Social Items

Tampilkan postingan dengan label Terbentuknya Masjidil Al Aqsha. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Terbentuknya Masjidil Al Aqsha. Tampilkan semua postingan
Ka'bah adalah Kiblat untuk semua Umat Muslim Di Dunia yang terletak di Arab Saudi. Ka’bah sendiri dibangun oleh nabi Ibrahim bersama dengan Nabi Isma’il.


Kisah pembangunan Ka’bah oleh nabi Ibrahim yang dibantu dengan putranya ini telah Allah abadikan dalam Al-quran. Allah berfirman ;

وَإِذْ يَرْفَعُ إِبْرَاهِيمُ الْقَوَاعِدَ مِنَ الْبَيْتِ وَإِسْمَاعِيلُ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Isma’il (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-Baqoroh 127)

Bahkan menurut Ibn Katsir dalam kitab Sirahnya, Ibrahimlah yang pertama kali membangun Ka’bah.

Dalam Hadist yang diriwayatkan Imam Bukhori  dari Ibn Abbas disebutkan bagaimana nabi Ibrahim dan putranya membangun Ka’bah ;

ثم قال: يا إسماعيل، إن الله أمرني بأمر. قال: فاصنع ما أمرك ربك، عز وجل. قال: وتعينني؟ قال: وأعينك. قال: فإن الله أمرني أن أبني هاهنا بيتًا -وأشار إلى أكَمَةٍ مرتفعة على ما حولها -قال: فعند ذلك رَفَعا القواعد من البيت فجعل إسماعيل يأتي بالحجارة وإبراهيم يبني، حتى إذا ارتفع البناء جاء بهذا الحجر فوضعه له، فقام عليه وهو يبني، وإسماعيل يناوله الحجارة، وهما يقولان: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ} ” قال: “فجعلا يبنيان حتى يدورا حول البيت، وهما يقولان: {رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ}

Kemudian Ibrahim berkata ; ” wahai Isma’il, sesungguhnya Allah menyuruhku dengan suatu perkara. Isma’il berkata ; “Maka kerjakanlah apa yang diperintahkan tuhanmu (‘azza wajall). Ibarahim berkata ; “Maukah kau membantuku?”. Isma’il menjawab ; “Aku akan membantumu”. Ibrahim berkata : “Sesungguhnya Allah memerintahkanku membangun disini suatu rumah (Bait) -sembari memberi isyarah kepada suatu gundukan tanah yang tinggi melebihi sekitarnya-. Ibn Abbas berkata ; “Maka disanalah mereka berdua meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah. Kemudian mulailah Isma’il mendatangkan batu-batu sedang Ibrahim membangunnya sehingga ketika bangulan mulai tinggi ia datang dengan batu ini (Maqam Ibrahim) dan meletakkannya untuk Ibrahim, lalu Ibrahim pun berdiri diatasnya dan membangun (Ka’bah), sedang Isma’il menyodorkannya batu-batu dan mereka berdua berkata (Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”. Ibn Abbas berkata ; “Jadilah mereka berdua membangun (Ka’bah) sehingga berputar disekitar bait, dengan mengucap (Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui)”.

MAQOM IBRAHIM


Begitulah cara Nabi Ibrahim dan Isma’il membangun Ka’bah, ketika bangunan Ka’bah mulai tinggi dan tidak dapat dijangkau Ibrahim beliau menggunakan sebuah batu untuk digunakan sebagai pijakan, batu inilah yang dinamakan Maqam Ibrahim. Dahulu Maqam Ibrahim posisinya menempel pada pintu Ka’bah,sampai akhirnya dipindahkan oleh sahabat Umar pada posisinya yang sekarang.

Diriwayatkan oleh imam Baihaqi dari siti Aisyah beliau berkata ;

أن المقام كان فى زمن رسول الله  – صلى الله عليه وسلم –  وزمان أبى بكر ملتصقا بالبيت ثم أخره عمر بن الخطاب عنه

Sesungguhnya Maqam Ibrahim dulu, pada zaman Rasul Saw dan Abu bakar Ra menempel pada Bait, kemudian Umar mengakhirkannya dari bait”.

Dan cukuplah firman Allah berikut ini sebagai dalil tentang kemulian Maqam Ibrahim ;

وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى

Dan jadikanlah dari maqam Ibrahim sebagai tempat shalat. (Al-Baqoroh 125)

HAJAR ASWAD


Ditengah proses pembangunan dan telah sampai pada pojok Ka’bah  Jibril datang membawakan batu dari surga. Seperti yang diriwayatkan oleh Ibn Abi hatim dari Sa’iid bin Musayyib, ia berkata ;

Kemudian ketika sampai tempat rukun (pojok Ka’bah), Ibrahim berkata kepada Isamail “Hai anakku carilah batu yang bagus untuk kutaruh disini!”. Isma’il menjawab “Wahai ayahku sesungguhnya aku malas lagi payah”. Ibrahim berkata “Biarlah aku yang melakukannya”.

Kemudian ia pergi mencari batu, dan datanglah jibril dengan Hajar Aswad dari india, warnanya putih seperti yaqut yang putih layaknya tanaman Tsughamah. Dahulu Adam diturunkan dengannya kemudian ia menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.

Rasul Saw juga bersabda ;

نزل الحجر الأسود من الجنة وهو أشد بياضا من اللبن فسودته خطايا بنى آدم

"Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih dari susu, kemudian dosa-dosa manusia membuatnya menjadi hitam". (HR. Tirmidzi)

Sekarang Hajar As`wad, diletakkan dalam bingkai dan pada posisi 1,5 meter dari atas permukaan tanah. Batu itu berbentuk telur dengan warna hitam kemerah-merahan. Di dalamnya ada titik-titik merah campur kuning sebanyak 30 buah, dibingkai dengan perak setebal 10 cm.

Yang pertama membuat bingkai itu adalah Ibn Zubair Ra bingkai itu dibuat adalah untuk mencegah agar ia tidak tercerai berai karena hajar aswad waktu itu pecah akibat kebakaran yang menimpa Ka’bah. Ketika peraknya mulai menipis dan bergoyang-goyang seperti hendak lepas, Harun Ar-Rasyid memerintahkan untuk melubangi sekitar hajar Aswad untuk kemudian dituangkan perak padanya.

Pada tahun 1268 H, Sultan Abdul Majid, Khalifah Utsmaniah (1225-1277 H/1839-1861 M) menghadiahkan sebuah lingkaran emas untuk dililitkan pada Hajar Aswad, sebagai pengganti lingkaran pita perak yang telah hilang. Lingkaran emas itu kemudian diganti lagi dengan lingkaran perak oleh Raja Abdul Aziz, Khalifah Utsmaniah (1861-1876 M).

Pada 1331 H, atas perintah Sultan Muhammad Rasyad (Muhammad V, memerintah pada tahun 1909-1918), lingkaran pita perak itu diganti dengan lingkaran pita perak yang baru. Untuk menjaga dan mengekalkan keutuhannya, dan jadilah bingkai perak yang sekarang ini kita lihat.

Bentuk Ka’bah yang dibangun Nabi Ibrahim sebenarnya berbeda dengan yang kita lihat sekarang. Pada zaman Nabi Ibrahim dan Nabi Isma’il as Ka’bah terdiri atas dua pintu dan letak pintunya terletak diatas tanah, tidak seperti sekarang yang pintunya terletak agak tinggi, bentuknya juga lebih panjang dengan memasukkan Hijir Isma’il didalamnya.

Hal ini seperti yang ditunjukkan oleh Hadist yang diriwayatkan imam Bukhori dari siti Aisyah bahwasanya Nabi Saw berkata  padanya ;

“ألم تري أن قومك لما بنوا الكعبة اقتصروا عن قواعد إبراهيم؟” . فقلت :”يا رسول الله ألا تردها على قواعد إبراهيم؟” قال: “لولا حدثان قومك بالكفر لفعلت”

“Bukankah kau melihat kaummuketika membangun Ka’bah mereka memendekkannya dari pondasi-pondasi Ibrahim?”. Maka aku (Aisyah) berkata ; “Wahai Rasululullah, apakah kita tidak saja kembalikan pada pondasi-pondasi Ibrahim?” Nabi berkata ; “Seandainya kaummu tidak baru saja kufur niscaya aku lakukan”.

لَوْلاَ أَنَّ قَوْمَكِ حَدِيثُو عَهْدٍ بِجَاهِلِيَّةٍ – أَوْ قَالَ بِكُفْرٍ – لأَنْفَقْتُ كَنْزَ الْكَعْبَةِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ وَلَجَعَلْتُ بَابَهَا بِالأَرْضِ وَلأَدْخَلْتُ فِيهَا مِنَ الْحِجْرِ

"Andaikata kaummu bukan baru saja dalam masa jahiliyyah, pasti akan aku infaq kan harta simpanan Ka’bah dan akan Aku jadikan pintunya  ditanah, dan aku masukkan Hijir kedalam Ka’bah".

Sejatinya Nabi ingin mengembalikan Ka’bah seperti halnya Ka’bahnya Nabi Ibrahim, akan tetapi karena kaum Quraisy baru saja masuk Islam, baru saja lepas dari masa jahiliyyah maka nabi mengurungkannya.

Penulis kitab Tarikhul Ka’bah al Mu’azhamah, Syaikh Husain Abdullah Basalamah menjelaskan, Nabi Ibrahim membuat dua pintu untuk Ka’bah dengan ukuran yang sama.

Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani. Beliau juga membuat lubang di dalam Ka’bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka’bah. Kala itu, Ka’bah belum diberi atap.

Al-Bouthy berkata ; “Az-zarkasyi menukilkan dari kitab Tarikh Makkah karya Al-Azraqy bahwasanya Ibrahim As menjadikan tinggi bangunan Ka’bah 6 hasta, dan panjangnya 30 hasta sedang lebarnya 22 hasta dan tanpa adanya atap. As-Suhaili meriwayatkan bahwa tingginya 9 hasta. Menurutku (Albouthy) inilah yang lebih cenderung benar dari riwayat Al-Azraqy”.

PEMBANGUNAN KA’BAH OLEH KAUM QURAISY

Lima tahun sebelum tahun kenabian, Mekah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan Ka’bah, Karena sejak zaman Ibrahim hingga Quraisy, Ka’bah dibangun dengan menggunakan tumpukan batu dan tanpa perekat tanah, atau yang lainnya.

Al-Bouthy berkata ; “Termasuk bencana-bencana yang Ka’bah hadapi adalah banjir yang kuat yang menyapu Makkah beberapa tahun sebelum Bi’tsah, yang menyebabkan pecahnya tembok Ka’bah dan lemahnya bangunannya”.

Selain itu menurut riwayat Muhammad Ibn Ishak, karena ketinggian Ka’bah yang hanya tumpukan batu diatas tinggi orang dewasa. dan tidak adanya atap, menyebabkan adanya orang-orang yang mencuri harta yang berada dalam Ka’bah.

Muhammad Ibn Ishak berkata ;

Ketika Rasulullah berumur 35 tahun, kaum Quraisy berkumpul untuk membangun Ka’bah, mereka menginginkan hal itu adalah karena untuk membuat atap untuknya, dan mereka takut untuk merobohkannya, Ka’bah waktu itu hanyalah tumpukan batu diatas tinggi orang dewasa, maka mereka hendak meninggikannya dan memberinya atap, hal itu karena adanya suatu golongan yang mencuri harta Ka’bah.

Dalam membangun Ka’bah, walaupun waktu itu merupakan era jahiliyyah dimana banyak kejahatan dan kemunkaran, namun mereka tidak mau membangun Ka’bah kecuali dengan harta yang bersih dan halal.

Muhammad Ibn Ishak meriwayatkan perkataan Abu Wahab Bin Amr ;

Wahai Kaum Quraisy jangan engkau masukkan dalam bangunan Ka’bah dari hasil usahamu kecuali yang baik, jangan sampai masuk Ka’bah upahnya pelacur, juga jual beli riba, dan dari hasil pendzoliman seorang manusia”.

PELETAKAN HAJAR ASWAD

Ketika sampai pada peletakkan Hajar Aswad, kaum Quraisy berselisih, siapa yang akan menaruhnya. Perselisihan ini nyaris menimbulkan pertumpahan darah, akan tetapi dapat diselesaikan dengan kesepakatan menunjuk seorang pengadil hakim yang memutuskan. Pilihan tersebut, ternyata jatuh pada Nabi Muhammad Saw.

Rasul Saw dengan bijak berkata pada mereka ;
Berikan padaku sebuah kain”. Lalu didatangkanlah kain kepada beliau, kemudian beliau mengambil hajar Aswad dan menaruhnya dalam kain itu dengan tangannya. Lalu beliau berkata ; ” Hendaklah setiap qabilah memegang sisi-sisi kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama!”. Mereka lalu melakukannya dan ketika telah sampai ditempatnya, Rasul menaruhnya sendiri dengan tangannya kemudian dibangunlah (dilanjutkan pembangunan Ka’bah) diatasnya." (Sirah Muhammad Bin Ishaq)

KA’BAH YANG DIBANGUN QURAISY

Dalam membangun Ka’bah ternyata kaum Quraisy kekurangan biaya, hal inilah yang menyebabkan bentuk Ka’bah buatan mereka berbeda dari bentuk Ka’bah buatan Nabi Ibrahim.

Imam Bukhori meriwayatkan hadist dari siti Aisyah Ra beliau berkata ;

سألت النبي صلى الله عليه و سلم عن الجدر أمن البيت هو ؟ قال ( نعم ) . قلت فما لهم لم يدخلوه في البيت ؟ قال ( إن قومك قصرت بهم النفقة ) قلت فما شأن بابه مرتفعا ؟ قال ( فعل ذلك قومك ليدخلوا من شاؤوا ويمنعوا من شاؤوا ولولا أن قومك حديث عهدهم بالجاهلية فأخاف أن تنكر قلوبهم أن أدخل الجدر في البيت وأن ألصق بابه بالأرض )

"Aku bertanya kepada Nabi Saw tentang tembok (yang sekarang disebut  hijir Isma’il), apakah ia termasuk Baitullah? Nabi menjawab ; “Ya”. Aku berkata ;  “Maka mengapa mereka tidak memasukkannya kedalam Baitullah?”. Nabi berkata ; “Seseungguhnya kaummu kekurangan biaya “. Aku berkata; “Lalu mengapa pintunya  tinggi?”. Nabi menjawab ; “Yang melakukan itu adalah kaummu, supaya mereka dapat memasukkan (dalam Ka’bah) siapapun yang mereka kehendaki dan mencegah (masuk) siapapun yang mereka kehendaki. Kalau saja seumpama kaummu tidak baru saja dalam (melewati) masa Jahiliyyah….. Maka aku takut hati mereka menentang karena aku memasukkan tembok (hijir) dalam (bangunan) Ka’bah dan menempelkan pintunya ditanah”

Secara garis besar perubahan yang dilakukan kaum Quraisy meliputi :

1. Penambahan tinggi Ka’bah menjadi 18 hasta
2. Pengurangan 6 hasta panjang Ka’bah 2
3. Pemberian atap Ka’bah
4. Meninggikan letak pintu dari tanah dan memberikan daun pintu yang dapat dikunci.

Karena itulah orang yang thowaf melewati bagian dalam Hijir thowafnya tidak sah, karena itu pula orang pada berdesak-desakkan sholat disana, karena itu sama saja sholat didalam Ka’bah. Bahkan karena itu pula Rasul tidak menyentuh dua pojok yang bersanding dengan Hijir seperti yang ia lakukan pada rukun (pojok) Yamani.

Ibn Umar berkata ;

مَا أُرَى رَسُولَ اللَّهِ  – صلى الله عليه وسلم –  تَرَكَ اسْتِلامَ الرُّكْنَيْنِ اللَّذَيْنِ يَلِيَانِ الْحِجْرَ إِلا أَنَّ الْبَيْتَ لَمْ يُتَمَّمْ عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ

Aku tidak menyangka Rasul Saw tidak menyentuh dua rukun yang menyandingi Hijir kecuali karena sesunggungguhnya Baitullah tidak disempurnakan berdasarkan pondasi Ibrahim” (HR Bukhori)

RENOVASI KA’BAH OLEH ABDULLAH BIN ZUBAIR

Pada masa Abdullah Bin Zubair yang waktu itu menguasai Hijaz, Ka’bah terbakar akibat serangan senjata pelontar api oleh pasukan Yazid bin Muawiyah ketika mereka mengepung Makkah. Kejadian ini bahkan membuat Hajar Aswas pecah menjadi tiga bagian, dan berubah warnanya.

Imam Al-Azroqy meriwayatkan dari Shofiyyah binti Syaibah ia berkata ;

« كان الحجر الأسود قبل الحريق مثل لون المقام ، فلما احترق اسود . قال : فلما احترقت الكعبة تصدع بثلاث فرق ، فشده ابن الزبير بالفضة »

Dulu Hajar Aswad sebelum terbakar berwarna seperti warananya Maqam Ibrahim, kemudian ketika terbakar ia menghitam”. Salah satu rawi berkata ; “Kemudian ketika Ka’bah terbakar, Hajar Aswad pecah menjadi tiga bagian, Ibn ZZubair kemudian mengikatnya dengan perak”.

Secara ringkasnya, ketika tentara Yazid mengepung Abdullah Bin Zubair di Makkah dengan pimpinan Al-Hashiin bin Namir pada akhir tahun 36 H atas perintah Yazid, mereka melempar Ka’bah dengan Manjaniq (pelempar batu) sehingga roboh dan terbakar. Maka Ibn Zubair menunggu datangnya manusia pada musim haji. Ia lalu meminta pendapat mereka apakah sebaiknya Ka’bah dirobohkan kemudian dibanguna ulang, atau cukup diperbaiki saja.

Menanggapi itu Ibn Abbas berpendapat agar Ka’bah cukup diperbaiki saja, akan tetapi Ibn Zubair berkata ; “Kalau seumpama rumah salah satu dari kalian terbakar tentu tidak akan ridlo samapai rumahnya diperbarui, maka bagaimana dengan rumah tuhan kalian?! Sesungguhnya aku akan meminta pilihan pada tuhanku (istikhoroh) selama tiga hari, kemudian akan aku teguhkan perkaraku”.

RENOVASI KA’BAH YANG DIBANGUN IBN ZUBAIR

Kemudian Ibn Zubair mulai merobohkan Ka’bah setelah tiga hari sehingga rata dengan tanah, lali ia memasang tiang-tiang disekitarnya dan membentangkan satir-satir diatasnya. Kemudian ia mulai mengangkat bangunannya dan menambahi 6 hasta panjangnya yang dulu tidak dimasukkan dalam Ka’bah, sedang tingginya ia tambah 10 hasta. Ia juga membuat dua pintu untuknya, satu untuk keluar, satu untuk masuk.

Imam Muslim meriwayatkan dari Atho’ alasan Ibn Zubair membangun Ka’bah seperti itu ;

وَقَالَ ابْنُ الزُّبَيْرِ إِنِّى سَمِعْتُ عَائِشَةَ تَقُولُ إِنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لَوْلاَ أَنَّ النَّاسَ حَدِيثٌ عَهْدُهُمْ بِكُفْرٍ وَلَيْسَ عِنْدِى مِنَ النَّفَقَةِ مَا يُقَوِّى عَلَى بِنَائِهِ لَكُنْتُ أَدْخَلْتُ فِيهِ مِنَ الْحِجْرِ خَمْسَ أَذْرُعٍ وَلَجَعَلْتُ لَهَا بَابًا يَدْخُلُ النَّاسُ مِنْهُ وَبَابًا يَخْرُجُونَ مِنْهُ ». قَالَ فَأَنَا الْيَوْمَ أَجِدُ مَا أُنْفِقُ وَلَسْتُ أَخَافُ النَّاسَ

Ibn Zubair berkata ; “Sesungguhnya aku mendengar A’isyah berkata ; “Sesungguhnya Nabi saw berkata ; (Kalau sesumpama orang-orang tidak baru saja dari kekafiran -sedang disisiku tidak ada biaya yang menguatkan bangunannya (Ka’bah)- tentu aku akan memasukkan enam hasta dari hijir kedalam Ka’bah, dan akan aku jadikan padanya pintu dimana manusia masuk dari sana dan pintu dimana mereka keluar darinya). Ibn Zubair berkata “Maka aku hari ini, aku punya harta untuk aku infaqkan, dan aku tidak kawatir akan manusia”.

Jadi Ibn Zubair berani mengubah bentuk Ka’bah tidak lain adalah karena menuruti apa yang diinginkan Nabi Muhammad Saw.

Ibn Katsir berkata ; “Dan karena itulah, ketika Ibn Zubair mampu dan memungkinkan baginya, ia membangun Ka’bah sesuai apa yang Rasul Saw isyaratkan. Dan muncullah Ka’bah dalam keelokan, keindahan dan kemegahan yang tinggi, sempurna sesuai dengan qawaaid Ibrahim, mempunyai dua pintu yang menempel ditanah dibagian timur dan barat, dimana manusia masuk dari pintu ini, dan keluar dari pintu lainnya”.

RENOVASI Ka’bah OLEH AL-HAJAJ BIN YUSUF ATS TSAQAFIY

Ketika Al-Hajjaj berhasil menaklukkan Makkah dan membunuh Ibn Zubair, ia menulis surat kepada sang Khalifah yaitu Abdul-Malik Bin Marwan berisi apa yang telah dilakukan Ibn Zubair, ia menyangka Ibn Zubair melakukan itu dari pribadinya sendiri dan tidak berdasarkan hadist Nabi. Khalifah kemudian menjawab ;

Sesungguhnya kita tidak ada masalah apapun dari menodai Ibn Zubair. Adapun ketinggiannya yang bertambah maka tetapkanlah, adapun (panjang) yang bertambah darinya yaitu hijir, maka kembalikanlah kepada bangunannya yang semula. Dan tutuplah pintu yang ia buka!”. Maka Al-Hajjaj pun merobohkan Ka’bah dan mengembalikannya kepada bangunan semula. (Sohih Muslim)

Akan tetapi setelah mengetahui alas an sebenarnya Ibn Zubair merubah Ka’bah buatan Quraisy, Abdul-Malik menyesal dan berharap dulu ia membiarkannya.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abi Qozaah ;

أَنَّ عَبْدَ الْمَلِكِ بْنَ مَرْوَانَ بَيْنَمَا هُوَ يَطُوفُ بِالْبَيْتِ إِذْ قَالَ قَاتَلَ اللَّهُ ابْنَ الزُّبَيْرِ حَيْثُ يَكْذِبُ عَلَى أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ يَقُولُ سَمِعْتُهَا تَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « يَا عَائِشَةُ لَوْلاَ حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَنَقَضْتُ الْبَيْتَ حَتَّى أَزِيدَ فِيهِ مِنَ الْحِجْرِ فَإِنَّ قَوْمَكِ قَصَّرُوا فِى الْبِنَاءِ ». فَقَالَ الْحَارِثُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِى رَبِيعَةَ لاَ تَقُلْ هَذَا يَا أَمِيرَ الْمُؤْمِنِينَ فَأَنَا سَمِعْتُ أُمَّ الْمُؤْمِنِينَ تُحَدِّثُ هَذَا. قَالَ لَوْ كُنْتُ سَمِعْتُهُ قَبْلَ أَنْ أَهْدِمَهُ لَتَرَكْتُهُ عَلَى مَا بَنَى ابْنُ الزُّبَيْرِ.

Ketika Abdul-Malik Bin Marwan sedang thawaf di Baitullah tiba-tiba ia berkata “Celakalah Ibn Zubair ketika ia berbohong atas Ummul-Mukminin, Ia (Ibn Zubair) berkata “Aku mendengar Ummul-Mukminin berkata ; “Rasulullah Saw bersabda ; {Wahai Aisyah, Andaikata kaummu bukan baru saja dari masa kekufuran, tentu akan aku robohkan Ka’bah shingga aku tambahkan Hijir didalamnya, karena sesungguhnya kaummu tidak mampu dalam membangun}. Maka Al-Harist Bin Abdullah Bin Abi Rabi’ah berkata “Jangan berkata demikian wahai Amiirul-Mukminin, karena aku mendengar Ummul-Mukminin bercerita demikian”. Abdul-Malik berkata “Kalau seumpama aku mendengarnya sebelum aku merobohkannya tentu akau akan membiarkanya sesuai atas apa yang dibangun Ibn Zubair”.

Ketika zaman Khalifah Abbasiyyah salah seorang khalifah yaitu dimasa Harun Ar-Rasyid ingin mengembalikan Ka’bah sesuai bangunan Ibn Zubair. Ia bertanya terhadap Imam Malik mengenai Hal itu, beliau pun menjawab “Jangan jadikan Ka’bah mainan para penguasa sesudah engkau, tidak menginginkan seseorang untuk mengubahnya kecuali ia mengubahnya, sehingga hilanglah kewibawaannya dari manusia”. Akhirnya niat itupun diurungkan sang Khalifah dan jadilah Ka’bah seperti yang sekarang ini kita lihat.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Awal mula Pembangunan Ka'bah, Menurut Al-Qur'an dan Hadits

Al-Jami' al-Aqsha pertama kali dibangun pada masa Umar bin Khaththab, meskipun beberapa pendapat menyatakan bahwa masjid ini dibangun pada masa Kekhalifahan Umayyah.


Setelah gempa bumi tahun 746, masjid ini hancur seluruhnya dan dibangun kembali oleh khalifah Abbasiyah Al-Mansurpada tahun 754, dan dikembangkan lagi oleh penggantinya Al-Mahdi pada tahun 780.

Gempa berikutnya menghancurkan sebahagian besar Al-Jami' al-Aqsha pada tahun 1033, namun dua tahun kemudian khalifah Fatimiyyah Ali azh-Zhahir membangun kembali masjid ini yang masih tetap berdiri hingga kini.

Dalam berbagai renovasi berkala yang dilakukan, berbagai dinasti kekhalifahan Islam telah melakukan penambahan terhadap Al-Jami' al-Aqsha dan kawasan sekitarnya, antara lain pada bagian kubah, fasad, mimbar, menara, dan interior bangunan.

Ketika Tentara Salib menaklukkan Yerusalem pada tahun 1099, mereka menggunakan masjid ini sebagai istana dan Kubah Ash-Shakhrah sebagai gereja, namun fungsi masjid dikembalikan seperti semula setelah Shalahuddinmengambil alih kepemimpinan kota itu. Renovasi, perbaikan, dan penambahan lebih lanjut dilakukan pada abad-abad kemudian oleh para penguasa Ayyubiyah, Mamluk, Utsmaniyah, Majelis Tinggi Islam, dan Yordania.

Pembakaran Al-Jami' al-Aqsha pada tanggal 21 Agustus 1969 telah mendorong berdirinya Organisasi Konferensi Islam yang saat ini beranggotakan 57 negara. Pembakaran tersebut juga menyebabkan mimbar kuno Shalahuddin Al-Ayyubiterbakar habis.

Dinasti Bani Hasyim penguasa Kerajaan Yordania telah menggantinya dengan mimbar baru yang dikerjakan di Yordania, meskipun ada pula yang menyatakan bahwa mimbar buatan Jepara digunakan di masjid ini.

PENAMAAN MASJID

Al-Jami' al-Aqsha adalah bangunan berkubah abu-abu yang berada di kompleks Masjid Al-Aqsha, yaitu di bagian selatan. Kata Al-Jami’ (اَلْجَامِعُ) makna 'masjid', yang berasal dari kata Al-Jumu'ah yang berarti 'mengumpulkan' (untuk salat jama'ah). Nama lain dari masjid ini antara lain Masjid Al-Qibli atau Al-Jami' al-Qibli (bahasa Arab:الجامع القِبْلي).

Selama berabad-abad, yang dimaksud dengan Masjid Al-Aqsha adalah keseluruhan kompleks tersebut, yang dianggap sebagai suatu wilayah yang suci. Perubahan penyebutan kemudian terjadi pada masa pemerintahan Kesultanan Utsmaniyah, di mana wilayah kompleks secara keseluruhan disebut sebagai Al-Haram asy-Syarif; sedangkan bangunan yang terletak di bagian selatan disebut sebagai Al-Jami' al-Aqsha, yaitu tempat Umar bin Khaththab pertama kali mendirikan masjid di antara reruntuhan.

Hadits Imam Ahmad menyebutkan percakapan Umar bin Khattab dan Ka'ab al-Ahbar, di mana Ka'ab menyarankan untuk membangun masjid di belakang batu Ash-Shakhrah, sedangkan Umar menolak dan memilih tempat di sebelah selatan untuk membangun masjid dengan kiblat yang mengarah ke Ka'bah saja, sehingga posisi batu tersebut berada di belakangnya.

Al-Jami' al-Aqsha yang didirikan Umar bin Khattab tersebut, juga berbeda dengan Masjid Umar, yaitu sebuah masjid yang dibangun pada masa kekuasaan Dinasti Ayyubiyah pada abad ke-12, untuk mengenang pengambil-alihan Yerusalem oleh Umar bin Khattab yang mewakili umat Islam.

Tradisi setempat menceritakan bahwa pada saat pengambil-alihan tersebut, Umar diundang oleh Patriark Sophonius untuk beribadah di dalam Gereja Makam Kudus, namun Umar memilih mengerjakan salat di luar, di dekat pintu masuk gereja. Masjid Umar terletak bersebrangan dengan Gereja Makam Kudus, di luar kompleks Masjid Al-Aqsha.

KONSTRUKSI

Area masjid ini dahulu adalah bagian perluasan pembangunan bukit oleh Raja Herodes Agung, yang dimulai pada tahun 20 SM. Herodes memerintahkan tukang batu untuk memotong permukaan batu di sisi timur dan selatan bukit, dan melapisinya. Sisa-sisa pembangunan tersebut saat ini masih dapat ditemukan di beberapa lokasi.

Ketika Bait Kedua masih berdiri, situs tempat masjid saat ini berdiri disebut dengan nama Serambi Salomo, dan pada tiap sisinya terdapat gudang kuil yang dinamakan chanuyot, yang memanjang sampai ke sisi selatan bukit.

Konstruksi tiang-tiang kolom besar persegi di bagian utara masjid serta tembok-temboknya, baru-baru ini ditetapkan memiliki usia jauh lebih tua daripada yang diperkirakan sebelumnya oleh peneliti-peneliti terdahulu (berdasarkan tulisan para saksi mata dari masa itu), yaitu bahwa konstruksi tersebut berasal dari masa kekuasaan Romawi.

Tembok-tembok tersebut dibangun kembali atau diperkuat tidak lama setelah penghancuran Yerusalem pada tahun 70 Masehi. Struktur bawah tanah bangunan ini berasal dari masa kembalinya orang Yahudi dari pembuangan Babiloniamereka, yaitu 2.300 tahun yang lalu. Situasi politik telah menyebabkan penggalian lebih lanjut di area tersebut tidak memungkinkan.

Pada saat gempa bumi tahun 1930-an merusak masjid ini, penanggalan atas beberapa bagian yang terbuat dari kayu sempat dilakukan, yang menunjukkan kurun 900 SM. Kayu-kayu tersebut adalah cypress(sejenis cemara) dan akasia. Jenis yang disebut terakhir menurut Alkitab digunakan oleh Raja Salomo dalam konstruksi bangunan-bangunannya di bukit tersebut pada sekitar 900 SM.

Bersama dengan Bait Suci, chanuyot yang ada ikut hancur oleh serangan Kaisar Romawi Titus (saat itu masih jenderal) pada tahun 70. Kaisar Yustinianus membangun sebuah gereja Kristen di situs ini pada tahun 530-an, yang dipersembahkan bagi Perawan Maria dan dinamakan "Gereja Bunda Kita". Gereja ini belakangan dihancurkan oleh Kaisar Sassania Khosrau II pada awal abad ke-7, hingga tersisa sebagai reruntuhan.

KONSTRUKSI UMAYYAH

Ada beberapa pendapat terkait waktu Al-Jami' al-Aqsha pertama kali dibangun. Pendapat yang paling masyhur adalah Al-Jami' al-Aqsha merupakan tempat Umar bin Khaththab melaksanakan salat jamaah saat berkunjung ke Yerusalem dan Umar pula yang memerintahkan pendirian bangunan tersebut.

Beberapa pendapat lain menyatakan bahwa bangunan ini dibangun di masa pemerintahan Kekhalifahan Umayyah, sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa bangunan awalnya dibangun Umar dan kemudian dibangun ulang pada masa Kekhalifahan Umayyah.

Merujuk pada kesaksian Arculf, seorang biarawan Galia yang berziarah ke Palestinapada 679-82, sejarawan arsitektur Sir Archibal Creswell berpendapat bahwa Umar bin Khaththab mungkin adalah orang yang pertama kali mendirikan bangunan persegi empat primitif dengan daya tampung 3.000 jamaah di suatu tempat di kompleks Masjid Al-Aqsha (disebut kompleks Bukit Bait Suci oleh umat Yahudi).

Meski demikian, ada juga pendapat yang menyatakan bahwa Muawiyahlah yang mungkin sebenarnya memerintahkan pembangunan dan bukan Umar. Pendapat terakhir ini didukung oleh tulisan dari ulama Yerusalem awal Al-Mutahhar bin Tahir al-Maqdisi.

Analisis atas panel dan balok kayu yang diambil dari bangunan ini selama renovasi pada tahun 1930-an menunjukkan bahwa kayu-kayu tersebut adalah cedar Libanon dan cypress. Penanggalan radiokarbon menunjukkan berbagai macam usia, beberapa bahkan setua abad ke-9 SM, yang menunjukkan bahwa beberapa dari kayu tersebut sebelumnya telah digunakan pada bangunan-bangunan yang lebih tua.

Menurut beberapa ulama Islam, antara lain Mujiruddin al-Ulaimi, Jalaluddin as-Suyuthi, dan Syamsuddin al-Maqdisi, masjid ini dibangun kembali dan diperluas oleh Khalifah Abdul Malik bin Marwan pada 690 bersama dengan Kubah Batu.

Guy le Strange mengklaim bahwa Abdul Malik menggunakan bahan-bahan dari Gereja Bunda Kita yang hancur untuk membangun masjid dan menunjukkan bukti bahwa kemungkinan substruktur di sudut tenggara masjid adalah sisa-sisa gereja tersebut.

Dalam merencanakan proyek megahnya di Bukit Bait Suci, yang pada akhirnya akan mengubah keseluruhan kompleks itu menjadi Masjid Al-Aqsha, Abdul Malik ingin mengubah bangunan primitif sebagaimana digambarkan oleh Arculf menjadi struktur yang lebih terlindung yang melingkupi kiblat, suatu faktor penting dalam skema lengkap rancangannya.

Namun, seluruh kompleks Al-Aqsha itu dimaksudkan untuk melambangkan masjid. Seberapa banyak perubahan yang ia lakukan pada aspek bangunan sebelumnya tidak diketahui, tetapi panjang bangunan baru ditunjukkan dengan adanya bekas jembatan yang mengarah ke istana Umayyah, yang terletak di sebelah selatan dari bagian barat kompleks.

Jembatan kemungkinan dahulunya membentang dari jalan di luar tembok selatan Al-Aqsha, sebagai jalan langsung menuju masjid. Adanya jalan langsung dari istana ke masjid adalah sebuah ciri khas yang terkenal pada masa Umayyah, sebagaimana terdapat pada situs-situs awal lainnya.

Abdul Malik menggeser poros tengah masjid sekitar 40 meter ke arah barat, sesuai dengan rencana lengkapnya atas Masjid Al-Aqsha. Poros bangunan sebelumnya yang berbentuk sebuah ceruk, saat ini masih dikenal dengan sebutan "Mihrab Umar". Karena memperhatikan benar posisi Kubah Batu, Abdul Malik meminta arsiteknya menyejajarkan Al-Jami' al-Aqsha yang baru dengan posisi batu Ash-Shakhrah, sehingga sumbu utama utara-selatan Al-Aqsha yang sebelumnya, yaitu garis yang melalui Kubah As-Silsilah dan Mihrab Umar, menjadi bergeser.

Creswell, yang merujuk pada Papyri Aphrodito, sebaliknya mengklaim bahwa Al-Walid bin Abdul Malik adalah yang membangun kembali Al-Jami' al-Aqsha selama periode enam bulan sampai satu tahun, dengan para pekerja dari Damaskus.

Kebanyakan peneliti berpendapat bahwa rekonstruksi masjid dimulai oleh Abdul Malik, namun Al-Walid lah yang mengawasinya hingga selesai. Dalam tahun 713-714, serangkaian gempa bumi telah merusak Yerusalem dan menghancurkan bagian timur masjid, yang akhirnya dibangun kembali pada masa pemerintahan Al-Walid tersebut.

Untuk membiayai rekonstruksi ini, Al-Walid memerintahkan emas dari Kubah Ash-Shakhrah dicetak sebagai sebagai uang logam untuk membeli bahan-bahan bangunan. Al-Jami' al-Aqsha yang dibangun Umayyah kemungkinan besar berukuran 112 x 39 meter.

GEMPA BUMI DAN PEMBANGUNAN KEMBALI

Pada tahun 746, Al-Jami' al-Aqsha rusak akibat gempa bumi, yaitu empat tahun sebelum Abul Abbas as-Saffahmenggulingkan Ummayah dan mendirikan kekhalifahan Abbasiyah. Khalifah Abbasiyah yang kedua Abu Jafar al-Mansur pada tahun 753 menyatakan niatnya untuk memperbaiki masjid itu.

Ia memerintahkan agar lempengan emas dan perak yang menutupi gerbang masjid dilepaskan dan dicetak menjadi uang dinar dan dirham untuk membiayai kegiatan rekonstruksi, yang diselesaikan pada tahun 771. Gempa kedua yang terjadi pada tahun 774 kemudian merusak sebagian besar perbaikan Al-Mansur itu, kecuali perbaikan pada bagian selatan masjid.

Pada tahun 780, khalifah selanjutnya Muhammad al-Mahdimembangunnya kembali, tapi ia mengurangi panjangnya serta memperbesar lebarnya. Renovasi Al-Mahdi adalah renovasi pertama yang diketahui memiliki catatan tertulis yang menjelaskan hal itu.

Pada tahun 985, seorang ahli geografi Arab kelahiran Yerusalem bernama Al Maqdisimencatat bahwa masjid hasil renovasi memiliki "lima belas lengkungan dan lima belas gerbang".

Pada tahun 1033 terjadi lagi sebuah gempa bumi, yang sangat merusak masjid. Antara tahun 1034 dan 1036, khalifah Fatimiyah Ali Azh Zhahir membangun kembali dan merenovasi masjid secara menyeluruh. Jumlah lengkungan secara drastis dikurangi dari lima belas menjadi tujuh.

Azh Zhahir membangun empat buah arkade untuk aula tengah dan lorong, yang saat ini berfungsi sebagai fondasi masjid. Aula tengah diperbesar dua kali lipat dari lebar lorong lainnya, dan memiliki ujung atap besar yang di atasnya dibangun sebuah kubah dari kayu.

Daerah Al-Haram (daerah yang suci) terdapat di sebelah timur dari kota ini; dan melalui bazar di (bagian kota) ini anda akan memasukkan Daerah tersebut melalui pintu gerbang (Dargah) yang besar dan indah. Setelah melewati gerbang ini, di sebelah kanan anda terdapat dua baris tiang-tiang besar (Riwaq), masing-masing memiliki sembilan dan dua puluh pilar-pilar marmer, yang bagian puncak dan dasarnya berupa pualam berwarna, dan persambungannya terbuat dari timah.

Di atas pilar-pilar terdapat lengkungan-lengkungan, yang terbuat dari batu bata, tanpa pelapis plester atau semen, dan setiap lengkungan dibangun dengan tidak lebih dari lima atau enam blok batu. Pilar-pilar ini mengarah sampai ke dekat Maqsurah.

Yerusalem direbut oleh Tentara Salib pada tahun 1099, selama Perang Salib Pertama. Alih-alih menghancurkan Al-Jami' al-Aqsha, yang mereka sebut "Bait Salomo", Tentara Salib menggunakannya sebagai istana kerajaan dan kandang kuda. Pada tahun 1119, tempat ini berubah menjadi markas para Ksatria Templar.

Selama periode ini, masjid mengalami beberapa perubahan struktural, termasuk perluasan serambi utara, penambahan apse, dan sebuah dinding pembatas. Sebuah kloster baru dan sebuah gereja juga dibangun di situs tersebut, bersama dengan beberapa struktur bangunan lainnya.

Para Ksatria Templar membangun pavilyun berkubah di sisi barat dan timur bangunan. Pavilyun barat saat ini berfungsi sebagai masjid untuk jamaah perempuan dan pavilyun timur berfungsi sebagai Museum Islam.

Setelah Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil memimpin Ayyubiyah merebut kembali Yerusalem melalui pengepungan pada tahun 1187, beberapa perbaikan dilakukan atas Al-Jami' al-Aqsha. Nuruddin Zengi yang menjadi sultan sebelum Shalahuddin, sebelumnya telah menugaskan pembangunan mimbar baru yang terbuat dari gading dan kayu pada tahun 1168-1169, namun mimbar itu baru selesai setelah ia wafat. Mimbar Nuruddin telah ditambahkan oleh Shalahuddin ke masjid pada bulan November 1187.

Penguasa Ayyubiyah di Damaskus, Sultan Al-Muazzam, pada tahun 1218 membangun serambi utara masjid dengan tiga buah gerbang. Pada tahun 1345, penguasa Mamluk di bawah pemerintahan Al Kamil Shaban menambahkan dua lengkungan dan dua gerbang pada bagian timur masjid.

Setelah Utsmaniyah merebut kekuasaan pada 1517, mereka tidak melakukan renovasi atau perbaikan besar atas Al-Jami' al-Aqsha secara khusus, tetapi mereka melakukan perbaikan pada Masjid Al-Aqsha secara keseluruhan.

Hal ini termasuk antara lain pembangunan Air Mancur Qasim Pasya(1527), perbaikan kembali Kolam Raranj, serta pembangunan tiga kubah yang berdiri bebas. Kubah yang paling terkenal ialah Kubah An-Nabi, dibangun pada tahun 1538.

Semua pembangunan adalah atas perintah para gubernur Utsmaniyah di Yerusalem dan bukan atas perintah para sultan. Walaupun demikian, para sultan melakukan penambahan pada menara-menara yang telah ada.

RENOVASI

Renovasi pertama pada abad ke-20 dilakukan pada tahun 1922, yaitu setelah Majelis Tinggi Islam Yerusalem di bawah pimpinan Amin al-Husseini mempekerjakan Ahmet Kemalettin Bey, seorang arsitek berkebangsaan Turki, untuk merestorasi Al-Jami' al-Aqsha dan monumen-monumen di sekitarnya.

Dewan tersebut juga menugaskan arsitek-arsitek Inggris, ahli-ahli Mesir, dan para pejabat lokal untuk ikut berpartisipasi dan mengawasi perbaikan yang dilakukan pada tahun 1924–25 di bawah pengawasan Kemalettin.

Renovasi meliputi penguatan fondasi kuno masjid Umayyah, perbaikan tiang-tiang kolom interior, penggantian balok-balok, pendirian perancah, perawatan lengkungan dan bagian dalam kubah, pendirian kembali dinding selatan, serta penggantian tiang kayu di ruangan tengah dengan tiang beton.

Renovasi tersebut juga menampilkan kembali mosaik era Fatimiyah dan kaligrafi di lengkungan-lengkungan interior yang sebelumnya tertutupi oleh lapisan pelapis. Lengkungan-lengkungan dihiasi dengan gipsum berwarna hijau dan emas dan balok kayu landasannya digantikan dengan tembaga.

Seperempat dari jendela kaca patri juga diperbaharui dengan hati-hati agar dapat melestarikan desain asli Abbasiyah dan Fatimiyahnya. Kerusakan hebat telah terjadi karena gempa bumi tahun 1927 dan 1937, namun masjid itu diperbaiki kembali pada tahun 1938 dan 1942.

Pada tanggal 21 Agustus 1969, terjadi kebakaran di dalam Al-Jami' al-Aqsha yang memusnahkan bangunan bagian tenggara masjid. Mimbar Salahuddin adalah termasuk di antara barang-barang yang rusak terbakar.

Orang-orang Palestina awalnya menyalahkan otoritas Israel atas kebakaran tersebut, dan beberapa orang Israel menyalahkan Fatah dan menganggap bahwa mereka yang menyulut sendiri apinya, agar dapat menyalahkan Israel dan memancing permusuhan.

Namun kemudian terbukti bahwa kebakaran itu bukan disebabkan oleh Fatah maupun Israel, melainkan oleh seorang turis Australia bernama Denis Michael Rohan. Rohan adalah anggota dari sekte evangelis Kristen Worldwide Church of God.

Ia berharap bahwa dengan membakar Al-Jami' al-Aqsha, ia dapat mempercepat Kedatangan Kedua Yesus, dengan cara mempermudah dibangunnya kembali Bait Suci Yahudi di kompleks Masjid Al-Aqsha. Rohan dirawat di lembaga perawatan mental, didiagnosa mengalami gangguan kejiwaan, dan akhirnya dideportasi.

Serangan terhadap Al-Aqsha disebut-sebut sebagai salah satu penyebab dibentuknya Organisasi Konferensi Islampada tahun 1971, yang merupakan organisasi dari 57 negara yang banyak berpenduduk Islam.

Pada tahun 1980-an, Ben Shoshan dan Yehuda Etzion, keduanya anggota kelompok bawah tanah Gush Emunim, merencanakan untuk meledakkan Al-Jami' al-Aqsha dan Kubah Batu. Etzion berpendapat bahwa meledakkan dua bangunan tersebut akan menyebabkan kebangkitan spiritual Israel, dan menyelesaikan semua permasalahan orang Yahudi.

Mereka juga berharap bahwa Bait Suci Ketiga di Yerusalem dapat didirikan di atas lokasi tersebut. Rencana mereka mengalami kegagalan karena lebih dahulu diketahui pihak kepolisian.

Pada tanggal 15 Januari 1988, yaitu saat berlangsungnya Intifadah Pertama, pasukan Israel menembakkan peluru karet dan gas air mata kepada para demonstran di luar masjid, mengakibatkan 40 orang jemaah luka-luka.

Pada tanggal 8 Oktober 1990, dalam suatu kerusuhan 22 orang warga Palestina terbunuh dan lebih dari 100 lainnya luka-luka karena tindakan keras Polisi Perbatasan Israel. Kerusuhan dipicu oleh pengumuman dari Gerakan Setia Bait Suci, suatu kelompok Yahudi Ortodoks, yang menyatakan bahwa mereka akan meletakkan batu pertama untuk pembangunan Bait Suci Ketiga.

ARSITEKTUR

Bangunan Al-Jami' al-Aqsha berada di Masjid Al-Aqsha bagian selatan dengan kubah keperakan. Bentuk bangunannya persegi dengan luas 35.000 m2, sehingga dapat menampung 5.000 jamaah. Panjang bangunan masjid adalah 272 kaki(83 m) dan lebarnya 184 kaki (56 m).

KUBAH

Berbeda dengan Kubah Batu yang mencerminkan arsitektur Romawi Timur klasik, kubah Al-Jami' al-Aqsha menunjukkan ciri arsitektur Islam awal. Kubah yang asli dibangun oleh Abdul Malik bin Marwan, namun sekarang sudah tidak ada lagi sisanya.

Bentuk kubah seperti yang ada saat ini awalnya dibangun oleh Ali azh-Zhahir dan terbuat dari kayu yang disepuh dengan lapisan enamel timah.

Pada tahun 1969, kubah dibangun kembali dengan menggunakan beton dan dilapisi dengan aluminium yang dianodisasi sebagai ganti dari bentuk aslinya yaitu lapisan enamel timah yang berusuk. Pada tahun 1983, aluminium yang menutupi bagian luar diganti lagi dengan timah untuk menyesuaikan dengan desain asli Azh-Zhahir.

Kubah Al-Jami' al-Aqsha adalah salah satu dari sedikit masjid dengan kubah yang dibangun di depan mihrab selama periode Umayyah dan Abbasiyah, contoh lainnya adalah Masjid Umayyah di Damaskus (715) dan Masjid Besar Sousse (850).

Interior kubah dicat menurut dekorasi era abad ke-14. Pada kebakaran tahun 1969, cat dekoratif itu rusak dan sempat dianggap sudah tidak dapat diperbaiki lagi. Namun dengan menggunakan teknik trateggio, yaitu sebuah metode yang menggunakan garis-garis vertikal halus untuk membedakan daerah yang direkonstruksi dengan daerah yang asli, akhirnya dapat diperbaiki kembali dengan sempurna.

Sejarah Awal mula Pembuatan Masjidil Aqsha

Loading...