Social Items

Showing posts with label asal usul gunung Semeru. Show all posts
Showing posts with label asal usul gunung Semeru. Show all posts
Kawah Ijen (Ijen crater) merupakan sebuah danau terbesar di dunia dengan derajat keasaman yang sangat tinggi (pH <0,5) dan juga terisi air yang telah mengalami mineralisasi volkanik.

Di sini Juga terdapat sebuah solfatara permanen di tepi danau, yang terus-menerus menghasilkan belerang murni. Belerang ini ditambang oleh pekerja lokal.

Sesekali juga terjadi ledakan akibat adanya kegiatan freatik, yang terjadi ditengah danau. Aktifitas freaktik ini ditengarai sebagai indikasi ancaman utama dan telah terjadi beberapa kali.

Yang ditulis tentang Kawah Ijen ini merupakan sebuah terjemahan yang dibuat oleh Commission of Volcanic Lakes (Komisi danau Vulkanik) yaitu sebuah komisi dari organisasi dunia IAVCEI (International Association of Volcanology and Chemistry of the Earth’s Interior).

TERBENTUKNYA KALDERA IJEN.


Genesa Kaldera Gunung Ijen ini dibuat pertama kali oleh Van Bammelen tahun 1941. Kemudian disempurnakan oleh beberapa penulis berikutnya. Dibawah ini gambaran terbentuknya Kawah dan Kaldera Ijen.

Kondisi pada Pra-kaldera (sebelum terbentuk kaldera),  tidak diketahui apa yang terjadi sebelum 300.000 tahun lalu, namun diperkirakan sudah terbentuk  Stratovolcano tunggal (Paleo Ijen) dengan perkiraan ketinggian 3500 m.  Gunung yang berisi lava dan pyroclastics ini berada diatas endapan berumur Miosen (12.5 juta tahun) yang berupa batu gamping.

Pembentukan kaldera diperkirakan terkait dengan letusan dengan volume besar yang menghasilkan (~ 80 km3) endapan aliran piroklastik, yang mencapai ketebalan 100-150 m. Yang paling luas berada di bagian utara lereng  kompleks gunungapi ini.

Peristiwa ini diperkirakan terjadi beberapa waktu sebelum 50.000 tahun lalu, Ini disimpulkan berdasarkan pada analisa umur dari K-Ar (50 ± 20 ka) dari aliran lava dari Gunung  Blau yang dianggap menjadi unit pasca-kaldera tertua.

Pada saat itu juga diperkirakan terjadi  pembentukan danau di lantai kaldera. Danau sedimen yang terdiri dari serpih, pasir dan saluran sungai endapan yang terkena di daerah utara dekat Blawan.

Kegiatan vulkanik pasca pembentukan kaldera diantaranya  fase letupan phreatomagmatic, freatik, strombolian dan Plinian yang menghasilkan kerucut lingkaran, yang umumnya berupa bangunan-bangunan komposit, dan kerucut dalam, yang sebagian besar adalah dibangun oleh material abu vulkanik.

Gunung berapi ini menghasilkan abu vulkanik muda dan kerucut scoria (batu apung), serta lava, endapan aliran piroklastik dan endapan material hasil longsoran dan puing-puing yang sekarang mencakup aliran kaldera.

Menurut Sitorus (1990) penanggalan radiokarbon dari endapan aliran piroklastik menghasilkan umur> 45.000  BP (di Jampit) 37.900 ± 1850 (di Suket), 29.800 ± 700 (di Ringgih), 24.400 ± 460 (di Pawenen Tua), 21.100 ± 310 (di Malang) dan 2.590 ± 60 (di Ijen).

Kegiatan vulkanik yang tercatat ini adalah terbatas pada gunung berapi Ijen, yang memiliki kandungan asam di kawah danaunya,  setidaknya merupakan catatan dalam 200 tahun terakhir. Letusan bersejarah yang terdokumentasi ini tidak mencacat munculnya anak-anak produk magmatik tetapi terutama hanya freatik.

DANAU KAWAH IJEN


Danau Kawah berada pada ketinggian (2200 m dpl) memiliki bentuk oval yang teratur (600 x 1000 m), luas permukaan 41 x 106 m2 dan volumenya diperkirakan antara 32 dan 36 x 106 m3. Pada tahun 1921 dibangun bendungan oleh Belanda untuk mengatur tingkat air dan mencegah melimpah bencana selama musim hujan.

Awalnya pintu air yang digunakan tetapi ini konstruksi tetapi sekarang tidak dapat dioperasionalkan lagi karena danau ini bocor !. Kesamaan antara peta topografi 1920 (Kemmerling, 1921) dan 1994 (VSI) menunjukkan bahwa morfologi kawah tidak banyak berubah di terakhir meskipun sejarah peristiwa letusan freatik telah terjadi berulang-ulang.

Sebaliknya, morfologi dasar danau kawah telah mengalami perubahan yang signifikan. Kedalaman soundingpada tahun 1925 mencatat kedalaman maksimum 198 meter pada titik terdalam, yang kemudian berada di sebelah timur dari pusat.

Pada tahun 1938 titik terdalam telah bergerak ke barat dengan hasil bahwa danau lebih dalam di pusat (~ 200 m) dan di beberapa titik di bagian barat. Pengukuran kedalaman terbaru yang dilakukan pada tahun 1996 (Takano, data tidak dipublikasikan) menunjukkan bahwa kedalaman maksimum sedikit ber kurang.


Berikut ringkasan didasarkan pada Laporan Kegiatan Vulkanik dari Smithsonian Institution Program Global Vulkanisme:


  1. Tahun 1796 : terjadi letusan freatik T
  2. Tahun1817 15-16 Januari: Letusan freatik (banjir lumpur menuju Banyuwangi, cukup besar volume air danau dibuang ke Sungai Banyupahit)
  3. Tahun 1917 25 Februari – 14 Maret: danau tampak mendidih; letusan freatik berulang, lumpur dilemparkan hingga 8-10 m di atas permukaan danau.
  4. Tahun 1921-1923 Peningkatan suhu air danau; uap gas di atas permukaan air danau.
  5. Tahun 1936 5-25 November 1936: Letusan freatik lahar memproduksi mirip dengan 1796 dan 1817
  6. Tahun 1952 22 April 1952: letusan uap sampai 1 km tinggi, lumpur dilemparkan hingga 7 m di atas permukaan danau
  7. Tahun 1962 13 April 1962 : 7 m erupsi tinggi; gas gelembung di permukaan danau, sekitar 10 m dengan diameter 18 April: gelembung air hingga 10 m tinggi, perubahan cat air.1
  8. Tahun 1976 30 Oktober: air mendidih pada Silenong selama 30 menit
  9. Tahun 1991 15,21,22 Maret: gelembung air dan mengubah warna air, gas yang tinggi 25-50 m pencurahan pada kecepatan tinggi; kegiatan ini tercatat sebagai gempa seismik antara 16 dan 28 Maret. 
  10. Tahun 1993 3,4,7 Juli dan 1 Agustus: letusan freatik, perubahan warna air danau, Pencurahan, kebisingan booming, uap menggumpal, semua terpusat di tengah danau
  11. Tahun 1994 Februari 3: letusan freatik kecil dari bagian selatan danau. Bersamaan dengan letusan, tingkat danau naik ~ 1 m. 
  12. Tahun 1977 Akhir Juni 1997: periode aktivitas seismik meningkat, perubahan warna air danau; gas gelembung dan daerah sampai dipipinya; kuat bau belerang; burung terlihat jatuh ke air, satu atau lebih pekerja belerang dekat puncak melaporkan pusing dan sakit kepala. 
  13. Tahun 1999 28 Juni: letusan freatik di dua lokasi. Sebuah ledakan yang menyertainya terdengar di pertambangan belerang km 2 situs dari puncak dan tremor vulkanik direkam dengan amplitudo 0.5-1 mm. Minggu berikutnya, 06-12 Juli, kuning abu-abu emisi sulfur yang diamati dari kawah dan keras “jagoan” terdengar suara. Air danau kawah adalah putih kecoklatan dan telah mengambang menggumpalkan belerang pada permukaan. Kegempaan meningkat dimulai pada awal April. Jumlah tipe B acara tetap tinggi (lebih dari 34/week) untuk sebagian periode melalui pertengahan Juni. Kemudian secara bertahap menurun kegempaan sampai pertengahan Juli, setelah mana jumlah mingguan B-jenis acara tetap stabil pada rata-rata 9/week. Selama periode 18 Mei sampai pekan yang berakhir pada tanggal 21 Juni sebuah “abu membanggakan putih” naik 50-100 m.

Sejarah Asal usul Terbentuknya Gunung Dan Kawah Ijen Jawa Timur

Gunung Semeru adalah Gunung Tertinggi di Pulau Jawa, puncak gunung Semeru adalah Mahameru.


Gunung Semeru memiliki puncak ketinggian 3.676 M dari permukaan laut merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini banyak menyimpan sebuah misteri yang akan kita kupas tuntas yaitu Sejarah Gunung Semeru.

Selain keindahan dan panorama alam yang begitu memukau ternyata Semeru mempunyai sebuah Sejarah yang menyimpan banyak mitos.
Menurut sejarah Mahameru adalah tempat bersemayamnya para dewa.

Menurut kepercayaan orang Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa dulunya mengambang di lautan luas dan terombang-ambing dipermainkan ombak. Pada suatu saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau tersebut dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Namun pulau tersebut masih terombang ambing tak menentu.

Para Dewa lalu memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India di atas Pulau Jawa. Untuk memindahkan Gunung Meru tersebut, Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut.

Kedua dewa tersebut lalu meletakkan gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya satu di ujung timur dan satu di barat.

Potongan gunung yang berada di sebelah barat membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Di gunung inilah diyakini para dewa bersemayam.

Dalam agama Hindu Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung antara bumi (manusia) dan kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Tak ayal, hingga saat ini banyak masyarakat Jawa dan Bali masih menganggap gunung sebagai Semeru tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru juga dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat hantu Ranu Kumbolo. Banyak orang yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh bangsa Jin.

Begitulah kurang lebih kisah dari Gunung Semeru yang berada di Provinsi Jawa Timur.

Sejarah Legenda Gunung Semeru Jawa Timur


Gunung adalah bagian dari permukaan bumi yang menjulang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah sekitarnya. Sebuah gunung yang menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan lokal dan wisawan asing di kawasan pulau jawa terutama Jawa Timur adalah Gunung Semeru. Semeru dengan puncak ketinggian 3.676 M dari permukaan laut merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTN) ini banyak menyimpan sebuah misteri yang akan kita kupas tuntas yaitu Sejarah Gunung Semeru.

Selain keindahan dan panorama alam yang begitu memukau ternyata Semeru mempunyai sebuah Sejarah yang menyimpan banyak mitos. Di ceritakan oleh masyarakat Jawa akan sejarah dan legenda gunung semeru yang di ambil dari kitab kuno abad ke 15 bahwasanya gunung Semeru atau puncak Mahameru di percaya sebagai tempat bersemayam para dewa tertinggi umat hindu yaitu dewa Siwa. Di katatakan pula bahwasanya tuhan mahatunggal yang bersemayam di puncak Mahameru di kenal sebagai gunung Himawan atau Kailasa.
Kata Semeru sendiri di ambil dari bahasa sangsekerta yaitu “Meru Agung” yang artinya pusat dari alam semesta baik secara fisik maupun spiritual. Semeru juga di artikan sebagai “Lingga Acala” Lingga mempunyai 2 arti kata, pertama sesuatu yang tidak bergerak dan yang kedua yaitu sesuatu yang bukan ciptaan manusia. dan kata Acala mempunyai arti gunung atau karang.



Gunung Semeru atau Legenda gunung Semeru yaitu asal-usul gunung Semeru berasal dari negara mayoritas agama Hindu yaitu India yang di angkat ke pulau jawa. Pada zaman dahulu kala dewa tertinggi dalam hindu yaitu Hyang Siwa di perintahkan oleh Batara Guru untuk memindahkan puncak Gunung Mahameru dari Bharatawarsa india ke tanah Jawa. Perintah itu di lakukan karena kondisi tanah jawa pada saat itu terombang ambing dan tidak stabil. Gunung yang di bawa oleh dewa Siwa akhirnya di jatuhkan di sisi barat pulau jawa, namun berat gunung Meru membuat ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Lantas di di penggal separuh gunung meru tersebut dan dibawa serta di jatuhkan di ujung timur. dengan demikian kondisi tanah jawa menjadi seimbang.
Potongan utama yang di letakkan di ujung barat membentuk sebuah Gunung yang bernama Pawitra, yang kini dikenal dengan Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru yang berada di ujung timur, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru.
Gunung Meru yang di bawa dari india dan di letakkan di pulau jawa tersebut tidak hanya membentuk 2 gunung saja tetapi ketika Puncak gunung Meru yang di bawa oleh dewa Siwa ke bagian timur pulau jawa tersebut ada yang berjatuhan dan tumbuh menjadi beberapa gunung kecil di antaranya ada Gunung Lawu 3.265 mdplGunung Wilis 2.169 mdplGunung Kelud 1.713 mdplGunung Kawi 2.631 mdplGunung Arjuna 3.339 mdpl, dan terakhir Gunung Kemukus 3.156 mdpl.
Semeru yang di kenal dengan gunung Suci, legenda dan misteri yang menyelimutinya, gunung ini mempunyai sebuah gapura ghaib yang hanya bisa di lihat oleh orang-orang yang mempunyai ilmu tinggi alam ghaib. Gapura itu di jaga sebuah arca yang saat ini di sebut dengan Arca Podo. sesuai namanya Arcopodo sebenarnya berasal dari kata “Arca dan Pada“, yang dalam bahasa Jawa Sangsekerta, PADA artinya sama. ”Jadi, Arca-Pada adalah Arca yang sama”

Menurut pandangan lain dari beberapa sumber sejarawan merujuk pada buku Prof. Soekmono. jadi Arcopodo adalah Arca perwujudan dari Dewa Kala dan Anukala yang mana para dewa itu mempunyai tugas untuk menjaga gerbang gapura candi pada gapura baratnya. Tidak hanya itu bagian timur, selatan dan utara juga di jaga oleh beberapa Dewa lain di antaranya penempatan para Dewa di gapura bagian timur dijaga oleh dewa Gana, gapura Selatan di jaga oleh dewa Agasti, dan untuk gapura bagian utara di jaga oleh dewa Gauri. Jadi para dewa itulah yang menjaga gerbang gapura menuju puncak Mahameru tempat tersuci.
Sekali lagi Gunung Semeru atau puncak Mahameru merupakan gunung suci, jadi jika anda berencana untuk mendaki gunung Semeru kami harapkan anda bisa menjaga sikap, omongan, dan menjaga kelestarian alam, serta tidak membuang sampah sembarangan.

Kisah Asal usul Gunung Semeru