Tampilkan postingan dengan label Kematian Indrajit. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kematian Indrajit. Tampilkan semua postingan
Pada saat terjadi perang Besar, Prabu Dasamuka memerintahkan berapa pasukan untuk pergi ke Gunung Gohkarna, untuk membangunkan Kumbakarna dari tidurnya. Namun Kumbakarna dengan jalan apapun tidak bisa dibangunkan. Pasukan Prabu Dasamuka, kembali ke Alengka, melaporkan kepada Prabu Dasamuka,bahwa Kumbakarna tidak bisa dibangunkan.


Prabu Dasamuka kemudian memerintahkan kurir untuk menemui Prabu Sumali, agar anak anak Kumbakarna, Kumba-Kumba dan Aswani Kumba  maju ke medan laga. Kedua anak Kumbakarna tidak pernah berurusan dengan Alengka. Mereka tinggal di Pangleburgangsa, tinggal bersama dengan  ibunya Dewi Kiswani  dan Eyangnya Prabu Sumali. Prabu Dasamuka mengirim utusan ke Pangleburgangsa meminta kedua anak Kumbakarna berangkat ke medan laga.

Usia Kumba Kumba dan Aswani Kumba masih belasan tahun, belum dewasa. Prabu Sumali melarang kedua anak Kumbakarna pergi ke medan laga. Dewi Kiswani pun  merasa berat hati untuk melepas kedua anaknya, lagi pula belum ada restu dari ayahnya, Kumbakarna. Akhirnya Prabu Sumali menolak pesan dari Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka marah marah, mengetahui perintahnya ditolak oleh kakeknya.

Prabu Dasamuka akhirnya memerintahkan beberapa pasukan untuk menjemput kedua anak Kumbakarna. Prabu Sumali dan Dewi Kiswani dengan berat hati melepas Kumba Kumba dan Aswani Kumba menuju medan laga. Kedua anak Kumbakarnapun berangkat ke medan laga disertai dengan pasukan Perajurit Alengkadiraja. Bendera Alengka telah kelihatan memasuki daerah  pertahanan Swelagiri. Perajurit Pancawati telah bersiap siap untuk menerima kedatangan mereka.

Dari penjaga perbatasan memberikan laporan kepada Anggada, bahwa prajurit Alengka dengan kekuatan penuh dibawah pimpinan sepasang anak kembar Kumbakarna, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah memasuki perbatasan pertahanan Suwelagiri.

Anggada  dan Anila telah menunggu kedatangan para Senapati Alengka.Pasukan Alengka barisan terdepan telah siap meluncurkan panah api. Sementara itu Wibisana mengarahkaan anak panah hujan kelangit. Anak panah meluncur ke mega mendung, hujan pun turun dengan lebat. Panah Api perajurit Alengka bisa dilumpuhkan.

Perangpun terjadi Pasukan raksasa melawan pasukan kera yang jumlahnya puluhan ribu, ditambah dengan pasukan dari Goa Kiskenda terus merangsek mundur pasukan Alengka. Sementara itu perajurit Alengka dan Pancawati minggir. Kini Panglima perang Alengka sepasang Raksasa muda anak Kumbakarna terpaksa melawan pasukan Pancawati.

Anggada dan Anila menerima tantangan raksasa muda. Anggada melawan Kumba Kumba dan Anila melawan Aswani Kumba. Setiap kali Kumba Kumba tewas, kemudian Aswani Kumba melompatinya, Maka Kumba Kumba hidup kembali, demikian pula sebaliknya. Tenaga Anggada dan Anila terkuras habis, dan jatuh tidak berdaya. Beruntung Sugriwa dan Anoman segera menolongnya. Sugriwa teringat kepada kakaknya Resi Subali yang menceriterakan perang di Goa Kiskenda. Ketika melawan Prabu Maesasura dan Patih Lembusura yang juga memiliki kesaktian ganda bagai Kumba Kumba dan Aswani Kumba.

Namun Sugriwa sudah terlalu tua untuk melawan mereka. Anoman bersedia menjadi lawan keduanya. Perkelahian antara kedua anak Kumbakarna dan Anoman begitu seru. Kedua anak Kumbakarna merasa percaya diri dapat mengalahkan para satria Pancawati. Ketika Anoman di tengah tengah diantara  Kumba Kumba dan Aswani Kumba dalam posisi berhadap hadapan, Tiba tiba Kumba Kumba dan Aswani Kumba bersemangat dengan kekuatan penuh menyerang bersama, Anoman menghindar dengan meloncat keatas, sehingga kepala mereka berbenturan dengan kerasnya, sehingga kepala mereka pecah, dan tewaslah anak anak Kumbakarna.

Wibisana didalam hati menangisi kedua kemenakanya, yang tewas mengenaskan. Mengapa anak yang baru belasan tahun usianya, maju ke medan perang. Keduanya menjadi pahlawan Alengka yang dibanggakan.

Perabu Dasamuka semakin berduka dengan kematian Kumba Kumba dan Aswani Kumba. Kini saatnya tokoh Alengka yang tersimpan di Gunung Gohkarna, sudah saatnya harus dibangunkan dan berangkat ke medan perang mempertahankan Alengkadiraja, Pasukan Alengkadiraja dibawah komando langsung  Prabu Dasamuka telah berangkat menuju Gunung Gohkarna. Ikut dalam rombongan Tejamantri Togog dan Sarawita. Pasukan juga membawa makanan untuk Kumbakarna.

Sesampai di tempat Kumbakarna bertapa, Prabu Dasamuka memerintahkan para perajurit membangunkan Kumbakarna. Pasukan terompet, pasukan tambur dan pasukan meriam sampai dengan petasan bergantian membangunkannya. Namun Kumbakarna tidak merasa terusik sama sekali. Prabu Dasamuka menjadi kehabisan akal.

Akhirnya Tejamantri Togog menghadap Prabu Dasamuka, bahwasanya ia bersedia membangunkan Kumbakarna kalau mendapat perintah dari Prabu Dasamuka. Prabu Dasamuka mengijinkan Tejamantri Togog untuk membangunknnya.

Tekamantri Togog mendekati kaki Kumbakarna, dan dipeganginya jempol kaki kirinya, kemudian dicabut bulu (wulu cumbu) nya. Begitu tercabut, Kumbakarna langsung bangun, kedua tangan dan kedua kakinya menghentak keras sekali, sehingga tanah menjadi bergetar. Beberapa orang pasukan yang ada didekatnya, sempat terinjak dan terpukul oleh kedua tangan dan kedua kakinya.

 Kumbakarna merasa senang Prabu Dasamuka mau mendatanginya dan Prabu Dasamuka telah memberikan maaf kepada Kumbakarna. Makanan dan minuman diberikan kepada Kumbakarna. Makanan dan minuman Kumbakarna beberapa grobag pun habis.

Setelah selesai makan dan minum, Prabu Dasamuka baru menjelaskan maksud kedatangannya. Kumbakarna terkejut ketika Prabu Dasamuka, memberi tahu kalau perang Alengka sudah terjadi. Saudara saudaranya. Sarpakenaka, anak anak Prabu Dasamuka serta patih Prahasta semuanya telah gugur. Juga anak anaknya sendiri, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah gugur pula di medan laga.

Kumbakarna mendengar itu menjadi  marah luar biasa. Kumbakarna berteriak membahana, memecah kesunyian. Guntur, petir bersahut sahutan, burung burung dilangit saling bertubrukan,dan binatang binatang liar di hutan saling berlarian tidak tentu arah, binatang besar, gajah, banteng, singa dan macan, lari tunggang langgang dan jatuh terguling guling ke dalam jurang. Karena teriakan Kumbakarna menimbulkan gempa. Prabu Dasamuka pun menjadi terkejut pula.

Akhirnya Kumbakarna memuntahkan makanan dan minuman  yang terlanjur masuk ke dalam  perutnya. Kumbakarna berpakaian putih putih dan berangkat ke medan laga membela tanah air dan membalas dendam kematian anak anaknya. Dan bukan karena membela Prabu Dasamuka yang angkara murka.

Pasukan Alengka mengiringkan kepergian Kumbakarna ke medan perang. Prabu Dasamuka pulang ke Istana Alengkapura. Sedangkan Tejamantri Togog dan Sarawita pulang  ke Patogogan. Bendera hitam Alengka kelihatan berderet di perbatasan pertahanan Suwelagiri. Wibisana melihat kedatangan kakaknya Kumbakarna sebagai Senapati dengan berpakaian seorang brahmana, putih-putih. Wibisana segera menghampiri kakaknya.

Wibisana menyayangkan kehadiran kakaknya, yang mau berkorban membela keserakahan Prabu Dasamuka. Kumbakarna memberitahukan, bahwa kedatangannya disini ingin bukan membela kakaknya Prabu Dasamuka, namun Kumbakarna ingin mempertahankan kemerdekaan negeri Alengkadiraja.

Kumbakarna tidak menginginkan perang tetapi juga tidak menginginkan  negerinya di injak injak oleh musuh, Ia tidak ingin negerinya dijajah oleh negara lain. ia tidak akan membunuh siapapun. Ia kecewa sudah banyak korban dari Alengka yang tewas. Juga kedua anaknya, Kumba Kumba dan Aswani Kumba telah tewas.Ia hanya menginginkan Prabu Rama dan pasukannya kembali ke Pancawati. Wibisana dimintanya menyingkir, karena Kumbakarna akan segera menemui Prabu Rama,agar mereka segera kembali ke Pancawati.

Kumbakarna memasuki wilayah pertahanan Prabu Rama. Pasukan kera langsung menyerbu Kumbakarna. Lengannya sudah ratusan kera menungganginya, menggigitnya dan mencakarnya, tapi Kumbakarna diam saja. Lengan yang satu juga ditunggangi ratusan kera, juga kepala, juga muka, juga leher, juga punggung, juga perut, juga paha, juga kaki. Mereka menggigit, mencakar dan merobek robek kulit Kumbakarna. Dalam waktu sekejap Kumbakarna menjadi gunung kera. 

Tidak ada satu bagian tubuh Kumbakarna yang terlewatkan, semua sudah penuh kera kera.  Walaupun sedemikian hati hatinya Kumbakarna, agar tidak melukai siapapun, tetapi tanpa sengaja Kumbakarna juga menginjak ratusan kera yang menghadang nya.Kumbakarna hanya ingin meminta kepada Prabu Rama, agar Prabu Rama kembali ke Pancawati.

Prabu Rama ganti meminta agar Kumbakarna lah yang kembali ke istana Alengkadiraja. Sementara itu para Senapati Kera, Sugriwa, Anoman, Anggada dan Anila sudah mencegah Kumbakarna jangan mendekati Prabu Rama. Mereka memegangi kedua kaki Kumbakarna agar tidak melangkah lagi, tetapi keempat satria kera itu tidak berdaya, mereka berjatuhan, dan hampir hampir saja terinjak oleh kaki Kumbakarna.

Tubuh Kumbakarna memang lebih besar dari raksasa yang lain, Kumbakarna memiliki ukuran tubuh beberapa kali ukuran raksasa biasa. Untuk membebaskan kesengsaraan Kumbakarna dari serangan para rewanda, Prabu Rama melepaskan panah Guwawijaya kepada Kumbakarna. Panah pertama memutuskan bahu sebelah kiri. Lengan tangan kiri Kumbakarna yang dikerubuti ratusan kerapun jatuh. Banyak kera  yang tewas tergencet lengan kiri Kumbakarna.

Kumbakarna masih melangkah maju, Prabu Rama mengingatkan jangan maju lagi, namun Kumbakarna tetap melangkah. Prabu Rama pun melepaskan anak panah yang kedua. Putuslah bahu kanan Kumbakarna. Lengan kanan Kumbakarna yang dikerubut ratusan kerapun jatuh. Banyak kera yang tewas tergencet lengan kanan Kumbakarna. Kumbakarna terus melangkah. Prabu Rama melepas anak panah yang ketiga dan keempat kearah kedua kaki Kumbakarna.

Kedua kaki Kumbakarna yang dikerubuti ratusan kerapunpun lepas dan jatuh menggencet pula para kera yang mengerubutnya dibawah kakinya.Tubuh Kumbakarna pun ambruk dan menjatuhi ribuan kera kera yang ada dibawahnya. Kini Kumbakarna tinggal tubuh dan kepalanya saja, yang wajahnya  sudah tidak berujud lagi.

Kedua daun Telinga, hidung, mulut, kedua mata, Kumbakarna sudah tanggal semua. Kumbakarna menahan sakit, Kumbakarna yang tinggal kepala dan tubuhnya berguling guling kesakitan, dan tanpa sengaja banyak kera yang  tewas terlindas  oleh tubuh Kumbakarna.

Prabu Rama merasa ngeri dengan keadaan Kumbakarna. Wibisana segera meminta pada Prabu Rama untuk menyempurnakan kematiannya. Prabu Rama yang kelima kalinya melepaskan anak panahnya keleher Kumbakarna. Kepala dan gembung Kumbakarna terpisah.Kumbakarna pun gugur. Kumbakarna gugur membela tanah airnya, bukan membela keangkara murkaan Prabu Dasamuka.

Kumbakarna disambut  harum bunga melati yang turun dari langit. Tubuh  Kumbakarna yang semula terpotong potong,dan tercecer dimana mana, tiba tiba menyatu menjadi Kumbakarna yang utuh kembali. Kumbakarna bangkit kembali dan hilang dari pandangan mata. Rupanya Kumbakarna, moksha. Jiwa dan raga Kumbakarna diterima oleh dewa, dan ditempatkan di Swarga Pangrantunan.

Prabu Rama dan segenap punggawa terkesima dengan peristiwa itu. Terlebih lebih Wibisana, menangisi kepegian Kakaknya yang paling dicintainya.

Kisah Kematian dan Gugurnya Kumbakarna dalam Ramayana

Dalam Perang Alengkadiraja, ternyata juga menewaskan beberapa anak  Prabu Dasamuka, Trisirah, Trikaya, Trimurda,Trinetra semuanya tewas dalam medan laga ketika  menghadapi para kesatria Panca wati, Anoman, Anggada dan  Anila.


Ketika anak Prabu Dasamuka dengan dewi Sayempraba, bernama Pratalamaryam maju ke medan laga, maka saudara tirinya Trigangga, anak Sayempraba dengan Anoman yang melihat kedatangan Pratalamaryam segera menghampiri. Dimintanya Pratalamaryana agar berpihak pad Prabu Rama.

Pratalamaryam menjadi marah, perkelahian tidak terelakkan. Dalam perkelahian kedua kakak beradik ini, menewaskan Pratalamaryam. Menambah jumlah putera Prabu Dasamuka yang mati ditangan pasukan Rama.

Melihat kematian saudara-saudaranya,Bukbis, maju ke medan laga untuk membalas kematian saudara saudaranya. Dengan  kekuatan andalannya  sorot api dari mata ketiganya, membuat bala Pancawati banyak yang tewas terbakar. Secara bergantian satria Pancawati melawan  Bukbis. Bukbis, memiliki sorotan api dari mata ketiganya. Api membakar pasukan Anggada, Demikian pula dengan Anila mengalami hal yang serupa.

Pasukan kera menjerit jerit kepanasan terpanggang api. Melihat kesengsaraan perajurit kera, Wibisana mengarahkan panahnya ke sekumpulan mega mendung dilangit, hingga hujan turun dengan derasnya, Apipun padam.  Wibisana memerintahkan Anoman untuk membawa kaca cermin dalam menghadapi sinar api  Bukbis. Kaca cermin telah disiapkan oleh Anoman.  Perkelahian  Bukbis dengan Anoman terjadi.

Ketika mata ketiga  Bukbis mulai memancarkan sinar yang menyilaukan mata, Anoman sudah siap menjemputnya. Anoman segera meloncat kesamping kaca,  menghindar dari serangan sinar api, dan menahannya dengan kaca cermin tersebut. Sehingga sinar api yang diarahkan ke Anoman mengenai cermin, dan sinar api  yang mengenai cermin, kemudian berbalik kembali kearah Bukbis, sehingga Bukbis terbakar dengan sendirinya.

Pasukan Pancawati bersorak sorai menyambut kemenangan. Pasukan Prabu Rama semakin maju memasuki wilayah dalam Kotaraja  Negeri Alengka.

Sementara itu anak kesayangan Prabu Dasamuka, Indrajit atau Megananda, menjadi amat gusar, ketika melihat saudara saudaranya tewas di medan pertempuran. Indrajid maju menghalangi Perajurit Rama, yang sedang bergerak maju memasuki ibukota Alengka. Indrajit telah siap dengan  Pusaka Nagapasa. Panah yang berbentuk ular naga itu dilepas kearah pasukan Pabu Rama, Panah Nagapasa milik Indrajit menjadikan hujan ular di medan laga. Ular ular itu mengandung  bisa ular yang mematikan.

Prabu Rama dan Laksmana tidak luput kena gigitan ular, yang menjadikan tidak sadarkan diri. Melihat keadaan itu Wibisana menciptakan ribuan burung Garuda, yang segera menyambar nyambar ular ular ciptaan  Indrajit. Ularpun habis di makan burung garuda ciptaan Wibisana. Wibisana kemudian ia mendekati Indrajit dan mengingatkan agar Indrajit segera menghentikan serangan senjata Nagapasa. Indrajit menjadi marah. Ia mengatakan bahwa pamannya, Wibisana adalah seorang pengkhianat, dan tidak pantas ditaati. Indrajit masih saja menggunakan panah Nagapasa untuk menyerang pasukan Suwelagiri. Sedangkan burung Garuda terus menerus menghabiskan ular ular ciptaan Indrajit.

Akhirnya Wibisana melepaskan panah saktinya, yaitu Panah Indrasta ke arah Indrajit, maka Indrajit,satria Bikungkungpura pun tewas, dan berangsur angsur berubah menjadi mega. Indrajit yang diciptakan  dari mega oleh Wibisana,kembali menjadi mega. Dengan tewasnya Indrajit, maka ular ular yang menyerang pasukan Pancawati pun lenyap. Namun prajurit yang terkena gigitan ular beracun tetap sekarat, dan butuh pertolongan cepat. Wibisana memerintahkan Anoman untuk mencari  sejenis daun sandiloto, yang banyak tumbuh di Bukit Arga Jampi,sebuah bukit kecil di dekat Gunung Maliyawan. Anoman menjadi gugup ketika melihat Prabu Rama dan Laksmana tergeletak pingsan tak sadarkan diri.

Wibisana terus merawat keduanya dengan baik. Memang serangan Indrajid membawa korban yang sangat besar. Banyak para punggawa juga para perajurit yang terkapar tidak berdaya. Anoman segera berangkat. Sesampai di Gunung Maliyawan, Anoman menemukan bukit yang dimaksud oleh Wibisana. Karena pada waktu berangkat, Anoman menjadi gugup,sehingga ia lupa tidak meyakinkan lagi,  nama daun apa yang tadi diminta oleh Wibisana.  Setelah sampai dibukit Maliyawan. Anoman jadi bingung, ia sudah tidak ingat daun apa yang diminta Wibisana. Akhirnya Anoman  mengangkat bukit Argajampi beserta seluruh tanaman  yang ada di atasya dan dibawanya kembali ke daerah pertahanan Pancawati. Wibisana mengambil daun daunan yang diperlukan untuk menawarkan racun ular berbisa. Para Perajurit dan punggawa, yang terkena serangan ular berbisa, termasuk juga Prabu Rama dan Laksmana Widagda.

Setelah mendapat perawatan, dengan daun dimaksud, mereka terbangun dari pingsannya, dan sembuhlah mereka semua, termasuk Prabu Rama dan Laksmana yang telah siuman kembali.

VERSI WAYANG JAWA

Dalam perang besar melawan bala tentara Sri Rama, Indrajit mengerahkan pusaka Nagapasa. Muncul ribuan ular menyerang pasukan Wanara. Namun semua itu dapat ditaklukkan oleh burung Garuda ciptaan Laksmana. Indrajit kemudian mengerahkan ilmu Sirep Begananda, membuat Rama, Laksmana, dan seluruh pengikut mereka roboh tak berdaya. Mereka tertidur bagaikan orang mati.

Hanya Wibisana dan Hanoman yang tetap terjaga. Hanoman berangkat ke Gunung Maliyawan untuk mengambil tanaman Sandilata, sedangkan Wibisana menghadapi Indrajit. Wibisana menceritakan asal usul Indrajit yang sebenarnya. Indrajit akhirnya sadar bahwa selama ini ia bersalah telah membela angkara murka Rahwana. Ia pun meminta agar Wibisana mengembalikan dirinya ke asal-muasalnya.

Indrajit kemudian mengheningkan cipta, sedangkan Wibisana melepaskan pusaka Dipasanjata ke arahnya. Tubuh Indrajit pun musnah seketika, dan kembali menjadi awan putih di angkasa.

Sejarah Penyebab Kematian Indrajit dalam kisah Ramayana

Indrajit adalah salah satu putera Rahwana dan menjadi putera mahkota Kerajaan Alengka.


Indrajit merupakan ksatria yang sakti mandraguna, dalam perang antara pihak Rama dan Rahwana, Indrajit sering merepotkan bala tentara Rama dengan kesaktiannya. Ia punya senjata sakti yang bernama Nagapasa, apabila senjata tersebut dilepaskan, maka akan keluar ribuan naga meyerang ke barisan musuh.

Ayah Indrajit adalah Rahwana, sedangkan ibunya adalah Mandodari. Indrajit diberi nama “Meghanada” saat lahir sebab ketika ia menangis untuk yang pertama kalinya, bunyi petir dan guruh mengiringinya, menandakan kelahiran ksatria besar. Nama julukan ‘Indrajit’ (“penakluk Indra”) dianugerahkan oleh Dewa Brahma ketika ia mengalahkan dan memenjarakan Indra, Raja para Dewa.

Senjata Brahmastra diberikan kepada Indrajit pada kesempatan tersebut. Konon senjata tersebut memiliki kekuatan menakjubkan dan jika lepas dari busurnya, senjata itu bisa mematahkan busur lawan dan membunuh seseorang sesuai dengan keinginan.

Saat tentara wanara tiba di Alengka, pertempuran sengit terjadi antara para rakshasa dengan para wanara. Indrajit terlibat duel sengit dengan Anggada. Meski semua senjata sudah dikeluarkan Indrajit, tak satu pun yang membuat Anggada mundur.

Akhirnya Indrajit melepas senjata Nagapasa dan langsung merenggut Rama dan Laksmana. Senjata tersebut merupakan guna-guna yang membuat musuh tak berkutik. Ketika berita kemenangan Indrajit tersiar di Alengka, Rahwana mengadakan pesta besar di istananya.

Di kubu Rama, para wanara bersedih karena pemimpin mereka tak berdaya. Saat mereka sedang berduka, tiba-tiba muncul burung Garuda. Kedatangan burung tersebut membuat naga-naga yang mengikat tubuh Rama dan Laksmana kabur. Akhirnya Rama dan Laksmana bangkit kembali dan siap mengadakan serangan balasan.

Setelah Rama dan pasukannya mengalahkan Kumbakarna, Trisirah, Narantaka, Akampana, dan prajurit rakshasa pilihan dari Alengka, Indrajit melepaskan senjata Brahmastra dan membuat Rama dan Laksmana kembali tak berkutik. Namun mereka bangkit lagi berkat tanaman obat yang dibawa oleh Hanoman.

Kemudian pasukan wanara memasuki kota Alengka. Untuk melemahkan semangat para wanara, Indrajit menciptakan Sinta palsu dengan ilmu sihirnya. Sinta palsu itu dibunuh lalu diperlihatkan kepada para wanara, sebab para wanara bertarung demi menyelamatkan Sinta dan apabila Sinta terbunuh, mereka merasa bahwa peperangan berlangsung dengan percuma.

Karena melihat Indrajit membunuh Sinta, para wanara menghentikan pertarungannya. Wibisana tanggap dan sadar bahwa Indrajit sedang mengelabui para wanara agar ia bisa menyelenggarakan ritual untuk memperoleh kekuatan, sebab apabila ritual yang dilakukannya sempurna, maka kekuatannya tidak akan terkalahkan. Agar Indrajit dapat dikalahkan, Wibisana menyuruh Laksmana untuk mengganggu ritual Indrajit.

Dengan ditemani para wanara, Laksmana segera pergi ke tempat Indrajit mengadakan ritual. Sebelum ritual itu sempurna, para wanara mengacaukan tempat tersebut. konsentrasi Indrajit buyar sehingga perang terjadi.

Laksmana yang tidak ingin peperangan itu berlarut-larut, segera mengeluarkan panah Indrāstra dan mengucapkan do’a atas nama Rama, lalu melepaskan senjata tersebut dari busurnya. Panah itu memutuskan kepala Indrajit dari badannya. Saat menyentuh bumi, kepala Indrajit menyala-nyala bagai api.

Sejarah Asal Usul Indrajit Dalam Kisah Ramayana