Showing posts with label kekalahan karna. Show all posts
Showing posts with label kekalahan karna. Show all posts

Monday, September 25, 2017

Kisah Kematian Wikarna yang Berpihak pada Pandawa pada Perang Baratayudha

Wikarna adalah putra Prabu Drestarasta, raja negara Astina dengan Dewi Gandari, putri Prabu Gandara dengan Dewi Gandini dari negara Gandaradesa.


Ia mempunyai saudara sebanyak 100 orang (99 orang laki-laki dan 1 orang wanita) yang disebut Sata Kurawa. Diantara saudara-saudaranya yang dikenal dalam pedalangan adalah ; Duryudana (raja negara Astina), Bogadatta (raja negara Turilaya), Bomawikata, Wikataboma, Citraksi, Citraboma, Citrayuda,Citraksa, Carucitra, Dursasana (Adipati Banjarjumut), Durmagati, Durmuka, Durgempo, Gardapati (raja negara Bukasapta), Gardapura, Kartamarma (raja negara Banyutinalang), Kartadenta, Surtayu, Surtayuda, Windandini (raja negara Purantara) dan Dewi Dursilawati.

Wikarna memiliki sifat ; pemberani, jujur, suka berterus terang dan teguh dalam pendirian. Selain sakti, ia juga mahir mempergunakan senjata panah.

Ketika menyaksikan Dewi Drupadi diperlakukan tidak manusiawi oleh Dursasana akibat Prabu Yudhistira kalah dalam permainan dadu melawan Arya Sakuni, dengan sikap gagah dan kesatria, Wikarna mengutuk perbuatan Dursasana.

Ia juga membongkar kecurangan yang dilakukan Arya Sengkuni, dan semua rencana jahat Kurawa yang akan memcelakakan keluarga Pandawa. Sikapnya itu ditentang oleh Adipati Karna, raja negara Awangga yang menyebabkan permusuhan diantara mereka.

Pada saat berlangsungnya perang Bharatayuda di Kurukshetra, Wikarna memihak kepada Pandawa dan menentang tindakan Kurawa yang dianggapnya keliru. Ia gugur dalam pertempuran melawan Adipati Karna. Tubuhnya hancur terkena panah Wijayacapa.

Monday, July 17, 2017

Sejarah Kekalahan dan Kematian Karna Mahabharata

Perang Baratayudha

Tepat pada perang Bharatayudha yang ke 17 hari, Karna menyuruh Raja Salya yang menjadi kusir keretanya untuk memacu kencang keretanya agar bisa mendekat kereta yang ditumpangi oleh Arjuna.

Namun baru berjalan beberapa meter, roda kereta kuda yang dikusiri Raja Salya terjerembab dalam sebuah lubang berlumpur. Karna menyuruh Raja Salya untuk mengangkat roda kereta yang masuk dalam lubang tersebut. Namun Salya menolak karena menurutnya ia hanya bertugas menjadi sais kereta saja bukan seorang pesuruh dan menyuruh Karna sendiri yang memperbaiki roda keretanya itu.

Untuk sementara Karna menatap Arjuna dan berharap agar Arjuna mau menahan diri sebelum dirinya benar-benar siap bertarung kembali. Karna pun turun dari keretanya itu, lalu menyimpan busurnya dan mencoba mengangkat sendiri roda kereta yang terjerembab dalam lubang yang penuh lumpur.

Sebagai seorang ksatria, Arjuna faham betul seperti apa tindakan seorang ksatria ketika menghadapi musuhnya yang belum siap, Ia pun hanya memandang Karna dari kejauhan.

Krishna yang bertugas menjadi kusir kereta yang ditumpangi Arjuna berkata, " Inilah waktunya untuk membalaskan kematian Abimanyu, angkat panahmu sekarang, Arjuna. "  Tidak, bhatin Arjuna menjerit, ia tidak sampai hati harus menjadi seorang pengecut dengan membunuh musuh yang belum siap untuk bertempur.

Namun, Krishna tetap mengingatkan Arjuna akan sumpahnya, dan bagaimana Karna dengan teganya membunuh Abimanyu. Hati Arjuna bergolak, namun karena ia masih memikirkan tentang Abimanyu anaknya yang mati muda akhirnya Arjuna pun mengangkat busurnya dan mengarahkan panahnya pada Karna yang masih sibuk mengangkat roda keretanya itu.

Karna sadar, bahwa ia tidak memiliki waktu untuk mengambil senjatanya sehingga ia pun memilih untuk diam menunggu, meski dalam versi lain disebutkan bahwa ia lupa bagaimana memanggil senjata Bramastra. Akhirnya dengan sekelebat panah yang dilepaskan dari busur Arjuna pun menembus leher Karna yang membuatnya terpental menjauh dari keretanya.

Kisah Mahabharata

Sesaat semuanya hening, Arjuna dan saudara-saudaranya yang lain hanya terdiam menyaksikan tubuh Karna yang terbaring, begitu juga Duryudana yang terkejut menyaksikan kematian sahabatnya itu.

Dalam keheningan, tiba-tiba terdengar suara seorang perempuan yang tampak sedang mencari anaknya, " Anakku .... dimana kau anakku, " katanya sambil terlihat mencari-cari seseorang. Dan ketika melihat tubuh Karna yang terbaring ia langsung menjerit, "Anakku...!!,"


Para pandawa yang melihat peristiwa tersebut kaget bukan kepalang, melihat sang ibunda menghampiri tubuh Karna lalu membaringkan tubuhnya dipangkuannya.

Terdengar dialog antara ibu dengan anak yang sudah lama berpisah itu, yang intinya adalah penyesalan dari Kunti yang telah membuang anaknya itu. Bayangan-bayangan lama pun muncul menceritakan bagaimana Kunti merasa sangat menyayangi anak yang telah dibuangnya itu.

Arjuna, dan para pandawa yang lain kembali terkejut ketika mendapati kenyataan bahwa Karna yang selama ini menjadi musuh mereka ternyata adalah saudara kandung dan kakak tertua mereka. Betapa sakitnya hati mereka menyaksikan kondisi Karna yang tengah sekarat, dan menyesalkan keadaan yang harus membuat mereka yang adalah saudara kandung menjadi musuh bebuyutan.

Di hadapan Karna yang sekarat, Arjuna dan saudara-saudaranya yang lain berjanji akan memperlakukan jenazahnya sebagaimana perlakukan seorang saudara kandung.
Dan mataharipun mulai tenggelam, meninggalkan kepedihan yang terjadi di antara ibu dan anak-anaknya itu.