Social Items

Gunung di Indonesia yang masih aktif dan mengalami letusan yang dahsyat adalah gunung Krakatau yang berada di selat Sunda. Letusan gunung Krakatau yang paling besar dan mengakibatkan runtuhnya kaldera terjadi pada tahun 1884, letusan itu juga melenyapkan pulau-pulau di sekitarnya.

Letusan ini adalah salah satu letusan gunung api paling mematikan dan paling merusak dalam sejarah. Akibat dari letusan ini setidaknya terdapat 36.417 korban jiwa akibat letusan dan tsunami yang dihasilkannya.

Efek dari letusan gunung Krakatau juga bisa dirasakan di seluruh penjuru dunia karena pasca letusan bertahun-tahun suhu di dunia rata-rata mengalami penurunan 1,2 derajat celcius dan baru bisa kembali normal lagi setelah 4 tahun kemudian.

Beberapa gunung di Indonesia yang pernah aktif dan mengalami aktifitas vulcanik seringkali meninggalkan sisa letusan yang bisa kita jumpai sampai saat ini, sebut saja danau Toba di pulau Sumatera. Danau Toba itu sebenarnya berasal dari letusan Gunung Toba yang meletus sekitar 800 ribu tahun lalu. Letusan ini menghasilkan kaldera di selatan Danau Toba, meliputi daerah Prapat dan Porsea.

Berikut kami akan menulis Daftar Gunung di Indonesia yang masih Aktif untuk saat ini :

1. GUNUNG SEMERU PROPINSI JAWA TIMUR


Keindahan gunung Semeru yang berada di Jawa Timur ini banyak mengundang kedatangan para pendaki dari berbagai tempat. Karena Mendaki di Gunung Semeru bagi sebagian pendaki merupakan suatu impian. Gunung yang terkenal dengan adanya danau alaminya ini juga termasuk gunung yang aktif mengeluarkan meterial dan gas beracun dari kawah Jonggring Saloka.

Gunung Semeru seolah menjadi magnet bagi sebagian pendaki baik itu di wilayah Jawa maupun bagi pendaki yang berasal dari luar Pulau Jawa. Beberapa kali gunung ini mengalami buka tutup jalur pendakian dikarenakan aktifitas vulcanik gunung ini dirasa cukup membahayakan para pendaki yang nekad mendaki sampai wilayah Kalimati.

2. GUNUNG KELUD KEDIRI DI JAWA TIMUR


Pada tahun 2014 lalu, masyarakat khususnya di Jawa Timur dihebohkan dengan adanya hujan abu vulcanik yang mengharuskan aktifitas masyarakat terhenti untuk beberapa hari. Hujan abu vulcanik tersebut berasal dari erupsi gunung Kelud yang secara administratif berada di perbatasan antara Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri Propinsi Jawa Timur.

Hujan abu vulcanik yang dihasilkan oleh letusan gunung Kelud tidak hanya dirasakan masyarakat Jawa Timur saja, melainkan juga dirasakan oleh masyarakat di Yogyakarta. Pasalnya akibat erupsi gunung Kelud, ribuan ton abu vulcanik terlempar membumbung tinggi ke angkasa dan menyebar ke berbagai wilayah yang berjarak ratusan kilometer dari Kota Kediri termasuk di Kota Yogyakarta yang jaraknya ratusan kilometer dari kota Kediri.

Gunung Kelud termasuk gunung aktif yang jarang meletus, namun setiap kali meletus kekuatan yang dihasilkan cukup besar yakni 5 Volcanix Explosif Index ( VEI ).

3. GUNUNG MERAPI PERBATASAN JAWA TENGAH DAN YOGYAKARTA


Gunung Merapi merupakan salah satu gunung di Indonesia yang masih aktif dan memiliki siklus erupsi yang cukup teratur yakni 2-5 tahun untuk siklus pendek dan 5-7 tahun untuk siklus erupsi yang panjang. Karena seringkali mengalami aktifitas vulcanik dan sering meletus, menyebabkan gunung Merapi mendapat julukan sebagai gunung teraktif di dunia.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa gunung Merapi setidaknya pernah mengalami erupsi sebanyak 100 x. Gunung Merapi memang menjadi salah satu gunung di Indonesia yang masih aktif dan sering mengalami letusan yang cukup dahsyat, namun letusan gunung Merapi merupakan letusan yang berada di tingkat sedang saja, bukan letusan yang bersifat katastrofik ( letusan yang dapat menghanjurkan dirinya sendiri ) seperti yang dialami oleh gunung Krakatau di selat sunda.

4. GUNUNG SINABUNG DI DATARAN TINGGI KARO SUMATERA


Tidak lengkap rasanya jika tidak memasukkan gunung Sinabung yang berada di Dataran Tinggi Karo ke dalam daftar gunung di Indonesia yang masih dan paling aktif. Gunung Sinabung dalam beberapa tahun ini menjadi pusat perhatian terutama bagi ahli geologi, pasalnya gunung Sinabung sudah lama tidak ada aktifitas vulcanik namun dalam beberapa tahun lalu gunung ini mengalami erupsi terlama di Indonesia yang sebelumnya dipegang oleh gunung Bromo.

Selama tujuh bulan lebih gunung ini mengalami erupsi, sedangkan erupsi terakhir tercatat sekitar 800 tahun yang lalu. Siapa sangka, justru gunung ini mengeluarkan letusan yang dahsyat. Peristiwa 800 tahun lalu tetap menjadi misteri yang pelan-pelan dikupas menjadi fakta.

5. ANAK GUNUNG KRAKATAU DI SELAT SUNDA


Keberadaan anak Gunung Krakatau tidak lepas dari sejarah Gunung Krakatau Purba yang tercatat pernah meletus dengan tipe letusan katastrofik pada tahun 1883 dan mengakibatkan tsunami, serta menewaskan setidaknya 36.000 jiwa. Bahkan suara letusan gunung ini sampai terdengar di Alice Spring Australia serta pulau Rodrigues Afrika 4.653 km dari lokasi letusan.

Krakatau mencetak sejarah sebagai gunung aktif di Indonesia yang letusannya bardampak pada perubahan iklim dunia. Bumi ini pernah mengalami kegelapan selama setidaknya dua hari karena material dan debu vulcanik dari letusan krakatau menutupi atmosfer bumi pada masa itu. Kini gunung Krakatau purba telah tergantikan dengan anak gunung Krakatau yang muncul 40 tahun setelah letusan dahsyat.

Anak gunung Krakatau muncul sebagai sebuah gunung muda yang aktif mengeluarkan material dan memiliki pertumbuhan ketinggian setidaknya 0,5 meter dalam satu bulan. Menurut beberapa riset yang dilakukan oleh beberapa ilmuwan dari negera Jepang, gunung Krakatau memungkinkan akan mengalami erupsi yang besar pada rentang tahun 2030-2050.

6. GUNUNG GALUNGGUNG DI JAWA BARAT


Gunung Galunggung merupakan salah satu gunung yang masih aktif dan terletak di Kabupaten Tasikmalaya Jawa Barat. Gunung yang memiliki ketinggian 2.176 meter ini tercatat pernah mengalami letusan hebat yakni di tahun 1822.

Setelah itu gunung ini seringkali mengalami erupsi yang menyebabkan hujan pasir panas serta meluncurkan awan panas yang mengakibatkan setidaknya 4.011 jiwa melayang dan menyebabkan setidaknya 122 desa harus hancur.

Tidak hanya awan panas dan hujan abu vulkanik saja, ancaman banjir lahar dingin juga  mengakibatkan terputusnya jaringan jalan dan aliran sungai serta areal perkampungan akibat melimpahnya aliran lava dingin berupa material batuan-kerikil-pasir.

7. GUNUNG BROMO DI JAWA TIMUR


Siapa yang tidak kenal dengan gunung Bromo di Jawa Timur. Keindahan kawasan gunung ini tidak hanya terkenal di Indonesia saja melainkan juga di mancanegara. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya kunjungan turis mancanegara ke gunung yang memiliki ketinggian 2.329 MDPL ini.

Gunung Bromo secara administratif masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dan wilayahnya masuk ke dalam empat wilayah Kabupaten sekaligus yakni Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Malang. Gunung Bromo menjadi sangat menarik karena gunung ini termasuk gunung yang masih aktif serta pengunjung dapat melihat dengan jelas lembah serta kalderanya yang seringkali mengeluarkan asap putih.

Dalam catatannya gunung ini pernah mengalami setidaknya 4 x erupsi dengan interval yang cukup teratur yakni 30 tahun. Letusan gunung Bromo yang terbesar tercatat pada tahun 1974 sedangkan letusan terakhir tercatat pada tahun 2015.

8. GUNUNG LOKON SULAWESI UTARA


Siapa yang menyangka gunung yang hanya memiliki ketinggian 1.580 MDPL ini masuk dalam 15 gunung di Indonesia yang masih aktif. Gunung yang lebih rendah dibandingkan dengan gunung Andong di Kabupaten Magelang Jawa Tengah ini tercatat mengalami letusan sebanyak 5 x terhitung sejak tahun 1941.

Letusan terbesar tercatat pada tahun 1991 yang berakibat menimbulkan kerugian hingga milyaran rupiah serta menewaskan korban jiwa karena longsoran material vulcanik.

9. GUNUNG KERINCI DI PROPINSI JAMBI


Gunung Kerinci selain terkenal dengan alamnya yang masih perawan, juga terkenal sebagai salah satu gunung yang masih aktif mengalami aktifitas vulcanik. Gunung yang memiliki puncak tertinggi di Pulau Sumatera ini memiliki sebuah kawah aktif selebar 400 x 120 meter di bagian puncaknya dan berisi air berwarna hijau. Gunung Kerinci tercatat mengalami erupsi terakhir pada tahun 2009.

Gunung Kerinci seakan menjadi magnet tersendiri bagi kalangan pendaki gunung karena alamnya yang masih sangat alami. Kawasan lereng gunung menjadi habitat alami harimau Sumatera, Gajah, Babi hutan serta hewan liar lainnya.

10. GUNUNG EGON PULAU FLORES NUSA TENGGARA TIMUR


Mungkin belum banyak yang mendengar gunung aktif yang satu ini. Gunung Egon merupakan gunung berapi dan masih aktif yang terletak di Pulau Flores. Gunung Egon sendiri berada di wilayah timur dari Maumere atau sekitar tiga puluh kilometer dari ibu kota Kabupaten Sikka. Gunung yang memiliki ketinggian 1703 ini pernah mengalami erupsi dahsyat pada tahun 1925.

Setelah vakum sekian puluh tahun, pada tahun 2006 lalu status gunung ini dinaikkan menjadi siaga. akibat dari aktivitas vulkanik yang meningkat pada saat itu. Gunung Egon layaknya gunung yang cantik untuk di jawamah terutama di  kalangan pendaki, pasalnya kawasan ini menawarkan panorama yang eksotis.

Pendaki dapat melihat kawah yang seringkali menyemburkan asap putih sebagai tanda bahwa gunung ini masih memiliki aktifitas vulcanik di dalamnya.

11. GUNUNG AWU DI KEPULAUAN SANGIHE


Jauh di Propsnsi Sulawesi utara terdapat sebuah gunung dengan ketinggian 1.320 MDPL yang masih aktif. Gunung yang dimaksud adalah gunung Awu. Dari catatan sejarah diketahui, dari tahun 1640 sampai dengan 1966 telah terjadi 5 kali erupsi yang menelan korban serta kerugian yang cukup besar.

Korban manusia yang tewas akibat letusan  Gunung Awu sebelum tahun 1711 tidak diketahui, namun yang tercatat sejak tahun 1711 sampai dengan erupsi 1966 adalah 7.377 orang ( tahun 1966 korban tewas 39 orang, lebih dari 1.000 orang luka-luka ringan ).

12. GUNUNG KARANGETAN KABUPATEN SIAU


Gunung Karangetang yang terletak di Kepulauan Siau, Sulawesi Utara. Gunung ini merupakan salah satu gunung api yang cukup aktif di Indonesia. Gunung Karangetan merupakan gunung yang bertipe stratovolcano yang hampir setiap tahunnya meletus. Terbentuknya gunung ini mirip dengan gunung api Krakatau yang telah tenggelam akibat erupsi hebat.

Karena adanya zona subduksi dan tumbukan maka magma yang terdapat di perut bumi naik melalui celah subduksi sehingga terbentuklah gunung api ini. Letusan yang cukup besar tercatat pada tahun 2011 dimana gunung ini meluncurkan awan panas yang merusak pemukiman warga sekitarnya.

13. GUNUNG SOPUTAN SULAWESI UTARA


Gunung Soputan merupakan gunung aktif yang terletak di Propinsi Sulawesi Utara dan berjarak kurang lebih 50 km di sebelah barat daya Kota Manado. Gunung Soputan akhir-akhir ini juga menjadi perhatian ahli kegunung apian karena dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan adanya peningkatan kegiatan vulcanik.

Gunung yang memiliki ketinggian 1.784 MDPL ini tercatat mengalami erupsi pada tanggal 7 maret tahun 2015 dan menyemburkan awan panas yang membumbung tinggi sejauh 2.500 meter dan menyebabkan hujan debu di Kecamatan Touluaan, Kecamatan Tombatu, dan Kecamatan Ratahan di Kabupaten Mihanasa Tenggara.

14. GUNUNG AGUNG DI PROPINSI BALI


Gunung agung merupakan gunung tertinggi di Bali dan memiliki ketinggian  3.031 mdpl. Gunung ini termasuk gunung yang masih aktif ditandai dengan adanya asap yang keluar dari kawahnya yang sangat besar dan dalam, Bagi masyarakat Bali gunung Agung merupakan tempat bersemayam para dewa dan tempat bersemayamnya Dewata.

Dari atas ketinggian di gunung Agung dalam kondisi yang cukup cerah kita dapat melihat puncak gunung-gunung lainnya di pulau seberang yakni gunung Rinjani di pulau Lombok. Gunung Agung tercatat mengalami letusan terakhir pada tahun 1963 dimana erupsi yang terjadi meluncurkan lahar sejauh 7 km selama 20 hari.

15. GUNUNG TALANG PROPINSI SUMATERA BARAT


Gunung yang memiliki ketinggian 2.957 mdpl ini berjarak 40 km dari kota Padang. Gunung ini menjadi surganya pendaki di Sumatera Barat berkat adanya hamparan kebun teh di awal pendakian, serta terdapat hutan Mati yang eksotis, Di bagian puncak gunung, pendaki akan menyaksikan indahnya 3 danau dari ketinggian 2.597 mdpl. Danau yang ada sebenarnya merupakan bekas dari kawah  gunung Talang.

Itulah beberapa daftar gunung di Indonesia yang masih Aktif sampai saat ini.

Inilah Daftar Gunung Berapi Di Indonesia yang Masih Aktif dan Berbahaya


Sebagian orang mungkin tak menyangka jika sesungguhnya sejarah letusan Gunung Agung 1963 lebih pilu dari itu. Bukan hanya juru kuncinya, namun seluruh penduduk di kaki gunung suci umat Hindu Bali tersebut 'menerima' tumpahan lahar panas yang melaluinya.

Letusan Gunung Agung 1963 terjadi setelah gunung setinggi 3.142 meter di atas permukaan laut itu tertidur panjang 120 tahun lamanya. Kini, 54 tahun kemudian, gunung yang berjuluk Tahta Para Dewa itu kembali menunjukkan peningkatan aktivitas signifikan. Hingga Ahad, 24 September 2017, status gunung berapi ini sudah ditetapkan di level tertinggi, awas.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) menyebut Gunung Agung adalah gunung berapi paling eksplosif di Indonesia, mengalahkan Gunung Merapi di Yogyakarta dan Gunung Sinabung di Sumatra Utara. Catatan sejarah tentang letusan Gunung Agung yang diketahui sebanyak empat kali, salah satu informasinya dari Kama Kusumadinata (1979) dalam bukunya yang berjudul 'Data Dasar Gunung Api Indonesia'.

Letusan Gunung Agung dari Tahun 1800-1963 :

1. Letusan Tahun 1808 M
Gunung Agung meletus disertai uap dan abu vulkanik. Gunung ini melontarkan abu dan batu apung dalam jumlah luar biasa. Jejak sejarahnya adalah bukit-bukit batu yang mendominasi topografi Kabupaten Karangasem saat ini.

2. Letusan Tahun 1821 M
Ini merupakan kelanjutan aktivitas Gunung Agung sejak 1808. Sayangnya sejarah letusan 1821 tidak terdokumentasikan dengan baik. Letusan yang berlangsung saat ini adalah letusan normal.

3. Letusan Tahun 1843 M
Letusan 1843 didahului serangkaian aktivitas kegempaan. Gunung Agung kembali memuntahkan material abu, pasir, dan batu apung.
Pada 1908, 1915, dan 1917, di berbagai tempat di dasar kawah dan pematang Gunung Agung tampak tembusan fumarola.

4. Letusan Tahun 1963 M
Letusan dimulai 18 Februari 1963 dan baru berakhir 27 Januari 1964. Letusan dahsyat ini mencatat korban 1.148 orang meninggal dunia dan 296 orang luka. Mayoritas korban berjatuhan karena awan panas letusan yang melanda tanah lebih dari 70 kilometer per segi.

Letusan 1963 diawali gempa bumi ringan yang dirasakan penghuni Kampung Yeh Kori. Sehari kemudian terasa kembali gempa bumi di Kampung Kubu, di pantai timur laut kaki Gunung Agung, sekitar 11 kilometer dari lubang kepundannya.

18 Februari 1963, sekitar pukul 23.00 WITA di pantai utara terdengar suara gemuruh dalam tanah. 19 Februari 1963, pukul 01.00 WITA terlihat gumpalan asap dan bau gas belerang, disusul awan mengembus dari kepundan pukul 03.00 WITA. Dua jam kemudian terdengar dentuman perdana, disusul semburan batu-batu kecil hingga besar dan diakhiri semburan asap kelabu hingga kehitaman.

20 Februari 1963, letusan Gunung Agung kembali bergemuruh dengan lemparan bola api lebih besar. Penduduk Desa Kubu mulai panik dan mengungsi. 21 Februari 1963, asap tebal terus mengepul dari kawah. Letusan api dan suara gemuruh terus terdengar hingga 22 Februari 1963.

Wilayah Pura Besakih, Rendang, dan Selat dihujani batu-batu kecil dan tajam, pasir, dan hujan abu pada 23 Februari 1963. Hujan lumpur lebat turun di Besakih sehari kemudian, mengakibatkan bangunan-bangunan di sana roboh. Awan panas muncul.

25 Februari 1963, awan panas terus turun. Hujan lahar di Tukad Daya memutuskan akses wilayah Kubu dan Tianyar. 16 Februari 1963, lava dan hujan lahar mengalir hingga Desa Sogra, Sangkan Kuasa, Badegdukuh, dan Badegtengah. Seluruh penduduknya mengungsi ke selatan.

17 Maret 1963 merupakan puncak dari kegentingan tersebut. Suara letusan berkurang dan hilang. Sisanya adalah aliran lahar ke wilayah-wilayah di bawahnya. Aktivitas Gunung Agung benar-benar berhenti 27 Januari 1964.

Kusumadinata yang merupakan ahli vulkanologi di Direktorat Geologi Bandung menemukan sebagian masyarakat Bali percaya bahwa penyebab letusan Gunung Agung 1963 bersifat spritual. Ini yang membuat arahan dari pihak yang berkompeten terkait gunung ini diabaikan. Masyarakat padahal sudah diingatkan akan zona bahaya radius lima kilometer dari puncak.

Laporannya yang berjudul 'Kegiatan Gunung Agung' pada 1963 menyebutkan anggapan masyarakat Bali bahwa 'Bathara Gunung Agung marah dan mengancam akan meletus jika dalam jangka waktu satu pekan tidak dilaksanakan sesajen dan permintaan lain yang dikemukakan orang-orang yang kerasukan roh suci.'

Masyarakat Bali bahkan menyiapkan perayaan Eka Dasa Rudra pada 8 Maret 1963 di Pura Besakih, sekitar 6,5 km dari puncak Gunung Agung atau menjelang titik kritis letusan. David J Stuart Fox dalam bukunya 'Pura Besakih: Pura, Agama, dan Masyarakat Bali' (2010) menuliskan lebih kurang 10 ribu orang menghadiri upacara tersebut, termasuk gubernur, kepala pemerintahan daerag, dan tokoh-tokoh terkemuka Bali.

Eka Rudra merupakan upacara agama terbesar umat Hindu Bal yang diselenggarakan di pura terbesar, Pura Besakih. Sejumlah alasan yang disampaikan para ahli gunung berapi belum mampu meyakinkan masyarakat untuk mengosongkan Besakih.

Setelah Eka Rudra dilaksanakan, beberapa hari setelahnya masih berdatangan lima ribu orang ke Pura Besakih di tengah hujan debu dan kerikil. Ritual di Besakih terus digelar hingga 15 Maret 1963, dua hari hari sebelum letusan besar pertama terjadi.

Pura Besakih sepanjang masa letusan hanya mengalami kerusakan kecil. Pura ini rusak parah justru karena gempa tektonik berkekuatan enam skala richter yang mengguncang Bali pada 18 Mei 1963.

Kini, setelah tertidur 54 tahun kemudian, Gunung Agung kembali menunjukkan peningkatan aktivitas. Gunung ini sudah berstatus awas atau level empat. Masyarakat di kaki Gunung Agung memiliki kesadaran tinggi untuk mengevakuasi diri dan keluarganya secara mandiri.

Jumlah pengungsi Gunung Agung menurut data terakhir yang dikeluarkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencapai 15.142 jiwa. Mereka tersebar di 125 titik di tujuh kabupaten, meliputi Kabupaten Badung (lima titik), Bangli (17 titik), Buleleng (10 titik), Denpasar (enam titik), Gianyar (sembilan titik), karangasem (54 titik), Klungkung (21 titik), dan Tabanan (tiga titik).

Pemerintah daerah jauh lebih siap menghadapi kemungkinan terburuk sekalipun. Gubernur Bali, Made Mangku Pastika menyatakan pemerintah provinsi, daerah, dan lintas sektoral berkomitmen menekan dampak negatif dari peristiwa ini seminimal mungkin.

Sejarah Tragedi Memilukan Letusan Gunung Agung pada Tahun 1963, Pulau Bali

Di Indonesia terdapat begitu banyak Gunung yang masih aktif sampai sekarang. Letusan Gunung yang ada di Indonesia juga berdampak Buruk pada Dunia. Seperti Gunung Krakatau dan Gunung Tambora yang membuat dunia mengalami perubahan Iklim berbulan bulan.

Berikut ini kami merangkum beberapa gunung yang meletus dengan Dahsyat yang berada di Indonesia :

GUNUNG GALUNGGUNG


Kuwaluhan.com

Gunung Galunggung tercatat pernah meletus dengan dahsyatnya pada tahun 1882 (VEI=5). Tanda-tanda awal letusan diketahui pada bulan Juli 1822, di mana air Cikunir menjadi keruh dan berlumpur. Hasil pemeriksaan kawah menunjukkan bahwa air keruh tersebut panas dan kadang muncul kolom asap dari dalam kawah.

Kemudian pada tanggal 8 Oktober s.d. 12 Oktober 1882, letusannya menghasilkan hujan pasir kemerahan yang sangat panas, abu halus, awan panas, serta lahar. Aliran lahar bergerak ke arah tenggara mengikuti aliran-aliran sungai. Letusan ini menewaskan 4.011 jiwa dan menghancurkan 114 desa, dengan kerusakan lahan ke arah timur dan selatan sejauh 40 km dari puncak gunung.

Gunung ini meletus dengan mengeluarkan lahar, awan panas, serta hujan pasir panas. Sebanyak empat ribu jiwa melayang dan ada 114 desa hancur.

GUNUNG AGUNG

Kuwaluhan.com

Gunung Agung terakhir meletus pada 1963-64 dan masih aktif hingga kini, dengan sebuah kawah besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan abu. Meskipun dari kejauhan gunung ini tampak kerucut, ternyata didalamnya terdapat kawah besar.

Dari puncak gunung Agung terlihat jelas puncak Gunung Rinjani di pulau Lombok, meskipun kedua gunung ini sering tertutup awan.

Pada tanggal 18 Februari 1963, penduduk setempat mendengar ledakan keras dan melihat awan naik dari kawah Gunung Agung. Pada tanggal 24 Februari 1963 lava mulai mengalir menuruni lereng utara gunung.

Pada tanggal 17 Maret 1963, gunung Agung meletus, mengirimkan puing-puing 8-10 km ke udara dan menghasilkan aliran piroklastik yang besar. Arus ini banyak menghancurkan desa-desa, menewaskan sekitar 1500 orang. Sebuah letusan kedua pada 16 Mei 1963 menyebabkan aliran awan panas yang menewaskan 200 penduduk lain.

GUNUNG MERAPI

Kuwaluhan.cim

Gunung Merapi merupakan gunung teraktif di dunia. Ia secara periodik meletus. Tahun 1006 gunung ini meletus dan membuat seluruh wilayah pulau Jawa dikelilingi abu vulkanik. Karena letusan ini lah membuat Kerajaan Mataram kuno berpindah pusat pemerintahannya ke Jawa Timur.

Gunung Merapi ini merupakan yang termuda dalam kumpulan gunung berapi di selatan Pulau Jawa. Gunung ini terletak di zona subduksi, dimana Lempeng Indo-Australia terus bergerak ke bawah Lempeng Eurasia. Letusan di daerah tersebut berlangsung sejak 400.000 tahun lalu, dan sampai 10.000 tahun lalu jenis letusannya adalah efusif. Setelah itu, letusannya menjadi eksplosif, dengan lava kental yang menimbulkan kubah-kubah lava.

Letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan-letusan Merapi yang dampaknya besar antara lain di tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh Pulau Jawa diselubungi abu vulkanik. Diperkirakan, letusan tersebut menyebabkan kerajaan Mataram Kuno harus berpindah ke Jawa Timur. Letusan terdahsyatnya terjadi di tahun 1930 yang menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1400 orang.

GUNUNG KELUD

Kuwaluhan.com

Pada abad ke-15, Gunung Kelut meletus dan telah memakan korban lebih dari 15.000 jiwa. Letusan gunung ini pada tahun 1586 merenggut korban lebih dari 10.000 jiwa. Kelud juga terletak di Pulau Jawa, Indonesia. Sisi timur Kelud telah ‘menggerutu’ pada tahun 2008, di mana sebelumnya pada tahun 1919 lumpur lahar telah membunuh di atas 5,000 orang. Sejak itu, Terowongan Ampera, suatu sistem pengeringan untuk menampung banjir lahar dari kawah telah dibangun.

Pada abad ke-20, Gunung Kelud tercatat meletus pada tahun 1901, 1919 (1 Mei), 1951, 1966, dan 1990. Tahun 2007 gunung ini kembali meningkatkan aktivitasnya, hingga puncaknya muncul gunung baru di tengah-tengah danau kawah Kelud. Pola ini membuat para ahli gunung api menyimpulkan terjadi siklus 15 tahunan bagi letusan gunung ini.

Oktober 2007, ketika itu 30,000 penduduk lokal harus diungsikan setelah gunung api dalam kondisi Siaga Merah. Selama dua minggu Kelud memuntahkan debu hingga 8 mil jauhnya.

GUNUNG PAPANDAYAN

Kuwaluhan.com

Papandayan adalah sebuah gunung api semi-aktif yang terletak di pulau Jawa, Indonesia. Pada 1772, gunung api ini meletus menghancurkan 40 desa di dekatnya. Lebih dari 3,000 orang terbunuh. Gunung api ini diperkirakan masih sangat berbahaya dan terus mengeluarkan asap dan letusan-letusan di tahun 1923, 1942, dan terus meningkatkan kekuatannya di tahun 2002.

GUNUNG KRAKATAU

Kuwaluhan.com

Urutan selanjutnya dengan korban sebanyak 36,000, adalah meletusnya Gunung Krakatoa (Indonesia) pada August 26–27, 1883. Krakatoa, juga dikenal sebagai Krakatau, adalah pulau vulkanis yang still-dangerous, terletak di Selat Sunda, Indonesia. Agustus 1883, sebuah rangkaian ledakan dahsyat yang mengerikan dengan kekuatan 13,000 kali lebih besar dari bom Hiroshima. Ledakannya terdengar hingga ke Perth, Australia.

Muntahan lebih dari 21 kilometer kubik batu dan debu membumbung hingga setinggi 70 mil. Secara resmi, lebih dari 37,000 orang tewas. Namun dengan tsunami yang ditimbulkannya, korban sepertinya bisa lebih besar lagi.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah. Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencavai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

GUNUNG TAMBORA

Kuwaluhan.com

Yang paling besar telah menelan korban sebanyak 92,000, yaitu letusan Gunung Tambora, Indonesia (dikenal dengan Year Without a Summer, setahun tanpa musim panas). Gunung di Sumbawa ini meletus pada tahun 1815. Tambora adalah gunung api aktip dari 130-an gunung api yang yang ada di Indonesia. Gunung raksasa setinggi 4,300 meter telah ‘melakukan’ serangkaian ledakan dari April hingga Juni di tahun 1815 dan mengguncangkan dunia dengan after-effect-nya yang mengubah stratosfir dan menyebabkan kelaparan yang buruk hingga ke US dan Eropa pada abad ke 19.

Batu merah berpijar menghujani angkasa ketika sepenuhnya gunung tersebut meletus. Semua tumbuh-tumbuhan pada pulau dimana gunung tersebut berada dibinasakan oleh lahar dan awan beracun. Secara keseluruhan, lebih 92,000 orang tewas karena terbakar, kelaparan ataupun keracunan.

Letusan Tambora tahun 1815 adalah letusan terbesar di sejarah. Letusan gunung ini terdengar sejauh 2.600 km, dan abu jatuh setidaknya sejauh 1.300 km.[2] Kegelapan terlihat sejauh 600 km dari puncak gunung selama lebih dari dua hari. Aliran piroklastik menyebar setidaknya 20 km dari puncak.

GUNUNG TOBA

Kuwaluhan.com

Toba yang sekarang dikenal sebagai danau Toba dulunya adalah sebuah gunung. Letusannya dikatakan memiliki level Supervolcanic pada level 8, tertinggi diantara jenis letusan gunung berapi.

National Geographic Channel (10/11/2011), letusan Toba terjadi sekitar 67.500 sampai 75.500 tahun yang lalu. Letusan ini adalah yang terakhir dari serangkaian tiga letusan pembentukan kaldera yang terjadi di gunung berapi. Dengan kaldera yang terbentuk sebelumnya sekitar 700.000 dan 840.000 tahun yang lalu.

Tercatat letusan terakhir ini memiliki Explosivity Index diperkirakan tertinggi sehingga dijuluki sebagai letusan “Mega-Kolosal”. Ini adalah letusan gunung berapi terbesar dalam 25 juta tahun terakhir.


Itulah kumpulan beberapa Gunung Meletus yang berada di Indonesia, dan sebagian masih aktif sampai sekarang.

Daftar Letusan Gunung Terdahsyat dan Terbesar di Indonesia

Subscribe Our Newsletter