Social Items

Showing posts with label asal usul Mahabharata. Show all posts
Showing posts with label asal usul Mahabharata. Show all posts
Dalam Kisah Mahabharata Pradyumna adalah seorang kesatria Yadawa, putra Kresna dan Rukmini. Konon ia merupakan penitisan Kamadewa (Kamajaya), sang dewa cinta.


Pradyumna memiliki dua istri, yaitu Mayawati, pelayan asura Sambara yang dikalahkannya; dan Rukmawati, putri Raja Rukmi dari Bhojakata. Ia memiliki putra yang bernama Aniruda.

MASA KECIL PRADYUMNA

Ketika Pradyumna berusia sepuluh hari, seorang asura bernama Sambara menculiknya karena ia takut pada ramalan bahwa ia akan dibunuh oleh Pradyumna. Sambara membuangnya ke tengah laut yang dipenuhi hiu dan buaya yang ganas. Seekor ikan menelannya sehingga Pradyumna selamat, lalu ikan itu ditangkap oleh nelayan.

Kemudian nelayan menjualnya lalu dibeli oleh Sambara. Sambara menyerahkan ikan tersebut kepada pelayannya yang bernama Mayawati untuk diolah menjadi masakan yang enak. Saat membelah perut ikan tersebut, Mayawati terkejut karena melihat seorang bayi yang masih hidup di dalamnya.

Kemudian Mayawati menanyakan asal usul bayi tersebut kepada Resi Narada seorang bijak yang gemar berkelana. Narada pun menceritakan asal usul bayi tersebut dan ia menyuruh Mayawati untuk merawat Pradyumna sebagaimana mestinya. Mayawati juga mengajarkan ilmu maya atau ilusi kepada Pradyumna.

PERTARUNGAN PRADYUMNA DENGAN SAMBARA

Saat Pradyumna dewasa, Mayawati menceritakan asal-usulnya. Setelah mengetahui hal yang sebenarnya, Pradyumna menantang Sambara untuk bertarung. Dalam pertarungan tersebut, Sambara menggunakan ilmu ilusinya untuk mengalahkan Pradyumna, namun Pradyumna pun mampu mengeluarkan ilusi yang tak kalah hebat dibandingkan dengan yang diciptakan Sambara.

Akhirnya, pertarungan tersebut dimenangkan oleh Pradyumna. Kemudian Pradyumna menikahi Mayawati lalu mereka pergi ke Dwaraka, kota orang tuanya.

PERNIKAHAN DENGAN RUKMAWATI

Raja Rukmi dari Widarbha berselisih dengan Kresna karena ia tidak merestui pernikahan adiknya dengan Kresna. Akhirnya, ia menantang Kresna untuk bertarung. Setelah dikalahkan oleh Kresna, Raja Rukmi tidak kembali ke kerajaannya.

Sebaliknya ia mendirikan kota yang diberi nama Bhojakata. Raja Rukmi memiliki putri yang bernama Rukmawati. Untuk memperbaiki hubungannya dengan Kresna, putri tersebut dinikahkan kepada Pradyumna. Dari pernikahan tersebut, Pradyumna dikaruniai putra yang diberi nama Aniruda.

PEMBEBASAN ANIRUDA

Usai putri Banasura jatuh cinta pada Aniruda. Atas bantuan pelayan Usa yang bernama Citraleka, secara diam-diam Aniruda pergi ke kota Sonitapura lalu menikah dengan Usa. Hal itu diketahui oleh Banasura sehingga Aniruda dipenjara.

Akhirnya berita penangkapan Aniruda sampai ke telinga Pradyumna. Setelah mengetahui anaknya dipenjara, Pradyumna menjadi berang. Dibantu oleh ayahnya, Kresna, dan kerabat yang lain, Pradyumna menyerbu Sonitapura.

Dewa Siwa dan Kartikeya berperang di pihak Banasura sehingga terjadi pertarungan sengit demi membebaskan Aniruda. Akhirnya, Pradyumna berhasil mengalahkan Dewa Kartikeya, sedangkan Dewa Siwa dan Banasura dikalahkan oleh Kresna. Kemudian Aniruda dibebaskan dan Usa diajak ke Dwaraka.

PERTEMPURAN DENGAN SALWA

Setelah kematian Sisupala (sepupu sekaligus musuh Kresna), Salwa datang menginvasi kota para Yadawa yang dipimpin Kresna, yaitu Dwaraka. Dalam penyerbuan tersebut, Salwa mengendarai wilmana (sejenis kapal terbang) yang terbuat dari besi.

Dengan kendaraan tersebut, Salwa menghujani kota Dwaraka dengan senjata mematikan sehingga keadaan kota tersebut porak-poranda. Melihat hal tersebut, Pradyumna datang menghadapi Salwa. Kemudian perang sengit terjadi, karena keduanya sama-sama kuat. Akhirnya Kresna datang, dan ia menggantikan posisi Pradyumna. Setelah pertarungan cukup lama, Kresna berhasil menghancurkan wilmana Salwa lalu membunuhnya dengan Cakra Sudarsana.

KEMATIAN PRADYUMNA

Setelah 36 tahun berlalu sejak berakhirnya perang besar di Kurukshetra, para Yadawa pergi berziarah ke tempat suci yang disebut Prabasha. Oleh para sesepuh dan pemimpinnya, mereka dilarang minum minuman keras.

Namun di tempat itu, larangan tersebut dilanggar. Mereka berpesta pora minum minuman yang memabukkan. Dengan kondisi masih mabuk, dua kesatria Yadawa yang bernama Satyaki dan Kertawarma terlibat pertengkaran, saling menghina tindakan masing-masing yang memalukan saat perang di Kurukshetraberlangsung.

Dalam pertengkaran tersebut, Pradyumna memihak Satyaki. Akhirnya, Satyaki memenggal kepala Kertawarma. Hal itu membuat para Yadawa lainnya merasa marah, lalu mereka memutuskan untuk mengeroyok Satyaki.

Pradyumna terjun ke tengah perkelahian tersebut, dengan maksud menolong Satyaki. Akhirnya, Pradyumna dan Satyaki tewas dikeroyok sukunya sendiri. Setelah itu, para Yadawa saling bantai dan hampir semuanya tewas karena ledakan rumput eruka yang dilemparkan oleh Kresna.

Sejarah Asal Usul Pradyumna Keturunan Sri Krishna Dalam Mahabharata

Dalam kitab Mahabharata diketahui bahwa orang tua Byasa adalah Resi Parasara dan Satyawati (alias Durgandini atau Gandawati).


Diceritakan bahwa pada suatu hari, Resi Parasara berdiri di tepi Sungai Yamuna, minta diseberangkan dengan perahu. Satyawati menghampirinya lalu mengantarkannya ke seberang dengan perahu.

Di tengah sungai, Resi Parasara terpikat oleh kecantikan Satyawati. Satyawati kemudian bercakap-cakap dengan Resi Parasara, sambil menceritakan bahwa ia terkena penyakit yang menyebabkan badannya berbau busuk.

Ayah Satyawati berpesan, bahwa siapa saja lelaki yang dapat menyembuhkan penyakitnya boleh dijadikan suami. Mendengar hal itu, Resi Parasara berkata bahwa ia bersedia menyembuhkan penyakit Satyawati. Karena kesaktiannya sebagai seorang resi, Parasara menyembuhkan Satyawati dalam sekejap.

Setelah lamaran disetujui oleh orang tua Satyawati, Parasara dan Satyawati melangsungkan pernikahan. Kedua mempelai menikmati malam pertamanya di sebuah pulau di tengah sungai Yamuna, konon terletak di dekat kota Kalpi di distrik Jalaun di Uttar Pradesh, India.

Di sana Resi Parasara menciptakan kabut gelap nan tebal agar pulau tersebut tidak dapat dilihat orang. Dari hasil hubungannya, lahirlah seorang anak yang sangat luar biasa. Ia diberi nama Krishna Dwaipayana, karena kulitnya hitam (krishna) dan lahir di tengah pulau (dwaipayana). Anak tersebut tumbuh menjadi dewasa dengan cepat dan mengikuti jejak ayahnya sebagai seorang resi.

DALAM MAHABHARATA

Selain dikenal sebagai tokoh yang membagi Weda menjadi empat bagian, Byasa juga dikenal sebagai penulis (pencatat) sejarah dalam Mahabharata, namun ia juga merupakan tokoh penting dalam riwayat yang disusunnya itu. Ibunya (Satyawati) menikah dengan Santanu, Raja Hastinapura. Dari perkawinannya lahirlah Citrānggada dan Wicitrawirya.

Citrānggada gugur dalam suatu pertempuran, sedangkan Wicitrawirya wafat karena sakit. Karena kedua pangeran itu wafat tanpa memiliki keturunan, Satyawati menanggil Byasa agar melangsungkan suatu yadnya (upacara suci) untuk memperoleh keturunan. Kedua janda Wicitrawirya yaitu Ambika dan Ambalika diminta menghadap Byasa sendirian untuk diupacarai.

Sesuai dengan aturan upacara, pertama Ambika menghadap Byasa. Karena ia takut melihat wajah Byasa yang sangat hebat, maka ia menutup mata. Karena Ambika menutup mata selama upacara berlangsung, Byasa berkata bahwa anak Ambika akan terlahir buta.

Kemudian Ambalika menghadap Byasa. Sebelumnya Satyawati mengingatkan agar Ambalika tidak menutup mata supaya anaknya tidak terlahir buta seperti yang terjadi pada Ambika. Ketika Ambalika memandang wajah Byasa, ia menjadi takut namun tidak mau menutup mata sehingga wajahnya menjadi pucat.

Byasa berkata bahwa anak Ambalika akan terlahir pucat. Anak Ambika yang buta bernama Dretarastra, sedangkan anak Ambalika yang pucat bernama Pandu. Karena kedua anak tersebut tidak sehat jasmani, maka Satyawati memohon agar Byasa melakukan upacara sekali lagi.

Kali ini, Ambika dan Ambalika tidak mau menghadap Byasa, namun mereka menyuruh seorang dayang-dayang untuk mewakilinya. Dayang-dayang itu bersikap tenang selama upacara, maka anaknya terlahir sehat, dan diberi nama Widura.

Ketika Gandari kesal karena belum melahirkan, sementara Kunti sudah memberikan keturunan kepada Pandu, maka kandungannya dipukul. Kemudian, seonggok daging dilahirkan oleh Gandari. Atas pertolongan Byasa, daging tersebut dipotong menjadi seratus bagian.

Lalu setiap bagian dimasukkan ke dalam sebuah kendi dan ditanam di dalam tanah. Setahun kemudian, kendi tersebut diambil kembali. Dari dalamnya munculah bayi yang kemudian diasuh sebagai para putera Dretarastra.

Byasa tinggal di sebuah hutan di wilayah Kurukshetra, dan sangat dekat dengan lokasi Bharatayuddha, sehingga ia tahu dengan detail bagaimana keadaan di medan perang Bharatayuddha, karena terjadi di depan matanya sendiri. Setelah pertempuran berakhir, Aswatama lari dan berlindung di asrama Byasa.

Tak lama kemudian Arjuna beserta para Pandawa menyusulnya. Di tempat tersebut mereka berkelahi. Baik Arjuna maupun Aswatama mengeluarkan senjata sakti Brahmastra. Karena dicegah oleh Byasa, maka pertarungan mereka terhenti.

Sejarah Asal Usul Abiyasa Dalam Mahabharata

Drestadyumna atau Trustajumena adalah putra bungsu Prabu Drupada, raja negara Pancala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini.


Ia memiliki kakak kandung dua orang masing-masing bernama; Dewi Drupadi, istri Prabu Yudhistira, raja Amarta, dan Dewi Srikandi, istri Arjuna.

Drestadyumna lahir dari tungku pedupaan hasil pemujaan Prabu Drupada kepada Dewata yang menginginkan seorang putra pria yang dapat membinasakan Resi Drona yang telah mengalahkan dan menghinanya.

Drestadyumna berwajah tampan, memiliki sifat pemberani, cerdik, tangkas dan trenginas. Ia menikah dengan Dewi Suwarni, putri Prabu Hiranyawarma, raja negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra pria bernama; Drestaka dan Drestara.
Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuda.

Ia tampil sebagai senapati perang Pandawa, menghadapi senapati perang Kurawa, yaitu Resi Drona. Pada saat itu roh Ekalaya, raja negara Parangggelung yang ingin menuntut balas pada Resi Drona menyusup dalam diri Drestadyumna. Setelah melalui pertempuran sengit, akhirnya Resi Drona dapat dibinasakan oleh Drestadyumna dengan dipenggal lehernya.

Drestadyumna mati setelah berakhirnya perang Bharatayuda. Ia tewas dibunuh Aswatama, putra Resi Drona, yang berhasil menyusup masuk istana Astina dalam usahanya membunuh bayi Parikesit.

VERSI LAIN

Dia merupakan kakak bagi Dropadi dan Srikandi, keturunan Raja Drupada yang berasal dari Kerajaan Panchala. Ia berada di pihak Pandawa saat perang di Kurukshetra. Dialah yang membunuh Resi Drona.

Saat Sang Resi tertunduk lemas dan kehilangan seluruh daya kekuataanya, sebagai akibat dari kabar bohong tentang meninggalnya sang putera Aswatama, Drestadyumena maju dan memenggal leher Sang Resi.

Saat Drona berhasil merebut separuh Kerajaan Panchala dari tangan Drupada, kebencian Drona terhadap Drupada lenyap, namun sebaliknya Drupada membenci Drona untuk selama-lamanya dan berambisi untuk membalas dendam. Ia tahu bahwa Drona sulit dikalahkan sebab Drona merupakan murid Bhargawa dan memiliki senjata ilahi.

Akhirnya Drupada memutuskan untuk menyelenggarakan upacara yadnya yang disebut Putrakama supaya memperoleh putera yang bisa membunuh Drona. Dengan dibantu oleh para resi, upacara tersebut terselenggara dengan baik. Dari dalam api upacara, munculah seorang pemuda gagah, lengkap degan baju zirah dan senjata. Atas sabda dari langit, anak tersebut diberi nama Drestadyumna.

KEMATIAN DRESTADYUMNA

Setelah perang besar berakhir, putera dari Resi Drona, yaitu Aswatama, bersama dengan Krepa dan Kertawarma, melakukan pembalasan dendam dengan membantai hampir semua putera-puteri, cucu, dan kerabat Pandawa, termasuk yang menjadi korban adalah Drestadyumena sendiri, Srikandi, dan Pancawala.

Pembantaian tersebut dilakukan pada malam hari, ketika pasukan Pandawa sedang tertidur lelap. Kisah tersebut terdapat dalam kitab Sauptikaparwa.

VERSI JAWA

Dalam pewayangan Jawa, Arya Drestadyumena atau Trustajumena adalah putra bungsu Prabu Drupada, raja negara Panchala dengan permaisuri Dewi Gandawati, putri Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandini. Ia mempunyai kakak kandung dua orang masing-masing bernama Dewi Drupadi, istri Prabu Yudistira, Raja Amarta (Indraprastha), dan Dewi Srikandi, istri Arjuna.

Konon Arya Drestadyumna lahir dari tungku pedupaan hasil pemujaan Prabu Drupada kepada Dewata yang menginginkan seorang putera lelaki yang dapat membinasakan Resi Drona yang telah mengalahkan dan menghinanya.

Drestadyumna berwajah tampan, memiliki sifat pemberani, cerdik, tangkas dan trenginas. Ia menikah dengan Dewi Suwarni, putri Prabu Hiranyawarma, raja negara Dasarna. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra lelaki bernama Drestaka dan Drestara.

Drestadyumna ikut terjun dalam kancah perang Bharatayuddha. Ia tampil sebagai senapati perang Pandawa, menghadapi senapati perang Korawa, yaitu Resi Drona. Pada saat itu roh Ekalaya, raja negara Parangggelung yang ingin menuntut balas pada Resi Drona menyusup dalam diri Drestadyumna.

Setelah melalui pertempuran sengit, akhirnya Resi Drona dapat dibinasakan oleh Drestadyumna dengan dipenggal lehernya.

Drestadyumna mati setelah berakhirnya perang Bharatayudha. Ia tewas dibunuh Aswatama, putera Resi Drona, yang berhasil menyusup masuk istana Hastina dalam usahanya menuntut balas atas kematian ayahnya.

Sejarah Asal Usul Drestadyumna Dalam Kisah Mahabharata

Gangga atau Ganges adalah nama seorang Dewi dalam agama Hindu yang dipuja sebagai dewi kesuburan dan pembersih segala dosa dengan air suci yang dicurahkannya.


Ia juga merupakan Dewi sungai suci Sungai Gangga di India. Dewi Gangga sering dilukiskan sebagai wanita cantik yang mencurahkan air di dalam guci. Umat Hindu percaya bahwa jika mandi di sungai Gangga pada saat yang tepat akan memperoleh pengampunan dosa dan memudahkan seseorang untuk mendapat keselamatan.

Banyak orang percaya bahwa hasil tersebut didapatkan dengan mandi di sungai Gangga sewaktu-waktu. Orang-orang melakukan perjalanan dari tempat yang jauh untuk mencelupkan abu dari jenazah anggota keluarga mereka ke dalam air sungai Gangga; pencelupan itu dipercaya sebagai jasa untuk mengantarkan abu tersebut menuju surga.

Menurut sastra Hindu, Dewi Gangga merupakan ibu asuh Dewa Kartikeya(Murugan), yang sebenarnya merupakan putera Siwa dan Parwati. Ia juga merupakan ibu Dewabrata (juga dikenal sebagai Bisma), yang merupakan salah satu tokoh yang paling dihormati dalam Mahabharata.

Kadangkala dipercaya bahwa air sungai Gangga akan mengering pada akhir Kaliyuga(zaman kegelapan, zaman sekarang) bersama dengan sungai Saraswati, dan masa sekarang akan segera berakhir. Kemudian (siklus) zaman selanjutnya adalah Satyayuga atau zaman kebenaran.

KELAHIRAN DEWI GANGGA

Terdapat beberapa kepercayaan Hindu yang memberikan beragam versi mengenai kelahiran Gangga. Menurut salah satu versi, air suci di Kamandalu Brahma (kendi air) menjelma sebagai seorang gadis, bernama Gangga. Menurut legenda lain (legenda Waisnawa), Brahma dengan takzim mencuci kaki Wisnu dan mengumpulkan airnya dalam Kamandalu miliknya.

Menurut versi yang ketiga, Gangga merupakan puteri Himawan, raja gunung, dan istrinya, Mena; maka ia merupakan adik Dewi Parwati. Setiap versi mengatakan bahwa ia lahir di surga, di bawah asuhan Brahma.

TURUN KE BUMI

Seorang raja yang bernama Sagara dengan ajaib memiliki enam puluh ribu putra. Pada suatu hari, Raja Sagara melaksanakan upacara demi kemakmuran di kerajaan. Salah satu bagian terpenting dalam upacara tersebut adalah kuda, yang kemudian dicuri oleh Indra yang cemburu.

Sagara mengutus seluruh puteranya ke seluruh pelosok bumi demi mencari kuda tersebut. Akhirnya mereka menemukan kuda tersebut di dunia bawah tanah (Patala), tepat di depan Resi Kapilayang sedang bermeditasi.

Karena mereka menganggap bahwa sang resi yang telah mencuri kuda itu, mereka memaki sang resi sehingga sang resi merasa terganggu. Sang resi membuka mata untuk yang pertama kalinya setelah bertahun-tahun, dan memandang para putra Sagara. Dengan tatapannya, seluruh putera Sagara terbakar dan meninggal.

Roh para putra Sagara gentayangan seperti hantu semenjak upacara terakhir bagi mereka tidak dilaksanakan. Ketika Bhagiratha, salah satu keturunan Sagara, putera Dilipa, mengetahui nasib tersebut, ia bersumpah akan membawa Gangga turun ke bumi sehingga airnya mampu membersihkan roh leluhurnya dan mengantar mereka ke surga.

Bhagiratha menyembah Brahma agar Gangga turun ke bumi. Brahma bersedia, dan ia menyuruh Gangga agar turun ke bumi kemudian menuju dunia bawah tanah sehingga roh para leluhur Bhagiratha dapat diterima di surga.

Gangga yang sombong merasa bahwa itu adalah penghinaan dan ia ingin menyapu seluruh isi dunia saat ia turun ke bumi. Dengan siaga, Bhagiratha menyembah Siwa agar mau mengatasi keangkuhan Gangga saat turun.

Gangga dengan congkak turun ke rambut Siwa. Namun dengan tenang Siwa berhasil menjebaknya dan membiarkannya keluar hanya lewat arus kecil. Kemudian sentuhan Siwa menyucikan Gangga.

Dalam perjalanan Gangga melewati dunia bawah tanah, ia sempat membuat aliran yang bercabang-cabang di muka bumi untuk menolong jiwa-jiwa malang yang ada disana.

Karena usaha Bhagiratha sehingga sungai Gangga turun ke bumi, sejak itu sungai tersebut juga dikenal sebagai Bhagirathi, dan istilah Bhagirath prayatna dipakai untuk melukiskan usaha yang berani atau hasil yang sulit.

Nama lain Gangga adalah Jahnawi. Kisahnya terjadi saat Gangga turun ke bumi, dalam perjalanannya mengikuti Bhagiratha, airnya yang deras mengakibatkan gelombang pasang dan menghancurkan halaman dan sadhana milik pertapa yang bernama Jahnu.

Ia marah karena hal tersebut dan meminum seluruh air Gangga. Atas hal ini, para dewa memuja-muja Jahnu agar membebaskan Gangga sehingga ia bisa menyelesaikan tujuannya. Karena berkenan dengan pujian para dewa, Jahnu mengeluarkan Gangga (airnya) dari telinganya. Semenjak itu kata "Jahnawi" (puteri Jahnu) ditujukan kepada Gangga.

Sejarah Asal Usul Dewi Gangga Dalam Kisah Mahabharata