Social Items

Kekayi merupakan wanita ketiga yang dinikahi Dasarata setelah dua permaisurinya yang lain tidak mampu memiliki putera.


Pada saat Dasarata meminang dirinya, ayah Kekayi membuat perjanjian dengan Dasarata bahwa putera yang dilahirkan oleh Kekayi harus menjadi raja. Dasarata menyetujui perjanjian tersebut karena dua permaisurinya yang lain tidak mampu melahirkan putera.

Namun setelah menikah dan hidup lama, Kekayi belum melahirkan putera. Setelah Dasarata melakukan upacara besar, akhirnya Kekayi dan premaisurinya yang lain mendapatkan keturunan. Kekayi melahirkan seorang putera bernama Bharata.

JANJI DASARATA

Pada suatu ketika di sebuah pertempuran, roda kereta perang Dasarata pecah. Dalam masa-masa genting tersebut, Kekayi yang berada di sana datang menyelamatkan Dasarata serta memperbaiki kereta tersebut sampai bisa dipakai lagi.

Karena terharu oleh pertolongan Kekayi, Dasarata mempersilakan Kekayi untuk megajukan tiga permohonan. Namun Kekayi menolak karena ia ingin menagih janji tersebut pada saat yang tepat.

TUNTUTAN KEKAYI PADA DASARATA

Sebagai istri yang paling muda, Kekayi merasa cemas apabila Dasarata kurang mencintainya dibandingkan dua istrinya yang lain. Saat Rama hendak dinobatkan menjadi raja, pelayan Kekayi yang bernama Mantaradatang dan menghasut Kekayi agar mengangkat Bharata menjadi Rama sekaligus menyingkirkan Rama ke hutan selama 14 tahun.

Dengan mengangkat Bharata menjadi raja, Mantara berharap bahwa Kekayi akan menjadi ibu suri dan statusnya berada di atas permaisuri yang lain. Kekayi menolak usul Mantara karena ia tahu bahwa Rama lebih pantas menjadi raja, dan setelah itu Bharata akan menggantikannya.

Mendengar alasan Kekayi, Mantara berkata bahwa tidak ada alasan bagi Bharata untuk menjadi raja menggantikan Rama karena jika Rama menjadi raja sampai akhir hayatnya, maka tidak ada kesempatan bagi Bharata untuk menggantikannya karena tahta diserahkan kepada keturunan Rama.

Setelah Mantara menghasut Kekayi dengan berbagai alasan, Kekayi mengambil tindakan. Ia menemui Raja Dasarata dan meminta dua permohonan sesuai dengan kesempatan yang telah diberikan sebelumnya. Pertama ia memohon Bharata untuk menjadi raja, dan yang kedua ia memohon agar Ramadiasingkan ke hutan.

Dengan berat hati, Raja Dasarata memenuhi permohonan tersebut, namun tak lama kemudian ia wafat dalam keadaan sakit hati.

Setelah Dasarata wafat, Kekayi mulai menyesali tindakannya dan memarahi dirinya sendiri atas kematian Sang Raja. Rakyat Ayodhya pun marah dan menghujat Kekayi. Bharata juga marah dan berkata bahwa ia tidak akan menyebut Kekayi sebagai ibunya lagi.

Pelayan Kekayi yang bernama Mantara hendak dibunuh oleh Satrugna karena menghasut Kekayi dengan lidahnya yang tajam, namun ia diampuni oleh Rama.

Setelah Rama menghabiskan masa pengasingannya di hutan selama 14 tahun, Kekayi dan Bharata menyambutnya dan merestui Rama untuk menjadi raja.

Kisah Asal usul Kekayi dalam Ramayana

Parasurama adalah Bhargawa yang bermakna "keturunan Maharesi Bregu". Ia sendiri dikenal sebagai awatara Wisnu yang keenam dan hidup pada zaman Tretayuga.


Pada zaman ini banyak kaum kesatria yang berperang satu sama lain sehingga menyebabkan kekacauan di dunia. Maka, Wisnu sebagai dewa pemelihara alam semesta lahir ke dunia sebagai seorang brahmana berwujud angker, yaitu Rama putra Jamadagni, untuk menumpas para kesatria tersebut.

Parasurama merupakan putra bungsu Jamadagni, seorang resi keturunan Bregu. Itulah sebabnya ia pun terkenal dengan julukan Bhargawa. Sewaktu lahir Jamadagni memberi nama putranya itu Rama.

Setelah dewasa, Rama pun terkenal dengan julukan Parasurama karena selalu membawa kapak sebagai senjatanya. Selain itu, Parasurama juga memiliki senjata lain berupa busur panah yang besar luar biasa.

Sewaktu muda Parasurama pernah membunuh ibunya sendiri, yang bernama Renuka. Hal itu disebabkan karena kesalahan Renuka dalam melayani kebutuhan Jamadagni sehingga menyebabkan suaminya itu marah. Jamadagni kemudian memerintahkan putra-putranya supaya membunuh ibu mereka tersebut.

Ia menjanjikan akan mengabulkan apa pun permintaan mereka. Meskipun demikian, sebagai seorang anak, putra-putra Jamadagni, kecuali Parasurama, tidak ada yang bersedia melakukannya. Jamadagni semakin marah dan mengutuk mereka menjadi batu.

Parasurama sebagai putra termuda dan paling cerdas ternyata bersedia membunuh ibunya sendiri. Setelah kematian Renuka, ia pun mengajukan permintaan sesuai janji Jamadagni. Permintaan tersebut antara lain, Jamadagni harus menghidupkan dan menerima Renuka kembali, serta mengembalikan keempat kakaknya ke wujud manusia. Jamadagni pun merasa bangga dan memenuhi semua permintaan Parasurama.

MENUMPAS KAUM KESATRIA

Pada zaman kehidupan Parasurama, ketenteraman dunia dikacaukan oleh ulah kaum kesatria yang gemar berperang satu sama lain. Parasurama pun bangkit menumpas mereka, yang seharusnya berperan sebagai pelindung kaum lemah. Tidak terhitung banyaknya kesatria, baik itu raja ataupun pangeran, yang tewas terkena kapak dan panah milik Rama putra Jamadagni.

Konon Parasurama bertekad untuk menumpas habis seluruh kesatria dari muka bumi. Ia bahkan dikisahkan telah mengelilingi dunia sampai tiga kali. Setelah merasa cukup, Parasurama pun mengadakan upacara pengorbanan suci di suatu tempat bernama Samantapancaka.

Kelak pada zaman berikutnya, tempat tersebut terkenal dengan nama Kurukshetra dan dianggap sebagai tanah suci yang menjadi ajang perang saudara besar-besaran antara keluarga Pandawa dan Korawa.

Penyebab khusus mengapa Parasurama bertekad menumpas habis kaum kesatria adalah karena perbuatan raja Kerajaan Hehaya bernama Kartawirya Arjuna yang telah merampas sapi milik Jamadagni. Parasurama marah dan membunuh raja tersebut.

Namun pada kesempatan berikutnya, anak-anak Kartawirya Arjuna membalas dendam dengan cara membunuh Jamadagni. Kematian Jamadagni inilah yang menambah besar rasa benci Parasurama kepada seluruh golongan kesatria.

BERTEMU AWATARA WISNU

Meskipun jumlah kesatria yang mati dibunuh Parasurama tidak terhitung banyaknya, namun tetap saja masih ada yang tersisa hidup. Antara lain dari Wangsa Surya yang berkuasa di Ayodhya, Kerajaan Kosala. Salah seorang keturunan wangsa tersebut adalah Sri Rama putra Dasarata.

Pada suatu hari ia berhasil memenangkan sayembara di Kerajaan Mithila untuk memperebutkan Sitaputri negeri tersebut. Sayembara yang digelar ialah yaitu membentangkan busur pusaka pemberian Siwa. Dari sekian banyak pelamar hanya Sri Rama yang mampu mengangkat, bahkan mematahkan busur tersebut.

Suara gemuruh akibat patahnya busur Siwa sampai terdengar oleh Parasurama di pertapaannya. Ia pun mendatangi istana Mithila untuk menantang Rama yang dianggapnya telah berbuat lancang. Sri Rama dengan lembut hati berhasil meredakan kemarahan Parasurama yang kemudian kembali pulang ke pertapaannya.

Ini merupakan peristiwa bertemunya sesama awatara Wisnu, karena saat itu Wisnu telah menjelma kembali sebagai Rama sedangkan Parasurama sendiri masih hidup. Peran Parasurama sebagai awatara Wisnu saat itu telah berakhir namun sebagai seorang Ciranjiwin, ia hidup abadi.

Pada zaman Dwaparayuga Wisnu terlahir kembali sebagai Kresna putra Basudewa. Pada zaman tersebut Parasurama menjadi guru sepupu Kresna yang bernama Karnayang menyamar sebagai anak seorang brahmana.

Setelah mengajarkan berbagai ilmu kesaktian, barulah Parasurama mengetahui kalau Karna berasal dari kaum kesatria. Ia pun mengutuk Karna akan lupa terhadap semua ilmu kesaktian yang pernah dipelajarinya pada saat pertempuran terakhirnya.

Kutukan tersebut menjadi kenyataan ketika Karna berhadapan dengan adiknya sendiri, yang bernama Arjuna, dalam perang di Kurukshetra.

Parasurama diyakini masih hidup pada zaman sekarang. Konon saat ini ia sedang bertapa mengasingkan diri di puncak gunung, atau di dalam hutan belantara.

Sejarah Asal Usul Parasurama Dalam Mahabharata

Menurut kisah Ramayana, Wibisana adalah putra bungsu pasangan Wisrawa dan Kaikesi. Ayahnya seorang resi putra Pulastya. Sementara ibunya adalah putri Sumali, seorang raja Rakshasa dari Kerajaan Alengka.


Ia adalah adik kandung Rahwana yang menyeberang ke pihak Sri Rama. Dalam perang besar antara bangsa Rakshasamelawan Wanara, Wibisana banyak berjasa membocorkan kelemahan kaumnya, sehingga pihak Wanara yang dipimpin Rama memperoleh kemenangan. Sepeninggal Rahwana, Wibisana menjadi raja Alengka. Ia dianggap sebagai salah satu Chiranjiwin, yaitu makhluk abadi selamanya.

Versi lain, yaitu Mahabharata menyebut Wibisana sebagai putra wisrawa dan Malini. Menurut versi kedua tersebut, Kaikesi hanya melahirkan dua seorang putra saja, yaitu Rahwana dan Kumbakarna.

Wibisana menikah dengan seorang wanita dari bangsa Rakshasa bernama Sarama. Istrinya itu juga bersifat bijaksana. Ia menjadi pelindung Sita istri Rama ketika ditawan Rahwana.

SIFAT WIBISANA

Meskipun berasal dari bangsa Rakshasa, namun Wibisana memiliki kepribadian yang berbeda. Biasanya para Rakshasa dikisahkan sebagai pembuat onar, perusuh kaum brahmana, dan pemakan daging manusia. Namun Wibisana terkenal berhati lembut dan hidup dalam kebijaksanaan.

Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa memuja Wisnu. Ia juga memuja Brahma bersama dengan kedua kakaknya, yaitu Rahwana dan Kumbakarna. Ketika Dewa Brahma turun untuk memberikan anugerah, Rahwana dan Kumbakarna mengajukan permohonan diberi kekuatan dan kesaktian untuk bisa menaklukkan para dewa.

Wibisana bersikap lain. Ia justru meminta agar selalu berada di jalan kebenaran atau dharma. Ia tidak minta diberi kekuatan, tetapi minta diberi kebijaksanaan.

WIBISANA DI KERAJAAN ALENGKA DIRAJA

Dalam kisah Ramayana, setelah gagal membujuk kakaknya untuk mengembalikan Sinta kepada Rama, Wibisana memutuskan untuk berpihak pada Rama yang diyakininya sebagai pihak yang benar. Hal ini berarti dia harus melawan kakaknya sendiri (Rahwana) demi membela kebenaran.

Menarik untuk dilihat bahwa Kumbakarna (yang juga masih saudara kandung dengan Wibisana dan Rawana) mengambil sikap yang berlawanan, dimana Kumbakarna tetap membela tanah air, walaupun menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Wibisana merupakan tokoh yang menunjukkan bahwa kebenaran itu menembus batas-batas nasionalisme, bahkan ikatan persaudaraan.

WIBISANA BERPIHAK PADA SRI RAMA

Karena merasa tidak mendapat tempat di Alengka, Wibisana pergi bersama empat rakshasa yang baik dan menghadap Rama. Dalam perjalanan ia dihadang oleh Sugriwa, raja wanara yang mencurigai kedatangan Wibisana dari Alengka. Setelah Rama yakin bahwa Wibisana bukan orang jahat, Wibisana menjanjikan persahabatan yang kekal.

Dalam misi menghancurkan Rahwana, Wibisana banyak memberi tahu rahasia Alengka dan seluk-beluk setiap rakshasa yang menghadang Rama dan pasukannya. Wibisana juga sadar apabila ada mata-mata yang menyusup ke tengah pasukan wanara, dan melaporkannya kepada Rama.

Saat pasukan wanara berhasil dikelabui oleh Indrajit, Wibisana adalah orang yang tanggap dan mengetahui akal Indrajit yang licik.

Ketika Kumbakarna maju menghadapi Rama dan pasukannya, Wibisana memohon agar ia diberi kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Rama mengabulkan dan mempersilakan Wibisana untuk bercakap-cakap sebelum pertempuran meletus. Saat bertatap muka dengan Kumbakarna, Wibisana memohon agar Kumbakarna mengampuni kesalahannya sebab ia telah menyeberang ke pihak musuh.

Wibisana juga pasrah apabila Kumbakarna hendak membunuhnya. Melihat ketulusan adiknya, Kumbakarna merasa terharu. Kumbakarna tidak menyalahkan Wibisana sebab ia berbuat benar. Kumbakarna juga berkata bahwa ia bertempur karena terikat dengan kewajiban, dan bukan semata-mata karena niatnya sendiri.

Setelah bercakap-cakap, Wibisana mohon pamit dari hadapan Kumbakarna dan mempersilakannya maju untuk menghadapi Rama.

WIBISANA MENJADI RAJA ALENGKA

Setelah Kumbakarna dan Rahwana dibunuh oleh Sri Rama, Wibisana dan para sahabatnya menyelenggarakan upacara pembakaran yang layak bagi kedua ksatria tersebut. Kemudian ia dinobatkan menjadi Raja Alengka yang sah. Ia merawat Mandodari, janda yang ditinggalkan Rahwana, dan hidup bersama dengan permaisurinya yang bernama Sarma.

Wibisana memerintah Alengka dengan bijaksana. Ia mengubah Alengka menjadi kota yang berlandaskan dharma dan kebajikan, setelah sebelumnya rusak karena pemerintahan Rahwana.

Kisah Asal Usul Wibisana Dalam Ramayana

Kumbakarna adalah saudara kandung Rahwana, raja rakshasa dari Alengka. Kumbakarna merupakan seorang rakshasa yang sangat tinggi dan berwajah mengerikan, tetapi bersifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah.


Ia memiliki suatu kelemahan, yaitu tidur selama enam bulan, dan selama ia menjalani masa tidur, ia tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

Ayah Kumbakarna adalah seorang resi bernama Wisrawa, dan ibunya adalah Kekasi, puteri seorang Raja Detya bernama Sumali. Rahwana, Wibisana dan Surpanaka adalah saudara kandungnya, sementara Kubera, Kara, Dusana, Kumbini, adalah saudara tirinya. Marica adalah pamannya, putera Tataka, saudara Sumali.

Kumbakarna memiliki putera bernama Kumba dan Nikumba. Kedua puteranya itu gugur dalam pertempuran di Alengka. Kumba menemui ajalnya di tangan Sugriwa, sedangkan Nikumba gugur di tangan Hanoman.

SUKA TIDUR PANJANG

Saat Rahwana dan Kumbakrana mengadakan tapa, Dewa Brahma muncul karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan. Brahma memberi kesempatan bagi mereka untuk mengajukan permohonan.

Saat tiba giliran Kumbakarna untuk mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya untuk membengkokkan lidahnya, maka saat ia memohon "Indraasan" (Indrāsan – tahta Dewa Indra), ia mengucapkan "Neendrasan" (Nīndrasan – tidur abadi). Brahma mengabulkan permohonannya.

Karena merasa sayang terhadap adiknya, Rahwana meminta Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugrahnya, namun ia meringankan anugrah tersebut agar Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

MENJADI PENASEHAT DI KERAJAAN ALENGKA

Kumbakarna sering memberikan nasihat kepada Rahwana, menyadarkan bahwa tindakanya keliru. Ketika Rahwana kewalahan menghadapi Sri Rama, maka ia menyuruh Kumbakarna menghadapinya. Kumbakarna sebenarnya tahu bahwa kakaknya salah, tetapi demi membela Alengka tanah tumpah darahnya dia pun maju sebagai prajurit melawan serbuan Rama.

Kumbakarna sering dilambangkan sebagai perwira pembela tanah tumpah darahnya, karena ia membela Alengka untuk segala kaumnya, bukan untuk Rahwanasaja, dan ia berperang melawan Rama tanpa rasa permusuhan, hanya semata-mata menjalankan kewajiban.

PERTEMPURAN DAN KEMATIAN KUMBAKARNA

Saat Kerajaan Alengka diserbu oleh Rama dan sekutunya, Rahwana memerintahkan pasukannya untuk membangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur. Utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak badannya serta menusuk badannya dengan tombak, kemudian saat mata Kumbakarna mulai terbuka, utusannya segera mendekatkan makanan ke hidung Kumbakarna. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya.

Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu adalah salah. Rahwana sedih mendengar nasihat tersebut sehingga membuat Kumbakarna tersentuh.

Tanpa sikap bermusuhan dengan Rama, Kumbakarna maju ke medan perang untuk menunaikan kewajiban sebagai pembela negara. Sebelum bertarung Kumbakarna berbincang-bincang dengan Wibisana, adiknya, setelah itu ia berperang dengan pasukan wanara.

Dalam peperangan, Kumbakarna banyak membunuh pasukan wanara dan banyak melukai prajurit pilihan seperti Anggada, Sugriwa, Hanoman, Nila, dan lain-lain. Dengan panah saktinya, Rama memutuskan kedua tangan Kumbakarna.

Namun dengan kakinya, Kumbakarna masih bisa menginjak-injak pasukan wanara. Kemudian Rama memotong kedua kaki Kumbakarna dengan panahnya. Tanpa tangan dan kaki, Kumbakarna mengguling-gulingkan badannya dan melindas pasukan wanara.

Melihat keperkasaan Kumbakarna, Rama merasa terkesan dan kagum. Namun ia tidak ingin Kumbakarna tersiksa terlalu lama. Akhirnya Rama melepaskan panahnya yang terakhir. Panah tersebut memisahkan kepala Kumbakarna dari badannya dan membawanya terbang, lalu jatuh di pusat kota Alengka.

Asal Usul Kumbakarna Dalam Kisah Ramayana

Indrajit adalah salah satu putera Rahwana dan menjadi putera mahkota Kerajaan Alengka.


Indrajit merupakan ksatria yang sakti mandraguna, dalam perang antara pihak Rama dan Rahwana, Indrajit sering merepotkan bala tentara Rama dengan kesaktiannya. Ia punya senjata sakti yang bernama Nagapasa, apabila senjata tersebut dilepaskan, maka akan keluar ribuan naga meyerang ke barisan musuh.

Ayah Indrajit adalah Rahwana, sedangkan ibunya adalah Mandodari. Indrajit diberi nama “Meghanada” saat lahir sebab ketika ia menangis untuk yang pertama kalinya, bunyi petir dan guruh mengiringinya, menandakan kelahiran ksatria besar. Nama julukan ‘Indrajit’ (“penakluk Indra”) dianugerahkan oleh Dewa Brahma ketika ia mengalahkan dan memenjarakan Indra, Raja para Dewa.

Senjata Brahmastra diberikan kepada Indrajit pada kesempatan tersebut. Konon senjata tersebut memiliki kekuatan menakjubkan dan jika lepas dari busurnya, senjata itu bisa mematahkan busur lawan dan membunuh seseorang sesuai dengan keinginan.

Saat tentara wanara tiba di Alengka, pertempuran sengit terjadi antara para rakshasa dengan para wanara. Indrajit terlibat duel sengit dengan Anggada. Meski semua senjata sudah dikeluarkan Indrajit, tak satu pun yang membuat Anggada mundur.

Akhirnya Indrajit melepas senjata Nagapasa dan langsung merenggut Rama dan Laksmana. Senjata tersebut merupakan guna-guna yang membuat musuh tak berkutik. Ketika berita kemenangan Indrajit tersiar di Alengka, Rahwana mengadakan pesta besar di istananya.

Di kubu Rama, para wanara bersedih karena pemimpin mereka tak berdaya. Saat mereka sedang berduka, tiba-tiba muncul burung Garuda. Kedatangan burung tersebut membuat naga-naga yang mengikat tubuh Rama dan Laksmana kabur. Akhirnya Rama dan Laksmana bangkit kembali dan siap mengadakan serangan balasan.

Setelah Rama dan pasukannya mengalahkan Kumbakarna, Trisirah, Narantaka, Akampana, dan prajurit rakshasa pilihan dari Alengka, Indrajit melepaskan senjata Brahmastra dan membuat Rama dan Laksmana kembali tak berkutik. Namun mereka bangkit lagi berkat tanaman obat yang dibawa oleh Hanoman.

Kemudian pasukan wanara memasuki kota Alengka. Untuk melemahkan semangat para wanara, Indrajit menciptakan Sinta palsu dengan ilmu sihirnya. Sinta palsu itu dibunuh lalu diperlihatkan kepada para wanara, sebab para wanara bertarung demi menyelamatkan Sinta dan apabila Sinta terbunuh, mereka merasa bahwa peperangan berlangsung dengan percuma.

Karena melihat Indrajit membunuh Sinta, para wanara menghentikan pertarungannya. Wibisana tanggap dan sadar bahwa Indrajit sedang mengelabui para wanara agar ia bisa menyelenggarakan ritual untuk memperoleh kekuatan, sebab apabila ritual yang dilakukannya sempurna, maka kekuatannya tidak akan terkalahkan. Agar Indrajit dapat dikalahkan, Wibisana menyuruh Laksmana untuk mengganggu ritual Indrajit.

Dengan ditemani para wanara, Laksmana segera pergi ke tempat Indrajit mengadakan ritual. Sebelum ritual itu sempurna, para wanara mengacaukan tempat tersebut. konsentrasi Indrajit buyar sehingga perang terjadi.

Laksmana yang tidak ingin peperangan itu berlarut-larut, segera mengeluarkan panah Indrāstra dan mengucapkan do’a atas nama Rama, lalu melepaskan senjata tersebut dari busurnya. Panah itu memutuskan kepala Indrajit dari badannya. Saat menyentuh bumi, kepala Indrajit menyala-nyala bagai api.

Sejarah Asal Usul Indrajit Dalam Kisah Ramayana

Menurut kitab Purana, Laksmana adalah titisan Sesa. Shesha adalah ular yang mengabdi kepada Dewa Wisnu dan menjadi ranjang ketika Wisnu beristirahat di lautan susu. Shesha menitis pada setiap awataraWisnu dan menjadi pendamping setianya. Dalam Ramayana, ia menitis kepada Laksmana sedangkan dalam Mahabharata, ia menitis kepada Baladewa.


KELUARGA RAMAYANA

Laksmana merupakan putra ketiga Raja Dasarata yang bertahta di kerajaan Kosala, dengan ibukota Ayodhya. Kakak sulungnya bernama Rama, kakak keduanya bernama Bharata, dan adiknya sekaligus kembarannya bernama Satrugna. Di antara saudara-saudaranya, Laksmana memiliki hubungan yang sangat dekat terhadap Rama. Mereka bagaikan duet yang tak terpisahkan. Ketika Rama menikah dengan Sita, Laksmana juga menikahi adik Dewi Sita yang bernama Urmila.

Meskipun keempat putera Raja Dasarata saling menyayangi satu sama lain, namun Satrugna lebih cenderung dekat terhadap Bharata, sedangkan Laksmana cenderung dekat terhadap Rama. Saat Resi Wiswamitra datang meminta bantuan Rama agar mengusir para raksasa di hutan Dandaka, Laksmana turut serta dan menambah pengalaman bersama kakaknya.

Di hutan mereka membunuh banyak rakshasa dan melindungi para resi. Bisa dikatakan bahwa Laksmana selalu berada di sisi Rama dan selalu berbakti kepadanya dalam setiap petualangan Rama dalam Ramayana.

Saat Rama dibuang ke hutan karena tuntutan permaisuri Kekayi, Laksmana mengikutinya bersama Sinta. Ketika Bharata datang menyusul Rama ke dalam hutan dengan angkatan perang Ayodhya, Laksmana mencurigai kedatangan Bharata dan bersiap-siap untuk melakukan serangan.

Rama yang mengetahui maksud kedatangan Bharata menyuruh Laksmana agar menahan nafsunya dan menjelaskan bahwa Bharata tidak mungkin menyerang mereka di hutan, malah sebaliknya Bharata ingin agar Rama kembali ke Ayodhya. Setelah mendengar penjelasan Rama, Laksmana menjadi sadar dan malu.

Selama masa pembuangan, Laksmana membuat pondok untuk Rama dan Sinta. Ia juga melindungi mereka di saat malam sambil berbincang-bincang dengan para pemburu di hutan. Ketika seorang raksasi bernama Surpanaka hendak menyergap Sinta, Laksmana bertindak dan pedangnya melukai hidung Surpanaka. Kemudian Surpanaka lari dan mengadu kepada saudara-saudaranya.

Ketika Sinta meminta Rama untuk menangkap kijang kencana yang diidamkannya, Rama menyuruh Laksmana untuk melindungi Sinta dan tidak membiarkannya berada di pondok sendirian. Kijang kencana tersebut merupakan penjelmaan rakshasa Marica, yang memancing Rama agar ia menjauh dari pondok sehingga memudahkan Rahwana untuk menculik Sinta.

Saat Rama memanah kijang kencana tersebut, hewan itu berubah menjadi rakshasa Marica, dan mengerang dengan suara keras. Sinta yang merasa cemas, menyuruh Laksmana agar menyusul kakaknya ke hutan. Karena teguh dengan tugasnya untuk melindungi Sinta, Laksmana menolak secara halus.

Kemudian Sinta berprasangka bahwa Laksmana memang ingin membiarkan kakaknya mati di hutan sehingga apabila Sinta menjadi janda, maka Laksmana akan menikahinya. Mendengar perkataan Sinta, Laksmana menjadi sakit hati dan bersedia menyusul Rama, namun sebelumnya ia membuat garis pelindung dengan anak panahnya agar makhluk jahat tidak mampu meraih Sinta.

Garis pelindung tersebut bernama Laksmana Rekha, dan sangat ampuh melindungi seseorang yang berada di dalamnya, selama ia tidak keluar dari garis tersebut.

Saat Laksmana meinggalkan Sinta sendirian, rakshasa Rahwana yang menyamar sebagai seorang brahmana muncul dan meminta sedikit air kepada Sinta. Karena Rahwana tidak mampu meraih Sinta yang berada dalam Lakshmana Rekha, maka ia meminta agar Sinta mengulurkan tangannya.

Pada saat tangan Rahwana memegang tangan Sinta, ia segera menarik Sinta keluar dari garis pelindung dan menculiknya. Rama yang sangat mencintai Sinta, menelusuri hutan Dandaka demi mencari jejaknya. Selama masa pencarian tersebut, Laksmana dengan setia membantu Rama.

PERTEMPURAN BESAR

Setelah mengetahui bahwa Sinta dibawa oleh Rahwana ke Kerajaan Alengka, Rama dan Laksmana beserta pasukan wanara menggempur kerajaan tersebut.

Pada suatu pertempuran, Laksmana dan Rama beserta pasukannya tak berkutik oleh senjata Brahmastra yang dilepaskan Indrajit. Jembawan kemudian menyuruh Hanoman agar membawa tanaman obat yang bernama Sanjiwani di gunung Dronagiri, di deretan pegunungan Himalaya antara puncak Risaba dan Kailasa.

Hanoman melesat ke tempat yang dimaksud tanpa bertanya terlebih dahulu. Karena tidak tahu persis bentuk tanaman yang dimaksud, Hanoman memotong gunung tersebut dan membawanya ke kemah pasukan Rama. Ketika tanaman Sanjiwani itu dioleskan, Rama dan Laksmana beserta para wanara menjadi sembuh dan merasa lebih kuat.

MENGALAHKAN INDRAJIT

Ketika Indrajit melakukan ritual untuk memperoleh kekuatan, Laksmana datang bersama pasukan wanara dan merusak lokasi ritual. Indrajit menjadi marah kemudian perang terjadi. Laksmana yang tidak ingin perang terjadi begitu lama segera melepaskan senjata panah Indrāstra.

Senjata tersebut memutuskan leher Indrajit dari badannya sehingga ia tewas seketika. Atas jasanya tersebut, Rama memuji Laksmana serta para dewa dan gandarwa menjatuhkan bunga dari surga.

Setelah Rahwana berhasil dikalahkan, Rama, Laksmana dan Sinta beserta para wanara pergi ke Ayodhya. Di sana mereka disambut oleh Bharata dan Kekayi. Laksmana hendak dianugerahi Yuwaraja oleh Rama, namun ia menolak karena merasa Bharata lebih pantas menerimanya dibandingkan dirinya, sebab Bharata memerintah Ayodhya dengan baik dan bijaksana selama Rama dan Laksmana tinggal di hutan.

Sejarah Asal Usul Laksmana Dalam Kisah Ramayana

Dalam Ramayana dikisahkan bahwa Dewi Sinta bukan putri kandung Janaka. Suatu ketika Kerajaan Wideha dilanda kelaparan. Janaka sebagai raja melakukan upacara atau yadnya di suatu area ladang antara lain dengan cara membajak tanahnya. Ternyata mata bajak Janaka membentur sebuah peti yang berisi bayi perempuan. Bayi itu dipungutnya menjadi anak angkat dan dianggap sebagai titipan Pertiwi, dewi bumi dan kesuburan.


Dewi Shinta dibesarkan di istana Mithila, ibu kota Wideha oleh Janaka dan Sunayana, permaisurinya. Setelah usianya menginjak dewasa, Janaka pun mengadakan sebuah sayembara untuk menemukan pasangan yang tepat bagi putrinya itu. Sayembara tersebut adalah membentangkan busur pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa, dan dimenangkan oleh Sri Rama, seorang pangeran dari Kerajaan Kosala. Setelah menikah, dewi Sinta pun tinggal bersama suaminya di Ayodhya, ibu kota Kosala.

RAHWANA MENCULIK DEWI SHINTA

Rahwana adalah raja bangsa Rakshasa dari Kerajaan Alengka Diraja. Pasukannya yang bertugas di Janastana habis ditumpas Rama karena mereka gemar mengganggu kaum brahmana. Rahwana pun melakukan pembalasan ditemani pembantunya yang bernama Marica.

Mula-mula Marica menyamar menjadi seekor kijang berbulu keemasan dan menampakkan diri di depan pondok Rama. Menyaksikan keindahan kijang tersebut, Dewi Sinta menjadi tertarik dan ingin memilikinya. Karena terus didesak, Rama akhirnya mengejar dan berusaha menangkapnya.

Tiba-tiba terdengar suara jeritan Rama di kejauhan. Dewi Shinta pun menyuruh Laksmana untuk menyusul suaminya itu. Namun Laksmana yakin kalau kijang tersebut adalah jelmaan raksasa yang sekaligus meniru suara jeritan Rama. Dewi Shinta marah mendengar jawaban Laksmana dan menuduh adik iparnya itu berkhianat dan memiliki maksud kurang baik.

Laksmana tersinggung mendengar tuduhan Dewi Shinta. Sebelum pergi, ia lebih dulu menciptakan pagar gaib berupa garis pelindung yang mengelilingi pondok tempat dewi Sinta menunggu. Setelah kepergian Laksmana muncul seorang brahmana tua yang kehausan dan minta diberi minum. Namun ia tidak dapat memasuki pondok karena terhalang pagar gaib Laksmana.

Dewi Shinta yang merasa kasihan mengulurkan tangannya untuk memberi minum sang brahmana tua. Tiba-tiba brahmana itu menarik lengan Dewi Shinta dan membawanya kabur. Brahmana tersebut tidak lain adalah samaran Rahwana. Ia menggendong tubuh Dewi Shinta dan membawanya terbang di udara.

Suara tangisan Dewi Shinta terdengar oleh seekor burung tua bernama Jatayu, yang bersahabat dengan Dasarata ayah Rama. Jatayu menyerang Rahwana namun ia justru mengalami kekalahan dan terluka parah. Sita tetap dibawa kabur oleh Rahwana namun ia sempat menjatuhkan perhiasannya di tanah sebagai petunjuk untuk Rama.

UJIAN DEWI SHINTA

Berkat bantuan Sugriwa raja bangsa Wanara, serta Wibisana adik Rahwana, Rama berhasil mengalahkan Kerajaan Alengka. Setelah kematian Rahwana, Rama pun menyuruh Hanoman untuk masuk ke dalam istana menjemput Dewi Shinta. Hal ini sempat membuat Dewi Sinta kecewa karena ia berharap Rama yang datang sendiri dan melihat secara langsung tentang keadaannya.

Setelah mandi dan bersuci, dewi Sinta menemui Rama. Rupanya Rama merasa sangsi terhadap kesucian dewi Sinta karena istrinya itu tinggal di dalam istana musuh dalam waktu yang cukup lama. menyadari hal itu, dewi Sinta pun menyuruh Laksmana untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya dan membuat api unggun.

Tak lama kemudian dewi Sinta melompat ke dalam api tersebut. Dari dalam api tiba-tiba muncul Dewa Brahma dan Dewa Agni mengangkat tubuh Sita dalam keadaan hidup. Hal ini membuktikan kesucian Dewi Sinta sehingga Rama pun dengan lega menerimanya kembali.

KEHIDUPAN SETELAH KEMATIAN RAHWANA

Setelah pulang ke Ayodhya, Rama, Dewi Shinta, dan Laksmana disambut oleh Bharata dengan upacara kebesaran. Bharata kemudian menyerahkan takhta kerajaan kepada Rama sebagai raja. Dalam pemerintahan Rama terdengar desas-desus di kalangan rakyat jelata yang meragukan kesucian Dewi Sinta di dalam istana Rahwana.

Rama merasa tertekan mendengar suara sumbang tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk membuang dewi Sinta yang sedang mengandung ke dalam hutan. Dalam pembuangannya itu, dewi Sinta ditolong seorang resi bernama Walmiki dan diberi tempat tinggal.

Beberapa waktu kemudian, dewi Sinta melahirkan sepasang anak kembar diberi nama Lawa dan Kusa. Keduanya dibesarkan dalam asrama Resi Walmiki dan diajari nyanyian yang mengagungkan nama Ramacandra, ayah mereka.

Suatu ketika Rama mengadakan upacara Aswamedha. Ia melihat dua pemuda kembar muncul dan menyanyikan sebuah lagu indah yang menceritakan tentang kisah perjalanan dirinya dahulu. Rama pun menyadari kalau kedua pemuda yang bernyanyi tersebut yang tidak lain adalah Lawa dan Kusa merupakan anak-anaknya sendiri.

DEWI SHINTA WAFAT

Atas permintaan Rama melalui Lawa dan Kusa, dewi Sinta pun dibawa kembali ke Ayodhya. Namun masih saja terdengar desas-desus kalau kedua anak kembar tersebut bukan anak kandung Rama. Mendengar hal itu, dewi Sinta pun bersumpah jika ia pernah berselingkuh maka bumi tidak akan sudi menerimanya.

Tiba-tiba bumi pun terbelah. Dewi Pertiwi muncul dan membawa dewi Sinta masuk ke dalam tanah. Menyaksikan hal itu Rama sangat sedih. Ia pun menyerahkan takhta Ayodhya dan setelah itu bertapa di Sungai Gangga sampai akhir hayatnya.

Sejarah Lengkap Dewi Shinta Dalam Kisah Ramayana

Sri Rama adalah seorang anak yang elok parasnya dan gagah berani, tetapi ia nakal. Mentri kerajaan lebih senang kalau anak Baliadri yang menjadi raja, karena Dasarata sendiri juga pernah berjanji dua kali, akan merajakan anak Baliadri karena jasa-jasa gundik tersebut.


Rahwana mendengar bahwa Dasarata telah beristri seorang putri yang elok parasnya. Timbul keinginan untuk memilikinya. Ia meminta kepada Dasarata, dan dasarata tidak keberatan. Kemudian Mandudari segera segera diberitahu hal ini, dan masuklah ia ke bilik. Lalu keluarlah dari bilik, Mandudaki, putri yang serupa dengan Mandudari, Kemudian di bawa oleh Rahwana.

Mandudaki hamil, dan melahirkan putri yang sangat elok, Sinta Dewi. Berdasarkan ramalan, kelak suami Sinta yang akan membunuh Rahwana. Rahwana marah, lalu Mandudaki membujuk agar Sinta Dewi ditaruh di peti besi dan dihanyutkan ke sungai.

Maharisi Kali, raja negeri Darwati Purwa, bertapa di laut dan mendapat peti besi yang dihanyutkan oleh Rahwana, kemudian Sinta dewi dipelihara dengan baik. Setelah Sinta dewi brumur dua belas tahun, ia mengadakan sayembara untuk memilih suami bagi dewi Sinta. Sayembara dimulai, dan diikuti oleh banyak anak-anak raja, tetapi tidak ada yang berhasil kecuali Rama.

Segala persiapan sedang diadakan untuk menabalkan Rama dalam negeri. Si budak bungkuk mengahasut Baliadri untuk menagih janjinya, yaitu menabalkan anak Baliadri. Maka terpaksalah Rama dan Sita, serta Laksmana meninggalkan negeri lalu bertapa di hutan.

Rama diberitahu oleh Maharisi Astana, bahwa di dalam hutan ada kolam aneh, yag satu bening dan yang satu keruh. Rama mandi dengan Sinta di kolam yang bening, kemudian mereka berdua menjadi kera, untunglah mereka ditolong oleh Laksmana. Kerongkongan Sinta diurut dan keluarlah mani Rama, yang selanjutnya dibawa oleh Bayu Bata, dan dimasukkan ke dalam mulut Dewi Anjani. Dewi Anjani hamil, dan lahirlah Hanoman.

Darsa Singa terbunuh oleh Laksmana di dalam rumpun buluh petung. Kemudian Sura Pandaki sebagai orang tuanya ingin balas dendam, tetapi kalah. Saudranya Darkalah Singa menyerang Rama, juga tidak berhasil.

Lalu Sura membujuk rawana untuk menyerang Rama dengan duaorang raksasa sakti, Rahwana datang ke hutan pertapaan Rama. Seorang raksasa menjadikan diri sebagai kijang emas, dan satuya kijang perak. Lalu dewi Sinta meminta Rama mengangkap kedua kijang itu hidup-hidup.
Terdengar Rama meminta tolong. Sinta mendesak Laksmana menolong Rama, dengan tuduhan Laksmana ingin memilikinya, seandainya Rama mati.

Maka Laksmana pergi, tapi sebelumnya ia meggoreskan tanah dengan telunjuknaya dengan tujuan siapa yang melangkahinya akan kena tangkap.
Rahwana menyamar sebagai rahmana dan meminta sedekah pada Sinta, burung Jentayu ingin menolong Sinta, tapi akhirnya terbunuh.

Rama dan Laksmana bertemu dengan kakak burung Jentayu, dan mengatakan bahwa Sinta telah dibawa oleh Rahwana. Kemudian mereka berdua bertemu dengan Sugriwa yang diusir dari kerajaannya oleh saudaranya Balya. Kemudian Rama dan Laksmana membantunya merebut kerajaannya kembali.

Balya meminta Rama dan Laksmana memperistri kedua anaknya Anggada dan Anila. Kemudian ia memberitahu bahwa yang bisa menolong Rama merebut Sita adalah anak saudaranya yaitu Anoman.
Mandudari sangat sedih dan wafat, saat mendengar Rama berpisah dengan Sinta. Dasarata meminta Rama menjadi raja, tapi Rama tolak, dan meminta saudaranya saja yag dijadikan raja.

Sugriwa mengumpulkan seluruh rakyat keranya, tapi tidak sanggup melompat ke pulau Langka. Hanoman sanggup melakukan tugas ini, asala diijinkan memakan sehelai daun bersama Rama. Rama menyetujuainya asal Hanoman mandi dulu di laut. Setelah itu, Rama menyerahkian cincinya untuk dibawa ke Dewi Sinta sebagai tanda.

Hanuman menyamar sebagai Maharisi dan menemui Sinta Dewi di istana Rawana. Hanuman menceritakan asal-usulnya sebagai anaknya. Hanuman memakan seluruh mempelam di dalam istana. Karena hal ini, ia ditangkap dan dibakar.

Lalu ia meloncat kesana-kemari dan mengakibatkan kebakaran. Ia ingin membawa Dewi Sinta, tapi Sinta menolak. Karena ia ingin yang menyelamatkannya ialah Rama.

Jembatan titian hampir selesai. Rahwana mulai gentar dan berunding dengan mentri-mentrinya. Wibisana mentri yang paling tua, menyarankan supaya mnyerahkan Dewi Sinta, Rahwana geram dan akan membunuh Wibisana.

Begitu pila anak-anak Rahwana, IndraJit dan Kumbakarna mereka juga menganjurkan sepeti itu. Rahwana tetap berkeras, akhirnya peperangan berlangsung dan Rahwana tewas di tangan Sri Rama.

Rama tidak mau menerima Sinta kembali, takut kalau Sinta diperkosa Rahwana. Sinta membuktikan kesuciannya dengan duduk di dalam bara api yang menyala. Akhirnya berkumpullah mereka berdua.

Sesudah memakan obat dari Maharasi Kala, Sinta hamil. Kikewi Dewi datang, dan meminta Sinta melukiskan wajah Rawana di atas kipas. Kipas itu didapati Rama, Kikewi berbohong Sinta yang melukisnya, dan dibawanya beradu. Sinta diusir, dan pergi ke Maharisi.

Sebelum pergi ia bersumpah, barang sipa bohong, dia tidak akan dapat berkata-kata lagi. Dan kalau ia benar, sesudah meinggalkan negeri, binatang-binatang akan dalam percintaan.

Di tempat Maharisi, Sita melahirkan. Tilawi namanya. Tilawi tersesat, kemudian Maharisi membuat anak dari ilalang, bernama Kusa. Kemudian Tilawi dan Kusa menjadi pemuda yang gagah berani dan membunuh banyak raksasa.

Akhirnya Rama sadar akan kesalahannya dan meminta Sinta kembali. Setelah ia pulang segala Marga satwa berbunyi kembali, dan Kikewi meminta maaf. Tilawi dikawinkan dengan putri Indra Kusuma Dewi, anak IndraJit dan dirajakan di dalam negeri Durjka Pura. Kusa dikawinkan dengan Gangga Surani Dewi anak Mahasura, dan dirajakan di negeri Langkapuri.

Setelah beberapa lama, Rama membuat negeri di tempat orang bertapa. Negeri itu dinamai Ayodya Pura Negara. Sesudah empat puluh tahun hidup bersuka-sukaan dengan Sinta dalam pertapaan, maka Sri Rama pun kembali ke negeri yang fana, yaitu Wafat.

Sejarah Asal Usul Sri Rama dalam Kisah Ramayana

Subscribe Our Newsletter