Tampilkan postingan dengan label Letusan Gunung Agung 1963. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Letusan Gunung Agung 1963. Tampilkan semua postingan
Gempa bumi tektonik dari gunung berapi telah terdeteksi sejak awal Agustus, dan aktivitas gunung berapi tersebut meningkat selama beberapa minggu sebelum menurun secara signifikan pada akhir Oktober. Periode kedua dari kegiatan utama dimulai pada akhir November.


Gempa vulkanik telah diamati dari 10 Agustus 2017 dan intensitas aktivitas meningkat dalam minggu-minggu berikutnya. Penurunan aktivitas terjadi pada akhir September, sebelum periode kedua dari kegiatan yang lebih besar dimulai pada akhir November.

BULAN SEPTEMBER

Pada September 2017, peningkatan gemuruh dan aktivitas seismik di sekitar gunung berapi mengakibatkan penaikan status dari "waspada" menjadi "level tertinggi" dan sekitar 122.500 orang dievakuasi dari rumah mereka yang berada di sekitar gunung berapi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Indonesia mendeklarasikan zona eksklusi 12 km di sekitar gunung berapi pada 24 September lalu.

Pengungsi berkumpul di ruang olahraga dan bangunan masyarakat di sekitar Klungkung, Karangasem, Buleleng, dan daerah lainnya. Stasiun pemantauan Gunung Agung terletak di Tembuku, Rendang, Kabupaten Karangasem, di mana intensitas dan frekuensi getaran gunung tersebut terus dipantau akan tanda-tanda akan terjadi letusan besar.

Daerah tersebut mengalami 844 gempa vulkanik pada tanggal 25 September, dan 300 sampai 400 gempa bumi pada tengah hari pada 26 September. Seismolog khawatir pada kekuatan dan frekuensi dari kejadian-kejadian seperti ini merupakan tanda-tanda bahwa gunung tersebut akan mengalami erupsi.

BULAN OKTOBER

Pada akhir Oktober 2017, aktivitas gunung berapi menurun secara signifikan, yang mengarah ke penurunan status "waspada" pada 29 Oktober.

Tingkat siaga tetap pada 3 (dari 4) hingga awal kedua periode kegiatan utama, dan abu yang dikeluarkan oleh gunung tersebut juga diamati dalam waktu ini.

Tanggal 21 Oktober

Ada letusan freatik yang dilaporkan pada pukul 09.05 (UTC), dengan awan abu atas mencapai 3.842 meter (12.605 ft) di atas permukaan laut. Ribuan orang segera melarikan diri dari daerah tersebut, dan lebih dari 29.000 pengungsi sementara dilaporkan akan ditempatkan di lebih dari 270 lokasi terdekat.

Tanggal 25 Oktober

Sebuah letusan magma dimulai lebih awal pada Sabtu pagi. Abu gunung berapi dilaporkan naik sekitar 1,5–4 km di atas puncak kawah, dan hanyut ke arah selatan dan menyebabkan lokasi di sekitarnya ditutupi oleh abu vulkanik dengan lapisan tipis abu berwarna gelap.

Peristiwa ini menyebabkan beberapa maskapai penerbangan membatalkan penerbangannya menuju Australia dan Selandia Baru. Sebuah cahaya oranye kemudian diamati di sekitar kawah di malam hari, yang menyatakan bahwa magma segar sudah mencapai permukaan Gunung Agung.

Tanggal 26 November

Pada pukul 23.37 (UTC), letusan lainnya terjadi. Bandar udara Internasional Ngurah Raiditutup pada hari berikutnya, dan menyebabkan banyak wisatawan terdampar.

Lebih dari 100.000 orang dalam radius 10-kilometer (6,2 mi) dari gunung berapi telah diperintahkan untuk mengungsi.

Tanggal 27 Oktober

Letusan pada hari Minggu berlanjut pada tingkat yang konstan, dan lahar gunung telah mencapai di bagian selatan dari gunung berapi. Biro Meteorologi Pemerintah Australia melaporkan bahwa bagian atas kolom letusan mencapai ketinggian 9,144 m (5.7 km).

Abu terus menyebar ke arah tenggara, dan perkiraan dari Pacific Disaster Centermemperkirakan bahwa paparan abu di atmosfer akan mempengaruhi hingga 5.6 juta orang yang berada di satu wilayah padat penduduk di sekitar gunung berapi.

DAMPAK LETUSAN

Letusan tersebut menyebabkan sekitar 40.000 orang harus dievakuasi dari 22 desa di sekitar Gunung Agung. Letusan ini juga menyebabkan bandara sekitar gunung tersebut ditutup.

Bandara Internasional Lombok, yang terletak di pulau tetangga Lombok, ditutup pada 26 November, namun dibuka kembali keesokan harinya.

Bandara Internasional Ngurah Rai, terletak di ujung selatan pulau dan barat daya dari gunung berapi, ditutup pada 27 November.

Lebih dari 400 penerbangan dibatalkan dan sekitar 59.000 penumpang tetap tinggal. Penutupan bandara akan diperpanjang sampai 30 November.

Letusan dan Erupsi Gunung Agung Tahun 2017


Letusan dahsyat Gunung Agung yang berlangsung dua kali pada tahun 1963 dalam satu periode letusan itu, menurut pendataan Bpk. Kusumadiata, telah merenggut 1.148 korban jiwa dan 296 luka-luka.

Dalam laporan yang dibuat Kepala Bagian Vulkanologi Direktorat Geologi Djajadi Hadikusumo ke UNESCO, letusan itu telah menewaskan 1.549 orang.

Sekitar 1.700 rumah hancur, sekitar 225.000 jiwa kehilangan mata pencaharian, dan sekitar 100.000 jiwa harus dievakuasi dari zona bahaya.

Dampak susulan berupa banjir lahar kemudian menghancurkan perkampungan di lereng selatan Gunung Agung dan menewaskan 200 orang.

Delapan jembatan hancur. Karangasem terisolasi total. Pasokan bahan pangan dan obat-obatan terpaksa dilakukan melalui laut.

Tak hanya Karangasem, bencana itu juga memukul seluruh Pulau Bali. Sebanyak 316.518 ton produksi pangan hancur.

Bencana itu diperparah dengan gempa bumi yang melanda Bali pada 18 Mei 1963, lalu Gunung Batur pun meletus pada September 1963 hingga Mei 1964.


Geoffrey Robinson dari Universitas Cornell Ithaca, New York, dalam The Dark Side of Bali (1992), menulis, wabah penyakit sampar atau pes yang mendera Bali pada 1960 semakin memperparah situasi.

Bencana yang sambung menyambung dan kemiskinan yang semakin mencekik itu diikuti pergolakan politik.

Barisan Tani Indonesia (BTI), organisasi di bawah payung Partai Komunis Indonesia yang sedang memperjuangkan reformasi agraria, mendapat sambutan luas di kalangan masyarakat Bali yang disesaki penderitaan.

Gerakan itu akhirnya berujung pada pembantaian massal yang menewaskan 80.000 jiwa atau sekitar 5 persen penduduk Bali dalam ontran-ontran politik pada tahun 1965. Bali berada di titik nadir.

Di tengah kehancuran dan kekacauan, warga di lereng Gunung Agung kembali ke desanya. Hanya setahun desa-desa itu dikosongkan.

Kuburan massal korban letusan di Badeg Dukuh dibongkar dan warga yang selamat kemudian menggelar upacara besar sebelum mengubur kembali jasad korban.

Upacara itu juga menandai kembalinya warga dari pengungsian ke Badeg Dukuh yang sebelumnya luluh lantak diterjang awan panas.

”Saya kembali ke Badeg Dukuh karena di sinilah asal saya,” ujar Sudana. Tak semua korban selamat kembali ke Badeg Dukuh dan Sogra. ”Ada juga keluarga saya yang hingga saat ini tidak mau kembali, mereka sekarang tinggal di Buleleng,” kata Sudana.

Namun, mayoritas warga kembali ke desa mereka dan menata kembali kehidupan di atas puing-puing kehancuran.

Awal Oktober 2011. Beberapa saksi mata masih hidup. Namun, jejak petaka 48 tahun silam itu nyaris tak terlihat. Letusan yang dulu dianggap murka dewa-dewa kini dipandang sebagai anugerah.

Batu dan pasir yang dimuntahkan oleh letusan menjadi penyangga utama pembangunan hotel, restoran, dan vila-vila yang menopang pariwisata Pulau Bali.

Abu vulkanik yang pernah menyelimuti nyaris seluruh pulau ini juga disyukuri sebagai penyubur alami.

Warga di lereng Gunung Agung, seperti Sogra dan Badeg Dukuh, seolah tak pernah mengalami petaka yang menewaskan ratusan leluhur mereka. Anak-anak muda hanya mengerti kisah itu samar-samar.

”Masyarakat di sini meyakini gunung akan meletus kalau kawahnya sudah penuh,” ujar Ni Wayan Trisnawati (26), anak Mangku Turut. Namun, ia tidak bisa mendeskripsikan material seperti apa yang mengisi kawah dan bencana yang akan terjadi jika isi kawah itu luber.

Warga Sogra juga tidak memiliki sistem pemantauan mandiri terhadap aktivitas Gunung Agung. Bahkan, banyak warga yang tidak mengetahui lokasi pos pengamatan Gunung Agung di Desa Rendang, sekitar 8 kilometer dari Sogra. Mereka bahkan kurang peduli dengan kegiatan pemantauan itu.

”Masyarakat di sini tidak tahu kalau ada pos pemantauan gunung api,” ujar Trisna setelah bertanya kepada tiga saudaranya. Mangku Raja, Kepala Desa Badeg Dukuh, juga tidak mengetahui tentang pos pemantauan Gunung Agung.

Seperti leluhurnya, mereka lebih menumpukan proses mitigasi melalui ritual doa. ”Usaha untuk menangkal bahaya letusan gunung api dilakukan melalui upacara di Pura Pasar Agung,” katanya.

Pura ini paling dekat dengan kawah Gunung Agung, sekitar 4 kilometer. Pura Pasar Agung terkubur material vulkanik saat erupsi 1963. Fondasi pura ditemukan melalui penggalian 15 tahun lalu dan dibangun kembali, lebih besar dibandingkan sebelumnya.

SUMBER : BALI.TRIBUNNEWS.COM

Letusan Gunung Agung Terdahsyat dan Terbesar Tahun 1963