PONOROGO JATIM - Nahas yang dialami seorang remaja bernama Ferry Khorul Anam (17), tewas tersetrum saat memperbaiki aliran listrik pada lampu di rumahnya Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

"Korban masih berstatus pelajar salah satu SMA di Ponorogo," kata Kapolsek Badegan, AKP Wahono, Minggu (26/1/2020).

Dia menambahkan, saat itu korban bersama Suyud (45), ayahnya memperbaiki lampu listrik di kamar mandi. Korban naik ke kursi dan ayahnya memegangi kursi tersebut.

Saat memperbaiki sambungan kabel tersebut, korban mendadak jatuh dan tidak sadarkan diri.

"Orangtua korban berteriak minta tolong sehingga warga berdatangan dan langsung membawa korban ke Puskesmas Badegan," terang Wahono.

Namun sampai di puskesmas, korban sudah tidak bernafas dan dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

"Sudah kami lakukan identifikasi dan ada luka bekas sengatan arus listrik pada telapak tangan korban," paparnya.

Karena menganggap peristiwa itu sebagai musibah, keluarga korban menolak proses visum dan autopsi dengan membuat surat pernyataan.

Benarin Listrik, Remaja Ponorogo Tewas Kesetrum

PONOROGO JATIM - Nahas yang dialami seorang remaja bernama Ferry Khorul Anam (17), tewas tersetrum saat memperbaiki aliran listrik pada lampu di rumahnya Desa Karangjoho, Kecamatan Badegan, Kabupaten Ponorogo.

"Korban masih berstatus pelajar salah satu SMA di Ponorogo," kata Kapolsek Badegan, AKP Wahono, Minggu (26/1/2020).

Dia menambahkan, saat itu korban bersama Suyud (45), ayahnya memperbaiki lampu listrik di kamar mandi. Korban naik ke kursi dan ayahnya memegangi kursi tersebut.

Saat memperbaiki sambungan kabel tersebut, korban mendadak jatuh dan tidak sadarkan diri.

"Orangtua korban berteriak minta tolong sehingga warga berdatangan dan langsung membawa korban ke Puskesmas Badegan," terang Wahono.

Namun sampai di puskesmas, korban sudah tidak bernafas dan dinyatakan meninggal dunia oleh dokter.

"Sudah kami lakukan identifikasi dan ada luka bekas sengatan arus listrik pada telapak tangan korban," paparnya.

Karena menganggap peristiwa itu sebagai musibah, keluarga korban menolak proses visum dan autopsi dengan membuat surat pernyataan.

Tidak ada komentar