Social Items

Showing posts with label Pendiri Cirebon. Show all posts
Showing posts with label Pendiri Cirebon. Show all posts
Kerajaan Cirebon Larang adalah sebuah kerajaan pra-Islam di wilayah Cirebonsekarang, yang berada di bawah Kerajaan Pajajaran. kerajaan ini cikal bakal Kesultanan Cirebon.

Pada sejarah awal pembentukannya, hanya berstatus sebagai pakuwuan dan Mandala Muarajati. Daerah ini dibuka oleh Raden Walangsungsang, setelah beliau meminta izin pada Ki Gedeng Tapa seorang penguasa Singhpura (Sing Apura). Setelah membentuk tempat pemukiman, akhirnya secara administratif Cirebon Larang terpisah dengan Sing Apura.

Lokasi Cirebon Larang tadinya merupakan kawasan hutan di wilayah Cirebon Pesisir yang biasa disebut Tegal Alang-Alang atau Lemah Wungkuk. Disana Raden Walangsungsang dibantu oleh 52 orang penduduk membuka tempat pemukiman pada tahun 1445 M.

Tidak jauh dari lokasi Cirebon Larang, terdapat sebuah sungai yang cukup besar bernama Kali Kriyan, dimana banyak penduduk setempat yang mencari ikan di tempat itu. Perkampungan tersebut dihuni oleh berbagai suku campuran dari berbagai etnis, dan penduduk setempat kemudian mempercayakan Ki Danusela (adik pendeta Buddha Ki Danuwarsih) sebagai kuwu, sedangkan Walangsungsang bertindak sebagai Pangraksabumi yaitu seorang yang memperhatikan dan memelihara kebaeradaan tanah pemukiman dengan gelar Ki Cakrabuana.

TERBENTUKNYA KERAJAAN CIREBON LARANG

Sebelum Walangsungsang mendirikan pemukiman di Cirebon Larang, sebenarnya di sekitar wilayah tersebut telah berdiri pakuwuan (di bawah wilayah Kerajaan Singhapura) yang dipimpin oleh Ki Danusela. Tetapi dengan ilmu dan kecakapan dari Walangsungsang, pakuwuan tersebut semakin berkembang dan tertata rapi.

Penunjukan Ki Danusela sebagai kuwu pertama di Cirebon Larang, karena jabatan tersebut telah disandangnya sebelum Walangsungsang datang dan mendirikan pemukiman baru. Ketokohan Ki Danusela rupanya masih diperhitungkan dan dihormati oleh penduduk setempat maupun Walangsungsang sendiri.

Ki Danusela adalah adik dari Ki Gedeng Danuwarsih (mertua dari Walangsungsang). Istri Ki Danusela bernama Nyi Arum Sari dari Cirebon Girang. Dari pernikahannya itu, mereka dikaruniai seorang putri yang bernama Nyi Retna Riris.

Selain diperintahkan untuk membuka lahan baru, pada tahun 1448 M, setelah selesai membangun tempat pemukiman baru yang semakin maju, Raden Walangsungsang pergi ke Tanah Suci Mekkah bersama adiknya, Nyai Larasantang. Tetapi istrinya Walangsungsang yang bernama Nyai Indang Geulis tidak diikut sertakan karena sedang mengandung.

Usai menunaikan ibadah haji, Walangsungsang sangat berbahagia karena Indang Geulis (istrinya) telah melahirkan seorang puteri yang kemudian diberi nama Nyai Pakungwati. Sedangkan anak dari pernikahannya dengan Nyi Rasa Jati antara lain :

Nyi Lara Konda, Nyi Lara Sejati, Nyi Jati Merta, Nyi Mertasinga, Nyi Campa, Nyi Rasa Melasih.

Setelah Ki Danusela wafat, Walangsungsang akhirnya diangkat menjadi kuwu Cirebon Larang yang ke-2. Selanjutnya, untuk mengislamkan keluarga Ki Danusela, Walangsungsang menikah lagi dengan puteri dari Ki Danusela yang bernama Retna Riris (kemudian berganti nama menjadi Kancana Larang). Dari pernikahannya kali ini, Walangsungsang dikaruniai seorang putra yang bernama Pangeran Cerbon. (kemudian setelah dewasa menjadi kuwu di Cirebon Girang).

Pada saat menjabat sebagai kuwu, Raden Walangsungsang menunjukkan kecakapannya. Ia mampu memajukan wilayah itu, Cirebon Larang semakin berkembang melebihi ukuran sebuah desa. Saat itu wilayahnya banyak didatangi oleh para pendatang dari berbagai suku bangsa. Semakin banyak juga penduduk Cirebon yang beralih agama dari Hindu (pengaruh Pajajaran di pantai utara Jawa khususnya di Cirebondan sekitarnya) ke agama Islam. Untuk lebih menggiatkan penyebaran Islam kemudian Walangsungsang mendirikan Masjid Jalagrahan (masjid tertua di Cirebon) pada tahun 1456 M.

Cirebon Larang beberapa tahun kemudian, sepak terjang yang dilakukan oleh Raden Walangsungsang mengenai penyebaran Islam diketahui oleh sang ayah yaitu Prabu Jayadewata (yang telah menjabat sebagai raja Pajajaran dengan gelar Sri Baduga Maharaja). Namun, tindakan penyebaran Islam itu tidak dipermasalahkan oleh Prabu Jayadewata.

Ki Gedeng Tapa (Kerajaan Singhapura) meninggal dunia, Raden Walangsungsang kemudian meneruskan tugas untuk mengatur Pelabuhan Muara Jati dan menyatukan wilayah Kerajaan Singhpura dengan wilayah pakuwuan Cirebon Larang dalam satu kekuasaan. Untuk mengamankan dan mempertahankan Pelabuhan Muara Jati yang semakin ramai, Raden Walangsungsang membentuk satuan keamanan dan ketertiban.

 Pengelolaan secara otonomi, makin membuat situasi pelabuhan makin ramai, dan pemasukan pendapatan ke Kerajaan Pajajaran pun semakin besar. Harta warisan yang berlimpah dari Ki Gedeng Tapa kemudian digunakannya untuk membuat sebuah keraton yang bernama Keraton Pakungwati[3] (diambil dari nama puterinya) di tepian Kali Kriyan, serta membentuk satuan prajurit. Keraton Pakungwati dibuat sebagai kompleks keraton yang sangat indah, di mana didalamnya terdapat taman sari dan kolam pemandian tempat para puteri keraton membersihkan diri.

Wilayah Cirebon Larang telah lengkap untuk membentuk kerajaan, maka Prabu Jayadewata segera mengirimkan utusannya yang bernama Jagabaya (Perwira Angkatan Perang Pajajaran) serta Rajasengara (Kian Santang), adik bungsu Walangsungsang untuk menobatkan Raden Walangsungsang sebagai raja daerah dengan gelar Tumenggung Sri Mangana Cakrabuana. Dengan demikian, maka mulai saat itu, status Pakuwuan Cirebon Larang berubah menjadi Kerajaan di bawah kekuasaan Pajajaran.

Setelah acara penobatan dilangsungkan, Rajasengara (Kian Santang) tidak pulang ke Pakuan tetapi memilih tinggal bersama kakaknya di Kerajaan Cirebon Larang. Disinilah beliau bertemu dengan seorang gadis dari Campa yang bernama Nyi Halimah atau Nyi Gedeng Kalisapu.

Meski saat itu Cirebon Kerajaan Larang merupakan bagian dari wilayah besar Kerajaan Pajajaran yang berfaham Hindu, Raden Walangsungsang tetap terus mengembangkan agama Islam. Apa yang dilakukan Raden Walangsungsang tidak mendapat hambatan dari Pajajaran, karena dalam bekerja di pemerintahan dia tidak pernah mengecewakan Pajajaran. Raden Walangsungsang, waktu itu menjadi satu-satunya pejabat tinggi (setingkat raja) dari Kerajaan Pajajaran yang beragama Islam.

KESULTANAN CIREBON

Agama Islam semakin berkembang, Larasantang bersama suaminya (Syarif Abdullah) pulang ke Cirebon setelah beberapa lama tinggal di Mesir. Kehadiran mereka di Cirebon disertai juga dengan puteranya yang telah tumbuh dewasa (berusia 26 tahun). Putera tersebut bernama Syarif Hidayatullah, yang pernah belajar Islam di Mekkah pada usia 20 tahun. Selama 2 tahun beliau berguru pada Syekh Tajumudin Al Kubri, kemudian 2 tahun berikutnya dilanjutkan dengan berguru pada Syekh Ataillah Syazali. Setelah dari Mekkah pencarian ilmunya dilanjutkan ke Baghdad untuk belajar tasawuf selama 2 tahun, akhirnya tiba di Cirebon

Syarif Hidayatullah aktif mengajar Islam di dukuh Babadan. Disana ia bertemu dengan Nyai Babadan (puteri Ki Gedeng Babadan) yang kemudian dinikahinya. Dengan semakin gencarnya Syarif Hidayatullah berdakwah mengajarkan agama Islam di tatar Pasundan (menggantikan peran Syekh Datuk Kahfi yang telah wafat), maka beliau kemudian dikenal sebagai Syekh Maulana Jati atau Syekh Jati.

Setelah Nyai Babadan meninggal, Syarif Hidayatullah kemudian menikah lagi dengan Nyimas Pakungwati (puteri Raden Walangsungsang) dan Nyai Lara Baghdad (puteri sahabat Syekh Datuk Kahfi). Dari pernikahannya dengan Nyai Lara Baghdad, beliau dikaruniai 2 orang putra yaitu :

Pangeran Bratakelana atau Pangeran Gung Anom (kemudian menikah dengan Ratu Nyawa, putri dari Raden Patah, Sultan Demak).Pangeran Jayakelana (kemudian menikah dengan Nyi Ratu Pembaya, putri dari Raden Patah).

Syarif Hidayatullah mengajarkan agama Islam di Banten, Bupati Kawunganten (salah satu bawahan Pajajaran di wilayah Banten Pesisir) yang bernama Arya Surajaya (anak sulung dari Surasowan -raja Banten Pesisir), menerima dengan terbuka pada agama Islam. Kemudian adiknya yang bernama Nyai Kawunganten (anak bungsu dari Surasowan) diperistri oleh Syarif Hidayatullah. Dari perkawinan dengan Nyai Kawunganten yang masih cucu dari Prabu Jayadewata tersebut lahirlah Ratu Winaon dan Pangeran Sabakingkin (kelak dikenal sebagai Maulana Hasanuddin) pendiri Kesultanan Banten.

Syarif Hidayatullah kembali ke Cirebon pada tahun 1479 M, setelah melakukan penyebaran Islam di wilayah Banten. Sementara itu, setelah Raden Walangsungsang makin mampu meningkatkan kekuatannya dalam memimpin wilayah Cirebon Larang, dia ingin wilayahnya bebas berdaulat, mandiri tidak lagi di bawah kekuasaan Pajajaran. Karena itu, beliau mengirim keponakannya (Syarif Hidayatullah) untuk pergi ke Kesultanan Demak (Kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa) yang dipimpin oleh Raden Patah.

Raden Walangsungsang mengharapkan Syarif Hidayatullah bisa menyerap ilmu pengetahuan dari Raden Patah bila kemungkinan Cirebon bisa menjadi kerajaan yang mandiri. Di Demak, selain belajar ilmu pemerintahan dari Sultan Agung, Syarif Hidayatullah juga berguru pada Sunan Ampel.

Selain belajar ilmu pemerintahan, di sana Syarif Hidayatullah menikah lagi dengan Nyi Tepasari (putri dari Ki Ageng Tepasan yaitu pembesar Majapahit yang pro Raden Patah). Dari pernikahannya kali ini, beliau dikaruniai dua orang anak yaitu :

Nyi Mas Ratu Ayu (kemudian menikah dengan Pangeran Sabrang Lor atau Sultan Demak ke-2),Pangeran Mohamad Arifin (kemudian dikenal sebagai Pangeran Pasarean).

Sepulangnya dari Demak, Syarif Hidayatullah segera pulang ke Cirebon dan Raden Walangsungsang meminta Syarif Hidayatullah untuk segera menggantikan kedudukannya. Atas perintah dari uwaknya tersebut, akhirnya beberapa tahun kemudian, Syarif Hidayatullah meneruskan kepemimpinannya. Namun, kepemimpinannya kali ini ditingkatkan menjadi bentuk Kesultanan Islam yang merdeka (lepas dari Kerajaan Pajajaran). Raden Walangsungsang memberanikan diri mewujudkan impiannya itu setelah ayahnya, Sri Baduga Maharaja turun tahta (wafat).

Sri Baduga Maharaja berkuasa, sangat kharismatik, disegani serta dihormati oleh seluruh rakyat barat Jawa. Sehingga Raden Walangsungsang pun mungkin merasa segan untuk memerdekakan diri dari kekuasaannya saat itu. Tetapi setelah tahta Pajajaran turun pada Surawisesa (saudara seayah Raden Walangsungsang), maka Kerajaan Pajajarandan Kerajaan Cirebon Larang dianggap sederajat. Sejak itulah, status Cirebon Larang yang tadinya hanya sebuah kerajaan bawahan Pajajaran kini berubah menjadi Kesultanan Cirebon yang merdeka.

Legenda Asal Usul Kerajaan Cirebon Larang

Mandala Cirebonlarang adalah cikal bakal Kerajaan Cirebon Larang atau Kerajaan Pasambangan dan selanjutnya menjadi Kesultanan Cirebon. Lokasi Manadala Cirebon Larang ini berada di Muara Jati Cirebon. Pesisir utara Kota Cirebon sekarang.

Umumnya sebagai Mandala, Cirebon larang adalah daerah perdikan atau pusat pendidikan pra Islam di bawah Kerajaan Galuh Pakuan pajajaran. Sebelum Pajajaran berdiri di Bogorsekarang, daerah ini berada di bawah pemerintahan Kerajaan Galuh, Ciamis sekarang. Awal mula berdirinya Manda Cirebonlarang tidak diketahui secara persis. Keberadaannya bersamaan dengan tumbuhnya pemukiman atau pakuwuan Cirebonlarang.

AWAL MULA

Pada tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, dipantai Pulau Jawa yang sekarang disebut Cirebon, ada tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran yang diketuai oleh Mangkubumi yaitu Singhapura, Pesambangan, dan Japura. Pasambangan ini yang dikenali sebagai Cirebonlarang.

Seharusnya Mandala Cirebonlarang dipimpin oleh seorang Guru Resi atau dalam naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian disebut Gulu Loka. Namun kesejarahan pimpinan Mandala ini telah hilang atau tidak diketahui. Sejarah Cirebon hanya mencata Ki Gedeng Tapa atau Ki Jumanjang Jati, seorang juru labuan sebagai pemimpin pemukiman Cirebonlarang.

Informasi dalam Cerita Purwaka Caruban Nagari hanya mengisahkan heroisme masa penyebaran Islam di Cirebon, sehingga masa pra-Islam tidak diketahui. Kondisi masyarakat dan kepemimpinan saat itu masih gelap. Meskipun demikian, temuan artefak Kubur Batu (Dolmen) pra-sejarah dapat menjadi acuan penelitian masyarakat Cirebon pra-Islam.

Kubur batu merupakan tradisi megalitik yang sudah sangat tua. Diduga tradisi ini sudah dilakukan sejak masa bercocok tanam pada masa prasejarah.

Akan tetapi, beberapa kubur batu menunjukan penanggalan yang lebih muda. Hal ini terutama diperkuat dari hasil temuan bekal kubur yang berasal dari zaman yang lebih awal.

Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa tradisi kubur batu telah berlangsung sejak masa prasejarah hingga masa setelahnya, bahkan dibeberapa tempat tradisi ini terus berlanjut pada masa kerajaan kuna. Kubur batu umumnya diletakan dengan orientasi timur-barat hal ini dipercaya sebagai bagian dari konsep religi dan sistem kepercayaan masyarakat pada masa itu. Kekuasaan alam seperti matahari dan juga bulan dianggap menjadi pedoman dalam hidup mereka.

MASA ISLAM

Dalam naskah, dikisahkan secara singkat perihal perjalanan hidup Prabu Siliwangi,seorang raja besar yang memerintah Pakuan Pajajaran. Ia adalah putra Prabu Anggalarang dari wangsa Galuh yang berkuasa di Surawisesa (keraton galuh). Pada masa mudanya, ia bernama Raden Manah Rarasa (Pamanah Rasa) dan dipelihara oleh uaknya, Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru labuhan yang menguasai pelabuhan Muara Jati. Prabu Siliwangi memperistri puteri Ki Gedeng Sindangkasih bernama Nyai Ambetkasih.

Prabu Siliwangi mengikuti sayembara di negeri Surantaka, bawahan negeri Pajajaran, yang diselenggarakan oleh raja Singapura, Ki Gedeng Tapa. Dalam sayembara itu, ia tampil sebagai pemenang dan berhak memperistri Nyai Subanglarang, putri Ki Gedeng Tapa.

Setelah Ki Gedeng sindangkasih wafat, Raden Pamanah Rasa dijadikan Raja Sindangkasih dengan gelar Prabu Siliwangi. Selang beberapa waktu lamanya, Prabu Siliwangi dinobatkan menjadi Maharaja di Pakwan Pajajaran bergelar Pabu Dewatawisesa dan tinggal di keraton Sang Bima bersama istrinya Nyai Subanglarang.

Versi lain, pertemuan Prabu Siliwangi dengan Nyai Subanglarang di pesantren Syekh Quro di karawang. Jadi menyunting Nyai Subang Larang tidak melalui sayembara. Kisah epik menikahi seorang wanita, khususnya di wilayah Cirebon, Majalengka dan sekitarnya. Mungkin hal ini dimaksudkan sebagai tanda sulitnya mendapat seorang wanita mulia.

CIREBON PRA ISLAM

Sebutan Negeri Caruban atau Cerbon itu adalah menurut nama ibukotanya,ialah Caruban yang berasal dari istilah “Sarumban”berarti pusat tempat percampuran penduduk. Hal ini karena Letak Cirebon yang merupakan kota pelabuhan yang sejak abad ke-5 M sudah ramai sebagai jalur perdagangan internasional. Kebanyakan para pedagang biasanya berlabuh untuk kemudian menunggu musim berlayar kembali hingga membentuk koloni dan lama-kelamaan membaur dengan pribumi. Kondisi geografis Kesultanan Cirebon tidak jauh berbeda dengan kondisi Kota Cirebon sekarang.

Dalam buku Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, letak Pelabuhan Cirebon berada di teluk yang terlindung dari gangguan alam seperti gelombang laut. Pelabuhan Cirebon juga terletak cukup jauh dari Pelabuhan besar lainnya,ditengah Pulau Jawa bagian utara diantara Pelabuhan Jepara, Tuban, dan Surabaya didaerah timur dan Pelabuhan Sunda Kelapa (Jayakarta) dan Banten disebelah Barat. Oleh karena itu, Pelabuhan Cirebon menjadi mata rantai dalam jalur perdagangan di Kepulauan Nusantara dan Perairan Asia.

Peran Pelabuhan Cirebon inilah yang menyebabkan Sejak abad ke-5 M Pelabuhan Cirebon sudah ramai oleh para pedagang lokal maupun internasional. Sebelum berdirinya kekuasaan politik Islam dibawah kepemimpinan Sunan Gunung Jati, wilayah Cirebon dapat dikelompokkan atas dua daerah yaitu daerah pesisir disebut dengan nama Cirebon Larang dan daerah pedalaman yang disebut Cirebon Girang.

Cirebon Larang adalah sebuah daerah bernama Dukuh Pesambangan dan Cirebon Girang adalah Lemah Wungkuk. Dari Cirebon Larang/Dukuh Pesambangan inilah perdagangan melalui jalur laut berlangsung dan menjadi jalur masuknya Islam di Cirebon. Cirebon Larang mempunyai pelabuhan yang sudah ramai dan mempunyai mercusuar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar yang singgah dipelabuhan yang disebut Muara Jati (sekarang disebut Alas Konda).

Tahun 1302 AJ (Anno Jawa)/1389 M, tiga daerah otonom bawahan kerajaan Pajajaran masing-masin dipimpin oleh Mangkubumi yaitu Singhapura, Pesambangan, dan Japura. Setiap daerah memiliki pemimpin sendiri, Singapura (Mertasinga) dipimpin oleh Mangkubumi Singhapura, Pesambangan dikepalai Ki Ageng Jumajan Jati, dan Japura dikepalai Ki Ageng Japura. Dari ketiga daerah otonom ini, salah satunya adalah Dukuh Pesambangan yang dalam perkembangannya berubah menjadi Cirebon.

Dukuh Pesambangan adalah dukuh yang mengawali lahirnya pemukiman di Cirebon, kemudian dibuka pedukuhan baru dikenal dengan nama Lemah Wungkuk (Kebon Pesisir). Pada masa Pangeran Cakrabuana/Walangsungsang menjabat Kuwu Cerbon ke II, Ibukota Caruban Larang yang tadinya di Pesambangan dipindah ke daerah Caruban (Kebon Pesisir) yang kemudian disebut Sarumban/Caruban, Carbon, Cerbon, Crebon, kemudian Cirebon.

Cirebon pada awalnya adalah sebuah daerah yang bernama Tegal Alang-alangy ang kemudian disebut Lemah Wungkuk dan setelah dibangun oleh Pangeran Walangsungsang diubah namanya menjadi Caruban. Nama Caruban sendiri terbentuk karena diwilayah Cirebon dihuni oleh beragam masyarakat.

Sebutan lain Cirebon adalah Caruban Larang. Pada perkembangannya Caruban berubah menjadi Cirebon karena kebiasaan masyarakatnya sebagai nelayan yang membuat terasi udang dan petis, masakan berbahan dasar air rebusan udang (cai rebon).

Menurut Kitab Purwaka Caruban Nagari, Cirebon dulunya bernama Dukuh Caruban. Dukuh Caruban adalah dukuh yang dibangun oleh putra mahkota Pajajaran, Pangeran Cakrabuana/Raden Walangsungsang yang dibantu oleh adiknya Nyai Lara Santang dan istrinya Nyai Indang Geulis. Pangeran Cakrabuana membuka pedukuhan atas perintah gurunya, Syekh Nurul Jati/Syekh Datuk Kahfi.

Legenda Asal Usul Mandala Cirebon Larang

Pangeran Walangsungsang dalam sejarah Cirebon dikenal memiliki beberapa nama, akan tetapi nama yang paling masyhur selain nama aslinya adalah Cakrabuana, dan Ki Kuwu Carbon. Pangeran Walangsungsang sendiri merupakan anak dari Prabu Siliwangi dengan Istrinya Nyimas Ratu Subanglarang. Beliau merupakan anak pertama dari keduanya.

Meskipun ayahnya seorang Raja Sunda dan sudah tentu beragama Budha, akan tetapi Pangeran Walangsungsang ini sejak kecil mengikuti agama Ibunya Islam, sebab Ibunya selain anak seorang pembesar di Mertasinga juga merupakan santri Syekh Qura Karawang.

Menurut Naskah Purawaka Caruban Nagari, Pangeran Walangsungsang keluar dari Istana Pajajaran dan memilih menjadi pengembara selepas kewafatan ibundanya, sebab khabarnya Pangeran Walangsungsang mendapat perlakukan buruk di Istana karena ia berbeda agama dengan kerabatnya.

Pada tahun ± 200 SM telah terjadi perpindahan bangsa tiga kali dari Inodcina ke Indonesia, yang terakhir terjadi perpindahan bangsa keling berjumlah sekitar 20.000 keluarga yang dipimpin langsung oleh seorang pendeta dari Bizantium (kerajaan Romawi Timur), ibu kota Constantinopel (Istambul) orang Jawa menyebutnya Roma Turki.

Mereka mendarat di beberapa daerah di Jawa Barat di antaranya Teluk Jakarta, Pulau Gadung, yang sekarang menjadi ibu kota negara Republik Indonesia, di pinggir-pinggir kali Cisadane dan Citarum Bogor, dan di Pesambangan Gunung Jati Cirebon Desa Jatimerta di Muarajati (Alas Konda), di teluk Banten, dan Pelabuhan Ratu daerah Rawalakbok, Banjar dan Ciamis. Proses penyebaran penduduk imigran ini terjadi pada tahun ± 87 M yang diawali tahun 1 (satu) Babad Zaman (Ano Jawa).

LAHIRNYA RADEN WALANG SUNGSANG

Kemudian seiring waktu dengan perjalanan waktu ± 363 tahun lamanya, laju pertumbuhan penduduk kian hari berkembang dengan pesat hingga pada tahun 450 M di Jawa Barat berdirilah sebuah kerajaan Taruma Negara yang terletak di daerah Cisadane Bogor. Raja tersebut bernama Purnawarman yang tertulis pada sebuah prasasti di sungai Cisadane.

Disusul kemudian pada abad ke-7, di Jawa Barat berdiri pula kerajaan Banjarsari yang terletak di daerah Rawalakbok, sebuah daerah yang diapit kota Cimais dan Banjar Tasikmalaya, hingga sekarang masih ada petilasannya yaitu petilasan Pameradan Ciung Wanara, rajanya bernama Prabu Adi Mulya, semasa kecilnya bernama Pangeran Lelean.

Raja Ciung Wanara (Prabu Adi Mulya) wafat lalu digantikan oleh putri sulungnya yang bernama Ratu Purbasari, kemudian ia membangun dan memindahkan kerajaanya ke Pakuan Bogor. Pada waktu itu agama yang dianutnya adalah agama Sang Hiyang (Hindu-Budha). Setelah Ratu Purbasari wafat, kemudian secara berturut-turut digantikan oleh putra-putranya, yaitu:

Prabu Linggahiang, Prabu Linggawesi, Prabu Wastukancana, Prabu Susuk Tunggal, Prabu Banyak Larang, Prabu Banyakwangi, Prabu Anggalarang, Prabu Mundingkawati, Prabu Siliwangi. 

Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran, semasa kecilnya bernama Raden Pamanahrasa yang merupakan raja Pajajaran yang ke-9. Kemudian ia mempersuting Nyimas Subanglarang (Subang Kerancang), yaitu seorang putri Mangkubumi Mertasinga (Singapura). Dari perkawinannya dengan Nyimas Subanglarang tahun 1404 M dikaruniai 3 (tiga) orang anak yaitu:

Pangeran Walangsungsang (1423 M), Nyimas Ratu Rarasantang (1427 M) dan Pangeran Raja Sengara (1429 M)

Tiga putra inilah kelak kemudian hari akan membabad / membangun pedukuhan Cirebon yang berlangsung pada tanggal 1 Syuro tahun 1445.  Pangeran Walangsungsang dilahirkan pada tahun 1423 M di keraton Pajajaran ayahnya bernama Prabu Siliwangi, raja ke-9. Sedangkan ibunya Ratu Subang Larang yang memeluk agama Islam di Pengguron Syekh Quro Kerawang, Jawa Barat.

Pangeran Walangsungsang dalam usia remaja pada tahun 1441 M keluar dari kerton Pajajaran, pada saat itu usianya baru 17 tahun. Kala itu, pada suatu malam ia mimpi bertemu dengan Nabi Muhammad saw. Dalam mimpinya beliau diperintahkan agar mencari agama Islam yang dapat menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.

 Hal yang sama juga dialami oleh adiknya yaitu Nyimas Rarasantang, kemudian satu persatu mereka keluar dari keraton Pajajaran untuk berguru agama Islam, mengembara menelusuri hutan belantara, naik gunung turun gunung selama sembilan bulan. Pertama kali yang dituju adalah Gunung Merapi yang terletak di Padepokan Priyangan Timur, tepatnya di desa Raja Desa Ciamis Timur.

   Alkisah, Ratu Mas Rarasantang yang berada di Pajajaran rindu kepada kakanda Raden Walangsungsang yang telah mendahului keluar dari istana. Setelah ditinggalkan oleh kakandanya, Ratu Mas Rarasantang selalu murung. Ia menangis tersedu-sedu siang malam berturut-turut selama empat hari. Dikala malam telah sunyi Ratu Mas Rarasantang sedang tidur nyenyak bermimpi bertemy dengan seorang laki-laki yang tampan lagi berbau harum memberi wejangan-wejangan ajaran Islam dan menyuruh berguru agama Islam syaiat Nabi Muhammad saw, dan kelak dikemudian hari akan mempunyai suami raja islam dan akan mempunyai anak laki-laki yang akan menjadi wali kutub.

 Ratu Mas Rarasantang tersentak dan bangun dari tidurnya dan ia sadar dari mimpinya, lalu ia keluar dari istana untuk menyusul kakaknda Raden Walangsungsang yang sedang terus berjalan tak mengenal lelah menuju ke arah timur.

Dikisahkan setelah keluarnya dua putra mahkotanya, sang ibunda tercinta, Ratu Subang Larang, merasa sangat sedih dan prihatin. Ia menangisi dan menyungkemi sang prabu karena kedua putranya telah hilang pergi. Setelah mendengar penuturan Ratu Subang Larang, sang prabu tersentak dan terkejut. Sang prabu segera memanggil seluruh satria, sentana, patih, bupati, dan menteri. Setelah semua para wadiabala dikumpulkan dan  juga para pembesar kerajaan sudah hadir, maka Sang Prabu Siliwangi bersabda: “Wahai Patih Argatala, Dipati Siput, sekarang carilah putriku Dewi Ratu Mas Rarasantang , disuruh pulang, carilah jangangan sampai tidak berhasil.” Patih Argatala menjawab: “Sendika Gusti.”

Patih Argatala segera keluar dari keraton untuk mengumumkan kepada seluruh wadiabala di Pajajaran. Seketika semua orang ggeger dan panik, lalu semuanya menyebar ke segala penjuru Patih Argatala mencarinya dengan bertapa menuruti perjalanan para pendeta. Adipati Siput mencarinya dengan cara memasuki hutan keluar hutan menuruti perjalanan hewan. Para wadiabala bubar ketujuannya masing-masing, mereka takut pulang sebelum berhasil membawa pulang dua putra mahkota Pajajaran.

PENDIRI CARUBAN (CIREBON)

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana merintis Caruban Nagari dari jenjang yang paling bawah sampai menjadi raja muda. Perintisannya diantaranya membuat pemukiman di Tegal Alang Alang, hingga akhirnya disebut Caruban yang artinya campuran. Membuat lahan pertanian di daerah Panjunan, membuat industry produk laut diantaranya terasi, petis, ikan kering dan garam. Mendirikan masjid dan Keraton Pakungwati dengan pembiayaan darai warisan kakeknya Ki Ageng Tapa, serta membuat pasukan keamanan lengkap dengan angkatan bersenjatanya.  Pada saat Pangeran Walangsungsangmenjadi pemimpin di Caruban, Ayahnya, Raja Sunda merestui dengan mengirim Tumenggung Jagabaya membawa panji-panji kerajaan serta memberikan wilayah kekuasaan kepada Pangeran Walngsungsang Cakrabuana.

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana, bukan semata-mata untuk membentuk suatu pemerintahan yang berkuasa, namun mempersiapkan perkembangan dakwah Islamiyah yang menjadi cita-cita saat itu, yang kelanjutannya akan diteruskan oleh anak dari adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang, yaitu Syarief Hidayat. Pengetahuan tentang akan datang seorang pemimpin dan pemuka agama islam, yang tidak lain adlah keponakannya sendiri, telah diketahui berdasarkan nasehat dari guru-guru keduanya diantaranya adalah Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi.

Pangeran Walangsungsang bertemu Syekh Quro, di dalam pertemuan tersebut. Syekh Quro mengatakan kepada Pangeran Walangsungsang bahwa kelak adiknya akan berjodoh dengan raja Mesir dan akan dianugerahi anak yang bernama Maulana Jati, yang kelak ditakdirkan menjadi penguasa Cirebon. Seperti yang tertera dalam Naskah Carub Kanda Carang Seket.

Pada kesempatan yang berbeda, pada saat Pangeran Walangsungsang hendak berguru pada Syekh Maulana Magribi[1], Syekh Maulana Magribi  menolak untuk menjadi guru mereka. Ia menyarankan Pangeran Walangsungsang untuk berguru pada Syekh Datul Kahfi/ Syekh Maulana Idhofi. Pada pertemuan tersebut Syekh Maulana Magribi mengatakan bahwa pada saat Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang menunaikan ibadah haji, maka beliau akan dinikahi oleh Sultan Mesir dan menikah disana, kemudian dari pernikahan tersebut akan lahir pemimpin para wali di Pulau Jawa.   Pertemuan Pangeran Walangsungsang dengan Syekh Maulana Magribi tersebut terekam dalam  Carub Kanda Carang Seket pupuh Asmarandana.

Pangeran Cakrabuana dan Nyi Mas Ratu Rarasantang kemudian menuruti saran dari Syekh Maulana Magribi berguru pada Syekh Datul Kahfi pada tahun 1442 M. Nyekh Datul Kahfi beserta istrinya sangat senang akan kedatangan keduanya. Mereka diperkenankan tinggal di Gunung Jati dan melarang keduanya kembali ke Negara Sunda. Syekh Datul Kahfi mengatakan pada Nyi Mas Ratu Rarasantang bahwa ia kelak akan bersuamikan Sultan Bani Israil, dan darinya akan lahir seorang anak yang akan meng-Islamkan tanah Sunda, mengalahkan agama Sunda. 

Nyi Mas Ratu Rarasantang dan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana memperoleh banyak nasehat dan ilmu dari Syekh Datul Kahfi.  Setelah tiga tahun berguru, mereka kemudian diperintahkan oleh Syekh Datul Kahfi untuk membuka Tegal Alang-Alang di Lemahwungkuk yang merupakan cikal bakal kota Cirebon. Pada tanggal 14 bagian terang bulan Carita tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April tahun 1445 Masehi, bertepatan dengan masuknya penanggalan 1 Muharam 848 Hijriyah, Pangeran Walangsungsang alias Somadullah dibantu 52 orang penduduk, membuka perkampungan baru di hutan pantai kebon pesisir.

 Lama kelamaan daerah Tegal Alang-Alang berkembang menjadi pedukuhan yang maju. Tak lama kemudian mereka diperintahkan untuk menunaikan Rukun Islam kelima.  Setelah berhaji Nyi Mas Ratu Rarasantang bernama Hajjah Syarifah Mudaim, sedangkan Pangeran Walangsungsang Cakrabuana menjadi Haji Abdullah Iman.

Pada saat itulah Nyi Mas Ratu Rarasantang bertemu dengan  Maulana Sultan Mahmud/ Syarif Abdullah/ Sultan Amiril Mukminin/ Sultan Khut, Anak Nurul Alim dari bangsa Hasyim (Bani Ismail), yang memerintah kota Ismailiyah, Palestina.  Maulana Sultan Mahmud, yang baru saja ditinggal mati oleh istrinya bermaksud menikahi Nyi Mas Ratu Rarasantang. Syarif Abdullah pergi ke arah timur dari istananya dengan mengajak Nyi Mas Ratu Rarasantang ke bukit Tursinah dengan diikuti Pangeran Cakrabuana dan patih Jalalluddin. Disana ia melamar Nyi Mas Rarasantang.

 Perjanjian pra nikah antara keduanya di Bukit Tursina terdapat dalalam Pupuh Kasmaran Naskah Mertasinga, Carang Seket, Serat Kawedar dan Sejarah Lampah ing para Wali Kabeh. Isi dari perjanjian tersebut adalah bahwa Nyi Mas Ratu Rarasantang bersedia dinikahi oleh  Syarif Abdullah dengan syarat bahwa bila ia melahirkan anak laki-laki, anak tersebut diperbolehkan untuk menjadi pemimpin agama di Jawa untuk mengislamkan saudara-saudaranya di Padjajaran.

 Perjanjian tersebut dihadiri oleh Pangeran Walangsungsang Cakrabuana selaku wali dari Nyi Mas Rarasantang. Syarif Abdullah menyepakati perjanjian tersebut. 

Pangeran Walangsungsang Cakrabuana pun menyetujui perjanjian tersebut. Karena hal tersebut pun telah diramalkan pada saat pertemuan mereka dengan Syekh Quro, Syekh Maulana Magribi dan Syekh Datul Kahfi. Yang secara tidak langsung ramalan tersebut merupakan nasehat dan sekaligus merupakan amanat dari para pemuka agama di sana saat itu.

Akhirnya Nyi Mas Ratu Rarasantang menikah dengan Maulana Sultan Mahmud. Menikahnya Syarifah Mudaim dan Syarif Abdullah bukan merupakan kebetulan belaka. Syarif  Abdullah adalah adik ipar dari Syekh Datul Kahfi.  Antara Syekh Datul Kahfi, Syekh Quro dan Syekh Maulana Magribi merupakan utusan utusan dari Persia[6] yang diperintahkan baik secara langsung maupun tidak langsung untuk menyebarkan  Agama Islam diluar jazirah Arab. Penyebaran agama Islam keluar jazirah Arab sudah dilakukan beberapa abad sebelumnya, tetapi belum sanggunp mengislamisasi masal penduduk di luar jazirah Arab.

 Bahkan ratusan orang mati sahid dalam perjuan dakwah tersebut. Sampai akhirnya abad ke-13 penyebaran Islam di jazirah Arab mulai mengalami penurunan, sehingga dibuatlah strategi dakwah untuk tetap menyebarkan Islam dengan cara mengirimkan para pemuka agama ke berbagai daerah.  Selain berdakwah, para penyebar agama Islam tersebut menikah pula dengan penduduk lokal.

 Pernikahan Nyi Mas Ratu Rarasantang merupakan sebuah skenario besar untuk melakukan Islamisasi masal melalui keturunan mereka di kemudian hari. Dengan cara mensugesti Pangeran Walangsungsang dan Nyi Mas Ratu Rarasantang, sehingga mereka mau mengikuti petunjuk para guru mereka.

 Para pendakwah senior tersebut telah mengkaji dan mengambil pelajaran dari pengamalan mereka sebelumnya, dimana perkawinan antar mualaf Nyi Mas Subang Karancang, ibunda Nyi Mas Ratu Rarasantang yang berguru pada Syekh Quro,  dengan Pemanah Rasa, calon Raja Sunda, gagal, tidak berhasil mengislamkan tanah Sunda, sehingga mereka membuat strategi dakwah baru dengan cara kaderisasi potensi calon-calon pendakwah baru.

 Salah satu caranya adalah mengawinkan anak-anak perempuan keturunan raja-raja Jawa dengan keturunan raja-raja di Timur Tengah, yang keturunan nabi, sehingga keturunannya yang akan menyebarkan agama Islam kelak memiliki legitimasi.

Pada tahun 1448 M,Syarifah Mudaim  yang dalam keadaan hamil tua menunaikan ibadah haji kembali. Di Kota Mekah ia melahirkan Syarif Hidayatullah di Kota Mekah. Dua tahun kemudian lahirlah Syarif Nurullah, adik Syarif Hidayat.

Syarif Hidayat, keponakan Pangeran Cakrabuana dibesarkan di negara ayahnya, Mesir. Syarif Hidayat tumbuh menjadi pemuda yang cerdas.  Syarif Hidayatullah sangat taat menjalankan syariat Islam. Ia seorang muslim yang takwa. Syarif Hidayat gemar mempelajari ajaran Agama Islam. Ia bercita-cita mengajarkan dan menyebarkan agama Islam.Suatu hari ia membaca dan mempelajari sebuah kitab.

 Dari kitab tersebut ia menyatakan keinginannya kkepada ibundanya, Syarifah Mudaim, berguru kepada Nabi Muhammad SAW. Syariffah Mudaim mengatakan bahwa Rasulullah telah meninggal dunia. Dengan ilmu yang dipelajari oleh Syarif Hidayat secara diam-diam,  melalui silaturruhiyah ia bertemu dengan Nabi Khidir dan Rasulullah, hal tersebut merupakan perjalanan spiritual Syarif Hidayat yang ditulis pada Naskah Mertasinga dan Naskah Kuningan. Dalam naskah tersebut, Syarif Hidayat  hendak berguru kepada Rasulullah. Namun Rasullullah menyuruh Syarif Hidayat mencari guru dzohir.

Sehingga ketika berusia dua puluh tahun, pergi ke Mekah, berguru kepada Syekh Tajuddin al-Kubri/ Najmuddin. Naskah Kuningan menjelaskan tentang Syarif Hidayat yang berguru kepada Syekh Tajuddin. Kepada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat belajar adab para guru, dzikir, silsilah, shugul, Tarekat Isqiyah, dan adab Syatori. Ia juga belajar tentang ilmu syariat, ilmu tarekat, ilmu hakekat dan ilmu makrifat. Pada saat berguru pada Syekh Tajuddin, Syarif Hidayat diberi nama Madkurullah.

Setelah dua tahun lamannya, Syarif Hidayat kemudian menuntut ilmu tawasul rasulpada Syekh Athaullah Sadili, yang bermahzab Syafi’i  di Bagdad. Darinya Syarif Hidayat juga belajar istilah Sirr(Sirrullah), Tarekat Syaziliyah, Tarekat Syatariyah, Isyki Naqisbandiyah, dzikir jiarah, bermeditasi,  riyadhah (latihan tarekat/sufi) di tempat-tempat suci.  Oleh Syekh Athaullah, Syarif idayat diberi nama Arematullah.

Setelah itu ia kembali ke negara ayahnya, dan diminta untuk menggantikan posisi ayahnya yang sudah meninggal. Tetapi ia memilih untuk pergi ke Pulau Jawa untuk menyebarkan Islam bersama pamannya, Pangeran Walangsungsang Cakrabuana. Posisi Raja Mesir diserahkan dari Patih Ongkhajuntra, paman Syarif Hidayat kepada oleh adiknya, Syarif Nurullah.

Syarif Hidayat memiliki banyak nama yaitu Sayyid Kamil dan  Syekh Nuruddin Ibrahim Ibnu Maulana Sultanil Mahmud al Kibti[9]. Kemudian Sayid Kamil pergi ke pulau Jawa, di perjalanananya  ia singgah di Gujarat, tingal disitu selama tiga bulan, selanjutnya ia tingal di Paseh (Pasei). Di Paseh, Syarif Hidayat tinggal di pondok saudaranya selama dua tahun, yaitu Sayid Ishaq, bapak Raden Paku/ Sunan Giri, yang menjadi guru agama Islam di Paseh di Sumatra. 

Kemudian Syarif Hidayat pergi ke ke pulau Jawa, singgah di negeri Banten. Disini banyak penduduk telah memeluk agama Rasul, karena Sayyid Rahmat (Ngampel Gading) telah menyebarkan Agama Islam di sini, yang di gelari Susuhunan Ampel, juga salah seorang saudaraanya.

Berdasarkan Naskah Kuningan, Syarif Hidayat kemudian berguru pada Syekh Sidiq di Surandil  jati wisik (ajaran sejati),ba’iyat serta muhal maha, talkin dalam dzikir sirr, tarekat Muhammadiyah,Anapsiah, dan Jaujiyah Makomat Pitu, serta melakukan kanaat dan uzlah.

Syarif Hidayat kemudian berguru kepada Syekh Mad Kurullah (Syekh Quro) di Gunung Gundul. Syekh Quro adalah penganut mahdzab Hanafi. Pada saat berguru pada Syekh Quro, Syarif Hidayat banyak mempelajari dan mengalami perjalanan spiritual.

Kemudian Datul Bahrul kemudian memberi nama Syarif Hidayat dengan Wujudullah dan menyarankan Syarif  Hidayat menambah pengetahuan tentang pada Sunan Ampel Denta. Maka berangkatlah Syarif Hidayat  pergi ke Ngampel dengan naik perahu milik orang Jawa Timur. Perjalanan Syarif Hidatyat berguru pada beberapa orang tertulis dalam Kitab Negara Kertabhumi.

Setibanya Syarif Hidayat/ Wujudullah di Ampel Denta lalu pergi menghadap dan menyampaikan hormatnya kepada yang mulia Sunan Ampel. Maka Wujudullah pun kemudian mengabdi di Ampel Denta dan dia diangkat saudara oleh anak-anaknya. Di sana sudah berguru pula murid yang lain diantaranya , Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan KaliJaga. Wujudullah sangat disayangi oleh Sunan Ampel karena berbagai ilmu yang diajarkan oleh Sunan Ampel dapat dikuasai oleh Wujudullah.

Sementara itu, para Wali semuanya (sedang) ada di situ, mereka masing-masing di beri tugas mengajarkan agama Rasul kepada penduduk di daerah yang menganut agama Siwa- Budha. Kemudian Syarif Hidayat meminta nasehat pada Sunan Ampel. Sunan Ampel memberikan nasihat sebagai berikut :

“he putra, jandika iku mung aja ngebat-tebati, iku laku ingkang ala.lawan putra ya den wani  ngajaga ing perkara agama ingkang sayakti. Lan kang sabar putera iku, tawekal maring yang Widhi. Lan den esak maring sanak, saying ing kawla wargi, lawan putera ya den inget enggal, saniki wis sedeng dadi. Molana ingkang luhung, dadi guru ing Gunung Jati, ya kalawan uwa dika, mapan waris saking umi. Cipamali wates sira dumugi ing ujung kulon. Inggih waris dika ikumugi jandika wengkoni. Mung pacuan ngembat-embatan, sabab lepen cipamali wawtesing balambangan iku dudu dika waris. Poma-poma ya den emut, lawan putera dika yen wangsul ing amparan sampun margi ing darat, marginana sing lautan”.

(Anakku, janganlah kamu bertindak berlebihan karena itu adalah sifat yang tercela, dan beranilah menjaga kebenaran agama, bersabarlah, tawakkal kepada yang Maha esa, dan jangan menyakiti sesame saudara. Dan ingatlah anakku bahwa sekarang sudah cukup waktunya anakku untuk menjadi Maulana yang luhur dan menjadi Guru di Gunungjati bersama uwakmu. Mewarisi pusaka ibumu, dari Cipamali hingga di Ujung Kulon, itulah warisanmu. Hanya saja hati-hati bahwa batas dari sungan Cipamali hingga Blambangan itu bukanlah warisanmu. Ingatlah nasihatku baik-baik, dan anakku bilmana kamu pulang ke Amparan janganlah pulang melalui daratan, pergilah melalui lautan). Demikianlah pesan sang guru.

Sayid kamil menerima tugas di negeri Carbon, yaitu di Gunung Sembung, karena disana tempat tinggal uwanya, yaitu Haji Abdullah Iman yang menjadi Kuwu Carbon kedua.

Dalam perjalanan ke Carbon, Syarif Hidayat bertemu dengan Dipati Keling dan berhasil mengislamkannya berikut rombongan mereka sejumlah sembilan puluh delapan orang. Selanjutnya Dipati Keling dan rombonganpa tahun, nya menjadi pengikut Syarif Hidayat yang setia.

Setibanya di Carbon Syarif Hidayat kemudian membangun pondok dan menjadi guru agama Islam. Di Babadan Syarif Hidayat mengislamkan Ki Gede Babadan dan menikah dengan putrinya Ki Gede Babadan. Umur pernikahan mereka hanya berlangsung beberapa tahun karena Nyi Mas Babadan meninggal dunia. Kemudian Syarif Hidayat menikah dengan Syaripah Bagdad, putri Syekh Datul Kahfi.

Sejarah Asal Usul Raden Walang Sungsang Pendiri Cirebon