Sejarah Asal Usul Air Terjun Sedudo Nganjuk Jawa Timur - Kuwaluhan.com
Air Terjun Sedudo adalah tempat wisata yang terletak di Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur. Tempat ini merupakan tempat Pariwisata yang cukup Populer Di wilayah Jawa Timur. Selain tempatnya yang sejuk dan nyaman untuk berlibur Anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah di tempat ini.
Dibalik keindahan tempat wisata ini, Air Terjun Sedudo juga memiliki sejarah yang cukup unik dimasa lalu. Daripada penasaran langsung saja kita simak kisahnya :


Pada zaman Dahulu hiduplah sebuah keluarga yang tinggal di desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Mereka adalah Begawan, istri nya Dewi Sri serta adik ipar nya Barata. Mereka adalah keluarga yang disegani masyarakat sekitar bahkan sebagai panutan dan sesepuh di desa tersebut. Mereka sangat taat pada agama.

Segudang ilmu agama telah ia kuasai sehingga bila ada orang yang memerlukan mereka dengan senang membantunya. Dalam kehidupan sehari - hari mereka sangat baik suka menolong rela berkorban demi kepentingan umum atau orang lain. Tidak pernah berfikir tentang kepentingan pribadi. Mereka berpandangan hidup adalah milik Alloh dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu banyak orang yang datang untuk belajar agama minta nasehat maupun minta berkah do’a darinya.

Namun suatu ketika situasi sedikit berubah, entah setan dari mana yang telah merasuki salah satu darinya, Barata sering melakukan hal hal tercela. Ia tidak suka lagi membantu orang yang sedang susah bahkan menghinanya. Bahkan ia sering mengganggu ketentraman warga sekitarnya. Pernah suatu ketika Begawan melihat Barata bercakap-cakap dengan seseorang.
Den tolong saya den. Berilah saya sesuatu, anak dan istriku seharian belum 
makan.” kata si fakir miskin.
”Kalau belum makan, pergi saja ke warung. Jadi orang jangan malas. Mana 
mungkin kamu punya sesuatu kalau tidak mau bekerja. Lalu apa urusan nya 
dengan ku?” jawab Barata.
” Tolong saya den berikan saya sedikit makanan untuk keluarga saya den kali ini saja.” Kata si miskin.
” enak saja kamu minta makanan padaku. Memang kamu 
siapa? Pergi sana. Dasar orang miskin kerjaan nya cuma minta – minta saja.
Apakah tidak ada rasa kasihan den..melihat saya dan keluarga saya Den?” pinta si fakir miskin itu dengan belas kasihan.
aku tidak peduli! Kamu mau kelaparan pun aku tak peduli sama kamu.” 
Gertak Barata.

Mendengar hal itu Begawan sangat marah kepada Barata karena tindakan Barata sangat tidak terpuji dan tidak seharus nya di lakukan. Oleh karena itu Begawan ingin menasehati Barata. Pada suatu hari Begawan memanggil Barata di ajak duduk berdua.
Barata pantaskah perbuatanmu kemarin sebagai orang yang hidup di dunia ini memperlakukan sesama dengan semena mena?
” Dia itu orang malas kalau tidak diberi pelajaran mana mungkin ia berubah? 

Terjadilah perang mulut diantara mereka.
Mereka berbeda pandangan, maka tidak pernah lagi ada kecocokan. Dipuncak kemarahanya, Begawan terpaksa harus mengusir adik iparnya dari rumah.

Kalau memang demikian maumu lebih baik kamu pergi dari rumah ini atau aku yang pergi, kita tidak sejalan lagi.” kata Begawan.
Baiklah aku akan pergi sekarang!” jawab Barata.

Barata pergi dan mengembara jauh meninggalakan Gunung Wilis. Dewi Sri sangat sedih karena Begawan mengusir adiknya.Padahal Barata sudah tidak punya siapa-siapa kecuali kakaknya Dewi Sri. Ia bingung harus berbuat apa. Lebih berat adiknya atau suaminya, keduanya sangat dicintainya.
Kanda mengapa kanda tega mengusir Barata dari sini? tanya Dewi Sri.
Karna dia sudah tidak pantas disini, tidak bisa jidadikan contoh 
masyarakat,semua ilmu yang sudah aku ajarkan di abaikan.”
” Kanda aku mohon jangan usir dia.. Aku mohon kanda.”
Pinta Dewi Sri kepada suaminya.
Aku tak bisa istriku, dia sudah keterlaluan dan tidak bisa dinasehati lagi. Biar ia dapat mengambil pelajaran dari semua ini, kalau memang kamu berat dengan adikmu dan semua sifat tercelanya itu, terserah kamu. Berat mana antara suami dan adik?”

Dewi Sri pun bingung untuk memilih. Dan akhir nya Dewi Sri memutus kan untuk pergi mengembara mencari adik satu satunya itu. Tinggalah Begawan sendiri di rumah. Begawan berusaha untuk mencegah kepergian istrinya tetapi gagal ia sudah bertekat bulat untuk mencari adiknya. Begawan merenungi semua kejadian ini. Dia tidak punya pilihan lain kecuali harus hidup menyendiri sebagai seorang duda.

Dia pun bergi untuk membersihkan diri mohon petunjuk kepada Alloh dengan cara bertapa di bawah air terjun yang sangat tinggi untuk selamanya. Orang – orang sekitar yang memerlukan bagawan sering mengunjungi untuk minta nasehat atau petuahnya. Anehnya selama bertapa begawan tidak pernah berubah ia selalu tampak muda terutama di awal tahun baru hijriah Muharam atau bulan Suro.

Semenjak itulah banyak orang yang berdatangan untuk mensucikan diri dan mencari berkah di sana. Mereka percaya barang siapa yang melakukan ritual di bawah air terjun tersebut akan mendapat berkah dan awet muda terutama di awal tahun baru hijriah atau bulan Suro. Dan air terjun tersebut di kenal dengan nama SEDUDO yang artinya seorang dudo.

Sampai sekarang masyarakat masih percaya dengan mitos tersebut. Banyak masyarakat yang datang ke air terjun sedudo untuk mandi mensucikan diri agar mendapat berkah dan awet muda. Terutama di tahun baru Hijriah atau bulan Suro.

Untuk melestarikan budaya di air terjun sedudo Pemerintah daerah Kabupaten Nganjuk mengadakan acara ”Siraman sedudo” setiap tahunnya. Tepatnya di awal tahun baru Hijriah atau bulan Suro.

Itulah sedikit kisah mengenai sejarah asal usul air terjun Sedudo yang berada di Kawasan Nganjuk Jawa Timur.

Sejarah Asal Usul Air Terjun Sedudo Nganjuk Jawa Timur

Air Terjun Sedudo adalah tempat wisata yang terletak di Kabupaten Nganjuk Provinsi Jawa Timur. Tempat ini merupakan tempat Pariwisata yang cukup Populer Di wilayah Jawa Timur. Selain tempatnya yang sejuk dan nyaman untuk berlibur Anda akan dimanjakan dengan pemandangan yang indah di tempat ini.
Dibalik keindahan tempat wisata ini, Air Terjun Sedudo juga memiliki sejarah yang cukup unik dimasa lalu. Daripada penasaran langsung saja kita simak kisahnya :


Pada zaman Dahulu hiduplah sebuah keluarga yang tinggal di desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk. Mereka adalah Begawan, istri nya Dewi Sri serta adik ipar nya Barata. Mereka adalah keluarga yang disegani masyarakat sekitar bahkan sebagai panutan dan sesepuh di desa tersebut. Mereka sangat taat pada agama.

Segudang ilmu agama telah ia kuasai sehingga bila ada orang yang memerlukan mereka dengan senang membantunya. Dalam kehidupan sehari - hari mereka sangat baik suka menolong rela berkorban demi kepentingan umum atau orang lain. Tidak pernah berfikir tentang kepentingan pribadi. Mereka berpandangan hidup adalah milik Alloh dan akan kembali kepada-Nya. Oleh karena itu banyak orang yang datang untuk belajar agama minta nasehat maupun minta berkah do’a darinya.

Namun suatu ketika situasi sedikit berubah, entah setan dari mana yang telah merasuki salah satu darinya, Barata sering melakukan hal hal tercela. Ia tidak suka lagi membantu orang yang sedang susah bahkan menghinanya. Bahkan ia sering mengganggu ketentraman warga sekitarnya. Pernah suatu ketika Begawan melihat Barata bercakap-cakap dengan seseorang.
Den tolong saya den. Berilah saya sesuatu, anak dan istriku seharian belum 
makan.” kata si fakir miskin.
”Kalau belum makan, pergi saja ke warung. Jadi orang jangan malas. Mana 
mungkin kamu punya sesuatu kalau tidak mau bekerja. Lalu apa urusan nya 
dengan ku?” jawab Barata.
” Tolong saya den berikan saya sedikit makanan untuk keluarga saya den kali ini saja.” Kata si miskin.
” enak saja kamu minta makanan padaku. Memang kamu 
siapa? Pergi sana. Dasar orang miskin kerjaan nya cuma minta – minta saja.
Apakah tidak ada rasa kasihan den..melihat saya dan keluarga saya Den?” pinta si fakir miskin itu dengan belas kasihan.
aku tidak peduli! Kamu mau kelaparan pun aku tak peduli sama kamu.” 
Gertak Barata.

Mendengar hal itu Begawan sangat marah kepada Barata karena tindakan Barata sangat tidak terpuji dan tidak seharus nya di lakukan. Oleh karena itu Begawan ingin menasehati Barata. Pada suatu hari Begawan memanggil Barata di ajak duduk berdua.
Barata pantaskah perbuatanmu kemarin sebagai orang yang hidup di dunia ini memperlakukan sesama dengan semena mena?
” Dia itu orang malas kalau tidak diberi pelajaran mana mungkin ia berubah? 

Terjadilah perang mulut diantara mereka.
Mereka berbeda pandangan, maka tidak pernah lagi ada kecocokan. Dipuncak kemarahanya, Begawan terpaksa harus mengusir adik iparnya dari rumah.

Kalau memang demikian maumu lebih baik kamu pergi dari rumah ini atau aku yang pergi, kita tidak sejalan lagi.” kata Begawan.
Baiklah aku akan pergi sekarang!” jawab Barata.

Barata pergi dan mengembara jauh meninggalakan Gunung Wilis. Dewi Sri sangat sedih karena Begawan mengusir adiknya.Padahal Barata sudah tidak punya siapa-siapa kecuali kakaknya Dewi Sri. Ia bingung harus berbuat apa. Lebih berat adiknya atau suaminya, keduanya sangat dicintainya.
Kanda mengapa kanda tega mengusir Barata dari sini? tanya Dewi Sri.
Karna dia sudah tidak pantas disini, tidak bisa jidadikan contoh 
masyarakat,semua ilmu yang sudah aku ajarkan di abaikan.”
” Kanda aku mohon jangan usir dia.. Aku mohon kanda.”
Pinta Dewi Sri kepada suaminya.
Aku tak bisa istriku, dia sudah keterlaluan dan tidak bisa dinasehati lagi. Biar ia dapat mengambil pelajaran dari semua ini, kalau memang kamu berat dengan adikmu dan semua sifat tercelanya itu, terserah kamu. Berat mana antara suami dan adik?”

Dewi Sri pun bingung untuk memilih. Dan akhir nya Dewi Sri memutus kan untuk pergi mengembara mencari adik satu satunya itu. Tinggalah Begawan sendiri di rumah. Begawan berusaha untuk mencegah kepergian istrinya tetapi gagal ia sudah bertekat bulat untuk mencari adiknya. Begawan merenungi semua kejadian ini. Dia tidak punya pilihan lain kecuali harus hidup menyendiri sebagai seorang duda.

Dia pun bergi untuk membersihkan diri mohon petunjuk kepada Alloh dengan cara bertapa di bawah air terjun yang sangat tinggi untuk selamanya. Orang – orang sekitar yang memerlukan bagawan sering mengunjungi untuk minta nasehat atau petuahnya. Anehnya selama bertapa begawan tidak pernah berubah ia selalu tampak muda terutama di awal tahun baru hijriah Muharam atau bulan Suro.

Semenjak itulah banyak orang yang berdatangan untuk mensucikan diri dan mencari berkah di sana. Mereka percaya barang siapa yang melakukan ritual di bawah air terjun tersebut akan mendapat berkah dan awet muda terutama di awal tahun baru hijriah atau bulan Suro. Dan air terjun tersebut di kenal dengan nama SEDUDO yang artinya seorang dudo.

Sampai sekarang masyarakat masih percaya dengan mitos tersebut. Banyak masyarakat yang datang ke air terjun sedudo untuk mandi mensucikan diri agar mendapat berkah dan awet muda. Terutama di tahun baru Hijriah atau bulan Suro.

Untuk melestarikan budaya di air terjun sedudo Pemerintah daerah Kabupaten Nganjuk mengadakan acara ”Siraman sedudo” setiap tahunnya. Tepatnya di awal tahun baru Hijriah atau bulan Suro.

Itulah sedikit kisah mengenai sejarah asal usul air terjun Sedudo yang berada di Kawasan Nganjuk Jawa Timur.

No comments:

Post a Comment

Berkomentarlah Dengan baik dan sopan agar tidak terjadi hal-hal yang membuat orang lain gagal paham

Subscribe Our Newsletter

Notifications

Disqus Logo