PURWOKERTO JATENG - Sebanyak 152 pemudik masih menjalani karantina di GOR Satria Purwokerto. Mereka menahan rindu karena tak bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarganya di rumah.

Salah satunya, warga Kedungbanteng yang bekerja di Bandung bernama Putriah (26). Dia mengaku sedih karena tak bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarganya di rumah.

"Sedih tadi juga nangis habis mau gimana lagi, kita harus ikuti anjuran pemerintah demi kebaikan semua," kata Putriah di GOR Satria Purwokerto, Minggu (24/5/2020).

Karyawati produksi kue kering di Bandung itu masuk karantina di GOR Satria pada Jumat (22/5) lalu. Meski di desanya menyediakan tempat karantina, dia memilih karantina di GOR Satria.

"Pak kepala desa bilang tidak apa-apa, nanti dijemput terus dilanjutkan karantina mandiri di rumah," ujarnya.

Selama di karantina di GOR, dia mengaku baru dijenguk adiknya. Meski begitu, sebagai pengobat rindu dia sudah video call dan telepon orang tuanya.

"Orang tua belum (jenguk), tapi adik sudah nengok ke sini. Sama orang tua video call, hari ini sudah telepon tadi pagi, tapi karena orang tua nangis jadi besok lagi," jelasnya.

Di lokasi yang sama, Bupati Banyumas Achmad Hussein juga ikut makan bersama para pemudik yang dikarantina itu. Dia mengaku bersimpati karena warganya itu rela tidak berkumpul bersama keluarganya demi kebaikan bersama.

"Kita bersimpati dengan nasib mereka yang di sini. Tidak bisa berlebaran dengan keluarganya di rumah, mereka ikhlas dikarantina di GOR itu luar biasa dan saya mengapresiasi mereka. Jadi saya ikut makan bareng di sini," kata Hussein di lokasi.

Hussein menyebut para pemudik itu menurut saat diminta menjalani karantina. Dia juga mengapresiasi pengorbanan para pemudik yang tidak merayakan Lebaran bersama keluarga di rumah.

"Mereka nurut kok, mereka kan berkorban ya, tidak kumpul dengan keluarga sampai tujuh hari. Tujuh hari di-rapid, lalu tujuh hari nanti kalau nonrapid baru mereka boleh pulang dengan keluarga," jelasnya.

Nekat Mudik Ke Purwokerto, Gak Jadi Lebaran Malah Dikarantina

PURWOKERTO JATENG - Sebanyak 152 pemudik masih menjalani karantina di GOR Satria Purwokerto. Mereka menahan rindu karena tak bisa merayakan Idul Fitri bersama keluarganya di rumah.

Salah satunya, warga Kedungbanteng yang bekerja di Bandung bernama Putriah (26). Dia mengaku sedih karena tak bisa merayakan Hari Raya Idul Fitri bersama keluarganya di rumah.

"Sedih tadi juga nangis habis mau gimana lagi, kita harus ikuti anjuran pemerintah demi kebaikan semua," kata Putriah di GOR Satria Purwokerto, Minggu (24/5/2020).

Karyawati produksi kue kering di Bandung itu masuk karantina di GOR Satria pada Jumat (22/5) lalu. Meski di desanya menyediakan tempat karantina, dia memilih karantina di GOR Satria.

"Pak kepala desa bilang tidak apa-apa, nanti dijemput terus dilanjutkan karantina mandiri di rumah," ujarnya.

Selama di karantina di GOR, dia mengaku baru dijenguk adiknya. Meski begitu, sebagai pengobat rindu dia sudah video call dan telepon orang tuanya.

"Orang tua belum (jenguk), tapi adik sudah nengok ke sini. Sama orang tua video call, hari ini sudah telepon tadi pagi, tapi karena orang tua nangis jadi besok lagi," jelasnya.

Di lokasi yang sama, Bupati Banyumas Achmad Hussein juga ikut makan bersama para pemudik yang dikarantina itu. Dia mengaku bersimpati karena warganya itu rela tidak berkumpul bersama keluarganya demi kebaikan bersama.

"Kita bersimpati dengan nasib mereka yang di sini. Tidak bisa berlebaran dengan keluarganya di rumah, mereka ikhlas dikarantina di GOR itu luar biasa dan saya mengapresiasi mereka. Jadi saya ikut makan bareng di sini," kata Hussein di lokasi.

Hussein menyebut para pemudik itu menurut saat diminta menjalani karantina. Dia juga mengapresiasi pengorbanan para pemudik yang tidak merayakan Lebaran bersama keluarga di rumah.

"Mereka nurut kok, mereka kan berkorban ya, tidak kumpul dengan keluarga sampai tujuh hari. Tujuh hari di-rapid, lalu tujuh hari nanti kalau nonrapid baru mereka boleh pulang dengan keluarga," jelasnya.

Tidak ada komentar