Social Items

Showing posts with label asal usul Ramayana. Show all posts
Showing posts with label asal usul Ramayana. Show all posts
Kekayi merupakan wanita ketiga yang dinikahi Dasarata setelah dua permaisurinya yang lain tidak mampu memiliki putera.


Pada saat Dasarata meminang dirinya, ayah Kekayi membuat perjanjian dengan Dasarata bahwa putera yang dilahirkan oleh Kekayi harus menjadi raja. Dasarata menyetujui perjanjian tersebut karena dua permaisurinya yang lain tidak mampu melahirkan putera.

Namun setelah menikah dan hidup lama, Kekayi belum melahirkan putera. Setelah Dasarata melakukan upacara besar, akhirnya Kekayi dan premaisurinya yang lain mendapatkan keturunan. Kekayi melahirkan seorang putera bernama Bharata.

JANJI DASARATA

Pada suatu ketika di sebuah pertempuran, roda kereta perang Dasarata pecah. Dalam masa-masa genting tersebut, Kekayi yang berada di sana datang menyelamatkan Dasarata serta memperbaiki kereta tersebut sampai bisa dipakai lagi.

Karena terharu oleh pertolongan Kekayi, Dasarata mempersilakan Kekayi untuk megajukan tiga permohonan. Namun Kekayi menolak karena ia ingin menagih janji tersebut pada saat yang tepat.

TUNTUTAN KEKAYI PADA DASARATA

Sebagai istri yang paling muda, Kekayi merasa cemas apabila Dasarata kurang mencintainya dibandingkan dua istrinya yang lain. Saat Rama hendak dinobatkan menjadi raja, pelayan Kekayi yang bernama Mantaradatang dan menghasut Kekayi agar mengangkat Bharata menjadi Rama sekaligus menyingkirkan Rama ke hutan selama 14 tahun.

Dengan mengangkat Bharata menjadi raja, Mantara berharap bahwa Kekayi akan menjadi ibu suri dan statusnya berada di atas permaisuri yang lain. Kekayi menolak usul Mantara karena ia tahu bahwa Rama lebih pantas menjadi raja, dan setelah itu Bharata akan menggantikannya.

Mendengar alasan Kekayi, Mantara berkata bahwa tidak ada alasan bagi Bharata untuk menjadi raja menggantikan Rama karena jika Rama menjadi raja sampai akhir hayatnya, maka tidak ada kesempatan bagi Bharata untuk menggantikannya karena tahta diserahkan kepada keturunan Rama.

Setelah Mantara menghasut Kekayi dengan berbagai alasan, Kekayi mengambil tindakan. Ia menemui Raja Dasarata dan meminta dua permohonan sesuai dengan kesempatan yang telah diberikan sebelumnya. Pertama ia memohon Bharata untuk menjadi raja, dan yang kedua ia memohon agar Ramadiasingkan ke hutan.

Dengan berat hati, Raja Dasarata memenuhi permohonan tersebut, namun tak lama kemudian ia wafat dalam keadaan sakit hati.

Setelah Dasarata wafat, Kekayi mulai menyesali tindakannya dan memarahi dirinya sendiri atas kematian Sang Raja. Rakyat Ayodhya pun marah dan menghujat Kekayi. Bharata juga marah dan berkata bahwa ia tidak akan menyebut Kekayi sebagai ibunya lagi.

Pelayan Kekayi yang bernama Mantara hendak dibunuh oleh Satrugna karena menghasut Kekayi dengan lidahnya yang tajam, namun ia diampuni oleh Rama.

Setelah Rama menghabiskan masa pengasingannya di hutan selama 14 tahun, Kekayi dan Bharata menyambutnya dan merestui Rama untuk menjadi raja.

Kisah Asal usul Kekayi dalam Ramayana

Dasarata adalah tokoh dari kisah Ramayana, yaitu seorang raja putera Aja, keturunan Ikswaku dan berada dalam golongan Raghuwangsaatau Dinasti Surya. Ia adalah ayah Sri Rama dan memerintah di Kerajaan Kosala dengan pusat pemerintahannya di Ayodhya.

Ramayana mendeskripsikannya sebagai seorang raja besar lagi pemurah. Angkatan perangnya ditakuti berbagai negara dan tak pernah kalah dalam pertempuran.

ASAL-USUL DASARATA


Dasarata dipercaya dikehidupan sebelumnya adalah Rsi Kasyapa dan Kosalyadikehidupan sebelumnya adalah Dewi Aditi.Mereka berdua memohon pada Dewa Wisnu agar mereka diberikan seorang putera dari Dewa Wisnu.

Karena Resi Kasyapa dan Dewi Aditi sudah tua,Dewa Wisnu mengabulkan permohonan mereka setelah Resi Kasyapa dan Dewi Aditi hidup kembali menjadi Dasarata dan Kosalya.Dewa Wisnu pun turun di bumi untuk menjawab doa Resi Kasyapa dan Aditi dengan menjadi Sri Rama

Pada saat Dasarata masih muda dan belum menikah, ia suka berburu dan memiliki kemampuan untuk memanah sesuatu dengan tepat hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Di suatu malam, Dasarata berburu ke tengah hutan. Di tepi sungai Sarayu, ia mendengar suara gajah yang sedang minum. Tanpa melihat sasaran ia segera melepaskan anak panahnya.

Namun ia terkejut karena tiba-tiba makhluk tersebut mengaduh dengan suara manusia. Saat ia mendekati sasarannya, ia melihat seorang pertapa muda tergeletak tak berdaya. Pemuda tersebut bernama Srawana. Ia mencaci maki Dasarata yang telah tega membunuhnya, dan berkata bahwa kedua orang tuanya yang buta sedang menunggu dirinya membawakan air.

Sebelum meninggal, Srawana menyuruh agar Dasarata membawakan air ke hadapan kedua orang tua si pemuda yang buta dan tua renta. Dasarata menjalankan permohonan terakhir tersebut dan menjelaskan kejadian yang terjadi kepada kedua orangtua si pemuda. Dasarata juga meminta ma'af di hadapan mereka.

Setelah mendengar penjelasan Dasarata, kedua orang tua tersebut menyuruh Dasarata agar ia mengantar mereka ke tepi sungai untuk meraba jasad puteranya yang tercinta untuk terakhir kalinya. Kemudian, mereka mengadakan upacara pembakaranyang layak bagi puteranya. Karena rasa cintanya, mereka hendak meleburkan diri bersama-sama ke dalam api pembakaran.

Sebelum melompat, ayah si pemuda menoleh kepada Dasarata dan berkata bahwa kelak pada suatu saat, Dasarata akan mati dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh puteranya yang paling dicintai dan paling diharapkan.

ISTRI DAN KETURUNAN

Dasarata memiliki tiga permaisuri, yaitu Kosalya, Sumitra, dan Kekayi. Lama setelah pernikahannya, Dasarata belum juga dikaruniai anak. Akhirnya ia mengadakan yadnya (ritual suci) yang dipimpin Resi Srengga. Dari upacara tersebut, Dasarata memperoleh payasam berisi air suci untuk diminum oleh para permaisurinya.

Kosalya dan Kekayi minum seteguk, sedangkan Sumitra meminum dua kali sampai habis. Beberapa bulan kemudian, suara tangis bayi menyemarakkan istana. Yang pertama melahirkan putera adalah Kosalya, dan puteranya diberi nama Rama. Yang kedua adalah Kekayi, melahirkan putera mungil yang diberi nama Bharata. Yang ketiga adalah Sumitra, melahirkan putera kembar dan diberi nama Laksmana dan Satrugna.

KEMATIAN DASARATA

Dasarata yang sudah tua hendak menobatkan Rama sebagai raja, sebab Rama adalah putera sulung sekaligus yang paling diharapkan Dasarata. Namun tindakannya tersebut ditentang oleh permaisurinya yang paling muda, yaitu Kekayi.

Atas tuntutan Kekayi, Dasarata membuang Rama ke dalam hutan. Setelah membuang Rama ke tangah hutan, Dasarata membenci Kekayi dan ia tidak sudi lagi jika wanita tersebut mendekatinya. Tak beberapa lama kemudian, Dasarata jatuh sakit. Dalam masa-masa kritisnya, ia bersedih sambil mengenang kembali dosa-dosanya.

Ia juga mengungkit kisah masa lalunya yang kelam di waktu muda kepada Kosalya, yaitu membunuh pertapa muda yang kedua orangtuanya buta. Dalam kesedihannya, Dasarata meninggal dunia karena sakit hati.

Kisah Asal usul Dasarata dalam Ramayana

Mandodari adalah putri Mayasura , Raja Asura(setan), dan apsara ( hantu selebriti nimfa) Hema. Mandodari memiliki tiga putra: Meghanada ( Indrajit ), Atikaya , dan Akshayakumara.

Menurut beberapa adaptasi Ramayana, Mandodari juga ibu dari istri Rama Sita , yang diculik oleh Rahwana. Terlepas dari kesalahan suaminya, Mandodari mencintainya dan menasihatinya untuk mengikuti jalan kebenaran. Mandodari berulang kali menyarankan Rahwana untuk mengembalikan Sita ke Rama, tapi nasehatnya jatuh di telinga tuli. Cinta dan kesetiaannya kepada Rahwana dipuji di Ramayana .

Versi yang berbeda dari Ramayana mencatat perlakuan buruknya di tangan jenderal monyet Rama. Beberapa versi mengatakan bahwa mereka mengganggu pengorbanan oleh Rahwana, dan beberapa di antaranya menghancurkan kesuciannya, yang merupakan perlindungan terakhir bagi kehidupan Rahwana.

Hanuman menipu dia untuk mengungkapkan lokasi panah ajaib yang digunakan Rama untuk membunuh Rahwana. Setelah kematian Rahwana, adik laki-laki Wibhishana- Ravana yang bergabung dengan pasukan Rama dan bertanggung jawab atas kematian Rahwana-menikahi Mandodari atas saran Ram

ASAL USUL MANDODARI


Dalam The Uttara Ramayana menceritakan kisah tentang kelahiran Mandodari. Mayasura(Maya), putra sage Kashyapa menikah dengan apsara (surgawi nimfa) Hema. Mereka memiliki dua anak laki-laki, Mayavi dan Dundubhi, tapi merindukan seorang anak perempuan, maka mereka mulai melakukan pertobatan untuk mencari dupa dewa Siwa.

Sementara itu, seorang apsara bernama Madhura tiba di Gunung Kailash, tempat tinggal Siwa, untuk memberi penghormatan kepadanya. Dengan tidak adanya istrinya Parwati , Madhura Mengungkapkan cintanya pada shiva dan menari untuk mengesankan shiwa karena musik dan tarian adalah salah satu cara untuk beribadah. Sarah menolaknya.

Ketika Parwati kembali, Agitasi, Parwati mengutuk Madhura dan mengirimnya untuk tinggal di sumur sebagai katak selama dua belas tahun. Shiva konsol Madhura dan mengatakan dia akan menjadi wanita cantik dan menikah dengan pria hebat. Setelah dua belas tahun, Madhura menjadi gadis yang cantik lagi dan berteriak keras dari sumur. Mayasura dan Hema, yang melakukan penebusan dosa di dekatnya, menjawab panggilannya dan mengadopsinya sebagai putri mereka. Mereka mengangkatnya sebagai Mandodari.

PERNIKAHAN DAN KEHIDUPAN

Rahwana datang ke rumah Mayasura dan jatuh cinta pada Mandodari. Mandodari dan Rahwana segera menikah dengan ritual Veda . Mandodari membawa Ravana tiga putra: Meghanada , Atikaya , dan Akshayakumara. Mandore , sebuah kota yang terletak 9 km sebelah utara Jodhpur , diyakini sebagai tempat asli Mandodari. Rahwana diperlakukan sebagai menantu di antara beberapa Brahmana setempat dan memiliki sebuah kuil yang dipersembahkan kepadanya di sini.

Terlepas dari kesalahan Rahwana, Mandodari mencintainya dan bangga dengan kekuatannya. Dia menyadari kelemahan Rahwana terhadap wanita. Seorang wanita saleh, Mandodari mencoba untuk memimpin Rahwana menuju kebenaran, namun Rahwana selalu mengabaikan nasehatnya.

Dia menyarankan agar dia tidak menundukkan Navagraha , sembilan makhluk surgawi yang mengatur takdir seseorang, dan tidak merayu Widyawati , yang akan terlahir kembali sebagai Sinta dan menyebabkan kehancuran Rahwana.

Rahwana menculik Sinta , istri Rama , pangeran Ayodhya yang diasingkan , yang merupakan inkarnasi dewa Wisnu . Mandodari menyarankan Ravana untuk mengembalikan Sinta ke Rama, tapi sia-sia. Mandodari tahu nafsu ini akan membawa jatuhnya Rahwana.

Mandodari digambarkan sebagai wanita cantik di Ramayana milik Valmiki. Ketika Hanuman , pembawa pesan monyet Rama, datang ke Lanka untuk mencari Sita, dia terpesona oleh kecantikan Mandodari saat memasuki kamar tidur Ravana dan membuat kesalahan Mandodari untuk Sita.

Ketika Hanuman akhirnya menemukan Sita, dia menemukan Rahwana mengancam untuk membunuh Sita kecuali dia menikahi dia. Ravana mengangkat pedangnya untuk memenggal kepala Sita saat dia menolak. Mandodari menyelamatkan Sita dengan memegang tangan Rahwana. Mandodari mengatakan bahwa pembunuhan seorang wanita adalah dosa yang keji dan karenanya Rahwana seharusnya tidak membunuh Sinta.

Dia meminta Ravana untuk menghibur dirinya dengan istri-istrinya yang lain dan melepaskan gagasan untuk memiliki Sita sebagai istrinya. Ravana membebani hidup Sita, tapi tidak melepaskan keinginannya untuk menikahi Sita.

Meskipun Mandodari menganggap Sinta lebih rendah darinya dalam kecantikan dan keturunan, Mandodari mengakui pengabdian Sinta kepada Rama dan membandingkannya dengan dewi seperti Sachi dan Rohini.

Ketika semua upaya untuk mengembalikan Sinta yang damai gagal, Rama mengumumkan perang terhadap Langkah Rahwana. Sebelum pertempuran terakhir melawan Rama, Mandodari melakukan upaya terakhir untuk mencegah Rahwana, namun sia-sia.

Akhirnya, Mandodari berdiri di samping suaminya dalam pertempuran terakhir seperti istri yang patuh dan setia, meskipun dia juga menasihati anaknya Meghanada, alias Indrajit ("Seseorang yang telah menaklukkan Indra , dewa raja surga") , bukan untuk melawan Rama.

Dalam The Valmiki Ramayana meriwayatkan: Ketika semua anak laki-laki dan pejuang Ravana meninggal, Ravana menyelenggarakan sebuah yajna ("korban api-api") untuk memastikan kemenangannya. Rama mengirim pasukan monyet yang dipimpin oleh Hanuman dan pangeran monyet Angadauntuk menghancurkan yajna ini.

Monyet-monyet itu menciptakan kekacauan di istana Ravana, tapi Rahwana melanjutkan yajna itu . Angada menyeret Mandodari dengan rambutnya di depan Ravana. Mandodari memohon kepada suaminya untuk menyelamatkannya dan mengingatkannya pada apa yang Rama lakukan untuk istrinya.

Rahwana yang marah meninggalkan yajna dan menyerang Angada dengan pedangnya. Dengan yajnaterganggu, tujuan Angada dilayani dan dia meninggalkan Mandodari dan kabur. Mandodari kembali meminta Rahwana untuk menyerahkan Sita kepada Rama, tapi dia menolak. Adaptasi Ramayana lainnya menyajikan deskripsi kejadian yang lebih mengerikan.

Dalam The Krittivasi Ramayanmeriwayatkan bahwa monyet menyeret Mandodari dan merobek pakaiannya. Di Bicitra Ramayana , Hanumanlah yang mempermalukan Mandodari. Adaptasi Thailand Ramakien menceritakan pemerkosaan simbolis Mandodari. Hanoman tidur bersamanya dalam bentuk Rahwana dan menghancurkan kesuciannya, yang melindungi kehidupan Rahwana.

Ravana bertarung melawan duel akhir dengan Rama. Rama gagal membunuh Rahwana dengan panah biasa, tapi akhirnya membunuh dengan panah ajaib. Sementara Ramayana dari Valmiki meriwayatkan bahwa panah ajaib itu diberikan kepada Rama oleh Indra, di versi lain panah ajaib tersembunyi di bilik tempat tidur Mandodari atau di bawah tempat tidurnya.

Sementara Mandodari asyik memuja Dewi Parvati untuk kesejahteraan Rahwana, Hanuman datang kepadanya yang menyamar sebagai Brahmana . Setelah memenangkan kepercayaan dirinya, dia menanyainya untuk mengungkapkan lokasi rahasia panah tersebut. Hanuman merebut anak panah itu dan memberikannya pada Rama, yang menuju ke akhir Rahwana.

Mandodari muncul di lokasi kematian Ravana dalam keadaan berantakan dan menyesali kematiannya. Dalam pertempuran ini, Mandodari kehilangan suaminya, anak-anaknya, dan sanak saudaranya.

Setelah kematian Rahwana, Rama menasihati Wibhishana untuk membawa Mandodari sebagai istrinya, meski sudah memiliki istri. Sebuah teori menunjukkan bahwa ras Rahwana mungkin memiliki keluarga matrilineal dan dengan demikian, untuk memulihkan ketertiban di kerajaan setelah kematian Rahwana, Vibhishana perlu dinikahi ratu yang memerintah untuk mendapatkan hak untuk memerintah.

Teori lain menunjukkan bahwa ini mungkin kebiasaan non- Arya untuk menikahi ratu yang memerintah. Perkawinan antara Mandodari dan Vibhishana murni merupakan "tindakan kenegarawanan", bukan sebuah pernikahan berdasarkan "gangguan seksual bersama mereka".

Mandodari mungkin telah setuju untuk menikahi Wibhishana, ipar laki-lakinya yang lebih muda, karena ini akan membawa kerajaan menuju kemakmuran dan stabilitas sebagai sekutu Ayodhya Rama, dan dia akan terus memiliki suara dalam pemerintahan. Alasan lain untuk menikah adalah sebagai alternatif untuk bunuh diri bagi Mandodari janda, yang dihindari oleh Rama.

SEBAGAI IBU TIRI SHINTA

Meskipun Ramayana dari Valmiki tidak merekam Mandodari sebagai ibu Sita, beberapa adaptasi Ramayana kemudian menggambarkan Mandodari sebagai ibu Sita atau setidaknya penyebab kelahiran terakhir. Ini semua karena Maya.

Dalam The Adbhuta Ramayana menceritakan: Rahwana digunakan untuk menyimpan darah bijak ia tewas dalam panci besar. Orang bijak Gritsamada sedang berlatih penebusan dosa untuk mendapatkan dewi Lakshmi sebagai putrinya. Dia menyimpan susu dari rumput Darbha dan memurnikannya dengan mantra di dalam pot sehingga Lakshmi akan mendiaminya.

Rahwana menuangkan susu dari panci ini ke dalam panci darahnya. Mandodari frustrasi melihat perbuatan jahat Rahwana, jadi dia memutuskan untuk bunuh diri dengan meminum isi pot darah, yang digambarkan lebih beracun daripada racun. Alih-alih mati, Mandodari hamil dengan inkarnasi Lakshmi karena kekuatan susu Gritsamada. Mandodari mengubur janin di Kurukshetra , di mana ditemukan oleh Janaka, yang menamakannya Sita.

The Devi Bhagavata Purana mengatakan: Ketika Rahwana ingin menikah Mandodari, Maya memperingatkan dia bahwa horoskop dia menunjukkan dirinya pertama-lahir akan menghancurkan klan-nya dan harus dibunuh. Mengabaikan saran Maya, Ravana mengubur anak pertamanya oleh Mandodari di sebuah peti mati di kota Janaka, tempat ia ditemukan dan tumbuh sebagai Sinta.

Janin adaptasi dari Ramayana seperti Vasudevahindi , Uttara-purana , dan lain-lain juga menyatakan bahwa Sita adalah putri Ravana dan Mandodari, dan ditinggalkan saat dia dinubuatkan sebagai penyebab akhir dari Rahwana dan keluarganya.

Dalam bahasa Melayu Seri Rama dan Rama Keling dari bahasa Indonesia - Jawa , Rahwana ingin memiliki Mandodari, ibu Rama, tapi malah menikahi seorang Mandorari pseudo, yang terlihat seperti orang asli. Ayah Rama memiliki perserikatan dengan Mandodari yang pseudo ini, yang menghasilkan kelahiran Sita, yang merupakan anak perempuan Ravana.

Menurut Ananda Ramayana , raja Padmaksha memiliki seorang anak perempuan bernama Padma - sebuah inkarnasi dari dewi Lakshmi. Saat pernikahannya diorganisir, Rakshasas (setan) membunuh raja. Padma yang berduka itu melompat ke dalam api. Rahwana menemukan tubuhnya, yang telah berubah menjadi lima permata, di api dan membawanya ke Lanka disegel dalam sebuah kotak. Mandodari membuka kotak dan menemukan Padma di dalamnya.

Dia menyarankan Ravana untuk membuang kotak berisi Padma yang naas, yang menyebabkan malapetaka ayahnya. Ketika tutup kotak tertutup, Padma mengutuk Rahwana bahwa dia akan kembali ke Lanka dan menyebabkan malapetaka. Rahwana mengubur kotak di kota Janaka, yang menemukan Padma dan mengangkatnya sebagai Sinta.

Sejarah Asal usul Dewi Mandodari, Dalam Kisah Ramayana

Rahwana digambarkan dalam kesenian dengan sepuluh kepala, menunjukkan bahwa ia memiliki pengetahuan dalam Weda dan sastra. Karena punya sepuluh kepala ia diberi nama "Dasamukha" (दशमुख, bermuka sepuluh), "Dasagriva" (दशग्रीव, berleher sepuluh) dan "Dasakanta" (दशकण्ठ, berkerongkongan sepuluh). Ia juga memiliki dua puluh tangan, menunjukkan kesombongan dan kemauan yang tak terbatas. Ia juga dikatakan sebagai ksatria besar.

ASAL MUASAL DASAMUKA


Ibu Rahwana bernama Kaikesi, seorang puteri Raja Detya bernama Sumali. Sumali memperoleh anugerah dari Brahma sehingga ia mampu menaklukkan para raja dunia. Sumali berpesan kepada Kekasi agar ia menikah dengan orang yang istimewa di dunia. Di antara para resi, Kekasi memilih Wisrawa sebagai pasangannya.

Wisrawa memperingati Kekasi bahwa bercinta di waktu yang tak tepat akan membuat anak mereka menjadi jahat, namun Kekasi menerimanya meskipun diperingatkan demikian. Akhirnya, Rahwana lahir dengan kepribadian setengah brahmana, setengah rakshasa.

Saat lahir, Rahwana diberi nama "Dasanana" atau "Dasagriwa", dan konon ia memiliki sepuluh kepala. Beberapa alasan menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah pantulan dari permata pada kalung yang diberikan ayahnya sewaktu lahir, atau ada yang menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah simbol bahwa Rahwana memiliki kekuatan sepuluh tokoh tertentu.

TAPA KEPADA BRAHMA

Saat masih muda, Rahwana mengadakan tapa memuja Dewa selama bertahun-tahun. Karena berkenan dengan pemujaannya, brahma muncul dan mempersilakan Rahwana mengajukan permohonan. Mendapat kesempatan tersebut, Rahwana memohon agar ia hidup abadi, namun permohonan tersebut ditolak oleh Brahma.

Sebagai gantinya, Rahwana memohon agar ia kebal terhadap segala serangan dan selalu unggul di antara para dewa, makhluk surgawi, rakshasa, detya, danawa, segala naga dan makhluk buas. Karena menganggap remeh manusia, ia tidak memohon agar unggul terhadap mereka. Mendengar permohonan tersebut, Brahma mengabulkannya, dan menambahkan kepandaian menggunakan senjata dewa dan ilmu sihir.

MENJADI RAJA ALENGKA

Setelah memperoleh anugerah Brahma, Rahwana mencari kakeknya, Sumali, dan memintanya kuasa untuk memimpin tentaranya. Kemudian ia melancarkan serangannya menuju Alengka. Alengka merupakan kota yang permai, diciptakan oleh seorang arsitek para dewa bernama Wiswakarma untuk Kubera, Dewa kekayaan.

Kubera juga merupakan putera Wisrawa, dan bermurah hati untuk membagi segala miliknya kepada anak-anak Kekasi. Namun Rahwana menuntut agar seluruh Alengka menjadi miliknya, dan mengancam akan merebutnya dengan kekerasan. Wisrawa menasihati Kubera agar memberikannya, sebab sekarang Rahwana tak tertandingi.

Ketika Rahwana merampas Alengka untuk memulai pemerintahannya, ia dipandang sebagai pemimpin yang sukses dan murah hati. Alengka berkembang di bawah pemerintahannya. Konon rumah yang paling miskin sekalipun memiliki kendaraan dari emas dan tidak ada kelaparan di kerajaan tersebut.

BAKTI KEPADA DEWA SIWA

Setelah keberhasilannya di Alengka, Rahwana mendatangi Dewa Siwa di kediamannya di gunung Kailash. Tanpa disadari, Rahwana mencoba mencabut gunung tersebut dan memindahkannya sambil main-main. Siwa yang merasa kesal dengan kesombongan Rahwana, menekan Kailasha dengan jari kakinya, sehingga Rahwana tertindih pada waktu itu juga.

Kemudian Gana datang untuk memberitahu Rahwana, pada siapa ia harus bertobat. Lalu Rahwana menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Siwa, dan konon ia melakukannya selama bertahun-tahun, sampai Siwa membebaskannya dari hukuman. Terkesan dengan keberanian dan kesetiaannya, Siwa memberinya kekuatan tambahan, khususnya pemberian hadiah berupa Chandrahasa (pedang-bulan), pedang yang tak terkira kuatnya.

Selanjutnya Rahwana menjadi pemuja Siwa seumur hidup. Rahwana terkenal dengan tarian pemujaannya kepada Siwa yang bernama "Shiva Tandava Stotra". Semenjak peristiwa tersebut ia memperoleh nama 'Rahwana', berarti "(Ia) Yang raungannya dahsyat", diberikan kepadanya oleh Siwa – konon bumi sempat berguncang saat Rahwana menangis kesakitan karena ditindih gunung.

MENJADI RAJA DI TIGA DUNIA

Dengan kekuatan yang diperolehnya, Rahwana melakukan penyerangan untuk menaklukkan ras manusia, makhluk jahat (asura – rakshasa – detya – danawa), dan makhluk surgawi. Setelah menaklukkan Patala (dunia bawah tanah), ia mengangkat Ahirawan sebagai raja. Rahwana sendiri menguasai ras asura di tiga dunia. Karena tidak mampu mengalahkan Wangsa Niwatakawaca dan Kalakeya, ia menjalin persahabatan dengan mereka. Setelah menaklukkan para raja dunia, ia mengadakan upacara yang layak dan dirinya diangkat sebagai Maharaja.

Oleh karena Kubera telah menghina tindakan Rahwana yang kejam dan tamak, Rahwana mengerahkan pasukannya menyerbu kediaman para dewa, dan menaklukkan banyak dewa. Lalu ia mencari Kubera dan menyiksanya secara khusus. Dengan kekuatannya, ia menaklukkan banyak dewa, makhluk surgawi, dan bangsa naga.

ISTRI DAN PARA WANITA

Selain terkenal sebagai penakluk tiga dunia, Rahwana juga terkenal akan petualangannya menaklukkan para wanita. Rahwana memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Mandodari, putera Mayasura dengan seorang bidadari bernama Hema. Ramayana mendeskripsikan bahwa istana Rahwana dipenuhi oleh para wanita cantik yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Dalam Ramayanajuga dideskripsikan bahwa di Alengka, semua wanita merasa beruntung apabila Rahwana menikahinya. Dua legenda terkenal menceritakan kisah pertemuan Rahwana dengan wanita istimewa.

Wanita istimewa pertama adalah Wedawati, seorang pertapa wanita. Wedawati mengadakan pemujaan ke hadapan Wisnuagar ia diterima menjadi istrinya. Ketika Rahwana melihat kecantikan Wedawati, hatinya terpikat dan ingin menikahinya. Ia meminta Wedawati untuk menghentikan pemujaannya dan ia merayu Wedawati agar bersedia untuk menikahinya.

Karena Wedawati menolak, Rahwana mencoba untuk melarikannya. Kemudian Wedawati bersumpah bahwa ia akan lahir kembali sebagai penyebab kematian Rahwana. Setelah berkata demikian, Wedawati membuat api unggun dan menceburkan diri ke dalamnya. Bertahun-tahun kemudian ia bereinkarnasi sebagai Sita, yang diculik oleh Rahwana sehingga Rama turun tangan dan membunuh Rahwana.

PENCULIKAN DEWI SINTA

Setelah pos jaga para raksasa di Yanasthanadihancurkan oleh Rama dan Laksmana, berita tersebut disampaikan kepada Rahwana. Menteri Rahwana yang bernama Akampana menyarankan agar Rahwana mau menculik Sita, namun niat tersebut ditolak oleh Marica. Setelah adik perempuan Rahwana yang bernama Surpanaka mengadu bahwa dua orang kesatria telah melukainya, Rahwana marah besar. Ia segera menuju ke kediaman Marica untuk meminta bantuan, tanpa memedulikan nasihat baik dari Marica.

Setelah rencana disusun, Marica menyamar menjadi kijang kencana untuk mengalihkan perhatian Rama, sedangkan Rahwana menyamar menjadi seorang brahmana tua yang lemah. Ketika Rama dan Laksmana berada jauh, Rahwana segera menjangkau Sita, dan setelah itu Sita dibawa kabur. Sita disekap di taman Asoka, letaknya di dalam lingkungan istana Rahwana di kerajaan Alengka. Di sana, Rahwana berkali-kali mencoba merayu Sita namun tidak pernah berhasil.

MATI DI MEDAN PERTEMPURAN

Tindakan Rahwana mengundang kemarahan Rama. Dengan bantuan dari raja wanarabernama Sugriwa, Rama menggempur Alengka. Untuk mengantisipasi serangan Rama, Rahwana mengirimkan pasukan terbaiknya yang dipimpin oleh raksasa-raksasa kuat. Serangan pertama dilakukan oleh Hanoman pada saat ia datang ke Alengka sebagai mata-mata untuk menemui Sita.

Dalam pertempuran tersebut, putera Rahwana yang bernama Aksayakumara gugur. Dalam pertempuran selanjutnya, para menteri dan kerabat Rahwana gugur satu persatu, termasuk Indrajit putera Rahwana dan Kumbakarna adik Rahwana.

Pada hari pertempuran terakhir, Rahwana maju ke medan perang sendirian dengan menaiki kereta kencana yang ditarik delapan ekor kuda terpilih. Ketika ia keluar dari Alengka, langit menjadi gelap oleh gerhana matahari yang tak terduga. Beberapa orang berkata bahwa itu merupakan pertanda buruk bagi Rahwana yang tidak menghiraukannya sama sekali. Pertempuran terakhir antara Rama dengan Rahwana berlangsung dengan sengit.

Pada pertempuran itu, Rama menaiki kereta Indra dari sorga, yang dikemudikan oleh Matali. Setiap Rama mengirimkan senjatanya untuk menghancurkan Rahwana, raksasa tersebut selalu dapat bangkit kembali sehingga membuat Rama kewalahan. Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rama menggunakan senjata Brahmastra yang tidak biasa. Senjata tersebut menembus dada Rahwana dan merenggut nyawanya seketika.

Salah satu versi Ramayana menceritakan bahwa Rahwana tidak mampu dibunuh meski badannya dihancurkan sekalipun, sebab ia menguasai ajian Rawarontek serta Pancasona. Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rama menggunakan senjata sakti yang dapat berbicara bernama Kyai Dangu. Senjata tersebut mengikuti kemana pun Rahwana pergi untuk menyayat kulitnya. Setelah Rahwana tersiksa oleh serangan Kyai Dangu, ia memutuskan untuk bersembunyi di antara dua gunung kembar.

Saat ia bersembunyi, perlahan-lahan kedua gunung itu menghimpit badan Rahwana sehingga raja raksasa itu tidak berkutik. Menurut cerita, kedua gunung tersebut adalah kepala dari Sondara dan Sondari, yaitu putera kembar Rahwana yang dibunuh untuk mengelabui Sinta.

Asal usul Prabu Dasamuka (Rahwana) Raja Alengkadiraja

Dalam kisah Ramayana, setelah gagal membujuk kakaknya untuk mengembalikan Sita kepada Rama, Wibisana memutuskan untuk berpihak pada Rama yang diyakininya sebagai pihak yang benar. Hal ini berarti dia harus melawan kakaknya sendiri (Rahwana) demi membela kebenaran.


Menarik untuk dilihat bahwa Kumbakarna (yang juga masih saudara kandung dengan Wibisana dan Rawana) mengambil sikap yang berlawanan, dimana Kumbakarna tetap membela tanah air, walaupun menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Wibisana merupakan tokoh yang menunjukkan bahwa kebenaran itu menembus batas-batas nasionalisme, bahkan ikatan persaudaraan.

BERPIHAK PADA SRI RAMA

Karena merasa tidak mendapat tempat di Alengka, Wibisana pergi bersama empat rakshasa yang baik dan menghadap Rama. Dalam perjalanan ia dihadang oleh Sugriwa, raja wanara yang mencurigai kedatangan Wibisana dari Alengka. Setelah Rama yakin bahwa Wibisana bukan orang jahat, Wibisana menjanjikan persahabatan yang kekal.

Dalam misi menghancurkan Rahwana, Wibisana banyak memberi tahu rahasia Alengka dan seluk-beluk setiap rakshasa yang menghadang Rama dan pasukannya. Wibisana juga sadar apabila ada mata-mata yang menyusup ke tengah pasukan wanara, dan melaporkannya kepada Rama. Saat pasukan wanara berhasil dikelabui oleh Indrajit, Wibisana adalah orang yang tanggap dan mengetahui akal Indrajit yang licik.

Ketika Kumbakarna maju menghadapi Ramadan pasukannya, Wibisana memohon agar ia diberi kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Rama mengabulkan dan mempersilakan Wibisana untuk bercakap-cakap sebelum pertempuran meletus. Saat bertatap muka dengan Kumbakarna, Wibisana memohon agar Kumbakarna mengampuni kesalahannya sebab ia telah menyeberang ke pihak musuh. Wibisana juga pasrah apabila Kumbakarna hendak membunuhnya.

Melihat ketulusan adiknya, Kumbakarna merasa terharu. Kumbakarna tidak menyalahkan Wibisana sebab ia berbuat benar. Kumbakarna juga berkata bahwa ia bertempur karena terikat dengan kewajiban, dan bukan semata-mata karena niatnya sendiri. Setelah bercakap-cakap, Wibisana mohon pamit dari hadapan Kumbakarna dan mempersilakannya maju untuk menghadapi Rama.

Setelah Kumbakarna dan Rahwana dibunuh oleh Rama, Wibisana dan para sahabatnya menyelenggarakan upacara pembakaran yang layak bagi kedua ksatria tersebut. Kemudian ia dinobatkan menjadi Raja Alengka yang sah. Ia merawat Mandodari, janda yang ditinggalkan Rahwana, dan hidup bersama dengan permaisurinya yang bernama Sarma. Wibisana memerintah Alengka dengan bijaksana. Ia mengubah Alengka menjadi kota yang berlandaskan dharma dan kebajikan, setelah sebelumnya rusak karena pemerintahan Rahwana.

VERSI WAYANG JAWA

Dalam pewayangan, Wibisana dilukiskan berwajah tampan dan terlahir sebagai manusia seperti ayahnya, bukan raksasa. Ayahnya bernama Wisrawa dari Pertapaan Argawirangin, sedangkan ibunya bernama Sukesi dari Kerajaan Alengka.

Wibisana menikah dengan bidadari bernama Triwati. Dari perkawinan itu lahir dua orang anak bernama Trijata dan Bisawarna. Trijata bertindak sebagai perawat dan penjaga Sintaketika disekap oleh Rahwana.

Wibisana menyeberang ke pihak Ramasetelah diusir oleh Rahwana karena berani menentang perbuatan kakaknya itu yang telah menculik Sinta. Ia kemudian menjadi penasihat strategi perang di pihak Rama. Dalam pewayangan Jawa, yang menewaskan Indrajit putra Rahwana adalah Wibisana bukan Laksmana.

Setelah Rahwana terbunuh, Wibisana menolak menjadi raja Alengka. Dalam tradisi Jawa ada sebuah kepercayaan bahwa istana yang baru saja dirusak musuh tidak baik untuk ditempati karena masih menyimpan energi negatif. Oleh karena itu, Wibisana membangun ibu kota baru di Parangkuntara, dan mengganti nama Kerajaan Alengka menjadi Kerajaan Singgelapura.

Setelah memerintah cukup lama, Wibisana pun turun takhta menjadi resi di Gunung Cindramanik. Kerajaan Singgelapura kemudian diwariskan kepada putranya, yaitu Bisawarna yang bergelar Prabu Dentawilukrama. Wibisana mencapai moksa pada zaman kehidupan para Pandawa.

Sejarah Kematian Wibisana dalam kisah Ramayana

Menurut kisah Ramayana, Wibisana adalah putra bungsu pasangan Wisrawa dan Kaikesi. Ayahnya seorang resi putra Pulastya. Sementara ibunya adalah putri Sumali, seorang raja Rakshasa dari Kerajaan Alengka.


Ia adalah adik kandung Rahwana yang menyeberang ke pihak Sri Rama. Dalam perang besar antara bangsa Rakshasamelawan Wanara, Wibisana banyak berjasa membocorkan kelemahan kaumnya, sehingga pihak Wanara yang dipimpin Rama memperoleh kemenangan. Sepeninggal Rahwana, Wibisana menjadi raja Alengka. Ia dianggap sebagai salah satu Chiranjiwin, yaitu makhluk abadi selamanya.

Versi lain, yaitu Mahabharata menyebut Wibisana sebagai putra wisrawa dan Malini. Menurut versi kedua tersebut, Kaikesi hanya melahirkan dua seorang putra saja, yaitu Rahwana dan Kumbakarna.

Wibisana menikah dengan seorang wanita dari bangsa Rakshasa bernama Sarama. Istrinya itu juga bersifat bijaksana. Ia menjadi pelindung Sita istri Rama ketika ditawan Rahwana.

SIFAT WIBISANA

Meskipun berasal dari bangsa Rakshasa, namun Wibisana memiliki kepribadian yang berbeda. Biasanya para Rakshasa dikisahkan sebagai pembuat onar, perusuh kaum brahmana, dan pemakan daging manusia. Namun Wibisana terkenal berhati lembut dan hidup dalam kebijaksanaan.

Wibisana menghabiskan masa mudanya dengan bertapa memuja Wisnu. Ia juga memuja Brahma bersama dengan kedua kakaknya, yaitu Rahwana dan Kumbakarna. Ketika Dewa Brahma turun untuk memberikan anugerah, Rahwana dan Kumbakarna mengajukan permohonan diberi kekuatan dan kesaktian untuk bisa menaklukkan para dewa.

Wibisana bersikap lain. Ia justru meminta agar selalu berada di jalan kebenaran atau dharma. Ia tidak minta diberi kekuatan, tetapi minta diberi kebijaksanaan.

WIBISANA DI KERAJAAN ALENGKA DIRAJA

Dalam kisah Ramayana, setelah gagal membujuk kakaknya untuk mengembalikan Sinta kepada Rama, Wibisana memutuskan untuk berpihak pada Rama yang diyakininya sebagai pihak yang benar. Hal ini berarti dia harus melawan kakaknya sendiri (Rahwana) demi membela kebenaran.

Menarik untuk dilihat bahwa Kumbakarna (yang juga masih saudara kandung dengan Wibisana dan Rawana) mengambil sikap yang berlawanan, dimana Kumbakarna tetap membela tanah air, walaupun menyadari bahwa dia berada di pihak yang salah. Wibisana merupakan tokoh yang menunjukkan bahwa kebenaran itu menembus batas-batas nasionalisme, bahkan ikatan persaudaraan.

WIBISANA BERPIHAK PADA SRI RAMA

Karena merasa tidak mendapat tempat di Alengka, Wibisana pergi bersama empat rakshasa yang baik dan menghadap Rama. Dalam perjalanan ia dihadang oleh Sugriwa, raja wanara yang mencurigai kedatangan Wibisana dari Alengka. Setelah Rama yakin bahwa Wibisana bukan orang jahat, Wibisana menjanjikan persahabatan yang kekal.

Dalam misi menghancurkan Rahwana, Wibisana banyak memberi tahu rahasia Alengka dan seluk-beluk setiap rakshasa yang menghadang Rama dan pasukannya. Wibisana juga sadar apabila ada mata-mata yang menyusup ke tengah pasukan wanara, dan melaporkannya kepada Rama.

Saat pasukan wanara berhasil dikelabui oleh Indrajit, Wibisana adalah orang yang tanggap dan mengetahui akal Indrajit yang licik.

Ketika Kumbakarna maju menghadapi Rama dan pasukannya, Wibisana memohon agar ia diberi kesempatan berbincang-bincang dengan kakaknya itu. Rama mengabulkan dan mempersilakan Wibisana untuk bercakap-cakap sebelum pertempuran meletus. Saat bertatap muka dengan Kumbakarna, Wibisana memohon agar Kumbakarna mengampuni kesalahannya sebab ia telah menyeberang ke pihak musuh.

Wibisana juga pasrah apabila Kumbakarna hendak membunuhnya. Melihat ketulusan adiknya, Kumbakarna merasa terharu. Kumbakarna tidak menyalahkan Wibisana sebab ia berbuat benar. Kumbakarna juga berkata bahwa ia bertempur karena terikat dengan kewajiban, dan bukan semata-mata karena niatnya sendiri.

Setelah bercakap-cakap, Wibisana mohon pamit dari hadapan Kumbakarna dan mempersilakannya maju untuk menghadapi Rama.

WIBISANA MENJADI RAJA ALENGKA

Setelah Kumbakarna dan Rahwana dibunuh oleh Sri Rama, Wibisana dan para sahabatnya menyelenggarakan upacara pembakaran yang layak bagi kedua ksatria tersebut. Kemudian ia dinobatkan menjadi Raja Alengka yang sah. Ia merawat Mandodari, janda yang ditinggalkan Rahwana, dan hidup bersama dengan permaisurinya yang bernama Sarma.

Wibisana memerintah Alengka dengan bijaksana. Ia mengubah Alengka menjadi kota yang berlandaskan dharma dan kebajikan, setelah sebelumnya rusak karena pemerintahan Rahwana.

Kisah Asal Usul Wibisana Dalam Ramayana

Kumbakarna adalah saudara kandung Rahwana, raja rakshasa dari Alengka. Kumbakarna merupakan seorang rakshasa yang sangat tinggi dan berwajah mengerikan, tetapi bersifat perwira dan sering menyadarkan perbuatan kakaknya yang salah.


Ia memiliki suatu kelemahan, yaitu tidur selama enam bulan, dan selama ia menjalani masa tidur, ia tidak mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

Ayah Kumbakarna adalah seorang resi bernama Wisrawa, dan ibunya adalah Kekasi, puteri seorang Raja Detya bernama Sumali. Rahwana, Wibisana dan Surpanaka adalah saudara kandungnya, sementara Kubera, Kara, Dusana, Kumbini, adalah saudara tirinya. Marica adalah pamannya, putera Tataka, saudara Sumali.

Kumbakarna memiliki putera bernama Kumba dan Nikumba. Kedua puteranya itu gugur dalam pertempuran di Alengka. Kumba menemui ajalnya di tangan Sugriwa, sedangkan Nikumba gugur di tangan Hanoman.

SUKA TIDUR PANJANG

Saat Rahwana dan Kumbakrana mengadakan tapa, Dewa Brahma muncul karena berkenan dengan pemujaan yang mereka lakukan. Brahma memberi kesempatan bagi mereka untuk mengajukan permohonan.

Saat tiba giliran Kumbakarna untuk mengajukan permohonan, Dewi Saraswati masuk ke dalam mulutnya untuk membengkokkan lidahnya, maka saat ia memohon "Indraasan" (Indrāsan – tahta Dewa Indra), ia mengucapkan "Neendrasan" (Nīndrasan – tidur abadi). Brahma mengabulkan permohonannya.

Karena merasa sayang terhadap adiknya, Rahwana meminta Brahma agar membatalkan anugerah tersebut. Brahma tidak berkenan untuk membatalkan anugrahnya, namun ia meringankan anugrah tersebut agar Kumbakarna tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan. Pada saat ia menjalani masa tidur, ia tidak akan mampu mengerahkan seluruh kekuatannya.

MENJADI PENASEHAT DI KERAJAAN ALENGKA

Kumbakarna sering memberikan nasihat kepada Rahwana, menyadarkan bahwa tindakanya keliru. Ketika Rahwana kewalahan menghadapi Sri Rama, maka ia menyuruh Kumbakarna menghadapinya. Kumbakarna sebenarnya tahu bahwa kakaknya salah, tetapi demi membela Alengka tanah tumpah darahnya dia pun maju sebagai prajurit melawan serbuan Rama.

Kumbakarna sering dilambangkan sebagai perwira pembela tanah tumpah darahnya, karena ia membela Alengka untuk segala kaumnya, bukan untuk Rahwanasaja, dan ia berperang melawan Rama tanpa rasa permusuhan, hanya semata-mata menjalankan kewajiban.

PERTEMPURAN DAN KEMATIAN KUMBAKARNA

Saat Kerajaan Alengka diserbu oleh Rama dan sekutunya, Rahwana memerintahkan pasukannya untuk membangunkan Kumbakarna yang sedang tertidur. Utusan Rahwana membangunkan Kumbakarna dengan menggiring gajah agar menginjak-injak badannya serta menusuk badannya dengan tombak, kemudian saat mata Kumbakarna mulai terbuka, utusannya segera mendekatkan makanan ke hidung Kumbakarna. Setelah menyantap makanan yang dihidangkan, Kumbakarna benar-benar terbangun dari tidurnya.

Setelah bangun, Kumbakarna menghadap Rahwana. Ia mencoba menasihati Rahwana agar mengembalikan Sita dan menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan kakaknya itu adalah salah. Rahwana sedih mendengar nasihat tersebut sehingga membuat Kumbakarna tersentuh.

Tanpa sikap bermusuhan dengan Rama, Kumbakarna maju ke medan perang untuk menunaikan kewajiban sebagai pembela negara. Sebelum bertarung Kumbakarna berbincang-bincang dengan Wibisana, adiknya, setelah itu ia berperang dengan pasukan wanara.

Dalam peperangan, Kumbakarna banyak membunuh pasukan wanara dan banyak melukai prajurit pilihan seperti Anggada, Sugriwa, Hanoman, Nila, dan lain-lain. Dengan panah saktinya, Rama memutuskan kedua tangan Kumbakarna.

Namun dengan kakinya, Kumbakarna masih bisa menginjak-injak pasukan wanara. Kemudian Rama memotong kedua kaki Kumbakarna dengan panahnya. Tanpa tangan dan kaki, Kumbakarna mengguling-gulingkan badannya dan melindas pasukan wanara.

Melihat keperkasaan Kumbakarna, Rama merasa terkesan dan kagum. Namun ia tidak ingin Kumbakarna tersiksa terlalu lama. Akhirnya Rama melepaskan panahnya yang terakhir. Panah tersebut memisahkan kepala Kumbakarna dari badannya dan membawanya terbang, lalu jatuh di pusat kota Alengka.

Asal Usul Kumbakarna Dalam Kisah Ramayana

Indrajit adalah salah satu putera Rahwana dan menjadi putera mahkota Kerajaan Alengka.


Indrajit merupakan ksatria yang sakti mandraguna, dalam perang antara pihak Rama dan Rahwana, Indrajit sering merepotkan bala tentara Rama dengan kesaktiannya. Ia punya senjata sakti yang bernama Nagapasa, apabila senjata tersebut dilepaskan, maka akan keluar ribuan naga meyerang ke barisan musuh.

Ayah Indrajit adalah Rahwana, sedangkan ibunya adalah Mandodari. Indrajit diberi nama “Meghanada” saat lahir sebab ketika ia menangis untuk yang pertama kalinya, bunyi petir dan guruh mengiringinya, menandakan kelahiran ksatria besar. Nama julukan ‘Indrajit’ (“penakluk Indra”) dianugerahkan oleh Dewa Brahma ketika ia mengalahkan dan memenjarakan Indra, Raja para Dewa.

Senjata Brahmastra diberikan kepada Indrajit pada kesempatan tersebut. Konon senjata tersebut memiliki kekuatan menakjubkan dan jika lepas dari busurnya, senjata itu bisa mematahkan busur lawan dan membunuh seseorang sesuai dengan keinginan.

Saat tentara wanara tiba di Alengka, pertempuran sengit terjadi antara para rakshasa dengan para wanara. Indrajit terlibat duel sengit dengan Anggada. Meski semua senjata sudah dikeluarkan Indrajit, tak satu pun yang membuat Anggada mundur.

Akhirnya Indrajit melepas senjata Nagapasa dan langsung merenggut Rama dan Laksmana. Senjata tersebut merupakan guna-guna yang membuat musuh tak berkutik. Ketika berita kemenangan Indrajit tersiar di Alengka, Rahwana mengadakan pesta besar di istananya.

Di kubu Rama, para wanara bersedih karena pemimpin mereka tak berdaya. Saat mereka sedang berduka, tiba-tiba muncul burung Garuda. Kedatangan burung tersebut membuat naga-naga yang mengikat tubuh Rama dan Laksmana kabur. Akhirnya Rama dan Laksmana bangkit kembali dan siap mengadakan serangan balasan.

Setelah Rama dan pasukannya mengalahkan Kumbakarna, Trisirah, Narantaka, Akampana, dan prajurit rakshasa pilihan dari Alengka, Indrajit melepaskan senjata Brahmastra dan membuat Rama dan Laksmana kembali tak berkutik. Namun mereka bangkit lagi berkat tanaman obat yang dibawa oleh Hanoman.

Kemudian pasukan wanara memasuki kota Alengka. Untuk melemahkan semangat para wanara, Indrajit menciptakan Sinta palsu dengan ilmu sihirnya. Sinta palsu itu dibunuh lalu diperlihatkan kepada para wanara, sebab para wanara bertarung demi menyelamatkan Sinta dan apabila Sinta terbunuh, mereka merasa bahwa peperangan berlangsung dengan percuma.

Karena melihat Indrajit membunuh Sinta, para wanara menghentikan pertarungannya. Wibisana tanggap dan sadar bahwa Indrajit sedang mengelabui para wanara agar ia bisa menyelenggarakan ritual untuk memperoleh kekuatan, sebab apabila ritual yang dilakukannya sempurna, maka kekuatannya tidak akan terkalahkan. Agar Indrajit dapat dikalahkan, Wibisana menyuruh Laksmana untuk mengganggu ritual Indrajit.

Dengan ditemani para wanara, Laksmana segera pergi ke tempat Indrajit mengadakan ritual. Sebelum ritual itu sempurna, para wanara mengacaukan tempat tersebut. konsentrasi Indrajit buyar sehingga perang terjadi.

Laksmana yang tidak ingin peperangan itu berlarut-larut, segera mengeluarkan panah Indrāstra dan mengucapkan do’a atas nama Rama, lalu melepaskan senjata tersebut dari busurnya. Panah itu memutuskan kepala Indrajit dari badannya. Saat menyentuh bumi, kepala Indrajit menyala-nyala bagai api.

Sejarah Asal Usul Indrajit Dalam Kisah Ramayana