Sejarah Asal Usul Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh - Kuwaluhan.com
Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002.

Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.

SEJARAH KABUPATEN ACEH BARAT DAYA


Di ambil Dari beberapa sumber, kabupaten Aceh Barat Daya merupakan sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.

Kabupaten ini memiliki banyak sebutan di antaranya: Tanoh Breuh Sigupai, Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Tanoh Mano Pucok, Bumi Cerana, Alue Malem Dewa dan sebagainya.

Aceh Barat Daya dihuni oleh multietnis seperti Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang dan Aceh. Buku “Negeri Dan Rakyat Aceh Barat Daya Dalam Lintasan Sejarah” menuliskan keterangan asal muasal penduduk Aceh Barat Daya memang orang Minangkabau dan Aceh. Namun, sebelum orang Minangkabau dan Aceh datang, di Aceh Barat Daya telah bermukim suku Batak.

Keberadaan suku ini dikaitkan dengan keberadaan sebuah gua di pedalaman Blangpidie. Gua itu disebut Guha Batak. Setelah itu, koloni orang Batak dikalahkan oleh para pendatang baru: dari Minangkabau dan Aceh. Tidak dijelaskan secara detil maksud “dikalahkan” di sini. Kemungkinan, terjadi perang kecil untuk merebut daerah kekuasaan.

Orang Minangkabau diprediksi datang ke pantai barat daya Aceh sekitar abad 17. Faktor kedatangan mereka karena Belanda menduduki Sumatera Barat pada 1663 setelah adanya Perjanjian Painan atau Traktat Painan. Sumatera Barat yang dimaksud dalam buku itu dipimpin Kerajaan Pagaruyung.

Di Lama Wikipedia disebutkan, Kerajaan Pagaruyung berdiri sejak 1500 hingga 1825.

Sebelum ada Traktat Painan, Pagaruyung tunduk di bawah Kerajaan Aceh. Serikat Dagang Belanda (VOC) pun mengontrol perdagangan lada ketika itu. Setelah Perjanjian Painan, baik Kerajaan Aceh maupun sebagian orang Minangkabau tidak mau lagi tunduk pada Belanda.

Orang-orang Minang itu merantau ke pantai Barat Daya Aceh. Sebagian di antara mereka membangun koloni di Susoh, Meulaboh, dan tempat lain. Bersamaan dengan tibanya orang Minang, datang pula orang Aceh Besar dan Pidie yang bermaksud membuka perkebunan atau seuneubok lada. Hingga awal abad 19, lada merupakan komoditi ekspor yang penting di Aceh.

Namun, catatan akhir buku itu juga menuliskan, kedatangan orang Aceh ke pantai barat pernah menimbulkan peperangan dengan para pemukim Minangkabau. Perang itu terjadi pada awal abad 18. Tidak secara jelas disebutkan di mana lokasi peperangan itu karena bagian tersebut dikutip dari Hikajat Potjul Muhammad.

Selanjutnya, koloni Minangkabau dan Aceh itu membangun komunitas mereka. Tempat yang menjadi pilihan adalah muara-muara sungai seperti Lama Tuha, Kuala Batu, Susoh, Suak, Lhok Pawoh dan Pasi Manggeng. Lama kelamaan, tempat-tempat ini menjelma menjadi pelabuhan-pelabuhan penting di Barat Daya Aceh kala itu.

Kabupaten Aceh Barat Daya Ibukota Blangpidie merupakan sebuah kabupaten di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kabupaten Aceh Barat Daya diresmikan Tanggal 10 April 2002 (hari jadi) , Sebagai kabupaten otonom yang terpisah dari Aceh Selatan selaku kabupaten induknya, melalui UU No.4 tahun 2002.

Kabupaten ini dibatasi oleh Gayo Lues di utara, Aceh Selatan dan Samudera Hindia di selatan, Nagan Raya di barat dan Gayo Lues di timur. Wilayah ini termasuk dalam gugusan pegunungan Bukit Barisan.

Aceh Barat Daya yang merupakan pemekaran dari kabupaten induk, yaitu Aceh Selatan karena sudah sepantasnya lah, Aceh Barat Daya menjadi sebuah kabupaten yang otonom karena dari segi kapadatan penduduk, dan segi geografis, Aceh Barat Daya udah saat nya untuk berdiri sendiri untuk menbentuk suatu kabupaten yang otonom bukan semudah membalikkan telapak tangan butuh perjuangan dari sesepuh kita yang telah mengorbankan daya dan upaya sehingga Aceh Barat Daya menjadi sebuah kabupaten yang resmi dari segi hukum dan otonom, dan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata.

Meskipun perubahan di pemerintahan saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an. Kita sepantasnyalah berterama kasih yang sebesar besarnya kepada pendahulu kita yang mungkin sekarang sudah terlupakan situsnya.

Sejarah Asal Usul Kabupaten Aceh Barat Daya, Provinsi Aceh

Kabupaten Aceh Barat Daya adalah salah satu kabupaten di Provinsi Aceh, Indonesia. Kabupaten ini resmi berdiri setelah disahkannya Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2002.

Kabupaten yang sering disingkat dengan singkatan "ABDYA" ini merupakan pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan.

SEJARAH KABUPATEN ACEH BARAT DAYA


Di ambil Dari beberapa sumber, kabupaten Aceh Barat Daya merupakan sebagai hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata. Meskipun perubahan pemerintahan nasional saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an.

Kabupaten ini memiliki banyak sebutan di antaranya: Tanoh Breuh Sigupai, Bumoe Teungku Peukan, Bumi Persada, Tanoh Mano Pucok, Bumi Cerana, Alue Malem Dewa dan sebagainya.

Aceh Barat Daya dihuni oleh multietnis seperti Aneuk Jamee yang berarti tamu atau pendatang dan Aceh. Buku “Negeri Dan Rakyat Aceh Barat Daya Dalam Lintasan Sejarah” menuliskan keterangan asal muasal penduduk Aceh Barat Daya memang orang Minangkabau dan Aceh. Namun, sebelum orang Minangkabau dan Aceh datang, di Aceh Barat Daya telah bermukim suku Batak.

Keberadaan suku ini dikaitkan dengan keberadaan sebuah gua di pedalaman Blangpidie. Gua itu disebut Guha Batak. Setelah itu, koloni orang Batak dikalahkan oleh para pendatang baru: dari Minangkabau dan Aceh. Tidak dijelaskan secara detil maksud “dikalahkan” di sini. Kemungkinan, terjadi perang kecil untuk merebut daerah kekuasaan.

Orang Minangkabau diprediksi datang ke pantai barat daya Aceh sekitar abad 17. Faktor kedatangan mereka karena Belanda menduduki Sumatera Barat pada 1663 setelah adanya Perjanjian Painan atau Traktat Painan. Sumatera Barat yang dimaksud dalam buku itu dipimpin Kerajaan Pagaruyung.

Di Lama Wikipedia disebutkan, Kerajaan Pagaruyung berdiri sejak 1500 hingga 1825.

Sebelum ada Traktat Painan, Pagaruyung tunduk di bawah Kerajaan Aceh. Serikat Dagang Belanda (VOC) pun mengontrol perdagangan lada ketika itu. Setelah Perjanjian Painan, baik Kerajaan Aceh maupun sebagian orang Minangkabau tidak mau lagi tunduk pada Belanda.

Orang-orang Minang itu merantau ke pantai Barat Daya Aceh. Sebagian di antara mereka membangun koloni di Susoh, Meulaboh, dan tempat lain. Bersamaan dengan tibanya orang Minang, datang pula orang Aceh Besar dan Pidie yang bermaksud membuka perkebunan atau seuneubok lada. Hingga awal abad 19, lada merupakan komoditi ekspor yang penting di Aceh.

Namun, catatan akhir buku itu juga menuliskan, kedatangan orang Aceh ke pantai barat pernah menimbulkan peperangan dengan para pemukim Minangkabau. Perang itu terjadi pada awal abad 18. Tidak secara jelas disebutkan di mana lokasi peperangan itu karena bagian tersebut dikutip dari Hikajat Potjul Muhammad.

Selanjutnya, koloni Minangkabau dan Aceh itu membangun komunitas mereka. Tempat yang menjadi pilihan adalah muara-muara sungai seperti Lama Tuha, Kuala Batu, Susoh, Suak, Lhok Pawoh dan Pasi Manggeng. Lama kelamaan, tempat-tempat ini menjelma menjadi pelabuhan-pelabuhan penting di Barat Daya Aceh kala itu.

Kabupaten Aceh Barat Daya Ibukota Blangpidie merupakan sebuah kabupaten di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Indonesia. Kabupaten Aceh Barat Daya diresmikan Tanggal 10 April 2002 (hari jadi) , Sebagai kabupaten otonom yang terpisah dari Aceh Selatan selaku kabupaten induknya, melalui UU No.4 tahun 2002.

Kabupaten ini dibatasi oleh Gayo Lues di utara, Aceh Selatan dan Samudera Hindia di selatan, Nagan Raya di barat dan Gayo Lues di timur. Wilayah ini termasuk dalam gugusan pegunungan Bukit Barisan.

Aceh Barat Daya yang merupakan pemekaran dari kabupaten induk, yaitu Aceh Selatan karena sudah sepantasnya lah, Aceh Barat Daya menjadi sebuah kabupaten yang otonom karena dari segi kapadatan penduduk, dan segi geografis, Aceh Barat Daya udah saat nya untuk berdiri sendiri untuk menbentuk suatu kabupaten yang otonom bukan semudah membalikkan telapak tangan butuh perjuangan dari sesepuh kita yang telah mengorbankan daya dan upaya sehingga Aceh Barat Daya menjadi sebuah kabupaten yang resmi dari segi hukum dan otonom, dan bukanlah merupakan ekses dari reformasi pada tahun 1998 semata.

Meskipun perubahan di pemerintahan saat itu mempercepat pemekaran tersebut, namun wacana untuk pemekaran itu sendiri sudah berkembang sejak sekitar tahun 1960-an. Kita sepantasnyalah berterama kasih yang sebesar besarnya kepada pendahulu kita yang mungkin sekarang sudah terlupakan situsnya.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo