Social Items

Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002.

Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.

SEJARAH KABUPATEN ACEH BARAT DAYA


Di ambil Dari beberapa sumber, kabupaten Aceh Barat Daya merupakan sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.

Kabupaten ini memiliki banyak sebutan di antaranya: Tanoh Breuh Sigupai, Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Tanoh Mano Pucok, Bumi Cerana, Alue Malem Dewa dan sebagainya.

Aceh Barat Daya dihuni oleh multietnis seperti Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang dan Aceh. Buku “Negeri Dan Rakyat Aceh Barat Daya Dalam Lintasan Sejarah” menuliskan keterangan asal muasal penduduk Aceh Barat Daya memang orang Minangkabau dan Aceh. Namun, sebelum orang Minangkabau dan Aceh datang, di Aceh Barat Daya telah bermukim suku Batak.

Keberadaan suku ini dikaitkan dengan keberadaan sebuah gua di pedalaman Blangpidie. Gua itu disebut Guha Batak. Setelah itu, koloni orang Batak dikalahkan oleh para pendatang baru: dari Minangkabau dan Aceh. Tidak dijelaskan secara detil maksud “dikalahkan” di sini. Kemungkinan, terjadi perang kecil untuk merebut daerah kekuasaan.

Orang Minangkabau diprediksi datang ke pantai barat daya Aceh sekitar abad 17. Faktor kedatangan mereka karena Belanda menduduki Sumatera Barat pada 1663 setelah adanya Perjanjian Painan atau Traktat Painan. Sumatera Barat yang dimaksud dalam buku itu dipimpin Kerajaan Pagaruyung.

Di Lama Wikipedia disebutkan, Kerajaan Pagaruyung berdiri sejak 1500 hingga 1825.

Sebelum ada Traktat Painan, Pagaruyung tunduk di bawah Kerajaan Aceh. Serikat Dagang Belanda (VOC) pun mengontrol perdagangan lada ketika itu. Setelah Perjanjian Painan, baik Kerajaan Aceh maupun sebagian orang Minangkabau tidak mau lagi tunduk pada Belanda.

Orang-orang Minang itu merantau ke pantai Barat Daya Aceh. Sebagian di antara mereka membangun koloni di Susoh, Meulaboh, dan tempat lain. Bersamaan dengan tibanya orang Minang, datang pula orang Aceh Besar dan Pidie yang bermaksud membuka perkebunan atau seuneubok lada. Hingga awal abad 19, lada merupakan komoditi ekspor yang penting di Aceh.

Namun, catatan akhir buku itu juga menuliskan, kedatangan orang Aceh ke pantai barat pernah menimbulkan peperangan dengan para pemukim Minangkabau. Perang itu terjadi pada awal abad 18. Tidak secara jelas disebutkan di mana lokasi peperangan itu karena bagian tersebut dikutip dari Hikajat Potjul Muhammad.

Selanjutnya, koloni Minangkabau dan Aceh itu membangun komunitas mereka. Tempat yang menjadi pilihan adalah muara-muara sungai seperti Lama Tuha, Kuala Batu, Susoh, Suak, Lhok Pawoh dan Pasi Manggeng. Lama kelamaan, tempat-tempat ini menjelma menjadi pelabuhan-pelabuhan penting di Barat Daya Aceh kala itu.

Kabupaten Aceh Barat Daya Ibukota Blangpidie merupakan sebuah kabupaten di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kabupaten Aceh Barat Daya diresmikan Tanggal 10 April 2002 (hari jadi) , Sebagai kabupaten otonom yang terpisah dari Aceh Selatan selaku kabupaten induknya, melalui UU No.4 tahun 2002.

Kabupaten ini dibatasi oleh Gayo Lues di utara, Aceh Selatan dan Samudera Hindia di selatan, Nagan Raya di barat dan Gayo Lues di timur. Wilayah ini termasuk dalam gugusan pegunungan Bukit Barisan.

Aceh Barat Daya yang merupakan pemekaran dari kabupaten induk, yaitu Aceh Selatan karena sudah sepantasnya lah, Aceh Barat Daya menjadi sebuah kabupaten yang otonom karena dari segi kapadatan penduduk, dan segi geografis, Aceh Barat Daya udah saat nya untuk berdiri sendiri untuk menbentuk suatu kabupaten yang otonom bukan semudah membalikkan telapak tangan butuh perjuangan dari sesepuh kita yang telah mengorbankan daya dan upaya sehingga Aceh Barat Daya menjadi sebuah kabupaten yang resmi dari segi hukum dan otonom, dan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata.

Meskipun perubahan di pemerintahan saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an. Kita sepantasnyalah berterama kasih yang sebesar besarnya kepada pendahulu kita yang mungkin sekarang sudah terlupakan situsnya.

Sejarah Asal Usul Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh

Kalimantan Timur atau biasa disingkat Kaltim adalah sebuah provinsi Indonesia di Pulau Kalimantan bagian ujung timur yang berbatasan dengan Malaysia, Kalimantan Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Sulawesi.

Di wilayah Kalimantan Timur ini memiliki Kesenian Tradisional yang cukup banyak, lebih detailnya berikut ini kami merangkumnya spesial hanya untuk Anda :

1. Tari Topeng Kemindu


Tari Topeng Kemindu adalah salah tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini sering disebut juga dengan tari topeng Kutai, hal tersebut digunakan untuk membedakan dengan berbagai jenis tarian tradisional yang ada di berbagai daerah lainnya yang ada di Indonesia.

Dahulu, Tari Topeng Kemindu ini hanya berkembang dikalangan terbatas. Tarian ini hanya dapat dibawakan oleh orang-orang dari strata sosial tertentu, yakni para remaja putri dari kalangan bangsawan yang ada di Kesultanan Kutai.

Seiring waktu, tarian ini mulai diperbolehkan untuk dibawakan oleh masyarakat yang ada di luar lingkungan Keraton. Perubahan ini terjadi dimasa pemerintahan Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II dengan tujuan untuk mempopulerkan dan menjaga kelestarian seni tradisi dari Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

2. Tari Jepen


Kesenian jepen adalah kesenian Melayu Rakyat Kutai Kartanegara, yang muncul pada diiringi alat musik “Gambus“ dan “Ketipung“ atau semacam “Marwas“ serta berbagai alat musik perkusi lainnya.

Tari Jepen adalah tari garapan yang tidak meninggalkan gerak ragam aslinya, yang disebut ragam penghormatan, ragam gelombang, ragam samba setangan, ragam samba penuh, ragam gengsot, ragam anak, dan lain-lain. Eroh dalam bahasa Kutai berarti ramai, riuh dan gembira. Oleh sebab itu, penataan Tari Jepen Eroh ini penuh dengan gerak-gerak yang dinamis dan penuh unsure kebahagiaan.

3. Tari Gantar


Tarian yang menggambarkan gerakan orang menanam padi. Tongkat menggambarkan kayu penumbuk sedangkan bambu serta biji-bijian didalamnya menggambarkan benih padi dan wadahnya.

Tarian ini cukup terkenal dan sering disajikan dalam penyambutan tamu dan acara-acara lainnya.Tari ini tidak hanya dikenal oleh suku Dayak Tunjung namun juga dikenal oleh suku Dayak Benuaq. Tarian ini dapat dibagi dalam tiga versi yaitu tari Gantar Rayatn, Gantar Busai dan Gantar Senak/Gantar Kusak.

4. Tari Kancet Papatai / Tari Perang


Tarian ini menceritakan tentang seorang pahlawan Dayak Kenyah berperang melawan musuhnya. Gerakan tarian ini sangat lincah, gesit, penuh semangat dan kadang-kadang diikuti oleh pekikan si penari. Dalam tari Kancet Pepatay, penari mempergunakan pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dilengkapi dengan peralatan perang seperti mandau, perisai dan baju perang. Tari ini diiringi dengan lagu Sak Paku dan hanya menggunakan alat musik Sampe.

5. Tari Kancet Ledo / Tari Gong


Jika Tari Kancet Pepatay menggambarkan kejantanan dan keperkasaan pria Dayak Kenyah, sebaliknya Tari Kancet Ledo menggambarkan kelemahlembutan seorang gadis bagai sebatang padi yang meliuk-liuk lembut ditiup oleh angin.
Tari ini dibawakan oleh seorang wanita dengan memakai pakaian tradisionil suku Dayak Kenyah dan pada kedua tangannya memegang rangkaian bulu-bulu ekor burung Enggang. Biasanya tari ini ditarikan diatas sebuah gong, sehingga Kancet Ledo disebut juga Tari Gong.

6. Tari Hudoq


Tarian ini dilakukan dengan menggunakan topeng kayu yang menyerupai binatang buas serta menggunakan daun pisang atau daun kelapa sebagai penutup tubuh penari. Tarian ini erat hubungannya dengan upacara keagamaan dari kelompok suku Dayak Bahau dan Modang. Tari Hudoq dimaksudkan untuk memperoleh kekuatan dalam mengatasi gangguan hama perusak tanaman dan mengharapkan diberikan kesuburan dengan hasil panen yang banyak.

7. Tari Hudoq Kita’

Tarian dari suku Dayak Kenyah ini pada prinsipnya sama dengan Tari Hudoq dari suku Dayak Bahau dan Modang, yakni untuk upacara menyambut tahun tanam maupun untuk menyampaikan rasa terima kasih pada dewa yang telah memberikan hasil panen yang baik. Perbedaan yang mencolok anatara Tari Hudoq Kita’ dan Tari Hudoq ada pada kostum, topeng, gerakan tarinya dan iringan musiknya.

Kostum penari Hudoq Kita’ menggunakan baju lengan panjang dari kain biasa dan memakai kain sarung, sedangkan topengnya berbentuk wajah manusia biasa yang banyak dihiasi dengan ukiran khas Dayak Kenyah. Ada dua jenis topeng dalam tari Hudoq Kita’, yakni yang terbuat dari kayu dan yang berupa cadar terbuat dari manik-manik dengan ornamen Dayak Kenyah.

8. Tari Belian Bawo

Upacara Belian Bawo bertujuan untuk menolak penyakit, mengobati orang sakit, membayar nazar dan lain sebagainya. Setelah diubah menjadi tarian, tari ini sering disajikan pada acara-acara penerima tamu dan acara kesenian lainnya.
Tarian ini merupakan tarian suku Dayak Benuaq.

9. Tari  Kancet Tebengang Madang (Tari Burung Enggang).

Kancet Tebengang Madang yang dalam bahasa Indonesia berarti Tari Enggang Terbang. Tarian ini berasal dari Suku Dayak Kenyah yang menggambarkan perpindahan mereka dari Apau Kayan secara menyebar keseluruh wilaayah di Kalimantan Timur, demi mencari kehidupan yang lebih baik.

Dimana burung enggang selalu mengikuti pemimpinnya, begitu juga dengan suku Dayak Kenyah, yang selalu menuruti apa perintah pemimpinnya. Burung enggang juga merupakan symbol perdamaian. Tarian ini diawali dengan “lemaloq” yang merupakan syair dalam bahasa Dayak Kenyah bercerita tentang perjalanan mereka. Tarian ini dibawakan dengan lemah gemulai oleh gadis–gadis Dayak laksana burung enggang yang sedang terbang.

10. Tari Sumpit Beracun

Tarian ini belum banyak di ekspos, belum banyak di ketahui bahkan belum menjadi sajian utama dalam atraksi seni budaya Dayak di desa Pampang.  Ibarat menu masakan tari menyumpit/tari berburu ini adalah menu khusus atau menu bonus.  Penyebabnya adalah sebagian besar warga enggan untuk menanpilkan kemahiran menyumpit tersebut dalam sebuah tarian, karena sumpit dianggap sebagai senjata rahasia.

Namun demikian dalam setiap penampilannya, Tari sumpit menjadi tarian yang paling menarik dan membuat detak jantung para pengunjung berdegub kencang.

Tari menyumpit / Tari berburu menceritakan pamuda dayak  dalam membela diri dengan senjata khas yaitu MANDAU,  dilanjutkan dengan kepiawaian berburu di hutan dengan senjata sumpit ( tombak panjang, berlubang didalamnya ).
Pengunjung akan melihat secara langsung bagaimana senjata sumpit di gunakan, bagaimana anak-anak sumpit tersebut bisa menancap pada batang-batang kayu ulin. Kalo lagi beruntung pengunjung akan diminta untuk mencoba meniup sumpit tersebut ke sasaran yang telah disiapkan.

11. Tari Kancet Punan Letto


Tari Punan Letto adalah tari tradisional Kalimantan Timur, kata “Punan” artinya merebut, “letto” artinya gadis/wanita. Tarian ini memang menceritakan tentang dua orang pemuda yang sama-sama menyukai seorang gadis dan memperebutkannya. Pemuda yang mempertahankan gadisnya dengan gagah berani akhirnya memenangkan pertarungan tersebut. Sudah merupakan sifat suku Dayak Kenyah, untuk memepertahankan miliknya apa pun itu bentuknya.

12. Tari Leleng

Tarian Leleng merupakan tarian tradisional Kalimantan Timur. Kata "Leleng" dalam bahasa Kenyah berarti berputar-putar. Adalah Utan Along (sebutan untuk seorang gadis yatim), yang sedang bimbang karena kekasihnya pergi dan belum kembali. Berputar-putar melambangkan kebimbangan. Layaknya orang yang sedang kebingungan lalu mondar mandir. Begitu juga dengan Utan Along. Oleh sebab itu dinamakan Leleng. Tarian ini diiringi oleh nyanyian leleng. Dalam nyanyian itu menceritakan tentang Utan Along.

13. Tari Ngelewai

Tarian tradisional Ngelewai merupakan tarian tradisional yang  diiringi musik “Rendete” yaitu musik khas suku Dayak Tonyoi-Benuaq. Tarian NGelewai  ini dibawakan oleh gadis-gadis cantik dengan memakai selendang dengan lemah gemulai. Mereka menari laksana kupu-kupu yang sedang terbang mencari kembang untuk dihisap madunya. Tarian ini juga biasa dibawakan sebagai tarian menyambut tamu dan acara sukacita.

14. Tari Ganjur

Tari Ganjur adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Tarian ini merupakan salah satu tarian penting didalam rangkaian Festival Erau, dimana tarian ini dibawakan setiap malam sebagai bagian dari rangkaian ritual bepelas. Selain di Festival Erau, tarian ini juga dapat ditemukan didalam seremoni penyambutan para tamu agung, upacara penobatan Sultan Kutai, dan juga acara sakral lainnya.

Tari Ganjur ini biasanya dibawakan oleh para penari pria dan wanita yang berasal dari kalangan dalam Keraton Kutai. Tarian ini dicirikan dengan sejenis gada kayu yang berlapis kain atau yang sering disebut dengan ganjur. Ganjur ini dimainkan oleh 2 (dua) penari pria secara berpasangan dengan gerakan seolah-olah akan saling menyerang. Selain ganjur, biasanya digunakan pula kipas sebagai perlengkapan bagi penari wanita.

15. Tari Persembahan Kutai

Tari Persembahan Kutai adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur. Dahulu, tarian persembahan hanya bisa ditemukan di lingkungan Keraton Kesultanan Kutai Kartanegara. Tarian ini dibawakan secara khusus oleh putri putri Keraton didalam suatu upacara penyambutan resmi dengan diiringi alat musik gamelan. Tidak ada batasan yang jelas mengenai jumlah para penari dalam tarian ini, tapi dipercaya bahwa semakin banyak jumlah para penari, maka akan semakin baik. Seiring waktu, tarian ini lalu diperbolehkan untuk ditarikan oleh kalangan dari luar Keraton supaya tetap lestari sebagai bagian dari warisan kebudayaan Kutai.

16. Tari Datun Julud

Tarian Datun Julud adalah salah satu tarian tradisional yang berasal dari kalangan masyarakat Kayan atau Kenyah yang mendiami pedalaman Kutai, Berau, Bulungan, dan Pasir yakni kawasan persempadanan antara Sarawak dan Provinsi Kalimantan Timur.

Tarian ini biasanya dibawakan di hari-hari besar ataupun untuk merayakan kedatangan para pelawat ke rumah panjang, terutama para pelancong dari luar negeri.
Tari Datun Julud merupakan tarian wajib bagi suku dayak kenyah. Karena di dalam upacara apa saja tarian datun julud ini selalu dihadirkan, seperti pada upacara adat mecaq undat ataupun pesta panen. Bahkan dapat sehari penuh jika merayakan kemenangan di dalam peperangan.

17. Mamanda

Mamanda merupakan seni panggung (teater), kesenian klasik Melayu (setengah musical/opera) dengan menggunakan instrument Biola dan Gendang. Tema cerita yang dibawakan biasanya tentang kisah para raja.

18. Sholawat Hadrah

Merupakan kesenian islam yang ditampilkan dengan iring-iringan rebana/terbang (alat perkusi) sambil melantunkan syair-syair serta pujian terhadap akhlak mulia Nabi Muhammad SAW, yang disertai dengan gerak tari. Terdiri dari 2 kelompok, kelompok penabuh hadrah dan kelompok yang melantunkan syair berjanji. Hadrah biasa dipakai pada acara perkawinan, mengantar orang berangkat haji, hari-hari besar islam dan lain sebagainya.

19. Teater

Teater adalah cabang dari seni pertunjukan yang berkaitan dengan akting/seni peran di depan penonton dengan menggunakan gabungan dari ucapan, gestur (gerak tubuh), mimik, boneka, musik, tari dan lain-lain.

20. Sandiwara Tingkilan (Sangkilan)


Setidaknya ada tiga budaya Kalimantan Timur tumbuh berkembang secara berdampingan satu sama lain.  Ragam budaya itu di antaranya budaya pantai atau pesisir, budaya pedalaman dann budaya Istana (keraton atau peninggalan zaman kerajaan).

Budaya pantai atau pesisir umumnya mempunyai ciri-ciri identik dengan rumpun budaya melayu muda.  dan budaya pedalaman umumnya mempunyai ciri-ciri berupa tradisi suku-suku  bangsa pedalaman di wilayah Kalimantan Timur. Sangkilan (SandiwaraTingkilan) bersumber dari seni budaya pantai atau pesisir yakni seni musik tingkilan, tari jepen dan tarsul yang dipadukan dengan Sandiwara Komedi.

Sebagaimana diketahui teater tradisional sering juga disebut sebagai teater daerah, Indonesia yang luas daerahnya dan mempunyai sifat Bhineka Tunggal as aneIka  (berbeda beda tetap satu), terdiri atas aneka ragam suku bangsa yang mempunyai corak kebudayaan yanagn beragam pula, sehingga melahirkan kesenian dengan corak yang berbeda pula.

Itulah 20 kesenian tradisional asal provinsi Kalimantan Timur Indonesia.

Daftar 20 Kesenian Tradisional Asal Kalimantan Timur, Indonesia

Kalimantan Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia yang terletak di Pulau Kalimantandengan ibu kota Provinsi Kota Pontianak.

Kalimantan Barat termasuk salah satu daerah yang dapat dijuluki provinsi "Seribu Sungai". Julukan ini selaras dengan kondisi geografis yang mempunyai ratusan sungai besar dan kecil yang di antaranya dapat dan sering dilayari. Beberapa sungai besar sampai saat ini masih merupakan urat nadi dan jalur utama untuk angkutan daerah pedalaman, walaupun prasarana jalan darat telah dapat menjangkau sebagian besar kecamatan.

Kalimantan Barat berbatasan darat dengan negara bagian Sarawak, Malaysia. Walaupun sebagian kecil wilayah Kalimantan Barat merupakan perairan laut, akan tetapi Kalimantan Barat memiliki puluhan pulau besar dan kecil (sebagian tidak berpenghuni) yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Di kawasan Kalimantan Barat terdapat banyak kesenian tradisional dan kerajinan yang masih menyatu dengan masyarakatnya, berikut ini kami merangkum beberapa kesenian dan kerajinan yang berasal dari Kalimantan bagian Barat :

A. KESENIAN


1. Tari Kinyah Uut Danum


Tarian ini memperlihatkan keberanian dan juga teknik bela diri pada saat berperang. Sesuai dengan namanya, bahwa tarian ini berasal dari sub suku dayak uut danum yang ada di Provinsi Kalimantan Barat. Tari Kinyah Uut Danum ini awalnya merupakan tarian untuk persiapan fisik sebelum mengayau, yakni tradisi pemburuan kepala musuh yang dilakukan oleh suku dayak zaman dahulu. 

Tarian ini untuk menunjukan kesiapan dari para laki laki dayak uut danum untuk dilepaskan dihutan untuk mengayau. Hampir semua dari sub suku dayak memiliki tarian perang yang seperti ini. Namun setiap sub suku dayak tentunya mempunyai teknik membunuh rahasia. Suku dayak uut danum ini sendiri dikenal dengan gerakan dan juga teknik yang berbahaya dalam membunuh para musuhnya.

Seiring perkembangan zaman, tradisi mengayau ini berakhir pada saat perjanjian tumbang anoi. Perjanjian tumbang anoi ini merupakan perjanjian damai, dimana para pemimpin setiap sub suku dayak di Provinsi Kalimantan berkumpul dan melakukan perjanjian damai. Setelah adanya perjanjian damai itu, tradisi mengayau ditinggalkan dan tari kinyah mulai dijadikan sebagai tarian tradisional. 

Selain itu juga tarian ini untuk memperingati sejarah serta keberanian laki laki dayak zaman dahulu. Selengkapnya tentang tari kinyah uut danum dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Kinyah Uut Danum, Tarian Perang Dari Kalimantan Barat".

2. Tari Monong


Tarian Monong ini pada awalnya merupakan tarian penyembuhan yang dilakukan oleh para dukun suku Dayak dengan membacakan mantra sambil menari. Dalam tarian ini juga diikuti oleh anggota keluarga dari yang sakit dan dipimpin oleh seorang dukun. Tarian Monong ini merupakan ritual yang dilakukan untuk memohon penyembuhan kepada Tuhan supaya warga yang sakit diberikan kesembuhan. 

Namun dengan seiring perkembangan zaman, tarian ini tidak hanya digunakan sebagai tarian penyembuhan saja, tetapi juga sebagai sarana hiburan dan pelestarian kesenian tradisional suku Dayak. Selengkapnya tentang tari monong dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Monong, Tarian Tradisional Suku Dayak di Kalimantan Barat".

3. Tari Pingan

Tari Pingan merupakan tarian tradisional yang bersifat hiburan untuk rakyat. Dalam bahasa Dayak Mualang, kata "pingan" dalam nama tarian ini artinya adalah piring yang terbuat dari bahan dasar batu atau dari tanah liat. Sesuai dengan namanya, dalam pertunjukannya para penari akan memakai piring sebagai propertinya.


Tari Pingan ini terbagi menjadi 2 (dua) jenis yaitu Tari Pingan inok (wanita) dan juga Tari Pingan laki (laki-laki). Perbedaan dari kedua jenis ini adalah pada gerakannya, dimana gerakan tersebut memiliki tingkat kesulitan yang berbeda pada gerakan atraksinya. 

Dalam hal tersebut Tari Pingan laki memiliki tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan Tari Pingan inok. Selengkapnya tentang tari pingan dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Pingan, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Barat".

4. Tari Jonggan

Tarian ini menggambarkan suka cita dan juga kebahagiaan didalam pergaulan masyarakat dayak. Tarian Jonggan merupakan salah satu tarian tradisional yang berasal dari kebudayaan masyarakat suku Dayak kanayant di Provinsi Kalimantan Barat.


Nama jonggan ini sendiri diambil dari bahasa dayak yang artinya joget atau menari. Selengkapnya tentang tari jonggan dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tarian Jonggan, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Barat".

5. Tari Bopureh

Tarian ini merupakan tari kreasi yang menceritakan sebuah kisah cinta pemuda Suku Dayak Jangkang dengan seorang gadis Kanayan yang terhalang oleh adat. Dalam bahasa Jangkang, bopureh ini mengandung arti silsilah. Tari Bopureh ini coba menggambarkan silsilah adat memisahkan tali kasih yang telah terikat erat antara dua sejoli.

Sebagai garapan seni kreasi, tari bopureh ini tidak lepas dari unsur-unsur estetika tari tradisional Dayak pada lainnya. Misalnya pada busana. Penari bopureh ini masih mengenakan pakaian adat Suku Dayak Provinsi Kalimantan Barat, namun yang telah dimodifikasi dibeberapa bagiannya. 

Perlengkapan mahkota burung tingang yang dikenakan oleh pria penari semakin memperkental identitas dari tari bopureh sebagai bagian dari kesenian pertujukan Suku Dayak. Selengkapnya tentang tari bopureh dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Bopureh, Tarian Tradisional Dari Kalimantan Barat".

6. Tari Jepin

Tari Jepin adalah kesenian tradisional yang berasal dari Kalimantan Barat yang diadaptasi dari kesenian melayu, agama islam, dan juga budaya lokal. Tarian ini merupakan salah satu media penyebaran dari agama Islam di Provinsi Kalimantan Barat. Tari Jepin merupakan kesenian tari gerak dan lagu yang memiliki arti disetiap gerakannya.

Menurut beberapa sumber sejarah yang ada. Tari Jepin ini awalnya merupakan kesenian yang menjadi media dakwah didalam penyebaran agama islam pada abad ke-13. Tarian ini pada awalnya ditampilkan di daerah Sambas Provinsi Kalimantan Barat. 

Kemudian menyebar dan juga berkembang ke berbagai daerah di Provinsi Kalimantan Barat. Selengkapnya tentang tari jepin dapat anda lihat pada artikel berjudul "Tari Jepin, Tarian Tradisional Dari Provinsi Kalimantan Barat".

7. Tari Pedang Mualang

Tari Pedang Mualang adalah sebuah tarian tunggal tradisional yang umumnya dipentaskan untuk menghibur masyarakat, seperti acara Gawai Belaki Bini (pesta pernikahan), acara Gawai Dayak (pesta panen padi), dan acara lainnya. Dalam pertunjukannya, tarian ini lebih mengedepankan gerakan yang sangat aktraktif dengan memakai pedang sebagai propertinya.

Di masa lalu, tarian ini dilakukan oleh para kesatria untuk mendatangkan rasa semangat dan kepercayaan dalam berperang sebelum melaksanakan ekspedisi Mengayau. 

Hal tersebut berguna untuk memperkuat kepercayaan mereka bahwa mereka harus menang didalam melawan baik itu serangan maupun dalam menyerang lawannya. Tarian ini umumnya akan diiringi oleh tebah tradional yang disebut dengan tebah Undup Banyur, namun ada kalanya juga dilakukan dengan Tebah Undup Biasa.

8. Wayang Gantung

Wayang  memang banyak jenisnya. Salah satunya, wayang gantung. Namanya hampir tidak pernah kedengaran lagi. Salah seorang kakek Chin Nen Sin di Desa Lirang, Singkawang Selatan masih menyimpan boneka wayang gantung asli dari Cina.

Pertunjukkan wayang gantung dimainkan oleh 112 orang. Semua pemainnya adalah kakek-kakek. Hmm, generasi muda belum banyak yang tahu tentang pertunjukkan wayang ini. Jadilah, kakek-kakek yang paling menguasainya.

Pertunjukkan wayang gantung diiringi dengan kecapi dan lagu Mandarin. Selain itu, ceritanya juga dituturkan dalam bahasa Cina.

B. KERAJINAN


1. Kerajinan Tenun

Kain Tenun Tradisional terdapat di beberapa daerah, di antaranya:

  • Tenun Daerah Songket SambasTenun Belitang daerah Kumpang Ilong Kabupaten Sekadau ( Dayak Mualang / Ibanik )
  • Tenun Ensaid Panjang Kabupaten Sintang ( Dayak Desa / Ibanik)
  • Tenun Kapuas Hulu ( Iban dan Kantuk / Kelompok Ibanik )
  • Sulam Kalengkang khas suku Melayu Kabupaten Sanggau

2. Kerajinan Anyam Manik

Anyam Manik kelompok Dayak Banuaka Group:

Anyam baju adat Dayak Taman, tamambaloh, peniung, Kalis ( baju Manik dan baju Burik)

3. Kerajinan Anyam Rotan

Bakul, keranjang, Kelayak, Tudung Saji, ambinan, dsb. tersebar di Pontianak, Landak, Sanggau, Sekadau, Sintang, Kapuas hulu.

4. Kerajinan Tangan Lainnya

Berbagai macam kerajinan tangan dapat diperoleh dari daerah ini, misalnya:
  • Tikar Lampit, di Pontianak dan daerah Bengkayang, Sintang, Kapuas Hulu, Ketapang. 
  • Bidai ( bahasa Ibanik ) atau bide (bahasa Kanayatn Group) tersebar hampir disebagian suku Dayak baik di Indonesia maupun di Serawak, bidai merupakan tikar tradisional Dayak, terdapat di Bengkayang, Sekadau, Kapuas Hulu, Serawak ( pada komunitas Dayak Iban) 
  • Ukir-ukiran, perisai, mandau dan lain-lain terdapat di Pontianak dan Kapuas Hulu. 
  • Kacang Uwoi (tikar rotan bermotif) khas suku Dayak Uut Danum. 
  • Takui Darok (caping lebar bermotif) khas suku Dayak Uut Danum.

Sumberkamerabudaya.com dan Wikipedia

Daftar Kesenian dan Kerajinan Tradisional Asal Kalimantan Barat, Indonesia

Provinsi Aceh yang terletak di ujung pulau Sumatera adalah salah satu wilayah di Indonesia yang paling menonjol dalam hal kebudayaan. Melalui sejarah yang begitu panjang, di daerah yang dikenal dengan sebutan Serambi Mekkah ini tercipta budaya yang khas mewakili identitas masyarakatnya.

Dan berikut ini merupakan daftar kesenian tradisional yang berasal dari Provinsi Banda Aceh :

1. Tari Saman


Tari tradisional ini dulunya adal tarian etis suku Gayo, ras gayo merupakan ras tertua di pesisir aceh saat itu, tujuan utama tari saman adalah sebagai media untuk penyebaran Agama Islam, islam masuk ke Aceh disesuaikan dengan adat istiadat daerah tersebut.

Sehingga penyebaran Islam di Aceh tidak mendapat penolakan, bahkan bisa dikatakan daerah yang paling mudah memeluk Islam, karena budaya Aceh tidak bertentangan dengan ajaran Islam, hanya memerlukan sedikit polesan budaya islam sudah sesuai dengan ajaran Islam. Tari saman dimainkan oleh 9 Orang karena jumlahnya harus Ganjil, tari saman bahkan sudah populer ke tingkat Internasional, bukan hanya Nasional.

2. Tari Likok Pulo


Tari Likok Pulo adalah tarian tradisi oleh masyarakat di Pulau Aceh. Dibawakan dengan duduk memanjang posisi selang seling atas bawah. Setiap gerakan biasanya memuat nasehat-nasehat yang disampaikan melalui syair.

3. Tari Seudati


Tari Seudati. Aceh merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki cukup banyak ragam kebudayaan dengan sebagian besarnya masih sarat akan nilai-nilai Islam.

4. Tari Laweut Aceh


Tarian Laweut adalah tarian yang berasal dari daerah Pidie, Laweut asl kata dari Shalawat yang merupakan kata pujian kepada Nabi Muhammad Sallallahu'alaihi wasallam. Tarian Laweut ini dulunya diberi nama Tarian Seudati dengan jumlah delapan (8) orang personil, sama dengan tari Saman.

Tari Laweut ini juga sudah go Internasional namun sama-sama tidak terlalu Femiliar lagi dikalangan Masyarakat, hanya sedikit Masyarakat Aceh yang mengenal Tari Laweut. Bisa dikatakan yang masih mempertahankan kesenian Aceh adalah kalangan Seniman asli Aceh, itupun yang memang mencintai dan menghargai kesenian Aceh.

5. Tarek Pukat


Tari tarek pukat berasal dari para nelayan Aceh, asal muasal tari tarek pukat juga sangat unik. pada saat itu banyak Masyarakat Aceh kesulitan kesulitan terhadap ikan, karena para nelayan tidak mendapatkan ikan pada saat penagkapan, sehingga Masyarakat pada saat itu berkesimpulan bergotong-royong mencari ikan, dan Alhamdulillah hasi tangkapannya luar biasa.

Setelah ikan berhasil di tangkap dan Masyarakat menikmati hasil jerih payah mereka, kemudian mereka mengadakan rapat untuk mengadakan pesta, pada saat rapat mereka berkesimpulan akan mengadakan suatu pesta yang menggambarkan tentang kebersamaan para Nelayan.

Dari hasil rapat maka terpilihlah nama acara "Tari Tarek Pukat", tari tarek pukat tersebut rupanya bisa menghipnotis berbagai kalangan pada saat itu. Tari Tarek Pukat sangat bernuansa tradisonal, sehingga sangat mudah masuk ke berbagai kalangan, jumlah personil tujuh (7) orang juga mengambarkan bahwa tari tarek pukat penuh kebersamaan, sehingga sangat wajar tari tarek pukat terkenal sampai kedunia Internasional.

6. Tari Bines

Tarian Banes ini berasal dari daerah Gayo Lues, dengan jumlah personil harus genap, bisa 10 atau 12 orang dengan gaya tari mulai dari lambat, sedang sampai dengan cepat hingga berhenti serentak.

7. Tari Didong

Tari didong merupakan kesenian dari hasil gabungan beberapa Tari, Vokal, dan Sastra, pencetus utamanya adalah : Abdul Kadir To’et. Tari ini berasal dari Bener Meriah dan Aceh tengah.

8. Rapai Geleng

Tarian ini berasala dari Aceh Selatan, kemudian di kembangkan oleh seorang Anonim. Tari Rapai Geleng di mainkan oleh para lelaki, karena alatnya dan modelnya memberatkan para Wanita.

9. Tari Ula ula lembing

Tarian ini bernuansa Arab, dengan model dan cara memainkannya yang mirip tradisi arab, hingga pakain juga bernuasa Arab. Tari Ula Ula Lembing dulu sangat Populer dikalangan Masyarakat Aceh, karena tarian tersebut merupakan tarian yang dipakai untuk ritual adat dan acara Pernikahan.

10. Tari Ratoh Duek Aceh

Tarian ini dipopulerkan oleh para Wanita sebagai ganti Tari Saman, karena setelah Tari Saman diakui oleh UNESCO sebagai Budaya Warisan Manusia, para wanita tidak diperbolehkan lagi memainkan tari saman. Pada saat itu para seniman perempuan asal aceh berusaha mencari jalan keluar, mereka mencetuskan ide dengan sedikit memodifkasi Tari Saman, dan Mendeklarasikan Tari Ratoh Duek Aceh sebagai kesenian baru di Aceh yang hampir-hampir mirip dengan Tari Saman, cuma pesertanya adalah perempuan.

Sekedar informasi Nama Ratoeh berasal dari bahasa Arab yaitu Rateb. Jumlah personuil Tari Ratoh Duek Aceh juga berbeda, yaitu genap berbeda dengan tari saman yang berjumlah ganjil. Tari tersebut juga menggunakan rebana sebagai alat musik, juga behasa aceh sebagai ca e.

11. Tari Pho

Tari Pho berasal dari kata peubae, dalam bahasa aceh adalah penghormatan. Tari ini adalah simbol kesedihan, asal muasal tari tersebut penuh dengan misteri, dimana pada saat itu ada seorang anak yatim piatu yang cantik jelita tinggal dirumah kakak ibunya, kakak ibunya juga mempunyai seorang anak laki-laki yang ganteng dan rupawan.

Pada suatu saat ada seorang yang iri terhadap mereka, sehingga difitnah mereka berdua melakukan zina, hukuman zina pada saat itu adalah hukuman mati, dan merekapun dihukum mati. Setelah kejadian tersebut Ibu laki-laki tadi menari-nari untuk mengekspresikan kesedihannya hingga lahirlah Tari pho.

Itulah beberapa ragam kesenian tradisional asla Provinsi Banda Aceh Indonesia.

Sumberhttps://steemit.com/budayakan/@safwaninisam/kesenian

Daftar 11 Kesenian Tradisional Asal Banda Aceh, Indonesia

Berikut ini adalah data tentang beberapa jenis kebudayaan yang dimiliki dan menjadi ciri khas masyarakat Propinsi Sumatera Selatan:

1. TARI GENDING SRIWIJAYA


Tari ini ditampilkan secara khusus untuk menyambut tamu-tamu agung seperti kepala Negara, Duta Besar dan Tamu-tamu agung lainnya.

Tari Gending Sriwijaya Hampir sama dengan tari Tanggai, perbedaannya terletak pada penggunaan tari jumlah penari dan perlengkapan busana yang dipakai. Penari Gending Sriwijaya seluruhnya

2. TARI TANGGAI


Tari tanggai dibawakan pada saat menyambut tamu-tamu resmi atau dalam acara pernikahan. Umumnya tari ini dibawakan oleh lima orang dengan memakai pakaian khas daerah seperti kaian songket, dodot, pending, kalung, sanggul malang, kembang urat atau rampai, tajuk cempako, kembang goyang dan tanggai yang berbentuk kuku terbuat dari lempengan tembaga.

Tari ini merupakan perpaduan antara gerak yang gemulai busana khas daerah para penari kelihatan anggun dengan busana khas daerah. Tarian menggambarkan masyarakat palembang yang ramah dan menghormati, menghargai serta menyayangi tamau yang berkunjung ke daerahnya

3. TARI TENUN SONGKET

Tari ini menggambarkan kegiatan remaja putri khususnya dan para ibu rumah tangga di Palembang pada umumya memanfaatkan waktu luang dengan menenun songket

4. TARI RODAT CEMPAKO

Tari ini merupakan tari rakyat bernafaskan islam. Gerak dasar tari ini diambil dari Negara asalnya Timur Tengah, seperti halnya dengan tari Dana Japin dan Tari Rodat Cempako sangat dinamis dan lincah

5. TARI MEJENG BESUKO

Tari ini melukiskan kesukariaan para remaja dalam suatu pertemuan mereka .Mereka bersenda gurau mengajuk hati lawan jenisnya.

Bahkan tidak jarang diantara mereka ada yang jatuh hati dan menemukan jodohnya melalui pertemuan seperti ini

6. TARI MADIK (NINDAI)

Masyarakat Palembang mempunyai kebiasaan apabila akan memilih calon, orang tua pria terlebih dahulu dating kerumah seorang wanita dengan maksud melihat dan menilai (madik dan nindai) gadis yang dimaksud.

Hal yang dinilai atau ditindai itu, antara lain kepribadiannya serta kehidupan keluarganya sehari-hari. Dengan penindaian itu diharapkan bahwa apabila si gadis dijadikan menantu dia tidak akan mengecewakan dan kehidupan mereka akan berjalan langgeng sesuai dengan harapan pihak keluarga mempelai pria

7. DUL MULUK

Dul muluk adalah salah satu kesenian tradisional yang ada di Sumatera Selatan biasanya seni Dul Muluk ini dipentaskan pada acara yang bersifat menghibur, seperti pada acara : pernikahan pergelaran tradisional dan panggung hiburan.

8. Bangsawan

Merupakan bentuk teater tradisional yang lahir sesudah kehadiran teater Dul Muluk da n mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

a) Sumber cerita bebas namun bersifat istana sentries;
b) Sifat cerita tragedy (sedih);
c) Pemeran cerita diperankan oleh jenis kelamin sesungguhnya; dan
d) Latar belakang cerita disesuaikan dengan kebutuhan cerita.

9. Tenun Songket

Tenun yang dilakukan oleh masyarakat Sumatera Selatan ialah menenun kain songket yang merupakan kain khas yang dimiliki oleh Sumatera Selatan dan biasanya digunakan dalam acara-acara adat yang sakral, seperti pernikahan dan sebagainya.

Itulah beberapa kesenian tradisional masyarakat Sumatera Selatan.

Sumber : diansilva2.blogspot.com & www.fbrs14.com

Daftar 9 Kesenian Tradisional Asal Sumatera Selatan

Subscribe Our Newsletter