Tangki pabrik bioetanol di Mojokerto milik PT Energi Agro Nusantara (Enero) membuat 1 pekerja tewas dan 10 lainnya menderita luka bakar. Tangki raksasa itu meledak diduga akibat percikan api dari pengelasan pipa hidran.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Deddy Supriadi mengatakan, sebelum ledakan terjadi, terdapat aktivitas pengelasan pipa hidran oleh para pekerja CV Agung Jaya Konstruksi, sub kontraktor dari PT Bharata Indonesia. PT Bharata Indonesia yang menjadi rekanan PT Enero untuk pengerjaan sejumlah konstruksi.

"Proses pemipaan (pemasangan pipa) untuk hidran air untuk pemadaman kalau terjadi emergency (keadaan darurat)," kata Deddy kepada wartawan di PT Enero, Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Selasa (11/8/2020).

Sekitar 4 meter dari pengelasan pipa hidran, lanjut Deddy, terdapat tangki penampungan bioetanol berkapasitas 200.000 liter. Tangki raksasa yang baru selesai dibuat sekitar Mei 2020 itu sedang diuji coba.

Diduga percikan api dari pengelasan pipa mengenai tangki tersebut sehingga memicu kebakaran. Seperti diketahui, bioetanol mempunyai sifat mudah terbakar.

"Iya, dugaan awal kami seperti itu (penyebabnya dari percikan api las). Yang terbakar duluan tangki yang baru dibangun itu. Kalau terbakar berarti ada isinya (bioetanol)," terangnya.

Deddy menjelaskan, terdapat 5 tangki penampungan bioetanol di lokasi kejadian yang sudah dilengkapi sistem pemadaman otomatis. Yakni tangki kapasitas 200.000 liter, 2 tangki kapasitas 100.000 liter dan 2 tangki kapasitas 1,5 juta liter.

Saat tangki kapasitas 200.000 liter terbakar, diduga sistem pemadaman tidak mampu memadamkan api. Sehingga tangki raksasa sarat bioetanol itu meledak.

"Dari kebakaran awal sampai meledak itu singkat waktunya. Memang di perusahaan ini sudah ada sistem proteksinya. Mungkin karena kedaruratannya tinggi, kemampuan memadamkan apinya tak bisa seketika. Kita lihat tadi masing-masing tangki sudah ada hidrannya. Tangki yang terbakar ini terpental kena tangki yang lebih besar. Tangki besar langsung nyala sistem proteksi kebakarannya sehingga tak ikut meledak," jelasnya.

Deddy menegaskan, penyebab pabrik bioetanol meledak dari percikan api pengelasan pipa hidran baru sebatas dugaan awal. Hari ini pihaknya bekerjasama dengan Tim Labfor Cabang Surabaya melakukan olah TKP di PT Enero untuk mencari penyebab sesungguhnya ledakan tersebut. Selama olah TKP, aktivitas produksi bioetanol dihentikan sementara.

Tim Labfor hari ini mengambil sampel bagian tangki, peralatan las pipa hidran dan pipa yang dilakukan pengelasan. Jadi, Tim Labfor nanti yang akan menyimpulkan sebab-sebab kejadian," tandasnya.

Ledakan terjadi di pabrik bioetanol di Mojokerto, Senin (10/8) sekitar pukul 15.15 WIB. Bagian yang meledak merupakan tangki penampungan bioetanol. Suara ledakan terdengar hingga radius 4 KM. Pasca ledakan, api membakar tangki dan area di sekitarnya.

Kerasnya suara dan getaran ledakan membuat warga sekitar pabrik berhamburan menyelamatkan diri. Sejumlah rumah penduduk di Dusun Sukosewu, Desa Gempolkrep rusak imbas dua kali ledakan besar tersebut.

Mulai dari plafon runtuh, dinding retak, hingga kaca depan rumah pecah. Ledakan di anak perusahaan BUMN, PTPN X itu mengakibatkan 10 korban menderita luka bakar dan 1 korban tewas.

Sumber : detik.com

Mojokerto.1 orang meninggal di Ledakan Pabrik Bioetanol

Tangki pabrik bioetanol di Mojokerto milik PT Energi Agro Nusantara (Enero) membuat 1 pekerja tewas dan 10 lainnya menderita luka bakar. Tangki raksasa itu meledak diduga akibat percikan api dari pengelasan pipa hidran.

Kapolres Mojokerto Kota AKBP Deddy Supriadi mengatakan, sebelum ledakan terjadi, terdapat aktivitas pengelasan pipa hidran oleh para pekerja CV Agung Jaya Konstruksi, sub kontraktor dari PT Bharata Indonesia. PT Bharata Indonesia yang menjadi rekanan PT Enero untuk pengerjaan sejumlah konstruksi.

"Proses pemipaan (pemasangan pipa) untuk hidran air untuk pemadaman kalau terjadi emergency (keadaan darurat)," kata Deddy kepada wartawan di PT Enero, Desa Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, Kabupaten Mojokerto, Selasa (11/8/2020).

Sekitar 4 meter dari pengelasan pipa hidran, lanjut Deddy, terdapat tangki penampungan bioetanol berkapasitas 200.000 liter. Tangki raksasa yang baru selesai dibuat sekitar Mei 2020 itu sedang diuji coba.

Diduga percikan api dari pengelasan pipa mengenai tangki tersebut sehingga memicu kebakaran. Seperti diketahui, bioetanol mempunyai sifat mudah terbakar.

"Iya, dugaan awal kami seperti itu (penyebabnya dari percikan api las). Yang terbakar duluan tangki yang baru dibangun itu. Kalau terbakar berarti ada isinya (bioetanol)," terangnya.

Deddy menjelaskan, terdapat 5 tangki penampungan bioetanol di lokasi kejadian yang sudah dilengkapi sistem pemadaman otomatis. Yakni tangki kapasitas 200.000 liter, 2 tangki kapasitas 100.000 liter dan 2 tangki kapasitas 1,5 juta liter.

Saat tangki kapasitas 200.000 liter terbakar, diduga sistem pemadaman tidak mampu memadamkan api. Sehingga tangki raksasa sarat bioetanol itu meledak.

"Dari kebakaran awal sampai meledak itu singkat waktunya. Memang di perusahaan ini sudah ada sistem proteksinya. Mungkin karena kedaruratannya tinggi, kemampuan memadamkan apinya tak bisa seketika. Kita lihat tadi masing-masing tangki sudah ada hidrannya. Tangki yang terbakar ini terpental kena tangki yang lebih besar. Tangki besar langsung nyala sistem proteksi kebakarannya sehingga tak ikut meledak," jelasnya.

Deddy menegaskan, penyebab pabrik bioetanol meledak dari percikan api pengelasan pipa hidran baru sebatas dugaan awal. Hari ini pihaknya bekerjasama dengan Tim Labfor Cabang Surabaya melakukan olah TKP di PT Enero untuk mencari penyebab sesungguhnya ledakan tersebut. Selama olah TKP, aktivitas produksi bioetanol dihentikan sementara.

Tim Labfor hari ini mengambil sampel bagian tangki, peralatan las pipa hidran dan pipa yang dilakukan pengelasan. Jadi, Tim Labfor nanti yang akan menyimpulkan sebab-sebab kejadian," tandasnya.

Ledakan terjadi di pabrik bioetanol di Mojokerto, Senin (10/8) sekitar pukul 15.15 WIB. Bagian yang meledak merupakan tangki penampungan bioetanol. Suara ledakan terdengar hingga radius 4 KM. Pasca ledakan, api membakar tangki dan area di sekitarnya.

Kerasnya suara dan getaran ledakan membuat warga sekitar pabrik berhamburan menyelamatkan diri. Sejumlah rumah penduduk di Dusun Sukosewu, Desa Gempolkrep rusak imbas dua kali ledakan besar tersebut.

Mulai dari plafon runtuh, dinding retak, hingga kaca depan rumah pecah. Ledakan di anak perusahaan BUMN, PTPN X itu mengakibatkan 10 korban menderita luka bakar dan 1 korban tewas.

Sumber : detik.com