Showing posts with label keturunan raja Jayabaya. Show all posts
Showing posts with label keturunan raja Jayabaya. Show all posts

Sunday, May 20, 2018

Silsilah Garis Keturunan Kerajaan Kediri Jawa Timur

Kerajaan Kediri merupakan kerajaan paling tua di Indonesia, khususnya di Wilayah Jawa. Dari Kerajaan ini pula raja raja besar di tanah Jawa terlahir.

Kuwaluhan.com

Menurut babad Jawa dan paham-paham yang diturunkan dalam buku kuno Jawa, ada yang meyakini bahwa Bhatara Brahma adalah nenek moyang dari raja-raja di tanah Jawa. Bhatara Brahma menikah menikah dengan Dewi Larasati dan memperoleh seorang putra yang diberi nama Sri Brahmana Raja.

Selanjutnya Sri Brahmana menikah dengan Dewi Sri Huma dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Hyang Wisnumurti. Dialah yang menggantikan ayahnya di kala wafat dengan gelar Prabu Tetrusta, sedangkan kerajaannya diberi nama Kerajaan Diling Jaya.

Prabu Tetrusta pun menikah dengan Retnawidati, yaitu putri dari Hyang Sumantra. Dari pernikahan tersebut lahirlah Prabu Parikenan. Selanjutnya Prabu Parikenan menikah dengan bibinya, putri dari Hyang Wisnu. Mereka memperoleh seorang putra bernama Resi Manumanasa.

Resi ini akhirnya juga menikah dengan bidadari bernama Retna Nilawati, yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Putra Sakri. Setelah dewasa Putra Sakri menikah dengan Dewi Sakti dan memperoleh keturunan Prabu Ngastina yang bergelar Prabu Palasara.

Sebagaimana diketahui, Dewi Sakti adalah putri Raja Sri Wedari yang terkenal dengan gelar Prabu Parta Wuijaya. Palasara (Prabu Ngastina) selanjutnya menikah lagi dengan Dewi Durgandini, yaitu putri Basukiswara dari Kerajaan Wirata.

Dari pernikahan ini, mereka mempunyai keturunan bernama Krisnadipayana. Putra ini kemudian menikah dengan Dewi Ambika, seorang putri dari Raja Glantipura. Dari mereka lahirlah tiga putra, di antaranya adalah Dewantara.

Dewantara menikah dengan dua istri sekaligus, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Perkawinannya dengan Dewi Kunti melahirkan para kesatria, yaitu : Prabu Yudhistira, Arya Werkudara, dan Dananjaya (Arjuna). Sementara dari Dewi Madrim berputrakan Arya Nakula dan Arya Sadewa.

Satu dari kelima putra ini ada yang beristrikan tujuh perempuan, yaitu Dananjaya alias Arjuna. Dari salah satu istrinya yaitu Dewi Sembadra, Dananjaya memiliki keturunan dengan nama Arya Abimanyu, yang setelah dewasa beristrikan Siti Sundari dan Dewi Hutari. Dari Dewi Hutari Abimanyu memperoleh keturunan bernama Arya Parikesit yang selanjutnya menjadi Prabu di Hastina.

Arya Parikesit pun memiliki lima orang istri. Namuin hanya dari istrinya yang bernama Dewi Tapen ia mempunyai seorang puttra yang kemudian menjadi Prabu Yudana. Prabu ini mempunyai keturunan bernama Gendrayana dan Sudarsana. Dari sinilah poin yang penting mengenai sosok Jayabaya. Sebab Jayabaya adalah keturunan dari Gendrayana.

Sebenarnya Gendrayana atau Raja Widarba memiliki saembilan istri yang masing-masing melahirkan seorang putra, diantaranya Raden Noyorono. Dialah yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Widarba dan bergelar Prabu Jaya Purusa, yang pada akhirnya mendirikan satu kerjaan bernama Daha atau Kediri.

Karena pada akhirnya Prabu Jaya Purusa semakin terkenal dan dipandang sebagai raja seorang bangsawan, maka namanya diganti menjadi Prabu Jayabaya.

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat ditarik suatu urutan silsilah Raja Jayabaya dari awal (Nabi Adam) sapai keturunannya raja-raja Kediri sebagai berikut :


  • Nabi Adam (sang Hyang Janmawalijaya atau sang Hyang Adhama)
  • Nabi Syits (sang Hyang Syta)
  • Sayid Anwar (sang Hyang Nur Cahya)
  • Sang Hyang Nurasa
  • Sang Hyang Wenang (sang Hyang Wisesa)
  • Sang Hyang Manik Maya (Bhatara Guru)
  • Bhatara Brahma atau Sri Maha Punggung atau Dewa Brahma
  • Bhatara Sadana (Brahmanisita)
  • Bhatara Satapa (Tritusta)
  • Bambang Parikenan
  • Resi Manumayasa 
  • Bambang Sekutrem
  • Begawan Sakri
  • Begawan Palasara
  • Begawan Abiyasa (Maharaja Sanjaya)
  • Pandu Dewanata
  • Dananhaya (Raden Arjuna)
  • Raden Abimanyu
  • Prabu Parikesit
  • Prabu Yudayana
  • Prabu Yudayaka (Jaya Darma)
  • Prabu Gendrayana
  • Prabu Jayabaya
  • Prabu Jaya Amijaya 
  • Prabu Jaya Amisena
  • Raden Kusumawicitra
  • Angling Darma
  • Raden Citrasuma
  • Raden Pancadriya
  • Raden Anglingdriya
  • Prabu Suwelacala
  • Prabu Sri Maha Punggung 
  • Prabu Kandihawan (Jayalengkara) 
  • Resi Gatayu 
  • Resi Lembu Amiluhur 
  • Raden Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati) 
  • Raden Kudalaweyan (Mahesa Tandreman) 
  • Raden Banjaran Sari 
  • Raden Munding Sari 
  • Raden Munding Wangi 
  • Prabu Pamekas  
  •  Raden Jaka sesuruh (Raden Wijaya, raja Majapahit) 
  • Prabu Taruma (Bhre Kumara) 
  • Gajah Mada
  • Prabu Hardaningkung (Brawijaya I) 
  • Prabu Hayam Wuruk 
  • Raden Putra 
  • Prabu Partawijaya
  • Raden Angkawijaya (Damarwulan) 
  • Bhatara Kathong.
Jika ada kekurangan mohon beri kami masukkan.

Monday, December 25, 2017

Kisah Asal usul dan Silsilah Jayakatwang, Pemusnahan Kerajaan Singasari

Jayakatwang adalah bupati Gelang-Gelang yang pada tahun 1292 memberontak dan meruntuhkan Kerajaan Singhasari. Ia kemudian membangun kembali Kerajaan Kadiri, namun hanya bertahan sampai tahun 1293.

SILSILAH RAJA JAYAKATWANG


Jayakatwang juga sering kali disebut dengan nama Jayakatong, Aji Katong, atau Jayakatyeng. Dalam berita Cina ia disebut Ha-ji-ka-tang.

Nagarakretagama dan Kidung Harsawijaya menyebutkan Jayakatwang adalah keturunan Kertajaya raja terakhir Kadiri. Dikisahkan pada tahun 1222 Ken Arok mengalahkan Kertajaya. Sejak itu Kadiri menjadi bawahan Singhasari di mana sebagai bupatinya adalah Jayasabha putra Kertajaya.

Tahun 1258 Jayasabha digantikan putranya yang bernama Sastrajaya. Sastrajaya menikah dengan saudara perempuan Wisnuwardhana, karena dalam prasasti Mula Malurung Jayakatwang disebut sebagai keponakan Seminingrat (nama lain Wisnuwardhana).Pada tahun 1271 Sastrajaya digantikan putranya, yaitu Jayakatwang.

Dalam prasasti Mula Malurung, Maharaja Tumapel Seminingrat menyebut Sri Jayakatwang sebagai menantu juga kemenakannya. Sebagai menantu karena Sri Jayakatwang berpermaisuri putri Seminingrat bernama Nararya Turukbali, rajamuda Gelang-Gelang sejak 1255M. Sebagai kemenakan karena ibu Sri Jayakatwang adalah adik Seminingrat.

Ketegasan Seminingrat menyebutan kemenakan kepada Jayakatwang dalam Prasasti Mula Malurung cenderung mengartikan bahwa Jayakatwang putra kandung dari adik kandung perempuan Seminingrat atau Ibu kandung Jayakatwang adalah adik kandung Seminingrat atau putri kandung Sang Anusapati sehingga sangat layak disebut dengan tegas dalam prasasti Mula Malurung.

Karena merupakan putra dari adik kandung perempuannya, maka kelak Seminingrat tidak ragu menjodohkan Jayakatwang dengan putri bungsunya Nararya Turukbali, yuwaraja Gelang-Gelang. Sekali lagi ibu kandung Jayakatwang adalah adik kandung Maharaja Seminingrat.

Sebagaimana telah dipaparkan, adik kandung Seminingrat adalah Dewi Seruni. Dari prasasti Kudadu diketahui Jayakatwang memiliki putra bernama Ardharaja, yang menjadi menantu Kertanagara.

Jadi, hubungan antara Jayakatwang dengan Kertanagara adalah sepupu, sekaligus ipar, sekaligus besan.

Hal ini sangatlah wajar ketika seorang raja mengikat tali keluarga dengan menjodohkan keturunannya dengan keturunan saudara kandungnya sendiri. Hal itu dilakukan supaya darah keturunan raja tidak pergi kemana-mana, masih tetap dalam satu keluarga atau setidaknya garis keturunan seorang raja tetap utuh menurun sampai bawah.

Ini pula yang kemudian dilakukan Maharaja Seminingrat ketika menduduki tahta Tumapel yang kemudian berbesanan dengan adik kandung perempuannya. Terjadi pernikahan sesama cucu Sang Anusapati. Putri Seminingrat bernama Nararya Turukbali menikah dengan Jayakatwang, putra adik kandung perempuan Seminingrat.

Nararya Turukbali dan Jayakatwang saudara sepupu juga. Pernikahan seperti itu pernah pula dilakukan moyangnya Erlangga yang menikah dengan kakak sepupunya atau dengan Dewi Laksmi, putri kedua Dharmawangsa, raja Medang Watan. Pernikahan antar saudara sepupu juga dilakukan Seminingrat sendiri.

Seminingrat menikah dengan adik sepupunya bernama Waning Hyun, putri sulung Mahisa Wonga Teleng. Mahisa Wonga Teleng adalah paman Seminingrat. Dapat dikatakan Seminingrat mengikuti langkah yang ditempuh ayahnya Sang Anusapati yang berbesanan dengan adik seibunya Mahisa Wonga Teleng.

Jika ayahnya berbesanan dengan adik sepupu seibu beda ayah, Seminingrat berbesanan dengan adik kandung sendiri, menjodohkan putrinya Nararya Turukbali dengan kemenakannya Sri Jayakatwang. Tetapi bagaimanapun juga semua perkawinan antar saudara itu bertujuan untuk menjaga keaslian darah keluarga raja.

Sangat pantas pula ketika mengeluarkan piagam kerajaan pemganugerahan desa Mula Malurung kepada Sang Pranaraja, Sri Maharaja Seminingrat menyebut dengan tegas bahwa Sri Jayakatwang adalah menantu sekaligus kemenakannya.

Menegaskan kembali bahwa Nararya Turukbali dan Sri Jayakatwang adalah sama-sama cucu sang Anusapati, ayahanda Seminingrat, yang sepantasnya mendapat kedudukan bagus di dalam keluarga raja.

PEMERINTAHAN JAYAKATWANG

Nagarakretagama, Pararaton, Kidung Harsawijaya, dan Kidung Panji Wijayakrama menyebut Jayakatwang adalah raja bawahan di Kadiri yang memberontak terhadap Kertanagara di Singhasari.

Naskah prasasti Kudadu dan prasasti Penanggungan menyebut Jayakatwang pada saat memberontak masih menjabat sebagai bupati Gelang-Gelang . Setelah Singhasari runtuh, baru kemudian ia menjadi raja di Kadiri.

Sempat muncul pendapat bahwa Gelang-Gelang merupakan nama lain dari Kadiri. Namun gagasan tersebut digugurkan oleh naskah prasasti Mula Malurung (1255).

Dalam prasasti itu dinyatakan dengan tegas kalau Gelang-Gelang dan Kadiri adalah dua wilayah yang berbeda. Prasasti itu menyebutkan kalau saat itu Kadiri diperintah Kertanagara sebagai yuwaraja (raja muda), sedangkan Gelang-Gelang diperintah oleh Turukbali dan Jayakatwang.

Lagi pula lokasi Kadiri berada di daerah Kediri, sedangkan Gelang-Gelang ada di daerah Madiun. Kedua kota tersebut terpaut jarak puluhan kilometer.

PEMBERONTAKAN JAYAKATWANG

Pararaton dan Kidung Harsawijaya menceritakan Jayakatwang menyimpan dendam karena leluhurnya (Kertajaya) dikalahkan Ken Arok pendiri Singhasari. Suatu hari ia menerima kedatangan Wirondaya putra Aria Wiraraja yang menyampaikan surat dari ayahnya, berisi anjuran supaya Jayakatwang segera memberontak karena saat itu Singhasari sedang dalam keadaan kosong, ditinggal sebagian besar pasukannya ke luar Jawa.

Adapun Aria Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasari yang dimutasi ke Sumenep karena dianggap sebagai penentang politik Kertanagara.

Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Daha pada 1293M dan pendirian Kerajaan Majapahit. Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singhasari.

Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi bupati Sumenep. Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang bupati Gelang-Gelang berniat memberontak, untuk membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel.

Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa.

 Jayakatwang melaksanakan saran Aria Wiraraja. Ia mengirim pasukan kecil yang dipimpin Jaran Goyang menyerbu Singhasari dari utara atau dari arah Hering. Jadi melalui lembah timur gunung Penanggungan.

Pasukan Jaran Guyang berderap riuh merajalela di sepanjang perjalanan menuju kotaraja Singasari. Sudah barang tentu para penduduk di sepanjang perjalanan itu gemetar kocar-kacir, mengungsi dan sebagian mencari perlindungan ke Singasari sekaligus menyampaikan pesan kepada pihak keraton.

Mendengar kabar penyerbuan itu, Sri Kertanagara memerintahkan Nararya Sanggramawijaya dan Ardharaja memimpin pasukan menghadang laju pasukan musuh dari utara.

Nararya Sanggramawijaya diiringi para kesatria terkemuka Tumapel seperti Arya Adikara, Banyak Kapuk, Ranggalawe, Pedang, Sora, Dangdi, Ki Ageng Gajah Pagon, serta tiga putra Arya Wiraraja yaitu Nambi, Peteng, dan Wirot. Semua prajurit terbaik itu melawan pasukan Daha di bagian utara serentak mengamuk dan pasukan Jaran Guyang terpukul mundur.

Namun sesungguhnya pasukan kecil ini hanya bersifat pancingan supaya pertahanan kota Singhasari kosong. Tanpa diduga bergeraklah pasukan besar dari Daha yang datang dari tepi sungai Laksa menuju daerah Lawor, diam-diam tanpa menimbulkan kegaduhan, tanpa mengibarkan panji-panji. Kedatangnya di Sidhabuwana langsung berderap menuju kota Singasari. Yang menjadi pemimpin adalah Patih Daha Kebo Mundarang, Pudot, dan Bawong.

Ardharaja putra Jayakatwang, tentu saja berada dalam posisi sulit karena harus menghadapi pasukan ayahnya sendiri. Ketika mengetahui kekalahan Singhasari, Ardaraja berbalik meninggalkan pasukan Raden Wijaya, bergabung dengan pasukan Daha atau Gelang-Gelang.

Saat itu Sri Kertanagara sedang mengadakan pesta minuman keras sebagai salah satu ritual agamanya. Dengan gagah keluar menghadapi serangan musuh. Sang maharaja Tumapel itu akhirnya gugur di Balai Manguntur sebagai kesatria bersama Mpu Raganata, Patih Kebo Anengah, Panji Angragani, dan Tumenggung Wirakreti.

Kotaraja Singasari jatuh. Peristiwa kehancuran Singhasari terjadi tahun 1292.Tumapel dikuasai sepenuhnya oleh Jayakatwang. Jayakatwang lalu menjadi raja, dengan Daha sebagai pusat pemerintahannya.

 Sementara Nararya Sanggramawijaya melarikan diri ke Terung di utara Singhasari. Karena terus dikejar musuh rombongan memilih pergi ke timur. Dengan bantuan kepala desa Kudadu, Nararya Sanggramawijaya menyeberangi Selat Madura meminta perlindungan Arya Wiraraja penguasa Songeneb.

 GUGURNYA JAYAKATWANG

Arya Wiraraja hanya menyimpan dendam pribadi pada Kertanegara, berhubungan dengan sikap sang raja yang antara lain menggabungkan tiga agama yaitu Siwa Buda dan Jawa menjadi agama Siwa Boja. Arya Wiraraja menganut Siwa seperti Raden Wijaya. Sedangkan Jayakatwang penganut Wisnu sebagaimana

leluhur Panjalu, agama warisan Erlangga. Setelah dendam pribadi pada Kertanegara terbalas, Arya Wiraraja berniat menyingkirkan pengaruh Jayakatwang yang menganut Wisnu, Arya Wiraraja cenderung mendukung Raden Wijaya yang menganut Siwa.

Maka setelah menerima kedatangan rombongan nararya Sanggramawijaya, Arya Wiraraja berbalik haluan membantu putra Dyah Lembu Tal itu merebut kembali takhta peninggalan mertuanya. Nararya Sanggramawijaya berjanji jika kelak berhasil mengalahkan Jayakatwang, maka daerah kekuasaannya akan dibagi dua untuk dirinya dan Wiraraja.

Siasat pertama pun dijalankan. Langkah pertama Arya Wiraraja menyampaikan berita kepada Jayakatwang bahwa Nararya Sanggramawijaya dan seluruh pengikutnya siap menyerah kalah. Jayakatwang yang telah membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kerajaan Panjalu Daha menerimanya dengan senang hati. Sri Jayakatwang segera mengirim utusan menjemput rombongan Nararya Sanggramawijaya di pelabuhan Jungbiru.

Siasat berikutnya, Nararya Sanggramawijaya meminta Hutan Tarik di sebelah timur Kadiri untuk dibangun sebagai kawasan wisata perburuan. Wijaya mengaku ingin bermukim di sana. Jayakatwang yang gemar berburu segera mengabulkannya tanpa curiga. Arya Wiraraja pun mengirim orang-orang Songeneb membantu Wijaya membuka hutan tersebut yang kemudian diberi nama Majapahit.

 Sampai kemudian, berdasarkan catatan Dinasti Yuan, pada 1293M pasukan Mongol sebanyak 20.000 orang dipimpin Ike Mese mendarat di Jawa berniat menghukum Kertanagara lantaran pada 1289M telah melukai utusan yang dikirim Kubilai Khan. Raden Wijaya memanfaatkan kedatangan pasukan Mongol untuk menghancurkan Jayakatwang. Ia lalu mengundang Ike Mese ke Desa majapahit dan memberi tahu jika dirinya ahli waris Raja Kertanagara yang sudah wafat.

Nararya Sanggramawijaya meminta bantuan pihak Mongol untuk merebut kembali kekuasaan Pulau Jawa dari tangan Jayakatwang. Setelah itu baru bersedia menyatakan tunduk pada kekuasaan Kubilai Khan.

 Mendengar persekutuan Wijaya dan Ike Mese, Sri Jayakatwang segera mengirim pasukan Kadiri untuk menghancurkan mereka. Namun pasukan itu justru berhasil dikalahkan pihak Mongol. Selanjutnya, gabungan pasukan Mongol dan Majapahit serta Madura bergerak menyerang Daha.

Berita Cina menyebutkan perang terjadi pada 20 Maret 1293. Gabungan pasukan Mongol dan Majapahit menggempur kota Daha sejak pagi hari. Sekitar 5000 orang Daha menjadi korban. Kota Daha benar-benar Dahanapura, kota api. Daha lautan api. Pasukan besar Mongol membungihangus keraton Jayakatwang.

 Akhirnya pada sore harinya, Jayakatwang menyerah dan ditawan di atas kapal Mongol. Dikisahkan kemudian pasukan Mongol ganti diserang balik oleh pihak Majapahit diusir dari tanah Jawa. Sebelum meninggalkan Jawa, pihak Mongol sempat menghukum mati Jayakatwang dan Ardharaja di atas kapal mereka.

Menurut Pararaton dan Kidung Harsawijaya, Jayakatwang meninggal dunia di dalam penjara Hujung Galuh setelah menyelesaikan sebuah karya sastra berjudul Kidung Wukir Polaman.

Setelah Jayakatwang hancur, Nararya Sanggramawijaya meminta izin kembali ke Majapahit, mempersiapkan penyerahan dirinya. Ike Mese mengizinkannya tanpa curiga. Sesampai di Majapahit, Wijaya membunuh para prajurit Mongol yang mengawalnya.

Ia kemudian memimpin serangan balik ke Daha di mana pasukan Mongol berpesta kemenangan. Serangan mendadak itu membuat Ike Mese kehilangan banyak prajurit dan terpaksa menarik mundur pasukannya meninggalkan Jawa.

Friday, September 1, 2017

Sejarah Asal Usul Raja Jayabaya Dari Kerajaan Kediri

Pada Zaman dahulu telah Dikisahkan bahwa ada seorang Pemimpin yang Adil dan Bijaksana dari Kerajaan Kadiri yaitu Raja Jayabaya, Beliau merupakan titisan dari Arjuna. Negaranya bernama Widarba yang beribu kota di Mamenang. Ayahnya bernama Gendrayana, putra Yudayana, putra Parikesit, putra Abimanyu, putra Arjuna dari keluarga Pandawa.


Permaisuri Raja Jayabaya bernama Dewi Sara. Lahir darinya Jayaamijaya, Dewi Pramesti, Dewi Pramuni, dan Dewi Sasanti. Jayaamijaya menurunkan raja-raja tanah Jawa, bahkan sampai Majapahit dan Mataram Islam. Sedangkan Pramesti menikah dengan Astradarma raja Yawastina, melahirkan Prabu Anglingdarma menjadi raja Malawapati.

KELAHIRAN JAYABAYA

Raja gendrayana dari mamenang mengetahui istrinya kanjeng ratu widarbo dewi padmowati sudah hamil, sang istri meminta woh sumawarna. karena itu sang raja lalu menitipkan kerajaan mamenang kepada patih sutikna. Kemudian sang raja dengan berganti pakaian kesatria dan berpamitan kepada dua istrinya segera keluar dari kedaton mamenang.

Didampingi semar gareng dan petruk prabu gendrayana menghadap resi daneswara, untuk meminta petunjuk mengenai adanya woh sumawarna yang ada di gunung aswata tersebut.

Sang resi mengatakan memang benar ada wahyu ratu yang ada dalam woh sumawarna yang terdapat di gunung aswata tersebut. Sang prabu meminta diantarkan untuk mendekati buah sumawarna tadi.

Tiba tiba datanglah macan hitam yang langsung menggondol sang prabu gendrayana. Maka terjadilah perang kembang antara macan hitam dan prabu gendrayana yang berahir dengan matinya sang macan.

Setelah matinya sang macan berubah menjadi hyang wisnu. Dimana hyang wisnu memberikan kepada prabu gendrayana woh sumawarna dengan mengatakan bahwa inilah wahyu ratu tersebut. Sang prabu gendrayana sangat gembira dan menghaturkan terimakasih kemudian pamit undur diri. Hyang wisnu pun menghilang.

Dalam perjalanan pulang rombongan prabu gendrayana dihadang oleh pasukan kerajaan hima himantaka dibawah pimpinan prabu drawayana. Mengetahui prabu gendrayana berhasil mendapat woh sumawarna maka sang prabu drawayana meminta agar woh sumawarna tersebut diberikan.

Karena tidak dituruti oleh prabu gendrayana maka pecahlah pertempuran diantara mereka, pasukan hima himantaka dapat dipukul mundur. Raja drawayana dikalahkan oleh prabu gendrayana dan memilih untuk melarikan diri.

Sesampainya di mamenang prabu gendrayana menerima kunjungan rombongan saudaranya dari hatsina, yaitu rombongan prabu yudayaka yang juga dikenal sebagai prabu sudarsana bersama para istri. Mereka datang hendak melihat seperti apa bentuk wahyu woh sumawarna.

Maka prabu gendrayana pun menunjukan seperti apa bentuk buah sumawarna tersebut. para tetamu semua melihat dengan sangat teramat kagumnya. Kemudian buah tadi diberikan kepada istrinya dewi padmowati. buah tersebut kemudian dimakan lalu lahirlah jabang bayi yang kemudian di beri nama NARAYANA atau JAYABAYA.

PEMERINTAHAN JAYABAYA DI KERAJAAN KEDIRI

Pemerintahan Jayabhaya dianggap sebagai masa kejayaan Kerajaan Kediri. Peninggalan sejarahnya berupa prasasti Hantang (1135), prasasti Talan (1136), dan prasasti Jepun (1144), serta Kakawin Bharatayuddha (1157).

Pada prasasti Hantang, atau biasa juga disebut prasasti Ngantang, terdapat semboyan Panjalu Jayati, yang artinya Kedirimenang. Prasasti ini dikeluarkan sebagai piagam pengesahan anugerah untuk penduduk desa Ngantang yang setia pada Kediri selama perang melawan Jenggala.

Dari prasasti tersebut dapat diketahui kalau Jayabhaya adalah raja yang berhasil mengalahkan Janggala dan mempersatukannya kembali dengan Kediri.

Kemenangan Jayabhaya atas Kerajaan Jenggala disimbolkan sebagai kemenangan Pandawa atas Korawa dalam kakawin Bharatayuddha yang digubah oleh empu Sedah dan empu Panuluh tahun 1157.

Jayabaya turun takhta pada usia tua. Ia dikisahkan moksha di desa Menang, Kecamatan Pagu, Kabupaten Kediri. Tempat petilasannya tersebut dihormati oleh penduduk setempat dan masih ramai dikunjungi sampai sekarang.

Prabu Jayabaya merupakan tokoh yang identik dengan ramalan masa depan pada Nusantara. Terdapat beberapa naskah yang berisi “Ramalan Joyoboyo”, antara lain Serat Jayabaya Musarar, Serat Pranitiwakya, dan lain sebagainya. Dikisahkan dalam Serat Jayabaya Musarar, pada suatu hari Jayabaya berguru pada seorang ulama bernama Maolana Ngali Samsujen. Dari ulama tersebut, Jayabaya mendapat gambaran tentang keadaan Pulau Jawa sejak zaman diisi oleh Aji Saka sampai datangnya hari Kiamat.

Dari nama guru Jayabaya di atas dapat diketahui kalau naskah serat tersebut ditulis pada zaman berkembangnya Islam di Pulau Jawa. Tidak diketahui dengan pasti siapa penulis ramalan-ramalan Jayabaya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat saat itu untuk mematuhi ucapan tokoh besar. Maka, si penulis naskah pun mengatakan kalau ramalannya adalah ucapan langsung Prabu Jayabaya, seorang raja besar dari Kerajaan Kadiri.

Tokoh pujangga besar yang juga ahli ramalan dari Surakarta bernama Ranggawarsita sering disebut sebagai penulis naskah-naskah Ramalan Jayabaya. Akan tetapi, Ranggawarsita biasa menyisipkan namanya dalam naskah-naskah tulisannya, sedangkan naskah-naskah Ramalan Jayabaya pada umumnya bersifat anonim.

RAMALAN JAYABAYA PADA NUSANTARA

Ramalan Jayabaya atau sering disebut Jangka Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya dipercaya ditulis oleh Jayabaya, rajaKerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga.

Asal Usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabayalah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

"Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani."

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis.

Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

ISI RAMALAN JAYABAYA

Ramalan Jayabaya, adalah ramalan tentang keadaan Nusantara di suatu masa pada masa datang. Dalam Ramalan Jayabaya itu dikatakan, akan datang satu masa penuh bencana.

Gunung-gunung akan meletus, bumi berguncang-guncang, laut dan sungai, akan meluap. Ini akan menjadi masa penuh penderitaan. Masa kesewenang-wenangan dan ketidakpedulian. Masa orang-orang licik berkuasa, dan orang-orang baik akan tertindas.

Tapi, setelah masa yang paling berat itu, akan datang zaman baru, zaman yang penuh kemegahan dan kemuliaan. Zaman Keemasan Nusantara. Dan zaman baru itu akan datang setelah datangnya sang Ratu Adil, atau Satria Piningit.

Ramalan Jayabaya ditulis ratusan tahun yang lalu, oleh seorang raja yang adil dan bijaksana dari Kerajaan KEDIRI. Raja itu bernama Prabu Jayabaya (1135-1159). Ramalannya kelihatannya begitu mengena dan bahkan masih diperhatikan banyak orang ratusan tahun setelah kematiannya.

Ramalan Jayabaya ini memang lumayan fenomenal, banyak ramalannya yang bisa ditafsirkan mendekati keadaan sekarang. Di antaranya :

Datangnya bangsa berkulit pucat yang membawa tongkat yang bisa membunuh dari jauh dan bangsa berkulit kuning dari Utara (zaman penjajahan )."kreto mlaku tampo jaran", "Prau mlaku ing nduwur awang-awang", kereta berjalan tanpa kuda dan perahu yang berlayar di atas awan (mobil dan pesawat terbang?)Datangnya zaman penuh bencana di Nusantara (Lindu ping pitu sedino, lemah bengkah, Pagebluk rupo-rupo ), gempa tujuh kali sehari, tanah pecah merekah, bencana macam-macam.Dan ia bahkan (mungkin) juga meramalkan global warming, "Akeh udan salah mongso", datangnya masa di mana hujan salah musim.

Nah, naik turunnya peradaban sebenarnya sudah banyak dianalisis, bahkan sejak ratusan tahun lalu. Di antaranya oleh Ibnu Khaldun(Muqaddimah, 1337, Wikipedia: Ibn Khaldun), Gibbon (Decline and Fall, 1776), Toynbee (A Study of History), atau Jared Diamond. Intinya sederhana. Manusia atau bangsa, bisa berubah. Manusia bisa lupa, dan sebaliknya juga bisa belajar. Bangsa bisa bangkit, hancur, dan bisa juga bangkit lagi.

Bagaimana dengan Satria Piningit ?

Banyak juga teori tentang manusia-manusia istimewa yang datang membawa perubahan. Di dunia, orang-orang itu sering disebut "Promethean", diambil dari nama dewa Yunani Prometheus yang memberikan api (pencerahan) pada manusia. Toynbee menamakannya Creative Minorities. Tapi mereka bukan sekedar “manusia-manusia ajaib”, melainkan orang-orang yang memiliki kekuatan dahsyat, yaitu kekuatan ilmu, dan kecintaan pada bangsanya, sesama manusia, dan pada Tuhannya. Lihat misalnya berapa banyak hadis Nabi Muhammad tentang pentingnya ilmu. Dan perhatikan lanjutan pidato Bung Karno ini:

"Selama kaum intelek Bumiputra belum bisa mengemukakan keberatan-keberatan bangsanya, maka perbuatan-perbuatan yang mendahsyatkan itu (pemberontakan) adalah pelaksanaan yang sewajarnya dari kemarahan-kemarahan yang disimpan … terhadap usaha bodoh memerintah rakyat dengan tidak memperhatikan dengan sungguh-sungguh keinginan-keinginan dan kepentingan-kepentingan mereka…"

Satria piningit, adalah orang-orang yang peduli pada bangsanya, berilmu tinggi, dan telah memutuskan untuk berbuat sesuatu. Mereka lah, dan hanya merekalah yang bisa melawan kehancuran, dan akhirnya membangkitkan peradaban.

Di zaman kegelapan, selalu ada saja orang yang belajar. Di antarabanyak orang lupa, selalu ada saja orang baik. Bahkan walau cuma satu orang. Kadang, kerusakan itu justru membakar jiwanya untuk berbuat sesuatu. Belajar, berjuang, berkorban. Seperti Nabi Muhammad yang melihat bangsanya hancur, atau Soekarno yang melihat bangsanya diinjak-injak. Mereka lalu berjuang menyelamatkan bangsanya. Promethean, Ratu Adil yang mendatangkan zaman kebaikan.

Ramalan Jayabaya mungkin bisa dipahami secara ilmiah, bahwa manusia dan peradaban memang selalu bisa bangkit, hancur, dan bangkit lagi. Dan mungkin karena Jayabaya menyadari manusia bisa lupa, dia sengaja menulis ini sebagai peringatan agar manusia tidak lupa. Dan itulah satu tanda kearifan sang Prabu Jayabaya. Mungkin, ini juga dorongan pada manusia agar selalu berbesar hati, optimis. Bahwa di saat yang paling berat sekalipun, suatu hari akhirnya akan datang juga Masa Kesadaran, Masa Kebangkitan Besar, Masa Keemasan Nusantara.

Thursday, August 10, 2017

Garis Keturunan dan Silsilah Angling Darma Sampai Arjuna

Kuwaluhan.com

Anglingdarma merupakan keturunan ketujuh dari hidayat, seorang tokoh utama dalam kisah Mahabharata. Hal ini dapat dimaklumi karena menurut tradisi Jawa, kisah Mahabharata dianggap benar-benar terjadi di Pulau Jawa.

Berikut Silsilah Angkling Darma Sampai Arjuna :

- Arjuna berputra Abimanyu
- Abimanyu berputra Parikesit
- Parikesit berputra Yudayana
- Yudayana berputra Gendrayana
- Gendrayana berputra Jayabaya
- Jayabaya memiliki putri bernama Pramesti
- Dari rahim Pramesti inilah lahir seorang putra bernama Prabu Angling darma.

KELAHIRAN ANGLING DARMA

Semenjak Yudayana putra Parikesit naik takhta, nama kerajaan diganti dari Hastinamenjadi Yawastina. Yudayana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada Gendrayana. Pada suatu hari Gendrayana menghukum adiknya yang bernama Sudarsana karena kesalahpahaman. Batara Narada turun dari kahyangan sebagai utusan dewata untuk mengadili Gendrayana. Sebagai hukuman, Gendrayana dibuang ke hutan sedangkan Sudarsana dijadikan raja baru oleh Narada.

Gendrayana membangun kerajaan baru bernama Mamenang. Ia kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Jayabaya. Sementara itu, Sudarsana digantikan putranya yang bernama Sariwahana. Sariwahana kemudian mewariskan takhta Yawastina kepada putranya yang bernama Astradarma.

Antara Yawastina dan Mamenang terlibat perang saudara berlarut-larut. Atas usaha pertapa kera putih bernama Hanoman yang sudah berusia ratusan tahun, kedua negeri pun berdamai, yaitu melalui perkawinan Astradarma dengan Pramesti, putri Jayabaya.

Pada suatu hari Pramesti mimpi bertemu Batara Wisnu yang berkata akan lahir ke dunia melalui rahimnya. Ketika bangun tiba-tiba perutnya telah mengandung. Astradarma marah menuduh Pramesti telah berselingkuh. Ia pun mengusir istrinya itu pulang ke Mamenang.

Jayabaya marah melihat keadaan Pramesti yang terlunta-lunta. Ia pun mengutuk negeri Yawastina tenggelam oleh banjir lumpur. Kutukan tersebut menjadi kenyataan. Astradarma pun tewas bersama lenyapnya istana Yawastina.

Setelah kematian suaminya, Pramesti melahirkan seorang putra yang diberi nama Anglingdarma. Kelahiran bayi titisan Wisnu tersebut bersamaan dengan wafatnya Jayabaya yang mencapai moksa. Takhta Mamenang kemudian diwarisi oleh Jaya Amijaya, saudara Pramesti.

Itulah Penjelasan Tentang Keturunan Angling Darma hingga Arjuna Mahabharata. Semoga bermanfaat.

Jika ada kekurangan mohon maaf ya gays..!! ūüėÄ

Tuesday, April 18, 2017

Silsilah keturunan Raja JAYABAYA hingga Nabi Adam

Mengenai silsilah nenek moyang Prabu Jayabaya dari berbagai sumber, jika dilacak pada manusia pertama di bumi yaitu Nabi Adam As, maka diperoleh sebuah silsilah bahwa Raja Jayabaya adalah keturunan ke-23 dari Nabi adam.

Dalam sebuah kisah diceritakan mengenai nenek moyang (asal-usul) Jayabaya sebagai berikut :

Diceritakan bahwa Hyang Guru adalah anak dari Sang Hyang Tunggal dan Dewi Rakti. Maka, setelah dewasa dan cukup berpengetahuan, ia datang ke Jawa dan mendirikan sebuah kerajaan. Pemerintah yang begitu luas terutama dipegang oleh putra bungsunya bernama Bhatara Brahma.

Menurut babad Jawa dan paham-paham yang diturunkan dalam buku kuno Jawa, ada yang meyakini bahwa Bhatara Brahma adalah nenek moyang dari raja-raja di tanah Jawa. Bhatara Brahma menikah menikah dengan Dewi Larasati dan memperoleh seorang putra yang diberi nama Sri Brahmana Raja.

Selanjutnya Sri Brahmana menikah dengan Dewi Sri Huma dan melahirkan seorang putra yang diberi nama Hyang Wisnumurti. Dialah yang menggantikan ayahnya di kala wafat dengan gelar Prabu Tetrusta, sedangkan kerajaannya diberi nama Kerajaan Diling Jaya.

Prabu Tetrusta pun menikah dengan Retnawidati, yaitu putri dari Hyang Sumantra. Dari pernikahan tersebut lahirlah Prabu Parikenan. Selanjutnya Prabu Parikenan menikah dengan bibinya, putri dari Hyang Wisnu. Mereka memperoleh seorang putra bernama Resi Manumanasa.

Resi ini akhirnya juga menikah dengan bidadari bernama Retna Nilawati, yang kemudian melahirkan seorang putra bernama Putra Sakri. Setelah dewasa Putra Sakri menikah dengan Dewi Sakti dan memperoleh keturunan Prabu Ngastina yang bergelar Prabu Palasara.

Sebagaimana diketahui, Dewi Sakti adalah putri Raja Sri Wedari yang terkenal dengan gelar Prabu Parta Wuijaya. Palasara (Prabu Ngastina) selanjutnya menikah lagi dengan Dewi Durgandini, yaitu putri Basukiswara dari Kerajaan Wirata.

Dari pernikahan ini, mereka mempunyai keturunan bernama Krisnadipayana. Putra ini kemudian menikah dengan Dewi Ambika, seorang putri dari Raja Glantipura. Dari mereka lahirlah tiga putra, di antaranya adalah Dewantara.

Dewantara menikah dengan dua istri sekaligus, yaitu Dewi Kunti dan Dewi Madrim. Perkawinannya dengan Dewi Kunti melahirkan para kesatria, yaitu : Prabu Yudhistira, Arya Werkudara, dan Dananjaya (Arjuna). Sementara dari Dewi Madrim berputrakan Arya Nakula dan Arya Sadewa.

Satu dari kelima putra ini ada yang beristrikan tujuh perempuan, yaitu Dananjaya alias Arjuna. Dari salah satu istrinya yaitu Dewi Sembadra, Dananjaya memiliki keturunan dengan nama Arya Abimanyu, yang setelah dewasa beristrikan Siti Sundari dan Dewi Hutari. Dari Dewi Hutari Abimanyu memperoleh keturunan bernama Arya Parikesit yang selanjutnya menjadi Prabu di Hastina.

Arya Parikesit pun memiliki lima orang istri. Namuin hanya dari istrinya yang bernama Dewi Tapen ia mempunyai seorang puttra yang kemudian menjadi Prabu Yudana. Prabu ini mempunyai keturunan bernama Gendrayana dan Sudarsana. Dari sinilah poin yang penting mengenai sosok Jayabaya. Sebab Jayabaya adalah keturunan dari Gendrayana.

Sebenarnya Gendrayana atau Raja Widarba memiliki saembilan istri yang masing-masing melahirkan seorang putra, diantaranya Raden Noyorono. Dialah yang menggantikan kedudukan ayahnya sebagai raja Widarba dan bergelar Prabu Jaya Purusa, yang pada akhirnya mendirikan satu kerjaan bernama Daha atau Kediri.

Karena pada akhirnya Prabu Jaya Purusa semakin terkenal dan dipandang sebagai raja seorang bangsawan, maka namanya diganti menjadi Prabu Jayabaya.

Baca juga Kerajaan Kediri

Berdasarkan keterangan tersebut, dapat ditarik suatu urutan silsilah Raja Jayabaya dari awal (Nabi Adam) sapai keturunannya raja-raja Kediri sebagai berikut :
  1. Nabi Adam (sang Hyang Janmawalijaya atau sang Hyang Adhama)
  2. Nabi Sis (sang Hyang Syta)
  3. Sayid Anwar (sang Hyang Nur Cahya)
  4. Sang Hyang Nurasa
  5. Sang Hyang Wenang (sang Hyang Wisesa)
  6. Sang Hyang Manik Maya (Bhatara Guru)
  7. Bhatara Brahma atau Sri Maha Punggung atau Dewa Brahma
  8. Bhatara Sadana (Brahmanisita)
  9. Bhatara Satapa (Tritusta)
  10. Bambang Parikenan
  11. Resi Manumayasa
  12. Resi Sekutrem
  13. Begawan Sakri
  14. Begawan Palasara
  15. Begawan Abiyasa (Maharaja Sanjaya)
  16. Pandu Dewanata
  17. Dananjaya (Raden Arjuna)
  18. Raden Abimanyu
  19. Prabu Parikesit
  20. Prabu Yudayana
  21. Prabu Yudayaka (Jaya Darma)
  22. Prabu Gendrayana
  23. Prabu Jayabaya
  24. Prabu Jaya Amijaya
  25. Prabu Jaya Amisena
  26. Raden Kusumawicitra
  27. Raden Citrasuma
  28. Raden Pancadriya
  29. Raden Anglingdriya
  30. Prabu Suwelacala
  31. Prabu Sri Maha Punggung
  32. Prabu Kandihawan (Jayalengkara)
  33. Resi Gatayu
  34. Resi Lembu Amiluhur
  35. Raden Panji Asmara Bangun (Inu Kertapati)
  36. Raden Kudalaweyan (Mahesa Tandreman)
  37. Raden Banjaran Sari
  38. Raden Munding Sari
  39. Raden Munding Wangi
  40. Prabu Pamekas
  41. Raden Jaka Sesuruh (Raden Wijaya, raja Majapahit)
  42. Prabu Taruma (Bhre Kumara)
  43. Prabu Hardaningkung (Brawijaya I)
  44. Prabu Hayam Wuruk
  45. Raden Putra
  46. Prabu Partawijaya
  47. Raden Angkawijaya (Damarwulan)
  48. Bhatara Kathong
Demikianlah silsilah keturunan Jayabaya. Dari urutan tersebut, dapat diketahui bahwa Jayabaya kemudian melahirkan raja-raja Majapahit. Namun, silsilah ini dari versi Jawa yang mungkin berbeda dengan versi-versi yang lain.