Social Items


Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada.

Raja Trigarta Susarma bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, gugur di tangan Arjuna.

Mereka turun ke medan laga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu.

Prabu Susarma yang memang dendam pada Arjuna, karena pernah dipermalukan sebagai pecundang saat Arjuna menyamar sebagai Whrehatnala banci pengajar tari pada kisah Wirataparwa, segera menyetujui strategi Durna, Diajaknya 35 putranya untuk mengeroyok Arjuna.

Susarma: Hay Arjuna, jangan malang kadak, hayoo sini hadapi Susarma yang akan membinasakan mu.

Arjuna: Susarma, bangunlah dari mimpimu, sedangkan dulu saat aku menyamar menjadi Whrehatnala saja, engkau sudah bertekuk lutut, dan sempat aku hajar untuk tunduk menyembah Eyang Matswapati, apalagi sekarang saat jiwa dan ragaku siap sebagai senopati perang.

Susarma:  kurang ajar !! dulu aku gegabah tidak hati-hati menyepelekan kemampuan mu yang wandu itu, tapi sekarang, dendamku setinggi langit padamu, dan dendam itu akan melipat gandakan kekuatanku untuk menghabisi mu.

Arjuna: Kasihan engkau Susarma, ketika kau andalkan dendammu untuk mencapai tujuanmu, lihatlah iblis bersorak dan engkau akan terlibas oleh dendam yang akan menyingkirkan kewaspadaan dan nuranimu, mari kita bertarung habis-habisan.

Ketenangan Arjuna disikapi dengan kemarahan meledak dari Susarma yang merasa Arjuna sombong dan terus meledek dia. Pertarungan yang dahsyat terjadi di antara keduanya, ketika tubuh Susarma terpental oleh tamparan Arjuna, ke 35 anak-anaknya segera mengeroyok Arjuna, dengan dibantu Nakula Sadewa, Arjuna menepi mengambil jarak untuk melepaskan panah saktinya Ardhadedali dari Gendewanya yang juga pusaka ampuh pemberian Dewa Baruna.

Desing panah bergulung-gulung dengan suara raungan seakan burung raksasa memekak membelah angkasa. Panah ini tiba-tiba membelah diri menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan panah bernyala memerah darah.

Nakula Sadewa sadar untuk segera menyingkir, mereka gunakan kegesitannya untuk menyingkir dari arah jelajah panah. Akhirnya ratusan bala perajurit Trigatra bersama 35 putra Susarma menjadi korban keganasan Ardhadedali mereka tewas dengan tubuh membiru seakan terbakar panah sakti tersebut.

Susarma menjerit menyaksikan kematian anak-anaknya, bagai banteng ketaton Susarma mencoba mengejar Arjuna, namun dia memang bukan tandingan Arjuna dengan satu sabetan dari pusaka Gandewanya, kepala Susarma pecah di medan laga.

Kematian Susarma dan anak-anaknya makin melemahkan pertahanan Kurawa, Sebelum berakhirnya pertarungan hari ke 12, Durna terus mengarahkan pasukan Kurawa untuk memperkuat pertahanan. Sementara Drestajumena makin bersemangat untuk menyerang dan menjadikan Durna sebagai target utamanya.

Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.

Sejarah Perang Baratayudha di Hari Ke Dua belas (ke-12), kisah Mahabharata


Setelah menerima kegagalan, Drona yakin bahwa rencana untuk menaklukkan Yudistira sulit diwujudkan selama Arjuna masih ada.

Raja Trigarta Susarma bersama dengan 3 saudaranya dan 35 putera mereka berada di pihak Korawa dan mencoba untuk membunuh Arjuna atau sebaliknya, gugur di tangan Arjuna.

Mereka turun ke medan laga pada hari kedua belas dan langsung menyerbu Arjuna. Namun mereka tidak berhasil sehingga gugur satu persatu.

Prabu Susarma yang memang dendam pada Arjuna, karena pernah dipermalukan sebagai pecundang saat Arjuna menyamar sebagai Whrehatnala banci pengajar tari pada kisah Wirataparwa, segera menyetujui strategi Durna, Diajaknya 35 putranya untuk mengeroyok Arjuna.

Susarma: Hay Arjuna, jangan malang kadak, hayoo sini hadapi Susarma yang akan membinasakan mu.

Arjuna: Susarma, bangunlah dari mimpimu, sedangkan dulu saat aku menyamar menjadi Whrehatnala saja, engkau sudah bertekuk lutut, dan sempat aku hajar untuk tunduk menyembah Eyang Matswapati, apalagi sekarang saat jiwa dan ragaku siap sebagai senopati perang.

Susarma:  kurang ajar !! dulu aku gegabah tidak hati-hati menyepelekan kemampuan mu yang wandu itu, tapi sekarang, dendamku setinggi langit padamu, dan dendam itu akan melipat gandakan kekuatanku untuk menghabisi mu.

Arjuna: Kasihan engkau Susarma, ketika kau andalkan dendammu untuk mencapai tujuanmu, lihatlah iblis bersorak dan engkau akan terlibas oleh dendam yang akan menyingkirkan kewaspadaan dan nuranimu, mari kita bertarung habis-habisan.

Ketenangan Arjuna disikapi dengan kemarahan meledak dari Susarma yang merasa Arjuna sombong dan terus meledek dia. Pertarungan yang dahsyat terjadi di antara keduanya, ketika tubuh Susarma terpental oleh tamparan Arjuna, ke 35 anak-anaknya segera mengeroyok Arjuna, dengan dibantu Nakula Sadewa, Arjuna menepi mengambil jarak untuk melepaskan panah saktinya Ardhadedali dari Gendewanya yang juga pusaka ampuh pemberian Dewa Baruna.

Desing panah bergulung-gulung dengan suara raungan seakan burung raksasa memekak membelah angkasa. Panah ini tiba-tiba membelah diri menjadi puluhan, ratusan bahkan ribuan panah bernyala memerah darah.

Nakula Sadewa sadar untuk segera menyingkir, mereka gunakan kegesitannya untuk menyingkir dari arah jelajah panah. Akhirnya ratusan bala perajurit Trigatra bersama 35 putra Susarma menjadi korban keganasan Ardhadedali mereka tewas dengan tubuh membiru seakan terbakar panah sakti tersebut.

Susarma menjerit menyaksikan kematian anak-anaknya, bagai banteng ketaton Susarma mencoba mengejar Arjuna, namun dia memang bukan tandingan Arjuna dengan satu sabetan dari pusaka Gandewanya, kepala Susarma pecah di medan laga.

Kematian Susarma dan anak-anaknya makin melemahkan pertahanan Kurawa, Sebelum berakhirnya pertarungan hari ke 12, Durna terus mengarahkan pasukan Kurawa untuk memperkuat pertahanan. Sementara Drestajumena makin bersemangat untuk menyerang dan menjadikan Durna sebagai target utamanya.

Semakin hari kekuatan para Pandawa semakin bertambah dan memberikan pukulan yang besar kepada pasukan Korawa.

No comments