menolong dan menyeberangkan mereka. Basudewa diminta mengungsi ke kademangan Widarakandang. Sang Bathara memberi tahu bahwa kelak Badraini akan melahirkan dua anak.

Di Widara kandhang Badraini melahirkan seorang bayi laki-laki dan dua orang perempuan, yang berkulit hitam. Sesuai pesan Bathara Sakra, Basudewa memberi nama kedua anaknya, Krishna dan Balarama. Sedangkan Badraini memberi nama yang seorang lagi, Subadra. Tiga anak itu diasuh oleh Ki Antagopa dan Ni Sagopi.

SIFAT RAJA KANGSA

Kangsa sangat menyayangi Dewaki seperti adiknya sendiri. Suatu hari Dewaki menikah dengan Basudewa. Saat mengiringi Basudewa dan Dewaki terdengar bisikan gaib bahwa salah satu putra Dewaki akan membunuhnya, karena khawatir dengan nyawanya Kangsa memenjarakan Dewaki dan Basudewa.

MEREBUT TAKHTA KERAJAAN

Setelah dewasa, Kangsa sangat berambisi untuk segera menggantikan Ugrasena sebagai raja di Mathura. Apalagi ia sering dihasut oleh orang kepercayaannya, yang bernama Banasura. Penasihatnya yang lain, yaitu Canur menyarankan agar Kangsa menikahi dua orang puteri Jarasanda raja Kerajaan Magadha, yang juga sahabat Banasura. Nama kedua putri itu adalah Asti dan Prapti.

Kangsa akhirnya berhasil menjadi menantu dan sekutu Jarasanda. Pasukan Magadha yang dikirim Jarasanda untuk mengawal kedua putri digunakan Kamsa untuk memaksa Ugrasena turun dari takhta Mathura. Ugrasena kemudian dijebloskan ke dalam penjara istana.

RAMALAN DARI DEWA

Kangsa memiliki sepupu bernama Dewaki yang dianggapnya sebagai adik kandungnya sendiri. Dewaki menikah dengan Basudewa dan pernikahan mereka dirayakan secara meriah oleh Kangsa. Tiba-tiba terdengar suara dari langit bahwa kelak Kabgsa akan mati di tangan anak Dewaki.

Karena panik, Kangsa pun menjebloskan Basudewa dan Dewaki ke dalam penjara. Setiap kali Dewaki melahirkan, Kangsa langsung membunuh bayinya. Hal ini berlangsung sampai enam kali. Pada kehamilan ketujuh, istri pertama Basudewa yang bernama Rohini datang menjenguk. Secara ajaib, kandungan Dewaki pun berpindah ke dalam rahim Rohini.

Pada kelahiran bayi kedelapan, tiba-tiba datanglah pertolongan dewata. Pintu penjara terbuka dan seluruh penjaga tertidur lelap. Basudewa pun dengan mudah membawa bayinya pergi untuk dititipkan kepada sahabatnya yaitu Nanda. Setelah itu, Basudewa membawa bayi perempuan anak Nandagopa kembali ke penjara.

Esok paginya, Kangsa datang ke penjara untuk membunuh bayi Dewaki yang baru lahir. Ketika melihat bayi tersebut ternyata perempuan, ia pun merasa menang atas ramalan dewata.

KEMATIAN RAJA KANGSA

Bayi yang dilahirkan oleh Rohini dan Dewaki masing-masing tumbuh menjadi pemuda bernama Balarama dan Kresna. Keduanya dibesarkan oleh pasangan Nanda dan Yasoda di lingkungan pedesaan. Kangsa akhirnya mengetahui keberadaan keduanya. Mereka pun diundang ke Mathura untuk menghadiri pesta perayaan.

Ketika keduanya tiba di Mathura, Kangsa mencoba untuk membunuh mereka. Namun ramalan dewata benar-benar menjadi kenyataan. Dalam sebuah perkelahian, justru Kresna yang berhasil membunuh Kangsa.

Sejarah Asal Usul Raja Kangsa (Kamsa), dari lahir sampai Tewas

Bisma adalah salah satu tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata, putra dari Prabu Santanu dan Dewi Gangga. Ia juga merupakan kakek dari Pandawa maupun Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata (Dewanagari: Dévavrata), namun berganti nama menjadi Bisma semenjak bersumpah bahwa ia tidak akan menikah seumur hidup.

Bisma ahli dalam segala modus peperangan dan sangat disegani oleh Pandawa dan Korawa. Menurut Mahabharata, ia gugur dalam sebuah pertempuran besar di Kurukshetra oleh panah dahsyat yang dilepaskan oleh Srikandi dengan bantuan Arjuna.

Dalam kitab Bhismaparwadikisahkan bahwa ia tidak meninggal seketika. Ia sempat hidup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran para Korawa. Bisma menghembuskan napas terakhirnya saat garis balik matahari berada di utara (Uttarayana).

KELAHIRAN BISMA PUTRA GANGGA

Menurut kitab Adiparwa, Bisma merupakan reinkarnasi dari salah satu Delapan Wasuyang bernama Prabasa. Karena Prabasa dan para Wasu lainnya berusaha mencuri sapi milik Resi Wasista, maka mereka dikutuk agar terlahir sebagai anak manusia. Dalam perjalanan menuju Bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga dikutuk untuk turun ke dunia sebagai istri putra Raja Pratipa, yaitu Santanu. Kemudian, Para Wasu membuat kesepakatan dengan sang dewi bahwa mereka akan menjelma sebagai delapan putra Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga.

Kelahiran Bisma Mahabharata

Dalam Adiparwa diceritakan bahwa Prabu Santanu menikah dengan Dewi Gangga, setelah menyetujui syarat bahwa sang prabu tidak akan melarang istrinya apabila melakukan sesuatu yang mengejutkannya. Tak lama setelah menikah, sang dewi melahirkan, namun ia segera menenggelamkan anaknya ke sungai Gangga. Sesuai perjanjian, Santanu tidak melarang perbuatan tersebut. Setelah tujuh kali melakukan perbuatan yang sama, anak kedelapan berhasil selamat karena tindakan Dewi Gangga dicegah oleh Santanu yang kesabarannya telah habis.

Setelah didesak, Dewi Gangga pun menjelaskan bahwa anak-anak yang dilahirkannya adalah reinkarnasi Delapan Wasu yang dikutuk karena berusaha mencuri sapi milik Resi Wasista. Untuk meringankan penderitaan yang harus mereka tanggung di dunia manusia, sang dewi hanya membiarkan mereka hidup sementara. Namun, anak yang kedelapan—yang kemudian diberi nama Dewabrata—merupakan Wasu yang paling bertanggung jawab atas usaha pencurian sapi tersebut. Maka dari itu, sang dewi pun membiarkannya hidup lebih lama dibandingkan Wasu lainnya. Pada akhirnya, Dewi Gangga pun meninggalkan Santanu dengan membawa anak kedelapan tersebut, karena Santanu telah melanggar janjinya.

SUMPAH BISMA

Dalam Adiparwa diceritakan bahwa 36 tahun setelah kepergian Dewi Gangga, Santanumenemukan putranya secara tidak sengaja di hilir sungai Gangga. Kemudian, Dewi Ganggamuncul untuk menyerahkan hak asuh anak tersebut kepada sang prabu, dan memberi tahu namanya adalah "Dewabrata". Singkat cerita, Dewabrata dicalonkan sebagai pewaris takhta Hastinapura.

Beberapa tahun kemudian, Santanu jatuh cinta kepada putri nelayan bernama Satyawati. Ayah Satyawati bersedia menyerahkan putrinya dengan syarat bahwa keturunan Satywati diberikan hak atas takhta Hastinapura. Santanu tidak bisa menyanggupi syarat tersebut karena terlanjur mencalonkan Bisma sebagai penerus takhta. Dengan berat hati, Santanu kembali ke kerajaannya. Tak lama kemudian, ia jatuh sakit karena kegagalannya untuk menikahi Satyawati. Dewabrata mengorek informasi dari kusir pribadi sang prabu, dan menemukan sumber penyakit ayahnya. Ia segera berangkat menuju kediaman Satyawati.

Di hadapan ayah Satyawati, Dewabrata bersumpah untuk tidak mewarisi takhta Hatsinapura, dan menyerahkan hak tersebut kepada keturunan Satyawati. Meskipun demikian, ayah Satyawati masih meragukan pengorbanannya, sebab pertikaian untuk memperebutkan takhta mungkin saja terjadi antara keturunan Bisma dengan keturunan Satyawati. Demi meyakinkan bahwa hal itu tidak akan terjadi, maka Dewabrata juga bersumpah untuk tidak menikah seumur hidup agar tidak memiliki keturunan demi menghindari perebutkan takhta kerajaan.

Akhirnya, Satywati pun diserahkan untuk menjadi istri Santanu. Karena pengorbanannya, Dewabrata diberi nama Bisma oleh ayahnya, dan dianugerahi agar mampu bersahabat dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Bisma memiliki dua adik dari ibu tirinya, yang bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Bisma mendidik dan melindungi mereka sebagai penerus Dinasti Kuru di Hastinapura. Sayangnya, Citranggada gugur dalam suatu pertempuran, sehingga Wicitrawirya dinobatkan sebagai pewaris takhta. Demi kebahagiaan adiknya, ia pergi ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang putri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada Wicitrawirya.

Namun, Amba mencintai Bisma, sementara Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan menikah seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Sebelum menghembuskan napas terakhirnya, Amba berdoa agar dapat bereinkarnasi menjadi orang yang akan membunuh Bisma.

BISMA PADA PERANG BARATAYUDHA

Saat perang antara Pandawa dan Korawameletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdoa agar kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan.

Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.

Dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra, Bisma bertarung dengan dahsyat. Prajurit dan ksatria yang melawannya pasti binasa atau mengalami luka berat. Dalam kitab Bismaparwa dikatakan bahwa di dunia ini para ksatria sulit menandingi kekuatannya dan tidak ada yang mampu melawannya selain Arjuna dan Kresna. Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya.

Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan sikap Arjuna yang masih segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar Chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, dan justru bahagia jika gugur di tangan Kresna. Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menghentikannya. Kresna mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas kereta.

KEMATIAN BISMA DALAM BARATAYUDHA

Sebelum hari kematiannya, Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma di malam hari untuk mencari tahu kelemahannya. Bisma mengetahui bahwa Pandawa dan Kresnatelah masuk ke dalam kemahnya dan ia menyambut mereka dengan ramah. Ketika Yudistira menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk menaklukkan Bisma yang sangat mereka hormati, Bisma menjawab:

“...ketahuilah pantanganku ini, bahwa aku tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Aku juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan aku pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua aku enggan bertarung...”

Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma enggan berperang, Arjunaharus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya.

Kematian Bisma Mahabharata

Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan kewajibannya. Meski Arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut. Pada hari kesepuluh, Srikandimenyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panahyang menancap di tubuhnya.

Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan napasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Korawadan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai.

Wallohua'Lam Bisshowab

Sejarah Asal Usul Bisma Dalam Kisah Mahabharata

Kuwaluhan.com
Raja Kangsa adalah seorang yang berhati kejam dan tidak memiliki belas kasihan kepada sesama manusia. Suatu hari Raja Kangsa dikunjungi oleh Hyang Narada, Wiku dari Sorgaloka, yang memberitahu bahwa kelak ia akan dibunuh oleh anak Dewaki yang nomor 8. Setelah itu Hyang Narada segera kembali ke sorgaloka.

Dewaki adalah bibi raja Kangsa dan ia adalah isteri dari Wasudewa (Basudewa).
Setelah raja Kangsa menerima pemberitahuan oleh Hyang Narada, timbullah niat yang jahat untuk membunuh anak Dewaki sehingga sabda Hyang Narada tidak terlaksana. Pada waktu itu Dewaki belum memiliki anak.

Beberapa waktu berlalu, Dewaki mulai mengandung. Ketika bayi lahir, dengan segera dibunuh oleh raja Kangsa. Kejadian ini berulang-ulang hingga Dewaki melahirkan anak yang keenam. Saat mengandung bayi yang ketujuh, bayi yang masih di dalam kandungan dipindahkan oleh dewi Nidra (dewi tidur) dengan jalan gaib ke Rohini, istri Wasudewa yang kedua. Setelah sampai waktunya, bayi lahir dengan selamat dan dinamakan Baladewa atau Balarama.

Dewaki mengandung lagi kedelapan kalinya. Wasudewa mendapat akal untuk menyelamatkan bayi yang akan dilahirkan itu. Jika kelak bayi lahir, maka akan digantikan dengan bayi yang lain. Kebetulan ketika itu Yasoda, isteri Nanda seorang gembala, juga sedang bunting. Ketika Dewaki melahirkan, Yasoda pun melahirkan. Dengan segera bayi itu dipertukarkan.

Ketika raja Kangsa mendengar Dewaki melahirkan anak yang kedelapan, segera ia pergi ke rumah Dewaki. Raja Kangsa tidak mengetahui bahwa bayi telah dipertukarkan, sehingga ia membunuh bayi yang sebenarnya adalah anak Yasoda. Sementara itu, anak Dewaki yang kedelapan selamat dan diberi nama Kresna.

Setelah Kresna besar ia memiliki kekuatan gaib. Keberaniannya semakin tersiar ke mana-mana sehingga raja Kangsa mendengar pula. Kresna lalu dipanggil menghadap ke Matura, akan diadu dengan orang yang terkenal kuat dan berani.

Nanda, yang mengasuk Kresna, menjadi bersedih hati. Ia tahu raja Kangsa sangat kejam. Karena itu ia selalu mendoakan Kresna.

Selama di Matura, Kresna disuruh mengerjakan pekerjaan yang tidak dapat dilakukan oleh orang biasa. Maksudnya jika Kresna tak sanggup ia akan dihukum seberat-beratnya. Tapi yang terjadi sebaliknya, semua pekerjaan dapat dilakukan dengan mudah oleh Kresna. Ia disuruh menarik busur yang bahkan tak seorangpun dewa yang sanggup menariknya, mengalahkan gajah, diadu dengan orang-orang kuat.

Melihat kekuatan dan keprawiraan Kresna, raja Kangsa menjadi murka karena merasa kalah kuat dan berani. Kemurkaan itu tidak hanya dilampiaskan kepada Kresna, melainkan kepada seluruh gembala. Maka gembala-gembala itu pun disuruh meninggalkan Matura dengan segera, dan bila tidak maka akan dibunuh.

Kresna pun sangat marah mendengar hal itu. Maka terjadilah perkelahian sengit antara raja Kangsa dengan Kresna. Raja Kangsa pun kalah dan mati. Sabda Hyang Narada terbukti.

Setelah raja Kangsa meninggal, Kresna meninggalkan Matura dan menikah dengan dewi Rukmini, putri raja Bismaka dari negeri Widarba. Perkawinan itu disertai dengan perang besar karena diam-diam Dewi Rukmini dilarikan oleh Kresna. Setelah perang, Kresna tinggal di Dwaraka (Dwarawati) dengan dewi Rukmini dan jadi raja di negeri itu dengan gelar Batara.

Kresna sangat sakti dan bahkan berani berkelahi dengan Dewa. Alkisah suatu saat Hyang Narada memberi bunga Parijata kepada dewi Rukmini. Dewi Setyaboma, permaisuri yang kedua pun mengiri. Kresna menyanggupi untuk mohon bunga tersebut.

Hyang Indra tidak mengijinkan dan terjadi perkelahian yang hebat karena masing-masing mengeluarkan kesaktiannya. Sebelum ada yang kalah, datanglah Dewi Aditi, ibu para dewa memisah. Akhirnya Kresna diperkenankan mengambil bunga Parijata sesuka hati.

PERAN KRISNA DALAM PERANG BARATAYUDHA

Sri Krishna adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas melindungi Pandawa yang mana di dholimi pihak Kurawa dan memenangkannya dalam perang Baratayuda. Sebelum perang dimulai Kresna tampil sebagai duta Pandawa ke Astina dalam rangka menyelesaikan konflik perebutan kerajaan Astina. Misi yang diemban Kresna adalah agar tidak terjadi perang.

Pandawa minta setengah wilayah Astina kepada kurawa, andaikata tidak diberikan Pandawa rela hanya menerima lima wilayah pedesaan yaitu Awisthala, Wrekashala, Waranawata, Makandi, dan Awasana. Bagaimanapun Pandawa tetap menempuh jalan damai. Namun Duryadana menolak mentah-mentah permintaan Kresna, bahkan dengan seluruh kekuatan Kurawa berusaha membinasakan Kresna.

Dalam keadaan terdesak Kresna berubah menjadi raksasa dan akan menghancurkan Kurawa, namun Batara  Narada mencegahnya dan menjelaskan bahwa menurut Serat Jitabsara perang Baratayuda harus terjadi. Akhirnya Kresna mengurungkan niatnya tersebut.

Sadar perang Baratayuda akan terjadi, dengan kepintarannya Kresna berusaha sedkit demi sedikit melemahkan posisi Kurawa antara lain dengan meminta Karna memihak Pandawa, namun merasa sadar bahwa dirinya berhutang budi kepada Kurawa dan lebih mementingkan Astina sekalipun Kurawa dipihak yang salah, Karna menolak permintaan Kresna tersebut.

Demikian pula terhadap Baladewa kakaknya sendiri yang sebenarnya bersikap netral. Sadar sang kakak akan memihak Kurawa Kresna memohon Baladewa untuk bertapa di Grojogan sewu yang dijaga Setiyaki. Baladewa sendiri adalah satria yang senang melakukan tapa brata, dia tidak bisa menyaksikan keseluruhan berlangsungnya perang Baratayuda dan baru muncul disaat diakhir episode perang tersebut ketika Bima bertarung melawan Duryudana.

Dalam perang Baratayuda, Kresna memihak Pandawa. Ia dipilih Arjuna sebagai penasehat yang mana Kresna tidak diperbolehkan mengeluarkan senjata untuk berperang langsung dengan pihak Kurawa, sementara pasukannya yang berjumlah besar dipilih Duryudana menjadi bagian dari pasukan Kurawa. 

Pilihan yang dijatuhkan Duryudana membuat Sengkuni marah kepada Duryudana baginya apalah arti pasukan yang besar jika tidak melibatkan pengatur strategi yang ulung sekaliber Kresna. Kresna pada waktu perang memposisikan diri sebagai kusir kereta Arjuna. Kresna juga memantapkan hari Arjuna yang masih ragu-ragu melihat orang-orang yang dihormatinya seperti Bisma dan Durna berada dipihak Kurawa.

Arjuna mendapatkan lawan yang sepadan yaitu Karna yang tak lain kakak tertuanya sendiri. Kereta Karna dikemudikan mertuanya sendiri yaitu Prabu Salya. Prabu Salya sebenarnya tidak ingin Baratayuda terjadi sehingga dalam mengemudikan kereta Karna ia setengah hati sampai pada suatu ketika roda kereta Karna terjerembab dalam tanah. Mengetahui hal tersebut Kresna menyuruh Arjuna segera melepaskan senjata Pasopati.

Pada awalnya Arjuna tidak mau karena hal tersebut bukan tindakan ksatria. Namun Kresna menjelaskan bahwa Karna salah satu orang yang membunuh Abimanyu, putra Arjuna, maka Arjuna segera melepaskan anak panah Pasopati mengenai leher Karna yang mengakibatkan kematian Karna.

Arjuna sebenarnya menyesali tindakannya tersebut. Prabu Salya sendiri tewas ditangan Puntadewa. Ketika Prabu Salya maju ke medan perang, Pandawa kewalahan menghadapi Candrabirawa ilmu Prabu Salya berupa kemampuan memanggil raksasa yang apabila terluka oleh musuhnya jumlah bertambah banyak.

Kresna yang tahu bahwa ilmu itu hanya bisa dihadapi orang suci hati dan sabar seperti Puntadewa maka ia segera menyuruh Puntadewa menghadapinya. Puntadewa sendiri sebenarnya tidak mau karena dalam Baratayuda ia tidak akan turun gelanggang.

Pada saat itu arwah Resi Bagaspati masuk ke tubuh Puntadewa bermaksud mengambil Candrabirawa miliknya. Puntadewa yang telah dirasuki kemudian melempar Jimat Kalimasada dan mengenai dada Prabu Salya. Prabu Salya akhirnya gugur.

KEMATIAN SRI KRISHNA

Kematian Shri Krishna ditakdirkan berada dalam situasi sepi oleh seorang pemburu bernama Jara. Krishna dianggap inkarnasi atau avatar Dewa Wisnu dan secara luas diyakini sebagai pewahyu ajaran suci Hindu; Bhagavad Gita . Menurut Srimad Bhagavatam,Shri Krishna sangat terlibat dengan Pandawa selama Perang Kurukshetra . Dia juga bergabung dengan mereka dan membantu mereka selama Perang Besar.

Krishna menjadi Sarathi atau kusir Arjuna, karena ia tidak harus menggunakan senjata, selama perang yang berlangsung 18 hari. Sebelum awal perang Shri Krishna meriwayatkan Bhagavad Gita dan juga saksi kematian Bisma dan Duryodana. Krishna menerima kutukan dari Ibu Duryodhana, Gandhari karena tidak menyelamatkan anaknya.

Dia adalah seorang penyembah sejati Dewa Wisnu dan mengakui Krishna sebagai inkarnasi nya. Dia sangat percaya dan menghormati Shri Krishna, tapi melihat anaknya mati, ia tidak bisa menemukan kebenaran mengapa Krishna membiarkan hal-hal itu menimpa anaknya.

PENYEBAB KEMATIAN SRI KRISHNA

Gandhari , ibu dari Duryadhona, mengutuk Krishna bahwa ia akan binasa setelah 36 tahun, sendirian dan dalam keadaan menyedihkan. Semua pengikutnya, umat, kerabat dan orang-orang terkasih juga akan mati secara bersamaan.

Akhirnya waktu tiba dalam kehidupan Krishna, kekacauan terjadi pada penduduk Dwaraka, orang-orang mulai membunuh satu sama lain. Semua anak dan cucu dari Krishna juga mati dalam pembantaian itu. Hanya Seorang perempuan, Krishna dan Balarama yang masih hidup di Dwaraka.

Setelah beberapa saat Baladewa menyelamatkan dirinya dalam hutan lebat. Krishna mengirim perempuan dan anak-anak bersama dengan utusan ke kota Kuru dan mereka yang tersisa dengan Pandawa. Lord Krishna kemudian pergi ke ayahnya, meminta restu dan berangkat ke hutan, di mana Baladewa menunggunya.

Ia melihat bahwa kakaknya sedang duduk di bawah sebuah pohon raksasa di pinggiran hutan. Baladewa sedang duduk dengan sikap Yoga, akhirnya ular berkepala seribu, Naga Ananta , keluar dari mulutnya dan berjalan menuju laut. Segera, laut dan sungai-sungai suci lainnya berkumpul untuk menyambut Ananta Naga ke wilayah mereka.

Krishna melihat saudaranya wafat dan ia mulai mengembara di hutan. Akhirnya ia duduk di tanah, mulai berpikir tentang kutukan Gandari, dan menyadari bahwa waktu untuk kematiannya sudah tiba. Dia sendiri memiliki indra dan berkonsentrasi pada Yoga . Seorang pemburu bernama Jara mendekati tempat itu dari hutan dan dari jauh melihat kaki kiri Khrisna sebagian terlihat dan dianggap rusa.

Dia dilepaskan busur panahnya, mengambil panah, dan akhirnya menusuk kaki Krishna. Dia berlari mendekati dan dia menyaksikan seorang pria berbalut jubah kuning sedang melakukan yoga. Pemburu segera menyentuh kaki Krishna dan meminta maaf.

Shri Krishna membuka matanya dan menasehati pemburu itu. Dia memberitahu sang pemburu tentang hidupnya sebelumnya Bali yang dibunuh oleh Shri Rama .Jiwa Shri Krishna menuju ke surga, sehingga mengisi seluruh langit dengan kemuliaan. Setelah melewati Dewa Indra di surga, ia mencapai alamnya di tingkat yang lebih tinggi.

Arjuna mengkremasi Krishna dan Rukmini , Sati dan dibakar di tumpukan kayu. Sisanya para wanita Dwaraka menjadi pertapa dan biarawati.Setelah masing-masing dan setiap makhluk hidup dari Dwaraka pindah ke tempat lain, laut muncul dan menelan kota, sehingga tidak meninggalkan jejak tanah dari Shri Krishna.

Hal ini diyakini bahwa Shri Krishna hidup di bumi dengan saudara Balarama selama 126 tahun dan 5 bulan. Menurut para peneliti dan para ulama, Dia menghilang pada tanggal 18 Februari 3102 SM. Era setelah kepergiannya menandai awal dari Kali Yuga . Dikatakan Krishna telah meramalkan bahwa tepat tujuh hari setelah hilangnya Tuhan, kota Emas Dwarka dan Kuil Dwarkanath di Gujarat akan tenggelam oleh lautan.

Demikian kurang lebih Sejarah asal usul Sri Krishna atau Basudewa dalam kisah Mahabharata.
Terima Kasih..!!

Sejarah lengkap Sri Krishna, Kisah Mahabharata

Subscribe Our Newsletter