Tampilkan postingan dengan label Sejarah Gunung Agung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Gunung Agung. Tampilkan semua postingan
Ternyata Letusan Gunung yang ada di Indonesia juga berdampak Buruk pada Dunia. Seperti Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang membuat dunia mengalami perubahan Iklim berbulan bulan.

Berikut ini kami merangkum beberapa gunung yang meletus dengan Dahsyat yang berada di Indonesia :

1. GUNUNG GALUNGGUNG


Gunung Galunggung tercatat pernah meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah.

Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober 1882, letusannya menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.

Gunung ini meletus dengan mengeluarkan lahar, awan panas, serta hujan pasir panas. Sebanyak empat ribu jiwa melayang dan ada 114 desa hancur.

2. GUNUNG AGUNG


Gunung Agung terakhir meletus pada 1963-64 dan masih aktif hingga kini, dengan sebuah kawah besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan abu. Meskipun dari kejauhan gunung ini tampak kerucut, ternyata didalamnya terdapat kawah besar.

Dari puncak gunung Agung terlihat jelas puncak Gunung Rinjani di pulau Lombok, meskipun kedua gunung ini sering tertutup awan.

Pada tanggal 18 Februari 1963, penduduk setempat mendengar ledakan keras dan melihat awan naik dari kawah Gunung Agung. Pada tanggal 24 Februari 1963 lava mulai mengalir menuruni lereng utara gunung.

Pada tanggal 17 Maret 1963, gunung Agung meletus, mengirimkan puing-puing 8-10 km ke udara dan menghasilkan aliran piroklastik yang besar. Arus ini banyak menghancurkan desa-desa, menewaskan sekitar 1500 orang. Sebuah letusan kedua pada 16 Mei 1963 menyebabkan aliran awan panas yang menewaskan 200 penduduk lain.

3. GUNUNG MERAPI


Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di dunia. Ia secara periodik meletus. Tahun 1006 gunung ini meletus dan membuat seluruh wilayah pulau Jawa dikelilingi abu vulkanik. Karena letusan ini lah membuat Kerajaan Mataram kuno berpindah pusat pemerintahannya ke Jawa Timur.

Gunung Merapi ini merupakan yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh Pulau Jawa diselubungi abu vulkanik. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan terdahsyatnya terjadi di tahun 1930 yang menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.

4. GUNUNG KELUD


Pada abad ke-15, Gunung Kelut meletus dan telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Kelud juga terletak di Pulau Jawa, Indonesia.

Sisi timur Kelud telah ‘menggerutu’ pada tahun 2008, di mana sebelumnya pada tahun 1919 lumpur lahar telah membunuh di atas 5,000 orang. Sejak itu, Terowongan Ampera, suatu sistem pengeringan untuk menampung banjir lahar dari kawah telah dibangun.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkatkan aktivitasnya, hingga puncaknya muncul gunung baru di tengah-tengah danau kawah Kelud. Pola ini membuat para ahli gunung api menyimpulkan terjadi siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.

Oktober 2007, ketika itu 30,000 penduduk lokal harus diungsikan setelah gunung api dalam kondisi Siaga Merah. Selama dua minggu Kelud memuntahkan debu hingga 8 mil jauhnya.

5. GUNUNG PAPANDAYAN


Papandayan adalah sebuah gunung api semi-aktif yang terletak di pulau Jawa, Indonesia. Pada 1772, gunung api ini meletus menghancurkan 40 desa di dekatnya. Lebih dari 3,000 orang terbunuh. Gunung api ini diperkirakan masih sangat berbahaya dan terus mengeluarkan asap dan letusan-letusan di tahun 1923, 1942, dan terus meningkatkan kekuatannya di tahun 2002.

6. GUNUNG KRAKATAU


Urutan selanjutnya dengan korban sebanyak 36,000, adalah meletusnya Gunung Krakatoa (Indonesia) pada August 26–27, 1883. Krakatoa, juga dikenal sebagai Krakatau, adalah pulau vulkanis yang still-dangerous, terletak di Selat Sunda, Indonesia. Agustus 1883, sebuah rangkaian ledakan dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan 13,000 kali lebih besar dari bom Hiroshima. Ledakannya terdengar hingga ke Perth, Australia.

Muntahan lebih dari 21 kilometer kubik batu dan debu membumbung hingga setinggi 70 mil. Secara resmi, lebih dari 37,000 orang tewas. Namun dengan tsunami yang ditimbulkannya, korban sepertinya bisa lebih besar lagi.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

7. GUNUNG TAMBORA


Yang paling besar telah menelan korban sebanyak 92,000, yaitu letusan Gunung Tambora, Indonesia (dikenal dengan Year Without a Summer, setahun tanpa musim panas). Gunung di Sumbawa ini meletus pada tahun 1815. Tambora adalah gunung api aktip dari 130-an gunung api yang yang ada di Indonesia.

Gunung raksasa setinggi 4,300 meter telah ‘melakukan’ serangkaian ledakan dari April hingga Juni di tahun 1815 dan mengguncangkan dunia dengan after-effect-nya yang mengubah stratosfir dan menyebabkan kelaparan yang buruk hingga ke US dan Eropa pada abad ke 19.

Batu merah berpijar menghujani angkasa ketika sepenuhnya gunung tersebut meletus. Semua tumbuh-tumbuhan pada pulau dimana gunung tersebut berada dibinasakan oleh lahar dan awan beracun. Secara keseluruhan, lebih 92,000 orang tewas karena terbakar, kelaparan ataupun keracunan.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km. Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

8. GUNUNG TOBA


Toba yang sekarang dikenal sebagai danau Toba dulunya adalah sebuah gunung. Letusannya dikatakan memiliki level Supervolcanic pada level 8, tertinggi diantara jenis letusan gunung berapi.

Letusan Gunung Toba terjadi sekitar 67.500 sampai 75.500 tahun yang lalu. Letusan ini adalah yang terakhir dari serangkaian tiga letusan pembentukan kaldera yang terjadi di gunung berapi. Dengan kaldera yang terbentuk sebelumnya sekitar 700.000 dan 840.000 tahun yang lalu.

Tercatat letusan terakhir ini memiliki Explosivity Index diperkirakan tertinggi sehingga dijuluki sebagai letusan “Mega-Kolosal”. Ini adalah letusan gunung berapi terbesar dalam 25 juta tahun terakhir.

Itulah daftar Letusan Gunung Terbesar dan sebagian juga berdampak buruk pada iklim di Dunia.

Inilah Daftar Letusan Gunung Terbesar, Terparah Dan Terdahsyat di Indonesia


Letusan dahsyat Gunung Agung yang berlangsung dua kali pada tahun 1963 dalam satu periode letusan itu, menurut pendataan Bpk. Kusumadiata, telah merenggut 1.148 korban jiwa dan 296 luka-luka.

Dalam laporan yang dibuat Kepala Bagian Vulkanologi Direktorat Geologi Djajadi Hadikusumo ke UNESCO, letusan itu telah menewaskan 1.549 orang.

Sekitar 1.700 rumah hancur, sekitar 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian, dan sekitar 100.000 jiwa harus dievakuasi dari zona bahaya.

Dampak susulan berupa banjir lahar kemudian menghancurkan perkampungan di lereng selatan Gunung Agung dan menewaskan 200 orang.

Delapan jembatan hancur. Karangasem terisolasi total. Pasokan bahan pangan dan obat-obatan terpaksa dilakukan melalui laut.

Tak hanya Karangasem, bencana itu juga memukul seluruh Pulau Bali. Sebanyak 316.518 ton produksi pangan hancur.

Bencana itu diperparah dengan gempa bumi yang melanda Bali pada 18 Mei 1963, lalu Gunung Batur pun meletus pada September 1963 hingga Mei 1964.


Geoffrey Robinson dari Universitas Cornell Ithaca, New York, dalam The Dark Side of Bali (1992), menulis, wabah penyakit sampar atau pes yang mendera Bali pada 1960 semakin memperparah situasi.

Bencana yang sambung menyambung dan kemiskinan yang semakin mencekik itu diikuti pergolakan politik.

Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi di bawah payung Partai Komunis Indonesia yang sedang memperjuangkan reformasi agraria, mendapat sambutan luas di kalangan masyarakat Bali yang disesaki penderitaan.

Gerakan itu akhirnya berujung pada pembantaian massal yang menewaskan 80.000 jiwa atau sekitar 5 persen penduduk Bali dalam ontran-ontran politik pada tahun 1965. Bali berada di titik nadir.

Di tengah kehancuran dan kekacauan, warga di lereng Gunung Agung kembali ke desanya. Hanya setahun desa-desa itu dikosongkan.

Kuburan massal korban letusan di Badeg Dukuh dibongkar dan warga yang selamat kemudian menggelar upacara besar sebelum mengubur kembali jasad korban.

Upacara itu juga menandai kembalinya warga dari pengungsian ke Badeg Dukuh yang sebelumnya luluh lantak diterjang awan panas.

”Saya kembali ke Badeg Dukuh karena di sinilah asal saya,” ujar Sudana. Tak semua korban selamat kembali ke Badeg Dukuh dan Sogra. ”Ada juga keluarga saya yang hingga saat ini tidak mau kembali, mereka sekarang tinggal di Buleleng,” kata Sudana.

Namun, mayoritas warga kembali ke desa mereka dan menata kembali kehidupan di atas puing-puing kehancuran.

Awal Oktober 2011. Beberapa saksi mata masih hidup. Namun, jejak petaka 48 tahun silam itu nyaris tak terlihat. Letusan yang dulu dianggap murka dewa-dewa kini dipandang sebagai anugerah.

Batu dan pasir yang dimuntahkan oleh letusan menjadi penyangga utama pembangunan hotel, restoran, dan vila-vila yang menopang pariwisata Pulau Bali.

Abu vulkanik yang pernah menyelimuti nyaris seluruh pulau ini juga disyukuri sebagai penyubur alami.

Warga di lereng Gunung Agung, seperti Sogra dan Badeg Dukuh, seolah tak pernah mengalami petaka yang menewaskan ratusan leluhur mereka. Anak-anak muda hanya mengerti kisah itu samar-samar.

”Masyarakat di sini meyakini gunung akan meletus kalau kawahnya sudah penuh,” ujar Ni Wayan Trisnawati (26), anak Mangku Turut. Namun, ia tidak bisa mendeskripsikan material seperti apa yang mengisi kawah dan bencana yang akan terjadi jika isi kawah itu luber.

Warga Sogra juga tidak memiliki sistem pemantauan mandiri terhadap aktivitas Gunung Agung. Bahkan, banyak warga yang tidak mengetahui lokasi pos pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, sekitar 8 kilometer dari Sogra. Mereka bahkan kurang peduli dengan kegiatan pemantauan itu.

”Masyarakat di sini tidak tahu kalau ada pos pemantauan gunung api,” ujar Trisna setelah bertanya kepada tiga saudaranya. Mangku Raja, Kepala Desa Badeg Dukuh, juga tidak mengetahui tentang pos pemantauan Gunung Agung.

Seperti leluhurnya, mereka lebih menumpukan proses mitigasi melalui ritual doa. ”Usaha untuk menangkal bahaya letusan gunung api dilakukan melalui upacara di Pura Pasar Agung,” katanya.

Pura ini paling dekat dengan kawah Gunung Agung, sekitar 4 kilometer. Pura Pasar Agung terkubur material vulkanik saat erupsi 1963. Fondasi pura ditemukan melalui penggalian 15 tahun lalu dan dibangun kembali, lebih besar dibandingkan sebelumnya.

SUMBER : BALI.TRIBUNNEWS.COM

Letusan Gunung Agung Terdahsyat dan Terbesar Tahun 1963


Sebagian orang mungkin tak menyangka jika sesungguhnya sejarah letusan Gunung Agung 1963 lebih pilu dari itu. Bukan hanya juru kuncinya, namun seluruh penduduk di kaki gunung suci umat Hindu Bali tersebut 'menerima' tumpahan lahar panas yang melaluinya.

Letusan Gunung Agung 1963 terjadi setelah gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu tertidur panjang 120 tahun lamanya. Kini, 54 tahun kemudian, gunung yang berjuluk Tahta Para Dewa itu kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan. Hingga Ahad, 24 September 2017, status gunung berapi ini sudah ditetapkan di level tertinggi, awas.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut Gunung Agung adalah gunung berapi paling eksplosif di Indonesia, mengalahkan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Catatan sejarah tentang letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak empat kali, salah satu informasinya dari Kama Kusumadinata (1979) dalam bukunya yang berjudul 'Data Dasar Gunung Api Indonesia'.

Letusan Gunung Agung dari Tahun 1800-1963 :

1. Letusan Tahun 1808 M
Gunung Agung meletus disertai uap dan abu vulkanik. Gunung ini melontarkan abu dan batu apung dalam jumlah luar biasa. Jejak sejarahnya adalah bukit-bukit batu yang mendominasi topografi Kabupaten Karangasem saat ini.

2. Letusan Tahun 1821 M
Ini merupakan kelanjutan aktivitas Gunung Agung sejak 1808. Sayangnya sejarah letusan 1821 tidak terdokumentasikan dengan baik. Letusan yang berlangsung saat ini adalah letusan normal.

3. Letusan Tahun 1843 M
Letusan 1843 didahului serangkaian aktivitas kegempaan. Gunung Agung kembali memuntahkan material abu, pasir, dan batu apung.
Pada 1908, 1915, dan 1917, di berbagai tempat di dasar kawah dan pematang Gunung Agung tampak tembusan fumarola.

4. Letusan Tahun 1963 M
Letusan dimulai 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan dahsyat ini mencatat korban 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70 kilometer per segi.

Letusan 1963 diawali gempa bumi ringan yang dirasakan penghuni Kampung Yeh Kori. Sehari kemudian terasa kembali gempa bumi di Kampung Kubu, di pantai timur laut kaki Gunung Agung, sekitar 11 kilometer dari lubang kepundannya.

18 Februari 1963, sekitar pukul 23.00 WITA di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah. 19 Februari 1963, pukul 01.00 WITA terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang, disusul awan mengembus dari kepundan pukul 03.00 WITA. Dua jam kemudian terdengar dentuman perdana, disusul semburan batu-batu kecil hingga besar dan diakhiri semburan asap kelabu hingga kehitaman.

20 Februari 1963, letusan Gunung Agung kembali bergemuruh dengan lemparan bola api lebih besar. Penduduk Desa Kubu mulai panik dan mengungsi. 21 Februari 1963, asap tebal terus mengepul dari kawah. Letusan api dan suara gemuruh terus terdengar hingga 22 Februari 1963.

Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batu-batu kecil dan tajam, pasir, dan hujan abu pada 23 Februari 1963. Hujan lumpur lebat turun di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh. Awan panas muncul.

25 Februari 1963, awan panas terus turun. Hujan lahar di Tukad Daya memutuskan akses wilayah Kubu dan Tianyar. 16 Februari 1963, lava dan hujan lahar mengalir hingga Desa Sogra, Sangkan Kuasa, Badegdukuh, dan Badegtengah. Seluruh penduduknya mengungsi ke selatan.

17 Maret 1963 merupakan puncak dari kegentingan tersebut. Suara letusan berkurang dan hilang. Sisanya adalah aliran lahar ke wilayah-wilayah di bawahnya. Aktivitas Gunung Agung benar-benar berhenti 27 Januari 1964.

Kusumadinata yang merupakan ahli vulkanologi di Direktorat Geologi Bandung menemukan sebagian masyarakat Bali percaya bahwa penyebab letusan Gunung Agung 1963 bersifat spritual. Ini yang membuat arahan dari pihak yang berkompeten terkait gunung ini diabaikan. Masyarakat padahal sudah diingatkan akan zona bahaya radius lima kilometer dari puncak.

Laporannya yang berjudul 'Kegiatan Gunung Agung' pada 1963 menyebutkan anggapan masyarakat Bali bahwa 'Bathara Gunung Agung marah dan mengancam akan meletus jika dalam jangka waktu satu pekan tidak dilaksanakan sesajen dan permintaan lain yang dikemukakan orang-orang yang kerasukan roh suci.'

Masyarakat Bali bahkan menyiapkan perayaan Eka Dasa Rudra pada 8 Maret 1963 di Pura Besakih, sekitar 6,5 km dari puncak Gunung Agung atau menjelang titik kritis letusan. David J Stuart Fox dalam bukunya 'Pura Besakih: Pura, Agama, dan Masyarakat Bali' (2010) menuliskan lebih kurang 10 ribu orang menghadiri upacara tersebut, termasuk gubernur, kepala pemerintahan daerag, dan tokoh-tokoh terkemuka Bali.

Eka Rudra merupakan upacara agama terbesar umat Hindu Bal yang diselenggarakan di pura terbesar, Pura Besakih. Sejumlah alasan yang disampaikan para ahli gunung berapi belum mampu meyakinkan masyarakat untuk mengosongkan Besakih.

Setelah Eka Rudra dilaksanakan, beberapa hari setelahnya masih berdatangan lima ribu orang ke Pura Besakih di tengah hujan debu dan kerikil. Ritual di Besakih terus digelar hingga 15 Maret 1963, dua hari hari sebelum letusan besar pertama terjadi.

Pura Besakih sepanjang masa letusan hanya mengalami kerusakan kecil. Pura ini rusak parah justru karena gempa tektonik berkekuatan enam skala richter yang mengguncang Bali pada 18 Mei 1963.

Kini, setelah tertidur 54 tahun kemudian, Gunung Agung kembali menunjukkan peningkatan aktivitas. Gunung ini sudah berstatus awas atau level empat. Masyarakat di kaki Gunung Agung memiliki kesadaran tinggi untuk mengevakuasi diri dan keluarganya secara mandiri.

Jumlah pengungsi Gunung Agung menurut data terakhir yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai 15.142 jiwa. Mereka tersebar di 125 titik di tujuh kabupaten, meliputi Kabupaten Badung (lima titik), Bangli (17 titik), Buleleng (10 titik), Denpasar (enam titik), Gianyar (sembilan titik), karangasem (54 titik), Klungkung (21 titik), dan Tabanan (tiga titik).

Pemerintah daerah jauh lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menyatakan pemerintah provinsi, daerah, dan lintas sektoral berkomitmen menekan dampak negatif dari peristiwa ini seminimal mungkin.

Sejarah Tragedi Memilukan Letusan Gunung Agung pada Tahun 1963, Pulau Bali