SOLO - Hasil Test cepat (rapid test) satu keluarga di Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Solo menunjukkan reaktif virus Corona atau COVID-19. Mereka adalah orang yang kontak erat dengan S, pasien yang terkonfirmasi COVID-19 pada 7 Mei 2020 lalu yang juga masih punya hubungan darah.

"Ada tujuh orang reaktif. Empat laki-laki, usia 33, 2, 17 dan 58 tahun. Kemudian tiga perempuan, usia 37, 55, 31 tahun," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Solo, Ahyani di Balai Kota, Rabu (13/5/2020).

Usai S dinyatakan positif, petugas Dinas Kesehatan Kota Solo segera melacak kontak pasien tersebut, baik dari keluarga, tetangga, jemaah masjid hingga tempat kerja. Hasil rapid test, ada tujuh orang reaktif, yakni keluarga dan jemaah masjid.

"Dari hasil tracing, kemungkinan tertular dari jemaah masjid. Ini yang dulu kita khawatirkan, satu pasien bisa jadi super speader," tuturnya.

Ketujuh orang itu kemudian dirawat di RSUD Bung Karno. Status mereka saat ini sebagai pasien dalam pengawasan (PDP).

"Tujuh orang ini juga memiliki gejala COVID-19, maka langsung berstatus PDP," ujarnya.

Tujuh anggota keluarga ini juga telah mengikuti tes swab. Namun hasil tes masih belum keluar.

Atas dugaan tersebut, kantor Kementerian Agama (Kemenag) Solo telah mendatangi takmir masjid di dekat rumah pasien positif dan PDP tersebut. Masjid diminta tidak menggelar ibadah berjemaah untuk sementara waktu.

"Tapi dari takmir mengatakan sudah melakukan protokol kesehatan. Mereka tetap berkukuh akan menggelar salat berjemaah," kata Kepala Kantor Kemenag Solo, Musta'in Ahmad saat dihubungi wartawan.

Musta'in mengatakan akan terus membujuk takmir masjid untuk mengikuti saran gugus tugas. Namun saat ini pihaknya tidak memiliki dasar hukum untuk melarang kegiatan ibadah.

"Beda kalau posisinya kita PSBB (pembatasan sosial berskala besar), kita bisa melarang itu. Sekarang kami hanya bisa membujuk dan merayu, mengajak tokoh masyarakat menghidari hal yang merugikan," tuturnya.

Hingga hari ini, total akumulasi pasien positif di Solo masih tetap 27 orang dengan rincian 17 orang sembuh, enam orang dirawat, empat orang meninggal. Kemudian jumlah akumulasi PDP ada 158 orang dengan rincian 23 orang dirawat, 109 orang sembuh, 26 orang meninggal.

Hasil Rapid Test, Satu Keluarga Di Solo Reaktif Corona

SOLO - Hasil Test cepat (rapid test) satu keluarga di Kelurahan Joyotakan, Kecamatan Serengan, Solo menunjukkan reaktif virus Corona atau COVID-19. Mereka adalah orang yang kontak erat dengan S, pasien yang terkonfirmasi COVID-19 pada 7 Mei 2020 lalu yang juga masih punya hubungan darah.

"Ada tujuh orang reaktif. Empat laki-laki, usia 33, 2, 17 dan 58 tahun. Kemudian tiga perempuan, usia 37, 55, 31 tahun," kata Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Solo, Ahyani di Balai Kota, Rabu (13/5/2020).

Usai S dinyatakan positif, petugas Dinas Kesehatan Kota Solo segera melacak kontak pasien tersebut, baik dari keluarga, tetangga, jemaah masjid hingga tempat kerja. Hasil rapid test, ada tujuh orang reaktif, yakni keluarga dan jemaah masjid.

"Dari hasil tracing, kemungkinan tertular dari jemaah masjid. Ini yang dulu kita khawatirkan, satu pasien bisa jadi super speader," tuturnya.

Ketujuh orang itu kemudian dirawat di RSUD Bung Karno. Status mereka saat ini sebagai pasien dalam pengawasan (PDP).

"Tujuh orang ini juga memiliki gejala COVID-19, maka langsung berstatus PDP," ujarnya.

Tujuh anggota keluarga ini juga telah mengikuti tes swab. Namun hasil tes masih belum keluar.

Atas dugaan tersebut, kantor Kementerian Agama (Kemenag) Solo telah mendatangi takmir masjid di dekat rumah pasien positif dan PDP tersebut. Masjid diminta tidak menggelar ibadah berjemaah untuk sementara waktu.

"Tapi dari takmir mengatakan sudah melakukan protokol kesehatan. Mereka tetap berkukuh akan menggelar salat berjemaah," kata Kepala Kantor Kemenag Solo, Musta'in Ahmad saat dihubungi wartawan.

Musta'in mengatakan akan terus membujuk takmir masjid untuk mengikuti saran gugus tugas. Namun saat ini pihaknya tidak memiliki dasar hukum untuk melarang kegiatan ibadah.

"Beda kalau posisinya kita PSBB (pembatasan sosial berskala besar), kita bisa melarang itu. Sekarang kami hanya bisa membujuk dan merayu, mengajak tokoh masyarakat menghidari hal yang merugikan," tuturnya.

Hingga hari ini, total akumulasi pasien positif di Solo masih tetap 27 orang dengan rincian 17 orang sembuh, enam orang dirawat, empat orang meninggal. Kemudian jumlah akumulasi PDP ada 158 orang dengan rincian 23 orang dirawat, 109 orang sembuh, 26 orang meninggal.

Tidak ada komentar