Tampilkan postingan dengan label Kematian Aswatama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kematian Aswatama. Tampilkan semua postingan
Drona dilahirkan dalam keluarga brahmana(kaum pendeta Hindu). Ia merupakan putera dari pendeta Bharadwaja, lahir di kota yang sekarang disebut Dehradun (modifikasi dari kata dehra-dron, guci tanah liat), yang berarti bahwa ia (Drona) berkembang bukan di dalam rahim, namun di luar tubuh manusia, yakni dalam Droon (tong atau guci).


Kisah kelahiran Drona diceritakan secara dramatis dalam Mahabharata. Bharadwajapergi bersama rombongannya menuju Gangga untuk melakukan penyucian diri. Di sana ia melihat bidadari yang sangat cantik datang untuk mandi. Sang pendeta dikuasai nafsu, menyebabkannya mengeluarkan air mani yang sangat banyak.

Ia mengatur supaya air mani tersebut ditampung dalam sebuah pot yang disebut drona, dan dari cairan tersebut Drona lahir kemudian dirawat. Drona kemudian bangga bahwa ia lahir dari Bharadwaja tanpa pernah berada di dalam rahim.

Drona menghabiskan masa mudanya dalam kemiskinan, namun belajar agama dan militerbersama-sama dengan pangeran dari Kerajaan Panchala bernama Drupada. Drupada dan Drona kemudian menjadi teman dekat dan Drupada, dalam masa kecilnya yang bahagia, berjanji untuk memberikan setengah kerajaannya kepada Drona pada saat menjadi Raja Panchala.

Drona menikahi Krepi, adik Krepa, guru di keraton Hastinapura. Krepi dan Drona memiliki putera bernama Aswatama.

KISAH DRONA DENGAN DRUPADA

Demi keperluan istri dan puteranya, Drona ingin bebas dari kemiskinan. Teringat kepada janji yang diberikan oleh Drupada, Drona ingin menemuinya untuk meminta bantuan. Tetapi, karena mabuk oleh kekuasaan, Raja Drupada menolak untuk mengakui Drona (sebagai temannya) dan menghinanya dengan mengatakan bahwa ia manusia rendah.

Dalam Mahabarata, Drupada memberi penjelasan yang panjang dan sombong kepada Drona tentang masalah kenapa ia tidak mau mengakui Drona. Drupada berkata, "Persahabatan, adalah mungkin jika hanya terjadi antara dua orang dengan taraf hidup yang sama". Dia berkata bahwa sebagai anak-anak, adalah hal yang mungkin bagi dirinya untuk berteman dengan Drona, karena pada masa itu mereka sama. Tetapi sekarang Drupada menjadi raja, sementara Drona berada dalam kemiskinan. Dalam keadaan seperti ini, persahabatan adalah hal yang mustahil.

Tetapi ia berkata bahwa ia akan memuaskan hati Drona apabila Drona mau meminta sedekah selayaknya para brahmanadaripada mengaku sebagai seorang teman. Drupada menasihati Drona supaya tidak memikirkan masalah itu lagi dan ingin ia hidup menurut jalannya sendiri. Drona pergi membisu, namun di dalam hatinya ia bersumpah akan membalas dendam.

PERAN DRONA PADA PERANG BARATAYUDHA

Saat perang di Kurukshetra berkecamuk, Drona menjadi komandan pasukan Korawa. Ia merencanakan cara yang curang untuk membunuh Abimanyu pada pertempuran di hari ketiga belas.

Sebelum perang, Bagawan Drona pernah berkata, "Hal yang membuatku lemas dan tidak mau mengangkat senjata adalah apabila mendengar suatu kabar bencana dari mulut seseorang yang kuakui kejujurannya". Berpedoman kepada petunjuk tersebut, Sri Kresna memerintahkan Bhima untuk membunuh seekor gajah bernama Aswatama, nama yang sama dengan putera Bagawan Drona.

Bhima berhasil membunuh gajah tersebut lalau berteriak sekeras-kerasnya bahwa Aswatama mati. Drona terkejut dan meminta kepastian Yudistira yang terkenal akan kejujurannya. Yudistira hanya berkata, "Aswatama mati".

Sebetulnya Yudistira tidak berbohong karena dia berkata kepada Drona bahwa Aswatama mati, entah itu gajah ataukah manusia (dalam keterangannya ia berkata, "naro va, kunjaro va" — "entah gajah atau manusia"). Gajah bernama Aswatama itu sendiri sengaja dibunuh oleh Pendawa agar Yudistira bisa mengatakan hal itu kepada Drona sehingga Drona kehilangan semangat hidup dan Korawa bisa dikalahkan dalam perang Bharatayuddha.

Sejarah Asal Usul Guru Drona Dalam Kisah Mahabharata

Dalam kisah Mahabharata, Aswatama adalah putera guru Dronacharya dengan Kripi. Sebagai putera tunggal, Dronacharya sangat menyayanginya. Ia juga merupakan salah satu dari tujuh Chiranjīwin, karena dikutuk untuk hidup selamanya tanpa memiliki rasa cinta. Saat perang di Kurukshetra berakhir, hanya ia bersama Kretawarma dan Krepa yang bertahan hidup. Oleh karena dipenuhi dendam atas kematian ayahnya, ia menyerbu kemah Pandawa saat tengah malam dan melakukan pembantaian membabi buta.


Sebagian kisah hidup Aswatama dimuat dalam kitab Mahabharata. Kisahnya yang terkenal adalah pembunuhan terhadap lima putera Pandawa dan janin yang dikandung oleh Utara, istri Abimanyu. Janin tersebut berhasil dihidupkan kembali oleh Kresna namun lima putera tidak terselamatkan nyawanya.

RIWAYAT ASWATAMA

Aswatama merupakan putera dari Bagawan Drona dengan Kripi, adik Krepa. Semasa kecil ia mengenyam ilmu militer bersama dengan para pangeran Kuru, yaitu Korawa dan Pandawa. Kekuatannya hampir setara dengan Arjuna, terutama dalam ilmu memanah. Saat perang di antara Pandawa dan Korawa meletus, ia memihak kepada Korawa, sama dengan ayahnya, dan berteman dengan Duryodana.

Aswatama adalah ksatria besar dan konon pernah membangkitkan pasukan Korawa dari duka cita dengan cara memanggil “Narayanāstra”. Namun Kresna menyuruh pasukan Pandawa agar menurunkan tangan dan karenanya senjata itu berhasil diatasi. Ia juga memanggil “Agneyāstra” untuk menyerang Arjuna namun berhasil ditumpas dengan Brahmastra. Pertarungannya dengan Bima dalam Bharatayuddha berakhir secara “skakmat”.

Kabar angin yang salah mengenai kematiannya dalam perang di Kurukshetra membuat ayahnya meninggal di tangan pangeran Drestadyumna. Aswatama yang menaruh dendam mendapat izin dari Duryodana untuk membunuh Drestadyumna secara brutal setelah perang berakhir secara resmi. Saat akhir peperangan, Aswatama berjanji kepada Duryodana bahwa ia akan membunuh Pandawa, dan menyerang kemah Pandawa saat tengah malam, namun karena kesalahan ia membunuh 5 putera Pandawa dengan Dropadi (Pancawala).

Pandawa yang marah dengan perbuatan tersebut memburu Aswatama dan akhirnya ia bertarung dengan Arjuna. Saat pertarungan, Aswatama memanggil senjata ‘Brahmashira’ yang sangat dahsyat, yang dulu ingin ditukar dengan chakra milik Kresna namun tidak berhasil. Dengan senjata itu ia menyerang Arjuna dan Arjuna membalasnya dengan mengeluarkan senjata yang sama. Takut akan kehancuran dunia, Bagawan Byasa menyuruh agar kedua ksatria tersebut mengembalikan senjatanya kembali.

Sementara Arjuna berhasil melakukannya, Aswatama (yang mungkin kurang pintar) tidak bisa melakukannya dan diberi pilihan agar senjata menyerang target lain untuk dihancurkan. Dengan rasa dendam, Aswatama mengarahkan senjata menuju rahim para wanita di keluarga Pandawa. Di antara mereka adalah Utara, menantu Arjuna.

Oleh karena itu Utara tidak bisa melahirkan Parikesit, putera Abimanyu, yang kelak akan meneruskan keturunan para Pandawa bersaudara. Senjata Brahmastra berhasil membakar si jabang bayi, namun Kresna menghidupkannya lagi dan mengutuk Aswatama agar menderita kusta dan mengembara di bumi selama 3.000 tahun sebagai orang buangan tanpa rasa kasih sayang. Dalam versi lain, dipercaya bahwa ia dikutuk agar terus hidup sampai akhir zaman Kali Yuga.

Aswatama juga harus menyerahkan batu permata berharga (“Mani”) yang terletak di dahinya, yaitu permata yang membuatnya tidak takut terhadap segala senjata, penyakit, atau rasa lapar, dan membuatnya tak takut terhadap para Dewa, danawa, dan naga.

ASWATAMA DALAM CERITA JAWA

Riwayat hidup Aswatama dalam pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan dengan kisah aslinya dari kitab Mahabharata yang berasal dari Tanah Hindu, yaitu India, dan berbahasa Sansekerta. Beberapa perbedaan tersebut meliputi nama tokoh, lokasi, dan kejadian. Namun perbedaan tersebut tidak terlalu besar sebab inti ceritanya sama.

Aswatama adalah putra Bagawan Drona alias Resi Drona dengan Dewi Krepi, putri Prabu Purungaji dari negara Tempuru. Ia berambut dan bertelapak kaki kuda karena ketika awal mengandung dirinya, Dewi Krepi sedang beralih rupa menjadi kuda Sembrani, dalam upaya menolong Bambang Kumbayana (Resi Drona) terbang menyeberangi lautan.
Aswatama dari padepokan Sokalima dan seperti ayahnya memihak para Korawa pada perang Bharatayuddha.

Ketika ayahnya, Resi Drona menjadi guru Keluarga Pandawa dan Korawa di Hastinapura, Aswatama ikut serta dalam mengikuti pendidikan ilmu olah keprajuritan. Ia memiliki sifat pemberani, cerdik dan pandai mempergunakan segala macam senjata. Dari ayahnya, Aswatama mendapat pusaka yang sangat sakti berupa panah bernama Panah Cundamanik.

Cerita dalam khazanah Sastra Jawa Baru dikenal sebagai lakon wayang: “Aswatama Gugat”.
Aswatama pada kesempatan itu ingin membalas dendam kematian ayahnya, bagawan Drona. Pada perang Bharatayuddha, Drona gugur karena disiasati oleh para Pandawa. Mereka berbohong bahwa “Aswatama” telah gugur, tetapi yang dimaksud bukan dia melainkan seekor gajah yang bernama Hestitama (Hesti berarti Gajah) namun terdengar seperti Aswatama. Lalu Drona menjadi putus asa setelah ia menanyakannya kepada Yudistira yang dikenal tak pernah berbohong pun mengatakan iya.

Aswatama juga merasa kecewa dengan sikap Prabu Duryudana yang terlalu membela Prabu Salya yang dituduhnya sebagai penyebab gugurnya Adipati Karna. Aswatama memutuskan mundur dari kegiatan perang Bharatayudha.

Setelah Perang Bharatayuda berakhir dan keluarga Pandawa pindah dari Amarta ke Astina, secara bersembunyi Aswatama masuk menyelundup ke dalam istana Astina. Ia berhasil membunuh Drestadyumena (pembunuh ayahnya, Resi Drona), Pancawala (putra Prabu Puntadewa), Dewi Banowati (Janda Prabu Duryodana) dan Dewi Srikandi.

Sejarah Asal Usul Aswatama Dalam Kisah Mahabharata

Srikandi atau Sikandin adalah salah satu putera Raja Drupada dengan Dewi Gandawati dari Kerajaan Panchala yang muncul dalam kisah wiracarita dari India, yaitu Mahabharata. Ia merupakan penitisan Dewi Amba yang tewas karena panah Bisma.

Kuwaluhan.com

Dalam kitab Mahabharata ia diceritakan lahir sebagai seorang wanita, namun karena sabda dewata, ia diasuh sebagai seorang pria, atau kadangkala berjenis kelamin netral (waria). Dalam versi pewayangan Jawa terjadi hal yang hampir sama, namun dalam pewayangan Jawa ia dikisahkan menikahi Arjuna dan ini merupakan perbedaan yang sangat jauh jika dibandingkan dengan kisah Mahabharata versi India.

Dalam bahasa Sanskerta, Srikandi dieja Śikhaṇḍin, bentuk femininnya adalah Śikhaṇḍinī. Secara harfiah, kata Śikhandin atau Śikhandini berarti "memiliki rumbai-rumbai" atau "yang memiliki jambul".

Di kehidupan sebelumnya, Srikandi terlahir sebagai wanita bernama Amba, yang ditolak oleh Bisma untuk menikah. Karena merasa terhina dan ingin membalas dendam, Amba berdoa dengan keinginan untuk menjadi penyebab kematian Bisma. Keinginannya terpenuhi sehingga akhirnya Amba bereinkarnasi menjadi Srikandi.

KELAHIRAN SRIKANDI

Pada saat lahir, suara dewata menyuruh ayahnya agar mengasuh Srikandi sebagai putera. Maka Srikandi hidup seperti pria, belajar ilmu perang dan kemudian menikah. Pada malam perkawinan, istrinya sendiri menghina dirinya setelah mengetahui hal yang sebenarnya.

Setelah memikirkan usaha bunuh diri, ia kabur dari Panchala, namun diselamatkan oleh seorang Yaksa yang kemudian menukar jenis kelaminnya kepada Srikandi. Srikandi pulang sebagai pria dan hidup bahagia bersama istrinya dan memiliki anak pula. Setelah kematiannya, kejantanannya dikembalikan kembali kepada Yaksa.

PERAN SRIKANDI DALAM PERANG BARATAYUDHA


Saat perang di Kurukshetra, Bisma sadar bahwa Srikandi adalah reinkarnasi Amba, dan karena ia tidak ingin menyerang "seorang wanita", ia menjatuhkan senjatanya. Tahu bahwa Bisma akan bersikap demikian terhadap Srikandi, Arjuna bersembunyi di belakang Srikandi dan menyerang Bisma dengan tembakan panah penghancur.

Kuwaluhan.com

Maka dari itu, hanya dengan bantuan Srikandi, Arjuna dapat memberikan pukulan mematikan kepada Bisma, yang sebenarnya tak terkalahkan sampai akhir. Akhirnya Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

SRIKANDI VERSI JAWA

Menurut kisah pewayangan Jawa, Srikandi lahir karena keinginan kedua orangtuanya, yaitu Prabu Drupada dan Dewi Gandawati, menginginkan kelahiran seorang anak dengan normal. Kedua kakaknya, Dewi Dropadi dan Drestadyumna, dilahirkan melalui puja semadi. Dropadi dilahirkan dari bara api pemujaan, sementara asap api itu menjelma menjadi Drestadyumna.

Kuwaluhan.com

Dewi Srikandi sangat gemar dalam olah keprajuritan dan mahir dalam mempergunakan senjata panah. Kepandaiannya tersebut didapatnya ketika ia berguru pada Arjuna, yang kemudian menjadi suaminya. Dalam perkawinan tersebut ia tidak memperoleh seorang putera.

Dewi Srikandi menjadi suri tauladan prajurit wanita. Ia bertindak sebagai penanggung jawab keselamatan dan keamanan kesatrian Madukara dengan segala isinya. Dalam perang Bharatayuddha, Dewi Srikandi tampil sebagai senapati perang Pandawa menggantikan Resi Seta, kesatria Wirata yang telah gugur untuk menghadapi Bisma, senapati agung balatentara Korawa. Dengan panah Hrusangkali, Dewi Srikandi dapat menewaskan Bisma, sesuai kutukan Dewi Amba, puteri Prabu Darmahambara, raja negara Giyantipura, yang dendam kepada Bisma.

Dalam akhir riwayat Dewi Srikandi diceriterakan bahwa ia tewas dibunuh Aswatama yang menyelundup masuk ke keraton Hastinapura setelah berakhirnya perang Bharatayuddha. Sedangkan dalam kisah Mahabharata versi India, Srikandi dibunuh oleh Aswatama pada hari ke-18 Bharatayuddha.

Kisah Kelahiran dan Kematian Srikandi Mahabharata

Dursasana adalah adik pertama dari Duryodana yang merupakan 100 kurawa. Dia memiliki sifat yang kejam dan tidak berperikemanusiaan, tapi agak bodoh orang nya.

Sebelum perang baratayuda berlangsung, dursasana yang memaksa drupadi ke arena perjudian, dan kemudian menarik pakaian drupadi dengan tujuan untuk membuat telanjang. Hal tersebut disaksikan oleh seluruh orang istana baik para pandawa, 100 kurawa, kakek bisma, guru drona, dan destrarasta (ayah kurawa).

Pada saat itu, Bima bersumpah akan membunuh 100 kurawa dan akan memotong kedua tangan dursasana saat perang baratayuda. Dan akan meminum darah nya. Tak hanya bima saja yang bersumpah, drupadi juga demikian. Dia bersumpah akan mandi darah dari darahnya dursasana.

Setelah lama nya waktu berlalu, dan para pandawa menghabiskan hidupnya dihutan karena diusir dari Hastinapura selama bertahun-tahun, akhir nya perang baratayuda tak dapat dielakkan.

Perang baratayuda merupakan perseteruan sengit antara satu keluarga besar pada kerajaan hastinapura. Perang tersebut dilatarbelakangi banyak hal, utamanya motif balas dendam dan juga motif ingin berkuasa di kerajaan hastinapura.

Dursasana tewas pada perang baratayuda pada hari ke 16. Dia tewas dibunuh oleh Bima (pandawa). Sebelum dibunuh, dia disiksa terlebih dahulu dengan cara dipotong kedua tangannya, dan kemudian diminum darah nya. Tak hanya itu saja, drupadi juga menyusul ke medan pertempuran untuk mandi darahnya dursasana. Sangat mengerikan dan sadis.

BIMA MEMINUM DARAH DURSASANA

Pada versi lain pertempuran Barata Yuda Bima berhasil bertemu tanding dengan Dursasana, setelah beberapa saat mereka bertarung, terlihatlah bahwa Bima lebih unggul. Dursasana sudah mulai merasakan kesakitan pada badannya yang melemah.

Bima memandang dengan penuh dendam, teringat perbuatan si Dursasana yang mempermalukan Dewi Drupadi isteri kakaknya Yudistira. Sesaat kemudian berbicaralah Bhima dengan suara yang lantang dan tidak menghiraukan lagi apa yang terjadi di sekitarnya,  ia menyeret si Dursasana.

”Wahai kelompok pahlawan semuanya dan khususnya dewa-dewa yang menjelma di dunia ini! Lihat inilah  Bima  yang sedang akan memenuhi janjinya di tengah medan pertempuran. Darah Dursasana inilah yang akan aku minum.  Lihatlah!

”Dan untuk dewi Drupadi inilah hari yang terakhir untuk mengurai rambutnya.”

“Terima ini dengan ikhlas hati, wahai Dursasana dan rasakan pahalamu untuk membuat kejahatan yang terus menerus. bah !”

“bahwa kau ini tetap meronta-ronta dan tidak tinggal diam, wahai kamu anjing yang tidak sopan, pada waktu ini kamu akan dibunuh. Apa yang kau pikir dalam hatimu? Akankah kau lanjutkan perbuatanmu yang jahat itu? ”


“Mengapa, kamu berusaha untuk bangkit lagi!”

Demikianlah ucapan Bima yang pendek tegas. Setelah Bhima meringkus Dursasana dengan tangannya dan dapat memegang perutnya, dia merobek perut itu dengan kukunya yang sangat tajam, pada saat Dursasana masih hidup.

Pada ketika itu Dursasana menjadi tidak sadarkan diri dari rasa sakit yang tak tertahankan; kemudian setelah perut yang sudah robek itu, dada Dursasana juga di sudet  lebih lebar lagi.

Kelihatannya seolah-olah Dursasana yang tetap hatinya dan gagah berani itu tetap dengan dendamnya mencoba untuk menerjang dan menggigit.

Dan saat itu tiba ketika Bima minum darah orang yang masih hidup itu, Dursasana dengan gelap mata memukul-mukul ke kiri dan ke kanan, meronta-ronta dan mencoba memegang Bima, padahal badannya sedang berkelojotan sekarat.

Sangat mengerikan kelihatannya, ketika Bima minum darah dan dengan ketetapan hati dan mata merah dan marah, menarik usus Dursasana keluar dari perutnya.

Kelihatannya seolah-olah ia akan menunjukkan bagaimana ia pada suatu ketika dapat memuaskan apa yang dikehendakinya. Rambutnya dapat disamakan dengan mega merah, matanya dapat disamakan dengan matahari yang dengan sinarnya yang berkilauan, sedangkan suara yang keluar dari tenggorokan dapat disamakan dengan petir dan suara yang keluar dari mulutnya sebagai tanda kepuasan dapat disamakan dengan halilintar.

Mukanya yang penuh dengan darah itu dapat disamakan dengan mega merah yang kena sinar matahari. Bima yang berjalan dengan angkuhnya itu dapat diumpamakan sebagai gunung yang menjulang ke atas. Dengan segera ia melempar-lemparkan mayat Dursasana ke atas, dan jatuh ketempat Suyudana berdiri disertai oleh kata-kata seperti guruh yang berkumpul. ”Inilah pembantumu, bah!”
Drupadi mendengar semuanya. Ia berada dalam tenda di belakang garis pertempuran di Kurusetra. Seorang penjaga dipanggilnya. Telah bertahun-tahun dia menunggu saat ini. Saat penggenapan sumpahnya ketika dia dipermalukan oleh Dursasana. Bahwa dia tidak akan menggelung lagi rambutnya hingga dia bisa keramas dengan darah Dursasana.

”Bawalah bokor ini kepada Bima,” katanya kepada perempuan abdinya, yang segera membawa bokor itu ke arah Bima. Bima yang wajahnya penuh darah mengerti makna bokor itu.

Drupadi ingin menyanggul rambutnya sekarang juga. Maka dicarinya mayat Dursasana yang telah dilemparnya. Para prajurit menyingkir ngeri melihat cara Bima memeras darah dari mayat Dursasana. Perang memang hanya berisi kekejaman. Benar dan salah hanya kekerasan. Apakah tidak ada cara lain untuk menjadi ksatria?

”Inilah air kutukan itu, Dewi.” Bima menyerahkan bokor itu kepada Drupadi yang sedang berada didalam tenda.

Bokor itu berisi darah, namun Drupadi melihatnya sebagai tirta amerta yang bercahaya. Ia tidak berpikir tentang dendamnya terhadap Dursasana, ia ingin melengkapkan putaran roda kehidupan. Di dalam tenda diangkatnya bokor emas itu ke atas kepalanya. Maka terjadilah penggenapan sumpahnya dia berkeramas dengan darah Dursasana.



Pada senja di hari kematian Dursasana itu, orang-orang melihat cahaya berkilat menyemburat ke langit dari tenda Drupadi. Cahaya terang yang memancar-mancar. Para pengawal berlarian menuju tenda itu. Namun mereka berpapasan dengan dayang-dayang yang berwajah pucat.

”Dewi Drupadi…”
”Kenapa Dewi Drupadi?”
”Mandi darah.”

Pengawal pertama yang menyibak tenda terkejut melihat Drupadi sedang bersamadi dengan seluruh tubuh bersimbah darah. Cahaya memancar dari tubuhnya, semburat ke tenda dan menembus tenda ke angkasa.

"lunas sudah piutangmu Dursasana
tak terlunaskan piutang pada kesucian
Semua kejahatan ada bayarannya
Meski kebaikan tidak minta balasan"

Pada malam harinya Drupadi berkumpul dengan suami dan saudaranya. Hari itu Karna juga telah gugur…. dikalahkan oleh Arjuna ….

”Apa hasil perang ini,” kata Drupadi,

”putra-putra Pandawa yang perkasa seperti Irawan, Abimanyu, dan Gatotkaca telah gugur”.

“Kita akan menang, tapi apa arti kemenangan ini,  selain pelampiasan dendam yang tidak terpuaskan? ”

“Orang-orang yang kita hormati telah tiada… Kemenangan ini akan kita persembahkan kepada siapa?”

Kresna menunduk dan mulai bicara.

”Bharatayudha adalah suatu penebusan, Drupadi…”

“Resi Bhisma menebus kelalaiannya kepada Dewi Amba. Mahaguru Durna menebus kesalahannya kepada Ekalaya dari Nisada. Esok pagi Salya akan menebus kebenciannya terhadap Bagaspati, mertuanya sendiri. ”

“Kita hidup dalam lingkaran karma. Kodrat tak terhindarkan, tapi tidak untuk disesali. Bahkan Salya pun tidak punya niat jahat, karena ia dulu adalah Sumantri yang mengingkari Sukasrana. Bagaimanakah caranya kita menghindari diri kita Drupadi? Tidak bisa… ”

“Bharatayudha hanyalah jalan bagi setiap orang untuk memenuhi karmanya, melengkapkan perannya, untuk membersihkan dunia. Kelak anak Utari yang bernama Parikesit akan menjadi raja, saat itu dunia bersih bagai tanpa noda, tapi tetap saja ada yang bernama malapetaka…”

“Maka hidup di dunia bukan hanya soal kita menjadi baik atau menjadi buruk, tapi soal bagaimana kita bersikap kepada kebaikan dan keburukan itu. Perang ini penuh perlambang baik dan jahat..”

“Siapakah yang lebih jahat Drupadi, Dursasana yang menelanjangimu atau Bima yang menghirup darah Dursasana?  Perang ini menyimpan sebuah pertanyaan. Apakah jalan kekerasan para ksatria itu bisa dibenarkan?..”

Drupadi tertunduk menjawab, dengan hati galau..

”Aku Drupadi, seorang perempuan, terus terang menghendaki darah Dursasana, untuk memberi pelajaran kepada penghinaan.”


”Jawabannya bisa lebih panjang Drupadi. Engkau seorang perempuan telah memberi pelajaran tentang bagaimana perempuan menghidupkan diri dengan dendam. Sama seperti dendam Amba kepada Bhisma, sama seperti dendam Gandari kepada penglihatan karena mendapat suami dalam kebutaan. ”

“Perang ini memberi peringatan, wahai Drupadi, betapa dendam bisa begitu mengerikan. Para Pandawa adalah ahli bertapa, namun di seluruh anak benua ini tiada pembunuh yang lebih kejam daripada mereka.”

”Kresna yang bijak, ingatlah bahwa para Pandawa selalu membela kebenaran.”

”Tidak ada yang keliru, duhai Drupadi yang cerdas, bahkan mereka akan selalu dilindungi para dewa. Tapi renungkanlah kembali makna dari sebuah kekerasan.”

”Dunia ini memang penuh kekerasan, Kresna. Terutama aku, perempuan, yang selalu jadi korban.”

”Maka memang menjadi pilihan, Drupadi, kita akan menggunakan kekerasan atau berusaha menghindari  kekerasan.”

Drupadi berdiri, kesal karena merasa disalahkan karena dendamnya ke Dursasana.

”Kresna, engkau sungguh pandai bicara. Tapi engkau belum pernah menjadi korban. Itulah masalahmu Kresna, engkau mengerti segalanya, namun engkau tidak pernah merasakannya.

“Aku adalah korban, dan aku menggunakan hak diriku sebagai korban untuk menjawab nasibku dengan kemarahan. Engkau mengatur segala-galanya. Kau korbankan Gatotkaca, agar Karna melepaskan Konta, sehingga Arjuna bisa menandinginya.”

“Apakah engkau tidak pernah mendendam Kresna, engkau memutar leher Sishupala hanya karena kata-kata, engkau membunuh Salwa orang bodoh yang mengacau Dwaraka. Itukah pelajaranmu untuk dunia? Aku sudah menjadi korban, dan dari seseorang yang sudah menjadi korban, engkau memintanya agar berjiwa besar.?”

“Apakah itu tidak terlalu berlebihan? Biarlah Resi Bhisma atau Karna atau Yudhistira berjiwa besar, tapi aku Drupadi, seorang perempuan, menggunakan hak diriku sebagai korban untuk melakukan pembalasan.”

”Itu hanya membuktikan, wahai Drupadi, bukan hanya kejantanan yang menjadi korban kekerasan.” Jawab Kresna.

”Kresna, Kresna, bagimu pelaku kekerasan adalah korban. Lantas harus diberi nama apa korban kekerasan itu sendiri?” Tukas Drupadi kesal.

Yudhistira berdiri. Hatinya bergolak kesana kemari… disatu sisi dia merasa terpuaskan karena si durhaka Dursasana yang menghina isterinya telah tak bernyawa, disatu sisi perasaan kemanusiaan tidak rela mengijinkan hal itu terjadi.

”Kresna kakakku, Drupadi istriku. Janganlah diteruskan lagi. Masih banyak yang harus kita atasi..”

Drupadi menarik nafas. Wajahnya terang dan bercahaya, dengan rambut tergelung, dalam tatapan kagum suaminya, yang melihat isterinya yang dulu saat hatinya masih murni tanpa dendam.

Penyebab Kematian dan Kekalahan Dursasana, Kisah Mahabharata

Sebagai anak Resi kesaktian dan kegagahannya tak mudah dikalahkan lawan. Bersama ayahnya ia bergabung dengan Kurawa hingga tatkala pecah perang Barata ia membantu Kurawa melawan Pandawa.

Kuwaluhan.com

Suatu waktu terjadi insiden dimana antara dia dengan Prabu Salya raja Mandaraka. Aswatama menuduh Salya telah bekhianat ketika menjadi kusir kereta perang Adipati Karna ketika perang dengan Arjuna. Setiap Karna melepas senjata, Salya selalu mencambuk kudanya hingga kereta bergoyang dan arah panah pun berbelok tidak mengenai sasaran. Tuduhan itu membuat Salya murka dan hampir terjadi baku hantam. Duryudana melerai dan menyalahkan Aswatama hingga si anak resi itu pun ditundung dan angkat kaki tak pernah muncul kembali.

Ia baru muncul setelah mengetahui Kurawa telah hampir ludas dan Duryudana sedang sekarat menghadapi ajal. Lebih-lebih setelah mengetahui bahwa ayahnya telah ajal di tangan Drestajumena. Timbul niatnya ingin membalas. Tapi untuk secara terang-terangan berhadapan dengan pandawa ia merasa tak mampu. Jalan satu-satunya mengadakan gerakan di bawah tanah membuat terowongan yang arahnya menuju ke Pesanggrahan Pandawa dan harus dikerjakan di malam hari untuk tidak diketahui pihak Pandawa. Tapi waktu itu bulan sedang gelap.

Tiba-tiba ia teringat ibunya seorang bidadari dari khayangan untuk dimintai tolong memberi penerangan selama ia bekerja. Dipanggilnya melalui semadi dan seketika itu sang ibu telah berada di hadapannya seraya berkata: “Anakku, ibu mengerti engkau kesulitan membuat jalan di bawah tanah. Tetapi perang telah berakhir lebih baik engkau menyerah supaya engkau selamat,” pintanya.

“Menyerah? Oh tidak. hamba tidak akan menyerah sebelum dapat membalas kematian resi dan raja hamba Duryudana yang sedang sekarat menghadapi ajal,” tolaknya tegas.

“Baiklah jika itu pilihanmu. Ibu akan menerangi dengan cahaya yang terang benderang selama engkau bekerja jangan sekali-kali menoleh ke belakang. Jika kau langgar, selain cahaya akan lenyap seketika, kau pun akan tercatat sebagai anak durhaka dan akan menerima hukuman yang amat berat,” Aswatama menyanggupi karena pikirnya, apa susahnya tidak menoleh ke belakang.

Maka seketika menggebyarlah cahaya yang amat terang benderang di sekitar itu dan Aswatama pun mulai bekerja membuat lubang. lalu dari mana datangnya cahaya itu? Ternyata cahaya yang terang benderang itu datangnya dari tubuh sang bidadari setelah menanggalkan seluruh busananya kecuali penutup aurat.

Itulah sebabnya Aswatama dilarang menoleh kebelakang. Mula-mula ia bekerja seperti biasa. Tapi lama-lama badan dan kepalanya merasa pegal karena tak bergerak bebas. Di samping itu timbul keingintahuan cahaya dari mana yang diberikan ibunya. Cahaya dari swarga atau lampu dunia. Maka seketika itu ia nekad menoleh ke belakang dan… terdengar suara jerit sang bidadari seiring dengan itu keadaan menjadi gelap gulita. Sang Dewi terbang kembali ke khayangan seraya berkata: “Kau anak durhaka Aswatama.”

Tapi Aswatama tidak menyesal dengan kejadian itu, karena jarak menuju pesanggrahan Pandawa sudah amat dekat dan dalam tempo yang tidak lama, ia telah muncul di permukaan pesanggrahan Pandawa.

Waktu itu para satria sedang tidur lelap tak seorang pun yang terjaga. Maka dengan tenang si anak resi itu membunuh satu persatu para satria Pandawa seperti Drestajumena, Pancawala, Srikandi dan lain-lain. Ketika melangkah ke sebuah kamar, dilihatnya seorang anak bayi yang tak lain Parikesit anak Abimanyu, generasi penerus keturunan Pandawa yang harus segera di lenyapkan. Namun tiba-tiba Dewi Utari terjaga dan menjerit minta tolong sehingga si pembunuh bertangan dingin itu langsung kabur. Sebelum masuk ke hutan ia sempat memberitahu Duryudana yang sedang sekarat, bahwa sakit hatinya telah terbalas dan raja Astina merasa puas kemudian menghembuskan nafasnya.

Keadaan menjadi gempar, Bima, Arjuna dan Kresna segera mengejar si pembunuh ke dalam hutan. Akhirnya Aswatama tak berdaya dihajar Bima walau dapat meloloskan diri. Namun sebuah panah yang dilepas Arjuna tidak dapat dihindari menancap di dadanya. Sewaktu sukmanya akan berpisah dari raganya, Kresna mengutuknya hingga sukmanya amblas ke dasar bumi bersatu dengan binatang-binatang kotor merana salam tiga ribu tahun lamanya.

Adapun makana cahaya yang keluar dari tubuh Wilutama adalah lambang cinta kasih seorang ibu kepada anaknya, bahwa sejak bayi lahir dari kandungannya, si ibu telah memberi sinar menerangi perjalanan hidup anaknya melalui air susunya. Karena itua nak wajib menghormati orang tuanya.

Versi lain dalam pedalangan menjelaskan, ketika Aswatama memasuki sebuah kamar ia melihat seorang anak bayi yang tak lain Parikesit anak Abimanyu. Aswatama tidak melihat bahwa di dekat kaki bayi ada senjata Pasupati warisan dari kakeknya (Arjuna) yang sengaja ditaruh di situ sebegai penunggu, Maka begitu Aswatama mengayunkan senjatanya ke tubuh si bayi, mendadak si bayi terbangun dan seperti ada kekuatan yang luar biasa, kakinya menendang Pasupati hingga terpental menembus dada Aswatama dan seketika menemui ajalnya, maka selamatlah si bayi yang kelak akan meneruskan tahta kerajaan Astinapura.

Penyebab Kematian dan Kekalahan Aswatama, Kisah Mahabharata