BLITAR JATIM - Perajin batik di Blitar membuat batik dengan motif gambar virus corona. Lewat batiknya itu, ia ingin menceritakan soal wabah corona pada anak cucu kelak.

Ide membuat batik motif Covid-19 berawal ketika Rita Sukirni Pancariani harus menjelaskan ke kaum difabel binaannya, soal gerakan social distancing di tengah wabah corona. Karena, 27 tuna grahita di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia ini punya kebiasaan saling berpelukan ketika bertemu muka.

"Ketika saya jelaskan itu mereka kan bertanya apa sih corona itu Bu, bagaimana bentuknya. Akhirnya saya gambarkan bagaimana bentuk virus corona seperti yang digambarkan para ahli. Bulat ada semacam jarum pentul mengelilingi bulatan itu. Saya bilang, walaupun kecil sangat berbahaya, makanya kalian sekarang jangan berpelukan," kata Rita kepada wartawan, Senin (6/4/2020).

Saat melihat bentuk virus Corona, lanjutnya, banyak di antara mereka malah suka dan minta digambar sebagai batik. Rita pun mencoba menggambar virus corona di atas batik ciprat yang sudah jadi. Ternyata kombinasi ini membuat motif baru yang indah dipandang mata.

"Saya bikin satu lalu saya tunjukkan ke seorang kolega. Ternyata suka dan pesan beberapa lembar. Katanya motif covid-19 ini bisa jadi bukti wabah bersejarah ke anak cucunya. Saya pikir..iya bener juga," imbuh perempuan berusia 50 tahun itu.

Canting batik itu menuangkan cairan malam ke atas kain ukuran 115 x 205 cm. Tangan-tangan terampil kaum difabel menoreh garis membentuk lingkaran. Lalu ditarik garis lurus berjarak mengelilingi lingkaran. Di tiap ujung garis digambar bulatan kecil. Motif itu menyerupai bentuk virus Corona atau covid-19.

Dalam sepekan terakhir, komunitas yang berada di Desa Resampombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar ini mulai memproduksi batik bermotif covid-19. Dalam sehari, enam sampai 10 lembar batik covid-19 bisa mereka produksi. Apalagi jika cuaca terik, satu lembar batik covid-19 bisa jadi dalam hitungan tiga jam.

"Kalau yang motif covid-19 kami pasarkan seharga Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per lembar. Ini sudah ada pesanan dari Sulawesi, Bali, Jakarta dan Papua. Beberapa teman TKW di Hong Kong juga biasa pesan di sini," pungkasnya.

Kreatif, Pengrajin di Blitar Buat Virus Corona Jadi Motif Batik

BLITAR JATIM - Perajin batik di Blitar membuat batik dengan motif gambar virus corona. Lewat batiknya itu, ia ingin menceritakan soal wabah corona pada anak cucu kelak.

Ide membuat batik motif Covid-19 berawal ketika Rita Sukirni Pancariani harus menjelaskan ke kaum difabel binaannya, soal gerakan social distancing di tengah wabah corona. Karena, 27 tuna grahita di Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Harapan Mulia ini punya kebiasaan saling berpelukan ketika bertemu muka.

"Ketika saya jelaskan itu mereka kan bertanya apa sih corona itu Bu, bagaimana bentuknya. Akhirnya saya gambarkan bagaimana bentuk virus corona seperti yang digambarkan para ahli. Bulat ada semacam jarum pentul mengelilingi bulatan itu. Saya bilang, walaupun kecil sangat berbahaya, makanya kalian sekarang jangan berpelukan," kata Rita kepada wartawan, Senin (6/4/2020).

Saat melihat bentuk virus Corona, lanjutnya, banyak di antara mereka malah suka dan minta digambar sebagai batik. Rita pun mencoba menggambar virus corona di atas batik ciprat yang sudah jadi. Ternyata kombinasi ini membuat motif baru yang indah dipandang mata.

"Saya bikin satu lalu saya tunjukkan ke seorang kolega. Ternyata suka dan pesan beberapa lembar. Katanya motif covid-19 ini bisa jadi bukti wabah bersejarah ke anak cucunya. Saya pikir..iya bener juga," imbuh perempuan berusia 50 tahun itu.

Canting batik itu menuangkan cairan malam ke atas kain ukuran 115 x 205 cm. Tangan-tangan terampil kaum difabel menoreh garis membentuk lingkaran. Lalu ditarik garis lurus berjarak mengelilingi lingkaran. Di tiap ujung garis digambar bulatan kecil. Motif itu menyerupai bentuk virus Corona atau covid-19.

Dalam sepekan terakhir, komunitas yang berada di Desa Resampombo Kecamatan Doko Kabupaten Blitar ini mulai memproduksi batik bermotif covid-19. Dalam sehari, enam sampai 10 lembar batik covid-19 bisa mereka produksi. Apalagi jika cuaca terik, satu lembar batik covid-19 bisa jadi dalam hitungan tiga jam.

"Kalau yang motif covid-19 kami pasarkan seharga Rp 150 ribu sampai Rp 200 ribu per lembar. Ini sudah ada pesanan dari Sulawesi, Bali, Jakarta dan Papua. Beberapa teman TKW di Hong Kong juga biasa pesan di sini," pungkasnya.

Tidak ada komentar