MAKASSAR - Seorang pria bernama Muhammad Fiqram (27) tak menyangka truk tronton 10 roda pengangkut pupuk 600 sak yang dikendarai akan jatuh ke sungai saat melintas di jalur Trans Sulawesi di Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ternyata truk Fiqram terjun bebas karena jembatan jebol.

Jembatan yang jebol tersebut berada di Desa Bojo, Kecamatan Mallusetasi, Barru, sekitar pukul 22.00 Wita, Kamis (13/2). Fiqram saat itu sendirian saat truknya terjun bebas.

"Pas saya melintas di jembatan itu, tiba-tiba saja itu (jembatan) langsung jebol, jatuh turun itu. Satu petaklah itu langsung jebol," ujar Fiqram saat dihubungi wartawan, Sabtu (15/2/2020).

"Jembatan beton, beton petak-petak saya lihat begitu. Iya, pada saat itu kan tidak ada tanda-tanda, tapi memang masyarakat di situ bilang kondisinya itu memang agak turun-turun (tidak datar), tapi sering ji truk lewat-lewat," imbuhnya.

Fiqram saat ini masih memulihkan kesehatan dirinya di rumahnya di Biring Ere, Minasatene, Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Dia pun mengaku memiliki pengalaman spiritual yang luar biasa saat truknya terjatuh setelah selamat karena membaca kalimat syahadat tiga kali.

Saat terjatuh, kata Fiqram, truk trontonnya langsung terbalik dengan kondisi ban mobil di bagian atas sehingga tempat duduk Fiqram di bagian kepala truk dengan mudah kemasukan air.

"Pas jebolnya turun itu, saya tetap pegang setir baru saya ingat Allah dan istigfar. Saya terjepit di dalam, saya cari ruang udara itu air sudah masuk, sudah tidak ada. Jadi saya pasrah itu, Pak, 'Mungkin jalan mati saya sudah di sini,'" katanya.

Karena sudah pasrah, Fiqram membaca kalimat syahadat sebanyak tiga kali di dalam hati. Saat itulah keajaiban disebutnya datang lantaran air laut sedang pasang dan masuk ke sungai.

"Itu ruang bernapas itu ada ketika mobil goyang, terangkat sedikit karena air pasang. Nah, di situ keajaiban Allah itu," katanya.

Ruang bernapas kemudian memudahkan Fiqram membuka kaca jendela truk dan mengeluarkan dan melambaikan tangannya meminta pertolongan warga. Ia pun selamat dievakuasi warga.

"Setelah itu, saya cari Al-Qur'an saya. Saya syukur sekali, 'Mana Al-Qur'an saya, mana.' Saya ambil di tas karena saya memang selalu bawa di mobil itu. Kalau ada kesempatan, saya baca lagi," imbuhnya.

Atas insiden tak biasa dalam hidupnya itu, Fiqram mengaku bersyukur karena dapat menemui ibunya lagi. Fiqram mengaku belum berkeluarga dan selama ini tinggal bersama orang tuanya.

Sementara itu, pihak jasa angkutan tempat Fiqram, Ardi, mengaku menyayangkan insiden tersebut lantaran mereka disalahkan oleh sejumlah pihak atas jebolnya jembatan.

"Artinya, dalam hal ini janganlah saling menyalahkan gitu, Pak. Kemarin itu banyak yang soroti kami semua ini. Alasannya, beban muatannya, Pak," ujar Ardi saat dimintai konfirmasi terpisah.

Senada dengan Ardi, Fiqram mengatakan warga setempat sempat mengatakan bahwa mereka kerap mengecor kembali jalan di jembatan karena miring ke bawah.

"Saya memang sudah sering melintas. Itu jembatan tidak layak keamananlah. Itu sudah agak turun tapi dibiarkan, malah yang sering timbun masyarakat di situ, Pak," ujar Fiqram.

"Kalau sudah turun lagi, pasti masyarakat yang timbun lagi. Kalau masalah muatan, banyak yang lebih berat muatannya daripada saya, " katanya.

Kalimat Syahadat Selamatkan Supir Truk Yang Jatuh Ke Sungai

MAKASSAR - Seorang pria bernama Muhammad Fiqram (27) tak menyangka truk tronton 10 roda pengangkut pupuk 600 sak yang dikendarai akan jatuh ke sungai saat melintas di jalur Trans Sulawesi di Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel). Ternyata truk Fiqram terjun bebas karena jembatan jebol.

Jembatan yang jebol tersebut berada di Desa Bojo, Kecamatan Mallusetasi, Barru, sekitar pukul 22.00 Wita, Kamis (13/2). Fiqram saat itu sendirian saat truknya terjun bebas.

"Pas saya melintas di jembatan itu, tiba-tiba saja itu (jembatan) langsung jebol, jatuh turun itu. Satu petaklah itu langsung jebol," ujar Fiqram saat dihubungi wartawan, Sabtu (15/2/2020).

"Jembatan beton, beton petak-petak saya lihat begitu. Iya, pada saat itu kan tidak ada tanda-tanda, tapi memang masyarakat di situ bilang kondisinya itu memang agak turun-turun (tidak datar), tapi sering ji truk lewat-lewat," imbuhnya.

Fiqram saat ini masih memulihkan kesehatan dirinya di rumahnya di Biring Ere, Minasatene, Pangkajene Kepulauan (Pangkep). Dia pun mengaku memiliki pengalaman spiritual yang luar biasa saat truknya terjatuh setelah selamat karena membaca kalimat syahadat tiga kali.

Saat terjatuh, kata Fiqram, truk trontonnya langsung terbalik dengan kondisi ban mobil di bagian atas sehingga tempat duduk Fiqram di bagian kepala truk dengan mudah kemasukan air.

"Pas jebolnya turun itu, saya tetap pegang setir baru saya ingat Allah dan istigfar. Saya terjepit di dalam, saya cari ruang udara itu air sudah masuk, sudah tidak ada. Jadi saya pasrah itu, Pak, 'Mungkin jalan mati saya sudah di sini,'" katanya.

Karena sudah pasrah, Fiqram membaca kalimat syahadat sebanyak tiga kali di dalam hati. Saat itulah keajaiban disebutnya datang lantaran air laut sedang pasang dan masuk ke sungai.

"Itu ruang bernapas itu ada ketika mobil goyang, terangkat sedikit karena air pasang. Nah, di situ keajaiban Allah itu," katanya.

Ruang bernapas kemudian memudahkan Fiqram membuka kaca jendela truk dan mengeluarkan dan melambaikan tangannya meminta pertolongan warga. Ia pun selamat dievakuasi warga.

"Setelah itu, saya cari Al-Qur'an saya. Saya syukur sekali, 'Mana Al-Qur'an saya, mana.' Saya ambil di tas karena saya memang selalu bawa di mobil itu. Kalau ada kesempatan, saya baca lagi," imbuhnya.

Atas insiden tak biasa dalam hidupnya itu, Fiqram mengaku bersyukur karena dapat menemui ibunya lagi. Fiqram mengaku belum berkeluarga dan selama ini tinggal bersama orang tuanya.

Sementara itu, pihak jasa angkutan tempat Fiqram, Ardi, mengaku menyayangkan insiden tersebut lantaran mereka disalahkan oleh sejumlah pihak atas jebolnya jembatan.

"Artinya, dalam hal ini janganlah saling menyalahkan gitu, Pak. Kemarin itu banyak yang soroti kami semua ini. Alasannya, beban muatannya, Pak," ujar Ardi saat dimintai konfirmasi terpisah.

Senada dengan Ardi, Fiqram mengatakan warga setempat sempat mengatakan bahwa mereka kerap mengecor kembali jalan di jembatan karena miring ke bawah.

"Saya memang sudah sering melintas. Itu jembatan tidak layak keamananlah. Itu sudah agak turun tapi dibiarkan, malah yang sering timbun masyarakat di situ, Pak," ujar Fiqram.

"Kalau sudah turun lagi, pasti masyarakat yang timbun lagi. Kalau masalah muatan, banyak yang lebih berat muatannya daripada saya, " katanya.