Social Items

Showing posts with label Legenda Nyi Roro Kidul. Show all posts
Showing posts with label Legenda Nyi Roro Kidul. Show all posts
Prabu Siliwangi dikenal sebagai salah satu Raja Pajajaran sebagaimana dituliskan dalam kitab Suwasit. Kitab yang berisi sejarah Kerajaan Padjajaran ini berisi tulisan tentang perjalanan Sejarah Prabu Siliwangi dimulai dari ayahnya, Prabu Anggararang Raja Kerajaan Gajah.

Pada masa mudanya, Prabu Siliwangi diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan Singapura (sebelum bernama kota Cirebon). Prabu Siliwangi adalah keturunan ke-12 dari Maharaja Adimulia. Setelah Prabu Anggararang merasa puteranya layak memangku jabatan raja Gajah, akhirnya kerajaan diserahkan kepada Pangeran Pamanah Rasa (sebelum bergelar Siliwangi).

Bagi masyarakat Sunda atau Jawa Barat, siapa yang tidak mengenal nama Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran yang identik dengan Harimau Putih itu dikenal sebagai salah satu raja sakti yang pernah dimiliki oleh negeri Pasundan (Jawa Barat). Nama Prabu Siliwangi sendiri sesungguhnya adalah nama lain dari Pangeran Pamanah Rasa.

Dalam Kitab Suwasit, dikisahkan bahwa Pangeran Pamanah Rasa merupakan putra mahkota dari Prabu Anggararang yang menguasai Kerajaan Gajah. Pangeran Pamanah kemudian melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Prabu Anggararang sebagai Raja gajah.

Berikut ini kami telah merangkum beberapa kesaktian dan kedigdayaan Prabu Siliwangi :

1. Dalam Kitab Suwasit di ceritakan bahwa "pada saat Prabu Siliwangi menjadi Raja di Kerajaan Gajah beliau dikisahkan  mampu mengalahkan siluman harimau putih".

2. Prabu Siliwangi bisa memindahkan Kerajaan Pajajaran ke alam ghaib,

3. Prabu Siliwangi pandai dalam menyusun strategi untuk mengalahkan musuhnya dengan sangat mudah.

SENJATA AMPUH PRABU SILIWANGI

Prabu Siliwangi telah memerintahkan Eyang Jaya Perkasa untuk membuat tiga senjata keramat.

Senjata-senjata itu tidak lain adalah senjata kujang yang tiap-tiap pegangannya diberi bentuk harimau dengan warna yang berbeda-beda. Diantaranya yaitu:

1. Kujang pertama berwarna hitam, dibuat dari batu meteor yang jatuh dari langit.
2. Kujang kedua berwarna kuning, dibuat dari api yang dibekukan menjadi besi kuning.
3. Kujang ketiga berwarna putih, dibuat dari besi biasa namun direndam oleh air suci sehingga berwarna putih mengkilat. Ketiga senjata keramat itulah yang kemudian dinamai sebagai ‘Kujang Tiga Serangkai’.

Itulah kesaktian dan senjata yang telah dimiliki oleh Prabu Siliwangi Pajajaran.

Inilah Kesaktian Prabu Siliwangi Dan Senjata Ampuhnya

Dewi Nawangwulan adalah ratu sebuah kerajaan kecil pada masa Kerajaan Majapahit. Ia adalah keturunan raja Melayu yang diambil menantu oleh Bhre Wengker (1456-1466), seorang raja Majapahit.

Suaminya adalah Jaka Tarub, sementara ia sendiri menjadi salah satu dari tujuh bidadari yang mandi di telaga. Keduanya memiliki putri bernama Dewi Nawangsih. Nawangsih menikah dengan Raden Bondan Kejawan atau Lembu Peteng, pangeran Majapahit yang diangkat anak oleh Jaka Tarub. Keduanya adalah moyang dari Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Dalam legenda, saat Nawangwulan sampai di khayangan, ia ditolak karena sudah berbau manusia. Nawang Wulan kembali turun ke bumi tetapi tidak bermaksud kembali ke suaminya. Ia naik gunung Merbabu dan meloncat ke laut selatan untuk bunuh diri.

Sebelum bunuh diri di laut selatan, Nyi Nawang Wulan berperang dengan Nyi Roro Kidul dan memperoleh kemenangan, sehingga ia menguasai laut selatan. Dengan demikian, Nawangwulan menjadi salah satu dari tiga penguasa laut selatan disamping Nyi Roro Kidul dan Nyi Blorong.

Dalam versi lain, penguasa khayangan menjadikan Nawangwulan penguasa laut kidul karena ia sudah tidak layak untuk tinggal di khayangan, tetapi juga tidak pantas untuk kembali tinggal di antara manusia di bumi. Semenjak saat itu, Nawangwulan dikenal dengan nama Nyi Roro Kidul.

KISAH DEWI NAWANG WULAN DENGAN JAKA TARUB

Jaka Tarub yang memiliki gelar Ki Ageng Tarub ini adalah tokoh yang dianggap leluhur dinasti Mataram yang menguasai tanah Jawa sejak abad ke-17 hingga sekarang. Menurut sumber masyarakat lokal, ditemukannya reruntuhan makam Jaka Tarub di desa Widodaren, Gerih, Ngawi yang menjadi bukti keberadaan di mana Jaka Tarub bertemu dengan Dewi Nawangwulan.

Jaka Tarub adalah pemuda gagah yang memiliki kesaktian. Ia sering keluar masuk hutan untuk berburu di kawasan gunung keramat. Di gunung itu terdapat telaga yang terletak di desa Widodaren, Gerih, Ngawi. Tanpa sengaja, ia melihat dan meminta tujuh bidadari yang sedang mandi di telaga tersebut. Karena terpikat, Jaka Tarub memilih selendang berwarna oranye yang tengah dipilih milik salah seorang bidadari. Saat para bidadari selesai mandi, mereka berdandan dan siap kembali ke Kahyangan. Salah seorang bidadari bernama Nawangwulan tidak mampu kembali ke kahyangan karena tidak menemukan selendangnya. Ia pun akhirnya ditinggal pergi oleh kawan-kawannya karena hari sudah beranjak senja. Jaka Tarub lalu muncul dan berpura-pura menolong. Dewi Nawangwulan pun bisa ikut pulang ke rumah Jaka Tarub dan cerita pendek,

Dari pernikahan ini lahirlah seorang putri yang dinamai Nawangsih. Sebelum menikah, Nawangwulan mengingatkan pada Jaka Tarub agar tidak pernah-kali bertanya rahasia kebiasaannya kelak setelah menjadi isteri. Rahasia ini adalah bahwa Nawangwulan dapat menanak nasi menggunakan hanya disebutir nasi dalam penanak nasi namun menghasilkan nasi yang banyak. Jaka Tarub yang penasaran tidak diminta tetapi langsung dibuka tutup penanak nasi. Akibat tindakan ini, kesaktian Nawangwulan hilang. Sejak itu ia menanak nasi seperti umumnya wanita biasa.

Karena hal ini, penyesuaian gabah di lumbung menjadi cepat habis. Ketika menerima gabah tinggal sedikit,  Nawangwulan menemukan selendangnya, yang harus disembunyikan di dalam lumbung agar ia tidak bisa kembali ke kahyangan. Nawangwulan yang marah mengingat kalau sudah melepas benda yang dianggap meninggalkan Jaka Tarub. Jaka Tarub memohon agar tidak dikembalikan ke Kahyangan. Namun tekad Nawangwulan sudah bulat. Hanya saja, pada waktu-waktu tertentu ia rela datang ke marcapada untuk menyusui bayi Nawangsih. Nawangwulan mengatur Jaka Tarub untuk membangun sebuah dangau. Setiap malam, Nawangsih harus ditempatkan di sana agar Nawangwulan dapat menyusuinya tanpa harus bertemu dengan Jaka Tarub. Jaka Tarub hanya bisa melihat dari jauh saat Nawangwulan turun dari kahyangan untuk membayar Nawangsih. Ketika Nawangsih tertidur, Nawangwulan kembali terbang ke Kahyangan. Rutinitas ini terus dilakukan hingga Nawangsih beranjak dewasa. Jaka Tarub dan Nawangsih sering menghadapi kesulitan demi kesulitan, namun bantuan selalu datang tiba tiba. Bantuan Dipercaya tersebut berasal dari Nawangwulan. Nawangsih disebut sebagai wanita istimewa karena ia merupakan anak campuran dari manusia dan bidadari.

Jaka Tarub kemudian menjadi pemuka desa bergelar Ki Ageng Tarub, dan bersahabat dengan Brawijaya raja Majapahit. Pada suatu hari, Brawijaya mengirimkan keris pusaka, Kyai Mahesa, Nular, diminta diterjemahkan oleh Ki Ageng Tarub. Utusan Brawijaya yang menyampaikan keris tersebut bernama Ki Buyut Masahar dan Bondan Kejawan, anak angkatnya. Ki Ageng Tarub tahu jika Bondan Kejawan sebenarnya putra kandung Brawijaya. Maka, pemuda itu pun mendukung agar tinggal bersama di desa Tarub.

Sejak saat itu Bondan Kejawan yang tadinya adalah anak angkat Brawijaya sekarang menjadi anak angkat Ki Ageng Tarub, dan diganti disebut menjadi  Lembu Peteng. Ketika Nawangsih tumbuh dewasa, ada pun dinikahkan. Setelah Jaka Tarub meninggal dunia, Lembu Peteng dikembalikannya sebagai Ki Ageng Tarub yang baru. Nawangsih sendiri melahirkan seorang putra, yang setelah dewasa bernama Ki Getas Pandawa. Ki Ageng Getas Pandawa kemudian memiliki putra bergelar Ki Ageng Sela, yang merupakan kakek buyut Panembahan Senapati, pendiri Kesultanan Mataram.

Kisah Cerita Dewi Nawang Wulan

Nyi Roro Kidul (juga Nyai Roro Kidul atau Nyai Loro Kidul) adalah sesosok roh atau dewi legendaris Indonesia yang sangat populer di kalangan masyarakat Pulau Jawa dan Bali. Tokoh ini dikenal sebagai Ratu Laut Selatan(Samudra Hindia) dan secara umum disamakan dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun beberapa kalangan sebenarnya keduanya berbeda.


Banyak versi berbeda yang  menceritakan tentang asal usul Nyi Roro Kidul ini. Dalam kepercayaan rakyat Jawa, Kanjeng Ratu Kidul merupakan ciptaan dari Dewa Kaping Teluyang mengisi alam kehidupan sebagai Dewi Padi (Dewi Sri) dan dewi alam yang lain. Sedangkan Nyi Rara Kidul mulanya merupakan putri Kerajaan Sunda yang diusir ayahnya karena ulah ibu tirinya.

Dalam perkembangannya, masyarakat cenderung menyamakan Nyi Rara Kidul dengan Kanjeng Ratu Kidul, meskipun dalam kepercayaan Kejawen, Nyi Rara Kidul adalah bawahan setia Kanjeng Ratu Kidul.

Kedudukan Nyai Loro Kidul sebagai Ratu-Lelembut tanah Jawa menjadi motif populer dalam cerita rakyat dan mitologi, selain juga dihubungkan dengan kecantikan putri-putri Sunda dan Jawa.

Masyarakat Sunda mengenal legenda mengenai penguasa spiritual kawasan Laut Selatan Jawa Barat yang berwujud perempuan cantik yang disebut Nyi Rara Kidul.

Legenda yang berasal dari Kerajaan Sunda Pajajaran berumur lebih tua daripada legenda Kerajaan Mataram Islam dari abad ke-16. Meskipun demikian, penelitian atropologi dan kultur masyarakat Jawa dan Sunda mengarahkan bahwa legenda Ratu Laut Selatan Jawa kemungkinan berasal dari kepercayaan animistik prasejarah yang jauh lebih tua lagi, dewi pra-Hindu-Buddha dari samudra selatan.

Ombak samudra Hindiayang ganas di pantai selatan Jawa, badai serta terkadang tsunaminya, kemungkinan telah membangkitkan rasa hormat serta takut terhadap kekuatan alam, yang kemudian dianggap sebagai alam spiritual para dewata serta lelembut yang menghuni lautan selatan yang dipimpin oleh ratu mereka, sesosok dewi, yang kemudian diidentifikasikan sebagai Ratu Kidul.

A. DEWI KANDITA



Salah satu cerita rakyat Sunda menceritakan Dewi Kandita atau Kadita, putri cantik dari kerajaan Sunda Pajajaran di Jawa Barat, yang melarikan diri ke lautan selatan setelah diguna-gunai.

Guna-guna tersebut dikeluarkan oleh seorang dukun atas perintah saingannya di istana, dan membuat putri tersebut menderita penyakit kulit yang menjijikkan. Ia melompat ke lautan yang berombak ganas dan menjadi sembuh serta kembali cantik. Para lelembut kemudian mengangkatnya menjadi Ratu-Lelembut Lautan Selatan yang legendaris.

Versi yang serupa adalah Dewi Kandita, putri tunggal Raja Munding Wangi dari Kerajaan Pajajaran. Karena kecantikannya, ia dijuluki Dewi Srêngéngé (lit. "Dewi Matahari"). Meskipun mempunyai seorang putri yang cantik, Raja Munding Wangi bersedih karena ia tidak memiliki putra yang dapat menggantikannya sebagai raja.

Raja kemudian menikah dengan Dewi Mutiara dan mendapatkan putra dari pernikahan tersebut. Dewi Mutiara ingin putranya dapat menjadi raja tanpa ada rintangan di kemudian hari, sehingga ia berusaha menyingkirkan Dewi Kandita.

Dewi Mutiara menghadap Raja dan memintanya untuk menyuruh Kadita pergi dari istana. Raja berkata bahwa ia tidak akan membiarkan siapapun yang ingin bertindak kasar pada putrinya. Mendengar jawaban itu, Dewi Mutiara tersenyum dan berkata manis sampai Raja tidak marah lagi kepadanya.

Keesokan harinya, sebelum matahari terbit, Dewi Mutiara mengutus pembantunya untuk memanggil seorang tukang tenung. Dia menyuruh sang dukun untuk meneluh Kadita. Pada malam harinya, tubuh Kadita gatal-gatal dipenuhi kudis, berbau busuk dan penuh bisul. Ia menangis tak tahu harus berbuat apa.

Raja mengundang banyak tabib untuk menyembuhkan Kandita serta sadar bahwa penyakit tersebut tidak wajar, pasti berasal dari guna-guna. Ratu Dewi Mutiara memaksa raja mengusir puterinya karena dianggap akan mendatangkan kesialan bagi seluruh negeri.

Karena Raja tidak menginginkan puterinya menjadi gunjingan di seluruh negeri, ia terpaksa menyetujui usul Ratu Mutiara untuk mengirim putrinya keluar dari negeri mereka.

Kandita pergi berkelana sendirian tanpa tujuan dan hampir tidak dapat menangis lagi. Ia tidak dendam kepada ibu tirinya, melainkan meminta agar Sanghyang Kersamendampinginya dalam menanggung penderitaan. Hampir tujuh hari dan tujuh malam, akhirnya ia tiba di Samudera Selatan.

Air samudra itu bersih dan jernih, tidak seperti samudera lain yang berwarna biru atau hijau. Tiba-tiba ia mendengar suara gaib yang menyuruhnya terjun ke dalam Laut Selatan. Ia melompat dan berenang, air Samudera Selatan melenyapkan bisulnya tanpa meninggalkan bekas, malah ia semakin cantik.

Ia memiliki kuasa atas Samudera Selatan dan menjadi seorang dewi yang disebut Nyi Roro Kidul yang hidup abadi. Kawasan Pantai Palabuhanratu secara khusus dikaitkan dengan legenda ini.

Lambat laun, ketenaran kerajaan yang dipimpin putri aurora kemudian berkembang dan menyebar ke seluruh penjuru negeri. Masyarakat jawa kala itu yang tak terlalu fasih menyebut kata Aurora kemudian mengubah nama sang putri menjadi Roro. Putri Roro dipanggil Nyi Roro. Nah, karena ia menjadi penguasa jin di pantai selatan, maka nama Nyi Roro kemudian diberi tambahan kidul (Kidul=Selatan), maka nama lengkapnya menjadi Nyi Roro Kidul.

B. DEWI NAWANG WULAN



Versi kedua Asal Usul Nyi Roro Kidul adalah Dewi Nawangwulan, Pendapat kedua ini menyebut jika asal usul nyi roro kidul adalah Dewi Nawang Wulan. Dewi yang merupakan istri dari Jaka Tarub.

Jika Anda pernah mendengar kisah Jaka Tarub, tentu Anda sudah sedikit banyak tahu tentang nama Dewi Nawang Wulan. Ya, dewi yang selendangnya dicuri dan tak bisa kembali ke kerajaan langit ini dipercaya sebagai asal usul nyi roro kidul.

Ia dikutuk oleh kerajaan langit karena sudah berani-beraninya menikah dengan manusia (Jaka Tarub) dimana hal ini sangat haram hukumnya. Ia dikutuk menjadi sebangsa jin dan diperintahkan untuk menjaga pulau jawa agar tidak tenggelam karena keganasan Samudera Hindia.

Dalam mitologi Jawa, asal-usul nyi roro kidul dari versi yang satu ini tidak begitu banyak memiliki bukti dan terkesan dihubung-hubungkan. Orang-orang Jawa umumnya akan lebih percaya pada pendapat asal usul nyi roro kidul yang pertama.

Wallohua'lam Bisshowab

Kisah dan Asal usul Nyai Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan


Pada masa dulu di satu tempat Kota Pekalongan hiduplah seseorang putri yang sangatlah cantik jelita bernama Dewi Rara Kuning. Adapun rumahnya masih tetap simpang siur, tak ada yang tahu dengan cara pasti. Dalam meniti kehidupnya Dewi Rara Kuning alami penderitaan yang sangatlah berat, karena dalam umur yang sangatlah muda ia telah jadi janda.

Suaminya wafat dunia sesudah sekian waktu menyelenggarakan pernikahannya. Jadi dari tersebut Dewi Rara Kuning lalu populer dengan sebutan Dewi Lanjar. (Lanjar sebutan untuk seseorang wanita yang bercerai dari suaminya dalam umur yang masih tetap muda serta belum memiliki anak). Mulai sejak ditinggal mati suaminya itu Dewi Lanjar hidupnya sangatlah merana serta senantiasa pikirkan suaminya saja.

Hal yang sekian itu jalan sekian waktu lamanya, namun lama kelamaan Dewi Lanjar pernah memikirkan kembali bahwa bila dilewatkan sekian selalu tidak akan baik mengakibatkan. Jadi dari tersebut ia lalu mengambil keputusan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya, merantau sembari menangis hatinya yang tengah dilanda kesedihan.

Perjalanan Dewi Lanjar hingga disebuah sungai yang bernama kali Opak. Ditempat ini ia bersua Raja Mataram berbarengan Mahapatih Singaranu yang tengah bertapa mengapung diatas air sungai itu. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar mengungkapkan isi hatinya dan juga menyampaikan tak bersedia untuk menikah lagi.

Panembahan Senopati serta Mahapatih Singoranu untuk mendengar katanya terharu serta terasa iba. Oleh karenanya dinasehatinya supaya bertapa di Pantai Selatan dan juga menghadap pada Ratu Kidul. Sesudah sekian waktu lamanya, mereka berpisahan dan meneruskan perjalanan semasing, Panembahan Senopati beserta patihnya meneruskan bertapa menyusuri kali Opak sedang Dewi Lanjar pergi kearah Pantai Selatan untuk menjumpai Ratu Kidul.

Dewi Lanjar setelah tiba di Pantai Selatan mencari tempat yang baik untuk bertapa. Lantaran ketekunan serta kepercayaan bakal saran dari Raja Mataram itu pada akhirnya Dewi Lanjar bisa moksa (hilang) serta bisa bersua dengan Ratu Kidul. Dalam pertemuan itu Dewi Lanjar memohon agar bisa jadi anak buahnya, serta Ratu Kidul tidak ada keberatan.

Disuatu hari Dewi Lanjar berbarengan jin – jin diperintahkan untuk mengganggu serta menghindar Raden Bahurekso yang tengah buka rimba Gambiran (saat ini letaknya di sekitar jembatan anim Pekalongan serta desa Sorogenen tempat Raden Bahurekso bikin api) namun lantaran kesaktian Raden Bahurekso, yang didapat dari bertapa Ngalong (seperti Kalong/Kelelawar), seluruhnya godaan Dewi Lanjar serta jin – jin bisa ditaklukkan bahkan juga tunduk pada Raden Bahurekso.

Lantaran Dewi Lanjar gagal menunaikan pekerjaan jadi ia mengambil keputusan tak kembali ke Pantai Selatan, namun lalu memohon ijin pada Raden Bahurekso agar bisa bertempat tinggal di Pekalongan. Oleh Raden Bahurekso di setujui bahkan juga juga oleh Ratu Kidul. Dewi Lanjar diperbolehkan tinggal dipantai utara Jawa Tengah terlebih di Pekalongan.

Konon letak keraton Dewi Lanjar terdapat dipantai Pekalongan disamping sungai Slamaran. Tempat wisata SLAMARAN INDAH adalah Daerah pesisir yang memberi rasa sejuk serta nyaman. Terdapat disamping timur Pantai Pasir Kencana dibatasi oleh muara Pelabuhan Perikanan Nusantara Pekalongan.

Kisah asal usul Dewi Lanjar yang melegenda