Social Items

Showing posts with label Legenda gunung Semeru. Show all posts
Showing posts with label Legenda gunung Semeru. Show all posts
Gunung Merapi memiliki ketinggian puncak 2.930 m dpl, per 2010. Gunung ini adalah gunung berapi di bagian tengah Pulau Jawa dan merupakan salah satu gunung api teraktif di Indonesia. Lereng sisi selatan berada dalam administrasi Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan sisanya berada dalam wilayah Provinsi Jawa Tengah, yaitu Kabupaten Magelang di sisi barat, Kabupaten Boyolali di sisi utara dan timur, serta Kabupaten Klaten di sisi tenggara.

SEJARAH GUNUNG MERAPI


Pada zaman dahulu dimana Pulau Jawa masih berupa hutan belantara, hanya dihuni binatang buas dan golongan lelembut, para dewa di kahyangan tengah bingung memikirkan bagaimana cara membuat pulau ini menjadi seimbang. Pulau ini pada saat itu lebih condong ke arah barat, karena di barat ada banyak gunung yang menambah beban pulau ini.

Setelah berdiskusi cukup panjang, akhirnya para dewa di langit ketujuh itupun sepakat untuk meletakan suatu penyeimbang tepat di tengah-tengah pulau Jawa agar pulau ini tak terus menerus miring ke bagian barat.

Mengapa penyeimbang tidak diletakan di bagian timur pulau? Alasannya tak lain karena tidak ada penyeimbang yang bisa dipindahkan ke daerah itu dengan alasan sangat jauh dan membutuhkan waktu yang lama untuk memindahkannya.

Satu-satunya penyeimbang yang memungkinkan untuk dipindahkan terletak di Laut Pantai Selatan. Ia berupa gunung tinggi yang menjulang indah dengan keasrian yang sangat menawan. Gunung Jamurdwipa namanya.

Gunung Jamurdwipa adalah gunung asri yang dijaga oleh sepasang kakak beradik yang berprofesi sebagai pembuat keris (Mpu). Mpu Permadi dan Mpu Rama begitu nama mereka, adalah dua mpu yang sangat sakti mandraguna.

Sehari-hari mereka membuat keris dengan tanpa menggunakan alat bantu apapun. Saat membuat keris, mereka hanya membutuhkan perapian dan bahan baja. Untuk pemukul dan lain sebagainya, mereka hanya menggunakan tangan kosong.

Para dewa yang berkunjung menemui kedua mpu tersebut pun sampai berdecak kagum akan kesaktian mereka. Para dewa kemudian bertegur sapa dan menyampaikan maksud kedatangannya.

Mereka meminta kedua mpu tersebut untuk pindah dari tempat itu karena gunung yang mereka tinggalkan akan segera dipindahkan. Gunung yang menjadi asal usul gunung merapi itu akan dijadikan penyeimbang pulau Jawa agar tidak miring.

Baik Mpu Permadi maupun Mpu Rama, keduanya menerima saran dari para dewa, hanya saja mereka baru akan pindah setelah pekerjaan mereka selesai. Saat itu, keris sakti yang mereka buat baru selesai setengahnya.

Namun, para dewa meminta agar kedua kakak beradik itu untuk segera pindah, jika tidak maka pulau Jawa akan tenggelam karena penyeimbangnya tak kunjung diberikan. Para Mpu pun berujar jika pekerjaannya tak diselesaikan di tempat itu, maka hasilnya akan tercipta sebuah malapetaka bagi manusia di lintas generasi.

Setelah berunding sangat alot, kedua kubu bersikukuh pada pendiriannya. Sang dewa akhirnya mengambil keputusan sepihak. Dipindahkanlah gunung Jamurdwipa meskipun kedua Mpu masih berada di sana.

Pleekk... jatuhlah gundukan tanah yang menjadi asal usul gunung merapi itu tepat di tengah pulau Jawa. Konon, karena kejadian itu, daratan di bagian timur sebagian ada yang tenggelam, dan dasar laut di pulau Jawa bagian barat ada pula yang menjadi daratan. Sebagai contoh, Pulau Bali sebetulnya dulu menyatu dengan Pulau Jawa, hanya saja setelah kejadian ini, keduanya kemudian berpisah.

Kedua mpu tadi tak ditemukan rimbanya, berdasarkan kepercayaan, mereka dan peralatan pembuatan keris, termasuk perapiannya terjebak di dalam gunung. Keris yang setengah jadipun kemudian tertancap di tengah perapian.

Perapian tersebut kini diyakini berubah menjadi lahar panas yang letaknya tepat di pusat gunung. Jika si keris ini tergoyang sedikit saja, maka akan tercipta suatu gempa vulkanik, sedang lahar panas yang dulunya adalah perapian, akan keluar karena tekanan hebat dari kesaktian si keris.

Karena sering menyemburkan lahar api, masyarakat yang datang pada ratusan tahun setelah itu, kemudian menamai gunung ini dengan nama gunung merapi yang artinya gunung yang berapi-api.

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah sedikit kisah Asal usul gunung Merapi yang berada di Jawa tengah.

Sejarah Asal usul Terbentuknya Gunung Merapi Jawa Tengah

Gunung Kawi adalah Gunung yang berada di Kabupaten Malang Jawa Timur. Gunung kawi sudah terkenal di kalangan masyarakat jawa timur. Banyak cerita misteri yang terdapat di gunung kawi ini, Namun Gunung kawi saat ini telah menjadi tujuan wisata bagi masyarakat sekitar.

KERATON GUNUNG KAWI


Kraton Gunung Kawi ini dibuat jauh dari keramaian oleh pendirinya yaitu Mpu Sindok dari kerajaan Mataram. Walaupun bernama kraton, sesungguhnya bangunan ini tidak memiliki bentuk fisik yang begitu megah karena memang fungsinya sebagai tempat pertapaan. Berdasar tulisan yang tertera pada prasasti Batu Tulis di puncak gung Kawi, diketahui bahwa kraton ini dibangun pada tahun 861 masehi.

Pertapaan ini dibangun pada masa dinasti Sailendra tepatnya setelah berdirinya candi Borobudur. Diceritakan bahwa pada waktu itu, karena terjadi perselisihan, Mpu Sindok harus pindah dari wilayah Jawa Tengah ke Jawa Timur dan akhirnya membangun pertapaan sendiri di gunung Kawi. Untuk membangun pertapaan tersebut, Mpu Sindok menandainya dengan menanam 5 pohon beringin dengan sebuah batu gunung di tengah lima batu tersebut.

Lokasi pertapaan itu disebut sebagai tempat Mpu Sindok melakukan tapa hingga kahirnya tubuhnya moksa atau hilang. Pada saat ini, lokasi tersebut dibangun dan diberi nama sebagai Sanggar Pamujan Kraton Gunung Kawi sebagai petilasan Mpu Sindok dan juga pusat spiritual di wilayah tersebut.

Hijrahnya Mpu Sindok yang merupakan penguasa Mataram ke gunung Kawi rupanya menjadikan daerah tersebut memiliki tuah. Tercatat bahwa beberapa raja di Jawa pada era yang lebih baru juga mengunjungi tempat pertapaan tersebut. Mereka mencoba melakukan pertemuan spiritual dan meminta ilham dari Mpu Sindok yang bertapa dan moksa di tempat tersebut.

Diketahui bahwa pada tahun 1200 masehi, raja dari kerajaan Kediri yang bernama Prabu Kameswara memilih untuk turun tahta dan menjadi pertapa dengan memilih lokasi gunung Kawi sebagai sanggar pertapaannya. Kedudukan raja Kediri ini kemudian dilanjutkan oleh putranya yaitu Prabu Jayabaya. Bahkan Prabu Kameswara ini juga melakukan hal yang sama dengan Mpu Sindok yaitu moksa di tempat tersebut.

KISAH MBAH YUGO DAN KYAI ZAKARIA

Dalam kisah sejarah diceritakan bahwa dalam pengembaraan­nya ke daerah Jawa Timur Kyai Zakaria II berganti nama dengan nama rakyat biasa.


Hal ini mungkin dimaksudkan (juga dikenal dalam kisah pewayangan apabila ada satria yang sedang mengem­bara biasanya juga berganti/mengganti namanya) agar identitas­nya sebagai bangsawan kraton yang sudah terkenal itu, tidak di­ketahui oleh orang lain terutama oleh penjajah Belanda.

Nama yang beliau pergunakan dan sangat populer hingga sekarang adalah “Mbah Sadjoego atau singkatnya Mbah Djoego. RS. Soeryowidag- do, 1989 : 9). Mengenai kisah pengembaraannya menurut sebuah sumber (Suwachman, dkk : 1993 : 42) dan telah menjadi ceritera yang memasyarakat sebagai berikut :

“Kyai Zakaria II dari Yogyakarta terus ke Sleman, Nganjuk, Bojonegoro, dan terakhir Blitar. Sampai di sini ia terkejut. Ter­nyata tempatnya berdekatan dengan Kadipaten di bawah kekuasa­an Belanda. Kemudian ia minggir ke daerah Kesamben, sekitar 60 km dari kota Blitar. Kyai Zakaria II menetap di tepi sungai Brantas desa Sonan, Kecamatan Kesamben kabupaten Blitar. Di desa ini Kyai Zakaria II bertemu dengan Pak Tosiman. Ketika ditanya asal-usulnya, ia was-was jangan-jangan kehadirannya dike­tahui oleh Belanda. Maka ia menjawab secara diplomatis tanpa menyebut jati dirinya. “kulo niki sajugo ” (artinya saya sendirian). Menurut penangkapan Pak Tasiman yang salah pengertian dikira namanya “Pak Sayugo” yang kemudian dipanggilnya dengan pak Jogo. Akhirnya itu dibiarkan Kyai Zakaria II sehingga ia aman dari kejaran Belanda dan sejak itulah ia dikenal dengan nama Mbah Jugo.

Selanjutnya dikisahkan bahwa mbah Jugo makin lama makin terkenal, makin dihormati dan disegani oleh masyarakat karena kearifannya, kemampuannya di bidang ilmu agama, keampuhan ilmu yang dimilikinya dan juga pribadinya yang suka menolong sesama umat.

Mengenai masalah ini ada suatu cerita yang menarik sebagai berikut : “Pada suatu saat terjadi wabah penyakit hewan di desa Sonan pada tahun 1860. Masyarakat panik karena penguasa Belanda tidak mampu mengatasi. Akhirnya dengan keampuh­an ilmu mbah Jugo, wabah penyakit tersebut berhasil dising­kirkan dan masyarakat semakin hormat pada mbah Jugo.

Namanya semakin kondang dan ia melayani berbagai konsul­tasi dari masyarakat. Dari soal jodoh, bertanaam, berternak, bahkan sampai soal dagang yang menguntungkan, semuanya dilayani dengan memuaskan”.

Sementara itu dalam kurun waktu selanjutnya pada tahun 1871 Raden Mas Iman Soedjono bersama-sama penduduk mem­buka hutan di daerah Gunung Kawi, Malang. Ia kemudian mem­buka padepokan di Wonosari. Pada tahun itu juga tepatnya 22 Ja­nuari 1871, Minggu Legi, malam Senin Pahing atau 1 Suro 1899 Mbah Jugo meninggal dunia di Kesamben Blitar.

Sesuai wasiat­nya, jenazah Mbah Jugo dimakamkan di lereng Gunung Kawi Wonosari, yang waktu itu sudah menjadi sebuah perkampungan. Sepeninggal mbah Jugo, padepokannya di Kesamben dirawat oleh Ki Tasiman, Ki Dawud dan lain-lain.

Barang-barang peninggalan Mbah Jugo yang masih dapat kita saksikan yaitu berupa rumah Padepokan berikut masjid dan halamannya, juga, pusaka berben- tuk tombak, topi, alat-alat pertanian dan tiga buah guci tempat air minum yang dilengkapi dengan filter dari batu. Guci itu dinamakan “janjam” (guci ini oleh Raden Mas Iman Soedjono di­boyong ke Gunung Kawi).

Mengenai silsilah Raden Mas Iman Soedjono tercatat dalam dokumen yakni dalam Surat Kekancingan (Surat Bukti Silsilah) dari Kraton Jogjakarta Hadiningrat yang dimiliki oleh Raden Asni Nitirejo, cucu Raden Mas Iman Soedjono. Surat tersebut ter­tulis dalam huruf Jawa bernomor 4753, dikeluarkan tanggal 23 Juni 1964. Dalam surat tersebut diterangkan silsilah kelahiran Raden Mas Iman Soedjono sebagai berikut :
“Ngarso Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sul­tan Hamengku Buwono I, memerintah Kraton Ngayogyokarto Hadiningrat sejak tahun 1755 – 1792. Pada waktu kecilnya ber­nama Bendara Raden Mas Soedjono. Dengan istrinya yang ber­nama Raden Ayu Doyo Amoro, berputera Bendara Pangeran Aryo Kanjeng Raden Ayu Tumenggung Notodipo (lihat buku silsilah Paguyuban Trah Balitaran, terbitan tahun 1933 dengan huruf Jawa).

Raden Mas Iman Soedjono kemudian menikah dengan salah se­orang anggota laskar “Langen Kusumo”, Perajurit wanita dari laskar Pangeran Diponegoro yang bernama Raden Ayu Saminah dan biasa dipanggil Nyi Djuwul. Pasangan ini kemudian dikaruniai seorang puteri yang cantik bernama Raden Ayu Demes.

Setelah dewasa Raden Ayu Demes dikawinkan dengan pengikut terdekat dan terpercaya Raden Mas Iman Soedjono yang bernama Tarikun Karyoredjo, dari Tuban. Pernikahan ini menurunkan dua orang anak laki-laki yakni Raden Asin Nitiredjo dan raden Yahmin Wi- hardjo.

Keduanya sejak tahun 1946 hingga sekarang menjadi juru kunci Pasarean Gunung Kawi. Akhirnya Raden Asin Nitiredjo menurunkan tiga orang anak yakni Raden Nganten Tarsini, Raden Soepodoyono dan Raden Soelardi Soeryowidagdo Sedang Raden Yahmin Wihardjo menurunkan seorang anak laki-laki bernama Raden Soepratikto (RS. Soeryowidagdo, 1989 : 9- 10).

Raden Mas Iman Soedjono meninggal dunia pada hari Selasa Wage malam Rabu Kliwon tanggal 12 Suro 1805 atau tanggal 8 Februari 1876. Jenazah Raden Mas Iman Soedjono dimakamkan dalam satu liang dengan Mbah Jugo.

Hal ini dilakukan sesuai de­ngan wasiat mbah Jugo yang pernah menyatakan bahwa bilamana kelak keduanya telah wafat, meminta agar supaya dikuburkan- bersama dalam satu liang lahat.

Hal ini rupanya mengandung maksud sebagai dua insan seperjuangan yang senasib sependeritaan, seazas dan satu tujuan dalam hidup, sehing­ga mereka selalu berkeinginan untuk tetap berdampingan sampai ke alam baqa.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Gunung Kawi Malang dan Kyai Zakaria Serta Mbah Jugo

Gunung Arjuno adalah sebuah gunung berapi kerucut (istirahat) di Jawa Timur, Indonesia dengan ketinggian 3.339 m dpl. Gunung Arjuno secara administratif terletak di perbatasan Kota Batu, Kabupaten Malang, dan Kabupaten Pasuruan dan berada di bawah pengelolaan Taman Hutan Raya Raden Soerjo.

Gunung Arjuno merupakan gunung tertinggi ketiga di Jawa Timur setelah Gunung Semeru dan Gunung Raung, serta menjadi yang tertinggi keempat di Pulau Jawa. Biasanya gunung ini dicapai dari tiga titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari Lawang, Tretes dan Batu. Nama Arjuno berasal dari salah satu tokoh pewayangan Mahabharata, Arjuna.

SEJARAH GUNUNG ARJUNO


Suatu saat dalam Pengasingan ke Jawa, Arjuna bertapa di puncak sebuah gunung dengan sangat tekunnya, hingga berbulan – bulan. Karena ketekunannya hingga tubuhnya mengeluarkan sinar yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Karena perbawanya yang hebat jika burung berani terbang di atasnya pastilah jatuh tersungkur. Makhluk apapun tak berani mengganggu.

Begitu khusuknya Arjuna bersemedi hingga menimbulkan goro-goro di Kahyangan Suralaya, Kahyangan geger. Kawah condrodimuko mendidih menyemburkan muntahan lahar. Bumi bergoncang, Petir menggelegar di siang bolong, terjadi hujan salah musim hingga menimbulkan banjir, menyebarkan penyakit, orang yang sore sakit pagi mati, pagi sakit sore mati. Bahkan gunung tempatnya bertapa menjadi terangkat menjulang ke langit.

Para Dewa sangat kuatir, mereka berkumpul mengadakan sidang dipimpin oleh Batara Guru. “Ada apa gerangan yang terjadi di Marcapada , kakang Narada. Hingga Kahyangan menjadi geger” sabda Batara Guru, sebagai kata pembuka meskipun sebenarnya dia sudah mengetahui jawabannya.

Akhir dari Sidang Paripurna Para Dewa memutuskan bahwa hanya Batara Narada lah yang bakal sanggup menyelesaikan masalah. Seperti biasanya Bidadari cantikpun tak akan sanggup membangunkan tapa Arjuna. Batara Narada segera turun ke Marcapada, mencari titah yang menjadi sumber goro-goro. Sesaat ia terbang, ngiter-ngiter di angkasa.


Dilihatnya Arjuna sedang bertapa di puncak gunung. Bersabdalah Batara Narada “Cucuku Arjuna bangunlah dari tapamu, semua orang bahkan para Dewa akan menjadi celaka bila kau tak mau menghentikan tapa mu”. Arjuna mendengar panggilan tersebut, karena keangkuhannya jangankan bangun dari tapanya, justru dia malah semakin tekun. Dia berfikir bila dia tidak mau bangun pasti Dewa akan kebingungan dan akan menghadiahkan banyak senjata dan kesaktian.

Betara Narada gagal membangun kan tapa Arjuna, meskipun dia sudah menjanjikan berbagai kesaktian. Dengan bingung dan putus asa, segera terbang kembali ke Kahyangan. Sidang susulanpun segera di gelar untuk mencari cara bagaimana menggulingkan sang Arjuna dari tapanya.

Akhirnya diutuslah Batara Ismaya yang sudah menjelma menjadi Semar untuk membangunkan tapa Arjuna. Bersama dengan Togog berdua mereka segera bersemedi dimasing-masing sisi gunung tempat Arjuna bertapa. Berkat kesaktian mereka tubuh mereka berubah menjadi tinggi besar hingga melampaui puncak gunung. Lalu mereka mengeruk bagian bawahnya dan memotongnya. Mereka melemparkan puncak gunung itu ketempat lain.

Arjuna segera terbangun dari tapanya. Dan memperoleh nasehat dari Semar bahwa tindakannya itu tidak benar. Gunung tempat Arjuna bertapa itu diberi nama Gunung Arjuna. Potongan gunung yang di lempar diberi nama Gunung Wukir.

OBYEK WISATA

Gunung Arjuno merupakan salah satu tujuan pendakian. Di samping tingginya yang telah mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air terjun Kakek Bodo yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuno.

Meskipun selain objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung. Di kawasan lerengnya juga terdapat mata air Sungai Brantas yang berasal dari simpanan air Gunung Arjuno.

Mata air Sungai Brantas terletak di Desa Sumber Brantas, Bumiaji, Kota Batu yang merupakan sungai terpanjang kedua di Pulau Jawa setelah Sungai Bengawan Solo. Beberapa destinasi wisata yang terkenal hingga ke seluruh Indonesia maupun luar negeri juga terletak di lereng Gunung Arjuno, di antaranya adalah Tretes, Kota Wisata Batu, dan Taman Safari Indonesia 2.

Gunung Arjuno mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Arjuno dapat didaki dan berbagai arah, arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang, dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta), dan arah selatan (Karangploso), juga dari Sumberawan, Singosari.

Desa Sumberawan adalah desa pusat kerajinan tangan di kecamatan Singosari, Kabupaten Malang dan merupakan desa terakhir untuk mempersiapkan diri sebelum memulai pendakian. Bisa juga melewati Purwosariyang lebih gampang dilewati, karena hanya setengah jam dari jalan raya dan langsung sampai di Tambakwatu.

SUMBER : WIKIPEDIA

Kisah Legenda dan Asal usul Gunung Arjuno Malang Jawa Timur

Gunung Maskumambang adalah gunung di Kediri yang dikelilingi oleh bukit – bukit, bukit ini merupakan terusan dari jajaran perbukitan Gunung Wilis atau bisa dikatakan sebelah timur Gunung Wilis, Gunung Maskumambang ini mempunyai udara yang sejuk karena di kelilingi pohon kehijaun yang sangat banyak. Apalagi sudah ada fasilitas anak tangga jika didaki melalui jalur barat.

ASAL USUL MASKUMAMBANG


Pada zaman dahulu kala, ada sebuah gunung di jawa yang tak terbatas ketinggianya (sundul langit) yang saat ini kita kenal dengan nama gunung Semeru.

(Kanggo imbange jagad) untuk keseimbangan dunia Punakawan memotong ujung gunung Semeru untuk dipindah ke belahan bumi yang lain.

Ujung gunung Semeru yang telah terpotong diikat dengan menggunakan lawatan ( sejenis rumput yang menjalar) dan dipikul keempat sudutnya olehPunakawan.

Ditengah perjalanan tali pengikat (lawatan) putus akibat tidak mampu menahan gesekan bekas potongan gunung yang tajam dan beratnya ujung gunung semeru.

Setelah itu Punakawan memikul ujung gunung dengan menggunakan pelepah pisang (dhebog). Ditengah perjalanan pelepah pisang tersebut juga hancur dan ditinggalkan begitu saja oleh mereka.

Kemudian ujung gunung tersebut terus diangkat dengan bertumpu pada pundak Punakawan. Ketika tiba di suatu tempat punakawan merasa kelelahan dan mereka meletakan ujung gunung tersebut disebelah sungai sembari beristirahat.

Di peristirahatan mereka terasa suntuk. Untuk menghilangkan rasa suntuk, mereka naik ke ujung gunung  dan memainkan sebuah permainan, yang saat ini kita kenal dengan Dakon.

Punakawan mulai membuat lubang-lubang yang akan digunakan sebagai media permainan, saat membuat lubang yang terakhir mereka tidak sengaja membuat lubang yang terlalu dalam dan besar seperti sumur dikarenakan mereka menggali tepat dirongga gunung.

Karena asyik bermain Dakon ( Dakonan ), merekapun enggan melanjutkan pemindahan ujung gunung tersebut dan ditinggal begitu saja.

Sekarang, tempat Punakawan membuang tali pengikat tersebut menjadi desa Lawatan. Tempatpelepah Pisang ( dhebok ) yang di buang menjadi desa Gedhebeg.

Itulah sekilas tentang asal usul terbentuknya gunung Maskumambang Kediri Jawa Timur.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Asal usul Gunung Mas Kumambang Jawa Timur

Gunung Wilis adalah sebuah gunung berapi  yang terletak di Jawa Timur, Indonesia. Gunung Wilis memiliki ketinggian 2.169 meter di atas permukaan laut (mdpl) dan termasuk dalam wilayah enam kabupaten yaitu Kabupaten Kediri, Kabupaten Tulungagung, Kabupaten Nganjuk, Kabupaten Madiun, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Trenggalek.


Gunung Wilis merupakan salah satu gunung suci dari sembilan gunung suci di Jawa. Perihal kesuciannya tersebut diabadikan dalam Kitab Tantu Panggelaran. Kitab ini berasal dari tahun 1557 Saka (1635 M).

Dalam kitab ini diceritakan tentang proses pemindahan Gunung Mahameru oleh para dewa dari tanah Jambu dwipa ke pulau Jawa, dan terbentuknya gunung-gunung di Jawa.
Berikut ulasannya:

"Col andap kulwan, maluhur wetan ikang nuşa jawa; yata pinupak sang hyang mahāmeru, pinalih mangetan. Tunggak nira hana kari kulwan; matangnyan hana argga kelāça ngarannya mangke, tunggak sang hyang mahāmeru ngūni kacaritanya. Pucak nira pinalih mangetan, pinutĕr kinĕmbulan dening dewata kabeh; runtuh teka sang hyang mahāmeru. Kunong tambe ning lĕmah runtuh matmahan gunung katong; kaping rwaning lmah runtuh matmahan gunung wilis"

TERJEMAHAN BAHASA INDONESIA

"Dilepaskan turun di sebelah barat, menuju ke timur pulau Jawa. kemudian dilepaslah Sang Hyang Mahameru, dipindah ke timur. Dasarnya tertinggal di barat. Oleh sebab itu terciptalah gunung yang bernama Kailaca nanti. Mengenai Sang Hyang Mahameru beginilah ceritanya. Puncaknya dipindah ke timur, dikitari oleh semua para dewa; runtuh dari Sang Hyang Mahameru. Setelah jatuh ke tanah terciptalah Gunung Katong; yang kedua tanah jatuh menciptakan Gunung Wilis"

Dari kutipan di atas, diketahui bahwa sekitar abad 16-17 nama “Wilis” telah digunakan. Gunung Wilis merupakan runtuhan kedua setelah Gunung Katong (Lawu) dari rentetan guguran Sang Hyang Mahameru yang dipindah dari india ke tanah Jawa.

Jadi, sebagai salah satu bagian dari Sang Hyang Mahameru maka Gunung Wilis adalah gunung suci bagi umat Hindu. Kesucian tersebut dapat pula dilihat dari ditemukannya bangunan suci berupa reruntuhan bangunan suci di lereng-lerengnya.

Goa Selomangleng Kediri, Candi Ngetos, Omben Jago, Candi Penampihan, Candi Pandupragulopati, Situs Condrogeni dan beberapa pusat kerajaan yang tumbuh kembang di sekitar Gunung Wilis. Sebutlah, Kerajaan Wengker di nagara Lwa, Kerajaan Wurawan di nagara Glang-Glang berkembang di bagian barat Gunung Wilis. Sedangkan Kerajaan Panjalu di nagara Daha berkembang di timur Gunung Wilis.

Itulah ringkasan Asal usul terbentuknya gunung Wilis Jawa Timur.

Wallohua'lam Bisshowab

Sejarah Asal usul Terbentuknya Gunung Wilis Jawa Timur

Babat Kadhiri menyebut sekilas mengenai perilaku orang Kediri yang meniru-niru laku Dewi Kilisuci, akan tetapi sayangnya meniru dalam fasal adigang, adigung, dan adiguna, baik kaum wanitanya maupun kaum prianya.


Konon terdapat kutukan pada kerajaan Kediri tatkala terlibat dalam peperangan dengan musuh sebagai berikut, "Jika pasukan Kediri menyerang musuh di daerah lawan lebih dulu akan selalu memenangkan pertempuran, akan tetapi sebaliknya jika musuh langsung menyerang ke pusat kerajaan Kediri lebih dulu maka musuh itu akan selalu berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang."

Barangkali karena kutukan itulah sampai sekarang para presiden Republik Indonesia selalu menghindari untuk singgah ke kota Kediri dalam setiap perjalanan di wilayah Jawa Timur. Mungkin tatkala sedang singgah di kota Kediri mereka beranggapan akan mudah diserang oleh musuh atau lawan politiknya.

Berkaitan turun takhtanya Sri Baginda Erlangga atau Airlangga sejarah kemudian mencatat atas perintah baginda maka kerajaan dibagi dua oleh Mpu Bharada, dan masing-masing bagian kerajaan, Daha dan Jenggala, dipimpin oleh putra dari selir Erlangga.

Sebuah pengalaman singkat mengunjungi situs pertapaan Dewi Kilisuci pada 1990-an selama beberapa minggu, maka siapa pun yang beruntung tatkala mengunjungi goa batu alami di punggung gunung Klotok sebelah Timur segaris lurus dengan Goa Selomangleng akan menjumpai seorang pertapa sepuh berusia delapan puluhan.

Tampilannya biasa saja seperti petani, ia tidak mengenakan apapun selain celana panjang dan baju safari, pakaiannya itu pun tampak sudah tua. Ia seorang diri berada di tengah hutan belantara Klotok yang masih cukup lebat di masa itu.

Air terjun di mulut goa tak henti mengalirkan air jernih dari sumber mata air berupa bebatuan cadas di punggung gunung itu.

Pertapa itu berambut putih, bertubuh langsing, wajahnya tampak berseri-seri. Ia tidak banyak bicara apalagi jika tidak ditanya oleh orang yang beruntung dapat menjumpainya di goa Selobale tersebut.
"Bapak tinggal sendirian di sini sedang melakukan apa?"

"Saya hanya menjaga tempat ini atas dawuh susuhunan kraton Solo. Karena kami dari kraton Solo menganggap di sinilah tempat pertapaan Dewi Kilisuci yang sebenarnya, dan bukan di Goa Mangleng di bawah sana maupun di tempat lainnya, Selomangleng itu hanya sebuah museum belaka," katanya penuh keyakinan. "Kami dari kraton Solo juga percaya bahwa leluhur kami berasal dari wilayah ini (dari Kediri, Jawa Timur)."

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut tugas yang diembannya dan juga alasan mengapa goa itu harus dijaga saat ini. Selanjutnya ia mengalihkan pembicaraan pada bangunan di luar goa, tepatnya di mulut goa terdapat jurang dan di seberang jurang yang menganga berukuran tiga meter lebar itu terdapat lubang goa mini berukuran satu meter persegi.

Mengenai sedikit hipotesis mengenai misteri goa Selo Mangleng yang belum pernah dipublikasikan baca tulisan kami yang lain di blog ini berjudul, "Rahasia Kraton Sri Aji Joyoboyo".

"Di tiga ceruk/cekungan dinding gunung berupa batu cadas itulah para prajurit kerajaan Kediri bertugas menjaga keamanan dan mudah mengawasi tempat ini," ujarnya.

Ia tidak menjelaskan lebih lanjut pengetahuannya yang mendalam mengenai goa selobale. Barangkali ia tengah mengadakan studi mengenai situs goa selobale dengan cara spiritual.

Memang jika kita tengah berdiri di goa selobale maka samar-samar tampak di seberang air terjun mini tampak pada dinding bukit batu yang kemiringannya 90 derajat atau tegak lurus itu terdapat goa-goa berjumlah tiga yang jaraknya satu sama lain teratur simetris dan berukuran satu meter persegi.

"Tempat ini dulu tidak seperti ini, Ada jalan penghubung antara penjaga di seberang dan goa Selo Bale ini. Wilayah ini sekarang dikuasai pihak militer dan dijadikan ajang latihan perang-perangan menggunakan amunisi sungguhan.

Mortir atau meriam biasa digunakan jika sedang masa latihan pada tahun 70-an. Dan senapan serbu laras panjang tidak terhitung lagi jumlah pelurunya yang berhamburan di sekitar goa ini."

Memang benar semua itu, penduduk di kawasan ini sudah tahu hal itu dan menganggap sebagai hal biasa. Memang tidak ada unsur kesengajaan dari militer untuk merusak situs itu, akan tetapi situs itu secara tak langsung terkena dampak buruknya.

"Goa Selo Bale inilah yang benar-benar jadi tempat pertapaan putri Erlangga itu, bukan di Goa Selo Mangleng, itu hanya museum semata-mata," ujar lelaki tua mengulangi apa yang sudah dikatakannya belum beberapa bentar, kembali suaranya terdengar mantap dan meyakinkan.

"Dulu tempat ini tidak sedalam ini, hanya sampai sebatas sini," katanya menunjuk lantai goa. "Orang-orang yang mencari harta-karun mencoba menggali dinding ini hingga bertambah sekitar setengah meter. Tampaknya tidak berhasil mendapatkan apapun."

"Sampai sekarang orang belum berhasil menemukan peninggalan heboh kerajaan Kediri. Mungkin berada di balik bukit ini!" katanya serius, sambil menunjuk suatu sudut punggung gunung. Jika kita berjalan melingkari bukit dan tiba di balik bukit itu memang terdapat air terjun kecil, Tretes.

Dan di seberang sana sebelah selatan terdapat daerah dengan julukan Gemblung, bila orang berjalan di atas daerah itu seolah ada suara dari dasar tanah berbunyi "bung, bung, bung." Mungkin ada semacam ruang bawah tanah berukuran besar.

Di balik bukit sebelah timur terdapat sumber air suci Gunung Klotok, tempat itu terkenal dengan sebutan Sumber Loh, karena di hulu aliran air yang lumayan deras itu kebetulan terdapat sebatang pohon Lo berukuran raksasa, dan dari lobang-lobang di sekitar akar pohon itulah awal mula mata air yang terus memancar sepanjang masa, tak kenal musim, dan tak kenal jaman.

Tahun berganti tahun berlalu di Goa Selobale, dan kini keadaan telah berubah, jika orang tersasar atau sedang mendaki gunung Klotok dan tiba di tempat itu akan menjumpai kembali goa tersembunyi itu sunyi seperti sediakala. Tidak seorang pun berada di sana untuk dapat diajak bicara, kecuali suara serangga yang berdengung siang-malam.

Kesunyian itu juga melanda sebuah goa misteri yang lain lagi berada di balik bukit tempat goa Selobale bertengger, goa yang lain itu disebut "Goa Kikik", arti harfiahnya kurang lebih goa mini. Barangsiapa mencoba melacak keberadaan goa yang satu itu akan kesulitan menemuinya karena tiada bedanya dengan bongkahan batu biasa yang bertebaran di sekitar lokasi goa Kikik.

Akan tetapi perlu diketahui bahwa goa Kikik memang goa asli pahatan tangan nenek-moyang di masa silam. Di masa silam Goa Kikik menjadi salah satu garis pertahanan lain dari arena perbukitan itu untuk mengawasi dan memapak pendatang pada masa silam dari jurusan barat laut yang sedang mengarah ke Goa Selo Bale dengan niatnya masing-masing.

SUMBER : WIKIMAPIA.ORG

Kisah dan Asal usul Gunung Klotok Kediri Jawa Timur


Disebut suku Tengger di kawasan Gunung Bromo, Nama Tengger yang berasal dari Legenda Roro Anteng juga Joko Seger yang dipercaya sebagai asal usul nama Tengger itu. "Teng" akhiran nama Roro An- "teng" dan "ger" akhiran nama dari Joko Se- "ger" dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyala sebagai Gunung Brahma. orang Jawa kemudian terbang Gunung Bromo .


Di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra dengan fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras saat lahir, jadilah nama yang bernama "JOKO SEGER".

Di tempat sekitar Gunung Pananjakan, pada waktu itu ada seorang anak perempuan yang lahir dari titisan dewa. Wajahnya cantik juga elok. Dia satu-satunya anak yang paling cantik di tempat itu.

Saat itu, anak itu tidak layaknya bayi lahir. Ia diam, tidak menangis sewaktu pertama kali menghirup udara. Bayi itu sangat tenang, lahir tanpa menangis dari rahim induk. Maka oleh orang tuanya, bayi itu dinamai Rara Anteng.


Dari hari ke hari tubuh Rara Anteng tumbuh menjadi besar. Garis-garis cantik nampak jelas diwajahnya. Termasyurlah Rara Anteng sampai ke berbagai tempat. Banyak putera raja melamarnya. Namun pinangan itu ditolaknya, karena Rara Anteng sudah terpikat hatinya kepada Joko Seger.

Suatu hari Rara Anteng dipinang oleh seorang bajak yang terkenal sakti dan kuat. Bajak itu memang sangat jahat. Rara Anteng yang terkenal halus perasaannya tidak berani menolak begitu saja untuk pelamar yang sakti.

Maka ia minta agar dibuatkan lautan di tengah-tengah gunung. Dengan permintaan yang aneh, yang menganggapnya pelamar sakti itu tidak akan memenuhi permintaannya. Lautan yang diminta itu harus dibuat dalam waktu satu malam, yaitu diawali saat matahari terbenam ke saat matahari terbit. Disanggupinya permintaan Rara Anteng tersebut.

Pelamar sakti tadi memulai mengerjakan lautan dengan alat sebuah tempurung (batok kelapa) sehingga pekerjaan itu hampir selesai. Melihat Hidup itu, hati Rara Anteng mulai gelisah.

Bagaimana cara menggagalkan lautan yang sedang dikerjakan oleh Bajak itu? Rara Anteng merenungi nasibnya, ia tidak bisa hidup bersuamikan orang yang tidak ia cintai. Kemudian ia berusaha menenangkan dirinya. Tiba-tiba timbul niat untuk menggagalkan pekerjaan Bajak itu.

Rara Anteng mulai menumbuk padi di tengah malam. Pelan-pelan suara tumbukan dan gesekan alu bangunkan ayam-ayam yang sedang tidur. Kokok ayam pun mulai bersahutan, olah-olah sudah tiba, ganumlah belum mulai dengan kegiatan pagi.

Bajak belajar ayam-ayam berkokok, tapi benang putih disebelah timur belum juga nampak. Berarti fajar datang sebelum waktunya. Sesudah itu dia merenungi nasib sialnya.

Rasa kesal dan marah penuh emosi, pada akhirnya Tempurung (Batok kelapa) yang dipakai sebagai alat mengeruk pasir itu dilemparkannya dan jatuh tertelungkup di samping Gunung Bromo dan berubah menjadi gunung yang sampai sekarang dinamakan Gunung Batok .

Dengan kegagalan Bajak itu buat lautan di tengah-tengah Gunung Bromo, suka citalah hati Rara Anteng. Ia melanjutkan hubungan dengan kekasihnya, Joko Seger. Kemudian hari, Rara Anteng dan Joko Seger menikah menjadi pasangan suami istri yang bahagia, karena keduanya saling mencintai dan mencintai.

Pasangan Rara Anteng dan Jaka Seger membangun pemukiman dan kemudian di kawasan Tengger dengan sebutan Purbowasesa Mangkurat Ing Tengger, maksudnya "Penguasa Tengger Yang Budiman". Nama Tengger diambil dari akhir suku kata nama Rara Anteng dan Jaka Seger. Kata Tengger berarti juga Tenggering Budi Luhur atau gambaran moral tinggi, simbol perdamaian abadi.

Itulah Asal usul Suku Tengger dan Gunung Bromo. Semoga bermanfaat untuk anda.

Kisah Asal usul Gunung Bromo dan Suku Tengger

Gunung Semeru adalah Gunung Tertinggi di Pulau Jawa, puncak gunung Semeru adalah Mahameru.


Gunung Semeru memiliki puncak ketinggian 3.676 M dari permukaan laut merupakan bagian dari Taman Nasional Bromo Tengger Semeru ini banyak menyimpan sebuah misteri yang akan kita kupas tuntas yaitu Sejarah Gunung Semeru.

Selain keindahan dan panorama alam yang begitu memukau ternyata Semeru mempunyai sebuah Sejarah yang menyimpan banyak mitos.
Menurut sejarah Mahameru adalah tempat bersemayamnya para dewa.

Menurut kepercayaan orang Jawa yang ditulis pada kitab kuno abad 15, Pulau Jawa dulunya mengambang di lautan luas dan terombang-ambing dipermainkan ombak. Pada suatu saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau tersebut dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa. Namun pulau tersebut masih terombang ambing tak menentu.

Para Dewa lalu memutuskan untuk memaku Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India di atas Pulau Jawa. Untuk memindahkan Gunung Meru tersebut, Dewa Wisnu kemudian menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa dan menggendong gunung itu di punggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut.

Kedua dewa tersebut lalu meletakkan gunung Meru di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Wisnu dan Brahma lalu memotong Gunung Meru dan meletakkannya satu di ujung timur dan satu di barat.

Potongan gunung yang berada di sebelah barat membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Di gunung inilah diyakini para dewa bersemayam.

Dalam agama Hindu Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung antara bumi (manusia) dan kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus semedi di puncak Gunung Meru. Tak ayal, hingga saat ini banyak masyarakat Jawa dan Bali masih menganggap gunung sebagai Semeru tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru juga dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau.

Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. Para pendaki yang menginap di danau Ranu Kumbolo sering melihat hantu Ranu Kumbolo. Banyak orang yang percaya bahwa daerah Bromo, Tengger, Semeru banyak didiami oleh bangsa Jin.

Begitulah kurang lebih kisah dari Gunung Semeru yang berada di Provinsi Jawa Timur.

Sejarah Legenda Gunung Semeru Jawa Timur