Social Items

Showing posts with label Pemberontakan PKI Madiun. Show all posts
Showing posts with label Pemberontakan PKI Madiun. Show all posts
Setelah pembersihan Pki oleh TNI AD di wilayah Jakarta, Jawa Tengah, Madiun, Ponorogo, Malang dan Tulung Agung. Pimpinan daerah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang lolos dari kejaran Tentara AD, mereka melarikan diri ke KEDIRI dan membuat markas di Plosoklaten. Mereka menguasai Hampir Seluruh Kecamatan Plosoklaten dan membawa pengaruh kuat terhadap masyarakat.

TRAGEDI PLOSOKLATEN



Sebelum terjadi Pembantaian besar-besaran di Kediri, khususnya di wilayah Plosoklaten terdapat Tragedi mengerikan yang membuat masyarakat dan Ansor Murka terhadap PKI dan memicu terjadinya Pembantaian terhadap PKI.

Pristiwa itu terjadi kepada 2 Orang Pemuda, yang satu bernama JAINUDIN pemuda dari Dusun Dermo, desa Pranggang dan yang kedua bernama MURSYID Pemuda Santri asal Dusun Mloko, desa Jarak.

1- PEMBUNUHAN JAINUDIN (Pemuda Dermo)

Tragedi berdarah ini terjadi saat Jainudin sedang mengairi sawahnya di sebelah barat pasar Dermo, kemudian datanglah segrembolan anggota pki dari Spawon yang sedang berpatroli untuk membunuh santri-santri dan para Kyai di wilayah Plosoklaten. Setelah Jainudin mengetahui datangnya dan mengetahui tujuanya pki itu lantas dia lari ke sungai, namun karena anggota pki cukup banyak di sungai itu Jainudin dipergoki anggota pki lainya. Kemudian dia menghindar lagi ke arah Masjid untuk mencari perlindungan.

Setelah sembunyi di Masjid, anggota pki terus mencarinya hingga akhirnya Jainudin tertangkap di dalam Masjid itu. Sebelum dibunuh Jainudin disiksa oleh pki, menjelang kematiannya anggota pki tanpa ampun memotong-motong tubuhnya, antara kepala, kaki, tangan, paha dan perut. Lalu potongan manusia ini di buang terpisah di tempat yang berbeda.

2- PEMBUNUHAN MURSYID (Santri Ponpes Ringen Agung)

Pada hari yang sama setelah pembunuhan Jainudin asal Dermo desa Pranggang, anggota pki belum merasa puas. Hingga suatu ketika Mursyid seorang santri asal dusun Mloko desa Jarak sedang dalam perjalanan pulang dari Pondok untuk keperluan salah satu anggota kluarganya yang akan melaksanakan pernikahan.

Setelah sampai di wilayah Dermo, Mursyid dihadang segrombolan pki. Anggota pki itu mengetahui kalau MURSYID adalah seorang Santri, tanpa ampun pki itu menangkap Mursyid dan menganiayanya. Setelah itu Mursyid juga dibunuh dan dipotong-potong tubuhnya, kemudian dibuang dengan terpisah.

Tragedi pembunuhan 2 Pemuda ini, merupakan pemicu Utama masyarakat ANSOR Wilayah Plosoklaten seperti desa Pranggang, Punjul, Jarak dan Mipitan Murka pada PKI karena kejadian Biadab tersebut.

Selang beberapa hari seluruh anggota Pemuda Ansor Plosoklaten dan wilayah Kediri berkumpul jadi satu untuk menyerbu markas PKI yang keseluruhan pelarian dari Jakarta, Madiun, Ponorogo dan sebagian dari Jawa Tengah yang telah menguasai wilayah Desa Petong Ombo dan Spawon.

Sebelum menyerbu Markas PKI Spawon dan Petong Ombo, Pimpinan ANSOR Plosoklaten meminta bantuan BANSER dari Tebu Ireng, anggota TNI Kodim 521 Kediri dan Pasukan Khusus (Pagar Nusa) dari Pondok Lirboyo. Kurang lebih total 700 anggota BANSER dan ANSOR, barisan belakang yaitu anggota TNI sekitar 2300.

Pada Tanggal 22 Oktober 1965, Gabungan pasukan ANSOR, BANSER dan TNI AD 521 KEDIRI menyerbu ke Spawon dan Petong Ombo, Basis PKI yang telah dikuasainya.
Anggota PKI yang berada di wilayah tersebut berjumlah sekitar 25.000 lebih.

Tak sebanding dengan jumlah Pasukan TNI, ANSOR dan Banser, namun tak di duga hampir seluruh Anggota PKI yang berjumlah 25.000 lebih itu berhasil dibantai oleh ANSOR dan BANSER. Karena dibalik PERANG BERDARAH PKI PLOSOKLATEN, sebelum perang pasukan ANSOR dan BANSER telah digembleng terlebih dahulu oleh Tokoh-Tokoh Kyai dari Kediri dan Jombang.


Setelah Pristiwa Pembantaian besar-besaran di Plosoklaten Kediri, hampir seluruh Anggota PKI tewas dan dipihak ANSOR dan BANSER yang terbunuh satu orang yaitu bernama Muhammad Hamim Ansor dari desa Brenggolo. Yang sekarang telah dijadikan salah satu nama jalan di perdukuhan yang berada di Desa Brenggolo.

Banyak mayat-mayat tanpa kepala, potongan mayat tanpa tangan dan kaki yang tergletak di jalanan, dipersawahan, diperumahan dan diperkebunan. Khusus mayat PKI mereka dikubur dalam satu lubang yang berisi antara 20-50 orang.

Setelah pembantaian itu, Pada 27 Oktober 1965, pemerintah mengeluarkan seruan agar masing-masing ormas tidak saling membunuh dan melakukan aksi
kekerasan. Siapa saja yang melakukan penyerangan sepihak, akan diadili
sebagai penjahat.

Itulah Pristiwa Pembantaian PKI besar-besaran yang terjadi di Plosoklaten KEDIRI antara Pasukan Gabungan ANSOR dan Anggota PKI.

Wallohua'lam Bisshowab


SUMBER : (Mantan Anggota ANSOR Plosoklaten)

TRAGEDI Pembantaian G-30 S PKI Plosoklaten KEDIRI

Pemberontakan PKI 1948 atau yang juga disebut Peristiwa Madiun adalah pemberontakan komunis yang terjadi pada tanggal 18 September 1948 di kota Madiun. Pemberontakan ini dilakukan oleh anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan partai-partai kiri lainnya yang tergabung dalam organisasi bernama "Front Demokrasi Rakyat" (FDR).


Pemberontakan ini diawali dengan jatuhnya kabinet RI yang pada waktu itu dipimpin oleh Amir Sjarifuddin karena kabinetnya tidak mendapat dukungan lagi sejak disepakatinya Perjanjian Renville. Lalu dibentuklah kabinet baru dengan Mohammad Hatta sebagai perdana menteri, namun Amir beserta kelompok-kelompok sayap kiri lainnya tidak setuju dengan pergantian kabinet tersebut.

Dalam sidang Politbiro PKI pada tanggal 13-14 Agustus 1948, Musso, seorang tokoh komunis Indonesia yang lama tinggal di Uni Soviet (sekarang Rusia) ini menjelasan tentang “pekerjaan dan kesalahan partai dalam dasar organisasi dan politik” dan menawarkan gagasan yang disebutnya “Jalan Baru untuk Republik Indonesia”.

Musso menghendaki satu partai kelas buruh dengan memakai nama yang bersejarah, yakni PKI. Untuk itu harus dilakukan fusi tiga partai yang beraliran Marxsisme-Leninisme: PKI ilegal, Partai Buruh Indonesia (PBI), dan Partai Sosialis Indonesia (PSI). PKI hasil fusi ini akan memimpin revolusi proletariat untuk mendirikan sebuah pemerintahan yang disebut "Komite Front Nasional".

Selanjutnya, Musso menggelar rapat raksasa di Yogya. Di sini dia melontarkan pentingnya kabinet presidensial diganti jadi kabinet front persatuan. Musso juga menyerukan kerjasama internasional, terutama dengan Uni Soviet, untuk mematahkan blokade Belanda.

Untuk menyebarkan gagasannya, Musso beserta Amir dan kelompok-kelompok kiri lainnya berencana untuk menguasai daerah-daerah yang dianggap strategis di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Solo, Madiun, Kediri, Jombang, Bojonegoro, Cepu, Purwodadi, dan Wonosobo. Penguasaan itu dilakukan dengan agitasi, demonstrasi, dan aksi-aksi pengacauan lainnya.

Rencana itu diawali dengan penculikan dan pembunuhan tokoh-tokoh yang dianggap musuh di kota Surakarta, serta mengadudomba kesatuan-kesatuan TNI setempat, termasuk kesatuan Siliwangi yang ada di sana.

Mengetahui hal itu, pemerintah langsung memerintahkan kesatuan-kesatuan TNI yang tidak terlibat adudomba untuk memulihkan keamanan di Surakarta dan sekitarnya. Operasi ini dipimpin oleh kolonel Gatot Subroto.

Sementara perhatian semua pihak pro-pemerintah terkonsentrasi pada pemulihan Surakarta, pada 18 September 1948, PKI/FDR menuju ke arah timur dan menguasai Kota Madiun, Jawa Timur, dan pada hari itu juga diproklamasikan berdirinya "Republik Soviet Indonesia".

Hari berikutnya, PKI/FDR mengumumkan pembentukan pemerintahan baru. Selain di Madiun, PKI juga mengumumkan hal yang sama pula di Pati, Jawa Tengah. Pemberontakan ini menewaskan Gubernur Jawa Timur RM Suryo, dokter pro-kemerdekaan Moewardi, serta beberapa petugas polisi dan tokoh agama.

Untuk memulihkan keamanan secara menyeluruh di Madiun, pemerintah bertindak cepat. Provinsi Jawa Timur dijadikan daerah istimewa, selanjutnya Kolonel Sungkonodiangkat sebagai gubernur militer. Operasi penumpasan dimulai pada tanggal 20 September 1948 dipimpin oleh Kolonel A. H. Nasution.

Sementara sebagian besar pasukan TNI di Jawa Timur berkonsentrasi menghadapi Belanda, namun dengan menggunakan 2 brigade dari cadangan Divisi 3 Siliwangi serta kesatuan-kesatuan lainnya yang mendukung Republik, semua kekuatan pembetontak akhirnya dapat dimusnahkan.

Salah satu operasi penumpasan ini adalah pengejaran Musso yang melarikan diri ke Sumoroto, sebelah barat Ponorogo. Dalam peristiwa itu, Musso berhasil ditembak mati. Sedangkan Amir Sjarifuddin dan tokoh-tokoh kiri lainnya berhasil ditangkap dan dijatuhi hukuman mati. Amir sendiri tertangkap di daerah Grobogan, Jawa Tengah. Sedangkan sisa-sisa pemberontak yang tidak tertangkap melarikan diri ke arah Kediri, Jawa Timur.

Sejarah Penumpasan dan Pembantaian PKI Di Madiun Jawa Timur