Showing posts with label Dosa besar durhaka pada orang tua. Show all posts
Showing posts with label Dosa besar durhaka pada orang tua. Show all posts

Wednesday, February 7, 2018

Dosa Besar Putus Asa yang dilarang Dalam Al-Qur'an dan Hadits

Allah SWT melarang orang-orang yang beriman berputus asadari rahmat Allah. Misalnya, Allah berfirman:

"Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir (QS. Yusuf ayat 87).

Firman-Nya:

"Katakanlah: Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. Az-Zumar ayat 53).


Oleh karenanya putus asa dari rahmat Allah, adalah salah satu dari dosa-dosa besar yang paling besar, sebagiamana dikatakan Ibnu Mas’uud radhiyallaahu ‘anhu:

الكبائر: الإشراك بالله ، والأمن من مكر الله ، والقنوط من رحمة الله ، واليأس من روح الله

“Dosa besar yang paling besar adalah menyekutukan Allah, merasa aman dari makar Allah, putus asa terhadap rahmat Allah, dan putus harapan terhadap kelapangan dari Allah.”
(Hadis hasan sahih; diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir)

A. PUTUS ASA DALAM MASALAH DUNIA


Allah berfirman:

وَإِذَا أَنْعَمْنَا عَلَى الْإِنسَانِ أَعْرَضَ وَنَأَىٰ بِجَانِبِهِ ۖ وَإِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ كَانَ يَئُوسًا

Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia; dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa.
(Al-Israa’: 83)

Allah juga berfirman:

وَإِذَا أَذَقْنَا النَّاسَ رَحْمَةً فَرِحُوا بِهَا وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ بِمَا قَدَّمَتْ أَيْدِيهِمْ إِذَا هُمْ يَقْنَطُونَ

Dan apabila Kami rasakan sesuatu rahmat kepada manusia, niscaya mereka gembira dengan rahmat itu. Dan apabila mereka ditimpa suatu musibah (bahaya) disebabkan kesalahan yang telah dikerjakan oleh tangan mereka sendiri, tiba-tiba mereka itu berputus asa.
(Ar-Ruum: 36)

Allah juga memfirmankan tentang mereka:

لَّا يَسْأَمُ الْإِنسَانُ مِن دُعَاءِ الْخَيْرِ وَإِن مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُوسٌ قَنُوطٌ

Manusia tidak jemu memohon kebaikan, dan jika mereka ditimpa malapetaka dia menjadi putus asa lagi putus harapan.

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَٰذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّجِعْتُ إِلَىٰ رَبِّي إِنَّ لِي عِندَهُ لَلْحُسْنَىٰ

Dan jika Kami merasakan kepadanya sesuatu rahmat dari Kami sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata: “Ini adalah hakku, dan aku tidak yakin bahwa hari Kiamat itu akan datang. Dan jika aku dikembalikan kepada Tuhanku maka sesungguhnya aku akan memperoleh kebaikan pada sisi-Nya”.

فلننبئن الذين كفروا بما عملوا ولنذيقنهم من عذاب غليظ

Maka Kami benar-benar akan memberitakan kepada orang-orang kafir apa yang telah mereka kerjakan dan akan Kami rasakan kepada mereka azab yang keras.
(QS. Fushshilat: 49-50)

Allah juga berfirman:

وَلَئِنْ أَذَقْنَا الْإِنسَانَ مِنَّا رَحْمَةً ثُمَّ نَزَعْنَاهَا مِنْهُ إِنَّهُ لَيَئُوسٌ كَفُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepada manusia suatu rahmat (nikmat) dari Kami, kemudian rahmat itu Kami cabut daripadanya, pastilah dia menjadi putus asa (atas apa yang sedang terjadi padanya, az) lagi kufur (ia lupa dan tidak berterima kasih atas rahmat yang dahulu diberikan padanya, az).

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ نَعْمَاءَ بَعْدَ ضَرَّاءَ مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ ذَهَبَ السَّيِّئَاتُ عَنِّي ۚ إِنَّهُ لَفَرِحٌ فَخُورٌ

Dan jika Kami rasakan kepadanya kebahagiaan sesudah bencana yang menimpanya, niscaya dia akan berkata: “Telah hilang bencana-bencana itu daripadaku”; sesungguhnya dia sangat gembira lagi bangga…

Firman Allah SWT :

إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ لَهُم مَّغْفِرَةٌ وَأَجْرٌ كَبِيرٌ

kecuali orang-orang yang sabar (terhadap bencana), dan mengerjakan amal-amal saleh; mereka itu beroleh ampunan dan pahala yang besar.
(Huud: 9-11)

Allah mengabarkan tentang manusia dan sifat-sifat tercela yang ada dalam diri mereka. Yaitu mereka yang jika bencana setelah mendapatkan nikmat, maka mereka berputus asa untuk mendapatkan kebaikan di masa yang akan datang, dan mereka KUFUR (ingkar) terhadap keadaan yang telah berlalu, seakan-akan mereka tidak pernah melihat kebaikan (sebelumnya) dan setelah itu mereka tidak mengharap untuk memperoleh keberuntungan…

Ketika Allah menguji mereka dengan cobaan, sehingga seakan-akan sebelumnya mereka LUPA atas nikmat yang telah Allah berikan kepada mereka, mereka pun putus asa, dan KUFUR terhadap apa yang telah Allah berikan kepada mereka.

Hal ini seperti yang dikatakan dalam hadits:

وَرَأَيْتُ النَّارَ فَلَمْ أَرَ كَالْيَوْمِ مَنْظَرًا قَطُّ وَرَأَيْتُ أَكْثَرَ أَهْلِهَا النِّسَاءَ

“…Dan aku melihat neraka. Aku belum pernah sama sekali melihat pemandangan seperti hari ini. Dan aku lihat ternyata mayoritas penghuninya adalah para wanita.”

Mereka bertanya, “Kenapa para wanita menjadi mayoritas penghuni neraka, ya Rasulullah?”

Beliau menjawab,

بِكُفْرِهِنَّ

“Disebabkan kekufuran mereka.”

Ada yang bertanya kepada beliau, “Apakah para wanita itu kufur kepada Allah?”

Beliau menjawab,

يَكْفُرْنَ الْعَشِيْرَ وَيَكْفُرْنَ اْلإِحْسَانَ، لَوْ أَََحْسَنْتَ إِلىَ إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ، ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ: مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“(Tidak, melainkan) mereka kufur kepada suami dan mengkufuri kebaikan (suami). Seandainya engkau berbuat baik kepada salah seorang istri kalian pada suatu waktu, kemudian suatu saat ia melihat darimu ada sesuatu (yang tidak berkenan di hatinya) niscaya ia akan berkata, ‘Aku sama sekali belum pernah melihat kebaikan darimu’.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim)

Bahkan inilah sikap orang-orang munaafiq, sebagaimana Allah berfirman tentang mereka:

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَعْبُدُ اللَّهَ عَلَىٰ حَرْفٍ

Dan di antara manusia ada orang yang menyembah Allah dengan berada di tepi…

فَإِنْ أَصَابَهُ خَيْرٌ اطْمَأَنَّ بِهِ

maka jika ia memperoleh kebajikan, tetaplah ia dalam keadaan itu

وَإِنْ أَصَابَتْهُ فِتْنَةٌ انقَلَبَ عَلَىٰ وَجْهِهِ

dan jika ia ditimpa oleh suatu bencana, berbaliklah ia ke belakang.

خَسِرَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةَ ذَٰلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

"Rugilah ia di dunia dan di akhirat. Yang demikian itu adalah kerugian yang nyata"
(Al-Hajj: 11)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الدِّينَارِ تَعِسَ عَبْدُ الدِّرْهَمِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيصَةِ تَعِسَ عَبْدُ الْخَمِيْلَةِ

“Celakalah hamba dinar (uang emas), celakalah hamba dirham (uang perak), celakalah hamba khamishah (pakaian yang cantik) dan celakalah hamba khamilah (ranjang yang empuk).”

إِنْ أُعْطِيَ رَضِيَ وَإِنْ لَمْ يُعْطَ سَخِطَ تَعِسَ وَانْتَكَسَ وَإِذَا شِيكَ فَلَا انْتَقَشَ

Jika diberi, dia senang, tetapi jika tidak diberi, dia marah. Celakalah dia dan tersungkurlah. Apabila terkena duri, semoga tidak dapat mencabutnya.
(HR Bukhaariy)

Sebagaimana firman Allah Ta’ala

وَمِنْهُم مَّن يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِن لَّمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (pembagian) zakat, jika mereka diberi sebagian darinya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebagian darinya, dengan serta merta mereka menjadi marah”
[At-Taubah:58].

Janganlah kesempitan harta atau banyaknya masalah dunia, menjadikan kita putus asa terhadap rahmatNya

Allah berfirman perkataan Nabi Ya’qub:

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِن يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِن رَّوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya; dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir

(Yusuf: 87)

Lihat perkara diatas adalah perkara duniawi, akan tetapi Nabi Ya’qub mewasiatkan anak-anaknya ketika berusaha (berikhtiar) mencari solusi problem duniawi untuk tidak berputus asa terhadap rahmatNya.

Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ وَفِى كُلٍّ خَيْرٌ

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Namun, keduanya tetap memiliki kebaikan.

احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ وَلاَ تَعْجِزْ

Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah.

وَإِنْ أَصَابَكَ شَىْءٌ فَلاَ تَقُلْ لَوْ أَنِّى فَعَلْتُ كَانَ كَذَا وَكَذَا. وَلَكِنْ قُلْ قَدَرُ اللَّهِ وَمَا شَاءَ فَعَلَ فَإِنَّ لَوْ تَفْتَحُ عَمَلَ الشَّيْطَانِ

Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Qadarullaah wa maasyaa’a fa’al [Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendakiNya pasti terjadi].’ Sesungguhnya perkataan (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.”
[HR. Muslim)

Pelajarilah pula bagaimana beliau menghadapi banyaknya masalah dunia yang menimpa beliau:

فَصَبْرٌ جَمِيلٌ . وَاللَّهُ الْمُسْتَعَانُ عَلَىٰ مَا تَصِفُونَ

Maka kesabaran yang baik (itulah kesabaranku) [ditafsirkan para ulamaa’: yaitu kesabaran yang tidak diiringi keluh kesah kepada manusia]; Dan Allah sajalah yang dimohon pertolongan-Nya terhadap apa yang kamu ceritakan.

قَالَ إِنَّمَا أَشْكُو بَثِّي وَحُزْنِي إِلَى اللَّهِ

Ya’qub berkata: “Sesungguhnya hanyalah kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku…”
(Yusuf 18 dan 86)

Kebanyakan kita melihat kaum muslimin begitu cepatnya berputus asa, ketika Allah menguji mereka akan perkara dunia mereka. Hati mereka begitu sempit, dan mereka lupa akan luasnya rahmat Allah.

firmanNya:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh).” (Hud: 6)

Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

كَتَبَ اللَّهُ مَقَادِيرَ الْخَلاَئِقِ قَبْلَ أَنْ يَخْلُقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ بِخَمْسِينَ أَلْفَ سَنَةٍ

“Allah telah mencatat takdir setiap makhluk sebelum 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi.”
(HR. Muslim)

Apa yang Allah takdirkan ini tak ada yang bisa mengelaknya. Dalam sebuah hadits disebutkan,

وَتَعْلَمَ أَنَّ مَا أَصَابَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ وَأَنَّ مَا أَخْطَأَكَ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيبَكَ

“Engkau harus tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu dan sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, tidak mungkin menimpamu.”
(HR. Abu Daawud, shahih)

Ibnul Qayyim rahimahullah mengatakan,

“Landasan setiap kebaikan adalah jika engkau tahu bahwa setiap yang Allah kehendaki pasti terjadi dan setiap yang tidak Allah kehendaki tidak akan terjadi.”
(Al Fawaid, hal. 94)

Jadi, meskipun engkau berusaha sekuat tenaga pun, mendatangi dukun, atau melakuakn segala perkara haram, maka tidaklah apa yang akan engkau dapatkan kecuali apa yang sudah Allah takdirkan bagimu!

Rasuulullaah bersabda:

إِنَّ رُوحَ القُدُسِ نَفَثَ فيِ رَوْعِي أَنَّ نَفْسًا لَنْ تَمُوتَ حَتَّى تَسْتَكْمِلَ أَجَلَهَا وَتَسْتَوْعِبَ رِزْقَهَا

“Sesungguhnya Ruhul Qudus (Jibril) telah meniupkan wahyu ke dalam hatiku, bahwa suatu jiwa tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan ajalnya dan mengambil seluruh rezekinya.

فَاتَّقُوا اللهَ وَأَجْمِلُوا فيِ الطَّلَبِ وَلاَ يَحْمِلَنَّ أَحَدَكُمْ اِسْتِبْطَاءُ الرِّزْقِ أَنْ يَطْلُبَهُ بِمَعْصِيَةِ اللهِ فَإِنَّ اللهَ تَعَالىَ لاَ يُنَالُ مَا عِنْدَهُ إِلاَّ بِطَاعَتِهِ

Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan baik. Dan jangan sampai anggapanmu akan lambatnya rezeki mendorongmu untuk mencarinya dengan maksiat kepada Allah. Karena sesungguhnya apa yang di sisi Allah tidak akan bisa diraih kecuali dengan menaati-Nya.”
(Riwayat Abu Nu’aim dalam al-Hilyah, Lihat Shahihul Jami’ no. 2085)

Bahkan Rasuulullaah shallallaahu ‘alayhi wa sallam bersabda:

من كانت الآخرة همه جعل الله غناه في قلبه وجمع له شمله وأتته الدنيا وهي راغمة

Barangsiapa yang impiannya adalah akhirat maka Allah akan menjadikan kekayaan dalam hatinya, dan Allah akan memudahkan urusannya, dan kenikmatan dunia akan datang kepadanya dalam keadaan tunduk.

ومن كانت الدنيا همه جعل الله فقره بين عيينه وفرق عليه شمله ولم يأته من الدنيا إلا ما قدر له

Dan barangsiapa yang impiannya hanyalah dunia maka Allah akan menjadikan kefakiran di depan kedua matanya, dan Allah akan mempersulit urusannya, dan ia tidak akan mendapatkan kenikmatan dunia kecuali apa yang sudah ditakdirkan untuknya.
(at Tirmidziy dengan sanad yang Sahih)

Janganlah dengan diujiNya kita dengan penyakit yang berkepanjangan menjadikan kita putus asa terhadap rahmatNya

Demikian pula, contoh lainnya: seperti jika ditimpa penyakit yang berkepanjangan. Maka kita tidak boleh berputus asa dari rahmatNya! Apalagi sampai membunuh diri kita atau orang lain, karena tidak sabar menahan derita. Padahal Allah menjanjikan pahala yang besar kepada kita, apabila kita bersabar dalam menghadapi musibah tersebut, ikhlash karenaNya.

Lihatlah kesabaran nabi ayyub ketika beliau ditimpa penyakit yang berkepanjangan:

وَاذْكُرْ عَبْدَنَا أَيُّوبَ إِذْ نَادَىٰ رَبَّهُ أَنِّي مَسَّنِيَ الشَّيْطَانُ بِنُصْبٍ وَعَذَابٍ

Dan ingatlah akan hamba Kami Ayyub ketika ia menyeru Rabb-nya: “Sesungguhnya aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan siksaan”.
(Shaad: 41)

Dan lihatlah bagaimana keyakinan al-Khaliil ibrahim ‘alayhis salaam, yang disebutkan dalam firmanNya:

وَإِذَا مَرِضْتُ فَهُوَ يَشْفِينِ

"dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku"
(Ash-Shu’araa: 80)

dari Abu Sa’id Al Khudri dia berkata, “Aku pernah menjenguk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ketika beliau sedang sakit panas, aku meletakkan tanganku dan aku mendapati panasnya terasa hingga di atas selimut. Aku lalu berkata, “Wahai Rasulullah, alangkah panasnya sakit yang menimpa dirimu.”

Beliau bersabda:

إِنَّا كَذَلِكَ يُضَعَّفُ لَنَا الْبَلَاءُ وَيُضَعَّفُ لَنَا الْأَجْرُ

“Sesungguhnya begitulah kita, ketika dilipat gandakan cobaan bagi kita maka akan dilipat gandakan pula pahalanya.”

Aku bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia yang paling keras cobaannya?”

beliau menjawab:

الْأَنْبِيَاءُ

“Para nabi.”

Aku bertanya lagi, “Wahai Rasulullah, kemudian siapa?”

Beliau menjawab:

ثُمَّ الصَّالِحُونَ إِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيُبْتَلَى بِالْفَقْرِ حَتَّى مَا يَجِدُ أَحَدُهُمْ إِلَّا الْعَبَاءَةَ يُحَوِّيهَا وَإِنْ كَانَ أَحَدُهُمْ لَيَفْرَحُ بِالْبَلَاءِ كَمَا يَفْرَحُ أَحَدُكُمْ بِالرَّخَاءِ

“Kemudian orang-orang shalih, salah seorang di antara mereka yang dicoba dengan kefakiran sehingga tidak menemukan kecuali mantel untuk dia pakai, dan ada salah seorang dari mereka yang senang dengan cobaan sebagaimana salah seorang dari kalian senang dengan kemewahan.”
(Shahiih; HR Ibnu Maajah, al Haakim, dan selainnya)

dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersama Abu Hurairah pernah mengunjungi orang sakit karena demam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya;

أَبْشِرْ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ يَقُولُ نَارِي أُسَلِّطُهَا عَلَى عَبْدِي الْمُؤْمِنِ فِي الدُّنْيَا لِتَكُونَ حَظَّهُ مِنْ النَّارِ فِي الْآخِرَةِ

“Berilah kabar gembira kepadanya bahwasanya Allah ‘azza wa jalla berfirman; “Api neraka-Ku Aku timpakan kepada hamba-Ku yang beriman di dunia sehingga bisa mengurangi bagiannya di akhirat.”

(Shahiih, dishahiihkan syaikh al Albaaniy dalam shahiihul jaami’ dan ash shahiihah)

Beliau juga bersabda:

اَبْشِرِىْ يَا أُمِّ العَلاَءِ، فَإِنِّ مَرَضَ المُسْلِمِ يُذْ هِِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْ هِبُ النَّارُ خَببَثَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ

‘Gembirakanlah wahai Ummu Al-‘Ala`. Sesungguhnya sakitnya orang Muslim itu membuat Allah menghilangkan kesalahan-kesalahan, sebagaimana api yang menghilangkan kotoran emas dan perak”
(Shahiih; HR Abu Dawud)

Beliau juga bersabda:

مَا مِنْ مُصِيْبَةٍ تُصِيْبُ الْمُسْلِمَ إِلاَّّ كَفَّرَ اللهُ بِهَا عَنْهُ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا

“Tidaklah suatu musibah menimpa seorang muslim kecuali Allah akan hapuskan (dosanya) karena musibahnya tersebut, sampai pun duri yang menusuknya.”
(HR. Al-Bukhariy dan Muslim dari ‘Aa-isyah)

Beliau juga bersabda:

مَا يُصِيْبُ الْمُسْلِمَ مِنْ نَصَبٍ وَلاَ وَصَبٍ وَلاَ هَمٍّ وَلاَ حُزْنٍ وَلاَ أَذًى وَلاَ غَمٍّ حَتَّى الشَّوْكَةِ يُشَاكُهَا إِلاَ كَفَّرَ اللهُ بِهَا مِنْ خَطَايَاهُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa keletihan/kelelahan, sakit, sedih, duka, gangguan ataupun gundah gulana sampai pun duri yang menusuknya kecuali Allah akan hapuskan dengannya kesalahan-kesalahannya.”
(HR. Al-Bukhariy; dari Abu Sa’id Al-Khudriy dan Abu Hurairah)

Tidakkah kita bergembira dengan hal ini? Tapi ingat, kita harus bertawakkal kepada Allah, yakni kita tidak mengharapkan sakit atau menyengajakan sakit (bahkan hal ini adalah bentuk kufur dari nikmat sehat yang sudah diberikanNya)! Tapi yang dimaksudkan adlaah ketika kita ditimpa sakit, hendaknya kita bersabar karena Allah, agar sekiranya cobaan tersebut dapat bernilai menjadi pahala; bahkan jika kita MARAH dari hal tersbeut (baik itu kemarahan hati, apalagi sampai diucapkan), maka akan mendapatkan kemarahan dari Allah pula!

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السُّخْطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan tergantung besarnya ujian, dan sesungguhnya Allah Ta’ala apabila mencintai suatu kaum maka Allah akan menguji mereka (dengan suatu musibah), maka barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (dari Allah) dan barangsiapa yang marah maka baginya kemarahan (Allah).”
(HR. At-Tirmidziy, lihat Silsilah Ash-Shahiihah)

Setelah kita tahu akan hal ini, maka janganlah kita berputus asa ketika ditimpa sakit atau bencana.. Apalagi kita mencari solusi yang sebenarnya polusi, seperti mendatangi dukun (untuk menyembuhkan penyakit), atau melakukan ritual-ritual kufur atau syirik lain!

B. BERPUTUS ASA APABILA JATUH KEDALAM MAKSIAT


Berkata salafush shalih:

“Sesungguhnya bersabar dalam kebenaran itu berat, namun indah akibatnya.
Dan jatuh kedalam kebathilan/kemungkaran itu ringan, namun buruk akibatnya.
Ketahuilah (bersabar dalam) meninggalkan dosa itu lebih ringan daripada berusaha bertaubat.
Dan sesungguhnya syaithan sangat pandai menipu manusia…

Ketika manusia sibuk dalam ketaatan, maka ia menipunya dengan berkata: “sesungguhnya engkau banyak beramal, dosa-dosamu telah diampuni”, hingga orang tersebut tertipu[2. Baca: Janganlah tertipu dengan amalmu], kemudian ia meremehkan dosa[3. Baca: Larangan merasa aman dari adzab Allah], kemudian ia mengamalkan dosa-dosa[4.

Ketika manusia tersebut jatuh kedalam dosa, maka ia berkata: “sesungguhnya dosa-dosamu sangat banyak dan sangat membinasakan, tiada harapan bagimu!” dan orang tersebut pun putus harapan.. mengira mustahil bagi dirinya mendapatkan ampunan Allah.. hingga akhirnya ia tidak bertaubat, bahkan terus berada dalam jurang kebinasaan..

Maka hendaknya mereka yang berada dalam ketaatan, tidak tertipu dengan ketaatannya, dan tidak meremehkan dosa, ketahuilah Allah Maha Keras AdzabNya! jika engkau memberanikan diri, maka engkau tidak tahu masa depanmu.. apakah engkau jamin engkau tetap hidup ketika sedang bermaksiat? apakah engkau jamin engkau tetap hidup setelah engkau jatuh ke dalamnya (sehingga engkau memiliki kesempatan untuk bertaubat)?

Dan hendaknya mereka yang jatuh kedalam maksiat, segera bertaubat kepada Allah, karena Allah Maha Pengampun lagi Maha Penerima taubat.. tidak ada yang mustahil bagi Allah, bahkan dosa kufur dan syirik pun akan diampunkanNya jika engkau jujur/benar dalam taubatmu…

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُون

“ Setiap anak Adam pasti berbuat salah dan sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah yang bertaubat.”
(Shahih Jami’us Shaghir 4391)

Firman Allah:

أَفَلَا يَتُوبُونَ إِلَى اللَّهِ وَيَسْتَغْفِرُونَهُ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Maka mengapa mereka tidak bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
(Al Maa-idah: 74)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menafsirkan ayat ini:

“Allah menyeru kepada orang yang mengklaim bahwa al-Masih (Nabi Isa) adalah Allah, orang yang mengklaim bahwa al-Masih adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Uzair adalah anak Allah, orang yang mengklaim bahwa Allah itu fakir, orang yang mengklaim bahwa Tangan Allah terbelenggu, dan orang yang mengklaim bahwa Allah adalah ketiga unsur dalam trinitas; agar (memohon ampun dan bertaubat) kepadaNya”
(Tafsir Ibnu Katsir)

Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah menafsirkan ayat di atas sebagai berikut:

“Maksud ayat dari surat az-Zumar tersebut adalah larangan berputus asa dari rahmat Allah, meski dosa-dosa yang dilakukannya besar. Tidak diperbolehkan bagi siapapun untuk berputus asa dari rahmat Allah”

Bahkan untuk dosa syirik/kufur/nifaq sekalipun, karena Allåh berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang malampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Az Zumar: 53).

Ketika menjelaskan surat Az Zumar ayat 53 di atas, Ibnu Abbas mengatakan,

“Barangsiapa yang membuat seorang hamba berputus asa dari taubat setelah turunnya ayat ini, maka ia berarti telah menentang Kitabullah ‘azza wa jalla. Akan tetapi seorang hamba tidak mampu untuk bertaubat sampai Allah memberi taufik padanya untuk bertaubat.”
(Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, 12/141)

Ibnu al-Qayyim –rahimahullâh– berkata:

“Jika Allah menginginkan kebaikan pada hamba-Nya, maka Dia akan membukakan baginya pintu-pintu taubat, penyesalan, rasa bersalah, hina, membutuhkan, meminta pertolongan kepada-Nya, keinginan kembali kepada-Nya, rendah diri, berdoa, dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan melakukan amal kebaikan. Dosa itu tidak menjadi sebab turun rahmat-Nya, hingga musuh Allah berkata: ‘Andai aku meninggalkannya dan tidak melakukannya’…”

Maka ketika diri kita terjatuh kedalam maksiat; maka janganlah berputus asa terhadap rahmat Allah.. bertaubatlah kepadaNya dengan benar.. karena Allah pasti mengampuni orang-orang yang bertaubat (namun apakah taubat kita sudah kita lakukan dengan benar?!).. diantara orang yang putus asa terhadap rahmatNya adalah ia merasa bahwa dosa-dosa (yang sangat banyak, dan sangat besar) “sepertinya” sulit baginya untuk mendapatkan pengampunan Allah.. ini keliru, padahal Allah Maha Pengampun lagi Penerima Taubatnya orang-orang bertaubat..

Demikian pula, terhadap orang lain, yang jatuh kepada maksiat; janganlah menjadikannya putus asa dari rahmat Allah (meskipun kita pun mengingatkannya dari adzabNya).. kita pun ingatkan dirinya (sebagaimana kita mengingatkan diri kita sendiri) tentang hari akhir, dsb.. yang semoga dengan hal itu, ia meninggalkan perbuatan jeleknya, dan bertaubat kepadaNya..

Janganlah kita sampai putus asa dari rahmat Allah kepadanya, dengan berkata: “segala usaha sudah aku kerahkan.. kayanya ia tidak mungkin untuk bertaubat”.. ini adalah keputus-asaan.. jika benar bahwa kita mencintainya, maka kita akan berusaha dengan keras agar ia dapat bertaubat, tidak gampang menyerah.. ini membuktikan keputus-asaan kita akan rahmat Allah terhadap dirinya..

Jangan pula kita sampai berkata, “temanku (–yang masih muslim–) ini kayanya ahli neraka dan Allah tidak akan mengampuninya”.. ini perkataan yang berbahaya.. Darimana kita tahu bahwa dia ahli neraka? darimana kita tahu bahwa Allah tidak mengampuninya? apakah kita mendapatkan wahyu dari allah yang mengabarkan demikian?! benar, perbuatannya tersebut diancam nereka.. benar, bahwa Allah akan mengadzab orang yang berbuat demikian.. tapi apakah hal ini pasti berlaku pada setiap orang? tidak demikian..

– Bisa jadi Allah memberikan hidayah kepadaNya sebelum ia wafat, sehingga ia bertaubat.. dan ia mati dalam keadaan seluruh dosanya allah ampuni.. (inilah yang seharusnya yang senantiasa tertanam dalam diri kita, trhdp saudara kita, sehingga kita terus berusaha mengingatkannya dan menasehatinya dan tidak putus asa)

– kalaupun dia wafat dalam keadaan tidak bertaubat.. bukankah Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَاءُ وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَىٰ إِثْمًا عَظِيمًا

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.

(An-Nisaa: 48)

Bukankah secara zhahir, dia mati tanpa membawa dosa kesyirikan?! Bukankah BISA JADI bahwa dia termasuk dalam ayat diatas “bagi siapa yagn dikehendakiNya”?!Maka jangan sampai lisan kita berkata perkataan yang sangat besar dan sangat parah ini..

Ketahuilah, dahulu.. ada dua orang dari bani israil, yang satunya shalih, yang satunya suka maksiat.. si shalih ini senantiasa menasehati si tukang maksiat.. teruus demikian, tapi ia tidak melihat adanya perubahan dari temannya ini, dan dengan marah ia berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu…” maka ketika di hari kiamat Allah mengumpulkan mereka berdua, dan berfirman:

مَنْ ذَا الَّذِى يَتَأَلَّى عَلَىَّ أَنْ لاَ أَغْفِرَ لِفُلاَنٍ فَإِنِّى قَدْ غَفَرْتُ لِفُلاَنٍ وَأَحْبَطْتُ عَمَلَكَ

“Siapakah yang bersumpah atas (nama)Ku agar Aku tidak mengampuni si fulan ? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya dan menghapus semua pahala amalmu”
(HR al-Bukhariy)

Maka berhati-hatilah.. jangan sampai banyaknya maksiat yang kita perbuat, juga menjadikan kita putus asa dari rahmatNya.. jangan sampai pula rasa takut kita terhadap adzabNya menjadikan kita PUTUS ASA akan rahmatNya.. jangan sampai pula, rasa harap kita terhadap rahmatNya, menjadikan kita malah merasa aman dari adzabNya.. akan tetapi… takutlah akan adzabNya, dan jangan putus asa dari rahmatNya..

Allah berfirman:

فَإِن كَذَّبُوكَ فَقُل رَّبُّكُمْ ذُو رَحْمَةٍ وَاسِعَةٍ وَلَا يُرَدُّ بَأْسُهُ عَنِ الْقَوْمِ الْمُجْرِمِينَ

Katakanlah: “Rabbmu mempunyai rahmat yang luas; dan siksa-Nya tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa”.
(Al-An’aam: 147)

Menurut AN. Ubaidy, Allah SWT melarang berputus asa, karena manusia bisa mudah tenggelam dalam keputusasaan apabila otaknya hanya digunakan untuk melihat kehidupan dari hal-hal yang nyata saja (materi dengan berbagai simbolnya, duniawi dengan berbagai maknanya).

Seseorang, tegas Ubaidy, juga akan mudah putus asa jika harapannya hanya digantungkan pada kenyataan hari ini, misalnya miskin, serba kurang, tidak punya resource, dan lain-lain. Karena itu, Al-Qur’an menyuruh bahwa hanya kepada Tuhanlah manusia menggantungkan harapan. Maksudnya, urai Ubaedy, yakinilah sunnatullah, yakinilah balasan Allah, jalankan perintah Allah, dan seterusnya. Itulah, kata Ubaedy, makna dari ayat wailaaa rabbika farghab (QS. Alam Nasyrah ayat 8)

Jadi, putus asa itu bukanlah sifat orang beriman. Bahwa semua orang yang terbukti sanggup meraih prestasi di bidangnya dengan serangkaian perjuangan yang dilakukannya, sebetulnya mereka telah beriman meski itu tidak ia katakan.

Wallohua'lam Bisshowab

Monday, February 5, 2018

Inilah 10 Dosa Besar yang dimurkai oleh Alloh SWT dalam Islam

Dalam ajaran Islam apabila seseorang melakukan dosa dan dia mau bertaubat pasti akan diampuni oleh Alloh SWT. Namun ada juga dosa yang sulit untuk mendapat ampunan.


Sebenarnya jika seseorang mau bertaubat dengan sungguh sungguh (Taubatan Nasuha), InsyaAlloh pasti akan mendapatkan ampunan meski dosanya sebesar Gunung Himalaya.
Berikut ini kami merangkum beberapa Dosa Besar yang dimurkai oleh Alloh SWT :

1. MEMAKAN RIBA

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syaitan lantaran (tekanan) penyakit gila,” (Al Baqarah: 275).

2. LARI DARI MEDAN PERTEMPURAN

Maksudnya, saat kaum Muslimin diserang oleh musuh mereka, dan kaum Muslimin maju mempertahankan diri dari serangan musuh itu, kemudian ada seseorang individu Muslim yang melarikan diri dari pertempuran itu.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman : “Barangsiapa yang membelakangi mereka (mundur) di waktu itu, kecuali berbelok untuk (siasat) perang atau hendak menggabungkan diri dengan pasukan yang lain, maka sesungguhnya orang itu kembali dengan membawa kemurkaan dari Allah, dan tempatnya ialah neraka Jahannam. Dan amat buruklah tempat kembalinya,” (Al Anfaal: 16).

3. MEMAKAN HARTA ANAK YATIM

Tentang hal ini Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala (neraka),” (An Nisaa: 10)

4. BERBUAT ZINA

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu,” (Al Furqaan: 68-69).

5. SYIRIK (MENYEKUTUKAN ALLAH SWT)

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya,” (An Nisaa: 48).

Dan Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga,” (Al Maidah: 72).

6. PUTUS ASA DARI RAHMAT ALLAH SWT

Hal ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir,” (Yusuf: 87).

7. MERASA AMAN DARI ANCAMAN ALLAH SWT

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Tiadalah yang merasa aman dari azab Allah kecuali orang-orang yang merugi,” (Al A’raaf: 99)

8. DURHAKA KEPADA KEDUA ORANG TUA

Karena Allah SWT mensifati orang yang berbuat durhaka kepada kedua orang tuanya sebagai orang yang jabbaar syaqiy ‘orang yang sombong lagi celaka’.

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka,” (Maryam: 32).

9. MEMBUNUH

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja, maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya,” (An Nisaa: 93).

10. MENUDUH WANITA BAIK-BAIK BERZINA

Tentang hal ini Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik, yang lengah lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la’nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,” (An Nuur: 23).

Wallohua'lam Bisshowab

Itulah 10 Dosa Besar yang dimurkai oleh Alloh SWT, semoga bermanfaat untuk kita semua.

Wednesday, January 10, 2018

Inilah Dosa Besar Membicarakan Aib Orang Lain (Ghibah) dalam Al-Qur'an dan Hadits

Ghibah atau membicarakan keburukan (aib) orang lain zaman sekarang bukan dianggap salah, bahkan sejauh ini sudah menjadi tradisi dalam masyarakat kita. 


Mulai dari masyarakat kecil sampai dengan tingkat elit politik menjadikan pergunjingan menjadi suatu hal yang biasa, menjadi sarapan pagi yang apabila ditinggalkan rasanya ada yang kurang.

Rosululloh SAW telah mengingatkan terhadap umatnya betapa buruk dan besarnya dosa dari menggunjing sehingga dosanya lebih besar dari berbuat zina.

Ketika Aisyah menyampaikan perihal Sya’iyyah, kepada Nabi bahwa Sya’iyah itu orang yang pendek, begini dan begitu. Nabi menjawab, “Wahai Aisyah kau telah mengucapkan kata-kata apabila dicampurkan air laut maka kata itu akan mengubahnya”.

Dalam sebuah mejelisnya bersama Abu Dzar, Rasulullah pernah memberi nasehat berikut : “Wahai Abu Dzar, hindari dari perlakuan ghibah (menggunjing) karena dosanya lebih berat dari pada zina”.

“Ya Rasulullah apa itu ghibah?”

“Ghibah yaitu menyebut-nyebut saudaramu dengan yang tidak disukai.”

“Ya Rasulullah walaupun sesuatu itu ada pada dirinya”

“Ya apabila kau sebut-sebut aibnya, maka kau telah menggunjingnya; namun 
bila kau sebut aib yang tidak ada pada dirinya maka kau telah memfitnahnya.”

Muhammad Yusuf Al-Qardawi, meriwayatkan sebuah kisah yang terjadi pda diri Khalifah Umar Bin Khattab ra..

Pada suatu malam, ketika Umar sedang berjalan bersama Abdullah bin Mas’ud memeriksa keadaaan di sekeliling kota Madinah, tiba-tiba mata memandang jauh suatu cahaya yang menerangi rumah, Umar menguntit cahaya itu sehingga ia masuk ke dalam rumah penghuninya. 

Astagfirullah, di rumah itu ada seorang wanita tua yang sedang minum arak dan menari-nari dengan budak perempuannya, Umar masuk dan menghardik perempuan tua itu, “Wahai fulan tidak pernah kusaksikan sebuah pemandangan yang lebih buruk dari ini, sekarang tua Bangka yang sudah usia lanjut tetapi meminum arak dan menari-nari”.

Tuan rumah menjawab, “Wahai Amirul Mukminin, apa yang kau sampaikan adalah lebih buruk dari apa yang kau saksikan, engkau telah memata-matai pribadi orang, padahal Alloh SWT telah melarangnya dan engkau telah masuk rumahku tanpa seizinku”.

Umar membenarkannya. Dia keluar dri rumah itu dengan amat menyesal atau perbuatan yang dilakukannya. Katanya, “Sungguh telah celakalah Umar apabila Allah tidak mengampuninya.”

Orangtua itu merasa malu kepada Umar karena kepergok melakukan dosa. Dia khawatir akan dihukum atau paling tidak akan mengumumkan di depan umum. Oleh karena itu ia lama sekali tidak hadir dalam majlis Umar. Apakah Umar termasuk orang yang suka ber-ghibah?”

Suatu hari dia datang ke majelis Umar secara sembunyi-sembunyi. Dia hanya duduk di bagian paling belakang sambil menundukkan kepada agar sang Khalifah tidak melihatnya. Tiba-tiba Umar memanggilnya dengan suara yang agak keras, “Wahai Polan mari duduk di sampingku.”

Orang tua itu merasa gemetar, dia berfikir dia pasti akan dipermalukan di depan umum. Dia tidak bisa menolak sebagaimana juga dia tidak akan mungkin bisa lari, dengan wajah pucat dia pasrah menghampiri umar sambil menunduk menyembunyikan rupanya. Umar memaksa untuk duduk persis di sampingnya. Kemudian berbisik, “Wahai Polan demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul, tidak akan aku beritahu seorang pun tentang apa yang aku lihat di dalam rumahmu, meskipun kepada Abdullah bin Mas’ud yang kala itu ikut ronda bersamaku.”

Kemudian orangtua ini pun menjawab sambil berbisik,”Wahai Amirul Mukminin demi Allah yang telah mengutus Muhammad sebagai seorang Rasul sejak saat itu sampai sekarang aku telah tinggalkan pekerjaan-pekerjaan mungkarku.”

Tiba-tiba Umar bertakbir agak keras tanpa bisa dipahami maksudnya oleh hadirin yang ada disekelilingnya.

Betapa mulia, bijaksana dan luar biasa pribadi seorang pemimpin seperti Umar dan sangat sulit menemukan orang seperti itu di zaman sekarang. Tentang Ghibah Guru saya memberi nasehat, “Jangan kau menjelek-jelekkan (menceritakan keburukan) orang lain, belum tentu dirimu lebih baik darinya”. Apabila kita menjaga aib saudara kita maka Allah akan menjaga aib kita dan apabila kita menceritakan aib saudara kita maka Allah juga akan membuka aib kita.

Karena kita bukan manusia yang sempurna, tentu kepribadian kita juga tidak sempurna dan ditengah ketidaksempurnaan itu hendaknya kita menyadari bahwa suatu saat kita juga melakukan kesalahan yang apabila kesalahan atau aib kita itu diceritakan orang lain akan membuat hati kita terluka, karenanya jangan pernah menceritakan keburukan orang lain yang akan membuat dia juga terluka.

HUKUM GHIBAH

Allah berfirman dalam Surah al-Hujurat(49):12 :

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمُُ وَلاَتَجَسَّسُوا وَلاَيَغْتَب بَّعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ تَوَّابُُ رَّحِيمُُ {12

Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa. dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang 
(Surah al-Hujurat(49):12).

Ayat tersebut menegaskan posisi hukum gibah sebagai sebuah perbuatan yang merusak tata hidup kemasyarakatan sekaligus sebagai “pengkhianatan” terhadap sesama manusia. Sebuah perumpamaan yang sangat tegas dari al-Qur’an tentang gibah ini adalah “sukakah engkau memakan daging saudaramu yang sudah mati”. Pertanyaan yang ironis dari kata “ayuhibbu“ (sukakah) melambangkan bahwa terdapat kecenderungan orang untuk suka bergibah, namun kesukaan itu dicela agama.

Lalu ada kata “memakan daging” yang berarti menikmati suasana gibah itu bagaikan seseorang yang mamakan daging dengan nikmatnya. Sedangkan kata “maytan” (mati) berarti bahwa orang yang digibah itu dalam keadaan tidak berdaya, tidak mampu dan tidak sempat membuat pembelaan karena dia tidak hadir.

يَاأّيُّهَا الّذِينَ ءَامَنُوا لاَيَسْخَرْ قَوْمُُ مِّن قَوْمٍ عَسَى أَن يَكُونُوا خَيْرًا مِّنْهُمْ وَلاَنِسَآءُُ مِّن نِّسَآءٍ عَسَى أَن يَكُنَّ خَيْرًا مِّنْهُنَّ وَلاَتَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلاَتَنَابَزُوا بِاْلأَلْقَابِ بِئْسَ اْلإِسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ اْلإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُوْلاَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ {11

 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim. (Surah Al Hujuraat : 11)

Jangan mencela dirimu sendiri maksudnya ialah mencela antara sesama mukmin karana orang-orang mukmin seperti satu tubuh. Panggilan yang buruk ialah gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari, seperti panggilan kepada orang yang sudah beriman, dengan panggilan seperti: Hai fasik, Hai kafir dan sebagainya.

Oleh karena itu tidak halal seorang muslim yang mengenal Allah dan mengharapkan hidup bahagia di akhirat kelak, memperolokkan orang lain, atau menjadikan sementara orang sebagai objek permainan dan perolokannya.

Sebab dalam hal ini ada unsur kesombongan yang tersembunyi dan penghinaan kepada orang lain, serta menunjukkan suatu kebodohannya tentang neraca kebajikan di sisi Allah.

Justru itu Allah mengatakan: "Jangan ada suatu kaum memperolokkan kaum lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan; dan jangan pula perempuan memperolokkan perempuan lain, sebab barangkali mereka yang diperolokkan itu lebih baik daripada mereka yang memperolokkan."
Yang dinamakan baik dalam pandangan Allah, yaitu: iman, ikhlas dan mengadakan kontak yang baik dengan Allah. Bukan dinilai dari rupa, badan, pangkat dan kekayaan.

Dalam hadisnya Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam mengatakan:

"Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kamu dan kekayaan kamu, tetapi Allah melihat hati kamu dan amal kamu." (Riwayat Muslim)

Bolehkah seorang laki-laki atau perempuan diperolokkan karena suatu cacat di badannya, perangainya atau karena kemiskinannya? Dalam sebuah riwayat diceriterakan, bahwa Ibnu Mas'ud pernah membuka betisnya dan nampak kecil sekali. Maka tertawalah sebagian orang.

Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
"Apakah kamu mentertawakan kecilnya betis Ibnu Mas'ud, demi Allah yang diriku dalam kekuasaanNya: bahwa kedua betisnya itu timbangannya lebih berat daripada gunung Uhud." 
(Riwayat Thayalisi dan Ahmad)

Al-Quran juga menghikayatkan tentang orang-orang musyrik yang memperolok orang-orang mu'min, lebih-lebih mereka yang lemah-seperti Bilal dan 'Amman-- kelak di hari kiamat, neraca menjadi terbalik, yang mengolok-olok menjadi yang diolok-olok dan ditertawakan:

إِنَّ الَّذِينَ أَجْرَمُوا كَانُوا مِنَ الَّذِينَ ءَامَنُوا يَضْحَكُونَ {29} وَإِذَا مَرُّوا بِهِمْ يَتَغَامَزُونَ {30} وَإِذَا انْقَلَبُوا إِلىَ أَهْلِهِمُ انقَلَبُوا فَاكِهِينَ {31} وَإِذَا رَأَوْهُمْ قَالُوا إِنَّ هَآؤُلآَءِ لَضّآلُّونَ {32} وَمَآأُرْسِلُوا عَلَيْهِمْ حَافِظِينَ {33} فَالْيَوْمَ الَّذِينَ ءَامَنُوا مِنَ الْكُفَّارِ يَضْحَكُونَ {34

Sesungguhnya orang-orang yang berdosa, adalah mereka yang dahulunya (di dunia) menertawakan orang-orang yang beriman. (QS. 83:29)
Dan apabila orang-orang beriman lalu di hadapan mereka, mereka saling mengedip-ngedipkan matanya. 
(QS. 83:30)
Dan apabila orang-orang berdosa itu kembali kepada kaumnya, mereka kembali dengan gembira. 
(QS. 83:31)
Dan apabila mereka melihat orang-orang mu'min, mereka mengatakan:"Sesungguhnya mereka itu benar-benar orang-orang yang sesat", (QS. 83:32)
padahal orang-orang yang berdosa itu tidak dikirim untuk penjaga bagi orang-orang mu'min. 
(QS. 83:33)
Maka pada hari ini, orang-orang yang beriman menertawakan orang-orang kafir, (QS. 83:34)(Qs.al-Muthaffifin(83) 29-34)
Ghibah juga sama dengan riba, bahkan lebih berat lagi dosanya.

Sebagaimana Abu Ya’la meriwayatkan, Bahwa Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
"Tahukah kamu seberatberat riba di sisi Allah?" Jawab sahabat: "Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui."
Nabi shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:
 "Seberat-berat riba di sisi Allah ialah menganggap halal mengumpat kehormatan seorang muslim."

Kemudian Nabi shollallohi 'alaihi wasallam membaca ayat yang artinya: "Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata." (As-Silsilah As- Shahihah, 1871)

Penyakit ghibah pernah menjangkiti Aisyah, istri Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam Aisyah sang istri Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam pernah lalai melakukan hal Ghibah dan Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam sempat marah padanya dan langsung memperingatkan sang Istri.

Tatkala itu, Aisyah berkata kepada Nabi shollallohi 'alaihi wasallam:
"Cukuplah bagimu Shafiyah (cukup cela untukmu Shafiyah yang bertubuh pendek)." Dengan nada keras beliau menjawab: "Sesungguhnya engkau telah mengeluarkan satu kalimat yang amat keji, andaikan dicampur dengan air laut niscaya dapat merusaknya."

Dan pada kesempatan lain, Aisyah juga berkata: "Saya mencontohkan kejelekan orang kepada Nabi shollallohi 'alaihi wasallam" Maka Nabi bersabda: "Saya tidak suka mencontohkan (memperagakan keburukan) orang meskipun saya akan mendapat upah ini dan itu yang banyak." (HR.Abu Dawud dan At Tirmidzi dari Aisyah).

Dosa ghibah juga lebih besar daripada berbuat zina.


"Hati-hatilah kamu dari ghibah, karena sesungguhnya ghibah itu lebih berat dari pada berzina. Ditanya, bagaimanakah? Jawabnya, "Sesungguhnya orang yang berzina bila bertaubat maka Allah akan mengampuninya, sedangkan orang yang ghibah tidak akan diampuni dosanya oleh Allah, sebelum orang yang di ghibah memaafkannya." 
(HR Albaihaqi, Atthabarani, Abu Asysyaikh, Ibn Abid)

Begitulah Allah mengibaratkan orang yang suka menggibah dengan perumpamaan yang sangat buruk untuk menjelaskan kepada manusia, betapa buruknya tindakan ghibah.

Sebagaimana diharamkan seseorang melakukan ghibah, diharamkan juga mendengarkannya dan mendiamkan perbuatan tersebut.

Oleh karena itu wajib membantah orang yang melakukannya. Dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Darda’ dari Nabi shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:

“Barangsiapa membela kehormatan saudaranya maka Allah menghalangi wajahnya dari api neraka di hari kiamat,” 
(HR. Tirmidzi)

Orang yang senantiasa mengumpat orang lain dan mencari-cari kesalahannya akan disiksa oleh Allah dengan siksaan yang berat. Yakni mencakar-cakar muka dan dada sendiri dengan kuku yang terbuat dari tembaga.

Hal ini sebagaimana hadits Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam yang diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a, bahwasanya Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam bersabda:

“Pada malam Isra’ mi’raj, aku melewati suatu kaum yang berkuku tajam yang terbuat dari tembaga. Mereka mencabik-cabik wajah dan dada mereka sendiri. Lalu aku bertanya pada Jibril” Siapa merka?” Jibril menjawab, “Mereka itu suka memakan daging manusia, suka membicarakan dan menjelekkan orang lain, mereka inilah orang-orang yang gemar akan ghibah!” 
(dari Abu Daud yang berasal dari Anas bin Malik ra).

Dari Sahl bin Sa’ad radhiyallohu anha, dia telah berkata : Rasulullah shollallohi 'alaihi wasallam telah bersabda :

“Barangsiapa memberikan jaminan kepadaku terhadap apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang berada di antara dua pahanya, maka aku memberi jaminan surga baginya”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits di atas disebutkan bahwa seseorang akan dijamin keselamatan akhiratnya jika ia sendiri bisa menjamin apa yang berada di antara dua rahangnya dan dua pahanya, dan apa yang ada di antara dua rahangnya adalah lidah atau perkataannya. Karena sesungguhnya perbuatan lidah ini akan sangat banyak dampak yang dapat ditimbulkan olehnya.

Dikisahkan Ubay dan Umayyah yang kaya raya sering mengejek dan menghina Nabi Muhammad shollallohi 'alaihi wasallam yang miskin karena kesombongan mereka karena harta mereka yang banyak. Selain mereka, ada juga Akhnas dan Jamil, si pengumpat, yang suka mengejek dan menghina orang miskin karena harta mereka banyak. Mereka juga senang menimbun harta dan menghitung-hitung harta mereka. Lalu Allah menurunkan surat ini sebagai peringatan atas perbuatan mereka :

وَيْلُُ لِّكُلِّ هُمَزَةٍ لُّمَزَةٍ {1 *

 الَّذِي جَمَعَ مَالاً وَعَدَّدَهُ {2 *

 يَحْسَبُ أَنَّ مَالَهُ أَخْلَدَهُ {3 *

 كَلاَّ لَيُنبَذَنَّ فيِ الْحُطَمَةِ {4 *

 وَمَآأَدْرَاكَ مَاالْحُطَمَةُ {5 *

 نَارُ اللَّهِ الْمُوقَدَةُ {6 *

 الَّتِي تَطَّلِعُ عَلَى الأَفْئِدَةِ {7 *

 إِنَّهَا عَلَيْهِم مُّؤْصَدَةٌ {8 *

 فيِ عَمَدِِ مُّمَدَّدَةٍ {9 *

Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela, (QS. 104:1)
yang mengumpulkan harta lagi menghitung-hitung, (QS. 104:2)
ia mengira bahwa hartanya itu dapat mengekalkannya, (QS. 104:3)
Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia benar-benar akan dilemparkan ke dalam Huthamah. 
(QS. 104:4)
Dan tahukah kamu apa Huthamah itu (QS. 104:5)
(yaitu) api (disediakan) Allah yang dinyalakan, (QS. 104:6)
yang (naik) sampai ke hati. (QS. 104:7)
Sesungguhnya api itu ditutup rapat atas mereka, (QS. 104:8)
(sedang mereka itu) diikat pada tiang-tiang yang panjang. (QS. 104:9) 
(Qs. Al Humazah(104) (104) : 1 – 9)

Dari Ibnu Abbas r.a, bahwa sesungguhnya Rasulullah saw pernah 
berjalan melewati 2 (dua) kuburan, kemudian beliau bersabda :

 “Sesungguhnya 2 (dua) orang ahli kubur itu disiksa dan keduanya tidak disiksa karena dosa besar. Ya, benar. Sesungguhnya dosa itu adalah besar. Salah seorang di antara keduanya adalah berjalan di muka bumi dengan menyebarkan fitnah (mengumpat). 
Sedang salah seorang yang lain tidak bertirai ketika kencing”. 
(HR. Bukhari dan Muslim)

Pada diri manusia itu cenderung terdapat sifat suka membicarakan orang lain. Orang cenderung ingin tahu masalah yang terjadi pada orang lain. Dengan demikian ia akan merasa beruntung tidak seperti orang lain atau tidak dirinya saja yang menderita.

Jika demikian kebanyakan sifat dari manusia, tentunya kita harus sering melakukan istighfar.

Syaitan dengan mudahnya mempengaruhi kebanyakan hati kita sehingga mungkin kita tengah menumpuk dosa akibat pergunjingan.

Setiap orang mempunyai harga diri yang harus dihormati. Membuat malu seseorang adalah perbuatan dosa. 
“Tiada seseorang yang menutupi cacat seseorang di dunia, melainkan kelak di hari kiamat Allah pasti akan menutupi cacatnya” 
(HR. Muslim).

Wallohua'lam Bisshowab

Sunday, January 7, 2018

Dosa Besar Syirik (Menyekutukan) Alloh SWT dan Hukumnya dalam Islam

Apabila Seseorang telah berbuat syirik dan tidak segera bertaubatan Nasukha sebelum mati, maka dosa orang itu tidak akan diampuni. Hal ini berbeda dengan seseorang yang melakukan dosa besar di bawah kesyirikan seperti korupsi, zina dan minum minuman keras (Mendem).


Alloh Ta'ala telah berfirman,

إن الله لا يغفر أن يشرك به ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

" Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. "(QS An Nisa ': 48).

DOSA SYIRIK YANG DIBAWA MATI


Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan,:
"Allah Ta'ala tidak akan mengampuni dosa syirik yaitu saat seorang hamba bertemu Allah dalam keadaan bersama syirik."
(Tafsir Al Qur'an Al 'Azhim, terbitan Dar Ibnul Jauzi, 3: 129).

Maksud ayat ini adalah Ibnuul Jauzi yaitu Allah tidak akan mengampuni pelaku syirik (musyrik) yang ia mati dalam kesyirikan.

Ini berarti jika sebelum dunia meninggal, ia sudah bertaubat dan menyesali kesyirikan yang ia perbuat, maka dia selamat.

Yang dimaksud dengan " mengampuni " dalam ayat di atas, Allah akan menutup dan memaafkan. Jika dikatakan bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik berarti Allah tidak akan memaafkan dan orang yang digaji syirik pada-Nya.

Syirik yang ada di sini adalah syirik dalam rububiyah, uluhiyah, dan asma 'wa shifat. Karena mentauhidkan Allah adalah seutama-kaki kewajiban. Jika ada yang sama syirik (sebagai lawan dari tauhid), maka Allah tidak akan mengampuninya berbeda dengan perbuatan maksiat lainnya yang berada di bawah syirik atau selain syirik.

YANG TERMASUK BENTUK SYIRIK:

1 - Jika ada yang saya percaya adalah langit itu Allah dan penguasa bumi adalah selain Allah, atau meyakini langit langit adalah berserikat antara Allah dan makhluk, atau meyakini bahwa Allah itu memiliki penolong dalam pengertian langit dan bumi, maka ia musyrik. Ini syirik dalam rububiyah.

2 - Sujud untuk selain Allah, nadzar kepada selain Allah, menyembelih tumbal di selain Allah, beribadah hanya untuk mencari muka atau pujian (riya '), maka itu termasuk syirik. Riya 'termasuk syirik sewa tekstual hadits. Ini syirik dalam uluhiyah.

3 - Meyakini ada yang semisal Allah dalam nama dan sifat, atau kata yang menetapnya Allah di atas 'Arsy seperti menetapnya makhluk di atas ranjang, atau kata yang turunnya Allah ke langit dunia seperti turunnya makhluk, maka ini pun syirik. Demikian keterangan dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin rahimahullah dalam Tafsir Surat An Nisa'.

DOSA DI BAWAH SYIRIK

Allah SWT telah berfirman :

ويغفر ما دون ذلك لمن يشاء

" Dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya ".

Ayat ini bisa berarti Allah mengampuni dosa selain syirik atau di bawah syirik.

Kalau seandainya ayat tersebut ditafsirkan dengan " selain syirik ", maka kufur juhud (karena penentangan), umpamanya karena wajib shalat tidak termasuk syirik, maka diampuni. Lepas dosa kufur juhud ini sejajar syirik.

Atau kufur juhud lain seperti meyakini bahwa Allah tidak mengutus Rasul Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam . Jika ditafsirikan 'selain syirik' berarti juga diampuni. . Kamu lebih tepat, kita artikan dengan " di bawah syirik ", makna lengkapnya: " Dan Allah mengampuni segala dosa di bawah syirik, bagi siapa yang dikehendaki-Nya".

Ini berarti dosa-dosa yang sejajar syirik seperti kufur juhud sama-sama tidak diampuni jika dibawa mati. Sementara dosa di bawah syirik seperti zina, minum khomr, maka masih di bawah masyi'ah yaitu kehendak Allah.

Jika Allah menghendaki, maka akan dimaafkan. Jika Allah menghendaki, maka akan disiksa. Lihat keterangan Syaikh Muhammad bin Sholih Al 'Utsaimin dalam Tafsir Surat An Nisa', 1: 388-389.

TAKUTLAH PADA SYIRIK

Syaikh 'Abdurrahman bin Qosim rahimahullah mengatakan , "Jika seseorang mati dalam keadaan sama syirik tidak akan diampuni, maka tentu saja ini menunjukkan kita mesti sangat peduli terhadap syirik karena begitu besarnya dosa tersebut di sisi Allah. (Hasyiyah Kitab Tauhid, hal. 48).

Syaikh 'Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh rahimahullah mengatakan , "Syirik adalah dosa yang amat besar karena Allah sampai mengatakan bahwa Dia tidak akan mengampuninya bagi siapa yang tidak bertaubat dari dosa syirik tersebut.

Sedangkan dosa di bawah syirik, maka itu masih di bawah kehendak Allah. Jika Allah kehendaki saat ia berjumpa dengan Allah, maka bisa diampuni. Jika tidak, maka ia akan disiksa. Jika demikian seseorang yang sangat takut terhadap syirik karena besarnya dosa tersebut di sisi Allah. "(Fathul Majid, hal 85).

Ayat di atas berisi pelajaran penting, yaitu agar kita waspada terhadap kesyirikan. Namun anehnya saat ini, banyak yang tidak tahu satu hal itu syirik. Sampai disangka jimat itu sebagai penolong, Pak Kyai-lah yang berkah, do'a lebih baik dengan tawassul melalui wali yang sudah mati, sedekah laut itu ada tradisi untuk menghilangkan musibah, semua ini malah disangka sebagai hal biasa dan bukan dosa.

Namun, syirik bukan sesuatu yang ditakuti dan dikhawatirkan lagi. Bahkan dosa korupsi dianggap sebagai perkara yang lebih besar bahayanya dibandingkan dengan berbagai macam klenik, jimat, dan bentuk syirik lainnya.

Syirik begitu besar dosanya dalam ayat-ayat lainnya :

ولو أشركوا لحبط عنهم ما كانوا يعملون

" Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (QS Al An'am: 88).

ولقد أوحي إليك وإلى الذين من قبلك لئن أشركت ليحبطن عملك ولتكونن من الخاسرين

" Dan sesungguhnya sudah diwahyukan dan bukan (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi ." (QS. Az Zumar: 65).

Dalam hadits dari Jabir, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,

من مات لا يشرك بالله شيئا دخل الجنة ومن مات يشرك بالله شيئا دخل النار

" Barangsiapa yang mati dalama keadaan tidak sama syirik pada Allah dengan sesuatu apa pun, maka ia akan masuk surga. Barangsiapa yang mati dalam keadaan bersama syirik pada Allah, maka ia akan masuk neraka "(HR Muslim no 93).

AZAB DOSA SYIRIK (MUSRYIK)

Islam berpendapat bahwa meng-esa-kan Tuhan adalah merupakan salah satu rukun iman. Dan menduakan Tuhan, berarti perbuatan syirik (Berbuat syirik terhadap Allah ialah menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya baik para Nabi atau para Auliya’ atau para Malaikat atau batu, kayu dan lain sebagainya.) yang merupakan dosa paling besar dan tidak diampuni.

Allah berfirman : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar”. (Q.S. 4 : 48).

Al-Qur’an juga memberikan gambaran kepada kita mengenai akibat perbuatan syirik dengan gambaran yang sangat mengerikan :

“Barang siapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang amat jauh”. (Q.S. 22 : 30).

Rasulullah juga mengatakan bahwa perbuatan syirik merupakan dosa yang berada di atas dosa-dosa besar lainnya:

أَلاَاُنَبِّئُكُمْ بِاَكْبَرِالْكَبَائِرِ ثَلاَثًا: اَلإِشْرَاكُ بِا اللهِ، وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ، وَشَهَادَةُ الزُّوْرِ (رواه المسل

“Ingatlah, aku hendak menceritakan kepada kalian tentang dosa-dosa yang paling besar – beliau mengulanginya tiga kali – yaitu syirik (menyekutukan Allah), menyakiti kedua orang tua, dan membuat kesaksian palsu atau perkataan palsu (Hadits riwayat Muslim)”.

Rasulullah juga memperingatkan umatnya untuk jangan sampai terperosok ke dalam tujuh macam perbuatan dosa yang menghancurkan, terutama perbuatan menduakan Allah.

Sebab, syirik adalah dosa yang paling besar, dan perbuatan syirik ibarat menghina Allah Maha Pencipta dan Maha Pengatur seluruh alam ini. Apabila seseorang menjadikan Tuhan selain Allah, berarti ia menganggap Allah itu lemah, yang sudah barang tentu merupakan perbuatan kurang ajar terhadap kekuasaan Allah yang Maha Agung.

Di dalam Al-Qur’an dikatakan :

 “Maha Suci Allah dari segala apa yang mereka sekutukan”. (Q.S. 7 : 190)

Wallohua'lam Bisshowab

Semoga kita dihindarkan dari dosa-dosa besar seperti Dosa yg kita bahas di atas ini yaitu perbuatan Syirik (Menyekutukan Alloh).


Sunday, April 16, 2017

Inilah Dosa besar Durhaka kepada Orangtua

Setelah kita mengetahui dalil-dalil yang memerintahkan kita untuk birrul walidain (berbakti kepada orang tua), sekarang kita membahas kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua. Sebagaimana tingginya keutamaan dan urgensi birrul walidain, maka konsekuensinya betapa besar dan bahayanya hal yang menjadi kebalikannya yaitu durhaka kepada orang tua.


Bahkan durhaka kepada orang tua adalah dosa besar. Ini secara tegas dinyatakan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:

أكبرُ الكبائرِ : الإشراكُ بالله ، وقتلُ النفسِ ، وعقوقُ الوالدَيْنِ ، وقولُ الزورِ . أو قال : وشهادةُ الزورِ

“dosa-dosa besar yang paling besar adalah: syirik kepada Allah, membunuh, durhaka kepada orang tua, dan perkataan dusta atau sumpah palsu” (HR. Bukhari-Muslim dari sahabat Anas bin Malik).

Dalam hadits Nafi’ bin Al Harits Ats Tsaqafi, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

ألا أنبِّئُكم بأكبرِ الكبائرِ . ثلاثًا ، قالوا : بلَى يا رسولَ اللهِ ، قال : الإشراكُ باللهِ ، وعقوقُ الوالدينِ

“maukah aku kabarkan kepada kalian mengenai dosa-dosa besar yang paling besar? Beliau bertanya ini 3x. Para sahabat mengatakan: tentu wahai Rasulullah. Nabi bersabda: syirik kepada Allah dan durhaka kepada orang tua” (HR. Bukhari – Muslim).

Ternyata Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam berkali-kali memperingatkan para sahabat mengenai besarnya dosa durhaka kepada orang tua. Subhaanallah!.

Dan perhatikan, sebagaimana perintah untuk birrul walidain disebutkan setelah perintah untuk bertauhid, Allah Ta’ala berfirman (yang artinya) : 

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36). 

Maka di hadits ini dosa durhaka kepada orang tua juga disebutkan setelah dosa syirik. Ini menunjukkan betapa besar dan fatalnya dosa durhaka kepada orang tua.

Namun perlu di ketahui, sebagaimana dosa syirik itu bertingkat-tingkat, dosa maksiat juga bertingkat-tingkat, maka dosa durhaka kepada orang tua juga bertingkat-tingkat.

Durhaka kepada ibu, lebih besar lagi dosanya.

Sebagaimana kita ketahui dari dalil-dalil bahwa berbuat baik kepada ibu lebih diutamakan daripada kepada ayah, maka demikian juga durhaka kepada ibu lebih besar dosanya. Selain itu, ibu adalah seorang wanita, yang ia secara tabi’at adalah manusia yang lemah. Sedangkan memberikan gangguan kepada orang yang lemah itu hukuman dan dosanya lebih besar dari orang biasa atau orang yang kuat.

Oleh karena itu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

إنَّ اللَّهَ حرَّمَ عليكم عقوقَ الأمَّهاتِ ، ومنعًا وَهاتِ ، ووأدَ البناتِ وَكرِه لَكم : قيلَ وقالَ ، وَكثرةَ السُّؤالِ ، وإضاعةَ المالِ

“sesungguhnya Allah mengharamkan sikap durhaka kepada para ibu, pelit dan tamak, mengubur anak perempuan hidup-hidup. Dan Allah juga tidak menyukai qiila wa qaala, banyak bertanya dan membuang-membuang harta” (HR. Bukhari – Muslim).

Wallahu ‘alam bis shawab.