Social Items

Showing posts with label azab selingkuh. Show all posts
Showing posts with label azab selingkuh. Show all posts
Ketika seorang istri selingkuh, ulama memberikan rincian sebagai berikut,


Pertama, istri bertaubat dan sangat menyesali tindakannya, bahkan dia meminta maaf atas bantuan, mengubah cara pergaulannya dan cara memulihkannya. Dia menjadi wanita yang dekat dengan Allah, menutup aurat dan melepaskan pergaulan dengan lelaki yang bukan mahram.

Untuk kondisi ini, suami harus mempertahankan dan tidak menceraikannya. Dengan dua syarat,

Suami harus siap memaafkan dan tidak mengungkit masa lalunya, setelah dia bertaubat.Suami siap merahasiakan

Dengan sikap ini, insyaaAllah akan menjadi sumber pahala bagi suami, karena ini termasuk bentuk kesabaran.

Pernyataan ini 'boleh diterima'. Suami bisa mempertimbangkan baik dan buruknya, untuk menentukan pilihan, cerai ataukah memulihkan. (Fatwa Islam, no. 162851)

Ada sebagian besar suami yang tak berkuasa menceraikan berbicara, namun sangat sulit memaafkan perselingkuhan yang dilakukan berbicara. Menyebabkan yang terjadi, suami hanya bisa marah dan marah, bahkan menzalimi diundang. Dalam kondisi ini, pilihan cerai insyaaAllah lebih baik, dari pada mendukung berbicara, agar tidak menimbulkan perilaku maksiat yang baru.

Kedua, sang istri belum bertaubat dan tidak menunjukkan penyesalan, bahkan pergaulannya masih bebas seperti sebelumnya, meskipun bia jadi dia hanya meminta maaf kepada orang lain.

Untuk kondisi ini, ulama berbeda pendapat, apakah suami wajib menceraikan meminta atakah boleh mempertahankannya.

Pendapat pertama, suami boleh pertahankan. Ini adalah opini yang disetujui ulama. Muhammad Ali Farkus berkata,

فالمعلوم شرعا أن زنى أحد الزوجين يوجب الرجم, لكنه إذا انتفى بانتفاء شروطه فلا ينفسخ النكاح بزنا أحدهما ولا يوجب فسخه سواء قبل الدخول أو بعده عند عامة أهل العلم

“Seperti yang telah dibahas dalam aturan syariat, itu zina yang dilakukan salah satu dari suami, menjadi alasan ditegakkannya hukum rajam. Namun jika hukuman ini tidak dapat ditegakkan, karena persyaratan untuk itu tidak terpenuhi, ikatan nikah tidak dapat difasakh (dibubarkan) karena zina yang dilakukan salah. Dan tidak wajib difasakh, baik kasus zina yang terjadi sebelum hubungan badan atau ditunda, sesuai pendapat yang disetujui ulama. ”

Pendapat kedua, suami tidak boleh mempertahankan dan harus menceraikannya. Karena kompilasi sang suami bertahan, dia dianggap tidak memiliki rasa cemburu, dan tergolong suami dayuts. Dan sikap ini termasuk dosa besar.

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu 'anhuma, Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam bersabda,

"Tiga orang yang tidak akan melihat Allah pada hari kiamat: Orang yang durhaka untuk kedua orang tuanya, wanita tomboi, dan lelaki dayuts." (HR. Ahmad 5372, Nasai 2562, dan dishahihkan Syuaib Al-Arnauth).

Dalam Musnad Imam Ahmad Ada penjelasan siapakah Dayuts,

وَالدَّيُّوثُ الَّذِي يُقِرُّ فِي أَهْلِهِ الْخَبَثَ

“Lelaki dayuts yang melakukan perbuatan keji pada saat liburan.” (Musnad Ahmad no. 6113).

Syaikhul Islam pernah menyetujui: ada seorang suami yang masuk rumah, tiba-tiba dia memergoki seorang lelaki yang bukan mahram. Apa yang harus dilakukan si suami?

Jawaban Syaikhul Islam,

في الحديث عنه صلى الله عليه وسلم {أن الله سبحانه وتعالى لما خلق الجنة قال: وعزتي وجلالي لا يدخلك بخيل ولا كذاب ولا ديوث}”والديوث” الذي لا غيرة له. وفي الصحيح عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: {إن المؤمن يغار وإن الله يغار وغيرة الله أن يأتي الاب م

Dalam hadis dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ,

“Allah Ta'ala yang mengatur terciptanya surga, Dia berfirman:' Demi keagungan dan kebesaran-Ku, tidak akan ada yang bisa memasukimu (surga), orang yang bakhil, pendusta, dan dayuts. ”Dayuts adalah orang yang tidak memiliki rasa cemburu. Dalam hadis shahih, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya seorang mukmin memiliki rasa cemburu, dan Allah juga cemburu. Cemburunya Allah adalah kompilasi dari seorang hamba yang melakukan apa yang Dia haramkan untuknya. ”

Kemudian Syaikhul Islam melanjutkan penjelasannya,

“Dan Allah telah berfirman:

الزاني لا ينكح إلا زانية أو مشركة والزانية لا ينكحها إلا زان أو مشرك وحرم ذلك على المؤمنين

Lelaki yang berzina tidak boleh menikahi perempuan yang berzina, atau perempuan yang musyrik; dan perempuan yang berzina tidak dinikahi kecuali oleh laki-laki yang berzina atau laki-laki musyrik, dan yang demikian diharamkan atas oran-orang yang mukmin. (QS. An-Nur: 3).

Oleh karena itu, pendapat yang kuat di antara pendapat ulama, wanita pezina, tidak boleh dinikahi kecuali setelah dia bertaubat. Demikian pula kompilasi seorang istri berzina, tidak boleh bagi sang suami untuk tetap mempertahankannya, selama dia belum bertaubat dari zina, dan dia harus menceraikannya. Jika tidak, dia termasuk dayuts. ”

AZAB DI AKHIRAT

Dalam hadist riwayat Baihaqi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

"Kemudian kami berlalu, lalu sampai pada sebuah bangunan seperti tungku pembakaran.” -Auf, perawi hadits- berkata, “Sepertinya beliau juga bersabda, ‘Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan.’” Beliau melanjutkan, “Kemudian aku menengoknya, lalu aku dapati di dalamnya laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api dari bawah mereka, mereka pun berteriak-teriak.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertanya (pada Jibril dan Mika-il), ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, ‘Adapun laki-laki dan perempuan yang berada di tempat seperti tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.’ (HR Baihaqi)

Rasulullah SAW pernah bersabda :

"Para pezina, pada hari kiamat, akan datang dalam keadaan kemaluan mereka bernyala dengan nyala api."

Semua makhluk mengenali mereka karena bau kemaluan yang terlalu busuk. Muka-muka mereka akan ditarik ke neraka.

Apabila mereka memasuki neraka, malaikat Malik akan memakaikan mereka dengan sepasang baju besi dari api neraka. Sekiranya baju besi tersebut diletakkan di atas sebuah gunung, nescaya ia akan lebur menjadi abu.

Malaikat Malik berkata : “Wahai sekalian malaikat, tancapkan mata-mata mereka dengan paku-paku besi sebagaimana mereka melihat kepada yang haram.”

Ikatkan tangan-tangan mereka dengan ikatan api neraka sebagaimana mereka melakukannya (memeluk) kepada perkara yang haram.

Malaikat Zabaniah mengikat tangan-tangan serta kaki-kaki mereka, dan mata-mata mereka ditancapkan dengan paku neraka.

Mereka semua menjerit dan berkata :

“Wahai sekalian malaikat Zabaniah! Kasihanilah kami …! Ringankanlah kami dari azab siksa buat seketika.

”Malaikat Zabaniah berkata: “Bagaimana kami hendak mengasihi kamu sedangkan Allah Yang Maha Pengasih begitu amat memurkai kamu.”

Demikianlah nasib yang buruk bagi orang yang melakukan zina semasa didunia. Rayuan demi rayuan tidak diindahkan.

Hukuman dan siksaan tetap diteruskan untuk menghukum mereka.

Semasa Isra’ dan Mi'raj, Nabi Muhammad SAW menyaksikan balasan yang diterima oleh orang- orang yang berzina

Karenanya jika pun terdapat masalah dalam keluarga, sudah sepatutnya untuk melakukan komunikasi yang terbuka dengan pasangan dan tidak mengambil jalan perselingkuhan. Jika pun sudah tidak ada kecocokan, maka solusi paling final adalah perceraian, bukan perselingkuhan.

Wallohua'lam Bisshowab

Sumber : Google Search

Azab Istri Selingkuh dan Hukumannya dalam Islam

Jika dilihat secara garis besar, maka selingkuh memiliki arti menyimpan atau menyembunyikan sesuatu hal hanya demi kepentingan sendiri dan tidak diberitahukan pada pasangan. Seseorang yang berselingkuh biasanya akan memperlihatkan tanda orang berbohong dari psikologi dan juga fisiknya.


Selingkuh atau zina dalam Islam dikenal dengan nama al khianah az zaujiyyah yang berarti seseorang yang sudah berpaling pada orang yang bukan menjadi pasangannya. Selingkuh dalam Islam memiliki arti berkhianat dan tidak memegang amanat yang sudah diberikan pada pasangannya untuk setia.

Dalil Perselingkuhan Dalam Islam

Meskipun perzinahan tidak dilakukan secara fisik, perselingkuhan dan juga perzinahan juga bisa dilakukan secara hati dan seseorang yang tidak mengerti tentang cara menjaga kesehatan hati serta pandangan mata sangat mudah terhanyut dalam hal tersebut khususnya jika sudah melibatkan fisik dalam perselingkuhan tersebut dan ini sudah jelas mengartikan jika itu adalah zina. Dalam hal ini, ada beberapa dalil agama Islam yang mengulas tentang perselingkuhan.

QS. Al – Isra’ 32

Allah SWT berfirman dalam Alquran mengenai zina :
Dan janganlah kalian mendekati zina, karena sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan keji dan jalan yang buruk.”

Dari firman diatas, sudah terlihat dengan sangat jelas jika selingkuh merupakan perbuatan yang menjurus bahkan sudah sama dengan zina dan sebagai umat muslim yang baik tentunya harus bisa menghindar dari perbuatan tersebut.

HR. Bukhari dan Muslim

Rasulullah SAW bersabda melalui hadits Abu Hurairah RA :
Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagian dari zina untuk setiap manusia. Dia akan mendapatkannya dan hal itu tidak bisa dihindari. Zina mata dengan melihat, zina lisan dengan ucapan, zina hati dengan membayangkan dan gejolak syahwat, sedangkan kemaluan akan membenarkan atau mendustakan semuanya.”

Dalam hadits kedua ini dikatakan jika beberapa ciri yang dapat memperlihatkan jika seseorang suami atau istri yang berselingkuh.

Perselingkuhan Dalam Islam

Pada hadits Rasulullah SAW yang sudah ditulis diatas, ada beberapa bentuk yang bisa dikategorikan dalam bentuk selingkuh menurut Islam, yakni:

1. Pandangan yang haram: Melihat berbagai hal yang sudah diharamkan seperti contohnya lawan jenis yang lebih rupawan, gambar yang tidak senonoh, aurat dari lawan jenis dan berbagai hal lain.

2. Perbincangan yang haram: Perbincangan atau percakapan yang dilakukan dengan maksud untuk merayu atau tebar pesona serta menarik perhatian dari lawan jenis.

3. Pertemuan haram: Pertemuan yang dilakukan untuk bersenang senang dan juga hanya mencari kepuasan semata dan tidak dilakukan dengan pasangan sah.
4. Hubungan badan haram: hubungan badan atau perzinahan yang dilakukan dengan orang yang bukan pasangan sah.

Hukum Perselingkuhan Dalam Islam

Perselingkuhan adalah perbuatan yang menjurus pada perzinahan dan bisa dikatakan perselingkuhan adalah perbuatan zina yang dilakukan secara berulang kali oleh pelaku. Perselingkuhan bisa dipastikan menjadi cara seseorang lebih cepat masuk ke dalam api neraka jika tidak segera bertaubat serta menjalankan amalan penghapus dosa zina dan ini sudah menjadi akibat yang pastinya harus ditanggung para pria atau wanita yang berselingkuh.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW berkata jika pada sebuah mimpi-Nya, ia melihat hukuman yang akan diberikan Allah SWT pada pelaku zina,
“Kemudian kami berlalu dan sampai ke sebuah bangunan seperti tungku pembakaran. Perawi hadits berkata :
sepertinya beliau juga bersabda, ‘tiba  tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan’. Beliau lalu melanjutkan, ‘kemudian aku menengoknya, kemudian mendapati di dalamnya ada laki  laki dan perempuan yang telanjang. Tiba  tiba mereka didatangi nyala api di bawah mereka, dan berteriak  teriak.” Nabi bersabda, ‘Aku bertanya (kepada malaikat Jibril dan Mika’il), siapa mereka?’ Jawab keduanya, ‘laki  laki dan perempuan yang ada di tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.’” (HR.Bukhari)

Perselingkuhan adalah perbuatan curang, penyelewengan dan juga pengkhianatan yang dilakukan seseorang pada pasangannya. Pada dasarnya, semua pengkhianatan, kecurangan dan juga penyelewengan merupakan perbuatan yang dilarang dalam agama Islam dan berikut ini adalah beberapa ayat serta hadits dari firman Allah SWT.

Dalam surat An-nur:4, Allah SWT berfirman,
dan orang –orang yang menuduh para wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera.

Dalam An-Nur/24:2,
Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kamu kepada keduanya mencegah kamu untuk (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman.”

"Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: 
Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya”. [an-Nur/24: 30-31]

"Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka." [an-Nur/24: 31]

Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. [al-Ahzab/33: 59]

Hukuman Perselingkuhan di Dunia

Akibat atau hukuman yang dilakukan untuk menebus dosa yang tak terampuni yakni zina dengan melakukan perselingkuhan adalah sangat berat yakni dengan dilempari batu sampai orang tersebut mati.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Ambillah dariku, ambillah dariku! Allah telah menjadikan bagi mereka jalan keluar. (jika berzina) perejaka dengan gadis (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan diasingkan setahun. (Apabila berzina) dua orang yang sudah menikah (maka hadnya) dicambuk seratus kali dan dirajam.”

Apabila perselingkuhan suami diketahui istri atau sebaliknya, maka kemungkinan yang terjadi adalah saling mula’anah atau saling melaknat antara suami dan istri tersebut yang akhirnya akan menggoyahkan pernikahan dan tidak ada ruju’.

Dan orang-orang yang menuduh isterinya (berzina), Padahal mereka tidak ada mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, Maka persaksian orang itu ialah empat kali bersumpah dengan nama Allah, Sesungguhnya Dia adalah Termasuk orang-orang yang benar.

Dan juga sumpah kelima jika la’nat Allah atasnya dan bahwa orang tersebut masuk ke dalam golongan orang berdusta. Istri akan dihindarkan dari hukuman oleh sumpahnya sebanyak empat kali atas nama Allah dan sesungguhnya suaminya benar benar masuk dalam golongan orang dusta.

"Janganlah kamu masuk menemui wanita-wanita (yang bukan mahram-pent)! Seorang laki-laki bertanya: “Bagaimana tentang kerabat suami?” Nabi menjawab: “Kerabat suami (jika berduaan dengan wanita itu menyebabkan kehancuran seperti) kematian”. [HR. Bukhari dan Muslim]

Nabi bersabda:
Seorang wanita tidak boleh melakukan safar kecuali bersama mahramnya, dan seorang laki-laki tidak boleh masuk menemui wanita kecuali kalau ada mahram yang menemani wanita itu”. Lalu salah seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya berkehendak keluar dalam tentara ini dan itu, sedangkan istriku berniat melakukan ibadah haji”. Maka Nabi bersabda: “Keluarlah engkau (berhaji) bersama istrimu!”.[HR. Bukhari, no. 1862; Muslim, no. 1341]

Azab Perselingkuhan di Akhirat

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

Kemudian kami berlalu, lalu sampai pada sebuah bangunan seperti tungku pembakaran.” Auf, perawi hadits, berkata, “Sepertinya beliau juga bersabda, “Tiba-tiba aku mendengar suara gaduh dan teriakan.’”” Beliau melanjutkan, “Kemudian aku menengoknya, lalu aku dapati di dalamnya laki-laki dan perempuan yang telanjang. Tiba-tiba mereka didatangi nyala api dari bawah mereka, mereka pun berteriak-teriak.” Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku bertanya (pada Jibril dan Mika-il), ‘Siapa mereka?’ Keduanya menjawab, Adapun laki-laki dan perempuan yang berada di tempat seperti tungku pembakaran, mereka adalah para pezina.”

Selain berdampak pada pelaku perselingkuhan, selingkuh juga akan memberikan pengaruh buruk pada orang atau pasangan yang menjadi korban perselingkuhan yakni mengalami masalah pada kesehatan mental.

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga kita semua terhindar dari perselingkuhan yang sangat dilarang dalam agama dan selalu diberi perlindungan oleh Allah SWT. Amin ya rabbal alamin...

Azab dan Hukum Suami Selingkuh Dalam Islam

Ada beberapa golongan manusia yang sangat dibenci oleh Allah dan tidak seharusnya manusia terjerat dalam hal tersebut. Beberapa penyebabnya ada yang disadari dan sebagian perkara yang dianggap sebagai kesalahan kecil.

Berikut ini merupakan 10 sifat yang dibenci Allah :

Orang Kaya Tapi Kikir


Kikir merupakan penyakit hati yang ditimbulkan oleh perasaan cinta yang berlebihan terhadap harta sehingga enggan untuk bersedekah. Hal tersebut merupakan sifat yang dibenci Allah. Harta yang dimiliki seharusnya disedekahkan justru disimpan dan enggan membantu orang yang membutuhkan.

“Dan janganlah sekali-kali orang-orang yang kikir dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka dari karunia-Nya, mengira bahwa (kikir) itu baik bagi mereka, padahal (kikir) itu buruk bagi mereka. Apa (harta) yang mereka kikirkan itu akan dikalugkan (di lehernya) pada hari Kiamat. Milik Allah-lah warisan (apa yang ada) di langit dan di bumi. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (Q.S Ali ‘Imran : 180)

Orang Miskin Takabbur

Takabbur adalah sikap sombong dan menganggap diri sendiri lebih baik dibandingkan dengan orang lain. Jika ada orang miskin yang memiliki sifat takabbur, hal itu memang menjadi sebuah penyakit yang sulit dimengerti. Sulit untuk dipahami, kenapa sifat ini bisa dimiliki dengan kondisi yang minim harta, masih bisa menyombongkan diri terhadap orang lain. Padahal orang kaya yang memiliki harta yang banyak saja tidak boleh menyombongkan diri kepada siapa saja. Hanya Allah SWT yang boleh memiliki sifat ini karena Dia memiliki segalanya.

“Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri.” (An-Nisaa’ : 36).

Ulama yang Rakus Pada Dunia

Kebencian Allah SWT juga tidak pernah luput dari para ulama yang menjadi perantara dalam menyampaikan kebaikan. Namun hanya kepada ulama yang memiliki sifat rakus terhadap kehidupan dunia. Sebagai pewaris para Nabi sudah seharusnya mereka tidak terlalu berpikir mewariskan dunia pada anak-anaknya nanti, namun yang ia pikirkan bagaimana ia mewariskan ilmu pada generasinya.

Sifat rakus demi dunia ini menyebabkan seorang para ulama akan jauh dari perburuan pada akhirat dan melemahkan ummat. Para ulama yang mencintai semua yang bersifat dunia akan dipastikan kehilangan pandangan dan martabat keulamaannya. Mereka yang mencintai dunia mendapat julukan sebagai ulama dunia atau ulama suu’ yang artinya ulama buruk.

“Celakalah bagi ummatku dari ulama buruk yang menjadikan agama ini sebagai komoditas, yang mereka jual pada para penguasa mereka di zamannya demi meraup keuntungan untuk diri mereka sendiri. Allah pasti tidak akan menjadikan bisnis mereka memperoleh keuntungan.” (H.R Hakim).

Wanita Yang tidak punya Rasa Malu

Secara fitrah, wanita diciptakan dengan memiliki rasa malu yang luar biasa. Hal tersebut akan tercermin dari cara mereka berbicara, memandang, serta kelembutan-kelembutan yang terlihat dari perilaku mereka yang selalu berhiaskan rasa malu. Allah SWT sangat membenci wanita yang minim rasa malu.

Contohnya ia merasa biasa saja menampakkan auratnya di hadapan pria lain yang bukan suaminya. Malu adalah mahkota seorang wanita, dan jika wanita kehilangan rasa malunya sama saja dengan kehilangan mahkota. Allah sangat memurkai mereka.

Orang tua yang Mengejar Dunia

Kita mungkin pernah mendapati orang yang sudah tua namun tetap mengejar dunia. Tidak jarang perbuatan mereka membuat cucu mereka gerah, mengingat waktu mereka sudah seharusnya digunakan untuk beribadah dan mengejar akhirat. Orang yang sudah berumur tua seharusnya mempersiapkan segala hal untuk kematiannya.

Orang tua yang masih senang dunia dan berebut kenikmatan yang hanya sementara tentu itu merupakan sifat yang dibenci Allah. Mereka tidak menyadari bahwa dunia ini akan segera mereka tinggalkan, lalu untuk apa mereka masih berburu dunia dengan rakus dan cinta tiada batas.

Pemuda yang Malas

Pemuda yang memiliki rasa malas merupakan manusia yang memiliki sifat yang dibenci Allah. Rasa malas yang mereka miliki akan berdampak di hari tua mereka. Maka malasnya pemuda adalah awal dari suram buramnya masa depan mereka. Inilah mengapa Allah membenci anak muda yang memiliki sifat yang malas. Rasulullah menghimpun orang-orang mulia dalam tujuh golongan diantaranya adalah pemuda yang enerjik. Rasulullah bersabda :

“Tujuh golongan orang yang akan mendapat naungan Allah pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan Allah. Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh berkembang selalu beribadah kepada Allah, lelaki yang hatinya senantiasa terpaut ke mesjid, dua lelaki yang saling mencinta karena Allah. Mereka berkumpul karenanya dan berpisah karenanya pula. Lelaki yang mengingat Allah sendirian kemudian kedua menangis karena Allah, lelaki yang digoda oleh seorang wanita yang memiliki kedudukan dan wajah cantik, lalu dia berkata :’ Sesunggguhnya aku takut kepada Allah’, seseorang yang bersedekah dia menyembunyikannya sampai-sampai tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfakkan tangan kanannya.” (H.R Malik, Tirmidzi, Bukhari Muslim).

Para penguasa yang Keji

Setiap pemimpin harus bersikap adil bukan bersikap kejam kepada rakyat agar mereka mendapatkan naungan dari Allah di hari kiamat. Karena keadilan bertumpu kepada seorang penguasa. Jika seorang penguasa yang seharusnya adil berubah menjadi kejam maka murka Allah yang sangat pedih akan menunggu mereka. Sebagaimana Allah berfirman:

“Tempat mereka adalah di neraka dan itulah seburuk-buruj tempat tinggal orang-orang yang dzalim.” (Q.S Ali Imran : 151)

Tentara Perang Yang Pengecut

Jika kita memiliki niat menjadi tentara, maka kita harus berani melawan siapa yang akan menjadi musuh. Biasanya hanya orang terpilih yang bisa ikut berperang membela agama dan tanah airbya, jiwa prajurit adalah jiwa yang pantang menyerah pada musuh. Jika sikap ini luntur, itu merupakan salah satu sifat yang dibenci Allah.

Ujubnya para zahid

Ujub adalah sifat yang seseorang yang mengagumi dirinya sendiri, dan termasuk dalam sifat yang dibenci Allah. Ujub merupakan penyakit hati yang bisa menyerang setiap manusia. Tanpa terkecuali pada seorang zahid yang menghindari dunia dan lebih dekat dengan akhirat.

Akan tetapi kezahidan yang mereka miliki akan membuat Allah murka jika dalam kezahidan itu terdapat ujub yang terlihat dari ucapan dan perilaku mereka. Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda:

“Tiga perkara yang akan menghancurkan: kekikiran yang dituruti, hawa nafsu yang diiuti dan ujub dengan diri sendiri.” (H.R Bazzar dan Ath-Thabrani)

Ahli Ibadah yang Riya

Allah SWT sangat membenci ahli ibadah yang ibadahnya diselimuti oleh riya.Mereka biasa menginginkan pujian dari manusia. Padahal riya merupakan syirik kecil yang sangat diwanti-wanti oleh Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam dan merupakan sifat yang dibenci Allah.

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Sifat Manusia Yang Paling Dibenci Oleh Alloh SWT

Dalam rumah tangga terdapat perbedaan kedudukan tentunya baik bagi suami atau juga istri sebagaimana kewajiban suami terhadap istri dan kewajiban istri terhadap suami.


Namun istri memiliki posisi yang istimewa, terutama bagi mereka yang dapat menjadi ciri ciri istri sholehah, sebagaimana Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

الدُّنْيَا كُلُّهَا مَتَاعٌ, وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الزَّوْجَةُ الصَّالِحَةُ

Dunia itu penuh dengan kenikmatan. Dan sebaik-baik kenikmatan dunia yaitu istri yang shalihah”

Sedangkan kedudukan kaum laki-laki dalam rumah tanggal dijelaksn dalam firman Allah SWT berikut ini :

Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S.al-Nisa (4) : 34).

Tanpa kita sadari dalam kehidupan keluarga tidak jarang para suami melakukan tindakan yang menyimpang dari ketentuan Allah SWT dan telah melanggar hak-hak isterinya. Oleh karena itu perlu sekali para suami mengetahui perbuatan-perbuatan yang oleh islam dikategorikan sebagai tindakan dosa suami terhadap istri sebagaimana dosa yang tak terampuni. Berikut Dosa besar Suami Terhadap Istri beserta dalilnya :

Tidak Mengajarkan Ilmu Agama

Perbuatan pertama yang dapat masuk sebagai kategori perbuatan dosa suami terhadap istri adalah tidak mengajarkan ilmu agama kepada istri.  Padahal sudah menjadi kewajiban suami untuk memelihara diri dan keluarga yang dipimpinnya dari perihnya azab kubur dan siksa neraka sebagaimana dalam Firman Allah SWT berikut.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu & keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia & batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras & tidak mendurhakai Allah terhadap apa yg di perintahkan-Nya kepada mereka & selalu mengerjakan apa yang diperintakan,” (QS. At-Tahrim:6).

Tidak merasa Cemburu 

Dosa yang kedua adalah tidak merasa cemburu terhadap istri. Dalam rumah tangga sendiri sifat cemburu sangat diperlukan sebagai bumbu bumbu dalam cinta, namun tentu saja hal ini tidak diperbolehkan dilakukan dengan berlebihan. Berikut hadist yang menjelaskan mengenai hal ini :

“Tiga golongan yang Allah tidak akan melihat mereka pada hari kiamat yaitu seseorang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, wanita yang menyerupai lelaki dan ad-Dayyuts,” (H.R. An-Nasa’i dinilai ‘hasan’ oleh syeikh Albani, lihat ash-Shahihah : 674).

Ad-Dayyuts(dayus) adalah lelaki yang tidak memiliki kecemburuan terhadap keluarga/istrinya.

Tidak Memberi Nafkah

Sudah banyak contoh para suami yang tak malu menelantarkan istrinya tanpa uang nafkah atau uang belanja sama sekali, ini merupakan dosa yang luar biasa. Bayangkan seorang wanita yang telah rela meninggalkan kedua orangtuanya untuk hidup mengabdi pada suami, bahkan rela mengandung anak dan melahirkannya untuk sang suami, namun diperlakukan seperti binatang peliharaan yang terabaikan dengan tidak diberi nafkah lahir sebagaimana hukum suami pelit menfkahi istri . Sungguh suami telah berbuat dosa besar jika melakukan hal ini.

Rasululluah bersabda, seseorang cukup dipandang berdosa bila ia menelantarkan belanja orang yang menjadi tanggung jawabnya,” (HR.Abu Dawud no.1442 CD, Muslim, Ahmad, dan Thabarani).

Membiarkan Istri Bekerja untuk Menafkahi Suami

Saat ini banyak istri yang memilih untuk bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Namun hal ini tentu tidak bisa menjadi alasan bagi suami untuk menyerahkan tampuk kepemimpinan rumah tangga dalam hal mencari nafkah. Terelbih lagi jika suami malah memilih bersantai leyeh leyeh dan membiarkan istri yang bekerja.

”Tidak akan beruntung suatu kaum yang dipimpin oleh seorang wanita,“(HR.Ahmad n0.19612 CD, Bukhari,Tirmidzi,dan Nasa’i).

Benci Kepada Istri

Tentunya memiliki sifat benci terhadap istri merupakan salah satu bentuk dosa suami terhadap istri. Rasulullah telah mengingatkan akan hal ini melalui hadist berikut :

“Janganlah seorang suami yang beriman membenci isterinya yang beriman. Jika dia tidak menyukai satu akhlak darinya, dia pasti meridhai akhlak lain darinya,”(H.R. Muslim).

Enggan Membantu Istri dalam Pekerjaan Rumah

Tidak sedikit suami yang ogah membantu pekerjaan domestik rumah tangga, padahal Rasulullah sendiri telah mencontohkan untuk membantu istri dalam persoalan rumahan sekalipun.

“Beliau (Rasulullah) membantu pekerjaan isterinya & jika datang waktu solat, maka beliau pun keluar untuk solat,” (H.R. Bukhari).

Menyebarluaskan Aib Istri

Aib istri tentu juga merupakan aib suami yang harus ditutupi, bukan yang harus disebarluaskan, sebab jika demikian maka suami telah melakukan dosa terhadap istri.

“Sesungguhnya di antara orang yang paling buruk kedudukannya di sisi Allah pada hari kiamat adalah seseorang yang menggauli isterinya & isterinya menggaulinya kemudian dia menyebarkan rahasia-rahasia isterinya,” (H.R. Muslim).

Poligami Tanpa Mengindahkan Syariat

Islam tidak melarang poligami, namun hal imi harus mengikuti syariat islam. Sebab jika dilakukan diluar syariat islam, maka hal ini merupakan dosa suami kepada istri.

“Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinlah) seorang saja,” (Q.S An-Nisa: 3).

Menyakiti Istri Secara Fisik

Mumukul, atau juga menyakiti istri secara fisik merupakan bentuk perbuatan dosa suami. Sebab wanita tentu merupakan kaum yang harus dilindungi. Selain merupakan perbuatan dosa, memukul dan menyiksa istri secara fisik juga merupakanj perbuatan yang melanggar hukum dan dapat dikenakan hukuman.

“Hendaklah engkau memberinya makan jika engkau makan, memberinya pakaian jika engkau berpakaian, tidak memukul wajah, tidak menjelek-jelekkannya…” (H.R. Ibnu Majah disahihkan oleh Syeikh Albani).

Bersikap Buruk kapada Istri namun Baik Terhadap Orang Lain

Padahal yang paling berhak menilai seseorang itu baik atau buruk bukanlah orang lain, melainkan pasangan kita sendiri.

“Mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik–baik kalian adalah yang paling baik tehadap isteri-isterinya,” (H.R. at-Tirmidzi, disahihkan oleh Syeikh Albani).

Meremehkan Kedudukan Istri

Suami dan istri memang memiliki kedudukan yang berbeda, namun tentunya hal ini tidak lantas membuat suami meremehkan kedudukan istri. bahkan istri memiliki posisi yang istimewa, penghargaan Islam terhadap kaum wanita sebagaimana tersebut dalam hadits nabi:

اَلْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلَادِ اِذَاصَلُحَتْ صَلُحَ الْبِلَادُ وَاِذَافَسَدَتْ فَسَدَ الْبِلَادُ (حديث)

“ Wanita adalah tiang negara jika wanitanya baik maka baiklah negara, dan bila wanita buruk maka negara juga ikut buruk”.

 Terburu Buru Mentalak 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ثَلاَثٌ جِدُّهُنَّ جِدٌّ، وَهَزْلُهُنَّ جِدٌّ: النِّكَاحُ وَالطَّلاَقُ، وَالرَّجْعَةُ.

“Tiga hal yang bila dikatakan dengan sungguh-sungguh akan jadi dan bila dikatakan dengan main-main akan jadi pula, yaitu nikah, talak dan rujuk.

Tidak Setia Terhadap Istri

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang mereka perbuat”. Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya”. [an-Nur/24: 30-31].

Wallohua'lam Bisshowab

Dosa Besar Suami Pada Istri Dalam Agama Islam

Bicara mengenai dosa, tentu ada banyak baik itu dosa yang dilakukan dengan hati atau dengan perkataan atau dengan anggota tubuh seperti tangan dan kaki dsb. Dari sekian banyak dosa tersebut, ada dosa yang paling berat hukumannya untuk dunia akherat yakni sebagai berikut :

Tiga Dosa dengan Hukuman Terbesar Menurut Rasulullah

Al-Ustadz Yazid bin ‘Abdul Qadir  Dari ‘Abdullah bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu ia berkata, “Aku bertanya kepada Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam , ‘Dosa apakah yang paling besar?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab, “Engkau menyekutukan Allâh padahal Dia yang telah menciptakanmu.” Kemudian aku bertanya lagi, ‘Kemudian dosa apa lagi?’

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  menjawab, “Engkau membunuh anakmu karena takut ia makan bersamamu.” Aku bertanya lagi, ‘Kemudian dosa apa lagi?’ Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam  pun menjawab, “Engkau berzina dengan istri tetanggamu.” Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh al-Bukhâri.

Membicarakan Aib Orang Lain (Ghibah)


Ghibah atau gosip merupakan sesuatu yang dilarang agama. “Apakah ghibah itu?” Tanya seorang sahabat pada Rasulullah saw. “Ghibah adalah memberitahu kejelekan orang lain!” jawab Rasul. “Kalau keadaaannya memang benar?” Tanya sahabat lagi. ” Jika benar itulah ghibah, jika tidak benar itulah dusta!” tegas Rasulullah. Percakapan tersebut diambil dari HR Abu Hurairah.

Dalam Al Qur’an (QS 49:12), orang yang suka meng-ghibah diibaratkan seperti memakan bangkai saudaranya sendiri. Jabir bin Abdullah ra. meriwayatkan,”Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba tercium bau busuk yang menyengat seperti bau bangkai. Maka Rasul pun berrsabda, “Tahukah kalian, bau apakah ini? Inilah bau dari orang-orang yang meng-ghibah orang lain”. (HR Ahmad)

Dalam hadits lain dikisahkan bahwa Rasulullah pernah bersabda, “Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril, `Siapa mereka?’ Jibril menjawab, `Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain,mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!’ (dari Abu Daud berasal dari Anas bin Malik ra).

Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka mengghibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

 Menyekutukan Allah dan Zina

Dan orang orang yang tidak mempersekutukan Allâh dengan sembahan lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina dan barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat. [Al-Furqân/25:68]. Sebab itu wajib untuk menjauhi zina dalam islam.

 Menganggap Ada yang Lebih Berkuasa dari Allah

“Katakanlah (Muhammad), ‘Serulah mereka yang kamu anggap (sebagai ilah) selain Allâh. Mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat dzarrah pun di langit dan di bumi, dan mereka sama sekali tidak memiliki peran serta dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya.’” [Saba’/34:22].

 Zalim yang Besar

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, ketika dia memberi pelajaran kepadanya, ‘Wahai anakku! Janganlah engkau mempersekutukan Allâh, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.”[Luqman/31:13]
larangan tertawa berlebihan dalam islam memang harus diperhatikan agar ingat dosa dan jauh dari zalim.

 Durhaka Kepada Orang Tua

Diriwayatkan dari Abu Bakrah Radhiyallahu anhu, ia mengatakan bahwa Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang dosa-dosa besar yang paling besar?” (Beliau mengulanginya tiga kali) Mereka (para Shahabat) menjawab,

“Tentu saja, wahai Rasûlullâh.” Beliau bersabda, “Syirik kepada Allâh, durhaka kepada kedua orang tua.” –Ketika itu beliau bersandar lalu beliau duduk tegak seraya bersabda:– “Dan ingatlah, (yang ketiga) perkataan dusta!” Perawi berkata: “Beliau terus mengulanginya hingga kami berharap beliau diam.”

 Memohon atau Berharap kepada Selain Allah

Sesungguhnya Allâh tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), dan Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki. Barangsiapa mempersekutukan Allâh, maka sungguh, dia telah berbuat dosa yang besar.[An-Nisâ`/4:48]

 Menjadi Kafir

Dan barangsiapa menyembah ilah yang lain selain Allâh, padahal tidak ada suatu bukti pun baginya tentang itu, maka perhitungannya hanya pada Rabb-nya. Sungguh orang-orang yang kafir itu tidak akan beruntung. [Al-Mukminûn/23:117]

 Tidak Menghiraukan Peringatan Allah

Katakanlah (Muhammad), ‘Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudharat bagi diriku kecuali apa yang dikehendaki Allâh. Sekiranya aku mengetahui yang ghaib, niscaya aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan tidak akan ditimpa bahaya. Aku hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman.” [Al-A’râf/7:188]

 Membunuh Anak Kandung

… Janganlah membunuh anak-anakmu karena miskin. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka … [Al-An’âm/6:151] Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin.Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu. Membunuh mereka itu sungguh suatu dosa yang besar.[Al-Isrâ`/17:31]

 Membunuh Orang Lain dan Membunuh Orang Sholeh

Syaikh Shalih al-Fauzan hafizhahullâh berkata, “Membunuh jiwa tanpa alasan yang benar merupakan dosa besar yang paling besar setelah syirik. Dan membunuh salah satu kerabat (saudara) merupakan jenis pembunuhan yang paling besar. Jika seseorang membunuh saudaranya, maka di dalamnya ada dua dosa;

(1) dosa membunuh jiwa tanpa alasan yang benar dan (2) dosa memotong tali kekeluargaan serta berbuat buruk kepada kerabatnya. Jika seseorang membunuh bapaknya, anaknya, saudaranya, atau kerabatnya yang lain, maka ini termasuk jenis pembunuhan yang paling besar. Membunuh jiwa tanpa alasan yang benar semuanya haram dan termasuk dosa besar.

Tetapi membunuh kerabat lebih besar lagi dosanya. Terlebih lagi jika pelakunya berkeyakinan buruk seperti takut saudaranya makan bersamanya (takut rezekinya berkurang), maka ini adalah keyakinan yang buruk terhadap Allâh, sebagaimana orang-orang jahiliyyah dahulu yang membunuh anak-anak mereka karena takut miskin.”

 Ragu Pada Rezeki dari Allah

Allâh Yang Maha Pemurah telah menciptakan seluruh makhluk, maka Allâh Azza wa Jalla jugalah yang menetapkan rezeki bagi seluruh makhluk-Nya, dan setiap makhluk tidak akan mati apabila jatah rezekinya belum habis. Allâh Azza wa Jalla berfirman:

Dan tidak satupun makhluk bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allâh rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya.Semua (tertulis) dalam Kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). [Hûd/11:6]Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allâhlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui. [Al-Ankabût/29:60]

 Mendekati Segala Sesuatu yang Haram

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: Wahai manusia! Bertakwalah kepada Allâh dan sederhanalah dalam mencari nafkah. Karena sesungguhnya seseorang tidak akan mati hingga sempurna rezekinya. Meskipun (rezeki itu) bergerak lamban. Maka, bertakwalah kepada Allâh dan sederhanalah dalam mencari nafkah, ambillah yang halal dan tinggalkan yang haram.

 Menggugurkan Kandungan

Para Ulama sepakat bahwa menggugurkan kandungan yang telah berusia 120 hari adalah perbuatan haram, termasuk pembunuhan, dan berdosa besar. Para Ulama sepakat bahwa aborsi setelah ruh ditiupkan ke dalam janin adalah haram, bahkan mereka menganggap bahwa aborsi adalah tindak pidana yang tidak boleh dilakukan seorang Muslim,

dan merupakan bentuk kejahatan terhadap manusia yang utuh. Karenanya, jika dalam melakukan aborsi, janin keluar dalam keadaan hidup dan kemudian mati, maka dikenakan diyat (denda yang sudah ditentukan ukurannya). Jika keluar dalam keadaan mati maka dendanya lebih ringan. Hukum ini juga berlaku untuk aborsi sebelum masa peniupan ruh.

Setidaknya ini adalah pendapat hampir seluruh Ulama. Karena penciptaan manusia pada dasarnya dimulai sejak sperma membuahi sel telur (ovum) sebagaimana yang diisyaratkan oleh hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam : Ketika nuthfah sudah berusia 42 hari, maka Allâh mengutus Malaikat untuk membentuknya, menciptakan telinga, mata, kulit, daging dan tulangnya .…

 Tidak Taubat akan Perbuatan Buruk yang Dilakukan

Dan orang orang yang tidak mempersekutukan Allâh dengan sembahan lain dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allâh kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina dan barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat hukuman yang berat, (yakni) akan dilipat gandakan adzab untuknya pada hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang orang yang bertaubat,

dan beriman dan mengerjakan kebajikan; maka kejahatan mereka diganti Allâh dengan kebaikan. Allâh Maha Pengampun, Maha Penyayang.” [Al-Furqân/25:68-70] Dalam ayat tersebut, Allâh Azza wa Jalla menghubungkan antara zina dengan syirik dan membunuh jiwa. Sebab, ketiga dosa ini adalah dosa besar, sama-sama sangat berat hukumannya dan adzabnya, serta dilipat-gandakan, selama pelakunya tidak memperbaiki hal tersebut dengan cara bertaubat dengan taubat yang ikhlas, jujur, benar, yang ia menyesali perbuatannya.

 Mendekati Zina Walaupun dengan Pikiran (Zina Hati)

Allâh Azza wa Jalla menyebutkan, “dan janganlah kamu mendekati zina!” Allâh Azza wa Jalla tidak berfirman, “Jangan berzina!” Hal ini karena Allâh Azza wa Jalla hendak menutup segala akses yang mengarah ke perbuatan zina. Kemudian Allâh menyebutkan bahwa (Zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk. Al-Hafizh Ibnu Katsir t dalam Tafsirnya mengatakan bahwa yang dimaksud dengan lafazh ‘al-fâhisyah’ adalah ‘dzanban ‘azhîman (dosa yang besar).

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah 16 Dosa Besar yang Sulit Diampuni dalam Islam

Jodoh merupakan ketentuan dan telah menjadi rahasia Allah SWT. Dalam islam, pada dasarnya tidak digunakan istilah jodoh, namun hal ini lebih mengarah kepada pasangan.


Pasangan yang dimaksud ialah sepasang laki-laki dan perempuan yang kemudian mengikat tali suci dalam ikatan sebuah pernikahan dan kemudian membangun rumah tangga dalam ajaran islam. Jodoh diidentikan dengan pasangan yang menikah kemudian terpisah karena maut yang memisahkan. Perihal perkara jodoh ini dengan jelas Allah SWT telah menjelaskan dalam firmanNya di bawah ini :

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (nikah) dan hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. An Nur : 32)

Dalam hal jodoh dan cinta menurut islam Allah SWT telah memberikan pertanda bahwa orang tersebut layak atau tidak untuk dijadikan pasangan seumur hidup. Seperti dalam firman Allah SWT berikut :

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum:21).

Perlu diketahui bahwa tidak setiap pasangan yang memiliki hubungan serius berakhir di kursi pelaminan. Banyak dari mereka yang telah bertahun tahun dekat namun, kemudian berpisah. Dan banyak juga yang bertemu sebentar dan langsung menikah. Artinya bahwa Allah SWT telah mentakdirkan jodoh yang ideal bagi kita.

Sebagai manusia kita tidak boleh mengabaikan setiap tanda darinya dalam upaya menikah dalam islam . Karenanya, berikut tanda kalau dia bukan jodoh kita dalam Agama islam.

Berikut penjelasannya :

Menyembunyikan Kamu dari Keluarga dan Sahabatnya

Salah satu hal yang meyakinkan bagi anda untuk menganggap bahwa si dia bukan jodoh yang tepat adalah, dapat anda liat dari keseriusannya untuk mengenalkan anda pada orang-orang terdekatnya. Jika ia malah terkesan menyembunyikan anda dari orang terdekat maka anda harus mulai bertanya tanya ada yang ditutupo olehnya. Biasanya seorang yang serius berkomitmen tidak akan segan dan akan langsung mengajak anda untuk dikenalkan kepeda orang tua dan teman-temanya.

Jika telah diajak bertemu orang tua maka sudah pasti ia tidak akan berani bermain-main dan siap melanjutnkan ke jenjang yang lebih serius. Namun, jika terkesan sembunyi-sembunyi, mungkin ia hanya ingin bermain-main dan tidak memiliki niatan serius.

Meminta Persyaratan Yang Mustahil Kamu Turuti

Cinta adalah berusaha menerima segala kekurangan dan mengabaikan segala keburukan. Dalam hal ini cinta sebagai pasangan ialah yang mampu menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain. Apalaginjika ada komitmen untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius tentu setiap pasangan tidak akan mensyaratkan hal yang tidak mungkin dipenuhi oleh pasangannya. Jika ia mensyratkan hal yang bahkan tidak dapat anda sanggupi maka bisa jadi ia bukanlah jodoh yang tepat.

Tidak Banyak Komunikasi Yang Di jalin 

Komunikasi merupakan hal dasar dalam sebuah hubungan. Tanpa komunikasi yang intens maka sebuah hubungan tidak akan berjalan dengan baik. Banyak yang mengatakan jika seseorang berjodoh dengan kita maka kita akan mudah dalam berkomunikasi dengannya. Sebaliknya jika anda jarang berkomunikasi, dan malah terkesan ogah-ogahan ya mungkin itu bisa menjadi sebuah tanda bahwa ia bukanlah pilihan yang tepat. Maka segeralah lepaskan, sebelum segala sesuatunya lebih mengarah ke arah yang serius.

Tidak Saling Percaya

Kepercayaan merupakan salah satu modal utama dalam melanjutkan sebuah hubungan. Jika tidak ada rasa saling percaya maka hubungan yang dibina akan dipenuhi rasa kecurigaan. Sehingga tentunya akan jauh dari kata harmonis. Bagaimana hubungan yang demikian akan di lanjutkan ke jejang pernikahan. Karena jika ia adalah jodoh yang di takdirkan kepada kita maka dalam hati keduanya akan saling percaya meskipun terpisah oleh jarak yang jauh.

Tidak Ada Komitmen Untuk Masa Depan

Hubungan yang baik akan selalu dilandasi oleh komitmen yang kuat. Baik anda ataupun si dia harus memiliki komitmen untuk bisa melanjutkan hubungan ke jenjang yang lebih serius . Banyak pasangan yang memiliki komitmen kuat namun, pada akhirnya tidak berjodoh. Nah, bagaimana yang komitmennya saja sudah tidak ada. Apakah layak disebut jodoh.

 Dia Tidak Disukai Keluargamu

Pernikahan bukan hanya menyatukan anda dan calon pasangan, namun juga menyatukan dua keluarga besar. Artinya bahwa siapapu jodoh anda tentunya akan bisa diterima oleh pihak keluarga satu sama lain. Namun, jika keluarga anda terutama kedua orang tua anda tidak menyukai pasngan anda. Maka segera pikirkan kembali, apakah dia jodoh terbaik untuk anda. Karena bisa jadi dedinisi jodoh disini adalah bukan hanya baik dimata anda tapi juga di mata keluarga dan Allah SWT.

Banyak Rahasia yang Disembunyikan

Setiap orang pasti memiliki rahasia dalam kehidupannya. Namun, bagi mereka yang berjodoh pasti akan salinh terbuka terhadap rahasia masing-masing yang dimiliki. Apalagi jika hubungan telah mengatah ke jenjang pernikahan tentu, sikap saling terbuka sangat penting. Dari pada mendengarnya dari orang lain, lebih baik mendengarnya langsung dari kita. Namun, jika pasangan anda terkesan menutup diri dan menyimpan banyak rahasia, maka hal tersebut bisa menjadi tanda bahwa ia bukanlah jodoh yang tepat bagi anda.

Tidak Menemukan Ketenangan Jiwa dan Hati Dalam Hubungan 

Firman Allah SWT dalam QS Al-Furqon ayat 74 dibawah ini :

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Furqon:74).

Dalam islam, jodoh merupakan seseorang yang bisa memberika ketenangan baik secara lahir dan batin. Ikatan emosional pada pasangan yang beejodoh akan lebih besar ketimbang dengqn yang tidak. Mereka yang berjodoh akan merasa aman, nyaman, tenang, dan bahagia saat bersama pasangan. Namun, jika kondisi sebaliknya yang dirasakan maka kemungkinan besar pasangan anda daat ini bukanlah jodoh yang tepat bagi anda.

Tidak Bisa Menerima Masa Lalu

Setiap orang memiliki masa lalu yang menjadi bagian dari cerita hidupnya. Ada yang suram, kelam dan bahkan penuh dengan aib. Namun, tahukah anda bahwa jodoh anda adalah ia yang bisa menerima segala kekurangan dan masa lalu amda seburuk apapun. Karena jodoh adalah mereka yang akan membimbing kita ke jalan yang lebih baik. Sebaliknya jika anda bertemu dengan sosok yang tidak bisa mentoleransi masa lalu anda, maka berfikirlah kembali untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Karena hal tersebut menjadi pertanda bahwa ia bukanlah jodoh bagi anda.

Kasar dan Protektif

Setiap manusia lahir dengan karakter dan tabiatnya masing-masing. Ada yang lembut, kasar, culas, protektif bahkan cenderung over protektif. Dalam sebuah hubungan jika pasangan mulai menunjukkan sikap kasar dan protektif atau menunjukkan perubahan prilakunya yang demikian. Maka, ini bisa menjadi sinyal bahwa ia bukanlah jodoh yang tepat bagi anda. Apalagi jika saat membina awal hubungan ia bersikap sebaliknya. Artinya bahwa ia berpura-pura dan menutupi tabiat aslinya untuk merebut simpati anda. Apakah anda mau tetap melanjutkannya dan hidup bersama orang yang kasar da protektif seumur hidup anda.

Sering Berbohong

Kebohongan adalah salah satu cara untuk menutupi ain dan kesalahan. Biasanya mereka yang biasa berbohong akan sulit dibedakan dengan mereka yang jujur. Dalam hubungan sebuah kebohongan merupakan sinyal bahwa hubungan yang dijalin bukan merupakan hubungan yang sehat. Bagaimana anda bisa melanjutkan hubungan yang serius jika is selalu membohongi anda. Jika tetap dipaksakan maka akan bisa berakhir ditengah jalan. So, mereka yang pembohong sudah pasti tidak layak disebut sebagai jodoh.

Dipersulit dalam Segala Hal 

Allah SWT telah mengatur setiap jodoh umatnya. Artinya bahwa ketika dipertemukan maka segala urusan akan selalu di mudahkan. Karena jodoh tersebut telah di restui oleh Allah SWT maka tidak akan dipersulit segala urusannya. Namun, sebaliknya jika semua urusan anda terasa sulit dan dipersulit dan selalu timbul masalah didalamnya. Maka hal tersebut merupakan pertanda bahwa Allah SWT memberi tahu anda melalui setiap kejadian bahawa ia bukanlah orang yang tepat untuk mendampingi anda.

Petunjuk Berdasarkan Shalat Istikharah yang Dilakukan

Dalam Islam sendiri Allah SWT menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat istikharah ketika mengalami kebimbangan. Begitupula dalam hal jodoh, jika anda merasa ragu, maka segera lakukan shalat istikharah. Insyaallah Allah SWT akan memberikan petunjuk bagi anda, apakah ia merupakan jodoh anda atau bukan. Agar tidak kecewa, maka asrahkanlah segalanya kepadaNya. Karena  Allah SWT tidak akan pernah mengabaikan umatnya. Seperti dalam Firman Allah SWT QS. AlBaqarah ayat 4 berikut :

“Dan jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu, sesungguhnya yang demikian itu amat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, yaitu orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Rabbnya, dan mereka akan kembali pada-Nya.”

Wallohua'lam Bisshowab

Inilah Tanda-tanda Dia Bukan Jodoh Kita Dalam Islam

Di balik ucapan mengkafirkan orang lain itu sebenarnya tersembunyi perasaan bahwa saya lebih baik dari dia; saya lebih islami, lebih suci, dan lebih benar serta akan masuk surga ketimbang dia. Persoalannya darimana kita tahu bahwa amalan ibadah kita "yang banyak sekali itu" pasti diterima Allah dan dosa mereka "yang begitu banyak itu" tidak akan Allah ampuni?


Seperti pengulangan sejarah kelam umat Islam yang gara-gara persoalan kepemimpinan selepas terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan kemudian terjadi perang antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan Mu'awiyah. Keduanya adalah sahabat Nabi yang harus kita hormati, namun gara-gara perbedaan politik ada sebagian pihak yang mengkafirkan salah satu atau keduanya. Muncul pula sejumlah hadits palsu hanya sekedar untuk mencaci atau mendukung salah satunya. Ayat suci direduksi menjadi alat politik.

Sepanjang sejarah kita saksikan betapa mudahnya sebagian pihak mengkafirkan Muslim lainnya. Seolah mereka tidak takut dengan ancaman dari penggalan Hadits Nabi ini:

‎وَمَنْ دَعَا رَجُلًا بِالْكُفْرِ أَوْ قَالَ عَدُوَّ اللَّهِ وَلَيْسَ كَذَلِكَ إِلَّا حَارَ عَلَيْهِ

"Barangsiapa memanggil dengan sebutan kafir atau musuh Allah padahal yang bersangkutan tidak demikian, maka tuduhan itu akan kembali kepada penuduh" (HR Bukhari-Muslim)

Berdasarkan prinsip kehati-hatian yang terkandung dalam Hadits di atas, maka para ulama berhati-hati untuk menjatuhkan vonis kafir kepada sesama Muslim.

Qadhi Iyad yang bermazhab Maliki menulis kitab yang sangat terkenal, yaitu al-Syifa bi Ta'rif Huquq al-Musthafa. Beliau menukil pendapat para ulama:

‎ونقل القاضي عياض رحمه الله عن العلماء المحققين قولهم:
‎يجب الاحتراز من التكفير في أهل التأويل فإن استباحة دماء المصلين الموحدين خطر، والخطأ في ترك ألف كافر أهون من الخطأ في سفك محجمة من دم مسلم واحد.

"Wajib menahan diri dari mengkafirkan para ahli ta'wil karena sungguh menghalalkan darah orang yang shalat dan bertauhid itu sebuah kekeliruan. Kesalahan dalam membiarkan seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim."

Kitab al-Syifa di atas diberi syarh (penjelasan) salah satunya oleh al-Mulla Ali al-Qari al-Harawi yang bermazhab Hanafi. Beliau memberi penjelasan sebagai berikut:

قال علماؤنا إذا وجد تسعة وتسعون وجها تشير إلى تكفير مسلم ووجه واحد إلى ابقائه على إسلامه فينبغي للمفتي والقاضي أن يعملا بذلك الوجه وهو مستفاد من قوله عليه السلام ادرؤوا الحدود عن المسلمين ما استطعتم فإن وجدتم للمسلم مخرجا فخلوا سبيله فإن الإمام لأن يخطئ في العفو خير له من أن يخطئ في العقوبة رواه الترمذي وغيره والحاكم وصححه

"Berkata para ulama kita jika terdapat 99 hal yg menguatkan kekafiran seorang Muslim, tetapi masih ada satu alasan yang menetapkan keislamannya maka sebaiknya Mufti dan Hakim beramal dengan satu alasan tersebut, dan ini sesuai dengan sabda Nabi Muhammad SAW: 'Hindarkanlah hukuman-hukuman pidana dari kaum Muslimin semampu kalian, jika kalian mendapatkan jalan keluar bagi seorang Muslim, maka pilihlah jalan itu. Karena sesungguhnya seorang pemimpin yang salah dalam memberi maaf itu lebih baik dari pada pemimpin yang salah dalam menghukum,' sebagaimana diriwayatkan Imam Turmudzi dan lainnya dan Imam al-Hakim yang mensahihkannya."

Dari penjelasan di atas terlihat jelas kehati-hatian para ulama. Meskipun ada sekian banyak bukti yang mengarah pada kekafiran saudara kita, namun jikalau masih terlihat satu saja alasan untuk menetapkan keislamannya, para ulama memilih satu alasan tersebut dan menahan diri untuk mengkafirkan orang tersebut. Lebih baik kita keliru menyatakan dia tetap Islam ketimbang kita keliru mengatakan dia kafir. Lebih baik kita keliru memaafkan dia ketimbang kita keliru menghukum orang yang tak bersalah.

Ucapan senada juga sudah disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang bermazhab Syafi'i dalam kitab al-Iqtishad fil I'tiqad:

‎وقال أبو حامد الغزالي :
‎"والذي ينبغي الاحتراز منه :"التكفير" ما وجد إليه سبيلا، فإن استباحة الدماء والأموال من المصلين إلى القبلة، المصرحين بقول لا إله إلا الله محمد رسول الله خطأٌ، والخطأ في ترك ألفِ كافر في الحياة أهون من الخطأ في سفك دمٍ لمسلم"

"Agar menjaga diri dari mengkafirkan orang lain sepanjang menemukan jalan untuk itu. Sesungguhnya menghalalkan darah dan harta Muslim yang shalat menghadap qiblat, yang secara jelas mengucapkan dua kalimat syahadat, itu merupakan kekeliruan. Padahal kesalahan dalam membiarkan hidup seribu orang kafir itu lebih ringan dari pada kesalahan dalam membunuh satu nyawa Muslim.”

Rasulullah SAW juga bersabda:

"tiga perkara yang merupakan dasar keimanan: menahan diri dari orang yang mengucapkan La Ilaha illallah, tidak mengkafirkannya karena suatu dosa, dan tidak mengeluarkannya dari keislaman karena sebuah amalan..." (HR Abu Dawud, nomor 2170)

Pengkafiran Hanya Hak Allah dan Rasulullah

Sebelum memahami tentang perbuatan mengkafirkan, kita wajib mengetahui terlebih dahulu mengenai kedudukan kaum muslimin di mata Allah. Kaum muslimin ialah kaum yang paling dilindungi dan diberkahi Allah, kaum muslimin selalu mendapat ridho dalam setiap urusannya jika melakukan segala sesuatu sesuai syariat dan aturan islam serta tidak melanggar perintahNya. keutamaan iman dalam islam akan menjauhkan seorang mukmin dari hawa nafsu yang dapat menuju kepada kafir.

Allah selalu memerintahkan hambaNya untuk tolong menolong dan saling mengingatkan dalam kebaikan, jika sesama muslim saling mengkafirkan atau saling berkhianat tentu tidak akan ada kerukunan dan kedamaian dalam beragama. Contohnya ialah saing tuduh menuduh dan mengkafirkan. “Pengkafiran itu adalah hak Allah dan RasulNya, oleh karena itu tidaklah seseorang itu kafir kecuali yang dikafirkan oleh Allah dan RasulNya”. (Irsyad Ulil Abshar wal Albab linail Fiqh hal 198).

Pengkafiran hanya menjadi hak Allah dan RasulNya yang mengetahui isi hati manusia, sesama manusia tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain baik yang berhubungan dengan ajakan atau menuduh. Hal tersebut akan merusak kedudukan kaum muslimin di mata Allah dan mendapat berbagai azab baik di dunia maupun di akherat dimana seharusnya sesama muslim saling menjaga akhlak agar sama sama menjauhi godaan syetan yang terkutuk sehingga akan terkena azab menghina islam.

HUKUM MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM

Hukum mengkafirkan orang lain ialah haram, tidak pernah ada perintah atau teladan Rasulullah dalam hal tersebut manusia tidak berhak memastikan hati dan amalan orang lain, sebab merupakan kuasa Allah semata. Bagaimana mungkin mengajak kepada kemungkaran sementara dia tahu bahwa hidup di  dunia menurut islam hnayaah sementara? Haramnya mengkafirkan orang lain sesuai dengan berbagai hadist dan firman Allah berikut

Kekafiran Kembali Kepada Orang yang Melakukan

“Siapa saja yang berkata pada saudaranya : hai kafir, maka akan terkena salah satunya jika yang vonisnya itu benar, dan jika tidak maka akan kembali kepada orang yang mengucapkannya”. (HR Bukhari). Penjelasan dari hadist tersebut ialah seseorang yang mengkafirkan orang lain sekalipun dengan ucapan, hal tersebut akan kembali kepada dirinya sendiri. artinya orang tersebut juga dianggap kafir sebab telah berkata demikian pada sesama muslim yang seharusnya saling mencegah maksiat satu sama lain.

Contoh yang demikian tidak wajib dihindari, tidak diperbolehkan mengkafirkan orang lain walaupun hanya dengan kata kata yang tidak sengaja seperti ucapan yang bercanda. Hal demikian termasuk haram. Agama islam bukan sebagai bahan untuk bercanda, sebab akhlak dan syariat islam adalah bagian yang terdalam dari hati manusia dan menjadi panduan dalam kehidupan sehari hari. menjadikannya sebagai bahan gurauan sama saja seperti mengkafirkan orang lain.

Termasuk Dosa Besar

“Dan melaknat seorang mukmin sama dengan membunuhnya, dan menuduh seorang mukmin dengan kekafiran adalah sama dengan membunuhnya”. (HR Bukhari). Mengkafirkan walaupun hanya dengan menuduh termasuk dosa besar yang hukumannya sama dengan membunuh sebab mengkafirkan telah menjauhkan orang dari jalan Allah yang lurus dan menjerumuskan orang lain kepada jalan yang sesat.

Contoh nyata mengkafirkan orang lain ialah adanya aliran yang mengaku mengikuti syariat islam tetapi dalam segala urusannya sama sekali tidak mengikuti perintah Allah dan RasulNya. Seperti yang dilakukan oleh para teroris yang melakukan pembunuhan dan pengeboman di berbagai tempat yang berawal dari pengaruh bahwa hal tersebut akan membawanya ke surga. Padahal justru hal sebaliknya yang terjadi sebab dia telah menghilangkan nyawa orang banyak.

Larangan Rasulullah

“Tidaklah seorang memvonis orang lain sebagai fasiq atau kafir maka akan kembali kepadanya jika yang divonis tidak demikian”. (HR Bukhari). Penjelasan tersebut ialah larangan untuk mengkafirkan seseorang yang muslim atau memiliki akhlak islam yang baik sebab kekafiran tersebut justru akan kembali kepada dirinya sendiri. contohnya ialah tindakan yang menuduh orang alim atau ulama dengan sesuatu yang buruk.

Hukum mengkafirkan orang lain jelas haram sesuuai sabda Rasulullah walaupun hanya berupa vonis atau tuduhan semata. Setiap manusia wajib menghormati sesama muslim dan mencegah keburukan serta kemaksiatan satu sama lain. jika melakukan kekafiran maka orang tersebut telah melakukan hal yang sebaliknya, yaitu mengarahkan orang lain kepada kemaksiatan.

Mengingkari Ayat Ayat Allah

“ Dan tiadalah yang mengingkari ayat ayat kami selain orang orang kafir”. (QS Al Ankabut : 47 ). Mengkafirkan orang lain sama saja dengan mengingkari ayat ayat Allah sebab mengingkari perintah yang terdapat dalam firmanNya. Jelas dalam firman Allah diperintahkan untuk mengasihi sesama dan mengajak sesama muslim untuk berbuat kebaikan. Jika ada seseorang yang tidak mengikuti syariat islam, maka bukan menjadi hak manusia untuk menghakimi atau mengakfirkan melainkan hanya Allah yang berhak menilainya.

Rasulullah dan para sahabat sejak jaman terdahulu ketika islam telah disebarkan tidak pernah mengingkari atau meragukan ayat ayat Allah. Rasulullah juga tetap bersikap baik pada setiap orang walaupun orang tersebut bukan pengikutnya atau menjalankan perintah islam. Tetapi rasulullah tidak semata menganggap orang tersebut akan kafir untuk seterusnya sebab beliau menyadari bahwa Allah bisa kapan saja membolak balikkan hati umatNya.

Ikut Menjadi Golongan Kafir

“ Barang siapa mencari agama selain agama islam, maka sekali kali tidaklah akan diterima agama itu daripadanya dan dia di akherat termasuk orang orang yang rugi”. (Kasfu Al Qana ). Mengkafirkan orang lain termasuk tindakan mencari agama selain islam, hal tersebut ialah sebuah kerugian dan tidak akan diterima amal kebaikannya di dunia dan di akherat.

contoh dalam masa sekarang ialah seseorang yang mempegaruhi sesama muslim untuk tidak menjalankan kewajiban sebagai umat muslim.
Walaupun hanya sebuah tindakan sepele, tetapi termasuk mengkafirkan sebab menjadi umat muslim ialah berarti keseluruhan dan kesempurnaan amal ibadah seperti menjalankan segala perintah dan menjauhi laranganNya.

Dosa orang yang dikafirkan akan ditanggug oleh orang yang mengkafirkan dan keduanya sama sama mendapat azab dari Allah dan menjadi golongan kafir.

Hati Dikunci oleh Allah

“ Dan diantara mereka ada yang mendengar perkataanmu sehingga apabla mereka keluar dari sisimu orang orang berkata kepada orang yang telah diberi ilmu pengetahuan: apakah yang dikatakan tadi? Mereka itulah orang orang yang hatinya dikunci oleh Allah”. (QS Muhammad : 16 ). Hukum mengkafirkan orang lain yang jelas haram membuat orang yang melakukannya sennatiasa berada dalam jalan yang sesat, sulit menerima hidayah karena hatinya telah dikunci oleh Allah.

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga tulisan di atas bisa bermanfaat bagi kita semua.

Sumber : www.dalamislam.com & www.NU.or.id

Larangan Mengkafirkan Orang Lain dan Hukumnya dalam Islam