Sejarah Asal Usul Kerajaan Widarba Dalam Kisah Mahabharata dan Jawa - Kuwaluhan.com
Kerajaan Widarbha merupakan salah satu kerajaan yang diperintah oleh para Raja dari Wangsa Yadawa (Bhoja Yadawa) di wilayah India Tengah dan Barat.


Dalam Mahabharata, kerajaan ini muncul pada saat pemerintahan Raja Rukmi, yang tidak ikut berpartisipasi dalam perang di Kurukshetra.

Puteri Damayanti, permaisuri Raja Nala, berasal dari sana. Begitu pun Rukmini, istri dari Wasudewa Krishna berasal dari Widarbha. Lopamudra, istri Rsi Agastya juga merupakan puteri dari negeri Widarbha. Kundinapuri merupakan nama ibukotanya, dan diidentifikasi sebagai Kundapur di Maharashtra timur.

Saudara lelaki Rukmini Rukmi mendirikan kerajaan lain dengan ibukota Bhojakata, dekat dengan kerajaan Widarbha yang asli. Pada saat seluruh kerajaan di India berpartisipasi dalam perang di Kurukshetra, kerajaan Widarbha mengaku netral karena tentaranya ditolak oleh Pandawamaupun Korawa, dua pihak yang berseteru dalam perang.

Namun dalam suatu bagian dalam Mahabharata, tentara kerajaan Widarbha yang lain berada di pihak Korawa di bawah pimpinan panglima perang Bhisma.

BABAD KERAJAAN MAMENANG

Di negara Hastina, Prabu Sudarsana siniwaka, dihadap Patih Sundaja, Brahmana Kestu, senapati Harya Padmayana; yang dibicarakan dalam siniwaka tersebut ialah selama Prabu Gendrayana meninggalkan negeri Hastinapura dan tidak ada berita.

Patih Sunjaya diperintahkan oleh raja untuk mencari kabar tentang kakanda Gendrayana, dan diharapkan untuk mengetahui sendiri tempat tinggal kakanda raja. Pertemuan lalu dibubaran.

Prabu Sudarsana kembali keistana, dijemput Prameswari raja Dewi Padmasari, dihadap oleh para parekan ceti serta dayang-dayang kerajaan. Dalam pembicaraan raja dengan prameswari tidak lain persoalan apa yang dibicarakan didalam sitinggil. Raja lalu memerintahkan membersihkan sanggar palanggatan, untuk semedi.

Diluar istana, Patih Sunjaya dengan brahmana Kestu, Harya Padmayana, Harya Suweda (punggawa), harya widagda, harya Prahasana dan harya Warsaya. Patih memerintahkan pembagian pekerjaan, bagian yang tinggal menjaga keamanan negara dan bagian yang mengikuti melaksanakan perintah raja. Kemudian budalan dengan mengendarai kuda, dilanjutkan perang ampyak.

Adegan negeri Iman-Imantaka, prabu kala Drawayana dihadap emban yeksi sekeli dan punggawa raksasa. Pembicaraan sekitar meninggalnya ayahanda raja yang terbunuh oleh Prabu Gendrayana, raja di Hastina. Raja Drawayana akanmenuntutbalas.

Emban sekeli memberitahukan bahwa gendrayana telah tidak berdiam lagi di Hastina, ia telah pergi dan digantikan adiknya bernama Prabu Sudarsana. Raja memerintahkanprajurit untuk mencari tempat tinggal Prabu Gendrayana.

Prajurit raksasa yang mendapat tugas segera berangkat, pertemuan bubaran.
Diluar kraton para raksasa prajurit yang akan melaksanakan tugas dari raja mencari Prabu Gendrayana, setelah persiapan selesai maka berangkatlah mereka.

Dalam perjalanan barisan dari iman-imantaka berjumpa dengan barisan Hastina, terjadilah perselisihan, akhirnya bersimpangan jalan.

Adegan ditengah hutan, resi Budda sedang bersemedi didaerah Mamenang. Sang Hyang Wisnu datang dan menanyakan maksud sang resi. Jawab resi, ia sedih karena negerinya direbut oleh adiknya sendiri yaitu arya Kanda.

Sang Hyang Wisnu belas kasihan, maka lalu menitís kepada resi Budha untuk dapat sejiwa dengan Gendrayana. Sebelum menitís Sang Hyang Wisnu memberikan wuluh gading berisi peralatan negara Widarba, artinya berisi peralatan negara Widarba, untuk diberikan kepada Gendrayana. Setelah wuluh gading diterima resi Budha, Batara Wisnu menitís, resi Budha lalu pergi mencari Gendrayana.

Di pertapaan Wukir Manimaya, resi Sedana dihadap anaknda bernama Bambang Sumeda. Bambang Sumeda ingin mengabdi ke raja Ngastina, diperkenankan oleh sang resi, lalu permisi berangkat dengan segera, disertai dua Punakawan yaitu Balsa dan Geyot.

Kemudian adiknya Bambang Suseno datang minta diri untuk turut dan menyusul kakanya, juga diizinkan oleh sang resi dan segera berangkat.

Di tengah perjalanan prajurit raksasa berada di hutan sedang mencari Gendrayana. Prajurit raksasa dari Iman-imantaka tersebut melihat Bambang Sumeda lalu ditengah hutan, maka segera dihadang. Akhirnya menjadi perselisihan dan terjadilah peperangan.

Bambang Sumeda dibantu saudaranya Bambang Susena. Raksasa mati semuanya. Bambang kedua dan punakawan melanjutkan tujuannya kenegeri Hastina.
Di tengah hutan Mamenang, Prabu Gendrayana dihadap patih Sutiksna dan raja Giliwesi, Prabu Sri Prawata.

Dalam percakapan membicarakan bahwa sampai kini Belum mendapat tempat yang baik untuk membuat kota atau negeri. Ditengah-tengah pembicaraan datanglah patih Sunjaya yang diutus adinda raja Prabu Sudarsana untuk mencari dan mengetahui tempat tinggal raja Gendrayana.

Kemudian datanglah resi Buda mengaturkan wuluh gading isi negeri Widarba yang telah diletakkan ditengah hutan Mamenang. Prabu Gendrayana dengan semua prajurit ingin melihatnya. Sangat keheran-heranan sang raja melihat kelengkapan negeri Widarba pemberian batara Wisnu dengan perantaraan Resi Budha.

Resi Budha minta diuntapkan ke surga loka. Prabu Gendrayana sanggup, dengan perantaraan keris Kyai Pulangeni, resi Budha dapat muksa berupa sinar dan berubah menjadi buah mempelam talijiwa, yang dapat dipegang oleh raja Gendrayana dan terus diberikan kepada istrinya. Wisnupun telah menitís kepadanya. Raja Gilingwesi dan patih Sunjaya diperkenankan kembali ketempat masing-masing.

Di negara Hastina Prabu Sudarsana duduk disinggasana di hadap Brahmana Kestu dan Harya Padmayana. Datanglah patih Sunjaya melaporkan tentang kedudukan kakanda raja Gendrayana.

Sebelumnya datang dahulu Bambang Sumeda dan Bambang Susena mohon mengabdi di Hastina, dan diterima oleh raja, serta diangkat sebagai punggawa di Hastina. Setelah selesai raja menerima laporan patih lengkap, maka raja ingin berangkat sendiri menemui kakanda raja di widarba.

Adegan Kahyangan Suralaya, Batara Guru duduk dibalai Marcukandamanik dihadap batara Narada dan para dewa. Yang dibicarakan adanya gara-gara. Batara Narada menerangkan bahwa gara-gara ini karena resi Kombayana minta kaluhuran. Batara Guru memerintahkan untuk menangkap sang Kombayana. Batara akan juga menyaksikan. Kombayana akhirnya dapat dibanjut dewa.

Prabu Drawayana dihadap emban Sekeli. Percakapan tentang tidak adanya berita utusan prajurit raksasa. Wijamantri dan Jamamantri datang melaporkan tentang kematian para raksasa.

Raja marah dan segera akan berangkat mencari prabu Gendrayana. Emban sekeli menganjurkan minta bantuan adinda raja prabu Nirbita, raja di Martikawata. Raja Drawayana setuju terus budalan

Prabu Nirbita dihadap adinda raja Harya Niswata dan patih Nirbaya. Percakapan raja sekitar kemauannya hendak kawin lagi supaya isterinya lengkap berjumlah domas. Adinda tidak setuju.

Datanglah raja Drawajana minta bantuan untuk dapat membunuh raja Hastina bila dapat negeri tersebut terserah adanya. Nirbita menyanggupi, Drawayana kembali ke Iman-imantaka, dan Prabu Nirbita berangkat menyerang negeri Hastina.

Prabu Gendrayana menemui adinda raja hastina prabu Sudarsana yang sangat rindu pada kakanda. Setelah semuanya terdapat selamat dan bahagia, maka prabu Sudarsana diperkenankan pulang.

Dalam perjalanan pulang Prabu Sudarsana bertemu dengan Prabu Nirbita. Terjadilah peperanganm dengan berakhir kematian Nirbita beserta para prajurit pengiringnya.

Dengan Hastina Prabu Sudarsana menerima kedatangan Harya Niswata yang takluk karena kakanda raja prabu Nirbita telah mati dipeperangan. Harya Niswata menyerahkan segala kekayaa kraton Martikawata.

Setelah penyerahan diri Niswata diterima, kekayaan dikembalikan, maka Niswata diangkat menjadi raja pengganti prabu Nirbita di Iman-imantaka. Kemudian raja Sudarsana mengadakan jamuan dan pesta atas kemenangan tersebut dengan lengkap para punggawa. 

Sejarah Asal Usul Kerajaan Widarba Dalam Kisah Mahabharata dan Jawa

Kerajaan Widarbha merupakan salah satu kerajaan yang diperintah oleh para Raja dari Wangsa Yadawa (Bhoja Yadawa) di wilayah India Tengah dan Barat.


Dalam Mahabharata, kerajaan ini muncul pada saat pemerintahan Raja Rukmi, yang tidak ikut berpartisipasi dalam perang di Kurukshetra.

Puteri Damayanti, permaisuri Raja Nala, berasal dari sana. Begitu pun Rukmini, istri dari Wasudewa Krishna berasal dari Widarbha. Lopamudra, istri Rsi Agastya juga merupakan puteri dari negeri Widarbha. Kundinapuri merupakan nama ibukotanya, dan diidentifikasi sebagai Kundapur di Maharashtra timur.

Saudara lelaki Rukmini Rukmi mendirikan kerajaan lain dengan ibukota Bhojakata, dekat dengan kerajaan Widarbha yang asli. Pada saat seluruh kerajaan di India berpartisipasi dalam perang di Kurukshetra, kerajaan Widarbha mengaku netral karena tentaranya ditolak oleh Pandawamaupun Korawa, dua pihak yang berseteru dalam perang.

Namun dalam suatu bagian dalam Mahabharata, tentara kerajaan Widarbha yang lain berada di pihak Korawa di bawah pimpinan panglima perang Bhisma.

BABAD KERAJAAN MAMENANG

Di negara Hastina, Prabu Sudarsana siniwaka, dihadap Patih Sundaja, Brahmana Kestu, senapati Harya Padmayana; yang dibicarakan dalam siniwaka tersebut ialah selama Prabu Gendrayana meninggalkan negeri Hastinapura dan tidak ada berita.

Patih Sunjaya diperintahkan oleh raja untuk mencari kabar tentang kakanda Gendrayana, dan diharapkan untuk mengetahui sendiri tempat tinggal kakanda raja. Pertemuan lalu dibubaran.

Prabu Sudarsana kembali keistana, dijemput Prameswari raja Dewi Padmasari, dihadap oleh para parekan ceti serta dayang-dayang kerajaan. Dalam pembicaraan raja dengan prameswari tidak lain persoalan apa yang dibicarakan didalam sitinggil. Raja lalu memerintahkan membersihkan sanggar palanggatan, untuk semedi.

Diluar istana, Patih Sunjaya dengan brahmana Kestu, Harya Padmayana, Harya Suweda (punggawa), harya widagda, harya Prahasana dan harya Warsaya. Patih memerintahkan pembagian pekerjaan, bagian yang tinggal menjaga keamanan negara dan bagian yang mengikuti melaksanakan perintah raja. Kemudian budalan dengan mengendarai kuda, dilanjutkan perang ampyak.

Adegan negeri Iman-Imantaka, prabu kala Drawayana dihadap emban yeksi sekeli dan punggawa raksasa. Pembicaraan sekitar meninggalnya ayahanda raja yang terbunuh oleh Prabu Gendrayana, raja di Hastina. Raja Drawayana akanmenuntutbalas.

Emban sekeli memberitahukan bahwa gendrayana telah tidak berdiam lagi di Hastina, ia telah pergi dan digantikan adiknya bernama Prabu Sudarsana. Raja memerintahkanprajurit untuk mencari tempat tinggal Prabu Gendrayana.

Prajurit raksasa yang mendapat tugas segera berangkat, pertemuan bubaran.
Diluar kraton para raksasa prajurit yang akan melaksanakan tugas dari raja mencari Prabu Gendrayana, setelah persiapan selesai maka berangkatlah mereka.

Dalam perjalanan barisan dari iman-imantaka berjumpa dengan barisan Hastina, terjadilah perselisihan, akhirnya bersimpangan jalan.

Adegan ditengah hutan, resi Budda sedang bersemedi didaerah Mamenang. Sang Hyang Wisnu datang dan menanyakan maksud sang resi. Jawab resi, ia sedih karena negerinya direbut oleh adiknya sendiri yaitu arya Kanda.

Sang Hyang Wisnu belas kasihan, maka lalu menitís kepada resi Budha untuk dapat sejiwa dengan Gendrayana. Sebelum menitís Sang Hyang Wisnu memberikan wuluh gading berisi peralatan negara Widarba, artinya berisi peralatan negara Widarba, untuk diberikan kepada Gendrayana. Setelah wuluh gading diterima resi Budha, Batara Wisnu menitís, resi Budha lalu pergi mencari Gendrayana.

Di pertapaan Wukir Manimaya, resi Sedana dihadap anaknda bernama Bambang Sumeda. Bambang Sumeda ingin mengabdi ke raja Ngastina, diperkenankan oleh sang resi, lalu permisi berangkat dengan segera, disertai dua Punakawan yaitu Balsa dan Geyot.

Kemudian adiknya Bambang Suseno datang minta diri untuk turut dan menyusul kakanya, juga diizinkan oleh sang resi dan segera berangkat.

Di tengah perjalanan prajurit raksasa berada di hutan sedang mencari Gendrayana. Prajurit raksasa dari Iman-imantaka tersebut melihat Bambang Sumeda lalu ditengah hutan, maka segera dihadang. Akhirnya menjadi perselisihan dan terjadilah peperangan.

Bambang Sumeda dibantu saudaranya Bambang Susena. Raksasa mati semuanya. Bambang kedua dan punakawan melanjutkan tujuannya kenegeri Hastina.
Di tengah hutan Mamenang, Prabu Gendrayana dihadap patih Sutiksna dan raja Giliwesi, Prabu Sri Prawata.

Dalam percakapan membicarakan bahwa sampai kini Belum mendapat tempat yang baik untuk membuat kota atau negeri. Ditengah-tengah pembicaraan datanglah patih Sunjaya yang diutus adinda raja Prabu Sudarsana untuk mencari dan mengetahui tempat tinggal raja Gendrayana.

Kemudian datanglah resi Buda mengaturkan wuluh gading isi negeri Widarba yang telah diletakkan ditengah hutan Mamenang. Prabu Gendrayana dengan semua prajurit ingin melihatnya. Sangat keheran-heranan sang raja melihat kelengkapan negeri Widarba pemberian batara Wisnu dengan perantaraan Resi Budha.

Resi Budha minta diuntapkan ke surga loka. Prabu Gendrayana sanggup, dengan perantaraan keris Kyai Pulangeni, resi Budha dapat muksa berupa sinar dan berubah menjadi buah mempelam talijiwa, yang dapat dipegang oleh raja Gendrayana dan terus diberikan kepada istrinya. Wisnupun telah menitís kepadanya. Raja Gilingwesi dan patih Sunjaya diperkenankan kembali ketempat masing-masing.

Di negara Hastina Prabu Sudarsana duduk disinggasana di hadap Brahmana Kestu dan Harya Padmayana. Datanglah patih Sunjaya melaporkan tentang kedudukan kakanda raja Gendrayana.

Sebelumnya datang dahulu Bambang Sumeda dan Bambang Susena mohon mengabdi di Hastina, dan diterima oleh raja, serta diangkat sebagai punggawa di Hastina. Setelah selesai raja menerima laporan patih lengkap, maka raja ingin berangkat sendiri menemui kakanda raja di widarba.

Adegan Kahyangan Suralaya, Batara Guru duduk dibalai Marcukandamanik dihadap batara Narada dan para dewa. Yang dibicarakan adanya gara-gara. Batara Narada menerangkan bahwa gara-gara ini karena resi Kombayana minta kaluhuran. Batara Guru memerintahkan untuk menangkap sang Kombayana. Batara akan juga menyaksikan. Kombayana akhirnya dapat dibanjut dewa.

Prabu Drawayana dihadap emban Sekeli. Percakapan tentang tidak adanya berita utusan prajurit raksasa. Wijamantri dan Jamamantri datang melaporkan tentang kematian para raksasa.

Raja marah dan segera akan berangkat mencari prabu Gendrayana. Emban sekeli menganjurkan minta bantuan adinda raja prabu Nirbita, raja di Martikawata. Raja Drawayana setuju terus budalan

Prabu Nirbita dihadap adinda raja Harya Niswata dan patih Nirbaya. Percakapan raja sekitar kemauannya hendak kawin lagi supaya isterinya lengkap berjumlah domas. Adinda tidak setuju.

Datanglah raja Drawajana minta bantuan untuk dapat membunuh raja Hastina bila dapat negeri tersebut terserah adanya. Nirbita menyanggupi, Drawayana kembali ke Iman-imantaka, dan Prabu Nirbita berangkat menyerang negeri Hastina.

Prabu Gendrayana menemui adinda raja hastina prabu Sudarsana yang sangat rindu pada kakanda. Setelah semuanya terdapat selamat dan bahagia, maka prabu Sudarsana diperkenankan pulang.

Dalam perjalanan pulang Prabu Sudarsana bertemu dengan Prabu Nirbita. Terjadilah peperanganm dengan berakhir kematian Nirbita beserta para prajurit pengiringnya.

Dengan Hastina Prabu Sudarsana menerima kedatangan Harya Niswata yang takluk karena kakanda raja prabu Nirbita telah mati dipeperangan. Harya Niswata menyerahkan segala kekayaa kraton Martikawata.

Setelah penyerahan diri Niswata diterima, kekayaan dikembalikan, maka Niswata diangkat menjadi raja pengganti prabu Nirbita di Iman-imantaka. Kemudian raja Sudarsana mengadakan jamuan dan pesta atas kemenangan tersebut dengan lengkap para punggawa. 

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo