Showing posts with label Asal usul Sumatera. Show all posts
Showing posts with label Asal usul Sumatera. Show all posts

Wednesday, April 18, 2018

Sejarah Asal Usul Terbentuknya Kota Banda Aceh Indonesia

Banda Aceh adalah salah satu kota yang berada di Aceh dan menjadi ibukota Provinsi Aceh, Indonesia. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial dan budaya. Kota Banda Aceh juga merupakan kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, di mana Kota Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh.

Sejarah Banda Aceh


Banda Aceh sebagai ibu kota Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Kesultanan Aceh Darussalam dibangun di atas puing-puing kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang pernah ada sebelumnya, seperti Kerajaan Indra Purba, Kerajaan Indra Purwa, Kerajaan Indra Patra, dan Kerajaan Indrapura (Indrapuri). Dari batu nisan Sultan Firman Syah, salah seorang sultan yang pernah memerintah Kesultanan Aceh, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribukota di Kutaraja (Banda Aceh). (H. Mohammad Said a, 1981:157).

Kemunculan Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Islam Lamuri. Pada akhir abad ke-15, dengan terjalinnya suatu hubungan baik dengan kerajaan tetangganya, maka pusat singgasana Kerajaan Lamuridipindahkan ke Meukuta Alam. Lokasi istana Meukuta Alam berada di wilayah Banda Aceh.

Sultan Ali Mughayat Syah memerintah Kesultanan Aceh Darussalam yang beribukota di Banda Aceh, hanya selama 10 tahun. Menurut prasasti yang ditemukan dari batu nisan Sultan Ali Mughayat Syah, pemimpin pertama Kesultanan Aceh Darussalam ini meninggal dunia pada 12 Dzulhijah Tahun 936 Hijriah atau bertepatan dengan tanggal 7 Agustus 1530 Masehi.

Kendati masa pemerintahan Sultan Mughayat Syah relatif singkat, namun ia berhasil membangun Banda Aceh sebagai pusat peradaban Islam di Asia Tenggara. Pada masa ini, Banda Aceh telah berevolusi menjadi salah satu kota pusat pertahanan yang ikut mengamankan jalur perdagangan maritim dan lalu lintas jemaah haji dari perompakan yang dilakukan armada Portugis.

Pada masa Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh tumbuh kembali sebagai pusat perdagangan maritim, khususnya untuk komoditas lada yang saat itu sangat tinggi permintaannya dari Eropa. Iskandar Muda menjadikan Banda Aceh sebagai taman dunia, yang dimulai dari komplek istana. Komplek istana Kesultanan Aceh juga dinamai Darud Dunya (Taman Dunia).

Pada masa agresi Belanda yang kedua, terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh yang kemudian dirayakan oleh Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja.

Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah bertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43

Pada tanggal 26 Desember 2004, kota ini dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Indonesia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini.

Berdasarkan data statistik yang dikeluarkan Pemerintah Kota Banda Aceh, jumlah penduduk Kota Banda Aceh hingga akhir Mei 2012 adalah sebesar 248.727 jiwa.
Sedangkan Hari jadi Kota Banda Aceh yaitu pada tanggal 22 April 1205 M.


SEJARAH KERAJAAN LAMURI


Bandar Aceh mempunyai sejarah yang sangat panjang sebagai cikal-bakal Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Disinilah mula-mula berdirinya Kerajaan Aceh yang bernama Lamuri atau Al Ramni atau Rami, yang situsnya masih terdapat di Gampong Pande.

Dari literature-literatur dan buku-buku sejarah tentang Aceh, sejarah Melayu, Naskah-naskah tua, hikayat-hikayat Aceh serta wawancara dengan orang-orang tua, maka dapatlah diketahui, bahwa Aceh sudah mempunyai peradaban dan mempunyai system pemerintahan pada masa berabad-abad sebelum masehi.

Catatan sejarah tentang kegiatan pelaut-pelaut Paoenisia yang tersimpan dalam perpustakaan dikota pelabuhan Alexandria (Iskandariyah), tetapi karena sudah hilang maka yang dapat digunakan sebagai sumber adalah Injil (Thomas Braddell “ The Ancient trede of the Indian Archipelago”, Jil. II No: 3, 1857) antara lain tentang apa yang pernah disampaikan oleh The King of Salomon (Nabi Sulaiman A.S) kepada rakyatnya, yaitu pelaut-pelaut Phonesia supaya berlayar menuju ke timur untuk menemui gunung Ophir, karena ditempat tersebut banyak tersimpan harta berharga yaitu emas.

Tiga tahun lamanya pelaut tersebut berpergian, mereka kembali dengan berhasil membawa harta karun tersebut dalam jumlah besar ( D.M. Champhel mengatakan Ophir itu terletak di ujung utara Sumatra yaitu Aceh yang sekarang disebut kampong Pande.

Semenjak itu daya tarik berlayar semakin besar untuk menuju ke timur kearah matahari terbit dan berangsur angsur pula bahan dagangan bertambah ragam. Dari Eropa dibawa orang-orang barang perdagangan ke Alexanderia, disini dipertukarkan dengan barang-barang yang dibawa oleh orang Arab Saba yang pada giliranya pula menampung barang-barang baik dari sepanjang pantai Arab Selatan maupun dari Teluk Parsi dan India.

Pada masa itulah tampil di pasar Alexanderia hasil-hasil kekayaan dari Aceh seperti rempah-rampah, kapur barus, belerang, kemenyan, emas, perak dan timah. Pada tahun 376 S.M.

MASUKNYA AGAMA ISLAM DI BANDA ACEH


Seorang nahkoda Yunani yang tidak dikenal siapa orangnya pernah membuat semacam buku penuntun yang diberinama “Periplus Maris Erythraea) (Petunjuk Pelayaran laut India) menjelaskan lintasan perdagangan yang terjadi masa itu antara Mesir dan India dan pelabuhan-pelabuhan yang dijumpai ditengah perjalanan laut dan barang yang diperjual belikan antara negara yang bersangkutan, tetapi keterangan sampai ke timur lagi diperoleh dari orang-orang India yang mena mereka menceritakan ada suatu pulau dilautan India yang bernama Chryse yang menghasilkan penyu terbaik di lautan India. Jadi dapatlah diketahui bahwa pulau yang menghasilkan penyu adalah Sumatera, yang oleh Periplus ini oleh orang-orang barat dianggap sebagai perintis jalan untuk mengenal kepulauan Indonesia yang menghasilkan kekayaan alam dan hasil bumi rempah-rempah tersebut.

Namun orang pertama yang memperkenalkan Nusantara dan semenanjung Melayu adalah Ptolemaeus pada tahun 301 SM dia juga salah seorang panglima atau menteri dari Maharaja Iskandar Zulkarnaen, dimana setelah beliau wafat dia mengambil alih kekuasaan di Alexanderia.

Kota tersebut merupakan suatu pelabuhan besar pada zaman dulu di Mesir yang banyak memegang peranan dalam lintas perdagangan antar bangsa. Bukunya yang terkenal “geograpike Uplehesis” berupa ilmu bumi dunia yang lengkap dengan peta-petanya.

Pada Bab ketujuh, dia membicarakan kepulauan dan semenanjung bagian Asia Tenggara. Dia memperkenalkan “Aureachersoneseus” atau “Golden Chersoneseus” atau dalam bahasa Indonesia disebut “Pulau Emas” kalau orang Belanda menyebutnya Golden Berg.

Dalam peta itu ditempatkannya sebuah pulau bernama Jabadiou (Sumatera). Suatu kemungknan dapat diperhitungkan bahwa barang-barang yang dibeli atau diangkut dari Barygaza, sebagiannya berasal dari ujung pulau Sumatera yaitu Aceh, dalam kaitan ini dapat diperhitungkan, telah terjadi perdagangan antar pulau, seperti Kalimantan, Bugis, Maluku, Jawa maupun Palembang, Aceh sebagai entreport untuk hubungan ke luar negeri karena yang terpenting komoditi eksport pada masa itu adalah rempah-rempah (lada), kapur barus, emas dan perak, semuanya disuplai oleh pelabuhan Aceh.

Ptolemaeus menyebutkan kota pelabuhan daripada Aurea Chersoneseus dalam catatannya bernama “Argure” atau kota perak yang terletak dibagian paling barat pulau emas, yang banyak menghasilkan emas dan sangat subur.

Dapat diperhitungkan bahwa Argire yang dimaksudkan adalah Lamuri, atau sekarang kampong Pandee (J. L Moens). Dalam catatan sejarah China dalam tarikh Dinasti Han pada abad 206 SM, catatan dimaksud berkenaan dengan masa pemerintahan Kaisar “Wang Mang” yang mana Kaisar tersebut mengirimkan bingkisan berupa mutiara, permata dan barang-barang lain kepada sebuah negeri yang disebut dalam catatan itu bernama Huang Tsche dan Kaisar Wang meminta imbalan dari bingkisan nya, supaya dikirimkan binatang badak yang terdapat dinegeri itu, Wang bermaksud hendak memelihara badak tersebut dikebun binatangnya, disini sejarahwan berpendapat yang dimaksud Huang Tsuie adalah Aceh yang terletak di Ujung Pulau Sumatera Bagian Utara.

Dapat dijelaskan disini bahwa masih banyak catatan-catatan sejarah baik dari perjalanan pelaut-pelaut Phoenesia maupun perjalanan daripada bangsa-bangsa Arab, Persia dan Tionghoa yang tidak ditulis disini.

Sesudah ± tahun 400 SM, Aceh di ujung paling barat Pulau Sumatera, dinamai oleh orang Arab Rami (Al Ramni) oleh orang Tionghoa menyebut Lan-li, Lam-wuli, Nan-wuli, Nan-poli yang sebenarnya sebutan Aceh adalah Lamuri menurut sejarah Melayu, oleh Marcopolo menyebut Lambri setelah kedatangan Portugis nama Lambri tidak pernah disebut lagi melainkan Achem atau (Acheh) Sejak permulaan abad ke 1 Masehi di Aceh sudah ada pemerintahan atau kerajaan yang diperintahkan oleh Meurah-Meurah dan meugat-meugat dengan nama Kerajaanya Lamuri, yang terletak di ujung Barat Pulau Sumatera didekat pantai ± 2 km dan ± 500 meter di pinggir Krueng Aceh yang sekarang disebut Kampung Pande Situs daripada Istana (pendopo). Dan mesjid masih ada sampai dengan sekarang) walaupun sebagian sudah rusak akibat tsunami pada tanggal 26 Desember 2004.

Kalau diperhatikan dari letak geografisnya, maka Aceh Lamuri berkedudukan sebagai pintu masuk perlintasan laut dari Barat ke timur, atau pintu keluar dari timur ke barat. Jadi disini dapat diketahui bahwa Aceh menjadi daerah lintasan pedagang-pedagang dari segala bangsa yang terutama pelaut-pelaut atau saudagar-saudagar Arab, Persi, Phoenesia, India dan Cina.

Dengan berjalanya waktu dan bertambah majunya arus perdagangan Aceh Lamuri dengan dunia luar dan hilir mudik saudagar-saudagar Parsi, Arab maka mereka membuat perkampungan di Aceh Lamuri, sampai pada abad ke VI Masehi.

Kedatangan Islam ke Aceh Menjelang wafatnya Nabi Besar Muhammad SAW pada tanggal 8 Juni 632 Masehi, tahun pertama Hijriah. Agama Islam sudah berkembang luas ke seluruh Jazirah Arab. Pengembangan keluar Jazirah Arab berjalan terus bahkan sudah mencapai ke Tiongkok pada Zaman Khalifah Usman bin Affan pada tahun 651 M.

Sesuai catatan sejarahwan Dinasti Tang tentang kedatangan perutusan amirul mukminin dalam bahasa tiong hoa bertana han mi mo mo ni dengan membawa sepucuk surat yang menyebut bahwa kerajaanya (Islam) sudah berdiri sejak 34 tahun yang lalu. Untuk penelitian kapan Islam mencapai Nusantara khususnya Aceh, yang cukup penting adanya fakta, yaitu:

  • Sudah terlaksananya peng-Islaman diseluruh Jazirah Arab sebelum Rasullullah wafat. 
  • Pedagang-pedagang atau pelaut-pelaut Arab yang menlintasi lautan sejak masa itu sudah terdiri dari oang-orang muslim. 
  • Pedagang/pelaut Arab selalu mondar-mandir ke Aceh untuk membeli barang-barang dagangan yang akan dibawa ke Iskandariyah. 

Seperti yang tersebut sebelumnya bahwa orang-orang Arab dan Parsi sudah membuat perkampungan di Aceh (Lamuri), jadi kegiatan merantau dan orang-orang Arab dan Parsi yang terdapat dalam catatan Tionghoa, paling sedikit ada dua yang menjadi perhatian, antara lain: a. Kesan-kesan perjalanan biksu Tionghoa I-Tsing pada tahun 672 M menuju Nusantara melewati selat malaka menyinggahi O-Shen yang dimaksud adalah pelabuhan Aceh Lamuri. b. Catatan yang dilengkapi oleh W.P Groenevelt yang didapat dalam naskah Dinasti Tang, bahwa di pantai sebelah Barat Sumatera (Aceh) telah ada bermukim orang-orang Arab yang disebut bangsa TA-SHI.

Mengenai (a) I Tsing mengatakan bahwa dia menumpang kapal orang Po-ssu yaitu Parsi, diperhatikan dari masanya tahun 672 M yaitu sekitar 40 tahun berkembangnya Islam di Parsi, dapat diambil suatu kesimpulan bahwa pelaut-pelaut dan saudagar-saudagar dari Parsi sudah memeluk agama Islam.

Mengenai (b), orang Arab atu Ta-Shi yang bermukim dipantai barat Sumatera (Aceh) disekitar tahun 674 Masehi, tentulah pula sudah menjadi pemeluk agama Islam.

Pencatat dari Tionghoa menyebut mereka orang Ta-shi. Jadi pendatang Arab, Parsi yang membangun permukiman di Aceh Lamuri atau Kampung Pande sekarang ini jumlah mereka sangat banyak, ini dapat dilihat sewaktu mereka bermaksud menyerang Holling (Keudah-Malaysia) yang juga negerinya sangat makmur sama dengan di Aceh Lamuri, sekaligus memberi petunjuk bahwa jumlah mereka tidak sedikit dan kedudukan mereka sudah sangat kuat.

Sejak tersiarnya pendapat dari Groneveldt itu, para sarjana menjadi meningkat perhatianya untuk mengetahui kedatangan Islam ke Aceh. Kolonel G. E. Gerini dalam studinya mengatakan bahwa pernah ada permukiman orang Arab, Persi di wilayah Ta-shi (Aceh) dan dia meneguhkan ketidak sangsian lagi bahwa yang dimaksud Ta-shi adalah Aceh. Antara lain diyakinkan bahwa ISLAM sudah masuk ke Aceh pada tahun 674 M atau pada abad pertama Hijriah.

Profesor Syed Naquib Al-Ahas dalam satu studinya yang kemudian disiarkan oleh Dewan Bahasa dan Pustaka Kualalumpur mengatakan bahwa “catatan yang paling tua mengenai kemungkinan bermukimnya orang Arab Muslim di Aceh adalah bersumber daripada laporan Cina tentang permukiman Arab dan Parsi di ujung Sumatera bagian utara (Aceh) di tahun 55 H atau 674 M.

Pada seminar sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang dilangsungkan di Medan pada tanggal 17-20 Maret 1967 telah diambil kesimpulan antara lain: a. Bahwa Islam masuk pertama kali ke Indonesia adalah pada Abad ke I Hijriah dan langsung dari Arab. b. Bahwa daerah pertama didatangi Islam ialah pesisir Sumatera dan terbentuknya masyarakat Islam dan system kerajaan (kesultanan) di Aceh.

Professor Hamka yang dalam seminarnya itu tampil sebagai pembanding utama, yang mendukung penuh bahkan menperjelas kelansungan datangnya ISLAM dari Arab pada Abad ke I Hijriah.

Dalam tahun 1978 pada tanggal 10-16 Juli 1978 di Banda Aceh telah berlangsung suatu seminar tentang masuk dan berkembangnya Islam di Aceh yang diselenggarakan oleh Majelis Ulama Propinsi D. I Aceh, seminar tersebut bertujuan mengupas dan mencari kesimpulan yang akurat bagian-bagian seluruh aspek yang berkaitan dengan sejarah perkembangan islam di Propinsi Aceh.

Kesimpulan-kesimpulan yang berhasil diambil terbagi dalam tiga bab yaitu: - Bab pertama diambil kesimpulan yaitu, masih banyak lagi bahan-bahan yang harus dikumpulkan dan diteliti sehubungan dengan masuk dan berkembangnya Islam di Aceh. - Bab kedua meliputi 29 kesimpulan - Bab Ketiga: berkenaan dengan saran-saran yang bernilai dengan Bab 2, khususnya mengenai masuk dan berkembangnya Islam, yang terpenting diantaranya adalah: a. Sebelum Islam masuk ke Aceh, sudah ada kerajaan-kerajaan di Aceh diantaranya Lamuri di Aceh Besar (Kampung Pande sekarang) dan kerajaan-kerajaan lain (Sumber catatan bangsa lain yang pernah atau sering berkunjung ke Lamuri). b. Pada abad ke I Hijriah, Islam sudah masuk ke Aceh. c. Kerajaan Islam yang pertama adalah Lamuri, Peureulak dan Pasai.

Jadi disini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam masuk ke Aceh pada tahun 674 M, sesuai dengan catatan dan pendapat-pendapat dari para ahli sejarah dan catatan naskah Tionghoa, dan masih banyak pendapat ahli-ahli sejarah yang tidak diungkapkan dalam tulisan ini, serta dari hasill seminar-seminar yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Sejarah Kerajaan Aceh Lamuri sampai Aceh Darussalam. Sudah dikelaskan pada permulaan sekali, bahwa Aceh sudah dikenal sejak dari 1000 tahun SM dimasa pemerintahan Nabi Sulaiman A.s (The King of Salomon) sampai pada masa Periplus, tahun 376 SM, Prolemeus 301 S.M Dinasti Han I, 206 SM smpai pada abab I M s/d abad ke 4 Masehi, dimana orang-orang Arab menamakan Aceh dengan Al-Ramni atau Lamuri yang terletak di ujung barat pulau Sumatera atau di Kampung Pandee sekarang (situsnya masih ada) sampai dengan masuknya Islam pada tahun 674 M, disini penulis tidak mau mempermasalahkan apakah Aceh Besar yang pertama masuk Islam menurut “Bustanul Salatun” karangan Syech Nurdin Arraniry ataupun di Pasai menurut Hikayat raja-raja Pasai.

Sejak masuknya Islam ke Aceh Besar pada tahun 674 M dimana Islam terus berkembang pesat dan dapat diketahui system pemerintahan sejak 1000 tahun SM sampai abad ke I M sudah mulai ada dan mulai abad 1 M sampai dengan masuknya Islam sistem pemerintahan bertambah baik dan komplet.

Pada waktu itu kerajaan Lamuri di Aceh Besar atau lebih dikenal dengan nama Aceh tiga segi (Aceh Lhee Sagoe), dimana pada masa itu Aceh Lamuri masih diperintah oleh meurah-meurah dan meugat-meugat (pembesar Negara).

Pada saat Islam terus berkembang dengan pesatnya, mulailah berdatangan ulama-ulama yang mengembangkan agama Islam ke Aceh Raya, salah seorang diantaranya adalah turunan Bani Saljuk berasal dari bangsa Turky yaitu Sulthan Malik Syah Saljuk, salah seorang Sulthan Malik Syah Saljuk salah seorang Sulthan pada masa Dinastu Abbasyiah yang mana salah seorang cucu beliau yaitu Machdum Abi Abdullah Syeh Abdurrauf Baghdady atau Tuan dikandang Syeh Bandar Aceh Darussalam yang makamnya sekarang ada dikampung Pande.

Kalau kita mengikuti catatan dari naskah tua yang disimpan di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia di Kuala Lumpur (foto copy dari naskah tersebut tersimpan dalam perpustakaan Ali Hasyimi Banda Aceh) oleh Ayahnda Ali Hasyimi menyimpulkan dan beliau lebih condong dan sangat meyakinkan fakta-fakta yang tercatat dalam naskah tua tersebut, selain itu dalam naskah itu terdapat banyak lagi fakta-fakta sejarah yang sangat penting mengenai Aceh.

Kesimpulan yang diambil oleh Prof. Ali Hasyimi, bahwa sebagian raja-raja dan para pembesar yang memerintah Aceh dan para ulama. Ulama yang mengembangkan ilmu agama dan ilmu pengetahuan di Aceh dan daerah-daerah kekuasaanya adalah turunan dari Bani Saliuk yang berasal dari Kabilah kecil keturunan Turki, yaitu Kabilah Qunuq.

Kabilah ini bersama dengan duapuluh kabilah-kabilah kecil lainnya bersatu membentuk rumpun Chuz, semula gabungan Kabilal ini tidak memiliki nama hingga muncul tokoh Saljuk bin Tuqaq yang mempersatukam mereka dengan memberi nama suku Saljuk.

Suku ini bermukim atau mendiami pengunungan emas di Asia Barat, mereka terkenal salah satu suku yang berdarah panas dan berani, daerah tempat suku ini bermukim di daerah Turkistan. Dibawah pemerintahan Raja Bighu yang mengangkat Saljuk bin Tugaq sebagai pemimpin militer dari suku Saljuk. Suku ini bertetangga dengan Dinasti Samaniyah dan Dinasti Gaznawijah, suku ini memihak pada Dinasti Samaniyah ketika terjadi persengketaan anatara samaniyah dengan Gaznawijah dimana Dinasti Samaniyah dikalahkan oleh Dinasti Gaznawiyah, Saljuk menolak untuk bergabung dengan Gaznawiyah dan memproklamirkan wilayah yang diduduki suku ini sebagai negeri merdeka.

Bahkan ketika muncul tokoh generasi Saljuk yang bernama Tughrilbek, suku Saljuk berhasil mengalahkan dan mengakhiri kekuasaan Ghaznawiyah pada tahun 429 H (1036 M), dan semenjak itu Dinasti Saljuk sukses dalam setiap upaya ekspansi. Pada masa kepemimpinan Tughril Bek tahun1037-1063 M (430-456 H) suku Saljuk berhasil memasuki Bagdad, setelah mengalahkan DInasty Buwaihiyyah.

Mulai dari sini Bani Saljuk mulai memerintahkan didalam DInasty Abbasiyah. Setelah Tughril beg wafat dan diganti oleh kemenakannya yang bernama Alp Arselan (1063-1072 atau 456 H-465 H), pada masa itu ekspansi besar-besaran kea rah timur, menundukan Armenia, ke Arab bagian barat sampai ke Asia kecil, begitu hebat perkembangan pada masa itu sehingga semakin luas daerah kekuasaan Bani Saljuk. Disini tercatat Alp Arsilan sebagai penguasa yang adil dan bijaksana, beliau mangkat pada tahun 465 H/1072 M dan digantikan oleh putranya bernama Malik Syaj.

Pada masa Pemerintahan Sultan Malik Syah seluruh wilayah kesultanan saljuk yang luas ini diwarnai kemakmuran dan kedamaian hidup, pembangunan dalam segala bidang berkembang dengan pesat, demikian juga bidang seni dan budaya terutama bidang ilmu pengetahuan pengembanganya sangat maju sekali.

Yang paling menonjol adalah ilmu teknik pemerintahan , ilmu astronomi, ilmu matematika (Aljabar) dengan penemuan system hitungan decimal, aritmatika, geometri, logaritma. Selain itu mereka juga memberikan kontribusi besar dalam bidang ilmu kimia yaitu “Term chemistry” yang mereka sebut Al Kimia. Demikian masa pemerintahan Sulthan Malik Syah sampai dengan mangkatnya beliau tahun 485 H/1092M.

Kemudian sulthan-sulthan pengganti beliau tidak memiliki kecakapan dalam memerintah sehingga kesulthanan Bani Saljuk mengalami kemunduran, sampai pada masa perang salib dan kehancuran Bani Saljuk oleh serangan bangsa Mongol (Hulagu Khan) pada masa itu sedang dibentuk Dinasti Turki Usmani berpangkal pada sebuah suku kecil yakni Kabilah Ughu semula mereka tinggal disebelah utara negeri Cina.

NENEK MOYANG MASYARAKAT BANDA ACEH


Karena tekanan-tekanan dari bangsa Mongol, mereka dibawah pimpinan Sulaiman Syah, berpindah kearah barat hingga mereka bergabung dengan saudara seketurunan, yakni orang Turki Saljuk di Asia Kecil. Dibawah pimpinan Usman mereka membentuk kerajaan Turki Usmani dengan raja yang pertama Usman I yang bergelar “Padinsyah Ali Usman” pada tahun 1281-1324 kemudian Dinasti Usman berjalan terus sampai terjadi perang dunia pertama (1915 M), dan pada masa Mustafa Kamal dalam kapasitas pemimpin dewan majelis menghapus jabatan Khalifah pada tahun 1924 semenjak itu berakhir Imperium Turki Usmani dan sejarah Turki memasuki era modern dengan system pemerintahan republik.

Kembali pada masalah datangnya ulama-ulama ke Aceh Besar, yaitu ada lima orang ulama yang mengembangkan agama Islam dan ilmu pengetahuan di Aceh Bandar Darussalam (Lamuri-Aceh Besar). Kelima ulama-ulama pengembang Islam tersebut adalah:

  • Abdullah, berasal dari Persia, Mazhab hanafi, Ahlus sunnah wal jama’ah, datan ke Aceh pada tahun 229 H (843 M). 
  • Sulaiman bin Abdullah Yamani, Mazhab Zidi, datang ke Aceh pada tahun 236 H (850 M). 
  • Syeck Umar bin Abdullah Malabari, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 275 H (879 M). 
  • Abdullah Hasan Al-Makki, dari Mekkah, Mazhab Syafi’i, Ahlus sunnah wal jama’ah, ke Aceh pada tahun 284 H (889 M). 
  • Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Rauf Baghdadi bergelar Tuan dikandang Syekh Bandar Aceh Darussalam, beliau keturunan dari Sultan Malik Syah Saljuk, kuburan di Kampung Pandee. 

Beliau inilah nenek moyang dari pada raja-raja, pembesar-pembesar dan Ulama-ulama dalam zaman kerajaan Aceh Lamuri (Bandar Aceh Darussalam) sampai pada zaman Kerajaan Aceh Darussalam. Beliau datang ke Aceh pada Abad ke 11 Masehi atau ke IV Hijriah.

Setelah ulama-ulama berdatangan ke Aceh, perkembangan Islam yang mencapai puncaknya, apalagi dengan datangnya ulama pendiri Tharikat Kadriyah yaitu Sykh Abdulkadir Jaelani, pada abad k XI atau pada masa Tuan Dikandang atau Makhdun Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi, dari sinilah mulai terbentuk kerajaan Islam Aceh Lamuri atau Bandar Aceh Darussalam dilembah Aceh Tiga Segi (Aceh Lhee Sagoe) Aceh Besar.

Menurut Naskah tua yang terdapat di perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, terdapat sarakata (Ranji) sisilah dari raja-raja Aceh, mulai dari raja-raja kerajaan Aceh Lamuri sampai kepada raja-raja dan ratu-ratu kerajaan Aceh-Darussalam.

Begitulah sarakata atau ranji atau silsilah daripada raja-raja dari kerajaan Aceh, dan menurut keterangan dari salah seorang pegawai Dinas Kebudayaan Bagian Purbakala NAD, juga pernah ada silsilah atau sarakata dari raja-raja kerajaan Aceh yang persis sama dengan yang terdapat pada perpustakaan Universitas Kebangsaan Malaysia, tetapi sewaktu terjadi kebakaran pada tahun 2002, silsilah tersebut turut terbakar.

Sudah dijelaskan di atas bahwa kuburan dari pada Tuan di Kandang atau Makhdum Abi Abdullah Syekh Abdul Ra’uf Baghdadi terletak di Kampung Pandee, dan kuburan itu rusak dilanda tsunami, juga kuburan Sulthan Abdul Aziz Johan Syah serta Sulthan-Sulthan sesudahnya, Putroe Ijo, kuburan Raja Si Uroe atau Sulthan Alaiddin Mukminsyah, juga bernama raja Mukhal Ibnu Ali Riatsyah, beliau pernah menjadi raja di Pariaman Sumatera Barat dengan panggilan Sulthan Seri Alam Firmansyah.

Selain dari kuburan raja-raja juga terdapat kuburan ulama-ulama dan raja-raja di Kampung Jawa, Pelanggahan di Kecamatan Kutaraja, seperti kuburan Tengku Di Anjong atau Syekh Abubakar Al Fakih. Banyak kuburan-kuburan lama itu belum disentuh atau diselidiki oleh ahli-ahli sejarah dan juga bekas istana (pendopo) dan bekas mesjid pada masa kerajaan Lamuri.

Rangkuman Dari : Sejarah.Aceh.my.id dan Wikipedia

Wednesday, December 27, 2017

Sejarah Terputus dan Terpisahnya Pulau Jawa Dan Pulau Bali

Beberapa peneliti dari Eropa mengatakan bahwa pulau Jawa dan pulau Bali sebenarnya masih satu daratan. Akibat adanya gunung api meletus, daratan ini terbelah menjadi dua seperti sekarang yg dibatasi dengan Selat Bali.


Dalam sejarah Bali juga disebutkan bahwa Jawa dan Bali adalah satu daratan panjang yg disebut pulau Dawa (pulau panjang). Secara ilmiah mungkin argumentasi dari peneliti-peneliti bisa dibenarkan.

Tetapi orang Bali memiliki cerita tersendiri tentang pemisahan Pulau Jawa dengan Pulau Bali ini yg dikenal dgn peristiwa SEGARA RUPEK.

Mpu Siddhimantra, putra Mpu Tantular dari kerajaan Daha (Kediri-Jawa Timur), adalah seorang pendeta sakti abad XIV yg memiliki seorang sahabat berwujud naga di Bali. Naga itu bernama Naga Basukih yg berdiam di goa dekat Pura Besakih.

Persahabatan antara sang Mpu dengan sang Naga membuat sang Mpu sering mengunjungi sahabatnya itu setiap bulan purnama untuk bercakap-cakap sambil membawakan makanan berupa susu, mentega dan madu. Sebagai gantinya, sang Naga menghadiahi Mpu perhiasan emas, permata dan berlian.

Mpu Siddhimantra mempunyai satu putra bernama Manik Angkeran, yg gemar berjudi. Dia telah banyak menghabiskan harta sang Mpu ayahnya untuk bertaruh. Suatu bulan purnama sang Mpu sakit dan tidak bisa pergi mengunjungi sang Naga sahabatnya.

Mengetahui bahwa sang ayah sakit, Manik Angkeran yg sedang memerlukan modal untuk berjudi kemudian mencuri bajra (genta) sang ayah dan pergi ke Bali menemui Naga Basuki, dengan maksud mendapatkan emas, permata dan berlian sebagai hadiah yg biasanya diberikan sang Naga kepada ayahnya.

Sesampai di mulut gua, Manik Angkeran membunyikan genta dan sang Naga keluar. Dia menyampaikan bahwa ayahnya Mpu Siddhimantra sedang sakit dan mengutus dirinya untuk membawakan susu, mentega dan madu kehadapan sang Naga.

Sebagai balasan, sang Naga memberikan emas, permata dan berlian kepada Manik Angkeran. Saat sang Naga masuk ke dalam gua, Manik Angkeran terkesima dengan batu permata yg bercahaya pada ekor sang naga. Tanpa basa-basi dipotongnya-lah ekor itu sambil membawa kabur permata nan elok itu.


Sial, sebelum sampai di Kediri, Sang Naga Basuki menemui jejak kaki Manik Angkeran dan menjilatnya. Kekuatan sakti Naga Basuki mampu membakar Manik Angkeran menjadi abu di Cemara Geseng. Diceritakan kemudian Mpu Siddhimantra mengetahui genta-nya hilang pergi menemui Naga Basuki sambil menanyakan keberadaan putranya Manik Angkeran.

Sang Naga menceritakan kejadian tewasnya Manik Angkeran karena telah memotong ekornya. Akhirnya Mpu Siddhimantra berjanji akan menyatukan kembali ekor Naga Basuki, dan Naga Basuki juga berjanji akan menghidupkan kembali Manik Angkeran.

Setelah ekor naga disatukan dan Manik Angkeran hidup kembali, Mpu Siddhimantra memerintahkan anaknya Manik Angkeran untuk berdiam di Bali dan menjadi abdi pura Besakih sebagai pemangku (orang suci).

Agar sang anak tidak balik mengikuti ayahnya ke Kediri (Jawa Timur), dengan kesaktiannya Mpu Siddimantra menorehkan tongkatnya di Blambangan (Banyuwangi sekarang), sehingga daratan terpisah menjadi dua yang sekarang menjadi Pulau Jawa dan Pulau Bali.

Sampai dengan sekarang, para pemangku di pura Besakih wajib memiliki trah keturunan Manik Angkeran. Peristiwa terbelahnya daratan oleh tongkat sakti Mpu Siddhimantra disebut dengan peristiwa Segara Rupek yg memunculkan selat Bali, yg sekarang adalah jalur penyeberangan Jawa-Bali (Ketapang-Gilimanuk).

Inilah Sejarah Terpisahnya Pulau Jawa Dengan Sumatra

Para ahli telah bersepakat bahwa Pulau Jawa dengan Sumatera dulu Pernah menyatu. Bahkan penyatuan itu Bersama Kalimantan, kemudian membentuk dataran yang disebut Sunda Besar. Maka, bisa dibayangkan betapa besarnya sunda besar itu.


Sejarah pemisahan antara Pulau Jawa dan Sumatera itu memiliki dua versi penyebabnya. Pertama, pemisahan Jawa dan Sumatera diyakini adalah akibat gerakan lempeng Bumi. Kedua, pendapat yang mengatakan bahwa pemisahan itu akibat letsan gunung Krakatau.

Pendapat yang mendukung pemisahan Jawa dan Sumatera karena letusan gunung Krakatau biasanya mengacu pada Pustaka Raja Purwa, yang ditulis pujangga besar Jawa, Ronggowarsito, pada tahun 1869.

Dalam buku ini dikisahkan, letusan Gunung Kapi yang belakangan diidentifikasi sebagai Gunung Krakatau menjadi penyebab pemisahan Pulau Jawa dan Sumatera. Peristiwa ini disebutkan terjadi pada tahun 416 Masehi.

Peneliti dari Los Alamos National Laboratory (New Mexico), Ken Wohletz, termasuk yang mendukung tentang kemungkinan letusan besar Krakatau purba hingga memisahkan Pulau Jawa dan Sumatera. Dia membuat simulasi tentang skenario letusan super. Namun, berbeda dengan Ronggowarsito, Ken menyebutkan, letusan itu kemungkinan terjadi puluhan ribu tahun lalu.

Melalui penanggalan karbon dan radioaktif, para ahli geologi memastikan bahwa Krakatau pernah beberapa kali meletus hebat. "Sepertinya pembentukan Selat Sunda tidak mungkin karena sebuah letusan tunggal besar, seperti ditulis dalam legenda (Pustaka Raja Purwa) itu.

Setidaknya ada dua periode letusan besar di Krakatau, tetapi itu sekitar ratusan bahkan ribuan tahun lalu, tidak pada tahun 416 Masehi," sebut Zeilinga de Boer dan Donald Theodore Sannders dalam Volcanoes in Human History, 2002.

Walaupun pencatatan Ronggowarsito tentang waktu letusan masa lalu Krakatau diragukan ketepatannya, pujangga ini barangkali benar soal "pemisahan" Pulau Jawa dengan Sumatera yang berkaitan erat dengan letusan Krakatau.

Namun, pemisahan Jawa dan Sumatera sepertinya bukan karena letusan Krakatau. Sebaliknya, Krakatau terbentuk karena pemisahan kedua pulau ini sebagai produk gerakan tektonik di dalam Bumi.

Geolog dari Museum Geologi, Indyo Pratomo pernah mengatakan, pemisahan Jawa dan Sumatera terjadi karena gerakan tektonik. ”Pulau Jawa dan Sumatera bergerak dengan kecepatan dan arah yang berbeda akibat tumbukan lempeng Indo-Australia ke Euro-Asia. Perbedaan ini menyebabkan terbukanya celah di dalam Bumi.

Gunung Krakatau tepatnya gunung Anak Krakatau yang merupakan gunung Krakatau Muda,  adalah kepulauan vulkanik yang masih aktif dan berada di Selat Sunda antara pulau Jawa dan Sumatra. Nama ini pernah disematkan pada satu puncak gunung berapi di sana (Gunung Krakatau) yang sirna karena letusannya sendiri pada tanggal 26-27 Agustus 1883.

Letusan itu sangat dahsyat; awan panas dan tsunami yang diakibatkannya menewaskan sekitar 36.000 jiwa. Suara letusan itu terdengar sampai di Alice Springs, Australia dan Pulau Rodrigues dekat Afrika, 4.653 kilometer. Daya ledaknya diperkirakan mencapai 30.000 kali bom atom yang diledakkan di Hiroshima dan Nagasaki di akhir Perang Dunia II.

Letusan Krakatau menyebabkan perubahan iklim global. Dunia sempat gelap selama dua setengah hari akibat debu vulkanis yang menutupi atmosfer. Matahari bersinar redup sampai setahun berikutnya. Hamburan debu tampak di langit Norwegia hingga New York.

Ledakan Krakatau ini sebenarnya masih kalah dibandingkan dengan letusan Gunung Toba dan Gunung Tambora di Indonesia, Gunung Tanpo di Selandia Baru dan Gunung Katmal di Alaska.

Namun gunung-gunung tersebut meletus jauh di masa populasi manusia masih sangat sedikit. Sementara ketika Gunung Krakatau meletus, populasi manusia sudah cukup padat, sains dan teknologi telah berkembang, telegraf sudah ditemukan, dan kabel bawah laut sudah dipasang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa saat itu teknologi informasi sedang tumbuh dan berkembang pesat.

Tercatat bahwa letusan Gunung Krakatau adalah bencana besar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut. Kemajuan tersebut, sayangnya belum diimbangi dengan kemajuan di bidang geologi. Para ahli geologi saat itu bahkan belum mampu memberikan penjelasan mengenai letusan tersebut.

Jadi, sudah bisa dibayangkan betapa  besar dan dahsyatnya kekuatan letusan gunung Krakatau ketika itu, atau betapa hebatnya  pergerakan lempeng bumi ketika itu yang dapat memecah atau memisahkan pulau Jawa dan Sumatera, bahkan juga Kalimantan.

Dan bisa dibayangkan lagi betapa besar dan banyaknya korban nyawa manusia jika itu terjadi pada zaman sekarang dimana populasi manusia zaman sekarang yang sudah sangat besar. Pada tahun 1880-an saja korban nyawa sudah mencapai 36.000 jiwa, jika itu terjadi sekarang, entah berapa juta manusia yang harus korban.

SUMBER : NETRALNEWS,COM

Sejarah Asal usul Terbentuknya Kepulauan Papua Indonesia

Papua adalah sebuah provinsi terluas Indonesia yang terletak di bagian tengah Pulau Papua atau bagian paling timur wilayah Papua milik Indonesia. Belahan timurnya merupakan negara Papua Nugini.

Provinsi Papua dulu mencakup seluruh wilayah Papua Bagian barat, namun sejak tahun 2003 dibagi menjadi dua provinsi dengan bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya memakai nama Papua Barat. Papua memiliki luas 808.105 km persegi dan merupakan pulau terbesar kedua di dunia dan terbesar pertama di Indonesia.

Papua berada di wilayah paling timur negara Indonesia. Ia merupakan pulau terbesar kedua setelah Pulau Greendland di Denmark. Luasnya capai 890.000 Km² (ini jika digabung dengan Papua New Guinea). Besarnya diperkirakan hampir lima kali luas pulau Jawa.

ASAL USUL NAMA PAPUA


Perkembangan asal usul nama pulau Papua memiliki perjalanan yang panjang seiring dengan sejarah interaksi antara bangsa-bangsa asing dengan masyarakat Papua, termasuk pula dengan bahasa-bahasa lokal dalam memaknai nama Papua.

Pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, wilayah ini dikenal sebagai Nugini Belanda (Nederlands Nieuw-Guinea atau Dutch New Guinea). Setelah berada bergabung dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, wilayah ini dikenal sebagai Provinsi Irian Barat sejak tahun 1969 hingga 1973.

Namanya kemudian diganti menjadi Irian Jaya oleh Soeharto pada saat meresmikan tambang tembaga dan emas Freeport, nama yang tetap digunakan secara resmi hingga tahun 2002.

UU No. 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus Papua mengamanatkan nama provinsi ini untuk diganti menjadi Papua. Pada tahun 2003, disertai oleh berbagai protes (penggabungan Papua Tengah dan Papua Timur), Papua dibagi menjadi dua provinsi oleh pemerintah Indonesia; bagian timur tetap memakai nama Papua sedangkan bagian baratnya menjadi Provinsi Irian Jaya Barat(setahun kemudian menjadi Papua Barat). Bagian timur inilah yang menjadi wilayah Provinsi Papua pada saat ini.

Nama Papua Barat (West Papua) masih sering digunakan oleh Organisasi Papua Merdeka(OPM), suatu gerakan separatis yang ingin memisahkan diri dari Indonesia dan membentuk negara sendiri.

SEJARAH PAPUA

Pada sekitar tahun 200 M , ahli Geography bernama Claudius Ptolemaeus (Ptolamy) menyebut pulau Papua dengan nama Labadios. Sampai saat ini tak ada yang tahu, kenapa pulau Papua diberi nama Labadios.

Sekitar akhir tahun 500 M, oleh bangsa China diberi nama Tungki. Hal ini dapat diketahui setelah mereka menemukan sebuah catatan harian seorang pengarang Tiangkok, Ghau Yu Kuan yang menggambarkan bahwa asal rempah-rempah yang mereka peroleh berasal dari Tungki, nama yang digunakan oleh para pedagang China saat itu untuk Papua.

Selanjutnya, pada akhir tahun 600 M, Kerajaan Sriwijaya menyebut nama Papua dengan menggunakan nama Janggi. Dalam buku Kertagama 1365 yang dikarang Pujangga Mpu Prapanca “Tugki” atau “Janggi” sesungguhnya adalah salah eja diperoleh dari pihak ketiga yaitu Pedagang Cina Chun Tjok Kwan yang dalam perjalanan dagangnya sempat menyinggahi beberapa tempat di Tidore dan Papua.

Di awal tahun 700 M, pedagang Persia dan Gujarat mulai berdatangan ke Papua, juga termasuk pedangan dari India. Tujuan mereka untuk mencari rempah-rempah di wilayah ini setelah melihat kesuksesan pedangang asal China. Para pedagang ini sebut nama Papua dengan Dwi Panta dan juga Samudranta, yang artinya Ujung Samudra dan Ujung Lautan.

Pada akhir tahun 1300, Kerajaan Majapahit menggunakan dua nama, yakni Wanin dan Sram. Nama Wanin, tentu tidak lain dari semenanjung Onin di daerah Fak-Fak dan Sram, ialah pulau Seram di Maluku. Ada kemungkinan, budak yang dibawa dan dipersembahkan kepada Majapahit berasal dari Onin dan yang membawanya ke sana adalah orang Seram dari Maluku, sehingga dua nama ini disebut.

Sekitar tahun 1646, Kerajaan Tidore memberi nama untuk pulau ini dan penduduknya sebagai Papa-Ua, yang sudah berubah dalam sebutan menjadi Papua. Dalam bahasa Tidore artinya tidak bergabung atau tidak bersatu (not integrated). Dalam bahasa melayu berarti berambut keriting. Memiliki pengertian lain, bahwa di pulau ini tidak terdapat seorang raja yang memerintah.

Ada juga yang memakai nama Papua sebagai bentuk ejekan terhadap warga setempat penduduk primitif, tertinggal, bodoh yang merupakan slogan yang tidak mempunyai arti apapun dengan nama Papua.

Respon penduduk terhadap nama Papua cukup baik. Alasannya, sebab nama tersebut benar mencerminkan identitas diri mereka sebagai manusia hitam, keriting, yang sangat berbeda dengan penduduk Melayu juga kerajaan Tidore. Tapi, tentu mereka tak terima dengan ejekan yang selalu dilontarkan warga pendatang.

Pada tahun 1511 Antonio d’Arbau, pelaut asal Portugis menyebut wilayah Papua dengan nama “Os Papuas” atau juga llha de Papo. Don Jorge de Menetes, pelaut asal Spanyol juga sempat mampir di Papua beberapa tahun kemudian (1526-1527), ia tetap menggunakan nama Papua.

Ia sendiri mengetahui nama Papua dalam catatan harian Antonio Figafetta, juru tulis pelayaran Magelhaens yang mengelilingi dunia menyebut dengan nama Papua. Nama Papua ini diketahui Figafetta saat ia singgah di pulau Tidore.

Berikutnya, pada tahun 1528, Alvaro de Savedra, seorang pimpinan armada laut Spanyol beri nama pulau Papua Isla de Oro atau Island of Gold yang artinya Pulau Emas. Ia juga merupakan satu-satunya pelaut yang berhasil menancapkan jangkar kapalnya di pantai utara kepulauan Papua. Dengan penyebutan Isla Del Oro membuat tidak sedikit pula para pelaut Eropa yang datang berbondong-bondong untuk mencari emas yang terdapat di pulau emas tersebut.

Pada tahun 1545, pelaut asal spanyol Inigo Ortiz de Retes memberi nama Nueva Guinee. Dalam bahasa Inggris disebut New Guinea. Ia awalnya menyusuri pantai utara pulau ini dan karena melihat ciri-ciri manusianya yang berkulit hitam dan berambut keriting sama seperti manusia yang ia lihat di belahan bumi Afrika bernama Guinea, maka diberi nama pulau ini Nueva Guinee/Pulau Guinea Baru.

Nama Papua dan Nueva Guinea dipertahankan hampir dua abad lamanya, baru kemudian muncul nama Nieuw Guinea dari Belanda, dan kedua nama tersebut terkenal secara luas diseluruh dunia, terutama pada abad ke-19.

Penduduk nusantara mengenal dengan nama Papua dan sementara nama Nieuw Guinea mulai terkenal sejak abad ke-16 setelah nama tersebut tampak pada peta dunia sehingga dipakai oleh dunia luar, terutama di negara-negara Eropa.

Pada tahun 1956, Belanda kembali mengubah nama Papua dari Nieuw Guinea menjadi Nederlands Nieuw Guinea. Perubahan nama tersebut lebih bersifat politis karena Belanda tak ingin kehilangan pulau Papua dari Indonesia pada zaman itu.

Pada tahun 1950-an oleh Residen JP Van Eechoud dibentuklah sekolah Bestuur. Di sana ia menganjurkan dan memerintahkan Admoprasojo selaku Direktur Sekolah Bestuur tersebut untuk membentuk dewan suku-suku. Di dalam kegiatan dewan ini salah satunya adalah mengkaji sejarah dan budaya Papua, termasuk mengganti nama pulau Papua dengan sebuah nama lainnya.

Tindak lanjutnya, berlangsung pertemuan di Tobati, Jayapura. Di dalam turut dibicarakan ide penggantian nama tersebut, juga dibentuk dalam sebuah panitia yang nantinya akan bertugas untuk menelusuri sebuah nama yang berasal dari daerah Papua dan dapat diterima oleh seluruh suku yang ada.

Frans Kaisepo selaku ketua Panitia kemudian mengambil sebuah nama dari sebuah mitos Manseren Koreri, sebuah legenda yang termahsyur dan dikenal luas oleh masyarakat luas Biak, yaitu Irian.

Dalam bahasa Biak Numfor “Iri” artinya tanah, "an" artinya panas. Dengan demikian nama Irian artinya tanah panas. Pada perkembangan selanjutnya, setelah diselidiki ternyata terdapat beberapa pengertian yang sama di tempat seperti Serui dan Merauke. Dalam bahasa Serui, "Iri" artinya tanah, "an" artinya bangsa, jadi Irian artinya Tanah bangsa, sementara dalam bahasa Merauke, "Iri" artinya ditempatkan atau diangkat tinggi, "an" artinya bangsa, jadi Irian adalah bangsa yang diangkat tinggi.

Secara resmi, pada tanggal 16 Juli 1946, Frans Kaisepo yang mewakili Nieuw Guinea dalam konferensi di Malino-Ujung Pandang, melalui pidatonya yang berpengaruh terhadap penyiaran radio nasional, mengganti nama Papua dan Nieuw Guinea dengan nama Irian.

Nama Irian adalah satu nama yang mengandung arti politik. Frans Kaisepo pernah mengatakan “Perubahan nama Papua menjadi Irian, kecuali mempunyai arti historis, juga mengandung semangat perjuangan: IRIAN artinya Ikut Republik Indonesia Anti Nederland”. (Buku PEPERA 1969 terbitan tahun 1972, hal. 107-108).

Setelah Indonesia merdeka pada 1945, dan semakin terpojoknya Belanda oleh dunia internasional dalam rangka mempertahankan Papua dalam wilayah jajahannya, pada 1 Desember 1961, Belanda membentuk negara boneka Papua.

Pada tanggal tersebut Belanda memerintahkan masyarakat Papua untuk mengibarkan bendera nasional baru yang dinamakan Bintang Kejora. Mereka menetapkan nama Papua sebagai Papua Barat.

Sedangkan United Nations Temporary Executive Authority (UNTEA), sebuah badan khusus yang dibentuk PBB untuk menyiapkan act free choice di Papua pada tahun 1969 menggunakan dua nama untuk Papua, West New Guinea/West Irian.

Berikutnya, nama Irian diganti menjadi Irian Barat secara resmi sejak 1 Mei 1963 saat wilayah ini dikembalikan dari Kerajaan Belanda ke dalam pangkuan Negara republik Indonesia. Pada tahun 1967, kontrak kerja sama PT Freeport Mc Morran dengan pemerintah Indonesia dilangsungkan. Dalam kontrak ini Freeport gunakan nama Irian Barat, padahal secara resmi Papua belum resmi jadi bagian Indonesia.

Dunia internasional mengakui secara sah bahwa Papua adalah bagian Negara Indonesia setelah dilakukannya Penentuan Pendapat Rakyat (PEPERA) tahun 1969.

Dan kemudian pada tanggal 1 Maret 1973 sesuai dengan peraturan Nomor 5 tahun 1973 nama Irian Barat resmi diganti oleh Presiden Soeharto menjadi nama Irian Jaya.

Memasuki era reformasi sebagian masyarakat menuntut penggantian nama Irian Jaya menjadi Papua. Presiden Abdurrahman Wahid memenuhi permintaan sebagian masyarakat tersebut. Dalam acara kunjungan resmi kenegaraan Presiden, sekaligus menyambut pergantian tahun baru 1999 ke 2000, pagi hari tanggal 1 Januari 2000, dia memaklumkaan bahwa nama Irian Jaya saat itu diubah namanya menjadi Papua seperti yang diberikan oleh Kerajaan Tidore pada tahun 1800-an.

Sejarah dan Asal Usul Terbentuknya Kepulauan Sulawesi, Indonesia

Sulawesi adalah pulau terbesar kesebelas di dunia, meliputi area seluas 174.600 km2(67.413 sq mi). Bagian tengah pulau ini bergunung-gunung dengan permukaan kasar, sehingga semenanjung di Sulawesi pada dasarnya jauh satu sama lain, yang lebih mudah dijangkau melalui laut daripada melalui jalan darat.

Ada tiga teluk yang membagi semenanjung-semenanjung di Sulawesi, dari utara ke selatan, yaitu Teluk Tomini, Tolo dan Bone. Ketiganya memisahkan Semenanjung Minahasa atau Semenanjung Utara, Semenanjung Timur, Semenanjung Tenggara dan Semenanjung Selatan.

Selat Makassar membentang di sepanjang sisi barat pulau ini. Sulawesi dikelilingi oleh Kalimantan di sebelah barat, oleh Filipina di sebelah utara, oleh Maluku di timur, serta oleh Flores dan Timor di selatan.

KEPULAUAN KECIL

Kepulauan Selayar membentuk semenanjung yang membentang ke selatan dari bagian barat daya Sulawesi hingga ke Laut Flores, dan secara administratif merupakan bagian dari Sulawesi Selatan.

Kepulauan Sangihe dan Kepulauan Talaudmembentang ke utara dari ujung timur laut Sulawesi, sementara Pulau Buton dan pulau-pulau tetangganya berbatasan dengan semenanjung tenggara.

Kepulauan Togean berada di tengah Teluk Tomini, dan Pulau Peleng serta Kepulauan Banggaimembentuk sebuah gugusan pulau antara Sulawesi dan Maluku. Semua pulau yang disebutkan di atas, dan pulau-pulau yang lebih kecil secara administratif, merupakan bagian dari enam provinsi di Sulawesi.

GEOLOGI

Pulau ini terbentuk melalui lekukan tepi laut dalam yang mengelilinginya hingga wilayah pedalaman berupa pegunungan yang tinggi, dan sebagian besar non-vulkanik. Gunung berapi aktif ditemukan di Semenanjung Minahasa yang berada di utara Sulawesi, dan terus membentang ke utara menuju Kepulauan Sangihe.

Semenanjung utara Sulawesi merupakan tempat bagi beberapa gunung berapi aktif seperti Gunung Lokon, Gunung Awu, Soputan dan Karangetang.

Menurut rekonstruksi lempeng, pulau ini diyakini terbentuk melalui proses tumbukan terran antara Lempeng Asia (yang membentuk semenanjung barat dan barat daya) dan Lempeng Australia (yang membentuk semenanjung tenggara dan Banggai), dengan busur kepulauan yang sebelumnya berada di Samudera Pasifik (dan membentuk semenanjung utara dan timur)

Karena ketidakstabilan riwayat tektoniknya, berbagai sesar terbentuk dan akibatnya pulau ini menjadi rawan gempa bumi.

Sulawesi, berbeda dengan sebagian besar pulau lainnya di wilayah biogeografisWallacea, tidak sepenuhnya memiliki sifat samudera, namun merupakan pulau komposit di pusat zona tabrakan Asia-Australia.

Bagian dari pulau ini sebelumnya menyatu, entah pada batas benua Asia atau Australia sebelum akhirnya terpisah dari benua asalnya melalui proses vikarian. Di sebelah barat, pembukaan Selat Makassarmemisahkan Sulawesi Barat dari Sundalandpada zaman Eosen sekitar 45 juta tahun yang lalu.

Di sebelah timur, pandangan awam tentang tumbukan yang melibatkan beberapa fragmen mikro-benua yang terpisah dari Pulau Nugini dengan batas volkanik aktif di Sulawesi Barat pada waktu yang berbeda sejak zaman Miosen Awalsekitar 20 juta tahun yang lalu, baru-baru ini digantikan oleh hipotesis bahwa fragmen tambahan tersebut merupakan hasil dari tabrakan tunggal yang terjadi pada zaman Miosen antara Sulawesi Barat dengan Titik Sula, yang merupakan ujung barat dari sabuk lipat kuno asal Variskan pada zaman Paleozoikum Akhir.


Pulau Sulawesi merupakan sebuah pulau yang berbentuk huruf K dimana berada ditengah-tengah Indonesia. Letanya sangat strategis karena berada pada 120 derajat bujur timur serta terhampar dari bagian bumi utara sampai selatan. Pulau Sulawesi terdiri dari empat bagian, yaitu Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat dan Sulawesi Utara.

ASAL MULA NAMA SULAWESI

Banyak cerita atau versi yang berkembang dimasyarakat tentang asal mula kata atau nama Sulawesi. Nama Pulau yang menyerupai huruf K ini diperkirakan berasal dari kata dalam bahasa- bahasa di Sulawesi Tengah yaitu kata sula yang berarti nusa (pulau) dan kata mesi yang berarti besi (logam), yang mungkin merujuk pada praktik perdagangan bijih besi hasil produksi tambang-tambang yang terdapat di sekitar Danau Matano, dekat Sorowako, Luwu Timur.

Namun sebelum menggunakan nama Sulawesi, Pulau tersebut sebelumnya bernama Celebes. Nama celebes digunakan saat kedatangan Bangsa Portugis sekitar abad ke 14-15 masehi yang merupakan bangsa asing pertama yang menggunakan nama Celebes untuk menyebut pulau Sulawesi secara keseluruhan.

Di masa lampau, saat pertama kali rombongan orang yang diperkirakan berasal dari Portugis turun dari perahu dan menghampiri penduduk setempat yang sedang bekerja membuat perahu, Pimpinan rombongan tersebut bertanya: “Apa nama tempat ini?” Penduduk yang tak faham bahasanya hanya bisa mengira-ngira.

Penduduk mengira, Pimpinan rombongan itu menanyakan “benda apa yang sedang dipegang?” Dengan spontan penduduk menjawab “Sele’ bessi” yang artinya engsel besi. Sejak saat itu, pimpinan rombongan mencatat lokasi yang mereka datangi bernama ‘Celebes’.

Dimasa lalu ada Pelaut Portugis yang singgah di Makassar dan Menemui Raja Gowa untuk meminta ijin berlayar sekaligus menanyakan nama daerah ini. Saat Pelaut Portugis itu menghadap kehadapan Raja, Raja tengah membersihkan Sele’nya (Kerisnya).

Di saat itulah Pelaut Portugis bertanya kepada Sang Raja dengan bahasa Portugis bahwa “Daerah ini namanya Apa?” karena Sang Raja tidak mengerti Bahasa Portugis, maka sang Raja hanya Memperkirakan maksud pertanyaan itu. Sang Raja mengira bahwa Pelaut Portugis tersebut menanyakan benda apa yang ada di tangannya, Sang Raja pun menjawab: “Sele’ bessi”.

Sejak saat itulah Pelaut Portugis tsb menamainya ’Sele’ bessi’. Namun karena lidah mereka tak mudah mengucapkan Sele’ bessi, mereka pun menyebutnya CELEBES.

Arti dari kata Celebes itu sendiri sampai saat ini belum diketahui artinya, namun ada beberapa teori yang mengklaim arti dari kata “Celebes” itu adalah sulit untuk dicapai. Karena seperti yang kita ketahui, Pulau Sulawesi dikelilingi arus laut dan air dan sungai yang deras.

Salah satu ekspedisi ilmiah oleh Alfred Russel Wallace yang menyatakan bahwa satu garis pembatas flora dan fauna indonesia,juga pada Ekspedsi Snellius yang mempelajari kenampakan permukaan bawah laut mulai dari sulawesi sampai maluku pada zaman tersebut masih menggunakan nama celebes, nah yang menariknya karena masyarakat waktu itu belum menyadari untuk memberi nama pada wilayah atau tempat yang ditinggalinya,sehingga untuk hal ini celebes menjadi eksonim untuk pulau berbentuk huruf K ini.

Cerita lain tentang asal mula kata atau nama Sulawesi datang dari seorang petualang muslim yang hidup pada 1303-1377 M. Petualang muslim tersebut adalah IBNU BATUTAH. Suatu hari pada masa pengembaraannya, ia tiba disebuah pulau.

Ia melihat Kopra (buah kelapa yang telah dikeringkan) berserakan di sembarang tempat di pulau tersebut. Saat itulah dia menyebutnya ‘Salabas syai‘ yang artinya tersebarlah sesuatu, karena dia belum mengetahui bahwa buah itu adalah buah kelapa.

Dari petualangan seorang petualang Muslim itulah nama SULAWESI berasal, dan sampai sekarang nama itu masih digunakan dipulau yang terkenal dengan Tanah Toraraja & Bunaken ini, yakni Salabesi atau Sulawesi.

SEJARAH SULAWESI

Sejak abad ke-13, akses terhadap barang perdagangan berharga dan sumber mineral besi mulai mengubah pola lama budaya disulawesi, dan ini memungkinkan individu yang ambisius untuk membangun unit politik yang lebih besar. Tidak diketahui mengapa kedua hal tersebut muncul bersama-sama, mungkin salah satu adalah hasil yang lain.

Pada 1400an, sejumlah kerajaan pertanian yang baru telah muncul di barat lembah Cenrana, serta di daerah pantai selatan dan di pantai timur dekat Parepare yang modern.

Orang-orang Eropa pertama yang mengunjungi pulau ini (yang dipercayai sebagai negara kepulauan karena bentuknya yang mengerut) adalah pelaut Portugis pada tahun 1525, dikirim dari Maluku untuk mencari emas, yang kepulauan memiliki reputasi penghasil.

Belanda tiba pada tahun 1605 dan dengan cepat diikuti oleh Inggris, lalu mendirikan pabrik di Makassar. Sejak 1660, Belanda berperang melawan Kerajaan Gowa Makasar terutama di bagian pesisir barat yang berkuasa.

Pada tahun 1669, Laksamana Speelman memaksa penguasa, Sultan Hasanuddin, untuk menandatangani Perjanjian Bongaya, yang menyerahkan kontrol perdagangan ke Perusahaan Hindia Belanda. Belanda dibantu dalam penaklukan mereka oleh panglima perang Bugis Arung Palakka, penguasa kerajaan Bugis Bone.

Belanda membangun benteng di Ujung Pandang, sedangkan Arung Palakka menjadi penguasa daerah dan kerajaan Bone menjadi dominan. Perkembangan politik dan budaya tampaknya telah melambat sebagai akibat dari status quo.

Pada tahun 1905 seluruh Sulawesi menjadi bagian dari koloni negara Belanda dari Hindia Belanda sampai pendudukan Jepang dalam Perang Dunia II. Selama Revolusi Nasional Indonesia, "Turk" Westerling Kapten Belanda membunuh sedikitnya 4.000 orang selama Kampanye Sulawesi Selatan Setelah penyerahan kedaulatan pada Desember 1949, Sulawesi menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (RIS). Dan pada tahun 1950 menjadi tergabung dalam kesatuan Republik Indonesia.

Pada saat kemerdekaan Indonesia, Sulawesi berstatus sebagai provinsi dengan bentuk pemerintahan otonom di bawah pimpinan seorang Gubernur. Provinsi Sulawesi ketika itu beribukota di Makassar, dengan Gubernur DR.G.S.S.J. Ratulangi.

Bentuk sistem pemerintahan provinsi ini merupakan perintis bagi perkembangan selanjutnya, hingga dapat melampaui masa-masa di saat Sulawesi berada dalam Negara Indonesia Timur (NIT) dan kemudian NIT menjadi negara bagian dari negara federasi Republik Indonesia Serikat (RIS).

Saat RIS dibubarkan dan kembali kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, Sulawesi statusnya dipertegas kembali menjadi provinsi. Status Provinsi Sulawesi ini kemudian terus berlanjut sampai pada tahun 1960.

Asal usul Terbentuknya Kepulauan Sumatera, Indonesia

Sumatra adalah pulau keenam terbesar di dunia yang terletak di Indonesia, dengan luas 443.065,8 km2. Penduduk pulau ini sekitar 52.210.926 (sensus 2010).


Pulau ini dikenal pula dengan nama lain yaitu Pulau Percha, Andalas, atau Suwarnadwipa (bahasa Sanskerta, berarti “pulau emas”). Kemudian pada Prasasti Padang Roco tahun 1286 dipahatkan swarnnabhūmi (bahasa Sanskerta, berarti “tanah emas”) dan bhūmi mālayu (“Tanah Melayu”) untuk menyebut pulau ini.

Selanjutnya dalam naskah Negarakertagama dari abad ke-14 juga kembali menyebut “Bumi Malayu” (Melayu) untuk pulau ini.

Asal nama Sumatera berawal dari keberadaaan Kerajaan Samudera (terletak di pesisir timur Aceh). Diawali dengan kunjungan Ibnu Batutah, petualang asal Maroko ke negeri tersebut pada tahun 1345, dia melafalkan kata Samudera menjadi Samatrah, dan kemudian menjadi Sumatra atau Sumatera, selanjutnya nama ini tercantum dalam peta-peta abad ke-16 buatan Portugis, untuk dirujuk pada pulau ini, sehingga kemudian dikenal meluas sampai sekarang.

Nama asli Sumatera, sebagaimana tercatat dalam sumber-sumber sejarah dan cerita-cerita rakyat, adalah “Pulau Emas”. Istilah Pulau Ameh (bahasa Minangkabau, berarti pulau emas) kita jumpai dalam cerita Cindua Mato dari Minangkabau.

Dalam cerita rakyat Lampung tercantum nama tanoh mas untuk menyebut pulau Sumatera. Seorang musafir dari Cina yang bernama I-tsing (634-713), yang bertahun-tahun menetap di Sriwijaya (Palembang sekarang) pada abad ke-7, menyebut Sumatera dengan nama chin-chou yang berarti “negeri emas”.

Dalam berbagai prasasti, Sumatera disebut dalam bahasa Sanskerta dengan istilah: Suwarnadwipa (“pulau emas”) atau Suwarnabhumi (“tanah emas”). Nama-nama ini sudah dipakai dalam naskah-naskah India sebelum Masehi.

Naskah Buddha yang termasuk paling tua, Kitab Jataka, menceritakan pelaut-pelaut India menyeberangi Teluk Benggala ke Suwarnabhumi. Dalam cerita Ramayana dikisahkan pencarian Dewi Sinta, istri Rama yang diculik Rahwana, sampai ke Suwarnadwipa.

Para musafir Arab menyebut Sumatera dengan nama “Serendib” (tepatnya: “Suwarandib”), transliterasi dari nama Suwarnadwipa. Abu Raihan Al-Biruni, ahli geografi Persia yang mengunjungi Sriwijaya tahun 1030, mengatakan bahwa negeri Sriwijaya terletak di pulau Suwarandib. Namun ada juga orang yang mengidentifikasi Serendib dengan Srilangka, yang tidak pernah disebut Suwarnadwipa.

Di kalangan bangsa Yunani purba, Sumatera sudah dikenal dengan nama Taprobana. Nama Taprobana Insula telah dipakai oleh Klaudios Ptolemaios, ahli geografi Yunani abad kedua Masehi, tepatnya tahun 165, ketika dia menguraikan daerah Asia Tenggara dalam karyanya Geographike Hyphegesis.

Ptolemaios menulis bahwa di pulau Taprobana terdapat negeri Barousai. Mungkin sekali negeri yang dimaksudkan adalah Barus di pantai barat Sumatera, yang terkenal sejak zaman purba sebagai penghasil kapur barus.

Naskah Yunani tahun 70, Periplous tes Erythras Thalasses, mengungkapkan bahwa Taprobana juga dijuluki chryse nesos, yang artinya ‘pulau emas’. Sejak zaman purba para pedagang dari daerah sekitar Laut Tengah sudah mendatangi Nusantara, terutama Sumatera.

Di samping mencari emas, mereka mencari kemenyan (Styrax sumatrana) dan kapur barus (Dryobalanops aromatica) yang saat itu hanya ada di Sumatera. Sebaliknya, para pedagang Nusantara pun sudah menjajakan komoditi mereka sampai ke Asia Barat dan Afrika Timur, sebagaimana tercantum pada naskah Historia Naturalis karya Plini abad pertama Masehi.

Dalam kitab umat Yahudi, Melakim (Raja-raja), fasal 9, diterangkan bahwa Nabi Sulaiman a.s. raja Israil menerima 420 talenta emas dari Hiram, raja Tirus yang menjadi bawahan beliau. Emas itu didapatkan dari negeri Ofir.

Kitab Al-Qur’an, Surat Al-Anbiya’ 81, menerangkan bahwa kapal-kapal Nabi Sulaiman berlayar ke “tanah yang Kami berkati atasnya” (al-ardha l-lati barak-Na fiha).

Banyak ahli sejarah yang berpendapat bahwa negeri Ophir itu terletak di Sumatera (Gunung Ophir di Pasaman Barat, Sumatera Barat yang sekarang bernama Gunung Talamau?). Perlu dicatat, kota Tirus merupakan pusat pemasaran barang-barang dari Timur Jauh.

Ptolemaios pun menulis Geographike Hyphegesis berdasarkan informasi dari seorang pedagang Tirus yang bernama Marinus. Dan banyak petualang Eropa pada abad ke-15 dan ke-16 mencari emas ke Sumatera dengan anggapan bahwa di sanalah letak negeri Ofir Nabi Sulaiman a.s.

Kata yang pertama kali menyebutkan nama Sumatra berasal dari gelar seorang raja Sriwijaya Haji (raja) Sumatrabhumi (“Raja tanah Sumatra”), berdasarkan berita China ia mengirimkan utusan ke China pada tahun 1017.

Pendapat lain menyebutkan nama Sumatera berasal dari nama Samudera, kerajaan di Aceh pada abad ke-13 dan abad ke-14. Para musafir Eropa sejak abad ke-15 menggunakan nama kerajaan itu untuk menyebut seluruh pulau.

Sama halnya dengan pulau Kalimantan yang disebut Borneo, dari nama Brunai, daerah bagian utara pulau itu yang mula-mula didatangi orang Eropa. Demikian pula pulau Lombok tadinya bernama Selaparang, sedangkan Lombok adalah nama daerah di pantai timur pulau Selaparang yang mula-mula disinggahi pelaut Portugis.

Peralihan Samudera (nama kerajaan) menjadi Sumatera (nama pulau) menarik untuk ditelusuri. Odorico da Pordenone dalam kisah pelayarannya tahun 1318 menyebutkan bahwa dia berlayar ke timur dari Koromandel, India, selama 20 hari, lalu sampai di kerajaan Sumoltra.

Ibnu Bathutah bercerita dalam kitab Rihlah ila l-Masyriq (Pengembaraan ke Timur) bahwa pada tahun 1345 dia singgah di kerajaan Samatrah. Pada abad berikutnya, nama negeri atau kerajaan di Aceh itu diambil alih oleh musafir-musafir lain untuk menyebutkan seluruh pulau.

Pada tahun 1490 Ibnu Majid membuat peta daerah sekitar Samudera Hindia dan di sana tertulis pulau “Samatrah”. Peta Ibnu Majid ini disalin oleh Roteiro tahun 1498 dan muncullah nama “Camatarra”.

Peta buatan Amerigo Vespucci tahun 1501 mencantumkan nama “Samatara”, sedangkan peta Masser tahun 1506 memunculkan nama “Samatra”. Ruy d’Araujo tahun 1510 menyebut pulau itu “Camatra”, dan Alfonso Albuquerque tahun 1512 menuliskannya “Camatora”. Antonio Pigafetta tahun 1521 memakai nama yang agak ‘benar’: “Somatra”.

Tetapi sangat banyak catatan musafir lain yang lebih ‘kacau’ menuliskannya: “Samoterra”, “Samotra”, “Sumotra”, bahkan “Zamatra” dan “Zamatora”.

Catatan-catatan orang Belanda dan Inggris, sejak Jan Huygen van Linschoten dan Sir Francis Drake abad ke-16, selalu konsisten dalam penulisan Sumatera. Bentuk inilah yang menjadi baku, dan kemudian disesuaikan dengan lidah Indonesia: Sumatera

TIGA VERSI SEJARAH SUMATERA

Geolog Awang Harun Satyana mengungkapkan, pandangan bahwa Sumatera tidak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia sudah berkembang lama. Pada tahun 1984, N.R. Cameroon dari British Geological Survey A. Pulunggono dari Pertamina pernah menyampaikan gagasan itu.

Awang mengatakan, berdasarkan gagasan itu, bagian barat Sumatera disusun oleh busur Woyla. Busur lautan itu sekitar 150 juta tahun lalu berlokasi di dekat Australia, bersama daratan India dan Banda. Karena pergerakan tektonik, busur itu kemudian menyatu dengan Sumatera.

“Itu terjadi pada zaman Kapur tengah, sekitar 100 – 80 juta tahun lalu,” kata Awang saat dihubungi Kompas.com beberapa waktu lalu.

Makalah yang ditulis oleh Robert Hall, pakar tektonik Asia Tenggara ternama dari University of London, berjudul “Late Jurassic–Cenozoic reconstructions of the Indonesian region and the Indian Ocean” sedikit membahas gagasan tentang bersatu atau naiknya busur Woyla dengan atau ke atas daratan Sumatera.

Pulunggono dan Cameroon, seperti dikutip Hall dalam makalahnya yang diterbitkan Elseveir tahun 2012, mengungkapkan bahwa busur Woyla yang naik ke Sumatera mencakup mikro-kontinen.

Geolog lain, M.R. Wajzer dan A.J. Barber, juga dari University of London, mengatakan bahwa busur Woyla merupakan busur intra-lautan yang terbentuk pada zaman Kapur Awal dan kemudian menumbuk Sumatera.

Hall sendiri menganggap bahwa terdapat mikro kontinen yang menabrak Sumatera pada zaman Kapur itu, yang ditandai dengan naiknya busur Woyla ke atas Sumatera. Mikro kontinen terus bergerak ke timur sehingga menghentikan sistem penunjaman yang ada dan akibatnya hampir tak ada aktivitas vulkanik pada saat itu.

Robert Hall Rekonstruksi Asia Tenggara 150 juta tahun lalu. Di dekat Australia, terdapat Busur Woyla yang kemudian akan menyatu dengan Sumatera.

Namun, menurut Iskandar, apa yang diungkapkan oleh Pulunggono, Cameroon, Barber, dan Hall sama sekali tidak menyebut adanya bagian Sumatera yang merupakan busur kepulauan.

“Mereka bicara pada Zaman Kapur (sekitar 100 juta tahun yang lalu) karena Woyla Group itu memang usianya sangat tua, sedangkan data saya berasal dari batuan volkanik berusia Miosen (kurang dari 25 juta tahun yang lalu).”

Rovicky Dwi Putrohari dari Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI) mengungkapkan, gagasan bahwa Sumatera terdiri atas busur kepulauan pernah berkembang sebelumnya. Namun, penelitian Iskandar adalah salah satu yang paling awal memberi bukti ilmiah.

“Penelitian ini memberi bukti geokimia bahwa memang bagian barat Sumatera adalah busur kepulauan,” katanya.

Menurut Rovicky, ada tiga versi sejarah geologi pembentukan Sumatera yang berkembang saat ini. Versi pertama mengungkapkan bahwa pulau Sumatera sepenuhnya bagian dari tepi lempeng benua Eurasia. Versi kedua, seperti yang diyakini Pulunggono, Cameroon, dan Hall, Sumatera terbagi atas lempeng benua Eurasia di bagian timur dan mikro-kontinen di bagian barat.

Sementara, dengan tambahan gagasan Iskandar, ada versi ketiga, dimana Sumatera terdiri dari tepi lempeng benua di bagian timur dan busur kepulauan di bagian barat.

Rovicky mengungkapkan, banyak geolog saat ini memandang bahwa Sumatera merupakan lempeng benua Eurasia hanya untuk mempermudah saja.

Pada dasarnya, geolog setuju bahwa Sumatera tidak sepenuhnya merupakan bagian dari Eurasia. Namun, komponen lain Sumatera dan pembentukannya masih menjadi perdebatan.

KEPENDUDUKAN

Secara umum, pulau Sumatera didiami oleh bangsa Melayu, yang terbagi ke dalam beberapa suku. Suku-suku besar ialah Aceh, Batak, Melayu, Minangkabau, Besemah, Suku Rejang, Ogan, Komering, dan Lampung.

Di wilayah pesisir timur Sumatera dan di beberapa kota-kota besar seperti Medan, Batam, Palembang,Pekanbaru, dan Bandar Lampung, banyak bermukim etnis Tionghoa. Penduduk pulau Sumatera hanya terkonsentrasi di wilayah Sumatera Timur dan dataran tinggi Minangkabau. Mata pencaharian penduduk Sumatera sebagian besar sebagai petani, nelayan, dan pedagang.

Penduduk Sumatera mayoritas beragama Islam dan sebagian kecil merupakan penganut ajaran Kristen Protestan, terutama di wilayah Tapanuli dan Toba-Samosir, Sumatera Utara. Di wilayah perkotaan, seperti Medan, Pekanbaru, Batam, Pangkal Pinang, Palembang, dan Bandar Lampung dijumpai beberapa penganut Buddha.