Wednesday, December 13, 2017

Asal Usul Sejarah Bani Israel Pada Zaman Nabi Musa dan Nabi Isa

loading...
loading...
Istilah Bani Israel (Bani Israil) disebut sebanyak 41 kali pada 16 surah di Al-Qur'an. Dalam surah Al-Baqarah dan Al-Ma'idah, nama Bani Israel disebut sebanyak 6 kali, sementara dalam Surah Al-A'raf, Al-Isra dan Asy-Syu'ara disebut sebanyak 4 kali. Terdapat berbagai kisah Bani Israel khususnya di zaman Musa serta Isa. Al-Qur'an menyatakan pula beberapa pesan yang secara langsung ditujukan untuk Bani Israel.

Riwayat Bani Israel tidak dapat dipisahkan dari tiga sosok nabi, yakni Ibrahim, serta Ishaq juga Ya'qub; bersama dengan 'warisan anugerah' Ilahi tentang keistimewaan generasi mereka; maupun pewarisan "Negeri Perjanjian" yang ditakdirkan untuk mereka. Dalam sejarahnya, pendirian Bani Israel terpusat pada kisah Israel (Ya'qub) dengan kedua belas putranya yang kelak menjadi para leluhur dua belas suku di Israel.

Dari keempat istri, Ya'qub memperanakkan dua belas putra, yakni Rubin, Simeon, Lawy, Yahudah, Zebulon, Yisakhar, Dan, Gad, Asyer, Naftali, Yusuf, dan Bunyamin.

Perjanjian warisan anugerah yang Allah karuniakan untuk umat Bani Israel, bermula ketika Ibrahim meninggalkan keluarga, kerabat, negeri dan tanah airnya untuk 'ditawan' (Isra') menuju 'bumi yang Allah wariskan' kepada dirinya beserta kaum keturunannya sebagai anugerah berkat untuk Ibrahim yang teruji memiliki keimanan dan kesetiaan kepada Allah, serta sebagai hadiah untuk Ibrahim yang telah sepenuhnya berserah diri kepada Allah, dengan melaksanakan apapun yang Allah perintahkan.

Nabi Ibrahim mewariskan agama kepada seluruh putranya sedangkan warisan anugerah Ilahi hanya diberikan untuk Ishaq; oleh karena Allah telah berjanji melalui pengutusan ketiga malaikat bahwa Ishaq adalah pewaris Ibrahim. Kemudian Allah menyerahkan warisan anugerah untuk Ya'qub melalui Ishaq, disebabkan Ya'qub memiliki perilaku baik dibanding anak pertama Ishaq, Ishau, seorang yang zalim bagi Allah.

Yusuf dan saudaranya, Bunyamin, merupakan dua ahli waris yang dianggap kesepuluh putra Ya'qub hendak diserahi bagian warisan anugerah, oleh karena mereka berdua adalah kesayangan bagi Ya'qub, ayah mereka.

Terlebih lagi, kesepuluh putra Ya'qub mengetahui bahwa Yusuf merupakan anak sulung yang dilahirkan oleh Rahil, istri yang paling disayangi Ya'qub, sehingga Ya'qub memperlakukan Yusuf secara istimewa. Yusuf juga mewarisi bakat nubuat dan keimanan Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub.

Terdapat rasa iri pada diri saudara-saudara Yusuf sehingga menduga bahwa ayah mereka akan menyerahkan warisan anugerah dan perjanjian waris untuk Yusuf semata. Untuk menghindari pembagian semacam ini, kesepuluh putra Ya'qub mengadakan siasat menyingkirkan Yusuf dari ayah mereka.

Akan tetapi, dugaan kesepuluh saudara Yusuf tidaklah benar, oleh sebab sewaktu ayah mereka hendak menjumpai maut, ia mengumpulkan kedua belas putranya kemudian memberi wasiat berkat tertentu dari warisan anugerah supaya keturunan mereka memperoleh bagian perjanjian Ilahi yang sebelumnya diwariskan untuk Ibrahim dan Ishaq.

Tatkala hendak menyampaikan wasiat-wasiat berkat untuk kedua belas putranya, sang ayah menerima kesaksian dari kedua belas putranya yang berikrar bahwa "Tuhannya Ya'qub, maupun Tuhannya Ibrahim, maupun Tuhannya Isma'il, maupun Tuhannya Ishaq," yakni Tuhan Yang Tunggal akan disembah putra-putra Ya'qub sepeninggal sang ayah.

Dalam penyampaian wasiat berkata; Yahudah dijuluki sebagai kebanggaan serta pemimpin di Israel, sementara Yusuf memperoleh bagian paling banyak dalam warisan sebagai anak sulung Israel, sebab kedua putra Yusuf, yakni Ifrayim dan Manushah, turut menerima bagian warisan anugerah secara khusus. Kaum pewaris kedua belas putra Israel inilah yang kelak disebut Bani Israel.

Di antara Bani Israel terdapat para nabi yang termasuk golongan dua puluh lima nabi:

- Lawy, di keturunannya terdapat Musa, Harun, Ilyas, Ilyasa.
- Yahudah, di keturunannya terdapat Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya.

BANI ISRAEL ZAMAN NABI MUSA



Setelah kedua belas putra Ya'qub telah meninggal dunia, anak cucu Ya'qub masih tinggal di Mesir sejak masa Yusuf berkuasa di negeri Mesir; dan mereka hidup dengan menggembalakan ternak di Gosyan, sebuah wilayah yang dipenuhi padang rumput dan tempat bercocok tanam yang baik.

Bangsa Mesir tidak bergaul dengan mereka, sebab bangsa Mesir menganggap pekerjaan penggembala ternak sebagai kekejian terhadap sembahan-sembahan bangsa Mesir.

Semasa seorang putra Ya'qub, Yusuf, menjadi panglima negara yang mengurus segala keperluan dan kebijakan di negeri Mesir; ia menyediakan persediaan makanan serta kebutuhan hidup lain untuk kaum keturunan Ya'qub.

Di masa yang sama, terdapat banyak orang asing dari berbagai bangsa yang datang dan tinggal di negeri Mesir untuk bertahan hidup menghadapi wabah kelaparan hebat yang sedang berlangsung. Sebagaimana nama 'Yusuf' yang bermakna 'bertambah', maka Yusuf memberkati jumlah kaum keturunan Ya'qub supaya bertambah banyak.

Mulai saat itu, sejumlah besar keturunan Ya'qub memenuhi berbagai wilayah di negeri Mesir. Kaum Fir'aun merasa ketakutan mendapati kumpulan laki-laki keturunan Ya'qub yang bertambah banyak, kemudian kaum Fir'aun berniat mengurangi jumlah mereka dengan mengadakan tipu muslihat melalui tindakan memperbudak maupun tipu daya untuk membunuh setiap anak laki-laki yang baru lahir namun membiarkan setiap anak perempuan tetap hidup.

Kaum Fir'aun juga menindas dan memperbudak orang-orang dari berbagai bangsa yang menjadi kaum pendatang di Mesir.

Hal ini berlanjut hingga ketika Allah mengutus Musa untuk memerdekakan serta untuk mengistimewakan kedudukan umat Bani Israel yang semula "kaum budak yang ditindas manusia" di Mesir menjadi "para hamba yang dimiliki Allah" sewaktu meninggalkan Mesir supaya umat ini mengikat perjanjian kekal di Gunung Sinai.

Dalam keberangkatan ini, terdapat pula orang-orang asing yang bergabung di tengah-tengah kaum keturunan Ya'qub, karena orang-orang ini turut pula ditindas di Mesir, sehingga Musa tidak hanya menuntun kaum keturunan Ya'qub sewaktu Bani Israel meninggalkan Mesir.

Musa dan Harun tidak termasuk kaum budak bangsa Mesir, sebab keduanya berasal dari suku Lawy, satu-satunya suku di Bani Israel yang sejak semula tetap setia mengabdi untuk Allah sehingga mereka tidak mau diperhamba oleh pihak manapun termasuk penduduk Mesir.

Atas kesetiaan suku ini, Allah mengkhususkan mereka serta mempercayakan pengurusan ibadah beserta kedudukan kepala agama (Imam) kepada keturunan Lawy untuk seterusnya. Allah mengutus banyak nabi dari kalangan suku ini, oleh karena dalam hal pengabdian terhadap Allah, suku Lawy adalah yang terbaik dibanding suku-suku lain di Bani Israel.

Walau dihadapkan dengan seruan beserta berbagai mu'jizat supaya bersedia membebaskan hamba-hamba Allah, Fir'aun beserta kaumnya berkeras diri menolak dakwah dua Rasul Allah, Musa dan Harun. Hal ini berakibat kaum Fir'aun dilanda berbagai bencana mengerikan akibat berbagai penolakan tersebut.

Hingga datanglah Firman Allah kepada Musa supaya memimpin Bani Israel pergi meninggalkan Mesir di sebuah malam. Meski Bani Israel sempat dikejar bala tentara Fir'aun sewaktu menyeberangi Laut Merah, Allah menyelamatkan Bani Israel melalui perantaraan Musa, sedangkan bala tentara Fir'aun ditumpas dalam lautan.

Kemudian Bani Israel menegaskan ikrar perjanjian terhadap Allah di Thursina (Gunung Sinai), kemudian mereka maju menduduki negeri Palestina sebagai negeri perjanjian yang Allah takdirkan menjadi milik kaum keturunan Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub.

Pada zaman tersebut, keadaan negeri Palestina serupa dengan "Surga di muka bumi" dimana terdapat aliran-aliran sungai susu dan madu, disebabkan berkah Ilahi yang berlimpah menaungi seisi negeri sehingga Allah berjanji mewariskan "Surga di dunia" maupun di Akhirat untuk golongan Israel yakni Ibrahim, Ishaq, Ya'qub beserta seluruh keturunan mereka yang benar-benar beriman, serta yang berserah diri menuruti segala perintah maupun ketetapan Allah.

Ketika Bani Israel hendak menyatakan ikrar perjanjian kepada Allah, terdapat orang-orang yang masih mempercayai tuduhan kaum Fir'aun bahwa Musa adalah seorang penyihir, maka orang-orang ini menolak untuk mengakui kenabian Musa sebelum mereka melihat Allah di hadapan mereka.

Firman Alloh SWT:
Dan (ingatlah), ketika kalian berkata: "Hai Musa, kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang, karena itu kalian disambar halilintar, sedang kamu menyaksikannya". Setelah itu Kami bangkitkan kalian sesudah kalian mati, supaya kalian bersyukur. (Al-Baqarah 2:55-56)

Hal ini dikabulkan sewaktu "Kemuliaan Allah" memenuhi langit di atas Gunung Sinai; dengan harapan Bani Israel akan takut dan gentar terhadap Allah, sehingga mereka melaksanakan segala hal yang Allah perintahkan dan mereka menghindari segala hal yang Allah larang.

PENYEMBAHAN PATUNG ANAK SAPI EMAS


Dalam perjalanan ke negeri perjanjian, Bani Israel pernah mendapati sebuah kaum penyembah berhala, kemudian terdapat orang-orang yang meminta kepada Musa supaya ia membuatkan sebuah patung untuk disembah, akan tetapi Musa menolak seraya menegur permintaan mereka ini, sehingga mereka pun takut berbuat demikian.

Sewaktu Bani Israel ditinggal Musa untuk menerima wahyu berupa Taurat, kepemimpinan di Bani Israel diserahkan kepada Hur dari suku Yahudah, dan Harun. Oleh sebab ada segolongan orang dari bangsa-bangsa lain yang telah bergabung di tengah-tengah Bani Israel, maka terdapat pula orang-orang yang dahulunya pernah menyembah berhala; lalu orang-orang ini hendak beribadah dengan mengadakan upacara persembahan untuk Allah.

Akan tetapi, orang-orang ini menuntut supaya para pemimpin Bani Israel, Hur dan Harun, mendirikan patung sebagai objek penyembahan, sebagaimana patung di upacara penyembahan berhala. Namun Hur justru menjadi korban kezaliman orang-orang ini, setelah Hur menyalahkan mereka tentang kebodohan menghendaki objek sembahan yang bukan Allah.

Terdapat salah seorang bernama Samiri yang mengetahui 'jejak rasul' serta memiliki ilmu sihir dari negeri Mesir, sehingga ia mencoba untuk membuat sebuah patung dengan memanaskan timbunan emas yang kemudian membentuk sebuah berhala anak sapi; kemudian diserukan kepada Bani Israel supaya menyembah patung tersebut.

Kejadian ini merupakan bentuk ujian apakah umat ini benar-benar dapat dipercaya oleh Allah ketika Musa tiada di tengah-tengah mereka; ataukah umat ini hanya segan terhadap Musa serta mereka tidak mempedulikan perintah maupun Hukum Allah:

Dan (ingatlah), ketika Kami berjanji kepada Musa (memberikan Taurat, sesudah) empat puluh malam, lalu kalian menjadikan anak lembu (sembahan) sepeninggalnya dan kalian adalah orang-orang yang zalim. Kemudian sesudah itu Kami maafkan kesalahan kalian, agar kalian bersyukur. (Al-Baqarah 2:51-52)

Setelah empat puluh hari, Musa membawa kedua loh batu dari Gunung Sinai. Namun Musa merasa sangat kecewa dan geram ketika mendapati di tengah-tengah Bani Israel ada orang-orang yang sedang menyembah patung anak sapi emas.

Musa menuntut pertanggungjawaban Harun yang terdiam melihat Bani Israel menyembah patung anak sapi emas; namun Harun mengaku terdesak dan diancam dibunuh oleh orang-orang yang menghendaki sembahan buatan sekalipun mereka telah diperingatkan.

Kemudian Musa berseru kepada Bani Israel supaya bertobat. Setelah peristiwa ini, Musa beserta tujuh puluh orang dari kaumnya memohonkan pengampunan kepada Allah tentang dosa ini.

Tatkala Allah mewahyukan perintah melalui Musa supaya Bani Israel menyerbu dan menduduki negeri yang telah Allah janjikan kepada Ibrahim sebagai tempat tinggal kaum pewarisnya, sebagian besar dari Bani Israel justru membangkang seraya enggan melaksanakan perintah ini.

Mereka berdalih merasa takut menghadapi para raksasa bangsa Kana’an. Hal ini menunjukkan sebagian besar Bani Israel di generasi ini tidak sepenuhnya beriman kepada Allah, mereka seakan melupakan Allah yang telah menyelamatkan mereka sewaktu menghadapi bala tentara Firaun.

Bani Israel juga seakan melupakan bahwa sebelumnya mereka adalah para budak bangsa Mesir yang tidak berbekal senjata, namun atas Kuasa Allah, Bani Israel berhasil menumpas musuh-musuh mereka hanya dengan percaya dan berserah diri kepada perintah Allah untuk menyeberangi Laut Merah.

Pembangkangan ini membuktikan bahwasanya sebagian besar generasi Bani Israel yang telah ditawan dari negeri Mesir kurang memiliki kepercayaan untuk diserahi kuasa di negeri Palestina, sebuah negeri perjanjian yang Allah takdirkan untuk orang-orang pilihan.

Walau demikian, di antara suku-suku Bani Israel, kesemua orang di suku Lawy tidak menentang Kehendak Allah; juga terdapat dua orang laki-laki bertakwa, yakni Yusha dari keturunan Ifrayim, suku Yusuf, dan Qolib dari suku Yahudah, keduanya menasihati Bani Israel supaya maju menyerbu gerbang kota negeri Palestina kemudian menguasai negeri yang telah diwariskan untuk mereka, agar Bani Israel membuktikan diri melaksanakan Kehendak Allah dan agar mereka menggenapi Perjanjian Allah kepada para leluhur mereka.

Meski demikian, sebagian besar Bani Israel menolak nasihat keduanya seraya menyatakan bahwa mereka takkan pernah menduduki negeri perjanjian sebelum kaum raksasa meninggalkan negeri tersebut, juga mengucap pernyataan yang menunjukkan keengganan kepada Musa: "Majulah kamu bersama Tuhanmu dan berperanglah, sementara kami duduk menanti saja di sini."

Sejak saat ini pula, Bani Israel mendapat hukuman berupa pengembaraan di padang gurun selama empat puluh tahun akibat keengganan melaksanakan Kehendak Allah maupun Ketetapan Allah tentang negeri perjanjian. Selama masa pengembaraan ini, terdapat banyak anak yang dilahirkan di Bani Israel, sehingga generasi yang lahir di padang gurun kelak menggantikan generasi yang keluar dari Mesir.

BANI ISRAEL ZAMAN NABI ISA



Meski umat Yahudi merupakan sisa dari Bani Israel yang kembali tinggal di Palestina, namun kemurnian darah leluhur Bani Israel pada keturunan umat ini telah bercampur dengan bangsa-bangsa asing yang telah menempati negeri Palestina sejak masa pengasingan Babel.

Hal ini menyebabkan tradisi beserta adat baru berkembang yang berakibat ajaran agama yang telah Musa ajarkan kepada Bani Israel berada dalam keadaan menyimpang dari ajaran semula.

Oleh karena Allah sangat mengasihi Bani Israel, juga Allah ingin membimbing mereka kembali menuju agama yang lurus, maka Allah mengutus Isa al-Masih, seorang manusia yang tidak memiliki darah leluhur dari siapapun melainkan seorang manusia yang Allah ciptakan secara langsung. Isa al-Masih diciptakan melalui Maryam; oleh sebab itu Isa disebut juga sebagai putra Maryam.

PERSEKONGKOLAN KALANGAN PENDETA YAHUDI

Kehadiran Isa menimbulkan kegemparan dan perdebatan di kalangan umat Yahudi pada zaman itu, banyak yang menganggap Isa sebagai seorang nabi, pelihat, jelmaan malaikat, Messiah, tabib, hingga dituduh sebagai penista kaum Yahudi.

Isa memahami bahwa ada persekongkolan yang akan menjebaknya, namun ia tetap melaksanakan tugas sebagai seorang Rasul Allah dengan menyampaikan berbagai risalah dan tuntunan Allah kepada penduduk Palestina di berbagai tempat, serta Isa mengadakan berbagai mu'jizat, yakni keajaiban di luar nalar, kepada banyak orang.

Nabi Isa memiliki sahabat-sahabat setia yang mengiringi, meski akhirnya ia menyadari ada seseorang di antara mereka yang akan berkhianat dan mengacaukan pengajarannya, kemudian Allah mengangkat Isa ke langit sewaktu tugas kenabiannya di dunia telah selesai.

Tatkala Isa terus mendakwahkan berbagai bukti risalah Allah serta menyampaikan tentang kehalalan sebagian perkara yang sebelumnya diharamkan untuk Bani Israel; kaum Yahudi mengetahui keadaan yang tidak menguntungkan di pihak mereka.

Ketika kaum Yahudi tidak lagi memiliki tipu daya yang dapat melumpuhkan Isa, sementara mereka melihat banyak orang yang percaya dan berkumpul di pihak Isa, mereka pun mulai membuat suatu makar yakni mempengaruhi orang-orang Romawi.

Sewaktu orang-orang Yahudi tidak berhasil memerangi Isa, maka mereka mengambil keputusan untuk menghilangkan nyawa Isa. Berbagai tuduhan terhadap Isa serupa dengan yang dahulu disangkakan kepada nabi Daud, hingga lisan keduanya mengutuk orang-orang kafir yang berada di tengah-tengah kalangan Yahudi.

Dalam risalah Isa, diajarkan peraturan bahwa orang yang tidak berbuat salah dapat menghukum orang bersalah, akan tetapi tiada seorang pun dari kalangan manusia yang berhak menghukum orang bersalah jika si penghukum masih memiliki kesalahan, melainkan Allah yang berhak menghukum orang bersalah tersebut.

Kemudian mulailah para ketua pendeta Yahudi bermusyawarah untuk membuat suatu kesimpulan tentang cara yang mereka lakukan untuk menangkap nabi Isa yang tidak menimbulkan kegaduhan di tengah-tengah masyarakat. Ketika para pemimpin Yahudi bermusyawarah, terdapat salah seorang di antara murid-murid al-Masih, yang pergi kepada orang-orang Yahudi, seraya meminta sejumlah imbalan. Tetapi pada akhirnya Isa tidak berhasil mereka bunuh.

Pada zaman itu, kaum Yahudi terbukti telah memusuhi dan mengingkari risalah Isa al-Masih, seorang Rasul Allah, bahkan kaum itu secara zalim membantai orang-orang sesat menurut mereka, semisal para pengikut nabi Isa yang dianggap mengadakan ajaran sesat.

Kaum Yahudi juga secara zalim membaurkan ajaran Allah dengan ajaran para tokoh terkemuka maupun ajaran para rabi, terlebih ada sebagian kelompok dari kaum Yahudi yang mendakwakan penjelasan manusia lebih utama dibanding Kitab Allah, Taurat.

Terdapat berbagai tindakan kekafiran yang memicu murka Allah, sehingga Allah mengutuk orang-orang kafir yang berada di tengah-tengah kaum Yahudi, serta menimpakan berbagai hukuman; semisal pengasingan sisa-sisa Bani Israel ini melalui serangan bangsa Romawi yang dipimpin Kaisar Titus.

Sejak peristiwa ini, suku Yahudah dan suku Bunyamin, beserta segala orang yang mengklaim sebagai orang Yahudi, berpencar ke berbagai bangsa di muka bumi.

Wallohua'lam Bisshowab